Ada yang bisa menjelaskan sejarah Deuterokanonika?

Saya sedang asyik dengan pengkanonan Alkitab Perjanjian Lama melalui Sarapan Pagi Biblika. Saya perhatikan, ternyata ada beberapa kitab dalam Septuaginta yang tidak dimasukkan dalam Deuterokanonika oleh Gereja. Sedangkan pada Konsili Trent tahun 1546, hanya menambahkan 3 kitab ke dalam Deuterokanonika yang telah ada, yaitu Kitab Surat Kiriman Yeremia; Kitab Susana; dan Kitab Bel dan Naga. Sehingga sebelum Konsili Trent 1546 sampai sekarang, masih ada beberapa kitab Septuaginta yang tidak termasuk Deuterokanonika. Apakah ada sebuah konsili yang memutuskan kitab-kitab mana sajakah dalam Septuaginta yang dikanonkan ke dalam Deuterokanonika? Mungkin teman-teman bisa menjelaskan?

Sudah coba tengok situs ini ?

http://www.newadvent.org/cathen/03267a.htm

Nyerah Pak. Gagal total dalam Bahasa Inggris.

Coba manfaatkan google translate, gak maksimal, tetapi paling tidak bisa dibaca kan?
He he he

Konsili Trent (1545 and 1563) adalah sebuah konsili yang diselenggarakan khusus sebagai reaksi balik terhadap gerakan Reformasi Protestan. Salah satu bagiannya adalah tentang Deuterokanonika atau bahasa indonesia sederhananya, “kanon kedua” dan disebut Aprokrif oleh kaum reformasi, yang artinya “tidak canon”. Berkaitan dengan kitab suci, Konsili Trent menegaskan menekankan kembali bahwa kitab Vulgata sebagai sumber kitab suci yang sah (bukan membicarakan tentang Septuaginta). Sehingga kitab yang disebut Deuterokanonika atau Aprokrif tersebut adalah bagian dari kitab suci terkanon sesuai kitab Vultaga.

Dari nama yang dipakai baik Deuterokanonika dan Aprokrif sejujurnya sama-sama menunjukan bahwa hal itu bukan bagian dari conan pertama atau yang sebelumnya, tetapi sesuatu yang baru ditambahkan atau yang berbeda dari canon utama. Bagi katolik kitab-kitab itu tetap sebagai tambahan bagian dari kitab suci yang tercanon, dan bagi protestan adalah sekedar bacaan rohani yang ditulis oleh orang-orang kudus pada jaman itu (jaman sekarang seperti buku-buku terbitan dari para pastor atau pendeta yang banyak tersedia di toko buku rohani). Termasuk hal yang sukar dipahami dan tidak semuanya menuliskan hal-hal yang benar, sebagian adalah pendapat pribadinya.

Perbedaan pengakuan ini terletak pada sumbernya dan isi tulisannya (tentang isi tulisannya jarang dibahas oleh pengajar dari katolik). Bukan karena sentimen (kebencian) terhadap golongan.

Banyak orang menyatakan kitab suci Perjanjian Lama mengutip kalimat dari Septuaginta, dan itu benar. Tetapi mereka mengutip bukan dari kitab-kitab deuterokanonika (mohon koreksi) yang ada dalam Septuaginta tersebut. Sebab sebenarnya tidak ada yang dikutip, memang ada beberapa yang mirip tetapi bukan kalimat itu yang dikutip atau dimaksudkan dalam naskah Perjanjian Baru. Naskah yang dikutip dalam Septuaginta adalah naskah Alkitab terkanon yang kita punyai sekarang, hanya saja teks yang dipakai terjemahan Yunani Septuaginta.

Septuaginta sendiri adalah usaha untuk menterjemahkan ke bahasa Yunani semua kitab-kitab Ibrani yang ada pada masa itu, dan selanjutnya kaum Yahudi menetapkan kitab sucinya tahun 90 kalau tidak salah ingat dan membuang kitab-kitab yang kemudian kita sebut kitab Deuterokanonika (sebaiknya memakai istilah Deuterokanonika dari pada Aprokrif untuk menghormati sesama saudara didalam Kristus berbeda organisasi).

Secara pribadi, menurut pendapat saya sendiri, penamaan Deuterokanonika yang diberikan oleh gereja Katolik pada masa itu menunjukan bahwa mereka sendiri mempertimbangkan pendapat kelompok protestan tentang pandangannya terhadap kitab-kitab tersebut. Jika mereka tidak mempertimbangkan maka mereka tidak perlu membedakan dan memberi nama Deuterokanonika yang artinya “kanon kedua” seakan menunjukan keraguan untuk digabungkan menjadi sebuah kitab kanon utama, tampa istilah kedua.

Lain dari itu, biarlah masing-masing membaca sendiri-sendiri dan bertumbuh dengan apa yang ia baca, tanpa menyalahkan satu dengan yang lain. Isi kitab yang disebut Deuterokanonika juga bukan hal yang sesat koq, hanya sesuatu yang terkesan ia menuliskan sesuatu dari dirinya sendiri, bukan ditulis untuk menjadi pesan Allah. Kembali kepada denominasi masing-masing bagaimana kita menganggap kitab-kitab tesebut.

Pak Krispus…

Yang saya maksud, pada bagian Perjanjian Lama, Vulgata sendiri kan diterjemahkan dari Septuaginta. Tapi tidak seluruh kitab dalam Septuaginta dimasukkan ke dalam Vulgata. Nah, siapa itu Pak, yang membuat keputusan? Sementara pada Konsisli Trent 1546 sendiri menambahkan beberapa kitab ke dalam Vulgata, dan akhirnya dikenal dengan Deuterokanonika (apa saya salah ya?) Sehingga saya asumsikan bahwa kitab yang ditambahkan itu sendiri bersumber dari Septuaginta (kayaknya bener-bener salah nih?).

Terima kasih untuk infonya, mengenai Perjanjian Lama. Saya pikir Perjanjian Lama dari LAI itu diterjemahkan dari Tanakh Ibrani, tetapi mengikuti susunan Septuaginta. Ternyata saya salah.

Salam.

Ini postingan saya di thread tentang deuterokanon,

@Rod

Ijin ikut tersenyum lebar ya, he he he he

Terima kasih untuk tanggapan Pak roderick. Tapi kalau boleh minta tolong, bagaimana dengan sejarahnya? Saya mau belajar tentang sejarahnya. Perkembangan Septuaginta hingga akhirnya menjadi Vulgata. Juga penambahan-penambahan dan pengurangan-pengurangan kitab di Vulgata. Melalui apa, konsili apa, rapat apa, siapa pemimpin konsili/rapat tersebut? Kapan waktunya? Apa hasil konsili/rapat tersebut? Apakah ada penambahan kitab ? Atau malah pengurangan kitab? Sehingga tanggapan Pak roderick belum bisa memenuhi rasa ingin tahu saya.

Atau untuk mempermudah, Pak roderick boleh ‘menganggap’ saya seorang atheist yang sedang belajar tentang “tuhan”. Bila saya yang seorang atheist disuguhi tanggapan seperti Pak roderick, yang malah ‘berlari’ ke Martin Luther, saya bakalan ketawa ketiwi. "Huh., dasar, ngakunya bertuhan. Ditanya kitabnya, malah lari ke kitab lain. Dasar. Memang umat beragama ini gak sadar-sadar, bahwa merekalah yang sebenarnya menciptakan ‘tuhan’.

Untuk moderator, bila masalah sejarahpun akhirnya lari ke arah debat kusir tentang hal-hal yang bukan ‘sejarah’, mungkin kalau boleh ditutup saja thread ini. Sudah terlalu cape membaca tentang dakwaan menyembah patung, menyembah lucifer, denominasi sampai 50 ribu, gereja tidak didirikan oleh Yesus, pakai rosario sebagai jimat, dll dsb yang sifatnya saling menjelekkan dan tidak ke arah diskusi yang sehat.

Salam.

Silahkan baca disini:

Sudah dibahas panjang lebar disana.

Salam

AFAIK, Vulgata tidak hanya bersumber dari Septuaginta. Vulgata bertujuan merevisi Old Latin.

Sumbernya banyak, antara lain dari versi Aram, teks Theodotion, Hexapla dll.

Septuaginta seluruhnya berbahasa Yunani Koine.

Silakan anda googling saja dulu, baru anda tulis kemudian.

Mengenai istilah deuterokanon, saya mengulas bukan dari Luther tapi dari Sixtus Senensis.

Apakah anda kira istilah “deuterokanon” itu adalah ciptaan Luther?

Apakah menurut anda sumber yang saya sertakan diatas itu termasuk debat kusir?

Nah, gimana tuh Pak sejarahnya? Apakah seluruh septuaginta dimasukkan ke dalam Vulgata? Apakah ada penambahan kitab? Apakah ada pengurangan? Kalau memang ada pertambahan/pengurangan kitab Septuaginta ke dalam Vulgata, di tahun berapa ya, Pak? Siapa yang mengesahkan? Bagaimana jalan ceritanya? Apakah melalui perdebatan atau tidak? Melalui metode pemungutan suara atau metode yang lain?

Kalau Vulgata sendiri tidak hanya bersumber dari Septuaginta, terus dari mana lagi sumbernya? Sepertinya kalau bagian Perjanjian Baru tidak perlu dibahas. Karena sejarahnya masih sangat jelas.

Bapak juga bilang “Vulgata bertujuan merevisi Old Latin.” Apa Old Latin itu ya Pak?

Saya sendiri sudah menjelaskan kelemahan saya dalam bahasa Inggris. Gagal total. Sedangkan hasil googling, tetap belum memuaskan rasa ingin tahu saya. Rata-rata hanya dalam berupa poin. Tidak dalam bentuk alinea. Mengenai saran/permintaan Bapak untuk googling dulu, baru saya tulis kemudian. Apa yang mau saya tulis, Pak? Kan sejarahnya sendiri belum saya dapatkan. Dan kalau pun sudah saya dapatkan, saya tidak mungkin bertanya dan minta bantuan lagi. Kecuali ada beberapa hal yang belum jelas.

Sebelumnya, saya sendiri sudah mencari buku tentang sejarah Deuterokanonika di Gramedia kota saya. Tapi ternyata tidak ada. Maklum, kota kecil.

Ataukah ada link/situs (gak tau dah mana yang bener) resmi dari Katolik, baik Katolik Roma ataupun Katolik Ortodox yang menjelaskan sejarah Deuterokanonika dalam bahasa Indonesia? Mohon dibantu.

Mana saya tahu, Pak. Yang saya tahu dan ada kemungkinan saya salah, bahwa kitab Deuterokanonika adalah kitab Perjanjian Lama-nya teman-teman Katolik. Nah, bagaimana sejarah kitab Deuterokanonika itu?

Apakah sumber yang Bapak sertakan di atas menjelaskan tentang sejarah Deuterokanonika? Saya kopas saja ya, Pak, karena selain gagal total dalam berbahasa Inggris, dalam berinternet pun saya ‘nyaris’ gagal total.

Hasil kopas dengan sedikit revisi untuk menghemat tempat:
Aslinya sih memang protestanlah yang ngurang-ngurangin sendiri. Sejak awal Kekristenan sampai kini, kitab PL yang dipake orang Kristen itu adalah LXX atau Septuaginta yang didalamnya ada beberapa kitab yang oleh orang protestan disebut deuterokanon alias “kanon kedua”.
Istilah deuterokanon sendiri dimunculkan pertama kali oleh Sixtus Senensis (1520–1569), seorang konvert dari Yudaisme ke Roma Katolik. Tujuan Sixtus bukanlah untuk membuang kitab-kitab tersebut namun hanya sekedar membedakannya dari kanon Ibrani.
Mungkin karena maunya mengacu ke yang “asli” Ibrani, maka Luther memisahkan kitab-kitab tersebut, sekaligus membikin Antilegomena sendiri yang kini dikenal sebagai Antilegomena Luther, yaitu kitab-kitab Ibrani, Yakobus, Yudas, dan Wahyu, karena menurutnya, kitab-kitab tersebut tidak sesuai dengan doktrinnya.
Nah, ternyata setelah penemuan Dead Sea Scroll, didapatilah bahwa kitab-kitab Sirakh dan Tobit aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani dan Aram, dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Yunani.
Jadi argumen bahwa kitab-kitab tersebut bukan kanon FT HANYA KARENA tidak ditulis dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani, gugur sudah. Pertanyaannya kini, siapakah yang membuang keluar kitab-kitab tersebut dari percetakan Alkitab?
Kemungkinan besar adalah: the workers at the printing presses took it upon themselves to omit them.
Jadi siapa yang kini menentukan iman anda akan yang anda sebut-sebut sebagai FT itu?
Keputusan konsili Gereja semesta, ataukah para pekerja percetakan?

Apakah sumber yang Bapak sertakan di atas menjelaskan tentang sejarah Deuterokanonika?
Apakah saya yang bukan umat Katolik tidak boleh mengetahui sejarah Deuterokanonika?
Apakah cara saya bertanya membuat teman-teman dari Katolik tersinggung?
Apakah di dalam cara saya bertanya ada suatu hal yang dianggap tidak sopan?

Dan kalau diteruskan, masih banyak apakah yang lain. Tapi kalau teman-teman boleh bantu, bagaimana sih sejarah lengkap Deuterokanonika?

Salam…

Btw, karena anda bisa pake internet, bisa posting disini, maka saya berasumsi bahwa anda tahu tentang translate.google.com

Kalo ada terjemahan yang kurang jelas, bisa anda postingkan disini. Inshaallah saya bantu.