adakah dalam alkitab kita diajarkan menuntut ilmu setinggi-tingginya???

apakah tuhan Yesus mengajarkan kita menuntut ilmu setinggi - tingginya???

Yesus menuntut anda untuk pintar, karena kebodohan tidak memberi pengertian, dalam mengerti PerumpamaanNya pun anda harus pintar.

Jika menuntut ilmu setinggi2nya, tentu Yesus juga sperti menghimbau dalam ayat Alkitab tersirat ini…

Menilai zaman
Luk 12:54 Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi.

12:55 Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.
12:56 Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?
12:57 Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar?
12:58 Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara.
12:59 Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."

Dari ayat diatas Yesus mendukung kepintaran orang2 yang dapat melihat lingkungannya, dan mengambilnya sebgai ilmu, bagi dirinya untuk menentukan apakah akan turun hujan atau tidak?. Namun jangan pula berhenti sampai disitu saja, cobalah untuk mengembangkan lagi, demikian alam demikian juga kaidah yang terjdi dimuka bumi ini. Yaitu mencari aspek aspek persamaan yang bergezolak dalam zaman, hingga dapat disimpulkan apakah yang akan kelak terjadi.

Selain dihimbau untuk mengenal Alam dan zaman mu sendiri, mengenal mereka yang merupakan ilmu dan tentunya semakin bertahap dan semakin tinggi, namun belajar juga lah pada kepastian yang tidak akan berubah sperti yang Yesus himbau.

Ilmu pengetahuan dibuat , dikenali, digapai dan dimengerti, hanya untuk membuat kita mengerti, namun ada yang lebih penting yaitu, HIDUP ITU SENDIRI.

kalau pendapat saya,
mungkin lebih tepatnya: MENDAYAGUNAKAN KARUNIA TUHAN yg LUAR BIASA, yang disebut AKAL BUDI alias PIKIRAN…

supaya jangan sampai tertipu oleh Iblis… apalagi yang menyamar sebagai malaikat terang…
misalnya: pura-pura kelihatan hapal banget kutipan alkitab, kelihatan melayani Tuhan banget, dll…

supaya kita berjaga-jaga dengan pelita terhadap gangguan dan tipuan yang seolah-olah menyamar PURA-PURA dari Tuhan…
misalnya: masa Alkitab bisa mengajar? masa Alkitab bisa mengartikan? emangnya Alkitab itu benda hidup apaan sih?

supaya kita berjaga-jaga jangan mau dikadalin kalau ada orang yang MENGAKU-AKU SUDAH PAHAM JALAN PIKIRAN TUHAN, padahal cuma modal MENGHAPAL KUMPULAN HURUF sekian ribu halaman doang…
masa Tuhan kok udah bisa dipahami cuma sekian ribu halaman doang?
emangnya Tuhan itu Komputer, yg manual book-nya cuma sekian ribu halaman?

supaya hati kita senantiasa terbuka dan rendah hati untuk menerima Roh Kudus, agar kita terlindung dari berbagai bentuk serangan Iblis yang menyamar jadi terang…
misalnya: NGEBET meng-KOREKSI ajaran lain itu salahnya gini, salahnya gitu… kaya ajarannya sendiri itu SUDAH PASTI PALING PERSIS TUHAN aja… padahal dia sendiri juga cuma manusia & jelas BUKAN TUHAN…

dan segala macam serangan iblis-iblis lainnya yang berpotensi menipu manusia untuk di-manfaat-kan demi memenuhi EGOISME PRIBAADI dan NAFSU DUNIAWI, tapi yang di-KAMUFLASE dengan ayat-ayat suci, sehingga MEMANIPULASI pikiran masyarakat agar TERTIPU dan TER_AGITASI, karena DI-KIRA_nya BENERAN dari/untuk TUHAN…

padahal mah… hehehehehehehe…

semoga dengan Upaya MENDAYAGUNAKAN KARUNIA yang telah di-turunkan secara EKSKLUSIF HANYA kepada MANUSIA saja, yaitu AKAL BUDI…
mudah-mudahan kita lebih dipimpin oleh Roh Kudus dalam menangkal segala GODAAN IBLIS dan UPAYA untuk MENJATUHKAN manusia dalam angkara murka, dengki, iri, yang CELAKA-nya diBUNGKUS dengan dalih-dalih yang KEDENGARAN SEOLAH-OLAH MULIA…

ngeeeerrrriiii…

yuk mari… terus belajar dan JANGAN MEN-SIA-SIA-kan karunia Tuhan yang luar biasa itu…
dan jangan mau di-BRAINWASH oleh orang lain HANYA gara-gara setiap kalimat dikasih NOMER KUTIPAN AYAT…
hehe…

yang ditanya, adakah di alkitab kita diajarkan menuntut ilmu setinggi2nya?

he he, si bro cadang mah subyeksi pribadi, tapi gak apa2lah, yang penting positif aja lah, think positif… ;D
(walau sepertinya dia tdk spintar apa yg dia sebutkan)

ah mas tamaz ini lho…
saya jadi malu lho mas…

mohon dibaca agak teliti lagi ya mas…

intinya sih…
imho, menuntut ilmu setinggi-tinggi-nya itu kan prinsip-nya adalah meng-utilisasi daya pikir & nalar & daya analisis kita kan ya?
(yg saya sebut di atas…)

tapi ternyata…
yang KELIHATANNYA SEOLAH-OLAH SEPERTI menuntut ilmu itu BELUM TENTU mengutilisasi daya-daya yg merupakan karunia Tuhan tsb lho mas…

misalnya:
NGAKU-nya belajar “ILMU” Theologia…
padahal jelas-jelas bahwa DISKUSI THEOLOGI itu BELUM BISA TERMASUK ILMU Pengetahuan…
karena jelas banget bahwa MEMBATASI daya nalar & analisis pada suatu TEMBOK yang TIDAK BOLEH DINALAR dan DIANALISIS lagi karena HARUS DIANGGAP BENAR…
nah… itu kan jelas BUKAN ILMU SAMA SEKALI kan mas?
dan itu jelas BELUM meng-UTILISASI secara OPTIMUM Karunia Tuhan kepada kita kan mas?

nah… yang gitu-gitu deh…

atau misalnya…
DIKIRA kalau sudah HAPAL KHATAM Alkitab plus semua bahasa terjemahan plus semua versi…
maka juga MENGIRA SEOLAH-OLAH sudah belajar ILMU SETINGGI-TINGGI-nya…
padahal mungkin BELUM TENTU lho mas…

ada memang beberapa rekan yang memperlakukan hal itu sebagai “ILMU” sehingga berusaha untuk beropini secara se-objektif-mungkin…
tapi ada juga beberapa gelintir oknum yang CUMA menjadikan KHATAM ALKITAB sebagai SARANA untuk MERENDAHKAN atau MENUNJUK KESALAHAN orang lain, dengan alasan DISURUH TUHAN untuk blablabla…

nah… yg model-model tipikal cara belajar anak SD begini ini… mana mungkin disebut “MENUNTUT ILMU” sih mas?
hehe…

gitu deh kira-kira…
mudah-mudahan mas tamaz & teman2 sedikit lebih mudeng apa yg sy maksud yah…

btw, mas…
seingat saya, saya ini selalu merasa PALING BODOH dan ENGGA TAHU tentang Alkitab lho mas…
dan jelas saya merasa BETAPA IDIOT-nya saya dibandingkan TUHAN, sehingga AMAT TIDAK MUNGKINLAH saya ini MAMPU PAHAM JALAN PIKIRAN TUHAN lho mas…
(coba baca-baca lagi deh…)

saya ini justru pengen belajar dari temen-temen yg pada SUDAH MAMPU PAHAM pikiran Tuhan itu kok mas…
biar Keliatan Rada Pinter dikit gitu lho…
hehe…

Tidak!

Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk hidup didalam kebenaran dan kekudusan. Walau orang bodoh, mereka yang kurang beruntung yang tidak memiliki akses ke ilmu pengetahuan atau sekolah tetap Tuhan menghendaki hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

Menuntutu ilmu setinggi-tingginya adalah bagi yang dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya, melatih tubuh sehingga kuat juga adalah bagian mereka yang mampu melakukannya. Masing-masing manusia berkarya pada bagiannya sendiri-sendiri.

Pengkotbah 1:16-18
Aku berkata dalam hati: “Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada semua orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan.” Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin, karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.

Pengkotbah telah mempelajari dan menambah pengetahuan demi pengetahuan dan didapati nasipnya sama seperti juga mereka yang bodoh. Demikian ditulis dalam Pengkotbah 2:14-16, “Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua. Maka aku berkata dalam hati: “Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?” Lalu aku berkata dalam hati, bahwa inipun sia-sia. Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!”

Penting adalah bukan menuntut ilmu setinggi-tingginya, tetapi bagaimana kita menjadi berkat bagi orang disekitar kita, menjadi terang bagi dunia yang gelap ini dan menjadi garam untuk mewarnai kehidupan disekitar kita. Itu yang dituntut oleh Allah dalam hidup kita.

Pengkhotbah 9:10 , “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”

Pointnya bukan pada ilmunya tetapi pada apa yang dapat kita kerjakan bagi Tuhan dan sesama. Ilmu pengetahuan itu penting, dan tanpanya kita bekerja serampangan dan tidak efesien. Amsal 19:2 juga mengajarkan kita bahwa walau kita rajin kalau kurang ilmunya juga percuma. Tetapi bukan artinya kita harus menambah ilmu dan menambah ilmu dan menambah lagi sampai ilmu kita setinggi langit. Tidak demikian didalam kekristenan. Manusia diberi porsi pekerjaan masing-masing berbeda-beda, dan biarlah kita bertekun pada bagian kita masing-masing. Diantara orang bodoh kita tidak dapat menhina mereka dengan mengatakan tuntutlah ilmu setinggi langit! Tetapi Tuhan punya banyak pekerjaan baik juga untuk mereka lakukan.

Semoga paham…

ngga sih … ttp mengenal Tuhan sedalam2 nya