Allah menentukan dosa (Pdt. Budi Asali)

Providence of God oleh : Pdt. Budi Asali MDiv. Golgotha Ministry Surabaya http://www.golgotaministry.org

IV. PROVIDENCE DAN DOSA

Sebelum saudara membaca pelajaran ke IV ini, saya ingin memberikan peringatan, yaitu: jangan membaca pelajaran IV ini tanpa melanjutkan dengan membaca pelajaran ke V, yaitu tentang ‘Providence dan kebebasan / tanggung jawab manusia’, karena hanya mengerti dan menerima pelajaran IV tanpa mengerti dan menerima pelajaran V, akan menjadikan saudara tersesat ke dalam pandangan Hyper-Calvinisme!

A) Rencana Allah dan dosa.

Bahwa dalam Rencana Allah juga tercakup dosa bisa terlihat dari:

  1. Dalam pelajaran III, point A di atas sudah ditunjukkan bahwa Rencana Allah berhubungan dengan segala sesuatu, dan itu berarti termasuk dosa.
    
  2. Rencana Allah tentang penebusan dosa oleh Kristus (1Pet 1:19-20) menunjukkan adanya Rencana / penentuan terjadinya dosa, karena bahwa penebusan dosa sudah ditentukan, itu jelas menunjukkan bahwa:
    

a) Dosa manusia yang akan ditebus oleh Kristus itupun harus juga sudah ditentukan! Karena kalau tidak, bisa-bisa penebusan dosa itu tidak terjadi.
b) Pembunuhan / penyaliban yang dilakukan terhadap Kristus, yang jelas merupakan suatu dosa yang sangat hebat, jelas juga sudah ada dalam Rencana Allah.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.
Kis 4:27-28 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Charles Hodge: “The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa dosa ditentukan lebih dulu merupakan doktrin / ajaran dari Alkitab) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 544.

Charles Hodge: “it is utterly irrational to contend that God cannot foreordain sin, if He foreordained (as no Christian doubts) the crucifixion of Christ” [= adalah sama sekali tidak rasionil untuk berpendapat bahwa Allah tidak bisa menentukan dosa, jika Ia menentukan (seperti yang tidak ada orang Kristen yang meragukan) penyaliban Kristus] -‘Systematic Theology’, vol I, hal 547.

  1. Dosa / kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:
    

a) Adam ditentukan untuk tidak jatuh.
Kemungkinan ini harus dibuang, karena kalau Adam direncanakan untuk tidak jatuh, maka ia pasti tidak jatuh (ingat bahwa Rencana Allah tidak bisa gagal - lihat pelajaran II, point B,C di atas).

b) Allah tidak merencanakan apa-apa tentang hal itu.
Ini juga tidak mungkin karena kalau Allah mempunyai Rencana / kehendak tentang hal-hal yang remeh / tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit ke bumi atau rontoknya rambut kita (bdk. Mat 10:29-30), bagaimana mungkin tentang hal yang begitu besar dan penting, yang menyangkut kejatuhan dari ciptaanNya yang tertinggi, Ia tidak mempunyai Rencana?

c) Allah memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa.
Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa sudah ada dalam Rencana Allah.

dst… silahkan ke situs beliau

http://www.golgotaministry.org/providence%20dan%20dosa.htm

Emmmmmh, any comment FKers ?

Masuk akal juga tuh mas.

Kecuali kita berpikir bahwa Allah tidak tahu apa-apa, dan terbingung-bingung melihat koq tiba-tiba bisa ada dosa. Yang sama sekali tidak terpikirkan sama sekali olehNya.

GBU

Akan lebih mencerahkan bila jangan berhenti disini saja, ditambahkan dg suatu pendalaman: mengapa demikian?.Gby

Masalahnya trit ini ditenggarai dibuat bukan untuk mencerahkan, tapi untuk… ehhmmm :smiley:

GBU

Terusannya panjang, bro, silahkan ke situsnya saja untuk membaca secara lengkap.

Syalom

Ya , panjang sekali.
saya coba membacanya dg cepat ( barang kali ada yg kelewat tolong di koreksi ), ada sesuatu yg saya kira perlu unt di garis bawahi:

Sekalipun ada dosa dalam Providence of God, itu tentu tidak berarti bahwa dosa itu merupakan tujuan akhir dari Allah. Kalau Allah menetapkan terjadinya dosa dan lalu melaksanakan rencanaNya itu, maka tentu Ia mempunyai tujuan yang baik.
Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan hal itu:
§ Ro 3:5 - “… ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah”.

§ Ro 3:7 - “… kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya”.

§ Ro 5:20b - “di mana dosa bertambah banyak di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah”.

§ Ro 11:32 - “Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua”.

Penjelasan ini, paling tdk menjelaskan sedikit ttg : mengapa demikian,kalau boleh saya tambahkan adalah: ujung dari proses kasih karunia yang Allah kerjakan sendiri harus ada statement yang sangat jelas " kemuliaan itu hanya untuk Allah saja ".Gby

Kalau saya berpegang pada prinsip, bahwa sifat Allah tidak dapat dipertenangkan, bro.
Jika kita percaya bahwa Allah itu Maha baik, maka hanya kebaikan yang keluar dari Allah.
Maka mustahil Allah bisa menghasilkan kejahatan, dalam hal ini dosa.

Syalom

Kadang kita perlu juga unt rendah hati mengakui bhw kita ini hanya ciptaan yang terbatas, jd bisa saja suatu saat yang kita katakan buruk belum tentu demikian menurut Allah, atau sebaliknya.
Sehingga dg berjalannya waktu ada pembelajaran yg dikaruniakanNya boleh menjangkau kita dg baik, saya pernah menulis ttg topik diskusi ini dalam judul yg lain , mungkin ada manfaatnya saya kutip lagi di sini:
"Kita tahu bhw bumi dan seisinya diciptakanNya untuk KEMULIAANNYA, ini bisa disederhanakan dg bhw setiap ciptaanNya akan mengatakan bhw KEMULIAAN ITU HANYA UNTUK ALLAH SAJA, mk kemudian dimulailah penciptaan sbg mana yang ada hingga sekarang bahkan sampai nanti finalnya di bumi yang baru dan langit yang baru , dimana disitu hanya milikNya dan Allah saja yang ada, tentu pada saat itu setiap milikNya kalau ditanya mengapa kamu ada disini tdk ikut dihukum kekal di neraka? mk mereka akan menjawab : sebenarnya saya tdk pantas ada disini, semuanya itu hanya karena KEMULIAANNYA saja.

Keadaan ini harus melalui suatu rencanaNya, spt dimana proses itu sedang berlangsung dimana kita berada.
Untuk menyederhanakannya, saya coba dg suatu ilustrasi sbb:
Bila pada saat penciptaan Allah menciptakan suatu jumlah manusia yang cukup banyak ( katakanlah 1000 org ), dan jumlah itu adalah final ( tidak ada lagi yg akan lahir dr mrk itu), dan mrk itu dlm keadaan mulia ( segambar dan serupa dg Allah ), kmdn Allah berfirman bhw mrk tdk boleh makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat, buah2 lainynya boleh, ttp dalam firmanNya itu tdk dikatakan " pada sat engkau memakannya pastilah engkau mati ".
Selang waktu tertentu, dihakimilah mrk.
Allah berfirman: " siapa yang telah melanggar perintahKu, dg memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat MATI ", seketika itu matilah diantara mrk yg memberontak tsb, tinggallah sisanya yg taat.
Kemudian ditanyalah mrk yang lulus itu: mengapa kamu bisa tetap hidup ?, tdk spt mrk yg mati itu.
Mrk menjawab : Kami taat perintahNya/ tidak memberontak, maka kami hidup.
Mrk mempunyai suatu alasan yg tepat untuk bisa hidup, pertanyaannya : bisakah mrk mengatakan “KEMULIAAN ITU HANYA UNTUK ALLAH SAJA”?

Kapan statement itu bisa muncul dr mulut manusia milikNya?, bila mrk mengalami dan menyadari bhw dirinya sangat2 buruk shg tidak lah pantas unt berada dalam kemuliaan bersama dg Allah, dan ternyata mrk dikaruniai itu.".

Gby

Hanya tafsir saja… (menyimak teks dibawah ini)

Copas: “3) Dosa / kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:”

Namanya tafsir, sedang mengadu untung kalau pengajaran bisa diterima atau tidak diterima, terserah pendapat yang membacanya.

Seperti sebuah ide yang dilontarkan, membawa kita berpikir ulang. Bahwa Allah itu maha tahu dan merecanakan segala perkara bahkan paling kecil sekalipun, jadi dengan demikian dosa juga termasuk rencana Allah sebab dosa bukan kecil lageeee…

Kehendak bebas manusia memilih yang buruk atau semua ada skenarionya sehingga dosa masuk dan keluar sesuai skenaria sehingga satu selamat dan tidak sesuai skenario saja.

Pendapat saya, kita diciptakan memiliki kehendak bebas, dan kita memilih dosa masuk ke dunia diketahui Allah sejak awal penciptaan karena manusia butuh proses untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah karena itu Allah merancangkan Kristus sebagai jalan keluar proses menjadi serupa denganNya seperti yang sejak semula ditetapkanNya tentang manusia.

Allah berfirman: " siapa yang telah melanggar perintahKu, dg memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat MATI ", seketika itu matilah diantara mrk yg memberontak tsb, tinggallah sisanya yg taat. Kemudian ditanyalah mrk yang lulus itu: mengapa kamu bisa tetap hidup ?, tdk spt mrk yg mati itu. Mrk menjawab : Kami taat perintahNya/ tidak memberontak, maka kami hidup. Mrk mempunyai suatu alasan yg tepat untuk bisa hidup, pertanyaannya : bisakah mrk mengatakan "KEMULIAAN ITU HANYA UNTUK ALLAH SAJA"?

Kapan statement itu bisa muncul dr mulut manusia milikNya?, bila mrk mengalami dan menyadari bhw dirinya sangat2 buruk shg tidak lah pantas unt berada dalam kemuliaan bersama dg Allah, dan ternyata mrk dikaruniai itu.".

Bisa saja bro.

Tentu anda juga hafal bagaimana Abraham ‘lulus’ ujian dengan ketaatannya. Dan Abraham memuji serta memuliakan Allah.

Syalom

Uraian Pdt. Budi Asali tersebut dapat diterima 100%. Allah menetapkan segala sesuatu termasuk dosa.

Karena jika Allah tidak menetapkan dosa Hitler, maka apa yang dilakukan Hitler menjadi kejutan bagi Allah.
Jika TUHAN Allah tidak menetapkan dosa Yudas Iskariot, maka pengkhianatan Yudas adalah sebuah surprised bagi TUHAN.

sebaliknya jika TUHAN sejak semula sudah tahu bahwa Hitler akan membantai umat tertentu, dan pembantaian itu terjadi maka kita dapat mengatakan bahwa TUHAN telah menetapkan dosa Hitler itu.
Hal yang sama terjadi pada Yudas Iskariot.

Yang dimaksud dengan kata “menetapkan” disini adalah DETAIL PERISTIWA ITU diketahui oleh TUHAN Allah sebelum PERISTIWA ITU ADA (sebaliknya pastilah tidak mungkin, karena ALLAH MAHA TAHU) dan pada saat Peristiwa itu belum terjadi ALLAH TELAH MEMPERKENANKAN Peristiwa itu terjadi (karena jika sebaliknya maka peristiwa itu tidak mungkin terjadi).

jadi uraian mengenai “ALLAH MENETAPKAN” ini sangat-sangat logis. Tidak ada logika yang bisa terjadi sebaliknya dari ALLAH MENETAPKAN tersebut.

Sebenarnya ada logika yang dipakai oleh banyak orang Kristen seperti ini :

“Kehendak bebas manusialah yangmenentukan”.

Tetapi ini tidak masuk akal, karena jika kehendak manusia yang menentukan, maka ALLAH hanyalah pencipta sebuah mesin RANDOM yang besar mesin mana adalah pikiran dan kehendak manusia, mesin mana ALLAH AKAN MENGIKUTI HASILNYA. Sehingga dengan demikian hasil apa yang terjadi ALLAH TIDAK TAHU SEBELUMNYA (sekali lagi ini tidak masuk akal).

jadi berbicara tentang ALLAH YANG MAHA TAHU DAN MAHA KUASA, maka mau tidak mau, suka tidak suka kita harus meneruima bahwa ALLAH MENETAPKAN SEGALA SESUATU TERMASUK DOSA.

dan benar kata Pdt. Budi Asali, anda tidak boleh hanya sampai di Bab IV karena anda bisa stress berat :), anda harus maju pada pelajaran Bab V … hahahahaha … biar jadi orang Kristen jangan Kristen setengah2, melainkan yang memiliki pemahaman komprehensif.

salam

@Petra

Dari uraian anda, sepertinya anda tidak menempatkan Allah sebagai sosok yang tidak terikat waktu. Seolah Allah menunggu proses baru tahu, sehingga, untuk menghindari kejutan, Allah memprogram arah sandiwara sebagai sutradara. Benarkah begitu?

Syalom

@bruce,
justru uraian Pdt. Budi Asali yang coba saya terjemahakan itu adalah berbicara dalam KONTEKS ALLAH DI LUAR WAKTU.
Dalam hal ALLAH MAHA TAHU dan ALLAH MAHA KUASA harus dilihat dalam konteks tersebut, karena jika masuk ke dalam konteks WAKTU yang bersifat series, maka MAHA TAHU itu tidak akan mungkin terjadi. Jadi satu-satunya yang mungkin adalah MENGELUARKAN ALLAH DARI WAKTU.

Sehingga timbul pengertian jika ALLAH berada DILUAR WAKTU (hal mana pastilah benar karena waktu adalah hanya ciptaan ALLAH) maka anda suka atau tidak suka anda harus mengakui bahwa ALLAH ADALAH THE ONLY PROGRAMMER.

Tetapi ketika bruce berbicara mengenai SUTRADARA, maka saya melihat dalam kata sutradara itu sendiri terkandung sebuah KELEMAHAN / KETERBATASAN WAKTU yang sangat parah dan mendasar. Jadi jika ALAH dimengerti dari kata “SUTRADARA” sudah jelas tidak mencukupi dan bisa misleading.

Oh came on brow, you can do more than that.

salam

Bro, bukankah di atas anda katakan bahwa kalau Allah memberikan freewill kepada Adam, maka Allah mungkin terkejut? Terkejut i sini hanya bisa terjadi kalau Allah tidak tahu. Kalau tahu tidak akan terkejut. Atau anda punya persepsi berbeda?

Kita diskusi secara cerdas saja, bro. Jadi tolong hindari kata kata yang memancing dan tidak berguna seperti 'Oh came on brow, you can do more than that. ’

Bagaimana? Bisa? Kita lanjut, kalau tidak, percuma kita teruskan.

Syalom

Iya, saya katakan itu bukan sebagai pandangan dari sistem teologinya Reformed, tetapi “ada orang Kristen” (yang saya maksudkan adalah mereka yang mendukung bahwa Freewill yang menentukan).

dan dari uraian saya di atas sebenarnya anda sudah mempersepsinya dengan benar.

Bahwa jika FREEWILL yang menentukan, maka hal itu hanya akan berujung pada HADIRNYA KEJUTAN BAGI ALLAH, dan itu berimplikasi ALLAH TIDAK TAHU SEBELUMNYA.

maka dengan logika saya yang demikian, akan menggiring orang untuk menyimpulkan “Jika demikian, nggak mungkin dong freewill bisa mengejutkan ALLAH YANG MAHA TAHU”.

jadi jika semua kita sudah sepaham soal ini, maka untuk sampai pada kesimpulan “ALLAH MENETAPKAN SEGALA SESUATU TERMASUK DOSA, akan menjadi mudah bagi mereka yang bukan Reformed”.

oh, soal kata2 itu, iya, saya hanya ingin seperti biasa, manas-manasin kawan diskusi … heheheh, no problem bro we can proceed more :afro:

salam

Bahwa jika FREEWILL yang menentukan, maka hal itu hanya akan berujung pada HADIRNYA KEJUTAN BAGI ALLAH, dan itu berimplikasi ALLAH TIDAK TAHU SEBELUMNYA.

maka dengan logika saya yang demikian, akan menggiring orang untuk menyimpulkan “Jika demikian, nggak mungkin dong freewill bisa mengejutkan ALLAH YANG MAHA TAHU”.

Nah, dalam hal ini, pendapat itu dengan ‘latar belakang’ cara padang manusia. Kalau tidak ditetapkan lebih dahulu, maka hasilnya tidak bisa dipastikan.

Sementara, menurut hemat saya, Allah tidak terikat waktu, bagiNya masa lalu manusia, masa kini dan masa depan, adalah seketika. Baginya tidak ada waktu menanti, FirmanNya berlaku seketika.

Sehingga, walaupun Ia memberikan freewill kepada manusia, Ia sudah tahu apa yang akan dipilih oleh si manusia. Ibarat pengarang buku, Ia sudah tahu kemana sang tokoh akan melangkah. Kira kira seperti itu analoginya.

Saya berterima kasih jika anda bisa berdiskusi dengan damai. karena sudah terlalu banyak member ‘sampah’ yang tidak layak mengaku sebagai Kristn di FK ini. Sehigga janganlah kita menambah jumlah sampah lagi.

Syalom

Kalau Allah sudah tahu sebelumnya dan pengetahuan itu tidak mungkin meleset ya itulah sudah ketetapan / kepastian. Mas ini gimana sih cara berpkirnya :smiley:

GBU

Kalau mas ini sudah mengetahui dengan pasti dan melakukan persis seperti itu, menurutmu bagaimana ?

GBU

Ketika Abraham lulus ujian , ada hal yg perlu untuk kita cermati : Apakah Abraham dapat taat krn kehendaknya sendiri?, apakah ada suatu karunia dr Allah spy dia taat?.
Kej2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Kita tahu bhw akibat pemberontakan tsb , tdk terkecuali Abraham pun kena.
lebih jelas bila kita baca:
Rm3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.
3:11 Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah.
3:12 Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.
FT Rm3:10-12 , inipun berlaku untuk Abraham , sbb disitu dikatakan seorangpun tidak.Gby

Lho, kalau Abraham taat karena sudah diarahkan oleh Roh, maka itu bukanlah ujian, bro.
Ibarat seorang pelajar mengikuti ujian, tetapi didampingi guru dalam mengisi jawaban, tentu bukan seperti itu.

Kej2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Kita tahu bhw akibat pemberontakan tsb , tdk terkecuali Abraham pun kena.

Apa ya hubungannya dengan dosa yang sudah ditentukan oleh Allah?

lebih jelas bila kita baca: Rm3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. 3:11 Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. 3:12 Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. FT Rm3:10-12 , inipun berlaku untuk Abraham , sbb disitu dikatakan seorangpun tidak.Gby

Kembali kita harus melihat konteks dari suatu ayat, bro.
Ayat dalam surat Paulus itu menggunakan kalimat dengan gaya bahasa hiperbolis.
Jesus juga sebagai manusia, tetapi jelas tidak termasuk dalam ucapan/tulisan Paulus itu kan?

Syalom