"Allah" seperti apa yang kita sembah ???

tergelitik dengan uraian bro Swordpen, di thread yg sudah dilock, ini kuitipannya :

Secara konseptual, akademis, filosofis, deskriptif, jawabannya TIDAK tetapi secara esensi, historis, devosial, jawabannya adalah YA

jawaban di atas adalah jawaban atas pertanyaan : APAKAH ALLAH KATOLIK SAMA DENGAN ALLAH ISRAEL ???

pertanyaan saya :

DENGAN CARA APAKAH KITA MENGENALI ALLAH SEHINGGA KITA BOLEH BERKATA ALLAHMU ADALAH ALLAHKU mengutip statement Ruth kepada Naomi ???

jadi dengan cara apakah kita mengatakan ALLAH Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub adalah ALLAH kita ???

salam

Untuk mengenali Allah orang Kristen dasar dan sumbernya hanyalah Alkitab PL maupun PB, ini menjadi bukti keberadaan Allah, tetapi orang Kristen tidak menyatakan keadaan Allah berdasarkan tradisi nenek moyang?

Mungkin kah agama khatolik mengenali Allah yang salah, saya tidak dapat menjawab karena saya bukan khatolik?

Ini perlu jawaban para ahli teologi tradisi khatolik?

Saya akan menjawabnya dengan menggunakan sebuah analogi,

Ada seekor gajah, dan gajah itu berada sekitar 50 meter jauhnya dari lima orang pengamat yang sebelumnya tidak mengenal gajah,

Pengamat pertama adalah seorang yang tuli sejak lahir, dalam dunianya yang tak mengenal suara, ia memiliki konsep mengenai gajah,
“Binatang ini hanya diam”

Pengamat kedua adalah seorang yang buta sejak lahir, dalam dunianya yang tak mengenal cahaya, ia memiliki konsep mengenai gajah,
“Binatang ini hanya mengerang dan mengeluarkan suara yang berisik”

Pengamat ketiga adalah seorang agak tidak waras, yang nalarnya agak terganggu, ia memiliki konsep mengenai gajah,
“Saya melihat gajah, saya mendengar suaranya, namun saya yakin bahwa binatang itu hanyalah ilusi, sebenarny tidak ada apa apa disana.”

Pengamat keempat adalah seorang yang secara fisik dan mental tiada bercacat, dalam dunianya yang lengkap, ia memiliki konsep mengenai gajah,
“Saya melihat gajah, saya mendengar suaranya, dan saya yakin binatang ini benar benar ada.”

Pengamat kelima adalah seorang yang biologist
Ia mendekatai gajah itu, menghitung jumlah kukunya, mmbelai kulitnya, meneliti rahangnya, mengambil sampel darah dan DNA, dan kemudian mengklasifikasikannya dalam suatu ordo, genus, dan familia, pengamat ini juga menebak secara tepat relasi relasi terdekat gajah dengan tepat, serta kemungkinan jalur evolusinya.

Kelima orang ini melakukan sensing terhadap gajah yang sama
namun mereka memliki deskripsi yang berbeda,

mereka bisa bertengkar karena deskrispi yang berbeda beda itu, persis yang terjadi dalam forum ini.

Pengamat keempat bisa saja datang dan marah marah pada pengamat kelima,
“bagaimana mungkin kamu percaya bahwa gajah ini adalah keturunan suatu mamalia yang sekecil tikus?”

Pengamat yang buta bisa berteriak,
“kalian semua tidak waras, binatang ini hanya bisa berteriak”

Pengamat yang tidak waras berkata,
“Kalian meributkan hal yang tidak ada”

Kita orang Kristen, dan juga Katolik, adalah pengamat kelima,
Orang orang Israel mungkin adalah pengamat keempat

saya mengembalikan pertanyaan kepada semuanya,

Apakah pengamat kelima dan pengamat keempat melihat gajah yang sama?
Apakah pengamat kelima memiliki pandangan yang sama dengan pengamat keempat mengenai gajah?

Saya sungguh sungguh berharap apa yang dikhawatirkan Sdr Bruce tidak benar benar terjadi

Saya juga sungguh mengharap seperti yang anda harapkan. Tetapi, sepertinya memang apa yang saya khawatirkan terbukti, bro. Karena memang lebih mudah menjadi megaphone daripada menjadi processor. ;D

Syalom

Salam Damai.

Kalo saya milih njawab sebagai "Gajah"nya.

Ngapain kalian berlima kog bertengkar mengenai saya ?? :ashamed0004:

GBU
:slight_smile:

Luk.11:28Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”
Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Kedua ayat ini diatas saling melengkapi dalam Lukas 11 Tuhan Yesus berkata “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”
Dan dalam Yohanes 14 "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Istilah kebenaran merupakan kata yang tidak asing bagi orang Kristen. Dalam kasus ini dengan topik Allah seperti apa yang kita sembah?
Perlu kita ketahui bahwa Allah yang dipahami orang Kristen Katolik dan protestan sangat berbeda. Allahnya Orang Kristen Protestan paham yang terimanya bersumber dari Alkitab.
Allahnya Orang Kristen Khatolik paham yang diterimanya berdasarkan ajaran Paus.
Kedua faham ini mengklaim mereka percaya Tuhan Yesus , sedangkan Tuhan sendiri mengatakan setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku (Yoh.18:37b). Kebenaran yang diberitakan Tuhan Yesus adalah kebenaran murni yang didalamnya tidak ada kepalsuan.
Disini kedua kepercayaan menganggap semuanya bersumber dari Yesus Kristus, namun kebenaran yang berasal dari Tuhan Yesus adalah benar dan perkataan mengandung kebenaran "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.

Jadi Allah mana yang murni disembah?
Mari kita lihat SEJARAH SINGKAT dengan perbedaan-perbendaan dasar Kristen Roma Katolik dengan Kristen Protestan.

Ini perlu diketahui, dalam menjaga ajaran kita masing-masing.

Contoh-contoh perbedaannya dalam ajaran-ajaran yang diterima dari sumber yang diajarkannya masing-masing Gereja:

  1. Doa untuk orang mati dan membuat tanda salib 300 M
  2. Pemujaan terhadap malaikat dan orang suci 375 M
  3. Penggunaan patung-patung 375 M
  4. Permulaan pemuliaan Maria (istilah ‘bunda Allah’) 431 M
  5. Doktrin tentang api pencucian 593 M
  6. Penggunaan bahasa Latin dalam doa / kebaktian 600 M
  7. Doa ditujukan kepada Maria, malaikat dan orang-orang suci 600 M
  8. Gelar ‘Paus’ 607 M9. Mencium kaki Paus 709 M
  9. Penyembahan terhadap salib, patung dan relics 786 M
  10. Penyembahan terhadap Santo Yusuf 890 M
  11. Kanonisasi orang-orang suci yang mati 995 M
  12. Hamba Tuhan tidak boleh menikah 1079 M14. Doa Rosario 1090 M
  13. Transubstantiation (doktrin tentang perjamuan kudus) 1215 M
  14. Alkitab dilarang untuk orang awam 1229 M
  15. Cawan Perjamuan Kudus dilarang untuk orang awam 1414 M
  16. Api Pencucian ditetapkan sebagai dogma 1439 M
  17. Doktrin tentang 7 sakramen diteguhkan 1439 M20. Salam Maria 1508 M
  18. Tradisi disetingkatkan dengan Alkitab 1545 M
  19. Apocrypha dimasukkan ke dalam Kitab Suci 1546 M
  20. Doktrin bahwa Maria lahir / dikandung dan hidup tanpa dosa 1854 M
  21. Paus tidak bisa salah kata-katanya 1870 M25. Kenaikan Maria ke surga 1950 M
  22. Maria dinyatakan sebagai ibu gereja 1965 M

Reformasi ini bertujuan untuk memanggil orang-orang untuk ‘kembali pada
Alkitab’ (Back to the Bible).
Dari semboyan ‘kembali pada Alkitab’ ini sebetulnya sudah jelas bahwa orang
kristen yang mempunyai jiwa reformasi, harus menganggap Roma Katolik sebagai
kristen yang sudah menyimpang. Kalau tidak menyimpang, mengapa harus kembali
pada Alkitab?Kesimpulan:
Kristen Protestan bukanlah agama/ajaran baru yang memberontak dari Roma
Katolik, tetapi ajaran yang kembali kepada kekristenan yang lama/mula-mula.

Karena itu, protestanisme bukanlah suatu agama baru, tetapi suatu
pengembalian pada iman dari gereja mula-mula. Itu adalah kekristenan yang
dibersihkan, dengan semua sampah / kotoran yang terkumpul selama abad
pertengahan dibuang)

Orang kristen harus memiliki dan
membaca Alkitab dengan rajin dan tekun!
Hanya Alkitab yang merupakan dasar hidup, iman dan gereja.

Dari perbedaan-perbedaan ini tentu Allah yang disembah kedua ajaran ini pasti berbeda ?

@bro-bro semua,

meskipun dimulai dengan pertanyaan beda Allah “Katolik” dan Israel, tetapi pembicaraan ini sebenarnya ingin lebih luas, terutama dikaitkan dengan SINKRETISME :

  • Semua Allah sama-saja
  • kita semua beribadah dan memuja “Yang Esa”
  • Banyak jalan menuju Roma
  • Dengan berbuat baik tidak mengganggu orang lain kita sudah memenuhi hukum Tuhan
  • Dengan menerima Yesus sebagai Juruselamat Pribadi, maka engkau selamat
  • kamu selamat karena melakukan syariat-syariat Tuhan
  • dll.

sangat banyak pemikiran-pemikiran tentang TUHAN yang kelihatannya rohani dan benar, tetapi antara mereka semua sebenarnya bertentangan sacara mandasar. Sehingga timbul kesadaran mengenai BERBEDANYA ALLAH agama-agama itu.

Di antara Kristen meski pikiran tentang bedanya ALLAH tersebut sedikit, tetapi tetap aja ada yang “iseng” berpikir soal itu. Sehingga ada alternatif instead of saying “the Mormon faith is a heresy” it is preferably to say that Mormon’s god is different with our God".

Namun ada fakta rohani bahwa ALLAH Kristen bukan ALLAH yang “obyektif” karena itu mustahil bagi manusia, tetapi ALLAH Kristen adalah ALLAH “relasional” sehingga bisa jadi seorang secara obyektif adalah Kristen dan ahli teologia tetapi secara relational dia adalah “atheis” dalam pengertian dasarnya.

Sehingga memahami dan menghayati/menghidupi ALLAH yang BENAR menjadi sangat penting.

kira2 begitu pemikiran sederhana saja.

salam

@sword

bagaiama kalau kejadinnya,

kelompok pengamat A, sedang memandang Gajah

kelompok pengamat B, sedang memandang Kuda Nil

walaupun sama sama besar, tetapi jelas berbeda

jika A mengatakan ciri 2 yang berbeda dengan B, maka tidaklah heran, karena object yg dilihat juga berbeda

maksud sis bahwa orang2 itu mengira dari KARAKTERISTIK “BESAR” sudah menguatkan mereka mengasumsikan SIFAT SAMA dalam kasus gajah ya.

padahal SAMA =/= BESAR, jadi karena Gajah dan Kuda Nil memiliki sifat “besar” in common, maka orang2 mengira Gajah=Kuda Nil.

jadi sangat penting bagi orang2 Kristen untuk mengidentifikasi SAMPAI DI BATAS MANA kita boleh sepakat untuk berani memutuskan kata SAMA itu.

contoh :

Protestan : TRINITAS, Yesus Historis, Para Rasul, ALKITAB
Katolik : TRINITAS, Yesus Historis, Para Rasul, ALKITAB
SSY : NON-TRINITAS, Yesus Historis, Para Rasul, different ALKITAB

dengan BERTUMPU PADA PARAMETER “TRINITAS, YESUS HISTORIS, PARA RASUL, ALKITAB” maka kita dapat menyimpulkan ALLAH Protestan = ALLAH Katolik =/= Allah SSY

jadi ketika kita mengatakan kita memiliki ALLAH yang SAMA, maka SAMPAI DI BATAS MANA DAN PARAMETER APA yang orang2 Kristen gunakan ???

salam

Hi bro, pertanyaan yang sangat bagus dan menarik sekali, melihat begitu banyak thread yang mempersoalakan cara berpikir Allah yang membuat perbedaan antara Kristen dan katolik.

Tetapi sebenarnya semua denominasi tidak menjadi masalah, sejauh tetap percaya satu2nya WAHYU ALLAH YANG TERTINGGI ADALAH ALKITAB.

Dimana ALKITAB merupakan satu satunya tempat kita mengenal ALLAH YANG BENAR.

Untuk dapat MENGENAL ALLAH YANG BENAR, hanya kalau kita mendapat KASIH KARUNIA ALLAH , untuk mengenal Allah dan mengerti sifat sifat Allah.

Kalau TIDAK ADA KASIH KARUNIA ALLAH, TIDAK SATUPUN MANUSIA DAPAT MENGATAKAN bahwa DIA MENGENAL ALLAH YANG BENAR.

Harus ALLAH YANG DATANG PADA MANUSIA , MEMPERKENALKAN DIRINYA MELALUI ALKITAB, MEMBERIKAN KASIH KARUNIANYA.

Ketidak mampuan manusia mencari Allah yang benar, membuatnya membentuk Allah menurut pikiran manusia yang terbatas.

Jadi hanya MANUSIA YANG TEKAH MENDAPAT KASIH KARUNIA ALLAH YANG DAPAT MENGENAL ALLAH PENCIPTANYA.

Hi Sis Rita, senang ketemu diskusi dengan anda lagi :slight_smile:

Saya merangkum point anda ya, ALLAH “ITU” haruslah :

  1. ALLAH yang mewahyukan DIRI melalui ALKITAB, the only ALKITAB
  2. ALLAH yang memberi “kasih karunia” which means GOD makes HIMSELF to be known by HUMAN BEINGS , not in the opposite way
  3. If it men who approach God, it must be ended in a “human’s mind created ‘god’”

salam

The Blessed Trinity

The dogma of the Trinity

The Trinity is the term employed to signify the central doctrine of the Christian religion — the truth that in the unity of the Godhead there are Three Persons, the Father, the Son, and the Holy Spirit, these Three Persons being truly distinct one from another.

Thus, in the words of the Athanasian Creed: “the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God, and yet there are not three Gods but one God.” In this Trinity of Persons the Son is begotten of the Father by an eternal generation, and the Holy Spirit proceeds by an eternal procession from the Father and the Son. Yet, notwithstanding this difference as to origin, the Persons are co-eternal and co-equal: all alike are uncreated and omnipotent. This, the Church teaches, is the revelation regarding God’s nature which Jesus Christ, the Son of God, came upon earth to deliver to the world: and which she proposes to man as the foundation of her whole dogmatic system.

In Scripture there is as yet no single term by which the Three Divine Persons are denoted together. The word trias (of which the Latin trinitas is a translation) is first found in Theophilus of Antioch about A.D. 180. He speaks of "the Trinity of God [the Father], His Word and His Wisdom (To Autolycus II.15). The term may, of course, have been in use before his time. Afterwards it appears in its Latin form of trinitas in Tertullian (On Pudicity 21). In the next century the word is in general use. It is found in many passages of Origen (“In Ps. xvii”, 15). The first creed in which it appears is that of Origen’s pupil, Gregory Thaumaturgus. In his Ekthesis tes pisteos composed between 260 and 270, he writes:

There is therefore nothing created, nothing subject to another in the Trinity: nor is there anything that has been added as though it once had not existed, but had entered afterwards: therefore the Father has never been without the Son, nor the Son without the Spirit: and this same Trinity is immutable and unalterable forever (P.G., X, 986).

It is manifest that a dogma so mysterious presupposes a Divine revelation. When the fact of revelation, understood in its full sense as the speech of God to man, is no longer admitted, the rejection of the doctrine follows as a necessary consequence. For this reason it has no place in the Liberal Protestantism of today. The writers of this school contend that the doctrine of the Trinity, as professed by the Church, is not contained in the New Testament, but that it was first formulated in the second century and received final approbation in the fourth, as the result of the Arian and Macedonian controversies. In view of this assertion it is necessary to consider in some detail the evidence afforded by Holy Scripture. Attempts have been made recently to apply the more extreme theories of comparative religion to the doctrine of the Trinity, and to account for it by an imaginary law of nature compelling men to group the objects of their worship in threes. It seems needless to give more than a reference to these extravagant views, which serious thinkers of every school reject as destitute of foundation.

Kalau saya, setuju sama yang sering dikatakan pakbrengos. Ikut YESUS semua beres, amen?
Semua agama sama, yaitu mencoba mendeskripsikan Tuhan. Dari sini pasti ada ketemu konsep yang sama, misalnya Tuhan itu pencipta langit bumi, hampir semua agama percaya Tuhannya demikian.

Yang membedakan Tuhan Kristen dangan Tuhan agama lain adalah ‘YESUS’. Tidak ada konsep agama manapun yang mengajarkan Tuhan yang merelakan anakNya untuk berkorban bagi keselamatan manusia. Bagian manusia hanya percaya.

Jadi manusia boleh sama atau beda dalam pengetahuan tentang Allah, tapi pokok-nya adalah apakah kita percaya Allah menyelamatkan manusia melalui anakNya.

Perkataan Ruth kepada Naomi itu dalam konteks Ruth mengikuti Naomi beribadat kepada Allah Israel, bukan menyamakan Allah Israel dengan Allah bangsa Moab.

:afro: Tepat dan bagus sekali rangkumannya.
:cheesy:

artinya bro Aleph, dengan RUTH “beribadah” menurut tatacara Naomi, apakah dengan demikian otomatis ALLAH NAOMI menjadi ALLAH RUTH ?

salam

Iya

terlalu banyak variabel. buta bukan berarti tidak bisa mencium aroma, tuli bukan berarti tidak bisa melihat.

Jika dibatasi, yang dibahas antara no 4 dan 5.

Dalam kesempurnaan indra, maka no 4 dan no 5 pasti memiliki pandangan yang bersinggungan (bahasa matematikanya himpunan bagian). Jadi tidak melulu tidak berkesesuaian.

Saya tidak menjawab langsung pertanyaan Sista,

Misalkan sista adalah Allah yang benar (per impossible),

terdapat seorang anak laki laki bangsa Mesir, dari kecil ia dicekoki doktrin doktrin mengenai monotheisme, dari belia ia dididik cara beribadah kepada dewa dea, ia diajar bahwa dewa dewa inilah yang memelihara bumi dan berkuasa pada makhluk,

anak laki laki ini tidak pernah ditemui YHWH seperti Musa, juga tidak pernah dijumpai Kristus seperti Paulus

namun, dengan segala keterbatasan intelektualnya
anak laki laki ini dengan tulus beribadah dengan dea dea yang ia percayai, ia menganggap bahwa dengan beribadah begitu, ia telah beribadah pada “allah” yang benar,

anda, adalah “Allah yang benar”
mungkinkah anda, sosok yang Maha Kasih, Maha bijaksana, akan menganggap anak tulus itu menyembah allah yang lain?

bagaimana definisi anda mengenai ibadah pada allah yang benar?
sebagai kontes intelektual teologis ataukah sebagai devosi yang tulus?

jawablah

OOT mode

further…
jika penyembahan kepada allah yang benar dianggap sebagai kontes intelektual
maka orang orang Kristen kebanyakan pun juga sebenarnya menyembah allah yang salah
karena
Konsepsi teologis dari akademisi Kristen saat ini mendeskripsikan Allah:
transenden, yaitu timeless, spaceless, yang merupakan eksistensi tiga fakultas volisional, emosional dan personal, dalam satu jiwa; suatu neccesary being dalam semua contingent world.

@bro SP

jadi menurut anda hubungan antara manusia dengan ALLAH diasumsikan berada pada posisi “netral dan setara” pada mulanya?

karena jawaban anda kepada sista bejo menunjukkan hal ini. CMIIW

sehingga kelihatannya tak terhindarkan ALLAH yang maha kasih “perlu mengapresiasi ketulusan” devosi orang2 tulus. pertanyaan sekarang MENGAPA ALLAH harus di “asumsikan” demikian untuk kemudian mengambil deduksi darinya.

bukankah ini sebuah lompatan besar dan hanya sebuah asumsi ?

salam