ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA HAL

LLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA HAL
Pdt. Dr. Stephen Tong

diambil dari www.sumberkristen.com

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan
bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah, (Roma
8:28). Ayat ini tidak pernah kau temukan di dalam buku-buku klasik dari Gerika kuno. Juga
penginterpretasian yang begitu tepat dan akurat, begitu baik dan total seperti ayat ini tidak akan dapat
kau temukan dalam buku-buku Aristotle, Plato, Socrates, Heraclitos, Lucresius, Empedocles, Homer.
Kau tidak mungkin dapat menemukan ayat yang seindah ayat ini di dalam filsafat Descrates,
Kiekegaard, ataupun Kant. Satu-satunya sumber bijaksana yang begitu besar di dalam alam semesta,
yaitu ROH KUDUS, mewahyukan kebenaran kepada manusia melalui Rasul-Nya, Paulus, sehingga dia
mengatakan kalimat yang mengandung makna yang amat dalam ini. Paulus menemukan kunci untuk
mengerti segala sesuatu berdasarkan wahyu Tuhan kepada manusia. Kita melihat ayat ini menonjol
sendiri di dalam seluruh Alkitab. Ayat ini sangat unik, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita,
peristiwa yang besar atau yang kecil, yang menyenangkan atau yang menyusahkan, pengalaman yang
pahit atau manis, yang mematikan atau menghidupkan, yang menguntungkan atau merugikan,
mempunyai hubungan satu dengan yang lain, dan Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, atau Allah
bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan faedah bagi orang yang mengasihi-Nya.
Untuk menterjemahkan ayat ini saja terdapat begitu banyak versi, sebab begitu banyak
kemungkinan menurut bentuk dari bahasa aslinya. Dikatakan di sini kita tahu bahwa Allah turut bekerja
di dalam segala sesuatu; God is working with all things, in everything He works; Allah bekerja di dalam
segala sesuatu atau yang diterjemahkan di sini menjadi ‘Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu’.
Terjemahan bahasa Mandarin: di dalam segala sesuatu ada kekuatan yang bekerja bersama untuk
mendatangkan faedah bagi mereka yang mencintai Tuhan. Terjemahan NSV, ayat ini dikaitkan dengan
ayat sebelumnya, bahwa Roh Kuduslah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu yang terjadi,
sehingga barangsiapa yang mencintai Tuhan mendapatkan kebaikanTerjemahan bahasa
Indonesia cukup indah, tetapi istilah turut bekerja kurang mencerminkan Allah sebagai inisiator. Allah Sebagai
Inisiator
Because all things work together for good to those who love God. And God is working within all
things; Allah ikut bekerja dalam segala sesuatu. Allah bekerja untuk mengatur segala sesuatu. Dia bukan
hanya ikut-ikutan bekerja sebagai oknum yang pasif. Dia adalah inisiator yang mengontrol, memonitor
dan menguasai sejarah. Allah kita adalah Allah yang memimpin sejarah, Tuhan dari sejarah. Allah kita
tidak mungkin membiarkan segala sesuatu terjadi tanpa campur tangan atau izin-Nya. Yang
direncanakan berada dalam kehendak-Nya, yang diizinkan berada dalam kehendak-Nya, yang dibiarkan
sekalipun tetap berada dalam kehendak-Nya. Allah memberikan kemungkinan dengan segala kebebasan
yang liar, berbuat apapun, tapi akhirnya tetap dikuasai oleh-Nya. Jangan mengira kalau kita mau berbuat
apa-apa, maka Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa. Allah membiarkan kita berdosa, membiarkan kita
memakai kebebasan kita yang liar, tapi akhirnya kebebasan seperti itupun tidak bisa terlepas dari
penghakiman-Nya. Dengan demikian orang Kristen mengetahui bahwa kedaulatan Tuhan berada dan
melanda di dalam segala bidang, segala katagori, segala peristiwa dan segala sesuatu. Pemahaman ini
akan membuat iman kita menjadi kuat.

Segala Sesuatu Bekerja Sama
Ayat ini merupakan salah satu ayat yang paling dalam untuk mengerti segala sesuatu yang terjadi di
dalam kosmos mempunyai makna dan telos (Yun: tujuan terakhir, Red) yang sesungguhnya. Allah
memberikan segala sesuatu kepada manusia, Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi, dan Dia juga ikut
memonitor segala sesuatu di dalam sejarah. Tetapi apakah maksud segala sesuatu? Apakah sebagai
peristiwa yang berkeping-keping ataukah sebagai totalitas? Jawabannya, bukan berkeping-keping dan
terpecah belah, tetapi merupakan ketotalan. Ada kaitan antar satu peristiwa dan peristiwa lain, sehingga
orang Kristen mempunyai pandangan total tentang hidup. Kita menangkap dan mengerti segala sesuatu
bukan sebagai peristiwa yang terpisah-pisah oleh waktu, oleh periode sejarah, oleh peristiwa-peristiwa
yang bersifat fragmental, melainkan sebagai peristiwa yang total.
Seorang ayah memberikan mainan puzzle yang terdiri dari ribuan keping kepada anaknya. Anak itu
bertanya, “Kalau saya sudah menyusunnya, akan menjadi gambar apa?” “Kau akan mendapatkan
gambar peta dunia,” jawab ayahnya. Si anak mulai menyusun, tetapi alangkah sulitnya menggabungkan
potongan-potongan kecil dari peta dunia, karena setiap potongan itu hampir sama: garis, warna sungai,
kota, tempat, hanya itu saja. Anak itu menggabungkan potongan-potongan itu dengan susah payah.
Akhirnya sang ayah berkata, “Kalau kaubalikkan semua potongan-potongan kecil itu, kau akan dapat
mengerjakannya dengan mudah.” Maka si anakpun berusaha membalikkan semua potongan kecil.
Akhirnya dia mulai menemukan bahwa apa yang dikerjakan memang gampang. Karena di balik
potongan itu terdapat warna yang gampang untuk dicocokkan. Setelah dia menggabungkan semuanya
itu, dia menemukan bahwa gambaran yang jadi adalah YESUS KRISTUS. Lalu diberikan lem dan dibalikkan,
ternyata peta dunia sudah jadi. Mengertikah Anda akan maksud saya?
Orang Kristen berbeda dengan orang yang bukan Kristen. Orang Kristen dididik dan diajar dengan
kalimat yang agung ini, all things work together for good to those who love God. Ini merupakan
pekerjaan Tuhan di belakang layar. Kalau kau memang adalah anak Tuhan yang mengasihi-Nya, tetapi
dalam hidupmu terjadi hal-hal yang berlawanan dengan kesejahteraan, kesehatan, dan keinginanmu,
jangan kecewa, menangis, dan mengeluh dengan tidak henti-hentinya. Karena kalau kau merasa sulit
untuk menyusun semua kepingan-kepingan yang bisa menjadi gambaran total, pasti ada maksud Tuhan yang
baik untukmu, pasti semua itu membawa akibat yang baik buatmu. Sampai kapankah iman kita
baru bisa menyanyi seperti ini, “Biarlah segala sesuatu terjadi pada diriku, karena semua itu menjadi
kebaikan bagiku yang mencintai Tuhan.” Sampai kapankah kita bisa mempunyai iman yang teguh,
sehingga kita berteriak seperti ini, “Biarlah semua kepahitan, penganiayaan, kesulitan, dan semua yang
tidak aku inginkan menimpa diriku, aku tetap memuji Tuhan. Karena di belakang segala kepahitan,
penderitaan, kesengsaraan, kerugian ada topangan dari tangan Tuhan, untuk memberikan faedah bagi
diriku.” Bila kerohanian seseorang sudah mencapai tahap ini, dia akan menjadi stabil luar biasa: biar
diancam, diiri, dihantam, difitnah, diumpat, dia tetap tenang dan tersenyum.
Segala sesuatu bekerja bersama? Memang. Allah tidak mencetak peta dunia yang kelebihan satu
atau kekurangan satu, sehingga akhirnya menjadi ompong-ompong. Tidak! Karena jikalau kau mengenal
kehendak KRISTUS dan rencana Tuhan yang kekal secara total, maka hidup yang berada di dalam
hidupmu dan pengalaman yang terjadi dalam hidupmu tidak ada satupun yang bisa dihapus.
Banyak orang Kristen tidak mau digarap oleh Tuhan. Hanya mau sebagian, tidak mau all things.
Hanya mau something, not all things. Only something and make you nothing. All things will make you
something. Kalau kau tidak rela diatur oleh Tuhan dalam semuanya, kau always become nothing. Tapi
bila kau menerima segala sesuatu dengan pengertian, ketaatan yang penuh, dan bijaksana yang dari
Tuhan, kau akan dibentuk oleh Tuhan menjadi sesuatu.
Dua ribu dua ratus lima puluh tahun yang lalu Mensius berkata, tian jiang da ren yu shi ren ye, pi
xian lao qi jing gu, jo qi fu; jikalau langit memberikan tugas yang berat kepada orang yang tertentu,
maka orang itu pasti diberikan kesengsaraan besar, dilatih sampai semua ototnya lelah, dan hatinya
penuh kepedihan, barulah dia akan menunaikan tugasnya. Sekali lagi saya menegaskan, tanpa salib tidak
ada kebangkitan; tanpa kematian, tidak ada mahkota; tanpa Getsemani, tidak ada kemuliaan. Inilah cara
Tuhan. Pada waktu kita berada di dalam kesulitan, kita berusaha melarikan diri, tetapi Allah
menghendaki kita mengalami segala sesuatu yang diizinkan datang melanda kita sebagai kesempatan
untuk mendapatkan kemenangan.

Mendatangkan Faedah
Di sini kita melihat ada campur tangan Tuhan Allah di dalam segala sesuatu, dan semua campur
tangan Allah mempunyai makna yang khusus: mendatangkan faedah, dan faedah ini khusus diberikan
kepada mereka yang mencintai Dia. Mengapa Tuhan memperbolehkan kesengsaraan berada di dalam
dunia? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan-kegagalan pribadi terjadi? Mengapa Tuhan tidak
menolong pada saat kita sedang dicobai setan, bahkan kadang-kadang memperbolehkan kita berada di
dalam cengkeramannya? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang sulit ini sudah diberikan oleh
orang-orang di dunia, baik para filsuf, moralis atau agamawan. Tetapi kecuali kita kembali kepada Kitab
Suci, kita tidak mungkin mendapatkan jawaban yang paling tepat untuk hal ini. Mengapa Tuhan
memperbolehkan sengsara itu ada? Mengapa Tuhan memperbolehkan kegagalan itu berada? Jika saya
adalah seorang yang mengajar anak saya menyetir mobil, lalu pada waktu kesulitan tiba – kalau
memang dalam jangkauan saya–, saya akan berusaha mengerem, sehingga tidak akan terjadi tabrakan.
Mengapa Tuhan tidak mengerem? Mengapa Dia tidak memberikan interverensi darurat pada waktu
kesulitan-kesulitan terjadi? Mengapa Tuhan memperbolehkan segala marabahaya terjadi? Mengapa, mengapa,
mengapa? Kita bertanya dan bertanya terus. Sepanjang hidup, manusia adalah satu-satunya
makhluk yang tidak habis-habisnya bertanya tentang peristiwa-peristiwa seperti ini.
Mengapa Allah memungkinkan dan membiarkan segala sesuatu terjadi? Martin Luther berkata,
“There are no why in the heart of the true believer” ; tidak ada kata “mengapa” di dalam hati orang-orang
yang sungguh beriman kepada Tuhan. Karena iman yang sejati sudah mencakup penerimaan dan
pengertian bahwa Allah tidak mungkin berbuat salah. Kalau Allah tidak mungkin berbuat salah, maka
segala sesuatu yang Ia izinkan terjadi pada diri kita adalah hal yang mempunyai faedah yang luar biasa
meskipun di luar kesanggupan kita untuk mengerti.
Pada waktu kepicikan, menderita penyakit, mengalami kesulitan atau disalahmengerti, diserang
oleh orang lain; pada waktu kau harus mengalami segala kesusahan yang jauh lebih berat dari
kemungkinan yang dapat kau tanggung, jawablah because Thy will is like this, I except all of them,
karena kehendak-Mu memang begitu indah. Kehendak Tuhan bukan saja indah di hari di mana kau
mengalami kesuksesan, diberi berkat dan hadiah, kehendak Tuhan yang indah termasuk saat-saat kau
diizinkan untuk menerima penderitaan dan kesulitan yang besar. Saya bukan pendeta yang berkata
kepadamu, “Percaya kepada Tuhan, beri pesembahan sebanyak mungkin, supaya kau mendapatkan
curahan berkat dari surga, sehingga menjadi kaya raya.” Saya berkata kepadamu, di antaramu ada yang
akan diberi kelancaran, kesehatan dan kekayaan, tapi sebagian mungkin akan diberi kecacatan,
kesulitan, dan segala penderitaan. Saya tidak tahu siapa. Tapi iman bukan hanya menyanyi di siang hari,
iman juga bisa menyanyi pada waktu malam yang gelap. Iman bukan hanya memuji pada waktu lancar,
iman selalu bersyukur di dalam penderitaan.
Mereka yang lancar, yang sukses, yang kaya, stop membanggakan diri, merebut kemuliaan Tuhan
Allah dan menghina orang lain. Sedangkan mereka yang menangis, yang menderita dan yang berada di
dalam kesengsaraan, yang sedang memikul salib berat, stop hujat Tuhan, stop mencela nama-Nya dan
berhenti berbuat dosa dalam usaha untuk menyelesaikan kesulitan itu. Segala sesuatu yang diizinkan
Tuhan terjadi di dalam hidup kita ada maksud tertentu yang sekarang terselubung dengan fenomena-fenomena
kesulitan, tetapi ada suatu pencerahan, pada waktu kau masuk ke dalam dirimu yang terdalam
untuk menemukan jawaban dari Tuhan.
Pada waktu gereja berada di dalam kesulitan, pada waktu orang Kristen mencucurkan air mata,
pada waktu kita mengalami segala kepicikan, jangan lupa bahwa Tuhan sedang menyatakan
kemungkinan yang lain di luar dalil dan rumus-rumus umum darimu. Mari kita semua melepaskan diri
dari segala kemungkinan yang mengakibatkan kita tercerai berai dari rumus dan pimpinan Tuhan yang
dinamis dan begitu indah. Biarlah kita tetap peka dan betul-betul rendah hati dan taat kepada Tuhan
setiap saat. Katakanlah, “Tuhan, segala sesuatu yang terjadi telah membawa aku lebih dekat kepada-Mu.
Untuk yang baik, saya bersyukur kepada-Mu, bukan karena jasaku yang tidak baik, yang tidak
menguntungkan, juga bukan satu hal yang khusus Tuhan pakai untuk menghantam saya, melainkan
Tuhan memakainya untuk melatih diriku menjadi lebih baik.”
Calvin dan komentator lain seperti F.F. Bruce melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya
sebagai latihan buat orang Kristen saja. Namun saya melihat hal lebih luas dari itu, melampaui sekadar
pengalaman pahit bagi orang Kristen saja. Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang tidak kita
inginkan terjadi? Mengapa Tuhan mengizinkan segala sesuatu yang seharusnya tidak terjadi? Saya tidak
tahu. Tapi saya tahu satu hal, untuk menyempurnakan yang di dalam, perlu memotong bagian bagian
yang di luar; untuk menyempurnakan yang lebih kekal, perlu ajaran yang diberikan pada bagian luar.
Kadang-kadang Tuhan harus memotong sesuatu, harus memukul sesuatu, sehingga kerugian yang
sementara mengakibatkan kesempurnaan yang kekal. Penderitaan kedagingan mengakibatkan suatu
kenikmatan rohani, sehingga kerusakan dan kekurangan secara fenomena dan hal yang terjadi di dunia
mengakibatkan kita memikirkan hal yang kekal. Sebuah buku apologetika komunisme untuk melawan
Kekristenan yang saya baca mengatakan,
“Jika orang Kristen mengatakan bahwa orang komunis bersalah banyak membunuh rakyatnya, kita akan
membantah dengan berkata, ‘Allahmu bersalah membunuh manusia lebih banyak daripada orang-orang
komunis.’ Satu kali bencana alam, seperti gunung meletus atau badai laut besar, ratusan ribu orang yang
tidak bersalah harus dibunuh.” Di dalam Kitab Suci kita melihat hal yang paling tidak masuk akal, atau
yang paling tidak bisa kita mengerti adalah peristiwa yang terjadi dalam hidup Ayub. Kesepuluh
anaknya mati dalam satu hari, harta benda dirampas dan semua yang dia miliki lenyap dari tangannya.
Bukan saja demikian, istrinyapun mulai meninggalkan dia. Hampir tidak ada contoh yang lebih
mengerikan, tidak ada malapetaka yang lebih besar, yang bisa kita bayangkan daripada peristiwa yang
terjadi pada diri Ayub. Hal tersebut perlu dicatat di dalam Alkitab, sehingga dari zaman ke zaman,
waktu manusia bertanya, ‘mengapa?’ (sebenarnya kita tidak berhak bertanya) dia boleh mencatat
peristiwa Ayub. Alkitab mencatat akhirnya Tuhan mengembalikan semua milik Ayub yang hilang dua
kali lipat dari sebelumnya.
sumberkristen.com