Amnesty Internasional : Hentikan Kekerasan Terhadap Minoritas

Amnesty Internasional : Hentikan Kekerasan Terhadap Minoritas

Kekhawatiran yang mendalam menyoal meningkatnya diskriminasi dan pengusikan terhadap kelompok minoritas keagamaan, terutama terhadap jemaah Ahmadiyah, pembangunan rumah ibadah membuat Amnesty International bersama dengan sejumlah LSM HAM di tanah air seperti Kontras, Imparsial, Elsam, Setara Institute, dan Human Rights Working Group menyuarakan aspirasi mereka untuk minoritas.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Amnesty International untuk Asia Pasifik mengatakan pemerintahan saat ini harus dapat melindungi semua warga negara dan segera menyelesaikan persoalan kekerasan berbasis keagamaan yang terjadi di Indonesia. Kekerasan atas nama agama yang terjadi beberapa bulan terakhir ini menujukan pemerintah Indonesia tidak serius dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Amnesty International meminta agar Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tentang Ahmadiyah segera dicabut karena telah menumbuhkan sebuah kondisi yang mendukung kekerasan dan perbuatan main hakim sendiri. Selain itu, Amnesty International juga mendesak Kementerian Dalam Negeri agar dapat memastikan peraturan yang dikeluarkan ditingkat daerah yang menyentuh persoalan keagamaan tunduk terhadap hak asasi manusia, sebagaimana tercantum dalam konstitusi Indonesia.

Selama di Jakarta, Amnesty International juga bertemu dengan Wakil Kepala Kepolisian Indonesia dan beberapa organisasi keagamaan terbesar seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) untuk membicarakan masalah kekerasan atas nama agama di Indonesia.Wakil Direktur Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, menyatakan kehadiran Amnesty International di Indonesia menunjukkan menguatnya keprihatinan dunia internasional terhadap situasi kebebasan beragama di Indonesia akhir-akhir ini. “Kehadiran Amnesty International di Indonesia menunjukan betapa menguatnya keprihatinan dunia internasional terhadap situasi kebebasan beragama di Indonesia,” ujar Bonar Tigor.

Source : Berbagai Sumber/DPT