Anda bertanya Calvinist menjawab..

wah repot kalau dosa untung,
hehehehe
ya memang kita di tebus dari dosa.itu benar

st yopi =

3:18 Sebab juga KRISTUS telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,
3:19 dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,
3:20 yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.
Masak ini gak ngerti?

calvinist=
tolong dijelaskan dengan bahasa anda. apa berarti kalau yang saya tangkap ‘sekilas’,
Tuhan Yesus setelah bangkit memberitakan injil kepada orang-orang yang di zaman PL
apa begitu? orang- orang di dalam penjara itu apa maksudnya ya? kok bisa disebut didalam penjara?apa ada penginjilan terhadap orang yang sudah mati dong berarti?

dari pada saya salah tangkap maksud anda, tolong dijelasin dong st yopi.

st yopi=
Mereka diciptakan dengan baik, namun freewill mereka negatif, mereka menolak sendiri kasih karunia dan neraka untuk mereka “kalau” mereka seperti itu nantinya, karena
Yer. 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Mzm. 145:9 TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

mazmur 145:9 itu merupakan berkat umum yang ada buat setiap orang
kalau menurut yer 29:11, Tuhan sudah merancangkan damai sejahtera dan bukan kecelakaan. dan manusia menolaknya maka mereka masuk neraka, begitu maksud anda?
ok, pertanyaannya:
kapan Tuhan merancangkan segala sesuatu??
apakah sesudah dunia dijadikan atau sebelum dunia di jadikan??
kalau sesudah dunia dijadikan berarti bertentangan dengan alkitab,
kalau sebelum dunia dijadikan, berarti semua sudah ada dalam rencana Tuhan.
Ayub 42 :2 berkata rancangan Tuhan tidak mungkin gagal,
berarti ketika awal Tuhan sudah merancangkan damai sejahtera dan bukan kecelakaan sesuai yer 29:11 itu tidak mungkin gagal !!
tapi kok manusia bisa menolaknya ya?
berarti gagal dong??
dan itu bertentangan dengan ayub 42:2

st yopi=
Luk 15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."
Kalo sudah dipredestinationkan, kenapa seperti itu kalau ada yang bertobat, kan semuanya “sudah diatur”?

calvinist=
emangnya kalau sudah dipredestinasikan dan itu terjadi sesuai rencana Allah, tidak boleh ada yang bersukacita
lagian yang maha tahu kan Allah, malaikat tidak maha tahu, jadi kalau malaikat bersukacita saya rasa tdk ada yg salah dgn hal itu?
coba anda jadi sutradara, anda sudah mengatur jalan cerita. kalau waktu dipentaskan, pemainnya/ ceritanya berjalan sesuai dengan rencana anda, apa anda tidak merasa sukacita?apa team anda yang bukan sebagai sutradara tidak bisa/boleh bersukacita?

jadi ini bukan masalah dengan predestinasi…

begitu st_yopi

ngomong2, franklin termasuk yang sejak kekekalan, telah di predestine “selamat” atau “tidak selamat” ?

tanya dirimu sendiri, yang terpenting Tuhan dengan Anda

GBU

berarti anda tidak yakin toh, kalau telah di predestine selamat ?

nah kalao gitu, kok getol banget promosi doktrin predestinasi ???


kalau saya sih, saya tidak percaya kalau “Tuhan mempredestine manusia untuk selamat dan tidak selamat”.

ok ?

siapa yang ngomong??? itu kan penafsiran anda sendiri!
lha ya wong hak saya ga mau jawab kepada anda emangnya kenapa?

GBU

buat bro lo2rest

http://golgothaministry.org/artikel/art_orangkristenktp.htm

II) Perbedaan orang Kristen asli dengan orang Kristen KTP.

  1. Orang Kristen sejati harus mempunyai keyakinan keselamatan.

Dalam metode penginjilan E. E. (Evangelism Explosion / Ledakan Penginjilan) ada 2 pertanyaan yang digunakan untuk mengetahui apakah yang akan diinjili ini adalah orang yang sungguh-sungguh kristen atau tidak. Pertanyaan pertama adalah: kalau kamu mati malam ini, yakinkah kamu bahwa kamu akan masuk surga? Kalau jawabannya ‘tidak’, itu menunjukkan orang itu bukan kristen atau bukan kristen yang sejati.

Memang, kalau saudara tidak yakin akan selamat / masuk surga, saya yakin saudara memang belum selamat dan tidak akan masuk surga (kecuali saudara bertobat dengan sungguh-sungguh). Dengan kata lain, saudara adalah orang kristen KTP.

a) Kekristenan memang mempunyai keyakinan keselamatan.

Apa dasar dari pandangan ini?

  1. Kristen adalah agama yang hanya mengandalkan iman kepada Yesus Kristus untuk keselamatan.

Dalam agama lain (termasuk Katolik) perbuatan baik menentukan keselamatan, atau setidaknya mempunyai andil dalam keselamatan. Ini menyebabkan dari sudut agama itu sendiri tidak mungkin ada keyakinan keselamatan, karena siapa yang bisa tahu banyaknya dosa atau perbuatan baik yang ia lakukan selama hidupnya? Tetapi dalam kekristenan, keselamatan didapatkan hanya karena iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan karena itu orang kristen bisa, dan bahkan harus, mempunyai keyakinan keselamatan.

  1. Adanya ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa orang kristen harus yakin akan keselamatannya, seperti:

· 1Yoh 5:13 - “Semuanya ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal”.

· Ro 8:16 - “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah”.

Arti Ro 8:16 ini adalah bahwa Roh Kudus meyakinkan kita yang percaya bahwa kita adalah anak Allah, dan kalau kita yakin bahwa kita adalah anak Allah, maka kita pasti akan yakin akan keselamatan kita.

  1. Orang kristen sejati harus percaya bahwa Kristus mati disalib untuk menebus semua dosanya, baik dosa asal, dosa yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang, tanpa kecuali. Hal ini ditujukan oleh kata-kata ‘segala’ atau ‘semua’ dalam ayat-ayat di bawah ini:

· Kol 2:13 - “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita”.

· 1Yoh 1:7,9 - “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. … Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

· Tit 2:14 - “yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik”.

· Yeh 36:25 - “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu”.

Ada orang yang tidak bisa percaya bahwa Kristus sudah mati untuk menebus dosa-dosa kita yang akan datang, dengan alasan bahwa dosa-dosa itu belum terjadi. Orang seperti ini harus ingat bahwa Kristus mati disalib sekitar 2000 tahun yang lalu, dan pada waktu itu dosa-dosa kita yang lampaupun belum terjadi. Kalau Ia bisa mati untuk dosa-dosa itu, mengapa Ia tidak bisa mati untuk dosa-dosa kita yang akan datang?

Sekarang, bisakah orang yang percaya bahwa Yesus mati menebus semua dosanya masih ragu-ragu akan masuk surga? Dosa yang mana yang menyebabkan ia berpikir bahwa ia masih bisa masuk neraka? Bukankah ia percaya semua dosanya sudah ditebus? ‘Percaya bahwa Yesus mati untuk semua dosanya’ dan ‘takut kalau-kalau ia akan masuk ke neraka / tidak yakin ia akan masuk surga’ adalah 2 hal yang kontradiksi / bertentangan, yang tidak mungkin bisa ada dalam diri seseorang secara bersamaan. Jadi, kalau seseorang betul-betul percaya bahwa Yesus telah mati untuk semua dosanya (yang lalu, yang sekarang, maupun yang akan datang, tanpa kecuali), maka ia pasti yakin akan masuk surga.

Dalam hidupnya ia memang masih berdosa dan akan berbuat dosa lagi terus sampai ia mati. Tetapi kalau ia percaya bahwa Kristus telah mati untuk semua dosanya, termasuk semua dosa-dosa yang akan datang, maka tidak ada alasan bagi dia untuk meragukan keselamatannya. Sebaliknya, kalau ia masih tidak yakin akan masuk surga atau masih takut kalau-kalau akan masuk neraka, maka itu menunjukkan bahwa ia tidak percaya bahwa Yesus telah mati untuk semua dosanya, dan ini menunjukkan bahwa ia hanyalah orang kristen KTP.

Illustrasi: saudara mempunyai hutang kepada si A. Si B merasa kasihan kepada saudara dan ia lalu membayar semua / seluruh hutang itu, dan ia lalu memberitakan hal itu kepada saudara. Kalau saudara betul-betul percaya kata-kata si B bahwa ia telah membayar seluruh hutang saudara kepada si A, mungkinkah saudara masih takut untuk bertemu si A, dengan alasan takut ditagih hutang? Kalau saudara masih takut, itu menunjukkan saudara tidak percaya bahwa si B telah membayar seluruh hutang saudara.

Memang kebanyakan orang kristen yang tidak yakin selamat itu, menganggap bahwa dirinya belum tentu selamat karena dirinya masih banyak dosa. Kalau saudara adalah orang seperti ini, maka pikirkan / renungkan hal-hal ini:

¨ Saudara percaya bahwa Yesus mati untuk semua dosa saudara yang banyak itu atau tidak?

¨ Saudara mengandalkan keselamatan karena perbuatan baik saudara atau mengandalkan jasa penebusan Kristus yang saudara terima dengan iman? Bdk. Kis 13:38-39 Ro 3:24,27-28 Gal 2:16,21 Ef 2:8-9.

¨ Semua orang kristen yang lain juga banyak dosa, bahkan mungkin lebih banyak dari saudara. Mengapa mereka bisa yakin selamat sedangkan saudara tidak? Jelas ada yang tidak beres dengan iman saudara!

¨ ‘Masih banyak dosa’ bukan alasan yang sah untuk meragukan keselamatan. Alasan yang sah untuk meragukan keselamatan adalah kalau dalam hidup saudara sama sekali tidak ada pengudusan / perubahan hidup ke arah positif (lihat point 4 di bawah).

b) Keyakinan keselamatan ini bukanlah keyakinan yang dipaksakan, dimana orang itu berusaha meyakin-yakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti akan masuk surga. Keyakinan yang benar datang / diberikan oleh Roh Kudus. Ini terlihat dari Ro 8:16 yang sudah saya bahas di atas, yang menunjukkan bahwa Roh Kudus itu meyakinkan kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Karena keyakinan ini diberikan oleh Roh Kudus, maka keyakinan ini akan ada tanpa dipaksakan. Pada waktu ditanya: ‘Apakah kalau kamu mati kamu yakin akan masuk surga?’, maka dengan hati yang sungguh-sungguh yakin, ia bisa berkata ‘Ya!’.

Ada orang kristen yang kalau ditanya: ‘Kalau kamu mati, apakah kamu yakin kamu akan masuk surga?’, lalu menjawab: ‘Menurut Kitab Suci begitu’. Saya sangat curiga dengan jawaban seperti ini. Memang keyakinan dalam diri kita didasarkan pada Kitab Suci. Tetapi jawaban orang itu bisa / mungkin menunjukkan bahwa sebetulnya ia sendiri tidak yakin, tetapi ia berusaha yakin karena Kitab Suci mengatakan demikian.

c) ‘Keyakinan keselamatan’ ini berbeda dengan ‘keyakinan bahwa Tuhan mengasihi saya’. Memang 2 hal ini bisa ada bersamaan, tetapi bisa juga tidak. Kalau saudara sekedar merasa bahwa Tuhan mengasihi saudara, tetapi saudara tidak yakin akan selamat / masuk surga, saudara tetap adalah orang kristen KTP.

d) Sekalipun sebagai orang Reformed saya tidak percaya bahwa orang kristen yang sejati bisa kehilangan keselamatan, tetapi saya percaya bahwa orang kristen yang sejati bisa kehilangan keyakinan keselamatan (bdk. Mat 11:2-6 yang menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis mengalami kegoncangan iman yang hebat sampai meragukan ke-Mesias-an Yesus). Kehilangan keyakinan keselamatan biasanya terjadi karena hidup dalam dosa, dan / atau tidak dijaganya persekutuan dengan Tuhan, dan ini mungkin sekali memang diberikan oleh Tuhan dengan tujuan untuk mempertobatkan orang tersebut. Karena itu, kalau dulu saudara betul-betul pernah yakin akan keselamatan saudara, tetapi sekarang ragu-ragu lagi, maka introspeksilah diri saudara. Bertobatlah dari dosa-dosa, dan kembalilah dekat dengan Tuhan.

Kalau saudara lulus dalam ‘testing’ pertama ini, dalam arti saudara betul-betul yakin akan keselamatan saudara, jangan terlalu cepat merasa senang. Lihat dulu apakah saudara juga lulus dalam testing-testing yang berikut.

  1. Orang Kristen yang sejati harus mempunyai pengertian yang benar tentang dasar-dasar kekristenan / Injil (Mat 13:23 - tanah subur itu ‘mendengar firman itu dan mengerti’).

Catatan: Perhatikan bahwa saya katakan ‘dasar-dasar kekristenan’, bukan doktrin-doktrin yang tinggi-tinggi seperti Predestinasi, Tritunggal, dsb.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persoalan ini:

a) Tanpa mendengar dan mengerti Injil, seseorang tidak mungkin bisa percaya kepada Yesus. Ini terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

· Ro 10:13-14 - “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.

· Ro 10:17 - “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus”.

Jadi, orang yang tidak pernah mendengar Injil, atau orang yang tidak mau mendengar Injil atau bersikap acuh tak acuh setiap kali mendengar Injil, tidak bisa percaya!

Demikian juga dengan orang gila dan idiot, dan bayi di bawah 2-3 tahun, apalagi bayi yang masih ada dalam kandungan, tidak bisa mengerti Firman Tuhan / Injil (ini saya katakan karena ada hamba Tuhan yang mengajarkan untuk menginjili bayi, yang bahkan masih dalam kandungan).

b) Apa saja yang termasuk Injil / dasar-dasar kekristenan?

Kitab Suci menunjukkan bahwa ‘iman yang menyelamatkan’ (saving faith) adalah iman kepada Kristus, dan ini harus berhubungan dengan penebusan dosanya dan bukan sekedar percaya bahwa Yesus ada, bisa menyembuhkan penyakit, bisa melakukan mujijat, menolong dari problem, dsb.

Ini terlihat dari banyak ayat seperti:

· Ro 3:25a - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya”. NIV: ‘through faith in his blood’ (= melalui iman dalam darahNya).

· Ro 5:9 - “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah”.

· Mat 1:21 - nama ‘Yesus’ diberikan karena Ia yang menyelamatkan umatNya dari dosa.

Jadi, pengertian minimal yang harus ada pada seorang kristen adalah bahwa Yesus adalah Allah, yang telah menjadi manusia, dan mati disalib untuk menebus dosa-dosanya, dan bahwa ia diselamatkan bukan karena perbuatan baiknya, tetapi semata-mata karena jasa penebusan Kristus, yang ia terima melalui iman.

c) Orang yang lulus pada testing pertama, tetapi gagal pada testing yang kedua, tetap adalah orang Kristen KTP. Atau dengan kata lain, orang yang ‘yakin selamat’ tetapi tidak mempunyai pengertian yang benar tentang Injil, tetap adalah orang kristen KTP.

Dalam metode Penginjilan E. E. (Evangelism Explosion), kalau orang yakin akan keselamatannya, maka diberikan pertanyaan kedua yang berbunyi: “kalau kamu mati malam ini dan menghadap Tuhan, dan Tuhan bertanya: ‘Mengapa aku harus memasukkan kamu ke surga?’, apa jawabmu?”. Sebetulnya pertanyaan ini bisa disederhanakan menjadi: ‘Mengapa kamu yakin selamat?’. Melalui jawaban atas pertanyaan ini diharapkan kita bisa mengetahui benar tidaknya pengertian orang itu tentang dasar kekristenan.

Kalau seseorang yakin akan keselamatannya, tetapi pada waktu ditanya: ‘Mengapa kamu yakin selamat?’, ia menjawab: ‘Karena aku sudah dibaptis’, atau, ‘Karena aku sudah rajin ke gereja / sudah berusaha hidup baik’, maka itu menunjukkan bahwa ia mempercayai ‘keselamatan karena perbuatan baik’, dan menunjukkan bahwa ia tidak mengerti tentang Injil (karena Injil tidak pernah mengajarkan ajaran keselamatan karena perbuatan baik, yang memang merupakan ajaran sesat), dan ini menunjukkan bahwa ia tetap adalah seorang kristen KTP. Keyakinan keselamatannya adalah keyakinan yang palsu!

  1. Orang Kristen yang sejati pasti mempunyai kerinduan / cinta dan sikap hormat / tunduk pada Firman Tuhan (Maz 119:16,20,24,40,70,72,77,92, 113,119,127,143,159 Kis 2:41-42 Kis 16:14 1Pet 2:2-3).

Orang yang belum percaya adalah orang yang mati secara rohani (Yoh 10:10 Ef 2:1), sehingga tidak mungkin bisa mempunyai kerinduan pada hal-hal rohani seperti Firman Tuhan.

1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

Tetapi kalau ia sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, apalagi sudah percaya kepada Kristus, maka ia pasti akan rindu pada Firman Tuhan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang kerinduan pada Firman Tuhan ini:

a) ‘Rindu terhadap Firman Tuhan’ berbeda dengan sekedar ‘mau mendengar Firman Tuhan’

Kalau seseorang sekedar ‘mau mendengar Firman Tuhan’, maka ia tidak akan terlalu mengusahakan hal itu. Kasarnya ia akan mempunyai motto: ‘ada Firman Tuhan baik, tidak ada ya sudah’.

Tetapi kalau seseorang betul-betul rindu Firman Tuhan, maka ini akan diwujudkan dengan mencari Firman Tuhan, baik itu Katekisasi, Pemahaman Alkitab, membaca Alkitab dalam Saat Teduh, mengikuti Bible Camp, Seminar, membeli dan membaca buku-buku rohani, dsb. Keadaannya akan mirip dengan orang yang sedang jatuh cinta yang merindukan sang pacar. Ia rela meninggalkan apa saja asal bisa bertemu dengan sang pacar. Pernahkah saudara mempunyai kerinduan seperti ini terhadap Firman Tuhan?

b) Ini berbeda dengan orang yang senang belajar, atau orang yang karena memang senang pada agama, lalu senang mendengar Firman Tuhan (dan senang juga mendengar pelajaran agama lain). Yang seperti ini biasanya tidak akan tahan lama, tetapi akan menjadi bosan.

c) ‘Senang mendengar khotbah’ belum tentu sama dengan ‘rindu / senang pada Firman Tuhan’.

Orang yang senang mendengar khotbah karena khotbahnya penuh lelucon, cerita, atau penghiburan, dsb, tidak berarti bahwa ia betul-betul rindu Firman Tuhan (bdk. 2Tim 4:3-4). Sebaliknya orang yang betul-betul rindu Firman Tuhan bisa saja sangat tidak senang mendengar khotbah yang tidak ada isinya, khotbah yang tanpa arah, dan apalagi khotbah yang sesat.

d) Seorang kristen yang sejati bisa saja tidak menyenangi khotbah / Firman Tuhan yang tidak sesuai dengan tingkat kerohaniannya. Misalnya, seorang bayi kristen, yang sebetulnya rindu Firman Tuhan, bisa saja tidak menyenangi Firman Tuhan yang terlalu sukar / berat untuknya. Ini seperti bayi yang senang dengan susu, tetapi belum bisa makan daging. Ini bukan menunjukkan kristen KTP, tetapi bayi kristen. Ia memang sudah selamat, tetapi ia harus bertumbuh dan melatih diri untuk bisa mendengar Firman Tuhan yang lebih sukar (1Kor 3:1-2 Ibr 5:11-14). Sebaliknya, orang kristen yang dewasa dalam iman, bisa saja tidak menyenangi ‘susu’ / Firman Tuhan yang terlalu mudah / sederhana.

e) Orang kristen yang IQnya / pendidikannya rendah juga bisa mengalami hal yang sama seperti bayi kristen di atas, pada waktu menerima pelajaran Firman Tuhan yang terlalu sukar, misalnya dengan menggunakan penguraian gramatika bahasa Yunani ataupun Inggris.

Sebaliknya orang yang IQnya tinggi / berpendidikan tinggi bisa tidak senang atau merasa bosan pada waktu mendengar Firman Tuhan yang disusun untuk orang yang berpendidikan rendah, misalnya dengan digunakannya banyak ilustrasi. Orang yang pandai ini sudah mengerti sekalipun tanpa ilustrasi, tetapi si pengkhotbah memberinya ilustrasi lagi, dan bukan hanya satu tetapi beberapa. Ini bisa membosankan bagi dia, padahal belum tentu ia tidak rindu Firman Tuhan!

f) Orang kristen sejati yang dulu pernah rindu pada Firman Tuhan, bisa saja pada suatu saat rohaninya mundur, terjerat kembali oleh dosa, dsb, sehingga kehilangan kerinduannya akan Firman Tuhan. Ini tidak menunjukkan bahwa ia adalah orang kristen KTP. Orang kristen KTP tidak pernah rindu pada Firman Tuhan.

g) Orang yang rindu Firman Tuhan pasti akan merasakan sukacita dalam hati pada waktu mendapat pengertian yang baru tentang Tuhan / Firman Tuhan, bahkan pada waktu pengertian baru itu menegur dia. Sukacita ini berbeda dengan rasa senang yang bersifat daging, yang muncul waktu mendengar lelucon dalam khotbah!

h) Kerinduan terhadap Firman Tuhan ini juga harus disertai sikap hormat / tunduk pada Firman Tuhan.

  1. Orang Kristen yang sejati pasti mengalami pengudusan / perubahan hidup ke arah yang positif (Yak 2:17,26).

a) Pemberian Roh Kudus kepada orang yang percaya kepada Kristus menyebabkan terjadinya pengudusan, karena Roh Kudus ini menghasilkan buah Roh (Gal 5:22-23). Pengudusan langsung dimulai setelah percaya, dan merupakan proses yang tidak akan pernah selesai seumur hidup kita. Tidak ada pengudusan dimana orangnya mendadak menjadi suci / saleh luar biasa, misalnya yang dilakukan oleh kalangan Kharismatik dengan menengking semua roh jahat dalam diri orang itu. Pengudusan yang merupakan proses seumur hidup ini sesuai dengan gambaran ‘buah’, yang mula-mula kecil dan perlahan-lahan menjadi makin besar dan makin matang.

b) Karena pengudusan merupakan buah dari Roh Kudus yang ada di dalam kita, maka pengudusan orang kristen muncul dari dalam, bukan dipaksakan dari luar. Misalnya dalam persoalan pergi ke gereja, ia akan melakukan hal itu bukan sekedar karena didesak orang lain, tetapi karena hatinya memang ingin ke gereja. Demikian juga dalam belajar Firman Tuhan, memberitakan Injil, dsb.

c) Pekerjaan Roh Kudus yang menguduskan ini akan menyebabkan orang kristen itu mulai membenci dosa, dan kebencian terhadap dosa ini akan terus bertumbuh, dan menyebabkan ia tidak mungkin meremehkan dosa, atau bersikap santai / acuh tak acuh pada waktu ia tahu bahwa ia telah berbuat dosa. Pada saat yang sama dalam diri orang itu akan muncul dan bertumbuh suatu kecintaan pada kebenaran / kesucian. Kedua hal ini bisa terlihat dari:

· Maz 101:3 - “Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku”.

· Maz 119:104 - “Aku beroleh pengertian dari titah-titahMu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta”.

· Maz 119:128 - “Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titahMu; segala jalan dusta aku benci”.

· Maz 119:163 - “Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta, tetapi TauratMu kucintai”.

· Sikap Yesus, rasul-rasul, nabi-nabi, orang-orang saleh pada waktu mereka marah karena adanya dosa.

d) Pekerjaan Roh Kudus yang menguduskannya ini menyebabkan orang itu akan mengalami konflik dalam dirinya, yaitu konflik antara kecenderungan daging / manusia lamanya untuk berbuat dosa, dan pekerjaan Roh Kudus yang mendorongnya pada kekudusan. Kadang-kadang seakan-akan ada kebencian dan kecintaan sekaligus pada suatu dosa tertentu. Ini sesuai dengan ayat-ayat di bawah ini:

· Mat 26:41 - “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah”.

· Gal 5:17 - “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki”.

· Ro 7:15-23 - “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku”.

Karena itu, selama dalam diri saudara memang ada pengudusan / keinginan untuk mentaati Tuhan, maka jangan menganggap daya tarik kepada dosa dalam diri saudara itu sebagai bukti bahwa saudara adalah orang Kristen KTP.

e) Tidak adanya / kurangnya pengudusan dalam satu / beberapa segi kehidupan, tidak / belum menunjukkan bahwa orangnya adalah orang kristen KTP. Kalau ia adalah orang kristen KTP, maka ia tidak mengalami pengudusan sama sekali, kecuali pengudusan yang dipaksakan dari luar, yang sebetulnya bukanlah pengudusan.

f) Dalam menyoroti pengudusan, yang disoroti bukanlah apakah orangnya saleh atau tidak, tetapi apakah orangnya menjadi lebih baik atau tidak. Jadi, orang saleh yang memang saleh dari kecil, tetapi tidak mengalami kemajuan dalam kesalehannya, bukanlah orang kristen. Sebaliknya, sekalipun seorang kristen masih banyak mempunyai kekurangan / kelemahan, tetapi kalau ia mengalami kemajuan dalam pengudusannya, maka ia adalah orang kristen sejati.

g) Orang kristen yang sejati bisa mengalami pengudusan, tetapi lalu terhenti. Karena itu ada ayat-ayat seperti 2Pet 1:5-8 dan 1Tes 4:1,10 yang menyuruh kita untuk berusaha melakukan pengudusan dengan lebih bersungguh-sungguh lagi. Ini tidak menunjukkan bahwa ia adalah orang kristen KTP.

h) Orang yang mengalami pengudusan biasanya justru merasa bahwa dirinya begitu kotor / berdosa (bdk. Ro 7:18-19 1Tim 1:15b). Mengapa? Karena pengudusan menyebabkan ia dekat dengan Tuhan yang maha suci, dan itu otomatis akan menyebabkan ia merasa kotor. Disamping itu pengudusan mensyaratkan pertumbuhan pengertian Firman Tuhan, dan pertumbuhan pengertian Firman Tuhan ini juga membuat orangnya makin menyadari dosanya.

  1. Orang Kristen yang sejati pasti mempunyai keinginan untuk menyelamatkan orang lain (Yoh 1:41,45 Mat 9:9-10 Kis 8:1-4 1Kor 9:16b).

Keinginan menyelamatkan orang lain itu bisa diwujudkan dengan mengajaknya ke gereja, memberitakan Injil kepadanya, mendoakannya, dan memberi kesaksian yang baik kepadanya.

Charles Haddon Spurgeon: “I will not believe that you have tasted of the honey of the gospel if you can eat it all yourself” (= Aku tidak akan percaya bahwa engkau sudah mengecap madu Injil jika engkau bisa memakan sendiri semuanya) - ‘Morning and Evening’, February 19, evening.

Kalau saudara sebetulnya mempunyai beban untuk memberitakan Injil, tetapi takut melakukannya, maka itu mungkin masih menunjukkan bahwa saudara adalah orang kristen sejati. Tetapi kalau saudara sama sekali tidak mempunyai beban untuk memberitakan Injil / menyelamatkan orang lain, itu menunjukkan bahwa saudara sendiri belum pernah diselamatkan.

  1. Satu hal lagi yang bisa ditambahkan adalah orang kristen KTP seringkali merasa jengkel / tersinggung kalau ia diinjili, apalagi kalau ditanya: ‘Apakah kamu yakin akan masuk surga?’.

Orang kristen yang sejati, seharusnya senang / bersukacita kalau orang kristen lain mentaati Tuhan (2Yoh 4 3Yoh 3-4). Karena itu, pada saat ia melihat orang kristen memberitakan Injil, sekalipun penginjilan itu ditujukan kepadanya, ia harus senang / bersukacita. Ia seharusnya memuji orang yang memberitakan Injil itu dan mendorongnya untuk terus melakukannya kepada orang lain, bukan lalu jengkel dan memarahinya, karena hal ini bisa menyebabkan orang itu justru lalu berhenti memberitakan Injil.

GBU

http://golgothaministry.org/keselamatan/kehilangan.htm

‘Orang yang kehilangan keselamatan’

dalam Kitab Yehezkiel

Yeh 3:20 - “Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.

Yeh 18:24 - “Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik - apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya”.

Yeh 18:26 - “Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya”.

Yeh 33:13 - “Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! - tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya”.

Yeh 33:18 - “Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia harus mati karena itu”.

I) Penafsiran Arminian / salah.

  1. Inti dari penafsiran Arminian tentang text-text di atas adalah bahwa ‘orang benar’ diartikan sebagai orang yang betul-betul percaya dan betul-betul sudah dibenarkan. Jadi text-text tersebut di atas mereka artikan bahwa orang kristen sejati bisa murtad sehingga lalu kehilangan keselamatannya.

Pdt. Jusuf B. S.: “Orang yang sudah dibenarkan di dalam Kristus, tetapi kemudian berbalik berbuat dosa, tidak mau bertobat, sampai mati tetap hidup di dalam dosa, keselamatannya hilang, ia mati dalam dosa” - ‘Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 45.

Ia lalu mengutip Yeh 33:13 sebagai dasar.

Adam Clarke tentang Yeh 3:20:

“From these passages we see that a righteous man may fall from grace, and perish everlastingly. Should it be said that it means the self-righteous, I reply, this is absurd; for self-righteousness is a fall itself, and the sooner a man falls from it the better for himself. Real, genuine righteousness of heart and life is that which is meant. Let him that standeth take heed lest he fall” (= Dari text-text ini kita melihat bahwa seorang yang benar bisa jatuh dari kasih karunia, dan binasa secara kekal. Jika dikatakan bahwa itu berarti kebenaran diri sendiri, saya menjawab bahwa ini menggelikan; karena kebenaran diri sendiri itu sendiri merupakan suatu kejatuhan, dan makin cepat seseorang jatuh dari padanya, makin baik untuk dirinya sendiri. Kebenaran yang sungguh-sungguh dan asli / sejati dari hati dan kehidupan adalah apa yang dimaksudkan di sini. ‘Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh’) - hal 432.

Adam Clarke tentang Yeh 18:24:

“Can a man who was once holy and pure, fall away so as to perish everlastingly? YES. For God says, ‘If he turn away from his righteousness;’ not his self-righteousness, the gloss of theologians: for God never speaks of turning away from that, for, in his eyes, that is a nonentity. There is no righteousness or holiness but what himself infuses into the soul of man, and as to self-righteousness, i.e., a man’s supposing himself to be righteous when he has not the life of God in his soul, it is the delusion of a dark and hardened heart; therefore it is the real righteous principle and righteous practice that God speaks of here. And he tells us, that a man may so ‘turn away from this,’ and so ‘commit iniquity,’ and ‘acts as the wicked man,’ that his righteousness shall be no more mentioned to his account, … So then, God himself informs us that a righteous man may not only fall foully, but fall finally” (= Bisakah seseorang yang pada suatu saat pernah kudus dan murni, jatuh / murtad sehingga binasa secara kekal? YA. Karena Allah berkata: ‘Jika ia berbalik dari kebenarannya’; bukan kebenarannya sendiri, komentar dari para ahli theologia: karena Allah tidak pernah mengatakan tentang berbalik dari hal itu, karena di mataNya, hal itu tidak ada. Tidak ada kebenaran atau kekudusan kecuali apa yang Ia sendiri masukkan ke dalam jiwa manusia, dan berkenaan dengan kebenaran diri sendiri, yaitu anggapan orang bahwa dirinya benar padahal ia tidak mempunyai kehidupan Allah dalam jiwanya, itu merupakan suatu khayalan dari hati yang gelap dan dikeraskan; karena itu adalah prinsip kebenaran dan praktek kebenaran yang sejati yang Allah bicarakan di sini. Dan Ia memberitahu kita, bahwa seseorang bisa ‘berbalik dari hal ini’ dan ‘melakukan kejahatan’, dan ‘bertindak seperti orang jahat’, sehingga kebenarannya tidak akan diperhitungkan lagi, … Maka demikianlah, Allah sendiri menginformasikan kepada kita bahwa seorang yang benar bukan hanya bisa jatuh secara buruk / jahat, tetapi juga jatuh pada akhirnya / sampai akhir) - hal 471.

  1. Keberatan terhadap penafsiran ini:

a) Dalam Yeh 33:13, yang jelas merupakan ayat yang paralel dengan Yeh 18:24 ini, justru disebutkan bahwa orang itu mempercayai ‘kebenarannya’.

Yeh 33:13 - “Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! - tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya”.

Bdk. penggunaan kata ‘kebenaran’ dalam:

· Ro 10:3 - “Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.

· Gal 5:4 - “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia”.

· Fil 3:6,9 - “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. … dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.

b) Mereka menafsirkan text-text tersebut di atas tanpa mempedulikan ayat-ayat lain dalam Kitab Suci, seperti Yoh 8:31 1Yoh 2:18-19 2Yoh 9 yang jelas mengatakan bahwa hanya orang kristen KTPlah yang bisa murtad, sedangkan orang kristen sejati pasti bertahan sampai akhir.

II) Penafsiran Reformed / benar.

  1. Inti dari penafsiran Reformed tentang text-text tersebut di atas adalah bahwa yang dimaksud dengan ‘orang benar’ dalam text-text itu hanyalah orang yang kelihatannya benar, atau orang benar secara lahiriah, atau orang kristen KTP.

John B. Taylor (Tyndale) tentang Yeh 3:20:

“What is meant by the righteous man (20)? We must be careful not to read New Testament doctrine back into the Old and interpret this in the full light of Pauline justification. The righteous (Heb. saddiq) was essentially the man who showed by his good living his adherence to the covenant. It went without saying that he was dutiful in carrying out the requisite religious observances, but the 8th-century prophets make it clear that many performed these enthusiastically and yet were far from righteous. … In view of this it is clear that righteousness was not thought of as an indelible characteristic: it could all too easily be lost, and then the man’s former righteous acts counted for nothing” [= Apa yang dimaksud dengan ‘orang benar’ (20)? Kita harus berhati-hati untuk tidak memasukkan ajaran Perjanjian Baru ke dalam Perjanjian Lama dan menafsirkan hal ini dalam terang sepenuhnya dari pembenaran dari ajaran Paulus. Orang benar (Ibr. tsaddiq) adalah orang yang oleh hidupnya yang baik menunjukkan kesetiaan / ketaatannya pada perjanjian. Jelas bahwa ia patuh dalam melaksanakan hal-hal agamawi, tetapi nabi-nabi abad ke 8 membuat jelas bahwa ada banyak orang melakukan hal-hal ini dengan antusias tetapi jauh dari kebenaran. … Mengingat hal ini adalah jelas bahwa kebenaran tidaklah dianggap sebagai sifat yang tak dapat dihilangkan / dihapuskan: itu bisa hilang dengan mudah, dan lalu tindakan-tindakan benar yang terdahulu dari orang itu dianggap tidak ada] - hal 70,71.

Catatan: saya tidak tahu apakah John B. Taylor memang orang Reformed atau tidak, tetapi pandangannya tentang text-text di atas sama seperti orang-orang Reformed.

Charles Lee Feinberg tentang Yeh 3:20:

“The words of this passage in Ezekiel have been taken erroneously to teach ‘falling from grace.’ The phrase is found in Galatians 5:4 where the context makes the meaning clear. The belief in falling from grace is true of all legalists who abandon the basis of grace for works of their own. … The misunderstanding appears in the interpretation of what transpires with the ‘righteous’ man. From the context of this passage and the general teaching of Scripture, we must conclude that the ‘righteous’ person of this chapter was not one who had the root of regeneration, but one who was righteous in outward appearance and deed only. His individual acts of righteousness would not be reckoned because he was ultimately found lacking in the basic element of true righteousness. Final perseverance was the only method whereby the prophet could know and judge. All that is meant here with regard to the characteristic ‘righteous’ is an outward conformity to the way of obedience and righteousness. In the Old Testament period when one truly trusted God he manifested it by delighting in God’s Word and obeying His law. Of course, there was numerous occasions, as implied here, where conformity to the law was not accompanied by inward grace” (= Kata-kata dari text dalam Yehezkiel ini secara salah telah dipakai untuk mengajarkan ajaran ‘jatuh dari kasih karunia’. Ungkapan ini ditemukan dalam Galatia 5:4 dimana kontextnya membuat artinya menjadi jelas. Kepercayaan tentang jatuh dari kasih karunia adalah benar tentang semua orang yang mempercayai keselamatan karena perbuatan baik, yang meninggalkan landasan kasih karunia dan menggantikannya dengan perbuatan baik mereka sendiri. … Kesalahmengertian timbul dalam penafsiran tentang apa yang terjadi dengan orang ‘benar’ ini. Dari kontext dari text ini, dan dari ajaran umum dari Kitab Suci, kita harus menyimpulkan bahwa orang yang benar dari pasal ini bukanlah seseorang yang sudah dilahirbarukan, tetapi seseorang yang benar hanya dalam penampilan dan tindakan lahiriah saja. Tindakan-tindakan kebenarannya tidak dianggap karena ia tidak mempunyai elemen dasari dari kebenaran yang sejati. Ketekunan sampai akhir adalah satu-satunya metode dengan mana sang nabi bisa tahu dan menghakimi / menilai. Semua yang dimaksudkan di sini berkenaan dengan sifat ‘benar’ adalah kesesuaian lahiriah dengan jalan ketaatan dan kebenaran. Dalam jaman Perjanjian Lama pada saat seseorang betul-betul mempercayai Allah, ia mewujudkannya dengan menyenangi Firman Allah dan mentaati hukumNya. Tentu saja, ada banyak peristiwa, seperti yang secara tak langsung ditunjukkan di sini, dimana kesesuaian dengan hukum tidak disertai dengan kasih karunia yang ada di dalam) - ‘The Prophecy of Ezekiel’, hal 29-30.

Catatan: Charles Lee Feinberg kelihatannya bukan orang Reformed, dan itu terlihat dari komentarnya tentang Yeh 18:24, tetapi penafsirannya tentang Yeh 3:20 sesuai dengan penafsiran Reformed.

Charles Lee Feinberg tentang Yeh 18:24:

“Ezekiel introduced another factor in verses 21-24. He took the hypothetical case of a wicked man who radically changes, and forsakes his wicked ways in order to do God’s righteous will. The implication is clear that man has the ability to determine his final condition. Such a man will not die but surely live. Thus, not only is a man free from his father’s misdeeds; he can also break with his own ungodly past if his heart desires. … His past will be no deterrent to the blessing of God. The standing of the individual is determined by his final choice of good or evil” (= Yehezkiel mengajukan faktor yang lain dalam ay 21-24. Ia mengambil suatu kasus tentang seorang jahat yang berubah secara radikal, dan meninggalkan jalannya yang jahat supaya bisa melakukan kehendak yang benar dari Allah. Pengertian / maksudnya jelas bahwa seorang manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan keadaan akhirnya. Orang seperti itu tidak akan mati tetapi pasti hidup. Jadi, bukan hanya seseorang itu bebas dari kelakuan buruk ayahnya; tetapi ia juga bisa memutuskan hubungan dengan masa lalunya sendiri yang jahat, jika hatinya menginginkannya. … Masa lalunya tidak akan menjadi penghalang bagi berkat Allah. Kedudukan dari setiap orang ditentukan oleh pilihan akhirnya tentang baik atau jahat) - ‘The Prophecy of Ezekiel’, hal 102-103.

Catatan: kelihatannya ia tidak mempercayai doktrin ‘Total Depravity (= Kebejatan total)’ atau ‘Total Inability (= Ketidakmampuan total)’ dari Calvinisme. Ia tidak memperhatikan ayat-ayat seperti Yoh 6:44,65 yang menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin datang kepada Kristus kalau bukan karena Allah menariknya / mengaruniakannya.

Calvin tentang Yeh 3:20:

“Here it may be asked, how can the just turn aside, since there is no righteousness without the spirit of regeneration? But the seed of the Spirit is incorruptible, (1Pet. 1:23,) nor can it ever happen that his grace is utterly extinguished; for the Spirit is the earnest and the seal of our adoption, for God’s adoption is without repentance, as Paul says. (Rom. 11:29.) Hence it may seem absurd to say, that the just recedes and turns aside from the right way. That passage of John is well known - if they had been of us, they had remained with us, (1John 2:19,) but because they have departed, that falling away proves sufficiently that they were never ours. But we must here mark, that ‘righteousness’ is here called so, which has only the outward appearance and not the root: for when once the spirit of regeneration begins to flourish, as I have said, it remains perpetually” [= Di sini bisa ditanyakan: bagaimana orang benar bisa menyimpang / berbalik, karena tidak ada kebenaran tanpa kelahiran baru? Tetapi benih dari Roh tidak dapat binasa (1Pet 1:23), juga tidak pernah bisa terjadi bahwa kasih karuniaNya dipadamkan secara total; karena Roh itu adalah jaminan dan meterai dari pengadopsian kita, karena pengadopsian Allah tidak akan disesali, seperti yang dikatakan oleh Paulus (Ro 11:29). Karena itu adalah menggelikan untuk mengatakan bahwa orang benar mundur dan menyimpang dari jalan yang benar. Text dari Yohanes merupakan text yang terkenal - ‘jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita’ (1Yoh 2:19), tetapi karena mereka telah meninggalkan kita, kemurtadan itu membuktikan secara cukup bahwa mereka tidak pernah termasuk pada kita. Tetapi di sini kita harus memperhatikan, bahwa ‘kebenaran’ di sini disebut demikian, yang hanya mempunyai penampilan lahiriah dan tidak mempunyai akarnya: karena kalau satu kali roh kelahiran baru mulai tumbuh dengan subur, seperti yang telah saya katakan, itu akan tinggal secara kekal] - hal 159.

Catatan: perhatikan bahwa berbeda dengan para penafsir Arminian, maka Calvin menafsirkan text-text tersebut dengan memperhatikan ayat-ayat Kitab Suci yang berhubungan dengan text-text itu.

Calvin tentang Yeh 18:24:

“But here a question arises, Can a truly just person deflect from the right way? for he who is begotten of God is so free from the tyranny of sin that he devotes himself wholly to righteousness: and then if any do turn aside, they prove that they were always strangers to God. If they had been of us, says John, they would never have gone out from us. (1John 2:19.) And regeneration is an incorruptible seed: so we must determine that the faithful who are truly regenerate never fall away from righteousness, but are retained by God’s unconquered power: for God’s calling in the elect is without repentance. (Rom. 11:29.) Hence he continues the course of his grace even to the end. … In what sense, then, does Ezekiel mean that the just fall away? That question is easily answered, since he is not here treating of the living root of justice, but of the outward form or appearance, as we commonly say. Paul reminds us that God knows us, but adds, that this seal remains. (2Tim 2:19.) God therefore claims to himself alone the difference between the elect and the reprobate, since many seem to be members of his Church who are only outwardly such. And that passage of Augustine is true, that there are many wolves within, and many sheep without” (= … Allah mengklaim bagi dirinya sendiri saja perbedaan antara orang pilihan dan orang yang bukan pilihan, karena banyak orang kelihatannya adalah anggota-anggota dari GerejaNya yang hanya secara lahiriah demikian. Dan kata-kata dari Agustinus adalah benar, bahwa ada banyak serigala di dalam, dan banyak domba di luar) - ‘Commentary on Ezekiel’, hal 250.

Calvin tentang Yeh 18:24:

“In fine, we see that the word ‘righteousness’ is referred to our senses, and not to God’s hidden judgment; so that the Prophet does not teach anything but what we perceive daily” (= Kesimpulannya, kita melihat bahwa kata ‘kebenaran’ dihubungkan dengan panca indera kita, dan bukannya dengan penghakiman / penilaian yang tersembunyi dari Allah; sehingga sang nabi tidak mengajar apapun kecuali apa yang kita rasakan / mengerti sehari-hari) - ‘Commentary on Ezekiel’, hal 251.

Calvin menekankan kata-kata ‘dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik’ (Yeh 18:24) dan mengatakan bahwa ada 3 golongan orang yang jatuh:

a) Orang yang betul-betul meninggalkan Tuhan dan melakukan segala macam kejahatan. Ini yang dibicarakan oleh Yehezkiel.

Calvin tentang Yeh 3:20:

“here a falling away is intended, where any one casts himself headlong on impiety: hence to commit iniquity is to give oneself up entirely to impiety” (= di sini kemurtadan yang dimaksudkan, dimana seseorang menyerahkan dirinya kepada kejahatan: jadi ‘melakukan kejahatan’ adalah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kejahatan) - hal 160.

b) Orang yang jatuh karena kelemahan atau ketidaktahuan. Bukan ini yang dibicarakan oleh Yehezkiel.

Calvin tentang Yeh 18:24:

“By these words, … he expresses a complete revolt, and he so mitigates the severity of the sentence, lest the minds of those who had only partially relapsed should despond” (= Dengan kata-kata ini, … ia menyatakan suatu pemberontakan yang lengkap / sepenuhnya, dan ia mengurangi kekerasan dari kalimat ini, supaya pikiran dari mereka yang hanya kambuh sebagian jangan putus asa) - ‘Commentary on Ezekiel’, hal 249.

c) Orang yang seharusnya jatuh terus menuju kehancuran seandainya Allah tidak menjaganya, tetapi orang ini tidak membuang seluruh rasa takut kepada Allah dan keinginan untuk hidup benar / saleh.

Tentang orang golongan ke 3 ini Calvin menunjuk kepada Daud sebagai contoh.

Golongan ke 3 ini berbeda dengan yang dibicarakan oleh Yehezkiel dalam Yeh 18:24 ini, dan ini terlihat dari kata-kata ‘dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik’.

NASB: ‘and does according to all the abominations that a wicked man does’ (= dan berbuat sesuai dengan semua kejijikan yang dilakukan orang jahat).

KJV: ‘and doeth according to all the abominations that the wicked man doeth’ (= dan berbuat sesuai dengan semua kejijikan yang dilakukan orang jahat).

Catatan: kata ‘all’ (= semua / segala) tidak ada dalam RSV/NIV, tetapi seharusnya ada.

Calvin tentang Yeh 18:26:

“We have explained how the phrase, ‘the just should turn aside from their righteousness,’ ought to be understood, not that the elect ever utterly fall away, as many think their faith is extinguished, and every root of piety also in the sons of God; that is too absurd, because, as I have said, the gift of regeneration has perseverance always annexed to it: but here that righteousness which mankind recognise is intended” (= Kami telah menjelaskan bagaimana ungkapan ‘orang benar berbalik dari kebenaran mereka’ harus dimengerti, bukan bahwa orang pilihan pernah murtad secara total, seperti banyak orang berpikir bahwa iman mereka dipadamkan, dan juga setiap akar kesalehan dalam diri anak-anak Allah; itu terlalu menggelikan, karena seperti sudah saya katakan, karunia kelahiran baru selalu digabungkan dengan ketekunan: tetapi di sini kebenaran yang diakui oleh manusialah yang dimaksudkan) - ‘Commentary on Ezekiel’, hal 257.

  1. Arti dari ‘batu sandungan’ (Yeh 3:20).

Tentang batu sandungan dalam Yeh 3:20 ini Calvin menafsirkannya bukannya sebagai penyebab dari kemurtadan itu, tetapi sebagai hukuman dari Allah terhadap orang yang murtad ini.

Calvin tentang Yeh 3:20:

“Punishment is here called a stumbling-block, when God demonstrates his vengeance against apostates” (= Hukuman di sini disebut sebagai batu sandungan, dimana Allah menunjukkan pembalasanNya terhadap orang-orang yang murtad) - hal 160-161.

Keil & Delitzsch tidak setuju dengan tafsiran Calvin tentang batu sandungan ini, dan mengatakan bahwa batu sandungan ini adalah apa yang menyebabkan orang itu berdosa / murtad. Memang sepanjang yang saya ketahui, dalam Kitab Suci kata ‘batu sandungan’ tidak pernah diartikan sebagai ‘hukuman’. Bandingkan dengan Yer 6:21 - “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sungguh, Aku akan menaruh batu sandungan di depan bangsa ini, supaya mereka jatuh tersandung oleh karenanya; bapa-bapa serta dengan anak-anak, tetangga dan temannya, semuanya akan binasa.’”.

Bandingkan dengan Yeh 7:19 14:4,7 18:30 44:12 yang semuanya menunjukkan bahwa ‘batu sandungan’ itu adalah sesuatu yang menjatuhkan ke dalam dosa.

  1. Text-text seperti ini tujuannya supaya orang kristen / orang benar tidak mengikut Tuhan dengan cara sembarangan.

Calvin tentang Yeh 3:20:

“There is no encouragement to flatter ourselves into sloth and security, when God shows that unless we continue to the end, … whatever else we attain unto, it is useless” (= Di sini tidak ada dorongan untuk mengumpak diri kita sendiri ke dalam kemalasan / kelambanan dan keamanan, pada saat Allah menunjukkan bahwa kecuali kita terus sampai akhir, … apapun yang telah kita capai adalah sia-sia) - hal 160.

Calvin tentang Yeh 18:24:

“that he may restrain within the bounds of duty those who have made some progress, and correct their sloth, and stir up their anxiety, he threatens, that unless they pursue the course of a holy and pious life to the end, their former righteousness will not profit them” (= supaya ia bisa mengekang dalam batasan-batasan kewajiban mereka yang telah membuat kemajuan tertentu, dan memperbaiki kemalasan / kelambanan mereka, dan membangkitkan kekuatiran mereka, ia mengancam, bahwa kecuali mereka melanjutkan jalan kehidupan yang kudus dan saleh sampai pada akhirnya, kebenaran mereka yang terdahulu tidak akan berguna bagi mereka) - ‘Commentary on Ezekiel’, hal 250.

Pulpit Commentary tentang Yeh 33:18:

“In some sense, as in ver. 13, the righteousness of the past may become a stumbling-block. The man may trust in it, and be off his guard, ceasing to watch and pray, and so the temptation may prevail” (= Dalam arti tertentu, seperti dalam Yeh 33:13, kebenaran pada masa lalu bisa menjadi batu sandungan. Orang itu bisa percaya kepadanya, dan menjadi tidak waspada, berhenti berjaga-jaga dan berdoa, dan dengan demikian pencobaan bisa menang) - hal 183.

  1. Keberatan terhadap penafsiran Calvin / Reformed.

Yeh 33:13 - “Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! - tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya”.

Dalam ayat ini Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa orang itu pasti hidup. Karena itu jelaslah bahwa istilah ‘orang benar’ menunjuk kepada orang yang betul-betul adalah orang benar.

Jawab: Sekalipun Tuhan sendiri yang berbicara, Ia tetap sering berbicara dari sudut pandang manusia. Misalnya dalam Yer 18:8 1Sam 15:11 - Tuhan sendiri yang berkata bahwa Ia menyesal. Ini tetap harus dianggap dari sudut pandang manusia, dan demikian juga semua ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa Allah menyesal, karena:

a) Allah yang maha tahu tidak mungkin menyesal.

b) 1Sam 15:29 mengatakan bahwa Allah bukanlah manusia sehingga harus menyesal.

c) Kel 32:7-14 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’ Lagi firman TUHAN kepada Musa: ‘Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murkaKu bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar.’ Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: ‘Mengapakah, TUHAN, murkaMu bangkit terhadap umatMu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murkaMu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umatMu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hambaMu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diriMu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.’ Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkanNya atas umatNya”.

Kalau bagian ini mau diartikan secara hurufiah, menjadi sesuatu yang sangat menggelikan, karena Tuhan menyesal setelah dinasehati oleh Musa. Lebih-lebih kalau kita melihat dalam terjemahan KJV/RSV, dimana untuk kata ‘menyesal’ digunakan kata ‘repent’ (= bertobat), maka penafsiran secara hurufiah ini menjadi makin tidak masuk akal.

  1. Tidak bisakah kita menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan cara lain, misalnya dengan menganggap bahwa Yehezkiel berbicara hanya sebagai suatu pengandaian, yang tidak betul-betul bisa terjadi?

Jawab: tidak bisa. Karena kontextnya tidak memungkinkan penafsiran seperti itu.

Misalnya Yeh 18:24 didahului oleh Yeh 18:21-23 - “Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapanKu serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?”.

Bagian ini jelas bukan sekedar merupakan suatu pengandaian yang tidak bisa betul-betul terjadi! Dan karena itu Yeh 18:24, yang merupakan kebalikan dari Yeh 18:21-22, jelas juga bukan sekedar merupakan suatu pengandaian, tetapi sesuatu yang betul-betul bisa terjadi.

Dengan cara yang sama bandingkan:

· Yeh 18:26 dengan Yeh 18:27-28.

· Yeh 33:13 dengan Yeh 33:14-16.

· Yeh 33:18 dengan Yeh 33:19.

Kesimpulan / penutup.

Ayat-ayat tersebut di atas tidak menunjukkan bahwa keselamatan bisa hilang, tetapi bagaimanapun ayat-ayat itu mengharuskan kita untuk mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh.

-AMIN-

GBU

Kura-kura dalam perahu :slight_smile:

Mereka diciptakan dengan baik, namun freewill mereka negatif, mereka menolak sendiri kasih karunia dan neraka untuk mereka "kalau" mereka seperti itu nantinya, karena Yer. 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Mzm. 145:9 TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

mazmur 145:9 itu merupakan berkat umum yang ada buat setiap orang
kalau menurut yer 29:11, Tuhan sudah merancangkan damai sejahtera dan bukan kecelakaan. dan manusia menolaknya maka mereka masuk neraka, begitu maksud anda?
ok, pertanyaannya:
kapan Tuhan merancangkan segala sesuatu??
apakah sesudah dunia dijadikan atau sebelum dunia di jadikan??
kalau sesudah dunia dijadikan berarti bertentangan dengan alkitab,
kalau sebelum dunia dijadikan, berarti semua sudah ada dalam rencana Tuhan.
Ayub 42 :2 berkata rancangan Tuhan tidak mungkin gagal,
berarti ketika awal Tuhan sudah merancangkan damai sejahtera dan bukan kecelakaan sesuai yer 29:11 itu tidak mungkin gagal !!
tapi kok manusia bisa menolaknya ya?
berarti gagal dong??
dan itu bertentangan dengan ayub 42:2


42:2 "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
[יָדַעְתָּ כ] (יָ֭דַעְתִּי ק) כִּי־ כֹ֣ל תּוּכָ֑ל וְלֹא־ יִבָּצֵ֖ר מִמְּךָ֣ מְזִמָּֽה׃
I know that thou canst do every thing and that no thought can be withholden from thee

Tahukah kamu kenapa memakai kata dibawah ini?

Original Word: יָדַע
Transliteration: yada
Phonetic Spelling: (yaw-dah’)
Short Definition: know

Word Origin
a prim. root
Definition
to know
NASB Word Usage
ability (1), acknowledge (4), acknowledged (2), acquaintances (5), acquainted (1), aware (6), becomes known (1), bring forth (1), cared (1), chosen (2), clearly understand (2), cohabit (1), comprehend (1), concern (2), concerned (1), consider (3), declare (1), detected (1), directed (1), discern (2), disciplined (1), discovered (3), distinguish (1), endowed (3), experienced (4), experiences (1), familiar friend (1), find (5), found (1), gain (1), had knowledge (1), had relations (6), had…relations (1), has (1), has regard (1), has…knowledge (1), have (4), have relations (3), have…knowledge (2), ignorant* (1), illiterate* (1), indeed learn (1), inform (1), informed (4), instruct (3), instructed (1), intimate friends (1), investigate (2), knew (38), know (542), know for certain (4), know with certainty (1), know assuredly (1), know well (1), knowing (5), knowledge (4), known (65), knows (54), knows well (1), lain* (1), leading (1), learn (7), learned (1), literate* (1), made himself known (2), made it known (1), made myself known (2), made known (10), make himself known (1), make his known (1), make it known (1), make my known (1), make myself known (4), make them known (1), make your known (1), make yourself known (1), make known (14), notice (2), observe (2), perceive (1), perceived (1), possibly know (1), predict (1), professional mourners (1), provided (1), raped (1), read* (1), realize (1), realized (5), recognize (2), recognized (1), regard (1), satisfied* (1), seems (1), show (3), shown (1), skillful (3), sure (1), take knowledge (1), take note (1), take notice (1), taught (2), teach (6), tell (3), tells (1), took notice (1), unaware* (1), unawares* (1), understand (10), understands (1), understood (3), unknown* (1), very well know (1), well aware (1).

Original Word: מְזִמָּה
Transliteration: mezimmah
Phonetic Spelling: (mez-im-maw’)
Short Definition: discretion

Word Origin
from zamam
Definition
purpose, discretion, device
NASB Word Usage
devises evil (1), discretion (5), evil devices (1), intent (1), plans (1), plot (1), plots (1), purpose (2), purposes (1), schemer* (1), thoughts (1), vile deeds (1), wicked schemes (1), wickedly (1).

Dan bukan ini yang dipakai:

תבשחמה:machashabah makh-ash-aw-baw’ or machashebeth {makh-ash-eh’-beth}: Plan

בשח: chashab khaw-shab’; to plot

Karena:

mzimmah mez-im-maw’

a plan, usually evil (machination), sometimes good (sagacity).

b device, discretion, intent, witty invention, lewdness, mischievous (device), thought, wickedly.[/b]

Adalah mengenai:

4:23 Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
9:35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
15:43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.
12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
13:4 Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah.
11:34 memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.

Demikian juga Ayub, melalui kelemahan, mzimmah, Kemuliaan TUHAN ALLAH dinyatakan, bandingkan pula Kemuliaan TUHAN ALLAH karena DISALIBKAN:

1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Luk 15:10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." Kalo sudah dipredestinationkan, kenapa seperti itu kalau ada yang bertobat, kan semuanya "sudah diatur"?

calvinist=
emangnya kalau sudah dipredestinasikan dan itu terjadi sesuai rencana Allah, tidak boleh ada yang bersukacita
lagian yang maha tahu kan Allah, malaikat tidak maha tahu, jadi kalau malaikat bersukacita saya rasa tdk ada yg salah dgn hal itu?
coba anda jadi sutradara, anda sudah mengatur jalan cerita. kalau waktu dipentaskan, pemainnya/ ceritanya berjalan sesuai dengan rencana anda, apa anda tidak merasa sukacita?apa team anda yang bukan sebagai sutradara tidak bisa/boleh bersukacita?

jadi ini bukan masalah dengan predestinasi…


Apakah dalam drama tersebut bisa berubah ditengah jalan? Justru dengan adanya analogy ini menunjukkan bahwa dalam semua drama/film, banyak improvisasi yang menunjukkan bahwa terjadi perubahan, yang mana sangat cocok dengan doktrin freewill :slight_smile:

Rasa-rasanya jarang saya ulas panjang lebar, kecuali yang cukup lambat dalam mencerna :slight_smile:

:afro:

bang yopi,
tolong jawab dulu pertanyaan2 saya baru saya lanjutkan

thx

  1. Anda sudah mejawab pertanyaan anda sendiri :slight_smile:

  2. Anda bertanya Calvinist menjawab… bukan Calvinist bertanya anda menjawab…

;D ;D ;D

@ Yopi
cara menjawab Calvinis mungkin dengan cara bertanya balik, karena selama ini ya demikian kejadiannya…
di buat putar2 sama dia, ujung2 nya dia yg tanya…
[dengan bertanya kembali ya tidak perlu menjawab]

jadi harus di pertahankan itu stetmen nomor 2 Yop… ;D

Siap bro ;D ;D ;D

saya mendukungmu bro yopiii… ^^ soalnya saya juga jadi bingung sebenarnya pertanyaan saya sudah dijawab apa belum ya…

Wkwkwk…kena batunya :smiley:

Iya bro :smiley:

Wkwkwkwkwkwkwkwk… ;D ;D ;D

EDIT

Saudara Manful, silakan berdiskusi dengan baik dan benar, untuk promosi silakan masuk board promosi

salam

Loh nga ada kelanjutannya yah, udah 3bulan stop sampe disini diskusinya?

Orang orang calvinist enak yah sekali ditetapkan selamat tetap selamat, haiya kacian rasul paulus harus mati matian mempertahankan keselamatannya, coba dia masuk calvanist pasti nga begitu… :cheesy:

Fil 2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, :happy0025: