Antara rasio dan hati, mana yang harus dipilih dalam hal cinta?

Shalom…

Aku mau sharing kepada kalian, mungkin kisah yang aku alami ini membuat kalian kaget dan akan berpikiran negatif kepada ku. Cuma, jujur ja, aku bingung untuk bagaimana caranya aku dapat menampung semua yang aku rasa sendiri.

Aku saat ini sedang jatuh cinta kepada lelaki yang sudah berkeluarga umur 53 tahun. Dia adalah manager ku di tempat aku bekerja, dia juga adalah kakak ipar dari Dirut ku.

Sejak aku putus dari mantan ku, dia adalah orang yang selalu dekat dan berikan perhatian yang ku butuhkan saat saat itu. Perasaan ini muncul sejak kebersamaan dan kedekatan kami satu sama lain dalam beberapa waktu kira kira hampir setahun ini… Awalnya, aku berusaha menepis smua perasaan yang aku punya sebagai seorang sahabat, lalu seiring waktu kedekatan kami, rasa itu meningkat menjadi sebagai Bapak dan anak, dan akhirnya, aku pun sadar, ternyata rasa ini semakin menjadi jadi hingga ingin saling memiliki sebagai kekasih.

Kami saling nyaman, kami makin dekat, diantara kami sudah tak ada jarak lagi seperti dulu. Hingga sekarang, hubungan kami layaknya teman tapi mesra.

Aku tau, hal ini sungguh amat salah, tapi rasa yang muncul dari hati ini, tidak sanggup aku bendung. Tiap hari
semakin sayang, hingga aku berpikir, gelisah tanpa ada dia disamping ku.
Kadang rasio ku berkata, akhiri. Tapi hati berkata, nikmati.

Guys, please more advice to me, bagaimana aku dapat menepis ini semua.

Thank you.
Gbu

Antara rasio dan hati.

Hati membuat kita merasa dekat dengan seseorang, itu awal.
Rasio, membuat kita mempertimbangkan, apakah layak hubungan ini diteruskan.

Membaca sharing anda, maka jelas jawabnya adalah hentikan dan lupakan.
Mengapa? Karena secara rasio andapun sudah tahu bahwa hubungan itu tidak layak diteruskan, karena tidak mungkin. Sedangkan menurut hati, apakah anda senang jika ada hati yang terluka karena anda?

Pria yang sudah menikah, memang secara jujur lebih menarik. Karena sang pria lebih mengetahui apa saja kelemahan wanita, apalagi yang masih ‘hijau’. Tetapi motivasinya jelas bukanlah hubungan jangka panjang dan langgeng, tetapi hanya sekedar hubungan jangka pendek dan sekedar having fun.

Pertanyaannya, apakah anda mau hanya dijadikan sekedar having fun saja? Tanpa pernah mendapatkan kejelasan kelanjutan hubungan anda? Atau anda bahkan mengharapkan hubungan sang pria kepada keluarganya hancur? Mudah mudahan sih tidak.

Maka, keputusan akhir adalah, hentikan, tinggalkan, dan lupakan.

Syalom

Bagaimana caranya untuk sanggup lakukan itu semua?

Anda pasti sanggup.
Karena anda tidak lahir dan bertumbuh bersamanya, kan?
Sedangkan ortu yang sudah ada sejak anda lahirpun suatu saat harus anda relakan untuk pergi.
Tidak ada istilah cinta yang tidak mungkin dihentikan.
Kalaupun tidak bisa, maka itu hanya perasaan anda yang takut, takut berpisah.
Maka, dengan tekad yang kuat, ucapkan selamat tinggal kepadanya, dan hentikan segala contact darinya, baik no HP, unfriend di FB, juga twitter, dan segala sos med lainnya.

Dan terakhir, tentu saja anda minta bantuan Tuhan yang akan menguatkan anda untuk tetap tegar.

Oiya, setelah ini coba perluas pergaulan anda, terutama dengan sesama teman teman baik pria ataupun wanita yang belum menikah.

Saya turut mendoakan anda.

Syalom

Ya, anda benar, saya takut dengan perpisahan.
Saya takut dia tidak ada lagi untuk saya.

Terima kasih untuk advicenya dan doanya.

Gbu

Sukses ya

:afro: