Apa bedanya "ngasih/nerima berkat" atau "ngasih/nerima suap/gratifikasi"

Mao minta pendapat nih dari masbro dan mbaksis, terutama yang bekerja di public service (pelayanan umum) atau yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Sesuai dengan judul thread nya, Apa bedanya “ngasih/nerima berkat” atau “ngasih/nerima suap/gratifikasi” ?
Apalagi akhir-akhir ini bedanya jadi makin tipis.

Saya paham sih, bedanya akan balik lagi ke motivasi, balik lagi ke hati masing-masing orang. Tapi adakah suatu batas yang jelas secara logis tentang hal ini.

Saya pernah baca di sebuah buku bahwa “kita boleh menerima reward/komisi kalau kita mengerjakan sesuatu yang ada di luar job desc nya kita”, misalnya ya seorang tenaga marketing dapet reward (bukan suap/gratifikasi) karena ikut ngurusin persoalan administrasi sehingga proses penjualan jadi lebih cepat.

Nah, apakah batas/aturan di atas bisa dipakai juga untuk berkat vs suap/gratifikasi ?

Please jangan bawa ke doktrin masing-masing ya… hanya perlu pendapat logis dan yang berdasarkan Firman Tuhan yang aplikatif (lebih bagus pake ayat :slight_smile: ) dari teman-teman di sini.

Atau mungkin ada yang punya pengalaman tentang hal ini ?

Thank you…

dasarnya dan tujuannya aja udah beda… ngasih/nerima berkat… sudah pasti buat yang membutuhkan/haknya/rejekinya… pemberi dan penerimanya… memiliki hati yang tulus… baru sistem ini bisa berjalan…

klo suap… pemberian sudah pasti untuk tujuan lain yang jauh dari kasih… itu penuh dengan keegoisan…

bonus dari hasil kerja adalah rejeki yang anda dapatkan dari hasil kerja anda… intinya… jika anda bekerja itu utamanya adalah mengharapkan bonus… hati2lah… anda dalam ambang kejatuhan… sebab dalam bekerja yang penting adalah karya yang anda berikan dimana tempat anda bekerja… sisanya adalah rejeki yang TUHAN beri… jika anda memiliki hati yang tulus dan anda diberikan hikmat oleh TUHAN… maka anda bisa memilah2 akan hal ini… untuk itu hati2lah…

Motivasi:

  1. Membagi berkat: berdasarkan kasih
  2. Pamrih: biar besok2 kalo kita kenapa-kenapa ada orang lain yg bisa bantu juga
  3. Gratifikasi: ada udang di balik batu, agar tindakan pelanggaran hukum nya bisa berjalan mulus

Nomor 1 itu yang seharusnya, nomor 2 itu sah-sah saja, nomor 3 tunggu panggilan KPK

Ah, oke… Good point… Hati yang tulus dan hikmat dari Tuhan…

1 dan 3 itu saya setuju… Nah, yang nomor dua nih… Kalau suatu ketika saya dikasih “berkat” dari seseorang karena saya bantuin orang tersebut yang di luar job desc saya… Saya terima pada suatu kali.

Nah, di lain waktu, orang tersebut datang lagi dengan meminta bantuan bukan untuk hal yang sama, tapi ke arah yang lebih “licik” atau bahkan melanggar hukum. Saya nya kan jadi ga enak (karena dulu pernah dikasih “berkat”) ama dia,

Nah kalau gitu gmana ?

Mmg semuanya tergantung motivasi, tp krn motivasi hny org yg memberi dan TUHAN yg tau maknya susah.
Menurut saya sih tergantun dari kepada siapa kita memberi/membagi berkat. Kan kita hidup di masyarakat yg berbudaya dan berdasarkan hukum, selama itu tidak menyalahi hukum yg berlaku saya kira tidak masalah. Pemerintah adalah wakil Allah untuk mengatur kita :wink:

Amsal 22:16
Orang yang menindas orang lemah untuk menguntungkan diri atau memberi hadiah kepada orang kaya, hanya merugikan diri saja.

Memberi pemberian kepada orang yang mampu, itu seperti menaburkan garam ke lautan. Memberi itu tujuannya adalah seperti yang dikatakan…

2 Korintus 8:12-15
Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

Jadi jika kamu merasa mampu, maka bantulah yang tidak mampu. Jika kamu merasa kuat, tolonglah yang lemah. Tetapi jika kamu memberi orang yang sudah mampu, maka tujuannya jelas adalah kamu mengharapkan balasan, dan pemberian kamu tidak dapat disebut pemberian, tetapi transaksi. Demikian juga kalau seseorang telah bekerja dan kamu memberi tips, itu bukan lagi pemberian, tetapi upah. Memang kamu tidak mengupahi orang itu dalam pengertian gaji bulanan, tetapi membalas perbuatan atau jasa seseorang dengan sesuatu yang bernilai itu adalah upahnya.

Roma 4:4
Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.

Jadi kalau kamu mau tahu bedanya berkat, dan suap, mengasihi atau mengupah, maka kamu dapat menilai apakah pemberian kamu itu mengandung imbalan atau untuk kesimbangan?

Anggota dewan sekalian…

Kalo yang namanya ngasih suap/ gratifikasi, itu udah jelas ada mau nya kan, yaitu biar kepentingan kita bisa diluluskan oleh pihak yang berwenang. JAdi sekali lagi yg menerima adalah pihak yang berwenang dalam memutus / menentukan sesuatu, dimana kputusannya itu diharapkan bisa dibuat jadi menguntungkan bagi kepentingan sipemberi, karena itulah sipemberi “memberi”.

Kalo ngasih /menerima berkat yang “halal” konteks nya ya karenakarena sipenerima memang layak menerima penghargaan.
Kalaupun sebenarnya tidak layak menerima penghargaan, tp pemberian tersebut tidak dilakukan dengan hrapan akan ada imbal balik dari yg memberi baik sekranga maupun untuk yg akan datang.

Tapi di indo ini org pada suka memberi gratifikasi dari pada tanpa pamrih…hehehehe

gitu sih…