Apa maksud dari kosakata "dosa" ? Satu meaning ? ataukah lebih dari satu ?

A = Adam Makan Buah yang dilarang Tuhan untuk dimakan… dan semenjak saat itu, manusia menjadi
B = yaitu perasaan perasaan manusia yang cemar menguasai manusia dalam bertingkah laku…

para ahli menyebut hal tersebut sebagai “Pembajakan Amigdala” Pembajakan Amigdala - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,

Amigdala adalah kelenjar kecil dalam otak kita yang bentuknya mirip kacang almond, keinginan keinginan kita diproses disana, seperti nonton bokep, malas malasan, balas dendam, iri hati, cemburu, main game, haus kekuasaan… Kecanduan Main Game dan Efek Dopamine dalam Otak Manusia - Tirto.ID

Amigdala akan melepaskan satu hormon yang disebut dengan homon Dopamin, kalau tidak dikendalikan, maka Amigdala akan membajak Pikiran,
apabila sudah terjadi pembajakan Pikiran, maka bukan Anda lagi yang menggunakan Pikiran anda untuk berpikir tapi Amigdala atau bagian perasaan atau emosi anda yang membajak otaklah yang bekerja…

Sekali lagi, mohon kasih penyampaian kalimat2nya secara lebih spesifik, sima. Anyway, point yg sima mau sampaikan itu jadi yg gimana ?

Poin yang mau saya sampaikan adalah:
Manusia yang diciptakan Tuhan di mula pertama itu adalah Perfect, dan tanpa Dosa… dan tanpa kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa…

Sisi Pikiran dan Perasaan dan Amigdala manusia itu SEIMBANG, Selaras dan Harmonis dengan Kehendak Tuhan…

Perasaan Manusia itu Suci, Bersimpati, Mengasihi, Manis Budi, dan Murni…
Pikiran Manusia itu Cerdas, Jenius, dan Berakal Budi…
Amigdala Manusia itu menyimpan memori Kasih, Belas Kasihan dan Cinta…

Manusia Pertama itu Perfect dalam segala Hal, sangat Mirip dengan Pencipta…
Pengasih, Penyayang, Pengampun, bersimpati, Rajin, Teratur, Sabar, Jenius, selalu Bersukacita, bijaksana, pokoknya semua yang baik baiklah… dipenuhi dengan buah buah Roh…

Dosa merusak Gambar Allah di dalam diri Manusia, sehingga manusia kehilangan Gambar dan Rupa Allah:
manusia yang berdosa itu menjadi:
membenci, iri hati, tidak sabar, malas, tidak tekun dan suka yang instan, suka marah marah, menipu, membunuh, dendam, egois, korupsi, bodoh, pokoknya semua yang buruk buruklah…

KALO Adam Hawa tidak makan buah MAKA tidak akan pernah terjadi aksi dosa

Yes…
Makan itu buah yang dilarang itulah sebenarnya Aksi Dosa itu…

bersambung…

saya tidak menulis seperti itu bro, atau bermaksud seperti itu bro,
saya memulai dari tidak ada dosa, menjadi ada dosa…

So... begimana pula sima bilang [[i]teknologi tergantung kepada penggunanya[/i]] sementara padahal berangkat dari kronologika versi sima itu sendiri menggambarkan bahwa bisa bisa aja [u]membuat internet/medsos/teknologi adalah AKSI DOSA[/u] para ilmuwan dimana internet/medsos/teknologi memang sengaja mereka bikin untuk merusak orang ?

lagi lagi bro @oda salah menangkap penjelasanku…
lari jauh bro tulisan bro diatas ini dari tulisanku.

manusia berpikir, membuat sesuatu, menemukan sesuatu, berkembang, bertambah dalam pengetahuan, dikarenakan karena Tuhan Allah menciptakan manusia seperti itu, Ajaib Manusia diciptakan Tuhan.

kok karena dosa pula… ?? kan sangat tidak nyambung…

Berlawanan dari apa apa yang sima sampaikan sebelumnya. Sbb : Begimana pula itu jadinya yang sima sendiri bilang bahwa [orang yang cenderung melakukan dosa semata mata adalah orang yang hidup sesuai dengan Firman Allah] ?

lagi lagi pemelintiran, orang yang melakukan dosa sudah tentu hidup tidak sesuai dengan Firman Tuhan, kok bro @oda menulis menjadi hidup sesuai dengan Firman Tuhan… ?

Sebuah statement ([b]sekali lagi, ini berangkat dari apa yang sima sendiri ajukan di quote atas[/b]) : sifat alamiah Adam Hawa itu sudah mirip dengan setan, yaitu pelanggar hukum. Hidup mereka cenderung melakukan dosa semata mata.

Nah… tolong sima kasih saya bacaan catetan-nya dimana bisa disimpulkan bahwa sifat alamiah Adam Hawa itu sudah mirip dengan setan, yaitu pelanggar hukum. Hidup mereka cenderung melakukan dosa semata mata.

sudah saya tulis dengan jelas bro…
tanpa di goda Iblispun manusia secara alamiah adalah pendosa…
Janga di pelintir lagi ya:
secara alamiah yang kumaksud adalah setelah manusia melanggar Hukum Allah.
(baca: bukan sebelum manusia melanggar Hukum Allah… !!!)

bersambung

tidak menentang bro, itu hanya perasaan bro @odading saja…

YANG TERBACA : SAAT ITU.... KETIKA manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, Allah melihat kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata

ajaran PENENTANG dari apa yang terbaca :
SAAT ITU … SETELAH Adam Hawa makan buah, Allah melihat kejahatan kedua orang ini besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hati kedua orang ini selalu membuahkan kejahatan semata-mata.
Tentu tau donk, sima :D.

kalau bro cermati dari awal tulisanku, sebenarnya itu tidak bertentangan…
secara alamiah manusia oleh karena Dosa memang sudah berubah,
dari Kasih yang murni dan tidak berat sebelah, menjadi kasih yang bermotif dan mementingkan diri sendiri,

Tuhan itu baik, Terpujilah Tuhan, Tuhan yang Mahabaik itu, tidak tinggal diam, dan berpangku tangan saja melihat manusia jatuh dalam dosa.
sekalipun manusia itu kecenderungannya berbuat dosa semata mata…
Tuhan memberi harapan kepada manusia yang cenderung jatuh tersebut untuk dapat bangkit, berdiri kokoh dan tak tergoyangkan…

janji tersebut adalah ini:
Kej 3:15
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.

Firman untuk Bermusuhan tersebut adalah Kabar baik… betul bahwa secara alamiah manusia memang sudah jatuh dalam dosa dan kecenderungan hatinya hanya berbuat doosa semata mata, namun oleh entah dengan suatu cara melalui Pertolongan Tuhan manusia yang cenderung jatuh itu akan berperang melawan sifat alamiahnya dan Menang…

seorang Penulis yang kupercaya diinspirasi oleh Roh Kudus menuliskan di dalam bukunya berikut ini: Kemenangan Akhir, Bab. 30 Judul: Permusuhan antara Manusia dan Setan: Kemenangan Akhir — Ellen G. White Writings
disebut dalam buku itu:
Pada waktu manusia melanggar hukum Ilahi, maka sifat alamiahnya menjadi jahat, dan ia menjadi selaras, tidak berbeda dengan Setan. Secara alamiah, tidak ada lagi pertentangan antara manusia yang berdosa dengan yang memulai dosa itu. Keduanya menjadi jahat oleh kemurtadan.

cut… (masih sambungan dari buku itu)
[i][b] Tetapi pada waktu Setan mendengar deklarasi adanya permusuhan yang teijadi antara dirinya sendiri dengan “perempuan itu, dan antara keturunannya dengan keturunan perempuan itu,” maka ia mengetahui bahwa usahanya untuk merusak sifat manusia akan terhalang; sehingga oleh sesuatu cara manusia akan sanggup melawan kuasa Setan itu.

jadi betul memang bahwa secara alamiah manusia itu sudah rusak, tetapi melalui pertolongan Kristus, manusia yang rusak itu dapat diperbaiki…
Tuhan Yesus Kristus, Sang Tukang Kayu dari Nazaret dapat memperbaiki dan menukangi manusia manusia yang sifat alamiahnya sudah dirusak oleh dosa…

terlalu banyak contoh apabila kita melist, siapa siapa saja manusia yang alamiahnya sudah rusak namun diperbaiki oleh Yesus Kristus Sang Tukang Kayu…
sangat banyak: bro boleh baca di Ibrani Pasal 11…

contoh yang paling nyata menurut saya adalah:
Rasul Paulus, dari Pembunuh menjadi Pewarta Injil…

[/b][/i]Sekarang giliran saya nanya : tahukah sima melalui proses gimana sehingga observer LAYAK untuk menyatakan bahwa [[i]MANUSIA Adam Hawa (Kain Habil Seth) cenderung melakukan dosa semata mata gara gara Adam Hawa ketipu uler[/i]] ?

itu contoh Kain dan Habel, sudah nyata nyata terjadi… hanya di generasi pertama dari manusia itu sudah terjadi Pembunuhan manusia pertama,
Kain, tidak dapat mengendalikan diri dan emosi, kurang pengendalian diri,
dan hanya di kurang lebih 1500 tahun pertama kehidupan manusia, seluruh penduduk dunia sudah rusak akhlaknya hanya Nuh yang didapati Setia dan benar di hadapan Allah…

salam
TYM

Bukan perihal MAKAN BUAH, sima. Bukan perihal AKSI dosa yang saya bicarakan.

Melainkan perihal NIAT.
ajaranmu menantang Tuhan dgn beraninya meng-aplikasikan :
Dengan tidak adanya niat Hawa SAAT ITU (Kej 3:3) untuk melanggar hukum,
maka SELAMANYA Hawa tidak akan pernah punya niat untuk melanggar hukum.

sekalipun contohnya adalah anak kecil, yang sepertinya lugu dan polos, kecenderungan manusia setelah manusia jatuh dalam dosa adalah: membuahkan kejahatan semata mata.
Sekali lagi saya tanya : Lalu KENAPA jawaban sima kayak begini ?
kalau menurutku anak bro @oda tersebut makan es krim di kulkas ijo adalah [b]KARNA [/b]ingin tahu dan penasaran
sementara padahal jawabannya sima adalah : [i]KARENA melanggar Hukum itu sudah jadi alamiah anak oda.[/i]

Jangan salahin pembaca kalo dia bilang bhw “itu usaha sima MENYESATKAN pembaca” —> memberi jawaban secara tidak konsisten. :wink:

contoh diatas ini terjadi setelah manusia jatuh dalam dosa
Ich... sima ngawur :char11:. 1. Tidak ada kisah terbaca yg bisa disimpulkan mengenai niatan Hawa TIDAK BISA berubah-rubah SEBELUM makan buah.
  1. Tidak ada kisah terbaca yg bisa disimpukkan mengenai ada/tidaknya niatan Hawa BISA berubah-rubah SETELAH makan buah.

  2. dengan se-enak jidatnya ajaran sima menjadi Tuhan, tapi Tuhan yang AMBURADOL.. Sbb :
    SEBELUM makan buah, niatan Hawa TIDAK BISA tadinya tidak ada blakangan menjadi ada, tadinya ada blakangan menjadi tidak ada. sekali Hawa ada niat tidak akan makan buah, maka SELAMANYA Hawa ada niat tidak akan makan buah.

REALITA :
Hawa makan buah

AMBURADOL :
Oh… pada peristiwa Hawa makan buah, disitu Hawa TIDAK ADA niat makan buah, melainkan Hawa ADA niat nge-test Allah berbohong ato kagak, berangkat dari keraguannya thdp perkataan Allah

sekalipun ada niat untuk nonton TV, sesorang dengan "WILL"nya dapaat memilih untuk tidak menonton TV.
Wew... jangan bawa2 FreeWill dulu, sima. Disini kan yg lagi diomongin perihal keinginan hati / niat, BELUM masuk ke perihal AKSI.

berdasarkan dari yg sima sampaikan bahwa:
SEBELUM makan buah, perihal ADA_Niat/TidakADA_Niat TETEP.

So saya tanya:
SEBELUM rumpian uler, Hawa ADA niat MERAGUKAN perkataan Allah ato kagak sima ?

Mohon dijawab itu pertanyaan bold diatas yah sima :azn:

bersambung

tapi Hawa [b]lupa [/b]perkataan suaminya
Nah.... jadi perihal LUPA eksis sebelum makan buah. So, begimana itu ceritanya sima bikin dongeng bahwa sebelum rumpian uler [i]"sekali tidak ada niat X - SELAMAnya tidak ada niat X, sekali ada niat X - SELAMAnya ada niat X"[/i] - sementara padahal perihal LUPA itu sendiri eksis sebelum makan buah ?
kalau yang saya pelajari, [b]SEKALIPUN [/b]secara alamiah Adam dan Hawa sudah berubah menjadi lebih lemah secara fisik dan condong kepada dosa, tidak ada catatan Alkitab bahwa Adam dan Hawa melanjutkan hidup yang memberontak
Kalimat di quote atas itu kalimat MANIPULASI, sima. Kosakata "SEKALIPUN" itu harus ada di biru, bukan di ijo.

Berikut kalimat yang BUKAN kalimat manipulasi :
SEKALIPUN tidak ada catatan Alkitab bahwa Adam dan Hawa melanjutkan hidup yang memberontak, yang saya pelajari dari dongeng ajarannya secara alamiah Adam dan Hawa sudah berubah menjadi lebih lemah secara fisik dan condong kepada dosa,

[b]ya betul Dosa diawali di dalam pikiran[/b] yang meragukan perkataan Allah
Nah ituuuuu :afro:.

Tak quote ulang (lagi dan lagi) kalimat sima sendiri :

manusia itu tunduk dibawah perasaan dan disaat yang sama, pikiran menjadi hamba kepada perasaan dan hukum Allah dikesampingkan dan dilupakan untuk memuaskan keinginan keinginan hati tersebut..

itulah Dosa

So… SEBELUM Hawa makan buah, dosa sudah ada duluan pada diri Hawa.
Saya disini TIDAK BILANG bhw [SEJAK Hawa eksis, dosa sudah ada duluan pada diri Hawa]. Wong dari ilustrasi kronologika saya di post sebelumnya menunjukkan: [SEBELUM Hawa makan buah, dosa sudah ada duluan pada diri Hawa] itu ada di kronologi SETELAH ada rumpian uler.

bro @odading [b]tidak boleh mengabaikan begitu saja peran ular[/b] yang melakukan penipuan di taman eden,
Kalimat diatas TIDAK AKAN keluar apabila sima menyimak tulisan saya ataupun apabila sima membaca tulisan saya di post sebelumnya. Sbb :

JELAS2an itu dengan adanya nomor-1 menunjukkan bahwa saya tidak mengabaikan peran uler. Begimanapula sima bilang “bro @odading tidak boleh mengabaikan begitu saja peran ular” :rolleye0014: :rolleye0014: :rolleye0014:

So... Adam Hawa selama itu fine fine aja ... KARENA : A. tidak makan buah selama itu ? ataukah B. tidak ada tipuan selama itu ?

Yups betul, Singkat, Jelas dan Padat.

Saya bertanya sima :D.

Halo Rita, tumben lagi ketemu disini.
Semoga kesehatan Rita selalu terjaga :afro:.

Betul saya menggunakan kosakata “rakus”, sehingga misleading pembaca. Yg saya maksudkan itu sebenernya adalah perihal desire, rita.
(sori saya sulit mencari kosakata indo-nya yg “masuk” sbg ganti kosakata Desire).

tetapi karena [b]KEINGINAN MEREKA INGIN SEPERTI ALLAH[/b] , MENGETAHUI YANG BAIK DAN JAHAT.
Nah itu bold. Kira kira begitulah [u]salah satu contoh[/u] mengenai kosakata Desire yang saya maksudkan. Sementara kosakata Desire itu sendiri luas. Misal Desire bisa juga didalam contoh : keinginan nyobain, keinginan berontak, keinginan mengetahui, keinginan memiliki, dlsb. So, perihal rakus/tamak/cinta-diri/Ego ---> ini saya maksudkan ada di kategori Desire.
Demikian pula dengan anda , anda INGIN mempunyai pandangan bahwa [b]pada mulanya[/b] Allah menciptakan Adam dan Hawa sudah berdosa dan rakus pada buah.
Silahkan baca baca dulu post post saya sebelumnya rit.

Tapi rupanya memang ada orang yg hobinya mengaplikasikan time-frame sekena-kenanya deh.

Berangkat dari statement sima yang saya quote berulang-ulang…
yang saya bilang time frame “SEBELUM makan buah, sudah ada dosa duluan pada Hawa”
Sesegera itu pula ada pembaca meng-aplikasikan-nya to the past —> “pada mulanya”.

Yang tertulis:
KETIKA manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata

Sesegera itu pula ada pembaca meng-aplikasikan-nya to the past —> “itu terjadi segera setelah AdamHawa ketipu iblis”.

Maka jadilah ini merupakan KEINGINAN ANDA SENDIRI
Coba dibaca sejuta kali rit, pengajuan saya yg sbb :
1. Hawa ngedenger rumpian uler
  1. Hawa jadi ragu kepada perintah Tuhan
    Jadi mana yang bener sih ? Nggak bikin gue modar ato bikin gue modar kalo makan ni buah ?

  2. Hawa ngliat pohon PBJ lalu dibenaknya :
    buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya

thdp nomor 3,
versi oda : TANPA ADA rumpian ulerPUN, event point-3 possible terjadi, desire.
versi sima : KALO gak ada rumpian uler, MAKA impossible event point-3 terjadi

  1. Hawa kemakan rumpian iblis
    Wah… rupanya Tuhan bo’ong nih… Gue gak modar kalo makan ni buah

  2. NAMBAH lagi dibenak Hawa atas hasil rumpian uler :
    lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian

  3. Hawa beraksi :
    Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya

Saya mau tau, setelah rita membaca sejuta kali quote diatas, apakah rita masih akan terus tetep bilang :
anda INGIN mempunyai pandangan bahwa pada mulanya Allah menciptakan Adam dan Hawa sudah berdosa dan rakus pada buah

Apabila rita masih terus bilang seperti diatas, saya tambahin lagi tulisan saya selanjutnya :

Sedangkan versi saya, perihal memuaskan desirenya (ijo) ada diantara krono 5 dan krono 6: 5. NAMBAH lagi dibenak Hawa atas hasil rumpian uler : lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian

Hawa berkeinginan memuaskan desire-nya

  1. Hawa beraksi
Setelah rita membaca quote diatas sejuta kali, pabila rita masih terus bilang
anda INGIN mempunyai pandangan bahwa pada mulanya Allah menciptakan Adam dan Hawa sudah berdosa dan rakus pada buah

Maka mohon maap, mao gak mao saya akan bilang :
sepertinya ada tambahan penyakit pada diri rita :’(

Silahkan baca tulisan rita, sima. Saya quote kan :

Bukan karena RAKUS Adam Hawa memakan buah larang, tetapi karena KEINGINAN MEREKA INGIN SEPERTI ALLAH , MENGETAHUI YANG BAIK DAN JAHAT.
Tulisan rita di quote atas itu menunjukkan jawabannya adalah yang B, sima.

Saya reset…

statement sima :
semenjak manusia melanggar Hukum Tuhan

oda:
saya gak ngerti apa maksudnya bold pd kalimat sima diatas
A. Makan buah ?
B. Keinginan mereka ingin seperti Allah … detail point-B ada di kalimat sima sbb :

manusia itu tunduk dibawah perasaan dan disaat yang sama, pikiran menjadi hamba kepada perasaan dan hukum Allah dikesampingkan dan dilupakan untuk memuaskan keinginan keinginan hati tersebut..

itulah Dosa

di post ini sima njawab :
Yang A —> A = Adam Makan Buah

However, berangkat dari tulisan rita yg saya quote-kan diatas :
Ijo-nya rita itu SAMA dengan oranye sima. Perihal SEBELUM aksi dosa.

Bedanya :
Ijo-nya rita tidak ada menaruh kalimat “itulah dosa”.
Oranye-nya sima menaruh kalimat “itulah dosa”.

Nah… karena sima menaruh kalimat “itulah dosa”, saya tanya ulang :
Jadi kalimat [semenjak manusia melanggar Hukum Tuhan] —> bold itu ada yang dimana ?
A. di AKSI makan buah ?
ataukah
B. di perihal oranye (dalam case AdamHawa, yang ijo dari rita)

Amigdala adalah kelenjar kecil dalam otak kita yang bentuknya mirip kacang almond, [b]keinginan keinginan[/b] kita diproses disana
Whatever, yang saya tanyakan ya itu terkait yg bold, sima ---> Point B, oranye dari sima, ijo dari rita, Desire dari oda.
seperti : A. nonton bokep, malas malasan, balas dendam, main game, B. iri hati, cemburu, haus kekuasaan
Antara A dan B itu BEDA kan sima. So coba tolong jangan dijadiin satu, karena A menuntun ke pengertian AKSI - sedangkan B menuntun ke pengertian BUKAN AKSI (oranye sima = ijo rita = Desire oda).
[b]Amigdala [/b]atau bagian perasaan atau emosi anda yang membajak otaklah yang bekerja
Saya tidak tau mengenai perihal2 yg sima sampaikan spt pada quote diatas. ANyway saya menyimpulkan bhw di pov versi sima kayak gini : KALO Amigdala TIDAK ADA, MAKA TIDAK AKAN ADA event dimana bagian perasaan atau emosi manusia membajak otak yang bekerja.

Bener ato kagak pink diatas yg saya duga pink itu versi sima ?

dilain sisi :

Amigdala akan melepaskan satu hormon yang disebut dengan homon Dopamin, kalau tidak dikendalikan, maka Amigdala akan membajak Pikiran
Pertanyaan lainnya :

SEBELUM makan buah,
TIDAK PERNAH ada itu event : “Amigdala melepaskan satu hormon yang disebut dengan homon Dopamin, kalau tidak dikendalikan, maka Amigdala akan membajak Pikiran”

SEGERA SETELAH makan buah :
Ujug ujug mendadak SELALU ADA itu event “Amigdala melepaskan satu hormon yang disebut dengan homon Dopamin, kalau tidak dikendalikan, maka Amigdala akan membajak Pikiran”

Begitukah ajaran dongengnya sima ?

Poin yang mau saya sampaikan adalah: Manusia yang diciptakan Tuhan [b]di mula pertama[/b] itu adalah Perfect, dan [b]tanpa Dosa[/b].
Tidak ada saya bilang di thread ini bahwa [di time-frame mula pertama, Hawa diciptakan dengan dosa], sima. Baik sima dan rita itu IDEM. Mengumandangkan POINT yg gak ada hubungannya.

Mbok dibaca itu tulisan2 saya sima, agar jangan sampai sima menyampaikan POINT dimana point yg sima sampaikan itu BUKAN yang sedang saya bicarakan.

dan tanpa kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa
TIDAK ADA SATUPUN dari kalimat2 terbaca yang bisa disimpulkan bahwa [u]SEBELUM makan buah[/u], TIDAK ADA kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa pada diri Adam Hawa, sima.

DAN
TIDAK ADA PULA SATUPUN dari kalimat2 terbaca yang bisa disimpulkan bahwa SEGERA SETELAH makan buah, ADA kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa pada diri Adam Hawa, sima.

Yang ada bisa ketahuan dari kalimat2 terbaca mengenai coklat itu time-frame-nya BUKAN ketika SEGERA SETELAH makan buah, melainkan KETIKA manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi

Itu SUDAH SAYA TULISKAN di post sebelumnya dan sudah saya ulang dua kali, sima.
Ketimbang ditanggapi, begimana itu ceritanya sima bikin saya jadi mesti NGULANG utk yang ketiga kalinya perihal yang sebelumnya sudah saya sampaikan sebanyak dua kali ?

kalau bro cermati dari awal tulisanku, sebenarnya itu tidak bertentangan.. [b]secara alamiah manusia oleh karena Dosa memang sudah berubah[/b]
Sekali lagi :

TIDAK ADA SATUPUN dari kalimat2 terbaca yang bisa disimpulkan bahwa SEBELUM makan buah, TIDAK ADA kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa pada diri Adam Hawa, sima.

DAN
TIDAK ADA PULA SATUPUN dari kalimat2 terbaca yang bisa disimpulkan bahwa SEGERA SETELAH makan buah, ADA kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa pada diri Adam Hawa, sima.

Begimana itu ceritanya (how dare you to say) sima bilang :
secara alamiah manusia oleh karena Dosa memang sudah berubah TIDAK BERTENTANGAN”, sementara padahal :

  1. informasi yang ada itu time-frame-nya KETIKA manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi

  2. TIDAK ADA SATUPUN dari kalimat2 terbaca yang bisa disimpulkan bahwa SEBELUM makan buah, TIDAK ADA kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa pada diri Adam Hawa/

  3. TIDAK ADA PULA SATUPUN dari kalimat2 terbaca yang bisa disimpulkan bahwa SEGERA SETELAH makan buah, ADA kecenderungan atau kecondongan untuk berbuat dosa pada diri Adam Hawa.

:rolleye0014: :rolleye0014: :rolleye0014:

terlalu banyak contoh apabila kita melist, [b]siapa siapa saja manusia yang alamiahnya sudah rusak[/b]
Kalimat macam apa pula itu ? Bener bener parach ini ajaran-nya sima.

Pertama ngasih tau-nya TIDAK ada pemilahan :
sifat alami manusia itu adalah cenderung melakukan dosa semata mata
sifat alamiah manusia sudah mirip dengan setan, yaitu pelanggar hukum.
Hidup mereka cenderung melakukan dosa semata mata

dimana perihal diatas itu sima bilang :
Itu KARENA Hawa ketepu uler.

Giliran tak kejar2 :
mana itu kalimat2 terbaca yang bisa disimpulkan bahwa [SETELAH Hawa ketepu uler, sifat alamiah Hawa sudah mirip dengan setan, yaitu pelanggar hukum. Hidup Hawa cenderung melakukan dosa semata mata]

sekarang ngajuin kalimat:
siapa siapa saja manusia yang alamiahnya sudah rusak

yang dimana TENTU pengajuan pink seperti diatas nantinya akan dipergunakan sbg peluru tembak ke saya :
siapa yang bilang [SEMUA manusia alamiahnya rusak gara2 Hawa ketepu uler] ?. Kalimat pink gue itu kan menunjukkan bahwa [TIDAK SEMUA manusia alamiahnya rusak gara2 Hawa ketepu uler]. So, setelah ketepu uler, Hawa alamiahnya tidak rusak. Jadi jangan elu (oda) tanya tanya lagi mengenai dimana ada bacaan yang bisa disimpulkan bahwa [SETELAH Hawa ketepu uler, sifat alamiah Hawa sudah mirip dengan setan, yaitu pelanggar hukum. Hidup Hawa cenderung melakukan dosa semata mata]. Clear ya.

oda:
belisss belis ;D

oh begitu ya…
kalau begitu mari kita analisa kata “NIAT” tersebut yang bro maksudkan…

menurut KBBI, “NIAT” adalah: Kehendak AKAN Melakukan Sesuatu….
artinya adalah: “SUDAH DILAKUKAN dalam PIKIRAN tapi belum dilakukan di dalam tindakan, tinggal menunggu momen”

arti kata “NIAT” berbeda dengan “Penasaran”

“Niat” berarti sudah bertujuan akan melakukan…

“Penasaran” bertanya tanya dalam hati, mengapa begini dan mengapa begitu…

dengan definisi diatas, dan dengan membaca Kitab Kejadian Pasal 3…
maka kusimpulkan, “TIDAK ADA NIAT SAMA SEKALI BAGI HAWA UNTUK MELANGGAR HUKUM TUHAN”, terbukti dimana Hawa melakukan pertahanan dan tidak serta merta langsung makan buah larangan, jawab Hawa:
Kej 3:2,3
Kej 3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
Kej 3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.

artinya adalah: Hawa membantah perkataan Iblis yang mengatakan bahwa semua buah dalam taman itu tidak boleh dimakan…

bantahan akan perkataan Hawa tersebut, adalah bentuk sanggahan atau perlawanan kepada Iblis… namun sangat disayangkan Hawa tidak langsung pergi meninggalkan Iblis pada saat itu, Hawa masih melanjutkan percakapannya dan akhirnya tertipulah dia, dan melalui dia tertipulah pula suaminya…

ajaranmu menantang Tuhan dgn beraninya meng-aplikasikan : Dengan tidak adanya niat Hawa SAAT ITU (Kej 3:3) untuk melanggar hukum, maka SELAMANYA Hawa tidak akan pernah punya niat untuk melanggar hukum.

seballiknya bro @odadinglah yang seperti itu, dengan beraninya menambah nambahi Firman Tuhan, dengan beraninya bro @odading mengetikkan bahwa secara alamiah HAWA sudah memiliki Niat di dalam Hatinya untuk melanggar Hukum Tuhan…

padahal Firman TUhan mencatat, Hawa tidak langsung terbujuk pada saat di goda, tapi melalui percakapan dan penipuan akhirnya barulah Timbul Niat untuk memakan buah yang dilarang itu, dan akhirnya Niat tersebut di eksekusi…

Sekali lagi saya tanya : Lalu KENAPA jawaban sima kayak begini ? sementara padahal jawabannya sima adalah : [i]KARENA melanggar Hukum itu sudah jadi alamiah anak oda.[/i]

nah sekali lagi,
kasus anak Oda sangat berbeda jauh dengan Kasus Adam dan Hawa sebelum melanggar Hukum TUhan…
anak Oda, anak Sima dan semua anak anak manusia di muka bumi ini, adalah keturunan orang berdosa, secara alami sudah memiliki jiwa pemberontakan di dalam dirinya…

Adam Hawa beda brow… mereka bukan orang berdosa, mereka adalah manusia suci yang sangat sempurna memantulkan Gambar Allah.

AMBURADOL : [i]Oh... pada peristiwa Hawa makan buah, disitu Hawa [u]TIDAK ADA niat makan buah[/u], melainkan Hawa ADA niat nge-test Allah berbohong ato kagak, berangkat dari keraguannya thdp perkataan Allah[/i]

penyakit bro @oda muncull lagi nih…
menambah nambahi yang tidak kutuliskan…
kalau tidak ada Niat, tidak akan dimakan itu buah bro…
namun Niat itu muncul bukan karena itu adalah Sifat alami manusia yang tidak percaya dan memberontak…

melainkan Niat itu muncul karena manusia tertipu dan meragukan Firman Allah.

Wew... jangan bawa2 FreeWill dulu, sima. Disini kan yg lagi diomongin perihal keinginan hati / niat, BELUM masuk ke perihal AKSI.

kita tidak boleh melepaskan Free Will (Kehendak) dari peristiwa makan buah larangan bro…, karena dengan “Will (Kehendak)” lah manusia melanggar Hukum Allah.
“Kehendak (Will)” Manusia diserahkan kepada Iblis, dan semenjak itu, Kehendak Manusia berada dibawah kehendak Iblis atau dibawah kehendak Pemberontak, itulah mengapa kutuliskan berulang ulang, tanpa diajari berbuat dosapun, secara alami manusia akan cenderung melakukan dosa semata mata…

namun melalui pertolongan Kristus, Kehendak yang diserahkan kepada Iblis itu, dapat dibangunkan kembali, dilatih, diserahkan kepada Kristus, dan oleh pertolongan Kristus kita menjadi Pemenang…

buku berikut ini berkata: Kebahagiaan Sejati — Ellen G. White Writings
Peperangan melawan diri-sendiri adalah merupakan peperangan yang terbesar yang pernah diadakan. Penyerahan diri-sendiri, memasrahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah, mengharuskan satu pergumulan; tetapi jiwa itu harus lebih dahulu diserahkan kepada Allah barulah dapat dibaharui di dalam kesucian.

bersambung…

[u][b]Semenjak, Memakan Buah yang di Larang…
baik sudah memakannya di dalam Pikiran (Niat)
baik sudah memakannya di dalam tindakan (Eksekusi)

pada saat itulah manusia Melanggar Hukum TUhan… [/b][/u]

Antara A dan B itu BEDA kan sima.

kalau B yang bro maksud adalah: Penasaran, bertanya tanya, merenung, maka A dan B adalah Berbeda. tapi
kalau B yang br maksud adalah: Niat untuk memakan, maka A dan B adalah Sama…

So coba tolong jangan dijadiin satu, karena A menuntun ke pengertian AKSI - sedangkan B menuntun ke pengertian BUKAN AKSI (oranye sima = ijo rita = Desire oda).

apakah “desire” yang bro @oda tulis diatas ini adalah: “Keinginan untuk Memakan yang dilarang”… ???
kalau “desire” yang bro @oda maksudkan adalah “keinginan untuk Memakan yang dilarang” maka sama seperti penjelasanku diatas, Keinginan tersebut sebenarnya sudah dilakukan di dalam Pikiran…

Adam dan Hawa adalah Suci sebelum Jatuh dalam dosa, Pikiran, Perasaan dan Perbuatan manusia itu, sempurna memantulkan Karakter Allah…

Melanggar Hukum di dalam Pikiran, sama saja dengan melakukannya di dalam tindakan,
Motif dan Perbuatan manusia pertama itu berjalan bersama sama, sangat harmonis…

ANyway saya menyimpulkan bhw di pov versi sima kayak gini : KALO Amigdala TIDAK ADA, MAKA TIDAK AKAN ADA event dimana bagian perasaan atau emosi manusia membajak otak yang bekerja.

Amigdala itu adalah Ciptaan Tuhan…
Amigdala diciptakan dengan tujuan baik…
hal hal positif dari Amigdala adalah:

contoh:
ketika melihat orang lain hampir ditabrak kereta api, dengan gerak respon yang cepat dan tanpa berpikir panjang, seseorang dapat menolong orang lain…

dan ketika seseorang yang ditolong tersebut terselamatkan, ada kepuasan emosi yang didapatkan… :afro: :afro: :afro:

dilain sisi : Pertanyaan lainnya :

SEBELUM makan buah,
TIDAK PERNAH ada itu event : “Amigdala melepaskan satu hormon yang disebut dengan homon Dopamin, kalau tidak dikendalikan, maka Amigdala akan membajak Pikiran”

yang saya sebut ini adalah semenjak manusia jatuh dalam dosa… sebelum jatuh dalam dosa, semua bekerja dengan baik untuk kemuliaan Tuhan.

semenjak jatuh ke dalam dosa, bukan saja Amigdala yang dirusak oleh dosa, semua sistem otak dan saraf kita dirusak oleh dosa…

  1. Pikiran: dibuat untuk merancang kemenangan, menipu, memfitnah, menguasai perdebatan, strategi untuk menang, politik, menciptakan benteng benteng pertahanan. tidak mau kalah, dst…
  2. Perasaan: iri hati, benci, amarah, tak berbelas kasihan, tidak bersimpati, kasih menjadi dingin, tidak sabar, bersungut sungut, tidak puas, tidak suka peraturan dan hukum, jengkel dst…
  3. Amigdala: Nafsu makan yang tak terkendali yang segera harus dipuaskan, candu terhadap sesuatu, ingin dipuji, dihormati, disanjung, dst…

Firman Tuhan dapat melahirbarukan kita semua…
Firman Tuhan dapat mencerdaskan Pikiran, memberikan Hikmat dan Akal Budi, Melembutkan Perasaan, membuat manusia menjadi orang yang selalu bersyukur, puas dan mencukupkan apa yang ada, lembah lembut, pengasih, berpengharapan, Sabar menanggung penderitaan, taat kepada Hukum, dermawan, saleh,
Bahagia, Sehat dan Suci…

salam
TYM

Sebagai Tambahan,
Mari kita merenungkan Perkataan Tuhan Yesus Kristus berikut ini:

Mat 5:28
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Sangat Jelas, Singkat, Padat dan tidak bisa diputar balik maknanya…

  1. memandang perempuan, menginginginkannya dan berpikir untuk ngesek dengan dia, peristiwa tersebut sudah di EKSEKUSI di dalam hatinya…, sama dengan sudah melakukannya di dunia nyata…

  2. benci dan marah kepada seseorang, lalu menginginkan kematiannya di dalam pikiran, sudah MENGEKSEKUSI Pembunuhan tersebut di dalam Pikiran…

  3. melihat bank, dan merencanakan pencurian untuk mengambil semua uang di dalam Bank tersebut, sudah MENGEKSEKUSI Pencurian tersebut di dalam Pikiran.

inilah keadaan kita setelah jatuh dalam dosa, saya pernah mengalaminya, dan kemungkinan besar teman teman sekalian pernah juga berniat macam macam di dalam pikiran…

inilah keadaan kita, sangat malang sekali…
tapi Puji Tuhan, Hormat dan Kemulliaan bagi Tuhan kita,
di dalam Nama Yang Penuh Dengan Kuasa, di Dalam Nama Yesus Kristus, manusia pendosa dapat dilahirbarukan…
Sehingga Motif, Niat dan Tindakan atau Tingkah laku kita, dapat berjalan bersama sama, secara Harmonis kepada Kekudusan…

Dengan Memandang Kita akan Diubahkan…
By Beholding Love we Become Change…

[i][b]

Satu kehidupan yang di dalam Kristus ialah kehidupan yang penuh damai. Mungkin bukan dengan kegembiraan yang meluap-luap, namun dengan satu pengharapan yang teguh penuh damai.
Pengharapanmu bukanlah di dalam dirimu sendiri, melainkan di dalam Kristus.

  • Kelemahanmu dipadukan dengan kekuatanNya,
  • kebodohanmu dengan kebijaksanaanNya,
  • kelemahanmu kepada kekuatanNya yang perkasa itu.
    Oleh karena itu janganlah engkau bersandar pada dirimu sendiri, atau membiarkan hati memikir-mikirkan diri saja, melainkan pandanglah kepada Kristus.
    Biarlah pikiran tinggal atas kasihNya, atas keindahan, kesempurnaan tabiatNya. Kristus di dalam penyangkalan diriNya sendiri, Kristus di dalam kehinaanNya, Kristus di dalam kekudusan dan kesu- cianNya, Kristus di dalam kasihNya yang tiada taranya — inilah perkara-perka- ra yang patut direnung-renungkan jiwa. Dengan mengasihi Dia, meniru Dia, bergantung sepenuhnya atasNya, engkau dapat diubahkan menjadi serupa dengan Dia[/b][/i]. Kebahagiaan Sejati — Ellen G. White Writings

amin…

salam
TYM

:cheesy: Hello Oda , memang saya tidak membaca keseluruhan dengan teliti.

Berhubung anda sekarang senang dengan andaian yang sangat panjang.

Saya menarik kembali pada pandangan anda.

Saya sedikit heran dengan pandangan anda sekarang yang sangat negatif terhadap reform ??? Boleh dijawab ???

BTW saya baik2 saja , walau penyakitnya tetap menetap, Tuhan senantiasa memberi kekuatan melaluinya, thanks Oda.

Syukurlah, Rita :happy0025:.

Saya sedikit heran dengan pandangan anda sekarang yang sangat negatif terhadap reform ?????
Karena selama yang saya baca baca sana sini terkait denom2 yang ada, yang saya temui (dari baca2 tsb), ajaran reform sekalian ngajarin :
    1. orang untuk nge-judge berdasarkan dari apa yang diajarin/dikasih tau oleh denom reform ataupun buru2 nge-judge
    1. akibat dari nomor-1, orang orang pihak reform gak ada taruh perhatian dari apa yang disampaikan oleh pihak yang mereka judge.

statement saya : buru2 nge-judge, bukan asal ngomong.
Sering saya alami dan contoh gamblang-nya ya di thread ini aja keliatan. Sbb :

Sudah saya dgn panjang lebar menjelaskan kalimat saya yg berupa:
“Hawa sudah berdosa duluan SEBELUM makan buah”

tetep aja di judge spt sbb :
“si oda bilang bhw Tuhan menciptakan manusia (dalam hal ini yg dibicarakan adalah Hawa) dalam keadaan berdosa”.

Sementara padahal dari tulisan2 saya di thread laen terkait Original Sin yang saya kontra-in, kan jelas bisa diketahui bhw point of view saya itu malah against statement oranye. Di pov saya, setiap manusia yg ada pernah ada, sedang ada, akan ada, adalah ciptaan Tuhan dan di awalnya setiap kali Dia menciptakan setiap manusia tsb, manusia terkait tidak dalam keadaan berdosa.

Quote dibawah ini adalah individu Rita yg dengan secara “jantan” bilang :

memang saya tidak membaca keseluruhan dengan teliti.
Tetapi in general, akan lebih banyak individu2 Reformed yang TETEP AJA bilang : [i]"si oda bilang bhw [b]Tuhan menciptakan manusia[/b] (dalam hal ini yg dibicarakan adalah Hawa) [b]dalam keadaan berdosa[/b]".[/i] berangkat dari statement ijo saya tsb. [u]Sementara padahal kalimat ijo itu sendiri ada disertai penjelasan2 saya terkait kalimat ijo saya tsb[/u].

So, dengan adanya orang yang bilang kayak diatas,
ini kan jadinya menimbulkan hal yang gak jelas :
Orang ini sebenernya baca tulisan2 saya yg laen ato kagak ?
A. Baca, tapi gak ngerti
B. Baca, ngerti, tapi tetep aja ndableg
C. Baca, tapi tidak membaca keseluruhan dengan teliti
D. Baca keseluruhan dengan teliti, tapi tetep aja ndableg
E. Tidak baca, yang dibaca cuma tulisan yg ijo saja.

Walopun sikon yang point-A masih bisa di maklumi…
anyway whatever sikon point-nya (yg A kek, B kek, C kek, dst), perihal nge-judge itu NONGOL. So secara dari pov pihak saya :
A. kamu gak ngerti, tapi bilang kayak gitu
B. kamu ngerti, tapi kok bilang kayak gitu
C. kamu baca tidak teliti, tapi bilang kayak gitu
D. kamu baca dgn teliti, tapi kok bilang kayak gitu
E. kamu tidak baca, tapi kok bilang kayak gitu


Sekalian saya kasih contoh lain mengenai buru buru nge-judge :

Kej 6:5
Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata

judge :
oh itu maksudnya gara gara Adam/Hawa makan buah, maka akibatnya kejahatan kedua orang ini besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hati keduanya selalu membuahkan kejahatan semata-mata

Akibatnya saya bertanya : kalimat sebelum nya yang berupa : KETIKA manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi itu
A. Dibaca tapi gak ngerti ?
B. Dibaca dan ngerti ?
C. Dibaca tapi tidak dengan teliti ?
D. Dibaca dan dengan teliti ?
E. Tidak dibaca ?


BTT.

Berangkat dari tulisan Rita:

Bukan karena RAKUS Adam Hawa memakan buah larang, tetapi karena [b]KEINGINAN MEREKA INGIN SEPERTI ALLAH [/b], MENGETAHUI YANG BAIK DAN JAHAT
Kalimat bold menunjukkan time-frame SEBELUM terjadi aksi makan buah.

Pertanyaan saya :
menurut ajaran Sola Scriptura, sikon bold itu dosa ato kagak ?

Saya ambil misal/asumsi yang lebih ringan terkait SEBELUM Hawa makan buah :
Desire Hawa meng-ingini sesuatu yang saat itu TIDAK DIPERUNTUKAN buat Hawa (so, katakanlah : saat itu, PBJ bukan milik Hawa), dosa ato kagak ?

Selanjutnya… sebelum terjadi aksi makan buah, KETIKA :

Hawa tunduk dibawah perasaan dan disaat yang sama, pikiran menjadi hamba kepada perasaan dan [b]hukum Allah dikesampingkan dan dilupakan[/b] untuk memuaskan keinginan keinginan hati tersebut
itu dosa ato kagak ?

:slight_smile:
salam.

Keinginan yg dibuahi dgn perbuatan menjadi dosa

Saya sedang mengajukan bahwa [NIAT itu bisa tadinya ada blakangan gak ada, bisa tadinya gak ada blakangan ada], sima.

melalui percakapan dan penipuan akhirnya [b]barulah Timbul Niat[/b] untuk memakan buah yang dilarang itu
So... dengan demikian bener yang saya sampaikan bhw [[b]Niat itu bisa tadinya ada blakangan gak ada, bisa tadinya gak ada blakangan ada[/b]], sima.
[b]beraninya [/b]bro @odading mengetikkan bahwa secara alamiah HAWA sudah memiliki Niat di dalam Hatinya untuk melanggar Hukum Tuhan
Tentu saya BERANI, sima. Wong [b]jelas2 kisahnya menceritakan Hawa melanggar Hukum Tuhan tsb[/b], koooook. :D

Jadi gak perlu ada catetan terbaca, karena sbb ini adalah logika yang bener, SETELAH perkataan uler :

KARENA
Ada niat Hawa melanggar Hukum Tuhan
MAKA
Hawa melanggar Hukum Tuhan

KALAU
Hawa tidak ada niat sama sekali melanggar Hukum Tuhan
MAKA
tidak ada terjadi aksi Hawa melanggar Hukum Tuhan.

beraninya bro @odading mengetikkan bahwa secara alamiah HAWA [b]sudah [/b]memiliki Niat di dalam Hatinya untuk melanggar Hukum Tuhan
Jelaskan ke saya pov versi sima thdp kalimat "secara alamiah" dan time-frame versi sima pada kosakata "sudah" pada kalimat yang sima ajukan diatas.

versi saya thdp kalimat “secara alamiah” :
Adalah alamiah Hawa berniat makan buah tsb TANPA perlu adanya perkataan uler.
Adalah alamiah Hawa berniat melanggar Perintah Tuhan KARENA ADA perkataan uler.

sedangkan time-frame versi saya pada kosakata “sudah”, adalah sbb :
SETELAH uler berkata Sekali-kali kamu tidak akan mati, malah pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah SEBELUM Hawa makan buah, Hawa memiliki niat didalam hatinya untuk melanggar Hukum Tuhan.

lanjut,
Berangkat dari kisah terbaca bahwa Hawa melanggar Hukum Tuhan, maka statement saya :
SEBELUM Hawa makan buah, HAWA sudah memiliki Niat di dalam Hatinya untuk melanggar Hukum Tuhan


melalui percakapan dan penipuan akhirnya [b]barulah Timbul Niat untuk memakan buah yang dilarang itu[/b]
Nah sekarang [b]saya tanya balik ke sima[/b] :

SETELAH uler berkata Sekali-kali kamu tidak akan mati, malah pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah SEBELUM Hawa makan buah, timbul niat Hawa untuk makan buah, melanggar Hukum Tuhan ato kagak ?

mohon dijawab yah sima :azn:

bersambung.

kasus anak Oda sangat berbeda jauh dengan Kasus Adam dan Hawa [u][b]sebelum [/b]melanggar Hukum TUhan[/u].
Mohon jelaskan ke saya time-frame kosakata "sebelum" pada kalimat di quote atas, sima.

Saya minta penjelasan sima, ya karena :

  1. orang orang hobi menerapkan time-frame sekena-kenanya.
  2. kosakata “sebelum” di pov saya pengertiannya bisa banyak. Contoh misal :
    Diketika Hawa baru saja ada di Eden = SEBELUM makan buah.
    Jam 3 SETELAH ketemu dengan uler = SEBELUM makan buah
    Jam 4 SETELAH berbicara dgn uler = SEBELUM makan buah
    Jam 5 SETELAH ketipu uler = SEBELUM makan buah

Jam 6 ketika Hawa ngeliat buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian = SEBELUM makan buah

anak Oda, anak Sima dan semua anak anak manusia di muka bumi ini, adalah keturunan orang berdosa, [b]secara alami sudah memiliki [u]jiwa pemberontakan[/u] di dalam dirinya[/b].
Pertanyaan : 1. Bold, itu dikarenakan apa sima ? 2. Definisikan "jiwa pemberontakan".... sikonnya apa/begimana ?
Adam Hawa beda brow.. [b]mereka bukan orang berdosa[/b]
KAPAN itu sikon bold, sima ? Jam 1 ketika Hawa baru saja ada di Eden = Hawa bukan orang yang berdosa Jam 2 SETELAH ketemu dengan uler = Hawa bukan orang yang berdosa Jam 3 SETELAH berbicara dgn uler = Hawa bukan orang yang berdosa Jam 4 SETELAH ketipu uler = Hawa bukan orang yang berdosa

Jam 5 ketika Hawa ngeliat buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian = Hawa bukan orang yang berdosa

melalui percakapan dan penipuan akhirnya [b]barulah Timbul Niat[/b] untuk memakan buah yang dilarang itu

Jam 6, ketika timbul niat Hawa untuk melanggar perintah = Hawa bukan orang yang berdosa
Jam 7 SETELAH Hawa melanggar perintah Allah = Hawa bukan orang yang berdosa[/sub]

mereka adalah manusia suci yang sangat sempurna memantulkan Gambar Allah.
KAPAN mereka itu manusia suci, sima ? Jam 1 ? jam 2 ? jam 3 ? jam 4 ? jam 5 ? jam 6 ? jam 7 ?
kalau tidak ada Niat, tidak akan dimakan itu buah bro
Ya betul :afro:. Mengajukannya sima ayat 3 sebagai bukti bahwa : TIDAK ADA NIAT SAMA SEKALI BAGI HAWA UNTUK MELANGGAR HUKUM TUHAN itu kan [b]sia sia[/b], sima. Karena yang sima bilang spt oranye itu [b]DI SAAT time-frame yang berbeda[/b].

So… yang saya ajukan BENER:
Niat itu bisa tadinya ada blakangan gak ada, bisa tadinya gak ada blakangan ada.

SEBELUM Hawa makan buah :
taroh kata SAMPAI di SAAT ayat 3 Hawa memang tidak pernah ada niat sama sekali untuk melanggar Perintah Tuhan, maka ini TIDAK SERTA MERTA selamanya Hawa tidak akan pernah ada niat sama sekali untuk melanggar Perintah Tuhan. Anytime, it’s possible TIMBUL niat Hawa untuk melanggar Perintah Tuhan, kecuali sima bilang [Hawa diciptakan tanpa bisa punya keinginan utk kepuasan diri].

namun Niat itu muncul bukan karena itu adalah Sifat alami manusia yang tidak percaya dan memberontak.. melainkan Niat itu muncul karena [b]manusia tertipu dan meragukan Firman Allah[/b]
Kalimat sima diatas tinggal saya setarai dengan kalimat saya sbb :
  1. sifat alami Hawa manusia suci yang sangat sempurna TIDAK AKAN PERNAH meragukan Firman Allah
  2. sifat alami Hawa manusia suci yang sangat sempurna, percaya Firman Allah dan TIDAK AKAN PERNAH memberontak

dengan demikian:
TIDAK AKAN PERNAH ADA Hawa melanggar Firman Allah.

So…
Dengan sifat alami Hawa sbg manusia suci yang sangat sempurna, yang PERCAYA Firman Allah dan tidak meragukan Firman Allah, maka adalah impossible rumpian uler menyebabkan Hawa tertipu dan meragukan Firman Allah.

Anyway, JELAS biru itu BUKAN versi saya melainkan perihal yang saya ajukan menyetarai dari apa yang sima ajukan :D.

bersambung.

namun Niat itu muncul bukan karena itu adalah Sifat alami manusia yang tidak percaya dan memberontak.. melainkan [b]Niat itu muncul karena manusia tertipu dan meragukan Firman Allah[/b]
Berikut kronologika berangkat dari statement sima diatas....

SETELAH makan buah, Hawa bilang :
KARENA ada omongan uler
MAKA saya tertipu dan meragukan Firman Allah
AKIBATnya timbul niat saya melanggar perintah Tuhan (makan buah)

KALO tidak ada uler
MAKA sifat alami saya tetep percaya dan tidak meragukan perintah Tuhan
AKIBATnya, impossible timbul niat saya melanggar perintah Tuhan

Begitu kan ungu yang sima maksudkan ?

itulah mengapa kutuliskan berulang ulang, tanpa diajari [b]berbuat [/b]dosapun, secara alami manusia akan cenderung melakukan dosa semata mata
Saya disini belon ke perihal BERBUAT, sima. Melainkan di perihal niat.

Lagian,
uler gak ada tuh ngajarin “LANGGAR aja Perintah Allah… makan itu buah, Hawa”.
So… si Hawa tanpa perlu diajarin/disuruhpun, dia sendiri TERNYATA melakukan dosa.

Uler disitu kan ngasih informasi, dimana informasi itu jadinya menyebabkan —sima bilang— “Hawa tertipu dan MERAGUKAN Firman Allah”.

Anyway, kosakata “ragu” yang sima pakai itu kan cuma pemanis doank, sima. Dengan kisahnya menceritakan Hawa melanggar Firman Allah, ya ini kan otomatis menunjukkan bhw SEBELUM Hawa makan buah SETELAH mendengar informasi si uler : Hawa TIDAK PERCAYA Firman Allah.

Tidak ada pula itu uler ngajarin :
“udehhh… jangan percaya Firman Allah, Hawa. Percaya gue deh. Langgar aja perintah Allah”.

So, tidak ada itu yang ngajarin Hawa untuk TIDAK PERCAYA versi saya, MERAGUKAN versi sima Firman Allah, kan sima.

Lagi pula sima tidak ada menjelaskan Hawa meragukan Firman Allah itu di perihal apa.

Sementara sudah saya sampaikan yang dimana penyampaian saya tsb ENTAH sima baca ato kagak, ENTAH pula sima baca tapi gak ngerti, ENTAH pula sima baca dan ngerti tapi mengabaikannya, etc. Sbb :
Berangkat dari pengetahuan saya bhw Hawa makan itu buah - maka berikut logikanya :
SETELAH mendengar informasi uler :

  1. Hawa tidak percaya Allah bahwa kalo makan buah tsb maka Hawa mati.
  2. Hawa percaya uler bahwa kalo makan buah tsb maka dirinya menjadi seperti Allah
  3. Hawa ingin memuaskan desirenya menjadi seperti Allah walo melanggar perintah Allah

akibat:
4. Hawa melanggar perintah Allah.

TIDAK ADA itu pihak laen yg ngajarin Hawa untuk 1-2-3-4, sima.
So, begimana pula sima bilang KARENA Hawa diajarin uler utk meragukan Firman Allah MAKA barulah Hawa menjadi ragu Firman Allah - sementara padahal kisahnya itu uler memberikan informasi ke Hawa ? Begimana pula sementara padahal sima tau bhw Hawa melanggar Firman Allah tapi kosakata yang sima gunakan itu berupa “ragu” pada diri Hawa sebelum dia makan buah?

ilustrasi analogis :
Yang duluan seseorang tau, informasinya adalah : “X ini racun”
Blakangan orang ybs tau informasi lainnya : “X ini bukan racun”.

oda :
Selama tidak orang ybs tidak makan X,
maka orang ybs percaya informasi yg pertama.

KALO semisalnya terjadi keraguan,
maka itu sikon terjadi “perang” di diri orang ybs, antara percaya informasi pertama yg bener ataukah informasi kedua yang bener.

KALO semisalnya orang ybs akhirnya makan X,
maka orang ybs tidak percaya informasi pertama, percaya informasi kedua.
Tidak ada itu perihal ragu di point ini.

Selanjutnya tinggal dirubah aja informasinya agar “sesuai” dgn sikon Hawa, sbb :
informasi-1 : kalo X dimakan, menyebabkan sakit perut… so … jangan makan X.
informasi-2 : kalo X dimakan, tdk menyebabkan sakit perut melainkan menyebabkan tambah cantik.
(silahkan perhatikan bhw tidak ada itu informasi-2 ngajarin [u]“so… makan aja X” — tidak ada pula ngajarin : “informasi-1 itu cipoa, jangan percaya”)

Nah… mohon sima jawab :
setelah informasi dari uler, keraguan Hawa akan Firman Allah jadi timbul itu di perihal apa sima ?

jiwa itu harus lebih dahulu diserahkan kepada Allah
Bagaimana dengan Hawa ---[i]yg sima bilang[/i]--- [manusia suci yang sangat sempurna] ? SETELAH mendengar informasi uler - SEBELUM makan buah, apakah Hawa menyerahkan jiwa-nya kepada Allah ?

bersambung

Membingungkan. Saya tanya aja deh :
SETELAH Hawa denger informasi uler, SEBELUM Hawa makan buah : ADA DOSA atau kagak pada diri Hawa, sima ? Dengan kata laen : SEBELUM Hawa berbuat dosa, Hawa sudah manusia berdosa duluan ato kagak setelah dia denger informasi uler, sima ?

kalau B yang bro maksud adalah: Penasaran, bertanya tanya, merenung, maka A dan B adalah Berbeda. tapi kalau B yang br maksud adalah: Niat untuk memakan, maka A dan B adalah Sama
Nah... kronologikanya yang mana duluan sima ?

A. Ungu ada dulu, baru nongol oranye, baru nongol aksi
B. Oranye ada dulu, baru nongol ungu, baru nongol aksi

Yang A ato yang B sima ?


selanjutnya masuk ke aplikasi kisah Hawa :
Berangkat dari kalimat sima yg berupa [HAWA meragukan Firman Allah] setelah ngedenger informasi uler …

saya bertanya :

  1. [HAWA meragukan Firman Allah] ini yang point ungu ataukah yg point oranye, sima ?

  2. Point yg mana duluan ?
    X. point ketipu dulu - barulah point ragu Firman Allah
    Y. point ragu Firman Allah dulu - barulah point ketipu

Yang X :
KARENA ketipu
MAKA jadinya ragu Firman Allah

Yang Y :
KARENA ragu Firman Allah
MAKA jadinya ketipu


selanjutnya masuk ke kalimat sima yg lain, sbb :

manusia itu tunduk dibawah perasaan dan disaat yang sama, pikiran menjadi hamba kepada perasaan dan [b]hukum Allah dikesampingkan dan dilupakan [u]untuk memuaskan keinginan[/u][/b] keinginan hati tersebut..

itulah Dosa

melalui percakapan dan penipuan akhirnya barulah [b]Timbul Niat [u]untuk memakan buah[/u][/b] yang dilarang itu
Sekali lagi saya ulang statement saya berangkat dari dua quote diatas : [i]Jadi..... SEBELUM melakukan aksi dosa, Hawa udah duluan sebagai manusia yang berdosa.[/i]

Mohon jangan lagi suka aneh aneh, kebiasaan hobi buru2 nge-judge di-aplikasikan, sima :D.
Dengan kata laen, jangan lagi berangkat dari kalimat ijo saya tsb, sima nge-judge “si oda bilang bahwa SAAT baru saja Hawa ada di Eden, Hawa adalah manusia yang berdosa.”

Jelas ya sima.
Nah… pabila sudah jelas, sekarang saya tanya :
statement ijo saya itu BENER ato kagak ?
statement ijo saya selaras ato kagak dgn statement2 sima pada dua quote sima diatas ?


Kembali lagi saya tanyakan :

SETELAH dapet informasi dari uler
SEBELUM melakukan aksi melanggar Perintah Tuhan,
Hawa itu sudah berupa manusia yang berdosa duluan ato kagak, sima ?

Kenapa berkali kali saya tanyakan, ya karena berangkat dari kalimat sima dibawah ini :

inilah keadaan kita setelah jatuh dalam dosa
[b]di pov saya[/b], [u]pov versi sima itu kayak gini [/u]:
  • inilah keadaan manusia (termasuk Hawa) SETELAH Hawa melakukan AKSI dosa, makan buah (melanggar perintah Tuhan).

So, saya tanyakan dulu aja deh :
kalimat diatas dari saya tsb —yg saya bilang bhw itulah pov versi sima— bener ato salah ?
Mohon jawabannya : “BENER oda”… atau “SALAH oda”.

Tidak bersambung lagi :smiley:

So, SEBELUM Hawa makan buah - SETELAH Hawa denger informasi iblis : ada keinginan pada diri Hawa.

Nah, pertanyaannya :
Berupa apa itu keinginan Hawa ?

informasi dari rita :

KEINGINAN MEREKA INGIN [b]SEPERTI ALLAH[/b]
SEBELUM point makan buah - SETELAH point denger informasi uler, [u]di point [Keinginan Hawa menjadi seperti Allah][/u] ---> apakah di point ini Hawa adalah manusia berdosa ?

sementara itu, informasi dari sima :

oleh bujukan Iblis, manusia itu tunduk dibawah perasaan dan disaat yang sama, pikiran menjadi hamba kepada perasaan dan [b]hukum Allah dikesampingkan dan dilupakan untuk memuaskan keinginan[/b] keinginan hati tersebut..

itulah Dosa

So, kalo dirangkai … kalimatnya jadi begini :

  • oleh bujukan Iblis, manusia itu tunduk dibawah perasaan dan disaat yang sama, pikiran menjadi hamba kepada perasaan dan [b]hukum Allah dikesampingkan dan dilupakan untuk memuaskan keinginan SEPERTI ALLAH

Pertanyaan-nya sama :
SEBELUM point makan buah - SETELAH point denger informasi uler, di point [Keinginan/Niat Hawa untuk memuaskan desire-nya menjadi seperti Allah] —> apakah di point ini Hawa adalah manusia berdosa ?

[b]itulah Dosa[/b]
tulisan sima menjawab : Ya, itu dosa.

Saya baru ngeh, kosakata “desire” ada vocab-nya di bahasa indo —> hasrat.
SEBELUM point makan buah - SETELAH point denger informasi uler, di point [Keinginan/Niat Hawa untuk memuaskan hasrat-nya menjadi seperti Allah] —> apakah di point ini Hawa adalah manusia berdosa ?