Apa segi positip dan negatipnya, doa yang sudah kita hafal dan diulang-ulang.

Dari topik diatas mohon teman-teman sekalian memberikan pendapat anda masing-masing !

jadi ingat topik saya di ciri-ciri penyembahan BERHALA dalam Alkitab - Diskusi Umum Kristen - ForumKristen.com

sebenarnya Doa Bapa Kami pun bukan untuk dihapal (menurut saya)

Salam

Menjadi seperti cuci otak diri sendiri sehingga hafal dan ingat selamanya dalam pikiran dan kalbu. Menjadi sesuatu yang semakin diyakini karena berulang-ulang dikatakan dan didengar di telinga, seperti konsep iklan produk komersial dalam berusaha masuk dalam benak konsumen.

Kerugiannya, karena biasa diucapkan dan didengar menjadi kurang melibatkan hati, dan dapat menjadi kurang berarti pada akhirnya. Seperti pepatah “orang kenyang menginjak-injak madu, orang yang lapar yang pahitpun terasa manis”.

Karena itu untuk doa yang dihafalkan, nilai sakral dari doa itu harus ditingkatkan sehingga mereka yang biasa berdoa yang dihafalkan juga merasakan sesuatu yang berbeda dari sekedar menghafalkan kata-kata.

Secara umum dipakai bagi umat Allah yang baru berusaha mengenal Tuhan dan membutuhkan panduan dalam mendekatkan diri pada Allah.

Bukan untuk dihafal. akan tetapi karena sering dipakai menjadi hafal dengan sendirinya.

Terima kasih atas respond anda, bagus saya setuju.

jadi lips service … doakan kudu dr hati…yang dimanifestasikan lewat mulut

sebaiknya jangan sering dipakai, biar gak hapal lagi. karena Doa yang diulang-ulang setahu saya namanya “mantra”. Doa Bapa Kami seharusnya menjadi contoh doa yang baik atau dasar belajar berdoa, bukannya biar sudah tahu cara berdoa tapi malah tetap pake Doa Bapa Kami, karena murid2 Yesus saja tidak menghapalkan Doa Bapa Kami kata per kata.

apa pengetahuan saya yang kurang ya :ashamed0004: ?

Salam

[email protected] Sam…

Ya Tidak ada sama sekali sisi negatif nya, kalau kita menghapal isi doa yang selalu sama dan digunakan lagi unuk keperluan yang sama. dan teus berulang dalam kehidupankeimanan kita , baik malam,siang,pagi…dll.

Doa Bapa Kami cotohnya, ya harus di hafal dng benar dan tulus ikhlas…tidak boleh di tentang sama sekali oleh pikiran dan hati perasaan kita semua. Jika ada yang melakukan penolakan…Ya sama saja menolak ajaran Tuhan Yesus Kristus sendiri. Tidak boleh ditawar-tawar lagi demi mengikuti theologi pribadi.

Isi Doa bukanlah berfungsi sebagai mantera untuk mengusir setan, tetapi berfungsi untk memuji, memulyakan, memohon , meminta dll, kepada Allah dalam nama Tuhan Yesus Kristus…Jadi sifatnya sudah pasti positif semuanya
jika doa yang kita ucapkan dan panjatkan itu sama dari hari kehari dan dihafal secara spotan di luar kepala. jika kita butuhkan untuk berkomonikasi dengan Allah Bapa kita di Sorga.

Kiranya seperti itu pemahaman saya…

Salam GBU…

murid-murid Yesus saja tidak hapal Doa Bapa Kami

Salam :slight_smile:

Tidak ada segi negatifnya. Justru melatih seorang untuk terus fokus dan disiplin berdoa.

Kalopun ada yang jadi males dan gak mood, itu biasanya karena memang pada dasarnya orangnya sendiri mood-mood an, males, dan cepet bosen, atau celakanya, digoda Iblis sehingga berhenti berdoa.

Sama saja kalo kita dari kecil dibiasakan gosok gigi dan mandi pagi. Tentunya kini dua kegiatan tersebut sudah jadi bagian hidup kita bukan?

Terbalik anda cara mikirnya. Justru karena orang Kristen perdana hapal doa Bapa kami, yang tentunya diajarkan oleh para Murid (siapa lagi selain mereka yang mengajarkan doa tersebut?), maka dituliskanlah doa tersebut baik oleh Rasul Matius dan Tabib Lukas.
:ashamed0002:

kalo murid-murid hapal, maka tentunya kalimat dalam Doa Bapa Kami di Matius dan Lukas sama persis :slight_smile:

Salam

Luk 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
Luk 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
Luk 11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

Lukas adalah seorang non Yahudi. Doa yang diingatnya tentu berbeda dari Rasul Matius yang adalah seorang Yahudi karena dalam bahasa Aram, doa tersebut berirama sehingga mudah diingat.

Kalau toh anda mengatakan bahwa Lukas tidak hapal, sudah jelas bahwa Rasul Matius hapal karena doa yang ada di Injil Lukas tidak ada yang bertentangan dengan yang ada di Injil Matius.
:slight_smile:

kalo salah satu dari Lukas / Matius tidak hapal, maka tentunya Doa Bapa Kami tidak untuk di hapal. karena ada yang tidak hapal. :slight_smile:

masalah irama, saya mau tanya, apakah Tuhan mengajarkan Doa Bapa Kami secara berirama ?

masalah bahasa, saya mau tanya. apakah kitab Matius dan Lukas ditulis dalam bahasa yang berbeda?

Salam :slight_smile:

Mau menghapal doa atau tidak, tentu anda sendiri kalo menutup doa pake kata “…dalam nama Tuhan Yesus, mereka yang percaya berkata…Aminnnnn”. Ya apa iya?
Itu hapalan, gerak refleks, atau apa?
wkwkwkwkwk…
;D

Apa anda kira anak umur 3 tahun tidak perlu menghapal penutup doa tersebut?
Lha yang diajarkan di sekolah-sekolah minggu itu apa jika bukan hapalan?
:azn:

Menurut para arkeolog, dimungkinkan bahwa memang ada kitab Injil Matius yang berbahasa Aram, yaitu bahasa ibu yang dipakai oleh Yesus sendiri. Dan hal itu masuk akal juga mengingat Matius memang adalah orang Yahudi yang tentunya berbahasa Aram. Berbeda dari Markus dan Lukas yang adalah non-Yahudi. Sedang Injil Yohanes, sekalipun ditulis oleh seorang Yahudi, namun belum diketemukan yang berbahasa selain Yunani.

ini yang dibahas penutup doa atau isi doa? tolong diluruskan dulu :slight_smile:

anak umur 3 tahun kenapa anda bandingkan dengan para Rasul? :slight_smile:

ada artikel yang bisa dipertanggung jawabkan ? tentunya tentang Injil Matius dalam bahasa Aram yang ditulis oleh Matius. :slight_smile:

BTW. mengenai irama bagaimana?

Salam :slight_smile:

HAHAHAHA…ALKiTAB TIDAK PERNAh MEGATAKAn SEPERTI ITU [email protected]

Itu gak heran, bahwa itu hanya ekses saja…dari orang2X yang membaa Alkitab.di zaman ini, tetapi mereka tidak menemukan sedikitpun titik / poin untuk mencela kredibelitas murid-murid Yesus. Kristus jika Alkitab di bicarakan di zaman kritis ini.hehehe.

Salam GBU

Lha penutup doa itu bagian dari doa bukan?
;D

Kalo saya lihat dari judul, “doa yang sudah kita hafal”, ya saya asumsikan pembuka dan penutup doa itu adalah doa itu sendiri.

Karena para Rasul tentunya pernah berumur 3 tahun, dan mereka PASTI pernah menghafalkan sesuatu, entah itu doa, entah itu hal-hal lainnya.
;D

Saya yakin sebagai orang Yahudi, mereka PASTI disuruh menghafalkan doa. Orang Yesus aja hafal “Shema Y’israel, Adonai Eloheinu, Adonai Echad”.

Orang Yahudi PASTI hafal syahadat imannya sendiri.

Kalo doa yang cukup panjang seperti dari kitab Mazmur, mereka biasanya membaca.

Coba anda google saja. Ini salah satau referensi,

Ini contoh doa yang dilagukan,

Lord’s Prayer in Aramaic ( Abun d-bashmayo ܐܒܘܢ ܕܒܫܡܝܐ )

Bagian, tapi bukan isi doa

“Dalam Nama Tuhan Yesus” tidak ada dalam Doa Bapa Kami yang saya bahas ini.
penutup doa (selain Doa Bapa Kami), bisa bermacam-macam tidak perlu dihapalkan. :slight_smile:
sementara penutup doa dalam Doa Bapa Kami adalah dihapalkan dan merupakan bagian UTUH dari Doa Bapa Kami

oh berarti anda mau membandingkan orang Yahudi dengan Lukas yang tidak hapal karena bukan orang Yahudi ? :slight_smile:

dari reff yang anda berikan ini, ternyata Injil Matius (yang ditulis Matius sendiri) dalam bahasa Aram masih diragukan. kemungkinan Injil Matius dalam bahasa Aram adalah salinan. :slight_smile:

yang saya tanyakan, apakah ada bukti tertulis bahwa Tuhan mengajarkan Doa Bapa Kami dengan irama?

Salam :slight_smile:

Bagus sekali, tanggapan yang anda berikan.

Terima kasih.