Apa yang dinubuatkan Kitab Daniel Pasal 9 tentang Waktu Kedatangan Mesias?

Dear All,

Sudah baca kitab Daniel?

Waktu Kedatangan Mesias Disingkapkan

ALLAH adalah Pemegang Jadwal Yang Agung. Ia mengendalikan semua masa dan musim yang berhubungan dengan pekerjaan-Nya. (Kisah 1:7) Semua peristiwa yang telah Ia tetapkan pada masa-masa dan musim-musim itu pasti terjadi. Tidak ada yang akan gagal.

2 Sebagai seorang yang rajin mempelajari Tulisan-Tulisan Kudus, nabi Daniel beriman akan kesanggupan Yehuwa untuk menjadwalkan peristiwa-peristiwa dan mewujudkannya. Daniel khususnya tertarik pada nubuat-nubuat tentang kehancuran Yerusalem. Yeremia telah mencatat penyingkapan Allah tentang berapa lama kota kudus itu akan dibiarkan telantar, dan Daniel mempelajari nubuat ini dengan saksama. Ia menulis, ”Pada tahun pertama pemerintahan Darius putra Ahasweros dari benih orang Media, yang telah diangkat menjadi raja atas kerajaan orang Khaldea; pada tahun pertama masa pemerintahannya itu aku, Daniel, memahami dari buku-buku, jumlah tahun yang disampaikan firman Yehuwa kepada nabi Yeremia, yakni tujuh puluh tahun, untuk menggenapi masa kehancuran Yerusalem.”—Daniel 9:1, 2; Yeremia 25:11.

3 Darius, orang Media, saat itu memerintah atas ”kerajaan orang Khaldea”. Peristiwa yang Daniel ramalkan sebelumnya sewaktu ia menafsirkan tulisan tangan di dinding sudah tergenap secara cepat. Imperium Babilonia tidak ada lagi. Imperium tersebut telah ”diberikan kepada orang Media dan orang Persia” pada tahun 539 SM.—Daniel 5:24-28, 30, 31.

DANIEL MEMOHON DENGAN RENDAH HATI KEPADA ALLAH
4 Daniel sadar bahwa 70 tahun masa ditelantarkannya Yerusalem sudah hampir berakhir. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Ia sendiri memberi tahu kita, ”Kemudian aku mengarahkan mukaku kepada Yehuwa, Allah yang benar, untuk mencarinya dengan doa dan permohonan, dengan puasa, kain goni, dan abu. Dan aku mulai berdoa kepada Yehuwa, Allahku, dan membuat pengakuan.” (Daniel 9:3, 4) Keadaan hati yang benar dibutuhkan untuk dapat mengalami pembebasan oleh Allah yang berbelaskasihan. (Imamat 26:31-46; 1 Raja 8:46-53) Dibutuhkan iman, sikap rendah hati, dan pertobatan penuh dari dosa-dosa yang mengakibatkan pembuangan dan perbudakan. Oleh karena itu, demi kepentingan bangsanya yang berdosa, Daniel menghampiri Allah. Bagaimana? Dengan berpuasa, berkabung, dan mengenakan kain goni, lambang pertobatan dan ketulusan hati.

5 Nubuat Yeremia telah memberikan harapan kepada Daniel, karena nubuat itu menunjukkan bahwa orang Yahudi akan segera dikembalikan ke tanah air mereka di Yehuda. (Yeremia 25:12; 29:10) Tidak diragukan, Daniel merasa yakin bahwa kelegaan akan datang bagi orang Yahudi yang ditaklukkan, karena pria yang bernama Kores kini telah memerintah sebagai raja Persia. Bukankah Yesaya bernubuat bahwa Kores akan digunakan untuk membebaskan orang Yahudi sehingga mereka dapat membangun kembali Yerusalem dan baitnya? (Yesaya 44:28–45:3) Tetapi, Daniel sama sekali tidak tahu bagaimana hal itu akan terwujud. Maka, ia terus memohon kepada Yehuwa.

6 Daniel mengarahkan perhatian pada belas kasihan dan kebaikan hati Allah yang penuh kasih. Dengan rendah hati, ia mengakui bahwa orang Yahudi telah berdosa dengan memberontak, berpaling dari perintah-perintah Yehuwa, dan mengabaikan para nabi-Nya. Allah bertindak benar ketika Ia ”menceraiberaikan mereka oleh karena ketidaksetiaan yang mereka lakukan”. Daniel berdoa, ”Oh, Yehuwa, pada kami ada muka malu, pada raja-raja kami, pembesar-pembesar kami dan bapak-bapak leluhur kami, karena kami telah berdosa terhadap engkau. Pada Yehuwa, Allah kami, ada belas kasihan dan pengampunan, sebab kami telah memberontak terhadapnya. Dan kami tidak menaati perkataan Yehuwa, Allah kami, dengan berjalan menurut hukum yang telah ia tetapkan di hadapan kami melalui tangan hamba-hambanya, para nabi. Semua orang Israel melangkahi hukummu, dan menyimpang dengan tidak menaati perkataanmu, sehingga engkau mencurahkan ke atas kami kutukan dan sumpah yang tertulis dalam hukum Musa, hamba dari Allah yang benar, sebab kami telah berdosa terhadap-Nya.”—Daniel 9:5-11; Keluaran 19:5-8; 24:3, 7, 8.

7 Allah telah memperingatkan orang Israel tentang akibatnya jika mereka tidak menaati-Nya dan mengabaikan perjanjian yang telah Ia buat dengan mereka. (Imamat 26:31-33; Ulangan 28:15; 31:17) Daniel mengakui benarnya tindakan Allah, dengan berkata, ”Kemudian ia melaksanakan firman yang telah ia ucapkan terhadap kami dan terhadap para hakim yang memerintah kami, dengan mendatangkan atas kami malapetaka besar, seperti yang belum pernah terjadi di bawah seluruh langit, demikianlah yang terjadi di Yerusalem. Sebagaimana ada tertulis dalam hukum Musa, seluruh malapetaka itu—itu telah menimpa kami, dan kami tidak melembutkan muka Yehuwa, Allah kami, dengan berbalik dari kesalahan kami dan memperlihatkan pemahaman akan kebenaranmu. Yehuwa tetap bersiap dengan malapetaka itu dan akhirnya mendatangkannya atas kami, sebab Yehuwa, Allah kami, adil-benar dalam segala perbuatan yang ia lakukan; dan kami tidak menaati perkataannya.”—Daniel 9:12-14.

8 Daniel tidak berupaya membenarkan tindakan bangsanya. Pembuangan itu pantas mereka terima, sebagaimana diakuinya tanpa ragu, ”Kami telah berbuat dosa, kami telah bertindak fasik.” (Daniel 9:15) Niatnya juga bukan sekadar agar dibebaskan dari penderitaan. Tidak, permohonannya ia buat demi kemuliaan dan kehormatan Yehuwa sendiri. Dengan mengampuni orang Yahudi dan mengembalikan mereka ke tanah air mereka, Allah menggenapi janji-Nya melalui Yeremia dan menyucikan nama kudus-Nya. Daniel memohon, ”Oh, Yehuwa, sesuai dengan segala perbuatan keadilbenaranmu, biarlah kiranya kemarahanmu dan kemurkaanmu surut dari kotamu, Yerusalem, gunung kudusmu; sebab, oleh karena dosa-dosa kami dan kesalahan-kesalahan bapak-bapak leluhur kami, Yerusalem dan umatmu menjadi sasaran celaan di hadapan semua orang di sekeliling kami.”—Daniel 9:16.

9 Dalam doanya yang khusyuk, Daniel selanjutnya berkata, ”Sekarang, oh, Allah kami, dengarkanlah doa hambamu serta permohonannya, dan buatlah mukamu bersinar atas tempat sucimu yang ditelantarkan, demi Yehuwa. Condongkanlah telingamu, oh, Allahku, dan dengarlah. Bukalah matamu dan lihatlah keadaan kami yang ditelantarkan dan kota yang disebut dengan namamu; karena kami menyampaikan permohonan kami ke hadapanmu bukan berdasarkan perbuatan kami yang adil-benar, tetapi berdasarkan belas kasihanmu yang limpah. Oh, Yehuwa, dengarlah. Oh, Yehuwa, ampunilah. Oh, Yehuwa, perhatikan dan bertindaklah. Janganlah menunda, demi kepentinganmu sendiri, oh, Allahku, sebab namamu telah disebut atas kotamu serta umatmu.” (Daniel 9:17-19) Jika Allah tidak mau mengampuni dan Ia meninggalkan umat-Nya dalam pembuangan, membiarkan kota kudus-Nya, Yerusalem, tetap telantar sampai waktu yang tidak tertentu, apakah bangsa-bangsa akan menganggap Ia sebagai Penguasa Universal? Bukankah mereka akan menyimpulkan bahwa Yehuwa tidak berdaya melawan keperkasaan dewa-dewi Babilonia? Ya, nama Yehuwa akan dicela, dan hal ini meresahkan Daniel. Nama ilahi, Yehuwa, terdapat 19 kali dalam buku Daniel, dan 18 di antaranya muncul sehubungan dengan doa ini!

GABRIEL DATANG DENGAN SEGERA
10 Sementara Daniel masih berdoa, malaikat Gabriel menampakkan diri. Ia berkata, ”Hai, Daniel, sekarang aku datang untuk membuat engkau memiliki pemahaman disertai pengertian. Pada awal permohonanmu, keluarlah suatu firman, dan aku datang untuk memberi laporan, karena engkau orang yang sangat dikasihi. Jadi pertimbangkanlah perkara ini, dan milikilah pengertian tentang hal yang dilihat.” Tetapi, mengapa Daniel menyebutnya ”manusia Gabriel”? (Daniel 9:20-23) Nah, sewaktu Daniel berupaya memahami penglihatan yang ia terima sebelumnya mengenai kambing jantan dan domba jantan, ”seseorang yang tampak seperti laki-laki” menampakkan diri di hadapannya. Dialah malaikat Gabriel, yang diutus untuk memberikan pemahaman kepada Daniel. (Daniel 8:15-17) Dengan cara yang serupa, setelah Daniel berdoa, malaikat ini datang mendekatinya dalam rupa manusia dan berbicara langsung kepadanya.

11 Gabriel datang ”pada waktu persembahan pemberian senja hari”. Mezbah Yehuwa telah dimusnahkan bersama dengan bait di Yerusalem, dan orang Yahudi menjadi tawanan orang Babilonia yang kafir. Jadi, korban-korban tidak lagi dipersembahkan kepada Allah oleh orang Yahudi di Babilon. Akan tetapi, pada waktu-waktu yang ditetapkan oleh Hukum Musa untuk memberikan persembahan, sudah sepatutnyalah orang Yahudi yang saleh, yang berada di Babilon, memberikan pujian dan mengajukan permohonan kepada Yehuwa. Sebagai orang yang sangat berbakti kepada Allah, Daniel dijuluki ”orang yang sangat dikasihi”. Yehuwa, sang ”Pendengar doa”, berkenan kepadanya, dan Gabriel segera diutus untuk menjawab doa Daniel yang disertai iman.—Mazmur 65:2.

12 Bahkan, manakala berdoa kepada Yehuwa membuat kehidupannya terancam, Daniel tetap berdoa kepada Allah tiga kali sehari. (Daniel 6:10, 11) Tidak heran, Yehuwa sangat mengasihi dia! Selain berdoa, Daniel juga merenungkan Firman Allah sehingga dia dapat mengetahui kehendak Yehuwa. Daniel berkanjang dalam doa dan tahu caranya menghampiri Yehuwa dengan benar supaya doanya dijawab. Ia menonjolkan keadilbenaran Allah. (Daniel 9:7, 14, 16) Dan, meskipun musuh-musuhnya tidak dapat menemukan kesalahan pada dirinya, Daniel tahu bahwa ia adalah pedosa di mata Allah dan ia mengakui dosanya tanpa ragu.—Daniel 6:4; Roma 3:23.

”TUJUH PULUH MINGGU” UNTUK MENGHABISI DOSA
13 Daniel yang berdoa dengan khusyuk itu ternyata menerima jawaban yang benar-benar hebat! Yehuwa tidak saja meyakinkan dia bahwa orang Yahudi akan dikembalikan ke tanah air mereka tetapi juga memberinya pemahaman tentang sesuatu yang jauh lebih penting—munculnya Mesias yang dinubuatkan. (Kejadian 22:17, 18; Yesaya 9:6, 7) Gabriel memberi tahu Daniel, ”Ada tujuh puluh minggu yang telah ditentukan atas bangsamu dan atas kota kudusmu, untuk mengakhiri pelanggaran, untuk menghabisi dosa, untuk mengadakan pendamaian atas kesalahan, untuk mendatangkan keadilbenaran sampai waktu yang tidak tertentu, untuk menerakan meterai pada penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi Yang Kudus Atas Segala Yang Kudus. Dan hendaklah engkau tahu dan memiliki pemahaman bahwa sejak keluarnya firman untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem sampai datangnya Mesias, sang Pemimpin, akan ada tujuh minggu, juga enam puluh dua minggu. Kota itu akan kembali dan sesungguhnya dibangun kembali, dengan lapangan dan parit, tetapi pada masa yang sulit.”—Daniel 9:24, 25.

14 Ini benar-benar kabar baik! Tidak saja Yerusalem akan dibangun kembali dan ibadat akan dipulihkan di bait yang baru, tetapi juga ”Mesias, sang Pemimpin” akan muncul pada waktu yang spesifik. Semua ini akan terjadi dalam jangka waktu ”tujuh puluh minggu”. Karena Gabriel tidak menyebutkan hari-hari, ini bukan minggu-minggu yang masing-masing terdiri dari tujuh hari, yang jumlahnya 490 hari—atau satu sepertiga tahun saja. Pembangunan kembali Yerusalem ”dengan lapangan dan parit”, sebagaimana dinubuatkan, memerlukan waktu yang lebih lama dari itu. Minggu-minggu yang dimaksud terdiri dari tahun-tahun. Bukti bahwa setiap minggu lamanya tujuh tahun diperlihatkan oleh sejumlah terjemahan modern. Sebagai contoh, catatan kaki untuk Daniel 9:24 dalam Tanakh—The Holy Scriptures yang diterbitkan oleh The Jewish Publication Society menerjemahkannya sebagai ”tujuh puluh minggu-tahun”. An American Translation berbunyi, ”Tujuh puluh minggu-tahun ditentukan untuk bangsamu dan untuk kota kudusmu.” Terjemahan serupa muncul dalam terjemahan Moffat dan Rotherham.

15 Menurut kata-kata sang malaikat, ”tujuh puluh minggu” akan dibagi menjadi tiga periode: (1) ”tujuh minggu”, (2) ”enam puluh dua minggu”, dan (3) satu minggu. Berarti, 49 tahun, 434 tahun, dan 7 tahun—seluruhnya berjumlah 490 tahun. Menarik, The Revised English Bible berbunyi, ”Tujuh puluh kali tujuh tahun telah ditandai untuk bangsamu dan kota kudusmu.” Setelah dibuang dan menderita di Babilon selama 70 tahun, orang Yahudi akan merasakan perkenan istimewa dari Allah selama 490 tahun, atau 70 tahun dikalikan 7. Titik awalnya adalah ”keluarnya firman untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem”. Kapan ini terjadi?

”TUJUH PULUH MINGGU” DIMULAI
16 Tiga peristiwa penting layak diperhatikan sehubungan dengan dimulainya ”tujuh puluh minggu”. Yang pertama terjadi pada tahun 537 SM sewaktu Kores mengeluarkan dekret yang memungkinkan orang Yahudi kembali ke tanah air mereka. Dekret tersebut berbunyi, ”Inilah yang dikatakan Kores, raja Persia, ’Semua kerajaan di bumi telah diberikan kepadaku oleh Yehuwa, Allah yang berkuasa atas surga, dan ia sendiri telah menugasi aku untuk membangun baginya sebuah rumah di Yerusalem, yang ada di Yehuda. Siapa pun di antara kamu yang adalah umatnya, semoga Allahnya menyertai dia. Maka biarlah dia pergi ke Yerusalem, yang ada di Yehuda, dan membangun kembali rumah Yehuwa, Allah Israel,—ia adalah Allah yang benar—yang ada di Yerusalem. Mengenai siapa pun yang masih tersisa, di mana pun ia berdiam sebagai orang asing, biarlah orang-orang di daerahnya membantu dia dengan perak, emas, barang-barang dan binatang-binatang peliharaan serta persembahan sukarela bagi rumah Allah yang benar, yang ada di Yerusalem.’” (Ezra 1:2-4) Jelaslah, tujuan spesifik dekret ini adalah agar bait—”rumah Yehuwa”—dibangun kembali di lokasinya yang semula.

17 Peristiwa kedua terjadi pada tahun ketujuh pemerintahan raja Persia, Artahsasta (Artahsasta Longimanus, putra Xerxes I). Pada waktu itu, Ezra, sang penyalin, mengadakan perjalanan selama empat bulan dari Babilon ke Yerusalem. Ia membawa surat khusus dari raja, tetapi surat itu tidak memberinya wewenang untuk membangun kembali Yerusalem. Sebaliknya, tugas Ezra hanyalah ”membuat indah rumah Yehuwa”. Itulah sebabnya surat itu menyebutkan tentang emas dan perak, bejana-bejana suci, serta sumbangan berupa gandum, anggur, minyak, dan garam untuk mendukung ibadat di bait, dan juga pembebasan pajak bagi orang-orang yang melayani di sana.—Ezra 7:6-27.

18 Peristiwa ketiga terjadi 13 tahun setelah itu, pada tahun ke-20 pemerintahan Artahsasta, raja Persia. Pada waktu itu, Nehemia melayani sebagai juru minuman raja di ”Puri Syusyan”. Yerusalem telah dibangun sampai taraf tertentu oleh sisa orang Yahudi yang kembali dari Babilon. Tetapi, tidak semuanya berjalan baik. Belakangan, Nehemia tahu bahwa ”tembok Yerusalem roboh, dan gerbang-gerbangnya telah terbakar oleh api”. Hal ini benar-benar menggelisahkan dirinya, dan hatinya pun diliputi kesuraman. Sewaktu ditanya mengapa ia bersedih, Nehemia menjawab, ”Biarlah raja hidup sampai waktu yang tidak tertentu! Bagaimana mungkin mukaku tidak akan suram jika kota, tempat pekuburan bapak-bapak leluhurku, hancur, dan gerbang-gerbangnya telah habis dimakan api?”—Nehemia 1:1-3; 2:1-3.

19 Kisah tentang Nehemia itu berlanjut, ”Maka raja mengatakan kepadaku, ’Apa yang hendak engkau upayakan?’ Seketika itu juga aku berdoa kepada Allah yang berkuasa atas surga. Setelah itu aku mengatakan kepada raja, ’Jika tampaknya baik bagi raja, dan jika hambamu tampaknya baik di matamu, kiranya engkau mau mengutus aku ke Yehuda, ke kota pekuburan bapak-bapak leluhurku, agar aku membangunnya kembali.’” Artahsasta senang dengan usul tersebut, dan dia juga mengabulkan permohonan Nehemia selanjutnya, ”Jika tampaknya baik bagi raja, biarlah diberikan kepadaku surat-surat untuk gubernur-gubernur di seberang Sungai [Efrat], agar mereka membiarkan aku lewat sampai aku tiba di Yehuda; juga sepucuk surat kepada Asaf, penjaga taman milik raja, agar ia memberi aku pohon-pohon untuk membangun gerbang-gerbang Puri dari rumah itu dengan kayu, untuk tembok kota, dan untuk rumah yang akan kumasuki.” Nehemia mengakui peranan Yehuwa dalam mewujudkan semua ini, dengan berkata, ”Demikianlah raja memberikan [surat-surat] itu kepadaku, sesuai dengan tangan baik dari Allahku atasku.”—Nehemia 2:4-8.

20 Meskipun izin diberikan pada bulan Nisan, yaitu pada awal tahun ke-20 pemerintahan Artahsasta, ”keluarnya firman untuk memulihkan dan membangun kembali Yerusalem” baru benar-benar terlaksana beberapa bulan kemudian. Ini terjadi sewaktu Nehemia tiba di Yerusalem dan memulai pekerjaan pemulihan. Perjalanan Ezra memakan waktu empat bulan, tetapi Syusyan terletak lebih dari 322 kilometer di timur Babilon, jadi lebih jauh lagi dari Yerusalem. Oleh karena itu, kemungkinan besar, Nehemia tiba di Yerusalem menjelang akhir tahun ke-20 pemerintahan Artahsasta, atau pada tahun 455 SM. Pada tahun itulah, ”tujuh puluh minggu” atau 490 tahun yang dinubuatkan, dimulai. Periode ini akan berakhir pada bagian akhir tahun 36 M.—Lihat ”Kapan Artahsasta Mulai Memerintah?” di halaman 197.

”MESIAS, SANG PEMIMPIN” MUNCUL
21 Berapa tahun berlalu sampai akhirnya Yerusalem benar-benar dibangun kembali? Nah, pemulihan kota itu akan dilaksanakan ”pada masa yang sulit” karena kesulitan yang timbul di kalangan orang Yahudi sendiri serta tentangan dari orang Samaria dan orang-orang lainnya. Berdasarkan bukti yang ada, pekerjaan itu diselesaikan sampai tahap yang dianggap memadai kira-kira pada tahun 406 SM—dalam jangka waktu ”tujuh minggu”, atau 49 tahun. (Daniel 9:25) Periode 62 minggu, atau 434 tahun, akan menyusul. Setelah periode tersebut, Mesias yang telah lama dijanjikan akan muncul. Dengan menghitung 483 tahun (49 tambah 434) dari tahun 455 SM, kita akan sampai pada tahun 29 M. Apa yang terjadi pada waktu itu? Lukas, sang penulis Injil, memberi tahu kita, ”Pada tahun kelima belas masa pemerintahan Kaisar Tiberius, sewaktu Pontius Pilatus menjadi gubernur Yudea, dan Herodes menjadi penguasa distrik Galilea, . . . datanglah pernyataan Allah kepada Yohanes putra Zakharia di padang belantara. Maka ia datang ke seluruh daerah sekitar Sungai Yordan, dengan memberitakan pembaptisan sebagai lambang pertobatan untuk pengampunan dosa.” Pada waktu itu, ”orang-orang sedang menanti” datangnya sang Mesias.—Lukas 3:1-3, 15.

22 Yohanes bukanlah Mesias yang dijanjikan. Tetapi, sehubungan dengan apa yang ia saksikan pada waktu Yesus dari Nazaret dibaptis pada musim gugur tahun 29 M, Yohanes berkata, ”Aku telah melihat roh turun dari langit seperti seekor merpati, dan tinggal di atas dia. Bahkan aku tidak mengenal dia, tetapi Pribadi yang mengutus aku untuk membaptis dalam air telah mengatakan kepadaku, ’Apabila engkau melihat roh turun dan tinggal di atas seseorang, inilah pribadi yang membaptis dengan roh kudus.’ Dan aku telah melihat itu, dan aku telah memberikan kesaksian bahwa pribadi ini adalah Putra Allah.” (Yohanes 1:32-34) Pada waktu dibaptis, Yesus menjadi Pribadi Terurap—Mesias, atau Kristus. Segera setelah itu, Andreas, murid Yohanes, bertemu dengan Yesus yang diurapi, lalu ia memberi tahu Simon Petrus, ”Kami telah menemukan Mesias.” (Yohanes 1:41) Jadi, ”Mesias, sang Pemimpin” muncul tepat pada waktunya—pada akhir 69 minggu!

PERISTIWA-PERISTIWA PADA MINGGU TERAKHIR
23 Apa yang akan terlaksana selama minggu ke-70? Gabriel mengatakan bahwa periode ”tujuh puluh minggu” telah ditentukan ”untuk mengakhiri pelanggaran, untuk menghabisi dosa, untuk mengadakan pendamaian atas kesalahan, untuk mendatangkan keadilbenaran sampai waktu yang tidak tertentu, untuk menerakan meterai pada penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi Yang Kudus Atas Segala Yang Kudus”. Agar hal ini terlaksana, ”Mesias, sang Pemimpin” harus mati. Kapan? Gabriel berkata, ”Setelah enam puluh dua minggu itu, Mesias akan dilenyapkan, tanpa memiliki apa-apa. . . . Dan ia akan memberlakukan perjanjian itu bagi banyak orang selama satu minggu; dan pada pertengahan minggu itu, ia akan menghentikan korban dan persembahan pemberian.” (Daniel 9:26a, 27a) Saat yang menentukan tersebut adalah ”pada pertengahan minggu itu”, yaitu pada pertengahan minggu-tahun yang terakhir.

24 Pelayanan Yesus Kristus kepada umum dimulai pada bagian akhir tahun 29 M, dan berlangsung selama tiga setengah tahun. Sebagaimana telah dinubuatkan, pada awal tahun 33 M, Kristus ”dilenyapkan” sewaktu ia mati pada tiang siksaan, memberikan kehidupan manusianya sebagai tebusan bagi umat manusia. (Yesaya 53:8; Matius 20:28) Korban binatang dan persembahan pemberian yang ditetapkan oleh Hukum sudah tidak dibutuhkan lagi setelah Yesus yang dibangkitkan mempersembahkan nilai kehidupan manusianya yang dikorbankan kepada Allah di surga. Meskipun para imam Yahudi terus memberikan persembahan sampai bait di Yerusalem dibinasakan pada tahun 70 M, korban-korban itu tidak lagi diperkenan Allah. Itu semua telah digantikan oleh korban yang lebih baik, korban yang tidak perlu diulang-ulang lagi. Rasul Paulus menulis, ”[Kristus] mempersembahkan satu korban karena dosa untuk selamanya . . . Karena melalui satu persembahan korban ia menyempurnakan orang-orang yang disucikan, untuk selamanya.”—Ibrani 10:12, 14.

25 Meskipun dosa dan kematian masih membuat umat manusia menderita, kematian Yesus dan kebangkitannya kepada kehidupan surgawi telah menggenapi nubuat. ’Pelanggaran diakhiri, dosa dihabisi, pendamaian atas kesalahan diadakan, dan keadilbenaran didatangkan.’ Allah telah menyingkirkan perjanjian Hukum, yang telah menyingkapkan dan mengutuk orang Yahudi sebagai pedosa. (Roma 5:12, 19, 20; Galatia 3:13, 19; Efesus 2:15; Kolose 2:13, 14) Kini, dosa para pelaku kesalahan yang bertobat dapat dihapus, dan karenanya hukuman dapat dibatalkan. Melalui korban pendamaian sang Mesias, orang-orang yang menjalankan iman dapat dirukunkan dengan Allah. Mereka dapat menantikan saat manakala mereka dapat menerima karunia Allah berupa ”kehidupan abadi melalui Kristus Yesus”.—Roma 3:21-26; 6:22, 23; 1 Yohanes 2:1, 2.

26 Demikianlah Yehuwa menyingkirkan perjanjian Hukum melalui kematian Kristus pada tahun 33 M. Kalau begitu, bagaimana dapat dikatakan bahwa Mesias ”akan memberlakukan perjanjian itu bagi banyak orang selama satu minggu”? Karena ia tetap memberlakukan perjanjian Abraham. Hingga minggu ke-70 berakhir, Allah mengulurkan berkat-berkat perjanjian itu kepada orang Ibrani keturunan Abraham. Tetapi, pada akhir ”tujuh puluh minggu” tahun, pada tahun 36 M, rasul Petrus mengabar kepada seorang pria Italia yang tulus bernama Kornelius, keluarganya, dan orang Kafir lainnya. Dan sejak hari itu, kabar baik mulai diberitakan di antara orang-orang berbagai bangsa.—Kisah 3:25, 26; 10:1-48; Galatia 3:8, 9, 14.

27 Nubuat itu juga menyebutkan bahwa ”Yang Kudus Atas Segala Yang Kudus” akan diurapi. Hal ini tidak memaksudkan pengurapan Ruang Mahakudus, atau ruang yang paling dalam, dari bait di Yerusalem. Ungkapan ”Yang Kudus Atas Segala Yang Kudus” di sini memaksudkan tempat suci Allah di surga. Di sanalah Yesus mempersembahkan nilai korban manusianya kepada Bapaknya. Pembaptisan Yesus, pada tahun 29 M, telah mengurapi, atau mengkhususkan, realitas yang bersifat surgawi dan rohani itu, yang digambarkan oleh Ruang Mahakudus dari tabernakel di bumi dan dari bait yang ada belakangan.—Ibrani 9:11, 12.
NUBUAT DITEGUHKAN OLEH ALLAH

28 Nubuat tentang Mesias yang diucapkan malaikat Gabriel juga berbicara tentang ”menerakan meterai pada penglihatan dan nabi”. Berarti, segala sesuatu yang dinubuatkan mengenai Mesias—semua hal yang ia capai melalui pengorbanannya, kebangkitannya, dan tampilnya ia di surga, maupun hal-hal lain yang terjadi selama minggu ke-70—akan dibubuhi meterai dukungan ilahi, akan terbukti benar, dan dapat dipercaya. Penglihatan itu akan dimeteraikan, hanya berlaku atas Mesias. Penggenapannya akan terjadi pada Mesias dan pekerjaan Allah yang dilakukan melalui dia. Kita dapat memperoleh penafsiran yang benar atas penglihatan itu hanya jika kita menghubungkannya dengan Mesias yang dinubuatkan. Selain dengan cara itu, maknanya tidak dapat disingkapkan.

29 Gabriel sebelumnya telah menubuatkan bahwa Yerusalem akan dibangun kembali. Kini, ia menubuatkan pembinasaan kota dan baitnya yang telah dibangun kembali itu, dengan berkata, ”Kota serta tempat kudus itu akan dibinasakan oleh orang-orang dari seorang pemimpin yang akan datang. Kesudahannya akan datang melalui banjir. Dan sampai ke akhir akan ada perang; apa yang telah diputuskan adalah kehancuran. . . . Dan di atas sayap perkara-perkara yang menjijikkan itu akan ada yang menyebabkan kehancuran; dan sampai suatu pembasmian, perkara yang diputuskan itu juga akan tercurah ke atas yang dihancurkan itu.” (Daniel 9:26b, 27b) Meskipun kehancuran ini akan terjadi setelah ”tujuh puluh minggu”, peristiwa ini merupakan akibat langsung dari hal-hal yang terjadi selama ”minggu” terakhir, manakala orang Yahudi menolak Kristus dan membunuhnya.—Matius 23:37, 38.

30 Catatan sejarah memperlihatkan bahwa pada tahun 66 M, legiun Romawi di bawah gubernur Siria, Cestius Gallus, mengepung Yerusalem. Meskipun orang Yahudi mengadakan perlawanan, pasukan Romawi yang membawa panji-panji atau bendera mereka yang bersifat berhala, menerobos masuk ke kota dan mulai meruntuhkan tembok bait sebelah utara. Keberadaan mereka di sana menjadikan mereka ”perkara menjijikkan” yang dapat menyebabkan kehancuran total. (Matius 24:15, 16) Pada tahun 70 M, orang Romawi di bawah Jenderal Titus datang bagaikan ”banjir” dan menghancurkan kota itu beserta baitnya. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka, karena peristiwa tersebut sudah ditetapkan—”diputuskan”—oleh Allah. Pemegang Jadwal Yang Agung, Yehuwa, sekali lagi menggenapi firman-Nya!

APA YANG SAUDARA PAHAMI?
• Sewaktu 70 tahun masa ditelantarkannya Yerusalem hampir mendekati akhirnya, permohonan apa yang Daniel ajukan kepada Yehuwa?
• Berapa lamakah ”tujuh puluh minggu”, kapan periode ini dimulai dan berakhir?
• Kapan ”Mesias, sang Pemimpin” muncul, dan kapan saat yang menentukan manakala ia ”dilenyapkan”?
• Perjanjian apa yang ’diberlakukan bagi banyak orang selama satu minggu’?
• Apa yang terjadi setelah ”tujuh puluh minggu”?

Salam,
budi halasan - petojo