Apakah buktinya bahwa kekristenan BUKAN agama?

Saya sering mendengar dan membaca bahwa kekristenan itu BUKAN agama.

Definisi agama,

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.[note 1] Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan / atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta. Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai. Menurut beberapa perkiraan, ada sekitar 4.200 agama di dunia.[1]

Kekristenan itu katanya lifestyle, gaya hidup, ekspresi, dll, tapi BUKAN agama.
Apakah ada yang bisa membuktikannya?

Silakan…

Dengan definisi dari wiki, maka kekristenan disebut agama, entah menurut mas wawan dkk :tongue:

Ada yg bilang kekristenan itu hubungan pribadi dgn Allah. Lebih ke arah direct connection yg sifatnya personal. Jadi lebih free and simple karena to the point ke esensi nya. Beda dgn agama yg walau esensinya sama tapi penuh dgn doktrin yg berisi aturan2 dan batasan2 yg relatif rumit/tdk simple di dalam pelaksanaanya.
.
Tapi sy msh belum ngeh apa yg dimaksud dan yg melatar belakangi TS sehingga timbul pemikiran itu.

Mungkin buktinya: Yesus datang bukan untuk bikin agama, tapi menebus dosa manusia dan mengajarkan tentang kasih.

masa sih mas?

kalo direct connection dan privat serta transenden dengan allah…
maka seharusnya TIDAK ADA STIGMA atau CAP dari orang-orang yang MERASA BENAR terhadap pandangan lain yang MEREKA KIRA adalah SALAH, kan mas…

wong namanya aja hubungan intim dan personal dengan allah kok…
misalnya:
mau manggil Allah, Yahweh, Ouloh, Gusti, Sang Hyang, Paijo, Joko, Jono dll…
selama Allah-nya engga keberatan… kenapa mesti dibilang salah?

seperti halnya panggilan sayang kita kepada sang pacar…
misalnya walaupun sang pacar itu namanya keren luar biasa: “prakasa guntur halilintar sutono”…
tapi panggilan yayangnya malah: “ndut”

nah… selama si guntur enggak keberatan dipanggil “ndut” oleh sang pacar & malah merasa mesra…

masa si cewe malah di-maki-maki orang engga kenal, yg dengan sok gagah-berani-nya bilang:
“woi… cewe buta-huruf… elo engga bisa baca akte kelahiran ya… cowo elo itu ganteng gitu namanya GUNTUR… masa elo panggil NDUT… itu namanya SESAT dan MENGHINA GUNTUR…”

nah lho…
kalo gini kan JADI ENGGA PERSONAL lagi dan ENGGA SIMPEL lagi kan mas?

demikian imho…

Kekeristenan itu jelas DISEBUT sebagai suatu agama , jika kita melihatnya di KTP semua penduduk NKRI

Jika ingin membuktikan Bahwa Kekristenan BUKAN agama, maka bacalah Alkitab dari PL s/d PB…JANGAN BACA SUMBER YANG LAIN…PASTI anda kesasar kemana-mana waktu mencari buktinya.

Salam…

Sewaktu saya kecil dahulu, ada sebuah acara di TVRI yang berjudul “Mimbar kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Jelas mimbar tersebut bukan mimbar agama karena ke 5 agama di Indonesia sudah ada mimbarnya sendiri-sendiri. Sang pembawa acara selalu menghimbau para pemirsa untuk selalu “eling” (ingat) kepada Tuhan YME dan memiliki hubungan batin dengan Yang Diatas. Apakah seperti itu “direct personal” yang dimaksud?

Mungkin bisa dikutipkan disini contoh yang rumit dan tidak simpel tersebut.

Ya karena dulu sering denger pendeta berkhotbah dan mengajar demikian. Di siaran-siaran radio kristen juga sering didengung-dengungkan demikian oleh para pengkhotbahnya.

Lha penebusan dan kasih itu termasuk ajaran agama atau tidak?

katanya sih agama itu sarana manusia untuk mencari dan mengenal Tuhan, sdgkan kekristenan adalah keyakinan yang didasarkan pada pemahaman bahwa Tuhanlah yang mencari dan memperkenalkan diriNya pada manusia.
Argumentatif sih :ashamed0004:

Lha kita tahunya bahwa “Tuhanlah yang mencari dan memperkenalkan diri-Nya pada manusia” dari mana kalo bukan dari agama?
;D

Thanks for reminding me this statement bro.

ya kurang lebihnya kira2 seperti itu kekristenan sebagai hubungan pribadi, selama Allah welcome ya it’s ok ga masalah.
Soalnya di waktu pertobatan sy dulu, ketika di gereja harus doa penyembahan sy malah mengucapkan Allah hu Akbar berulang2 untuk memujinya, tentunya ya di dalam hati agar tdk ganggu kiri kanan. Itu terjadi karena saat sy di jamah pertama dulu background sy muslim trus kemudian atheis, dan tdk ada yg nuntun dan ngajari harus bagaimana. Tapi Allah tetep welcome kok karena DIA melihat hati, dan dlm perjalanan waktu Allah mengajari sy banyak hal dan bagaimana semestinya menjadi orang kristen. Dan kekristenan seperti ini yg sy Imani sambil terus belajar.
.

masa si cewe malah di-maki-maki orang engga kenal, yg dengan sok gagah-berani-nya bilang: "woi.. cewe buta-huruf... elo engga bisa baca akte kelahiran ya.. cowo elo itu ganteng gitu namanya GUNTUR... masa elo panggil NDUT... itu namanya SESAT dan MENGHINA GUNTUR..."

nah lho…
kalo gini kan JADI ENGGA PERSONAL lagi dan ENGGA SIMPEL lagi kan mas?

demikian imho…


kalau yg begini, sy pribadi menyebutnya kekristenan sebagai agama. Dan sy tdk meng Imani model kekristenan yg seperti ini. Akan tetapi hal itu adalah tanggung jawab pribadi atas pilihannya masing2. Tentang menjadi tidak simplenya mungkin sy bukan orang yg tepat untuk menjawab pertanyaan bro CD.

Menurut saya kekristenan itu memang suatu agama, karena dalam kekristenan ada unsur doktrin tentang kuasa yang lebih tinggi daripada manusia yang mengatur kehidupan manusia, juga ada doktrin tentang bagaimana sikap manusia untuk menjalin hubungan dengan kuasa yang lebih besar tersebut agar kehidupan harmonis, bahkan sampai kekekalan.

Istilah “agama” yang sebenarnya bermakna baik lama kelamaan berkonotasi negatif, seolah2 agama adalah kumpulan aturan harus begini harus begitu, tidak boleh ini tidak boleh itu, disertai protokoler ritual2 yang kaku, misalnya bagaimana caranya beribadah, apa doa yang harus diucapkan dsb. Ini semua imbas dari modernisasi yang lebih mengutamakan logika, rasionalisme, dan kemanfaatan. Tetek bengek aturan agama dianggap sebagai penghambat kemajuan.

Oleh karena itu, terutama di negara Barat yang sekuler, mereka mencoba menampilkan kekristenan bukan seperti agama menurut pandangan sebagian besar orang. Timbul motto “Kekristenan bukan agama tetapi suatu hubungan (relationship)”. Mereka menawarkan doktrin bahwa kekristenan adalah suatu hubungan yang intim dengan Tuhan, yang tidak bisa dicapai melalui agama. Tata cara ibadah dibuat se-casual mungkin, nyanyian dalam ibadah lebih ditekankan menyatakan hubungan akrab dengan Tuhan daripada memuji kebesaran Tuhan.

Dari satu sisi memang kita perlu mempunyai hubungan akrab dengan Tuhan, menjadikannya sahabat kita yang siap menolong setiap saat. Tetapi jangan lupa, Dia adalah Allah yang Mahakuasa, yang Mahakudus, Pencipta langit dan bumi. Ingat, Dia adalah yang patut disembah dan tidak ada lain yang patut disembah kecuali Allah kita.

wah… saya sependapat dgn mas dream ttg hal ini…

kalo saya menyebutnya “Kekristenan Esensial” mas…

as opposed to Kekristenan Atributif, yang sering kali menggelincirkan kita-kita untuk lebih fokus pada ATRIBUT Kristen seperti: hobi ngutip, merasa masuk surga karena ngutip ayat terus, menyalahkan orang dengan pendapat yg berbeda, dll…

dan ternyata mas…
semakin saya belajar dan berinteraksi dengan berbagai macam manusia dari segala macam kebudayaan dan bangsa…

ternyata…
Ada nilai-nilai universal yang terkandung dalam:

  • “kekristenan esensial”
  • “kebudhaan esensial”
  • “kehinduan essensial”
  • “taoism esensial”
  • “atheism esensial”
  • “agnostism esensial”
    dan lainnya sebagainya…
    yang kalau ditarik lebih Substantif lagi, maka sering disebut sebagai: “Spiritualitas”

demikian imho lho mas…

sehingga, tentu, pada Akhirnya:
LABEL ke-KRISTEN-an itu hampir pasti mengarah pada suatu Corak yang disebut AGAMA…

Yesus datang bukan untuk mendirikan agama baru didunia ini yang mana agama itulah yang dirahmati oleh Allah dan asal menjadi pemeluk agama itu orang diselamatkan.

Yesus datang mendamaikan kita dengan Allah lewat diriNya. Ia tidak membawa ajaran baru kedunia ini, tetapi menyingkapkan apa yang dulu merupakan gambaran dan bayang-bayang saja. Sehingga kita tidak lagi dibawah bayang-bayang agama (peraturan manusia) yang mengkekang kita didalam kepentingannya.

Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

Karena itulah maka apapun organisasinya (Katholik, Ortodoks, Protestan, Pentakosta, Advent dll) tidaklah menjadi penting lagi, sebab keselamatan itu bukan datang dari agama tetapi dari Tuhan kita Yesus Kristus.

Orang merasa suci saat membanggakan agamanya, tetapi sejatinya ia bukan membanggakan Yesus, melainkan organisasinya, membanggakan peraturan manusia yang dibuat didalamnya. Tetapi orang yang membanggakan Yesus, ia melakukan apa yang diperintahkan Yesus, dan perintahnya itu adalah kasih.

Mereka yang hidup didalam kasihNya, merekalah yang hidup sesuai dengan kehendak Bapa.

Ada banyak ayat dalam Alkitab, ada banyak panduan bagi kita untuk mengambil keputusan, untuk melangkah, untuk berbicara dan bertindak, tetapi Yesus menyatakan;

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Dapatkah kita mengatakan kita hidup dalam kasihNya tanpa menjadikannya bagian dari hidup kita? Kita mempelajari Alkitab untuk mengetahui apa kehendak Bapa, dan jika kita tahu, apakah kita tinggal sebagai pengetahuan saja? Buat pandai-pandaian kalau aku tahu ini dan itu, aku mengerti lebih dari kamu. Kita mencari tahu agar kita dapat hidup sesuai dengan kehendakNya. Bukankah itu artinya kita bicara tentang gaya hidup, bicara tentang kebiasaan dan karakter?

Tradisi lahir dari ajaran manusia tetapi kepribadian itu dibentuk oleh Roh Allah. Tradisi Jawa, Bali, Sunda, Madura, Papua, Dayak masing-masing memiliki ciri sendiri-sendiri, sama seperti Kristen, Protestan, Pentakosta dan lainnya memiliki tradisinya masing-masing. Tetapi kepribadian tiap orang didalamnya haruslah sama sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Bukan tentang cara berdoa, bukan tentang cara menyembah, tentang cara menghormati atau cara menyapa, tetapi tentang perubahan hati kita. Allah melihat hati manusia, bukan tariannya, bukan tulutnya, bukan bibirnya. Kekristenan adalah tentang kepribadian Kristus, bukan tentang tradisi Yahudi atau Yunani atau Romawi.

Agama membawa nilai budaya bangsa dimana agama itu lahir atau menjadi besar. Agama apa saja dimuka bumi ini, sebab agama itu adalah produk budaya. Kita tidak diselamatkan oleh budaya sebuah bangsa, tetapi oleh Kristus.

Taunya dari Roh Kudus.

Anda gak akan bisa mengerti “kekristenan bukan agama”, kalau masih beranggapan agama dapat membuat manusia sampai kepada Tuhan.

Saya tebak, ini nanti ujung-ujungnya cuma maksa-maksa istilah lagi, seperti trit sebelah yang menghasilkan “beli sabun di warung itu artinya sedang berorganisasi”.

Padahal Gereja Perdana disebut Kristen, sayang Alkitab dibuang karena anti Agama, anti Katolik

Kepahitan apa neh, sampai-sampai organisasi dan agama pun menjadi trauma :mad0261:

Saya tebak juga, ini kan ujung-ujungnya tidak ada ayat “agama itu kekristenan” kan? :tongue:

nurut kk ku taph, apa ntu definisi daripada:

  1. thrēskeia
  2. eusebeia

In Acts 26:5, Paul uses the cognate noun thrēskeia for Judaism and declares that he was in a “sect” (Pharisaism) within Judaism.

The cognate thrēskeia also occurs twice in James 1:26b and 27a:
If anyone thinks he is religious and does not bridle his tongue but deceives his heart, this person’s religion is worthless.
Religion that is pure and undefiled before God, the Father, is this: to visit orphans and widows in their affliction, and to keep oneself unstained from the world.

Kekeristenan BUKAN agama ?

108 Still, the Christian faith is not a “religion of the book.” Christianity is the religion of the “Word” of God, a word which is “not a written and mute word, but the Word is incarnate and living”.73 If the Scriptures are not to remain a dead letter, Christ, the eternal Word of the living God, must, through the Holy Spirit, "open [our] minds to understand the Scriptures

http://www.vatican.va/archive/ccc_css/archive/catechism/p1s1c2a3.htm

wa tertarik dengan apa yang wa quotekan diatas.
boleh terangkan?
Maaf sebab ilmu pengetahuan wa tak lah banyak mana…
harap tak menyusahkan iah kk ku…
:angel: