Apakah "hari Tuhan" adalah hari pertama dalam satu pekan?

Agak sulit memang memberikan penjelasan gramatik kepada seorang yang sama-sekali tidak ada dasar pemahaman naskah Yunani (dan yg tidak mau mempelajarinya).

Tapi akan saya coba jelaskan: kata “prôtê” ini sepadan dengan kata “mia”, Alkitab terjemahan Inggris menggunakan terjemahan yang sama untuk kedua kata Yunani tsb, yaitu “the first”.

Tidak cukup tahu istilah baku-nya. Kita pun perlu memahami suatu naskah sebagai sastra, kadang menggunakan istilah yang lazim, kadang juga menggunakan istilah2 sinonimnya. Seorang pembaca literatur Yunani, dapat dengan mudah memahami maksud dari kombinasi kata-kata ini.

Kajian kata “prôtê” dalam kitab Markus dengan kata “mia”, sinonim :

* Markus 16:2
LAI TB, Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.
Terdjemahan Lama, Maka waktu dini hari, pada hari jang pertama didalam minggu itu, datanglah mereka itu kekubur, ketika matahari terbit.
KJV, And very early in the morning the first day of the week, they came unto the sepulchre at the rising of the sun.
The Orthodox Jewish Brit Chadasha, And at Shachrit on Yom Rishon, the first day of the shavu’a, the shemesh just coming up, they come to the kever.
TR, και λιαν πρωι της μιας σαββατων ερχονται επι το μνημειον ανατειλαντος του ηλιου
Translit. interlinear, kai {dan} lian {sangat} prôi {pagi} tês mias {pertama, adjective - genitive singular feminine} sabbatôn {pekan/ week} erkhontai {mereka datang} epi {ke} to mnêmeion {kuburan} anateilantos {terbit} tou hêliou {matahari}

* Matius 28:1
28:1 LAI TB, Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu (pekan) itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.
KJV, In the end of the sabbath, as it began to dawn toward the first day of the week, came Mary Magdalene and the other Mary to see the sepulchre.
TR, οψε δε σαββατων τη επιφωσκουση εις μιαν σαββατων ηλθεν μαρια η μαγδαληνη και η αλλη μαρια θεωρησαι τον ταφον
Translit, opse {setelah} de {adapun} sabbatôn {Sabat/ pekan sabat [noun - genitive plural neuter]} tê {pada waktu} epiphôskousê {mulai menjadi terang} eis {pada} mian {(hari) yang pertama (hari Minggu)} sabbatôn {Sabat/ pekan sabat [noun - genitive plural neuter]} êlthen {pergi} maria {maria} hê magdalênê {dari magdala} kai {dan} hê allê {yang lain} maria {maria} theôrêsai {menengok} ton taphon {kubur itu}

Note:
Frase “Setelah hari Sabat lewat”, yaitu setelah pekan sabat itu lewat, mereka masuk kepada hari pertama dalam suatu pekan (week), yaitu hari minggu (Yunani : mia, harfiah: kesatu/ the first).

pada ayat ke -9, Makus menggunakan istilah yang sinonim dengan “mia”, yaitu “prôtê”:

* Markus 16:9
LAI TB, Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
KJV, Now when Jesus was risen early the first day of the week, he appeared first to Mary Magdalene, out of whom he had cast seven devils.
Wescott & Hort, αναστας δε πρωι πρωτη σαββατου εφανη πρωτον μαρια τη μαγδαληνη παρ ης εκβεβληκει επτα δαιμονια
Translit interlinear, anastas {setelah Ia (Yesus) bangkit} de {adapun} prôi {pagi-pagi} prôtê {pada (hari) yang pertama, adjective - dative singular feminine} sabbatou {pekan (itu)} ephanê {Ia menampakkan diri} prôton {pertama} maria {(kepada) maria} tê magdalênê {dari magdala/ magdalena} par {dari} hês {-nya} ekbeblêkei {Ia telah mengusir} hepta {tujuh} daimonia {roh-roh jahat}

Keterangan waktu dalam Markus 16 ayat 9 ini merujuk peristiwa dalam kisah yang dicatat dalam Markus 16:1-8, satu rujukan mengenai hari dimana Tuhan Yesus Kristus bangkit.

“Memahami maksud dari kata-kata itu”? Tentu saya mengerti maskud dari ayat/kata-kata itu. Tetapi yang saya tolak adalah pernyataan bro bahwa prote dan mia adalah NAMA hari (bagi orang berbahasa Yunani kala itu).

sorry to say….

ya, ini jadi lucu aja
Ada seorang yang menolak suatu istilah dimana dia sendiri tidak punya dasar literatur tentang istilah itu.

Lihat penjelasan saya tentang hari pertama (MIA), bandingkan dengan bahasa Ibrani-nya:

bersambung…

Anda lihat sendiri bahwa nama-nama hari dalam bahasa Ibrani dan Yunani adalah ditandai dengan nomer.

SUNDAY/ MINGGU:

YOM EKHAD = harfiah hari pertama
MIA HEMERA = harfiah hari pertama

Sinonim dengan:
YOM RISHON = harfiah kepala hari
“PROTE” HEMERA = harfiah hari yang mula2

dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hari “AHAD” yang merupakan kata serapan Arab (bandingkan kata Ibrani 'EKHAD)

MONDAY/ SENIN:

YOM SYENI = harfiah hari kedua
DEUTERA HEMERA = harfiah hari kedua

dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hari “SENIN” kata serapan Arab (bandingkan kata Ibrani SYENI)

dan seterusnya………
Eh, ternyata bahasa Indonesia juga menamakan hari berdasarkan nomor-nomor.

Apakah dengan demikian Anda juga mengatakan orang Indonesia tidak mengenal “nama hari”

Karena sistem Ibrani menghitung awal hari saat matahari terbenam, maka hari pertama suatu pekan dimulai saat matahari terbenam pada hari ketujuh (hari Sabtu/Sabat). Terbenamnya matahari pada hari ketujuh menandakan berakhirnya hari Sabat, sekaligus memasuki pekan yang baru. Jadi, hari pertama menurut sistem Ibrani dimulai dari Sabtu malam, atau istilah kita sekarang “malam Minggu”.

Ada yang menarik, saat berakhirnya hari Sabat dan memasuki pekan yang baru, orang Yahudi melakukan upacara Havdalah (tidak ada dalam Taurat, tapi berdasarkan tradisi). Ada kemungkinan cerita dalam Kisah 20:7 itu mengindikasikan orang Kristen saat itu mengadopsi tradisi Yahudi tersebut. Dan lama2 tradisi memasuki pekan yang baru itu dikaitkan dengan peristiwa kebangkitan Kristus, sehingga lama2 menjadi tradisi untuk beribadah pada hari pertama setiap pekan (hari Minggu).

Nama “MINGGU” itu justru terjadi karena istilah yang lahir dari Wahyu 1:10 yang Anda tolak itu.

“Hari Minggu” adalah sinonim dengan “KURIAKE HEMERA”, “Hari Tuhan” :slight_smile:

Dalam padanannya ke bahasa kita (Indonesia), yom ekhad (hari pertama) bukan NAMA hari, melainkan TANGGAL.

Masalahnya, “hari Tuhan” belum terbukti sebagai “hari pertama suatu minggu”.

Hari Minggu memang diambil dari “hari Tuhan” (kuriake hemera). Tetapi apakah memang “hari Tuhan” yang Yohanes maksudkan sama dengan “hari Minggu” seperti sekarang? Itu yang tidak terbukti.

Anda-lah yang menolak sekian banyak Bible Commentary, yang ditulis oleh para ahli kitab tentang makna “hari Tuhan” dalam Wahyu 1:10 sebagai “the first day of the week”.
Anda juga menolak perujukan grammar Yunani dimana Rasul Yohanes menulis Otograf-nya, meskipun Anda tidak paham dan tidak punya dasar literatur Yunani sama sekali.

Justru dari sanggahan2 Anda ini hanya berdasarkan pandangan pribadi tanpa dasar literatur, dan pengetahuan Kitab.
Biarlah nanti para pembaca lainnya yang menilai.

Pahami ini:
“hari ke-satu” berbeda dengan “tanggal ke-satu”

hari Ahad, “hari ke-satu” berbeda dengan “tanggal satu”

Bagi pembaca naskah bahasa Yunani dan Ibrani sendiri juga akan memahami yang mana “hari” (nama-nama hari dalam pekan) yang mana “tanggal” dalam bulan.

μία ημερα tentu berbeda dengan μία ημερομηνία

demikian pula יום אחד tentu berbeda dengan מועד אחד

Tidak disangsikan lagi kalau Yesus memang bangkit pada hari pertama dalam pekan, hari yang dalam bahasa Indonesia/Melayu disebut hari Ahad (adopsi bahasa Arab) atau hari Minggu (adopsi bahasa Portugis).

Selama berabad2 hari pertama itu disebut “hari Tuhan” dalam berbagai bahasa yang sebagian besar pemakainya beragama Kristen (bahasa Yunani, Latin, dsb). Yang jadi pertanyaan, sejak kapan hari pertama disebut “hari Tuhan”? Apakah sejak jaman para rasul? Kalau memang sejak jaman para rasul memang logis kalau “hari Tuhan” yang dituliskan Yohanes dalam kitab Wahyu adalah hari Minggu yang kita kenal sekarang. Tapi apakah memang demikian? Ada teori yang mengatakan justru hari pertama dinamakan “hari Tuhan” setelah muncul kitab Wahyu.

Jadi untuk point dari KRR tentang The first day of the week is SUNDAY … everybody aggree, right ?!

Selama berabad2 hari pertama itu disebut "hari Tuhan" dalam berbagai bahasa yang sebagian besar pemakainya beragama Kristen (bahasa Yunani, Latin, dsb). Yang jadi pertanyaan, sejak kapan hari pertama disebut "hari Tuhan"? Apakah sejak jaman para rasul? Kalau memang sejak jaman para rasul[u][b] memang logis [/b][/u]kalau "hari Tuhan" yang dituliskan Yohanes dalam kitab Wahyu adalah hari Minggu yang kita kenal sekarang.
Jadi dengan dasar Ilmu LOGISology ........ "hari Tuhan" yang dituliskan Yohanes dalam kitab Wahyu adalah hari Minggu yang kita kenal sekarang ........ ya UDEH biar gampangnya d/p berantem terus itu kata "Hari Tuhan" dalam Wahyu 1: 10 DIGANTI dengan Hari Minggu ....... toh juga gak mengurangi atau merubah MAKNA kalimat2 didalamnya ....... Coba kita perhatikan ..... Wahyu 1:10 LAI TB, Pada [b]hari Tuhan[/b] aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, MENJADI ..... Wahyu 1:10 LAI TB, Pada [b]hari Minggu[/b] aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,

Jadi kalau gak merubah ARTI dan MAKNA ayat 10 diatas … lalu ngapain diributin Pepesan Kosong tsb ?

Lain halnya kalau Hari Tuhan dalam 2 Tes 2 diubah menjadi Hari Minggu … gue’ JITAK Kepala yg Berani2 merubahnya …

1 Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, 2 supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba.

WARNING ! … jangan coba2 diganti menjadi …

1 Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, 2 supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Minggu telah tiba.

Tapi apakah memang demikian? Ada [u][b]teori [/b][/u]yang mengatakan justru hari pertama dinamakan "hari Tuhan" setelah muncul kitab Wahyu.
Kalau yg dimaksud dengan [b]Hari Tuhan [/b]dalam Wahyu 1:10 terus dianggap .... dianggap Hari Kita Beribadah ..... karena Hari Minggu kita umumnya TIDAK BEKERJA alias Istirahat lalu ngikutin [u][b]TEORIlogy[/b][/u] diatas ..... ya SAH2 saja deh karena penekanannya adalah Hari dimana secara umum TIDAK BEKERJA maka dipakai untuk kita BERIBADAH ... ya Wis ..... Damai dibumi, jangan pada cek cok ciptakan SIKON cok cek ........ di COCOK in sambil kita CEK ...... yang mengatakan justru hari pertama dinamakan "hari Tuhan" setelah muncul kitab Wahyu..... ya Wis turuti saja karena ada Kesamaan "TIDAK BEKERJA" alias ISTIRAHAT, FOKUS pada Menyembah Tuhan sebagai Pelaksanaan Hari Sabatnya Umat Israel .....

Kejadian 2 :
2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 3 Lalu Allah memberkati dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. …

Betul :afro:

Bagi pembaca literatur Yunani, akan mudah membedakan pengertian “kuriakê hêmera” (Wahyu 1:10) dengan “hê hêmera tou kuriou” (2 Tesalonika 2:2), sebab susunan tata bahasanya jelas-jelas berbeda.
Jadi dia tidak akan mengganti istilah “hari Tuhan” dalam 2 Tesalonika 2:2 ini menjadi hari Minggu:

* 2 Tesalonika 2:2
LAI TB, supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba.
NIV, not to become easily unsettled or alarmed by the teaching allegedly from us—whether by a prophecy or by word of mouth or by letter—asserting that the day of the Lord has already come.
UBS-Greek NT (Nestle-Aland), εις το μη ταχεως σαλευθηναι υμας απο του νοος μηδε θροεισθαι μητε δια πνευματος μητε δια λογου μητε δι επιστολης ως δι ημων ως οτι ενεστηκεν η ημερα του κυριου
Translit, eis to mê takheôs saleuthênai humas apo tou noos mêde throeisthai mête dia pneumatos mête dia logou mête di epistolês hôs di hêmôn hôs hoti enestêken (article - nominative singular feminine) hêmera (noun - dative singular feminine) tou (definite article - genitive singular masculine) kuriou (noun - genitive singular masculine)

Perhatikan Frasa: hê(♀) hêmera (♀) tou (♂) kuriou (♂) → bukan nama hari di suatu pekan. Istilah “hari Tuhan” ini berorientasi eskatologis.

Bandingkan dengan :

* Wahyu 1:10
LAI TB, Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,
KJV, I was in the Spirit on the Lord’s day, and heard behind me a great voice, as of a trumpet,
TR, εγενομην εν πνευματι εν τη κυριακη ημερα και ηκουσα οπισω μου φωνην μεγαλην ως σαλπιγγος
Translit, TR, egenomên en pneumati en tê (definite article - dative singular feminine) kuriakê (adjective - dative singular feminine) hêmera (noun - dative singular feminine) {hari milik Tuhan} kai êkousa opisô mou phônên megalên hôs salpiggos

Perhatikan frasa “tê (♀) kuriakê (♀) hêmera (♀)”, kata sandang (artikel) dalam bentuk feminine, adjective nya juga dalam bentuk feminine, demikian juga noun-nya dalam bentuk feminine. Tata bahasa seperti ini, merujuk kepada nama hari di dalam suatu pekan yaitu hari Minggu.

bersambung…

Robertson di atas membandingkan istilah “hari Tuhan” dalam Wahyu 1:10 dan 2 Petrus 3:10 sebagai suatu istilah yang berbeda konteks, yang satu adalah “hari Minggu” dan yang satunya lagi adalah “judgement day” :

* 2 Petrus 3:10
LAI TB, Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.
KJV, But the day of the Lord will come as a thief in the night; in the which the heavens shall pass away with a great noise, and the elements shall melt with fervent heat, the earth also and the works that are therein shall be burned up.
TR, ηξει δε η ημερα κυριου ως κλεπτης εν νυκτι εν η οι ουρανοι ροιζηδον παρελευσονται στοιχεια δε καυσουμενα λυθησονται και γη και τα εν αυτη εργα κατακαησεται
Translit, êxei de (article - nominative singular feminine) hêmera (noun - dative singular feminine) kuriou (noun - genitive singular masculine) hôs kleptês en nukti en hê hoi ouranoi roizêdon pareleusontai stoikheia de kausoumena luthêsontai kai gê kai ta en autê erga katakaêsetai

Perhatikan Frasa: hê(♀) hêmera (♀) tou (♂) kuriou (♂) → bukan nama hari di suatu pekan.
Istilah “hari Tuhan” dalam 2 Petrus 3:10 berorientasi eskatologis “judgement day” dan istilah “hari Tuhan” dalam ayat ini tidak dapat dimaknakan “hari Minggu”

Demiianlah Alkitab dalam naskah bahasa YUNANI, membedakan istilah “HARI TUHAN” (dalam artian eskatologis, yang bukan sebagai nama hari suatu pekan), kita lihat bukti ayat yang lainnya:

* 1 Korintus 1:8
LAI TB, Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.
KJV, Who shall also confirm you unto the end, that ye may be blameless in the day of our Lord Jesus Christ.
TR, ος και βεβαιωσει υμας εως τελους ανεγκλητους εν τη ημερα του κυριου ημων ιησου χριστου
Translit, hos kai bebaiôsei humas heôs telous anegklêtous en (definite article - dative singular feminine) hêmera (noun - dative singular feminine) tou (definite article - genitive singular masculine) kuriou (noun - genitive singular masculine) hêmôn iêsou khristou

perhatikan Frasa hêmera (♀) tou (♂) kuriou (♂) → Adalah “hari Tuhan” dalam orientasi eskatologis, bukan nama hari di suatu pekan.

bersambung…

Untuk penegasannya kita lihat lagi bukti Septuaginta, naskah yang sangat kuno, bahkan sebelum Masehi, dapat kita lihat di:

* Amos 5:20
LAI TB, Bukankah hari TUHAN itu kegelapan dan bukan terang, kelam kabut dan tidak bercahaya?
KJV, Shall not the day of the LORD be darkness, and not light? even very dark, and no brightness in it?
Hebrew,
הֲלֹא־חֹשֶׁךְ יֹום יְהוָה וְלֹא־אֹור וְאָפֵל וְלֹא־נֹגַהּ לֹו׃
Translit, HALO’-KHOSYEKH YOM YEHOVAH (dibaca: 'Adonay) VELO-'OR VE’AFEL VELO-NOGAH LO
LXX, ουχι σκοτος η ημερα του κυριου και ου φως και γνοφος ουκ εχων φεγγος αυτη
Translit, oukhi skotos (article - nominative singular feminine) hêmera (noun - dative singular feminine) tou (definite article - genitive singular masculine) kuriou (noun - genitive singular masculine) kai hou phôs kai gnophos ekhôn pheggos autê

Perhatikan Frasa: hê(♀) hêmera (♀) tou (♂) kuriou (♂) → Adalah “hari Tuhan” dalam orientasi eskatologis, bukan nama hari di suatu pekan.

Kalau memang Rasul Yohanes memaksudkan “hari Tuhan” dalam artian eskatologis, sesuai grammar Yunani, tentu dia akan menuliskan kata kurios/ kuriou/ kuriakos yg dalam bentuk masculine, sebagaimana penulisan dalam 2 Petrus 3:10[, 1 Korintus 1:8 atau Amos 5:20 (septuaginta) menulis dalam bentuk masculine.

Namun nyatanya tidak, Rasul Yohanes menggunakan kata κύριος - kurios dalam bentuk feminine, menunjukkan bahwa ia memaksudkan “kuriakê (♀) hêmera (♀)” itu nama hari dalam suatu pekan, istilah yang sinonim dengan “mia (♀) hêmera (♀)”, hari Minggu. Kajian ini sesuai dengan commentary dari Robertson dan beberapa commentary lain yang sudah saya kutip di thread ini.

Reff: http://www.sarapanpagi.org/hari-tuhan-hari-minggu-kuriake-hemera-vt564.html#p1116

Hari Minggu/Ahad (hari pertama dalam pekan) tidak pernah disamakan dengan hari Sabat, yakni hari ketujuh dalam pekan (hari Sabtu). Hari Minggu merupakan hari ibadah bagi sebagian besar umat Kristen, namun bukan hari Sabat seperti yang difirmankan Tuhan kepada bangsa Israel.

Pertama, harus diingat hari Sabat bukan dimaksudkan sebagai hari peribadatan.

Keluaran 20:8-11
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Jadi fokus hari Sabat adalah berhenti dari segala pekerjaan yang biasa dilakukan 6 hari lainnya. Seperti Tuhan menciptakan langit dan bumi selama 6 hari dan berhenti pada hari ketujuh, demikian juga bangsa Israel diperintahkan bekerja 6 hari (bekerja disejajarkan dengan karya penciptaan Tuhan) lalu pada hari ketujuh mereka berhenti dari pekerjaannya. Maksudnya supaya bangsa itu menjadi gambaran Tuhan di muka bumi.

Tampak dalam ayat2 di atas bahwa menguduskan hari Sabat tidak identik dengan melakukan peribadatan, karena yang diperintahkan adalah berhenti bekerja baik orang Israel asli maupun pendatang di negeri itu, bahkan hewan pun ikut “menguduskan” hari Sabat. Bangsa Israel awalnya tidak mengenal ibadah dengan cara berkumpul bersama dalam suatu gedung sekali seminggu. Baru setelah pulang dari pembuangan Babel mereka melakukan ibadah bersama dengan cara berkumpul di daerah masing2 untuk berdoa dan mendengar pembacaan Taurat pada hari Sabat. Rumah yang khusus dipakai untuk beribadah seperti itu kemudian disebut bet knesset (rumah berkumpul) dalam bahasa Ibrani atau sinagoga dalam bahasa Yunani.

Hari Sabat tidak pernah diganti atau digeser harinya menjadi hari Minggu atau hari lainnya. Hari Sabat dimulai saat mata hari terbenam pada hari keenam (Jumat petang) sampai matahari terbenam pada hari ketujuh (Sabtu petang). Jadi setelah matahari terbenam pada hari Sabat, maka hari telah berganti menjadi hari pertama di minggu/pekan yang baru. Ini merupakan sistem perhitungan hari secara Ibrani, yang mengawali hari pada saat matahari terbenam, bukan seperti sistem internasional moderen yang mengawalinya pada tengah malam (pukul 00.00).

Pada Perjanjian Baru hari Sabat masih dipelihara orang Yahudi, bahkan Yesus dan rasul Paulus pun dicatat beberapa kali pergi ke rumah ibadah (sinagoga) pada hari tersebut. Akan tetapi gereja tidak diharuskan memelihara hari Sabat, baik pada hari Sabtu, Minggu, atau hari manapun. Kisah 20:7 sering dipakai sebagai ayat yang mendasari argumen untuk beribadah pada hari pertama (hari Minggu). Terlepas setuju atau tidaknya, yang pasti tidak ada implikasi dari ayat tersebut bahwa orang percaya memelihara hari Sabat pada hari pertama.

Lha kalau gak KERJA di Hari Sabat terus ngapain Bro ? Duduk Bengong gitu kale’ ya ? Ya gunakanlah untuk beribadat makanya di Kitab kejadian udeh JELAS2 Tuhan MENGUDUSKAN Hari Sabat karena ITU adalah HARI dimana Umat Pilihan itu untuk BERIBADAT , bukannya dilarikan ke …supaya bangsa itu menjadi gambaran Tuhan di muka bumi
Gambaran Tuhan itu bukan pada Point di hari ke 7 TIDAK BEKERJA melainkan ada Karya Mencipta, Karya Free Will, Karya Kasih, Karya Memelihara, Karya Mengatur … karena Dia itu Maha Pencipta, Maha Pengasih, Maha Pemelihara, Maha Pengatur, dll

Tampak dalam ayat2 di atas bahwa menguduskan hari Sabat tidak identik dengan melakukan peribadatan, karena yang diperintahkan adalah berhenti bekerja baik orang Israel asli maupun pendatang di negeri itu, bahkan hewan pun ikut "menguduskan" hari Sabat. Bangsa Israel awalnya tidak mengenal ibadah dengan cara berkumpul bersama dalam suatu gedung sekali seminggu. Baru setelah pulang dari pembuangan Babel mereka melakukan ibadah bersama dengan cara berkumpul di daerah masing2 untuk berdoa dan [b]mendengar pembacaan Taurat pada hari Sabat[/b]. Rumah yang khusus dipakai untuk beribadah seperti itu kemudian disebut bet knesset (rumah berkumpul) dalam bahasa Ibrani atau sinagoga dalam bahasa Yunani.
Kalau Hewan aja MENGUDUSKAN Hari Sabat apalagi manusia .... terus emangnya NGAPAIN itu para Manusia dalam melakukan Menguduskan hari Sabat kalau bukannya BERIBADAT kepada Tuhan ? Si Bro mah ngomongnya Bolak Balik kek Bis ngangkutin penumpang aja deh !
Hari Sabat tidak pernah diganti atau digeser harinya menjadi hari Minggu atau hari lainnya. Hari Sabat dimulai saat mata hari terbenam pada hari keenam (Jumat petang) sampai matahari terbenam pada hari ketujuh (Sabtu petang). Jadi setelah matahari terbenam pada hari Sabat, maka hari telah berganti menjadi hari pertama di minggu/pekan yang baru. Ini merupakan sistem perhitungan hari secara Ibrani, yang mengawali hari pada saat matahari terbenam, bukan seperti sistem internasional moderen yang mengawalinya pada tengah malam (pukul 00.00).

Pada Perjanjian Baru hari Sabat masih dipelihara orang Yahudi, bahkan Yesus dan rasul Paulus pun dicatat beberapa kali pergi ke rumah ibadah (sinagoga) pada hari tersebut. Akan tetapi gereja tidak diharuskan memelihara hari Sabat, baik pada hari Sabtu, Minggu, atau hari manapun. Kisah 20:7 sering dipakai sebagai ayat yang mendasari argumen untuk beribadah pada hari pertama (hari Minggu). Terlepas setuju atau tidaknya, yang pasti tidak ada implikasi dari ayat tersebut bahwa orang percaya memelihara hari Sabat pada hari pertama.

Mau diganti kek mau Tidak kek … yg Penting adalah Pilihlah Hari untuk Beribadat itu adalah Hari dimana kita tidak bekerja ! :mad0261: :coolsmiley: :happy0062:

Di ayat mana dikatakan hari Sabat dimaksudkan sebagai hari peribadatan? Saya tidak mengatakan beribadah pada hai Sabat salah, tapi bukan itu fokus utamanya.

Apakah hari untuk kita beribadah harus hari saat kita tidak bekerja sejak matahari terbenam sampai matahari terbenam lagi (kira-kira 1 x 24 jam)?
Kalau yang dimaksud beribadah adalah kebaktian dalam gereja yang pokok acaranya: menyanyikan pujian, berdoa, mendengarkan pengajaran Firman (khotbah), dan memberi persembahan, apakah perlu satu hari itu kita tidak bekerja?

Konsep hari Sabat adalah berhenti dari segala pekerjaan selama sehari penuh. Pekerjaan di sini, dikaitkan dengan kisah penciptaan langit dan bumi oleh Tuhan, adalah pekerjaan yang bersifat “menciptakan” atau “menjadikan” sesuatu, khususnya yang berkaitan pemenuhan kebutuhan hidup (mencari nafkah), dan juga memberi kesempatan manusia, bahkan hewan juga, untuk beristirahat setelah lelah bekerja 6 hari lamanya.

Menurut saya, waktu untuk beribadah tidak perlu hari perhentian penuh, yang penting kita sempat bersekutu dengan saudara seiman untuk memuji Tuhan dan mendengar pengajaran Firman-Nya. Perlu diingat bahwa jemaat mula2 bahkan “dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah.” (Kisah 2:46)
Dikatakan “tiap-tiap hari”, jadi tidak sekali seminggu kalau hari Sabat saja. Tentu saja tidak mungkin tiap-tiap hari mereka tidak bekerja, hanya beribadah saja. Dan tidak juga berarti kita sekarang harus mengadakan kebaktian tiap hari, karena kebiasaan hidup jemaat mula-mula ini bukan suatu dogma.

Kesimpulannya, dalam Alkitab waktu untuk ibadah bersama itu tidak ditentukan harinya atau jamnya atau frekuensinya (tiap hari, seminggu sekali, dua kali, atau sebulan sekali, atau bahkan setahun sekali). Dan juga tidak dikatakan bahwa hari saat ibadah umum itu dilakukan harus hari perhentian (seperti Sabat) ataupun hari libur, walaupun memang lebih nyaman kalau dilakukan pada hari libur/saat tidak bekerja. Bisa saja kita, misalnya, hari Minggu pagi beribadah lalu siangnya membuka toko/warung/kerja shift siang di restoran/hotel/rumah sakit. Tidak ada yang salah dengan bekerja pada hari Minggu, yang penting tidak membuat kita menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kita (Ibrani 10:25).

The Lord’s Day and the Day of the Lord.
Does “the Lord’s day” (Rev. 1: 10) refer to the prophetic
“Day of the Lord”, or to the “First day of the week”?

This query concerns the interpretation that Wetstein, Dr. Bullinger, Dr. Maitland,
Dr. Todd and others have put upon Rev. 1: 10, making “the Lord’s Day” the prophetic
“Day of the Lord”, and containing no reference to “the first day of the week”. It is
admitted by all, that there is no Scripture which says “The Lord’s day is the first day of
the week”, or that teaches:

“Seeing that the Jewish Sabbath has no place in Christian worship, the first day of the
week has taken its place and this day is called The Lord’s Day.”

The only authority for calling the first day of the week “The Lord’s day” is that of the
early Fathers, but there is much in the Fathers that is evidently tradition, and if not
unscriptural, is extra or non-scriptural; much that those who believe that the Lord’s day
means Sunday, cannot possibly accept as truth, and so we are forced to consider
Rev. 1: 10 on its own merits.

First of all let us examine the phrase “The Lord’s day”, and see whether there is any
difference between that expression and “the day of the Lord”. In English, there is no
essential difference. If “a wooden house” be assessed for value at a certain figure, it
would be a waste of time lodging an appeal because one chose to describe it as “a house
of wood”. The term “Lord’s day” and “Day of the Lord” are interchangeable.

In I Cor. 10: and 11: we read “The cup of the Lord”, “the Lord’s table”, “the Lord’s
death” and “the body and blood of the Lord”. These all translate one and the same Greek
grammatical construction, and as we have said, no one would dream of maintaining that
there could be any difference. The R.V. alters “The Lord’s table” to “the table of the
Lord”, but retains “the Lord’s death”, showing that no essential difference can be held to
be intended in the two phrases.

This however is not a full statement of the matter. In the ordinary way, the expression
“The day of the Lord” would be in the Greek He hemera kuriou, but in Rev. 1: 10 the
original reads Te kuriake hemera “The day pertaining to the Lord”. Kuriake occurs in but
one other passage, namely, “The Lord’s supper” (I Cor. 11: 20). No one would
disassociate the supper that pertains to the Lord, from the table of the Lord, the death of
the Lord, or the cup of the Lord, and yet in the original the phrases vary as indicated
above. It is admitted by all, that there can be no essential difference in the two English
phrases “The Lord’s day” and “The day of the Lord”. In English it would be but a matter
of emphasizing in the former phrase “The Lord” and in the latter “the day”, whereas,
strangely enough, the emphasis would be entirely reversed in the original, “Lord’s” being
an adjective throws the emphasis forward on to the word “day”.

Bersambung…

In I Cor. 11: 20, however, we meet a new construction; “the Lord’s supper” is in the
Greek kuriakon deipnon instead of the more usual to deipnon tou kuriou, “the supper of
the Lord”. Now it is this unusual form that meets us in Rev. 1: 10. In I Thess. 5: 2 the
original reads He hemera kuriou, whereas in Rev. 1: 10 it reads Te kuriake hemera, “the
Lord’s day” instead of “the day of the Lord”. Kurios is a noun, kuriakon is an adjective,
and instead of putting the emphasis upon “Lord’s” as would be normal in English, the
emphasis is upon the word “day” in Rev. 1: 10.

Is there a scriptural reason for this peculiar mode? Are we to assume that John did it
for the sake of variety? Must we fall back upon the traditional Sunday? No, there is
waiting for us a complete parallel and perfect reason for this change. To illustrate and
explain this, we must ask the reader to turn aside to what may appear at first sight, an
irrelevant subject.

The word generally translated “man” in the N.T. is anthropos and when Paul wished
to speak of “the wisdom of men” (I Cor. 2: 5) or “the heart of man” (I Cor. 2: 9) or even
“every man’s conscience” (II Cor. 4: 2), or when Luke wished to speak of one of “the
days of the Son of Man” (Luke 17: 22), they adopted the same mode as in the phrase
“The day of the Lord”. We find however that whereas in I Cor. 2: 5, Paul speaks of “the
wisdom of men”, in I Cor. 2: 4, he speaks of “man’s wisdom”. Is there any one who
would seriously advocate the interpretation that Paul referred to two distinct things in
these adjacent verses? Nevertheless, in I Cor. 2: 4 he does not use the word anthropos,
but the word anthropinos, exactly equivalent with kuriakos in Rev. 1: 10. When we
come however to I Cor. 4: 3 we arrive at the true reason for the change in Rev. 1: 10:
“With me it is a very small thing that I should be judged of you, or of man’s judgment
. . . . . judge nothing before the time, until the Lord come” (I Cor. 4: 3-5).

It is obvious that “man’s judgment” is set over against “The Lord’s judgment”. Now,
the margin reveals that the original has no word in I Cor. 4: 3 for “judgment” but reads
“day” and refers the reader back to I Cor. 3: 13 “For the day shall declare it”. “Day”
therefore is used interchangeably with “judgment”. Further, the Greek reads anthropines
hemeras, exactly like the construction of Rev. 1: 10. Consequently, if the language of
I Cor. 4: 3 cannot be made to refer to any ordinary “day” but refers to “man’s day of
judging”, which is now, then in perfect correspondence, and as a complete answer to this,
Rev. 1: 10, together with I Cor. 4: 5 and I Cor. 3: 13, must refer to “The Lord’s day of
judging” which is yet future. If Rev. 1: 10 refers to the first day of the week, will any
reader tell us which of the “week days” I Cor. 4: 3 refers to?

This, however, is not all. There is further proof in the book of the Revelation that
Rev. 1: 10 refers to a future prophetic day. John said:

“I was in the spirit on the Lord’s day.”

We might as well be accurate and remove all additions to the original that warp our
judgment. There is no “the” before “spirit”, and “on” is the Greek en and should be
translated “in”

Bersambung…