Apakah hidup manusia sudah ditakdirkan Allah?

Hallo semuanya,

Krisis ekonomi sangat menyusahkan kita semua belakangan ini. Belum lagi bila kita memiliki cacat tubuh, seperti : Buta, Lumpuh, Bisu atau Tuli. Hidup jadi seperti petaka yang tak kunjung selesai.

Apakah hidup manusia sudah ditakdirkan Allah?

Mohon tanggapan dari rekan-rekan semua.

Salam,
Budi halasan :cheesy:

menurut anda, emang apa arti dari kata “takdir” fren… ? :mad0261:

Takdir

Definisi: Hasil akhir yang tidak dapat dihindari dan sering kali buruk. Fatalisme adalah kepercayaan bahwa semua kejadian sudah ditentukan oleh kehendak ilahi atau oleh suatu kekuatan yang lebih besar daripada manusia, bahwa setiap kejadian harus terjadi karena hal itu sudah ditentukan.

Salam,
Budi halasan - Petojo

jadi menurut anda, ditakdirkan itu sama dgn ditentukan… ? :mad0261:
apakah takdir dari Allah, bisa dirobah oleh free will manusia fren… :coolsmiley:
kok kaya masalah predestinasi dan free will ya… :char11:

saya pernah dengar kotbah dr seorg hamba TUHAN

ktnya klo org yg belum percaya YESUS masih terikat dg takdir dan nasib

tp org yg sdh percaya YESUS, jadi anak ALLAH shg bisa mematahkan kuasa takdir dan nasib

ngga ada namanya takdir,manusia diciptakan dikasih free will, namun semua yang terjadi dalam hidup manusia 100 tahun lagi 1000 tahun lagi Tuhan mengetahuinya karena Dia maha Tau,jadi karena Dia Maha Tau manusia salah kaprah dikiraNya Dia yang menetapkan takdir manusia…

coba tanya anak calvinis… :slight_smile:

itu semua kedaulatan Allah… hehehe…

Manusia ada yang ditentukan dan ada yang tidak ditentukan manusia memang punya freewill juga tapi freewill terbatas

Dear All,

Saya ada referensi bagus tentang hal ini.

Apakah Allah Telah Menentukan Nasib Kita?

”BEGITU banyak problem imajiner dapat dielakkan jika istilah takdir yang sering kali disalah mengerti tidak digunakan sama sekali.” Saudara mungkin ingin tahu apa maksud pernyataan itu, jika saudara telah menggunakan kata ”takdir” atau mendengar kata itu digunakan.

Menurut ensiklopedia Katolik Prancis baru-baru ini, Théo, kita sebaiknya tidak menggunakan kata ”takdir”. Buku yang lain menyatakan, ”Dewasa ini tampaknya takdir bukan lagi inti perdebatan teologis, bahkan bagi kebanyakan orang-orang Protestan.”

Meskipun demikian, masalah takdir telah meresahkan banyak orang sepanjang sejarah. Hal itu merupakan inti kontroversi yang menghasilkan Reformasi, dan bahkan di dalam Gereja Katolik, itu merupakan pokok perdebatan yang sengit selama berabad-abad. Walaupun sekarang tidak terlalu diperdebatkan, hal itu masih merupakan problem. Siapa yang tidak ingin mengetahui apakah nasibnya sudah ditetapkan sebelumnya?

Takdir—Arti Kata Itu
Apa arti kata ”takdir” menurut gereja-gereja? Dictionnaire de théologie catholique menganggapnya sebagai ”maksud ilahi untuk menuntun orang-orang tertentu, yang ditunjuk namanya, kepada kehidupan abadi”. Anggapan pada umumnya adalah bahwa orang-orang pilihan, ”yang secara pribadi ditunjuk namanya”, adalah orang-orang yang disebut oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Roma, sebagai berikut, ”Allah bekerja selama-lamanya bersama mereka yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai maksud-tujuan-Nya. Karena mereka yang telah Ia ketahui sebelumnya juga Ia takdirkan untuk disesuaikan dengan gambar Putra-Nya. . . . Dan orang-orang yang Ia takdirkan juga Ia panggil; dan orang-orang yang Ia panggil juga Ia benarkan; dan orang-orang yang Ia benarkan juga Ia muliakan.”—Roma 8:28-30, Revised Standard Version.

Bahkan sebelum kelahiran mereka, beberapa orang konon telah dipilih oleh Allah dengan tujuan untuk ambil bagian dalam kemuliaan Kristus di surga. Hal ini mengarah kepada pertanyaan yang telah lama diperdebatkan: Apakah Allah dengan sewenang-wenang memilih orang-orang yang ingin Ia selamatkan, atau apakah manusia memiliki kehendak bebas dan andil dalam memperoleh dan mempertahankan perkenan Allah?

Agustinus, Bapak Takdir
Meskipun Bapak-Bapak Gereja lain telah menulis sebelumnya tentang takdir, anggapan pada umumnya adalah bahwa, Agustinus (354-430 M) telah meletakkan dasar dari doktrin gereja Katolik dan Protestan. Menurut Agustinus, orang-orang yang adil-benar telah ditakdirkan lama berselang oleh Allah untuk menerima berkat-berkat kekal. Sebaliknya, orang-orang yang tidak adil-benar, meskipun tidak ditakdirkan oleh Allah menurut pengertian yang tepat dari kata itu, akan menerima hukuman yang setimpal bagi dosa-dosa mereka, yakni kutukan. Penjelasan Agustinus memberikan sedikit kelonggaran bagi kehendak bebas, dengan demikian membuka jalan bagi banyak perdebatan.
Para Penerus Agustinus
Perdebatan tentang takdir dan kehendak bebas terus muncul selama Abad Pertengahan, dan hal itu memuncak selama Reformasi. Luther percaya bahwa takdir masing-masing individu adalah pilihan bebas di pihak Allah, tanpa Ia melihat sebelumnya kebaikan atau perbuatan baik yang bakal dilakukan orang-orang pilihan. Calvin sampai pada kesimpulan yang lebih radikal dengan konsepnya tentang dua macam takdir: Beberapa orang ditakdirkan untuk keselamatan kekal, dan yang lain untuk penghukuman kekal. Akan tetapi, Calvin juga menganggap pilihan Allah sebagai sesuatu yang sewenang-wenang, bahkan tidak masuk akal.
Soal takdir dan masalah yang erat hubungannya yakni ”belas kasihan”—sebuah kata yang digunakan oleh gereja-gereja untuk menunjukkan tindakan Allah yang membuat Ia menyelamatkan dan menyatakan adil-benar—begitu menghangat sehingga pada tahun 1611 Kepausan Suci (Catholic Holy See) melarang diterbitkannya pokok apa pun berkenaan takdir tanpa persetujuannya. Dalam Gereja Katolik, ajaran Agustinus mendapat dukungan yang kuat dari pengikut Jansen yang berkebangsaan Prancis pada abad ke-17 dan ke-18. Mereka menyanjung bentuk kekristenan yang sangat keras serta elite dan bahkan memiliki pengikut di antara kaum bangsawan. Namun perdebatan tentang masalah tersebut tidak berkurang. Raja Louis XIV menyuruh dihancurkannya biara Port-Royal, tempat lahirnya pemikiran Jansen.

Dalam gereja-gereja Reformasi Protestan, perdebatan tersebut tak kunjung berakhir. Bersama dengan kelompok-kelompok agama lain, pengikut Remonstrant yang mengikuti Yakobus Arminius, percaya bahwa manusia memiliki andil demi keselamatannya sendiri. Sinode Dordrecht beraliran Protestan (1618-19) secara sementara menangani perdebatan tersebut sewaktu sinode ini menerima bentuk ortodoks beraliran Calvin yang keras. Menurut buku L’Aventure de la Réforme—Le monde de Jean Calvin (Usaha Reformasi—Dunia John Calvin), di Jerman pertengkaran berkenaan takdir dan kehendak bebas ini menghasilkan masa yang panjang berupa ”upaya-upaya pendamaian yang tidak berhasil, juga penganiayaan, pemenjaraan, dan pengasingan atas para teolog”.

Takdir atau Kehendak Bebas?
Sejak permulaan, dua gagasan yang sama sekali bertentangan ini, takdir dan kehendak bebas, membangkitkan banyak konflik yang sengit. Agustinus sendiri tidak dapat menjelaskan ketidakcocokan ini. Calvin juga melihat hal ini sebagai pernyataan dari kehendak yang unggul dari Allah dan karena itu tidak dapat dijelaskan.

Salam,
budi halasan - petojo

Dear All,

Ini tambahan referensi tentang Takdir. semoga bermanfaat.

Pandangan Alkitab
Apakah Kehidupan Anda Sudah Ditakdirkan?

Suatu pagi sewaktu berkendara ke tempat kerja, dua pria memutuskan untuk potong jalan melewati tempat salah seorang dari mereka pernah tinggal. Di tengah jalan, mereka melihat kobaran api di jendela sebuah rumah. Mereka menghentikan truk lalu menyelamatkan seorang ibu dan lima anak dengan tangga yang mereka bawa. ”Mungkin sudah takdir mereka selamat,” kata sebuah surat kabar yang melaporkan insiden tersebut.

BANYAK orang merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri mereka, entah baik atau buruk, telah ditentukan oleh suatu kekuatan yang lebih besar dari mereka. Misalnya, Reformis abad ke-16 John Calvin menulis, ”Kami mendefinisikan takdir sebagai rencana kekal Allah dalam menentukan apa yang Ia inginkan berkenaan dengan setiap manusia. Karena Ia tidak menciptakan mereka semua dalam kondisi yang sama, namun menetapkan sebelumnya bahwa beberapa orang akan mendapat kehidupan abadi dan yang lain-lain kutukan kekal.”

Benarkah Allah sudah menentukan apa tindakan dan nasib akhir kita? Apa yang Alkitab ajarkan?
Penalaran yang ”Logis” Mengenai Takdir

Sejumlah orang yang percaya takdir pada dasarnya bernalar begini: Allah mahatahu. Ia tahu segalanya, bahkan apa yang akan terjadi di masa depan. Ia tahu bagaimana setiap orang akan menggunakan kehidupannya, dan Ia sudah tahu persisnya saat dan cara kematian seseorang. Jadi, menurut penalaran mereka, ketika seseorang membuat keputusan, pilihannya mau tidak mau harus sesuai dengan apa yang Allah telah ramalkan dan tetapkan; jika tidak, itu berarti Allah tidak mahatahu. Apakah penalaran ini kedengaran masuk akal bagi Anda? Pertimbangkan apa konsekuensi logis dari hal ini.

Jika suatu kekuatan sudah menentukan masa depan Anda, maka percuma saja Anda berupaya mengurus diri. Tidak akan ada bedanya bagi kesehatan Anda atau anak-anak Anda kalau Anda merokok atau tidak. Tidak akan ada efeknya terhadap keselamatan bila Anda memakai sabuk pengaman sewaktu mengendarai mobil. Tetapi, ini adalah penalaran yang salah. Statistik memperlihatkan bahwa orang yang mengambil langkah pencegahan lebih jarang celaka. Kecerobohan dapat berakibat fatal.

Pertimbangkan alur penalaran lain. Jika Allah memilih untuk mengetahui segala hal sebelumnya, itu berarti Ia sudah tahu bahwa Adam dan Hawa bakal tidak menaati-Nya bahkan sebelum Ia menciptakan mereka. Tetapi, ketika Allah melarang Adam makan buah ”pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” dengan sanksi hukuman mati, apakah Allah sudah tahu bahwa Adam bakal memakannya? (Kejadian 2:16, 17) Ketika Allah memberi tahu pasangan pertama itu, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, tundukkanlah ikan-ikan di laut dan makhluk-makhluk terbang di langit dan segala makhluk hidup yang merayap di bumi,” apakah Ia sudah tahu bahwa prospek kehidupan mereka yang menakjubkan di firdaus telah ditetapkan untuk gagal? Tentu saja tidak.—Kejadian 1:28.

Logisnya, kalau Allah mengetahui sebelumnya semua keputusan, itu berarti Ia bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi—termasuk perang, ketidakadilan, dan penderitaan. Mungkinkah demikian? Jawaban yang jelas diberikan oleh apa yang Allah katakan tentang diri-Nya.
”Pilihlah”

Alkitab menyatakan bahwa, ”Allah adalah kasih” dan bahwa Ia ”pencinta keadilan”. Ia selalu mendesak umat-Nya, ”Bencilah apa yang buruk, dan kasihilah apa yang baik.” (1 Yohanes 4:8; Mazmur 37:28; Amos 5:15) Berulang kali, Ia menganjurkan hamba-hamba-Nya yang loyal untuk memilih haluan kebajikan. Misalnya, sewaktu mengadakan perjanjian dengan bangsa Israel kuno, Yehuwa berfirman kepada mereka melalui Musa, ”Aku menjadikan langit dan bumi sebagai saksi sehubungan dengan kamu pada hari ini, bahwa aku menaruh kehidupan dan kematian di hadapan engkau, berkat dan laknat; dan pilihlah kehidupan agar engkau tetap hidup, engkau dan keturunanmu.” (Ulangan 30:19) Apakah Allah telah menetapkan di muka pilihan yang akan mereka buat secara perorangan? Jelas tidak.

Yosua, pemimpin umat Allah pada zaman dahulu, mendesak orang sebangsanya, ”Pilihlah pada hari ini siapa yang akan kamu layani . . . Tetapi aku dan rumah tanggaku, kami akan melayani Yehuwa.” (Yosua 24:15) Demikian pula, Yeremia, nabi Allah, berkata, ”Taatilah perkataan Yehuwa, yaitu apa yang kusampaikan kepadamu, maka keadaanmu akan baik, dan jiwamu akan tetap hidup.” (Yeremia 38:20) Apakah Allah yang adil dan pengasih akan menganjurkan orang-orang untuk melakukan apa yang benar dengan harapan menerima upah jika Ia tahu bahwa mereka sudah ditentukan untuk gagal? Tidak. Sebab itu berarti anjuran tersebut tidak tulus.

Jadi, apabila hal yang baik atau buruk terjadi dalam kehidupan Anda, itu bukan karena kejadian-kejadian tersebut tak terelakkan. Sangat sering, ’kejadian yang tidak terduga’ terjadi semata-mata sebagai konsekuensi dari keputusan orang lain—entah bijaksana atau gegabah. (Pengkhotbah 9:11) Ya, masa depan Anda bukanlah suratan takdir, dan keputusan Anda sendirilah yang menentukan apa masa depan abadi Anda kelak.

BAGAIMANA MENURUT ANDA?
:black_small_square: Apakah Allah sebelumnya sudah memutuskan bahwa Adam dan Hawa akan berdosa?—Kejadian 1:28; 2:16, 17.
:black_small_square: Apa sifat-sifat Allah yang menepis ajaran takdir?—Mazmur 37:28; 1 Yohanes 4:8.
:black_small_square: Tanggung jawab apa yang Anda miliki?—Yosua 24:15.

Salam,
budi halasan - petojo