Apakah ibadah raya gereja harus pada hari Minggu?

Sebagian besar aliran kekristenan, baik Protestan, Katolik Roma, maupun Ortodoks, melaksanakan ibadah raya setiap hari Minggu. Di kalangan orang Batak malah ada istilah “marminggu” (harafiahnya: berminggu) yang berarti beribadah di gereja pada hari Minggu.

Saya bermaksud minta pendapat rekan2, terutama yang berasal dari aliran/gereja yang menyelenggarakan ibadah raya pada hari Minggu, apakah memang ibadah raya harus setiap hari Minggu? Bagaimana bila menghadapi situasi berkut:

  1. Di beberapa negara Arab, hari Minggu adalah hari kerja, sedangkan Jumat adalah hari libur. Beberapa di antara negara2 tersebut menjadikan Kamis sebagai hari libur (kerja Sabtu-Rabu) atau Sabtu sebagai hari libur (kerja Minggu-Kamis). Bolehkah gereja di negara tersebut menyelenggarakan ibadah raya mingguan bukan pada hari Minggu, misalnya setiap hari Jumat atau setiap hari Sabtu?
  2. Di pulau Bali pada hari Nyepi ada larangan bepergian/melakukan aktivitas di luar rumah, yang harus dipatuhi warga Bali, baik yang beragama Hindu, maupun penganut agama lainnya. Apabila hari Nyepi jatuh pada hari Minggu, bolehkah ibadah raya mingguan dipindah ke hari lain? Misalnya dimajukan ke hari Sabtu, atau diundur ke hari Senin?

“Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.” (Roma 14:5)

“Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.” (Kejadian 1:14-15)

Kalau benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, di mana penerang yang menunjukkan minggu-minggu? Tidak ada!

Bumi berputar dalam waktu 24 jam, jadi ada hari-hari,
Bulan mengelilingi bumi dalam waktu 30 hari, jadi ada bulan-bulan,
Bumi mengelilingi matahari dalam waktu satu tahun, jadi ada tahun-tahun,
Dari inlinasi bumi ada musim-musim.

Tetapi tidak ada penerang yang berputar dalam waktu 7 hari untuk menunjukkan minggu-minggu, maka tidak mungkin kita tahu hari ini hari apa dari posisi penerang (bumi, matahari atau planet dan bintang lainnya).

Kalau menurut PL sangat penting memperhatikan hari Sabbath, mengapa Allah tidak menciptakan penerang yang menunjukkannya?

Sebabnya untuk Allah satu hari sama dengan seribu tahun, artinya 7 hari dalam Kitab Kejadian 1 menunjukkan 7000 tahun sampai akhir zaman.

“Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.” (Yohanes 5:16-17)

Ayat Yohanes 5:16-17 menunjukkan bahwa Allah “masih sedang bekerja”, jadi Dia belum beristirahat, karena hari Sabbath-Nya belum datang. Dia akan beristiharat pada 1000 tahun terakhir, yang merupakan hari Sabbath yang benar.

Maka yang penting bukan hari 24 jam, tetapi hari 1000 tahun.

Jadi boleh beribadah di gereja kapan saja…

Boleh.

Diselengarakannya ibadah raya pada hari Minggu adalah merupakan tradisi sejak jemaat pertama dibawah bimbingan para rasul.
Jemaat Yahudi di Yerusalem pada jaman para rasul beribadah pada hari sabat, yaitu hari ke tujuh.
Tetapi orang-orang Kristen yang berada di luar tanah Palestina (seperti Yunani, Makedonia, dll) telah beribadah pada hari Minggu, menuruti kebijakan pemerintah Romawi.

Kisah Rasul 20 : 7, rasul Paulus berada di Troas, dan melakukan ibadah raya pada hari Minggu.
(7) Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

Tertulis : memecah-mecahkan roti = ibadah perjamuan kudus.

Atau surat Paulus kepada jemaat Korintus :
I Korintus 16 : 2
Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.

Pengumpulan dana untuk membantu jemaat Yerusalem dilakuan setiap hari pertama / Minggu (hari ibadah).

Ini dilakukan karena menyesuaikan dengan keadaan waktu itu.
Jika jaman ini tidak bisa beribadah pada hari Minggu, tentunya dapat dilakukan pada hari lainnya.

Setuju pendapat mas Wawan:

Ibadah hari Minggu adalah anamnesis (perigatan kepada Kristus), sebab Tuhan Yesus Kristus bangkit dari kematian pada hari Minggu. Kata “Minggu” adalah kata serapan dari bahasa Portugis artinya hari Tuhan.
Reff: http://www.sarapanpagi.org/hari-tuhan-hari-minggu-kuriake-hemera-vt564.html#p1116

Mayoritas negara2 di dunia, yang menggunakan kalendar Masehi (kalendar Gregorian), liburnya pada hari Minggu untuk satu pekan, ini dimulai dari tradisi Gereja yang mengadakan ibadah raya di hari Minggu, maka Minggu dijadikan hari libur untuk tiap-tiap pekan.

Kita dapat melihat disini bahwa dampak Gereja (Katolik) sangat kuat sekali, kalendarnya dipakai, ukuran waktu-nya dipakai, hari liburnya pun dipakai di hampir seluruh dunia, negara Komunis-pun liburnya hari Minggu.

Ibadah hari Minggu adalah tradisi, bukan ketentuan yg mengikat, boleh saja berganti di hari2 lain. Misalnya: Gereja Koptik di Mesir meniadakan ibadah hari Minggu, demi keamanan:

Karena ibadah di hari Minggu bukan hukum yg mengikat, pertimbangan2 demi kemaslahatan itu dimungkinkan saja.

Re: Apakah ibadah raya gereja harus pada hari Minggu ?

Memang hari Sabat di PL jatuh pada hari sabtu ( berdasarkan kalender tahun Masehi ) yang ditetapka oleh Allah di PL.

Oleh karena tujuan Allah di PL adalah simbolik kedatangan Allah menjadi manusia ( Yoh1:1-14 ), maka simbolikNya itu sudah nyata datang di PB menjadi hakekakNya terwujud…

Oleh karena kini kita ikuti pengikut Allah yang menjadi manusia ( Yoh1:1-14), dan IA bangkit pula pada hari Minggu ( kalender Masehi sekarang ) maka kita pengikutNya beribahNya sesuai pula hakekat kedatanganNya yang Nyata itu di hari minggu bersama kebangkitanNya, yakni hari Minggu.

Jadi bagi yang mau beribadah hari sabtu yg mungkin mau terikat Taurat ya, silahkan !

GJBU.

GJBU.

Saya tidak sedang membicarakan hari Sabat, tetapi bertanya, bila hari Minggu tidak memungkinkan dilakukan ibadah di gereja, bolehkah dipindah atau diganti ke hari lain. Saya ambil contoh, misalnya bila hari Nyepi jatuh pada hari Minggu, bolehkah gereja di Bali, di tengah2 masyarakat Hindu yang sedang tapa brata, memindahkan jadwal kebaktian ke hari Sabtu atau hari Senin. Apakah kalau pindah ke hari Sabtu lantas dikatakan mengikatkan diri kepada Taurat?