apakah kita pengemis?

shallom bro…

wih pencerahan yg luar biasa! !

mengenai “buah kasih”, memang adalah tugas kita2 sebagai anak Allah.

soal buah anggur, he he he…
semakin diolah, bisa memabukkan bro yaitu kita, semakin memperdalam iman, “buah kasih” akan semakin memabukkan dan lama2 semua orang di sekitar kita pasti juga akan merasakan “kasihNya”.

betul! doa Bapa Kami sebenarnya adalah doa yg sudah lengkap!

dan dalam setiap doa permohonan yg kita naikkan, apapun jawabanNya itu adalah MUTLAK KEHENDAK dan KUASA-NYA. dan itu pasti yg terbaik untuk kita.
sekalipun kadang jawaban doa kita lama atau bertolak belakang dengan keinginan kita.

Matius 7:9-11

“Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,
atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

thanks

Gbu bro…

Beliau berkata seperti itu karena memang aqidah dan ajaran yang diterimanya mengajarkan beliau sebagai hamba Allah.

Kalau sudah jadi anak Allah, ngapain lagi bersikap sebagai pengemis? memohon?
Jadilah anak sejati: CARI, MINTA, KETUK.

Kalau sampai anak saya di rumah meminta sesuatu kepada saya dengan sikap seperti hamba saya, saya betulkan sikap dia dengan disiplin keras, nggak sadar akan posisinya sebagai anak saya apa?

menurutku sihhh… kita ini bukan pengemis tapi anak2 ALLAH/BAPA… karena…

  1. pengemis meminta yang dia inginkan dan sesorang yang memberi akan memberi juga yang dia inginkan… sedangkan seorang anak meminta yang dia inginkan tapi BAPA akan memberi yang seorang anak butuhkan…

  2. hasil yang diproleh pengemis untuk kebutuhannya sehari2… sedangkan hasil yang diperoleh dari anak… untuk dibagikan juga pada orang2 yang membutuhkan… sebab BAPA menginginkan anak supaya seperti BAPAnya… yaitu KASIH/memberi…

shallom…

“Prayer is the raising of one’s mind and
heart to God or the requesting of good
things from God.” But when we pray,
do we speak from the height of our
pride and will, or “out of the depths”
of a humble and contrite heart? He
who humbles himself will be exalted;
humility is the foundation of prayer.
Only when we humbly acknowledge that
“we do not know how to pray as we
ought,” are we ready to receive freely
the gift of prayer. “Man is a beggar
before God.” (CCC, 2559)

KGK 2559

“Doa adalah pengangkatan
jiwa kepada Tuhan, atau satu
permohonan kepada Tuhan demi hal-
hal yang baik”. Dari mana kita
berbicara, kalau kita berdoa? Dari
ketinggian kesombongan dan kehendak
kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm
130:1) hati yang rendah dan penuh
sesal? Siapa yang merendahkan diri
akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14).
Kerendahan hati adalah dasar doa,
karena “kita tidak tahu bagaimana
sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26).
Supaya mendapat anugerah doa, kita
harus bersikap rendah hati: Di depan
Allah, manusia adalah seorang
pengemis.

Gbu all