apakah menghakimi dan menilai itu sama?

Aku ngerti klo kita ga boleh menghakimi org lain. Tapi bagaimana dengan menilai? Apa beda dan samanya?
aku klo lihat org suka mikir dia cantik, kaya, cakep, pinter, dll. Apakah ini tidak baik?

Pertanyaan lain: gimana sih cara ngontrol pikiran dan hati? Soalnya aku sebel karena pikiran dan hati ku suka ngaco

kalau dalam suatu case: “kamu menjadi hakim dalam suatu kondisi dan perkara” maka kamu pantas untuk menghakimi dengan syarat : “timbangan perkaramu harus adil”
ditinjau dulu, kredibilatas kamu… untuk menjadi hakim yang baik atau tidak…

hanya pabila anda tidak diperlukan menjadi hakim, jangan serta merta rajin menghakimi orang lain…

hal sperti inilah yang menjadi salah…

Kalau mau jadi hakim yang harus menilai mana yang baik dan mana yang benar, tetapi kalau menilai tidak harus jadi hakim.

Menilai itu tidak menjatuhkan hukuman terhadap seseorang, walaupun kita tau orang itu bersalah, sama seperti Yesus dan wanita samaria. Yesus menilai, Beliau tidak menghakimi. Yesus dan wanita yang berzinah, Yesus menilai, tidak menghakimi.

Mau lihat contoh menghakimi ya faris dan ahli taurat yang mau nimpukin wanita yang berzinah tadi… ;D

Ane coba tinjau dari tata katanya. Dalam bahasa indonesia, akhiran “i”, biasanya menyatakan pekerjaan yg berulang-ulang, dianggap masih berlangsung (jika tidak ada keterangan waktunya) atau berlangsung sangat lama.

Sudah kecenderungan manusia untuk menyalahkan (menghukum) seseorang (yg diwariskan oleh ayah adam dan bunda hawa) tanpa melihat duduk perkaranya dengan jelas (bisa karena status atau hubungan) dan akan terus menganggap orang itu bersalah padahal ada kemungkinan kalo yg bersangkutan memang tidak bersalah atau terbukti bersalah tetapi sudah mengaku salah dan sudah memperbaiki kesalahannya. (ribet ya…)

menurut saya sama.
jadi jika seseorang sudah memiliki kebenaran diri sendiri, artinya sebenarnya seseorang sudah punya suatu patokan pikiran pada suatu hal yang dia anggap itu benar.

yang terjadi sebenarnya adalah pikiran kita mulai terkotak-kotakkan pada suatu hal.

pernah di coba suatu penelitian pada anak kecil dan org dewasa,
jika anda tanya bentuk kotak yg tergambar dikertas pada anak kecil, maka anak itu bisa menjawab macam2, contoh dia akan jawab itu mobil, atau itu adalah televisi, bahkan mungkin dia bilang itu anjingnya.
tapi jika anda tanya pada sso yang sudah berusia 50 th, maka semua akan menjawab itu adalah kotak.

artinya pikiran sudah mulai terkotak2 dan terbentuk karena pengalaman hidup, sebenarnya kalo dilihat pikiran yg terkotakkan itu adalah pikiran yg hanya bisa tertuju 1 arah saja, dibandingkan dgn anak kecil, mereka bisa melihat dr segala arah.
selinier dengan kreativitas manusia, semakin kita terkotakkan semakin kita tidak kreatif sebenarnya.

alam nyata terjadi karena ranah dari alam roh,

Musa melihat segala design tabut, kemah suci dsb yg ditunjukkan di gunung Horeb oleh Tuhan (dalam alam roh) dan kemudian membuatnya sesuai yg Tuhan tunjukkan.
artinya segala hal terjadi di alam roh baru kemudian terjadi di alam nyata, alam nyata hanya turunan dari alam roh.

logika, penghakiman kita berdasarkan alam nyata, dibentuk dari semua kejadian hidup, media sekitar kita, dsb…tetapi ada yang lebih besar lagi yaitu alam roh, yang orang sebut rohani, hanya bisa dijangkau oleh iman.

lewat iman terjadi hal2 yang diluar jangkauan logika manusia, bahkan sistem yg orang bilang gagal, akan menjadi sukses bila ada sentuhan iman di dalamnya, yang mati dibangkitkan, yang buta dicelikkan, lumpuh berjalan, semua dari iman, bukan logika.

maka jangkauan iman jauhhhhhh melebihi jangkauan pikiran, logika / pikiran hanya sebagian kecil dari iman,maka Yesus berkata hendaklah engkau mempunyai iman seperti seorang anak kecil, itu nyata.

Makasih buat jawabannya

Menghakimi itu melihat benar atau salah, dengan tujuan untuk mendakwa dan menjatuhi hukuman. (sedangkan tujuan penghakiman adalah untuk perbaikan perilaku).

Menilai itu melihat bagus atau tidaknya sesuatu, dengan tujuan untuk melakukan pengembangan atau penyempurnaan.

Sebagai contoh saat kita menerima tugas karya ilmiah, kita dinilai oleh dosen pembimbing, kita ditunjukan mana salahnya dan mana yang baik untuk ditonjolkan. Tujuannya agar karya ilmiah menjadi semakin baik. Setelah selesai kita dihakimi dengan sidang karya ilmiah, disana kita harus mempertanggung jawabkan tulisan kita, benar salahnya dan berakhir dengan menjatuhkan vonis, lulus atau tidak lulus.

Demikian bedanya menilai saja dan menghakimi.

Dalam pergumulan anda, soal kelebihan orang lain, anda disebut sekedar menilai jika sebatas anda mengambil apa yang positif dari diri mereka yang kamu anggap baik itu untuk ditiru bila mungkin. Tetapi menjadi menghakimi saat kamu mendakwa kecantikannya itu hasil oprasi plastik, atau kekayaannya itu hasil menipu kiri dan kanan, dan menjatuhi vonis sebagai orang berdosa disertai ayat-ayat pendukung biar mantap. Seperti itulah yang dilarang oleh Firman Tuhan.

1 Korintus 15:12-13
Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu.

Paulus menuliskan tentang menghakimi jemaat, menunjukan salah seseoragn dan memberikan hukuman. Tujuannya agar ia bertobat, sedangkan dalam Roma 14:12-13, menuliskan larangan menghakimi demikian:

Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!

lihat sambungannya dibawah

sambungan

Paulus melarang kita satu dengan yang lain saling menghakimi, saling menyalahkan dan akhirnya terjadi keributan, sebab penghakiman yang dilakukan dengan cara seperti itu tidak memberikan bobot yang benar dan tidak atas dasar kebenaran Allah, tetapi atas dasar perasaan dan emosi hati saja. Mungkin iri hati, mungkin kesombongan, mungkin keserakahan dan sebagainya yang menjadi dasar penghakiman yang tidak benar.

Penghakiman seperti ini yang dikatakan Yesus, “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia,” (Yohanes 8:15-16) tetapi Yesus akan menghakimi kita kelak bukan dengan ukuran manusia, tetapi sampai dalam hati. Manusia menghakimi dengan sekilas pandang dan apa kata orang dan bagaimana persaan dagingnya berbicara (Yesaya 11:3, Yohanes 7:24). Penghakiman seperti ini yang tidak boleh kita lakukan, tetapi didalam gereja Tuhan tetap harus dilakukan penghakiman atas saudara-saudara kita seiman, agar mereka bertobat dan berbalik dari yang jahat, agar mereka tidak dihukum bersama-sama orang berdosa.

Yakobus 4:11-12
Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

Bermain-main dengan ayat Firman Tuhan, memakainya untuk menuduh, menyalahkan dan memburukan orang dengan cara menfitnahnya adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. Sering saya jumpai orang memakai ayat ini dan itu untuk membenarkan diri sendiri dan untuk mendakwa atau menyalahkan orang lain, bukan tujuannya agar mereka bertobat tetapi agar mereka terlihat bersalah dan buruk. Hal inilah yang dikatakan, “siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”

Tetapi para pemimpin rohani, bapa rohani, gembala, pembina, dan mereka yang terbeban atas pertumbuhan rohani kamu (Ibrani 13:17), merekalah yang berhak menghakimi kamu, menghukum pelanggaran kamu, menyalahkan perbuatan kamu demi menjadikan kamu semakin indah dihadapan Tuhan, seperti yang dilakukan Paulus terhadap jemaat-jemaat di berbagai daerah yang dibinanya.

Yesus mengajarkan tentang menegor seseorang yang kedapatan berbuat dosa dalam Matius 18:15-17. Pada ayat ke 17 kita lihat ada vonis yang dikeluarkan. Menegor kesalahan sampai menjatuhkan vonis adalah perbuatan menghakimi, tetapi tidak sembarang kita menghakimi, melainkan dengan tujuan yang benar dan dengan hukum yang benar kita membenarkan dan menyalahkan sebuah perbuatan. Didalam 2 Tesalonika 3:14-15, disebutkan tentang orang-orang yang ditegor tidak bisa dan diberi sanksi sosial dengan dijauhi agar mereka bertobat sadar akan salahnya. Jadi sebenarnya jangan menghakimi itu bukan bersifat mutlak sama sekali tidak boleh menghakimi, tetapi kita tidak diperkenankan menghakimi sekilas pandang, atau atas dorongan persaan hati dan niat jahat.

1 Korintus 6:1-3
Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus? Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.

Adalah tugas seorang pemimpin, diaken, pastor, bapa rohani dan sebagainya untuk menjadi hakim atas perkara yang terjadi ditengah-tengah jemaatnya, menunjukan mana yang salah dan benar, menegor orang yang hidup tidak sesuai tuntutan Allah, bahkan memberian sanksi baik secara sosial maupun organisasi, dengan harapan agar mereka bertobat dan jika mereka tidak juga bertobat, Paulus mengajarkan ekstrim dalam 1 Korintus 5:5.

Demikian bedanya menilai dan menghakimi serta menghakimi yang boleh dan tidak boleh. Semoga menambah pengetahuan anda akan Firman Allah.

yang dinilai yang positif saja…

Point 1:
Apa tujuan MENGHAKIMI ? Apa Kriteria menentukan SALAH dan BENAR itu ? Mengapa dikatakan hanya Allah yg BERHAK menghakimi ?
Bila anda bisa menjawab 3 pertanyaan diatas maka anda mengerti mengapa harus ada Penghakiman ! Sebagai Petunjuk melakukan Penghakiman Dunia (bukan Achirat) maka dibuatlah Kitab KUHP agar setiap akan melakukan Sanksi dan hukuman mengacu pada Kitab KUHP tsb !

Point 2 :
Juga sama halnya dengan Penghakiman, untuk memberikan Nilai 1 s/d 10 maka anda harus membuat Lebih Dahulu , KRITERIA kapan seseoarng diberi Nilai 1, 2, 3,… dstnya sampai 10 ?

Point 3 :
Bedanya :
Penghakiman menghasilkan AKIBAT
Penilaian menghasilkan Urutan Nilai

Samanya :
Keduanya membuat Sang Obyek/Subyek menerima DAMPAK dari Keputusan yg dibuat !

Point 4 :
Kalau itu FAKTA, itu artinya anda menggunakan seluruh Panca Indra dengan baik sesuai Fungsinya !

Point 5 :
Caranya adalah anda mulai dengan MENGASIHI seseorang yg akan anda Nilai / Hakimi sehingga Tujuan anda melakukan itu adalah untuk Kebaikan si Obyek/Subyek itu.
Didalam Kasih maka keluar KETULUSAN Hati dan Pikiran yg berujud dalam Tindakan Membantu, Menolong , Asah, Asuh dan Asih anda terhadap “nya” !