Apakah Saya Sudah Siap untuk Perkawinan?

Dear All,

Orang-orang Kristen yang sudah beranjak dewasa dihadapkan pada masalah pernikahan, Apakah Saya Sudah Siap Untuk Perkawinan?

Saya punya referensi bagus tentang ini, semoga bermanfaat.

Apakah Saya Sudah Siap untuk Perkawinan?

PERKAWINAN bukan sebuah permainan. Allah bermaksud agar suami dan istri menempa ikatan yang permanen, yang lebih akrab daripada hubungan dengan siapapun juga. (Kejadian 2:24) Jadi, teman hidup dalam perkawinan adalah seseorang yang akan tetap saling berdampingan dengan anda, untuk seterusnya dalam kehidupan anda.

Setiap perkawinan pasti akan mengalami “kepedihan dan duka.” (1 Korintus 7:28, The New English Bible) Tetapi Marcia Lasswell, seorang profesor ilmu perilaku, memperingatkan: “Bila ada informasi yang tak mungkin diragukan mengenai apakah suatu perkawinan akan bertahan atau tidak, maka ini adalah bahwa mereka yang kawin pada usia sangat muda tidak mempunyai peluang sama sekali untuk sukses.”
Mengapa begitu banyak perkawinan remaja gagal? Jawabannya mungkin sangat erat hubungannya dengan pertanyaan apakah anda sudah siap untuk perkawinan atau belum.

Harapan yang Berlebihan
“Gagasan kami mengenai perkawinan sangat jauh dari kenyataan.” demikian pengakuan seorang gadis belasan tahun. “Tadinya kami kira kami bisa pergi dan datang, serta berbuat semau kami, mencuci piring atau tidak, tapi kenyataannya tidak demikian.” Banyak remaja memupuk pandangan yang tidak matang seperti itu mengenai perkawinan. Mereka membayangkannya sebagai impian yang romantis. Atau mereka cepat-cepat kawin karena menginginkan status yang kelihatan dewasa, yang lain-lain lagi sekedar ingin lari dari keadaan yang tidak menyenangkan di rumah, di sekolah, atau di lingkungan tempat tinggal. Seorang gadis mengungkapkan perasaannya kepada tunangannya: “Senang sekali kalau kita sudah kawin. Saya tidak perlu lagi membuat keputusan!”

Tetapi perkawinan bukan impian atau obat mujarab untuk setiap problem. Perkawinan justru memperkenalkan sekumpulan problem yang sama sekali baru. “Banyak remaja kawin untuk bermain rumah-rumahan,” kata Vicky, yang mendapat anak pertama pada usia 20 tahun. “Wah, kelihatannya menyenangkan sekali! Kami menganggap seorang anak seperti boneka kecil saja, begitu menarik dan manis, bisa diajak bermain-main, tetapi kenyataannya tidak demikian.”

Juga, banyak remaja mengharapkan hal-hal yang tak sesuai dengan kenyataan mengenai hubungan seks. Seorang pemuda yang kawin pada usia 18 tahun mengatakan: “Setelah kawin, saya baru tahu bahwa gairah seks cepat sekali pudar dan kemudian kami mulai mengalami beberapa problem yang nyata.” Suatu penelitian atas pasangan-pasangan usia belasan tahun mengungkapkan bahwa setelah problem keuangan, kebanyakan pertengkaran timbul karena hubungan seks. Ini jelas, karena hubungan dalam perkawinan yang memuaskan datang dari sikap tidak mementingkan diri dan pengendalian diri—sifat-sifat yang sering tidak dipupuk oleh kaum remaja.—1 Korintus 7:3, 4.

Dengan bijaksana, Alkitab menganjurkan orang Kristen untuk kawin apabila mereka sudah “melampaui kesegaran masa muda.” (1 Korintus 7:36, NW) Kawin pada waktu nafsu berada pada puncak perkembangannya dapat mengacaukan cara berpikir anda dan membutakan anda terhadap kekurangan-kekurangan calon teman hidup.

Belum Siap Menerima Peranan
Seorang pengantin wanita yang berusia belasan tahun mengatakan tentang suaminya: “Sekarang setelah kami kawin, ia hanya berminat kepada saya kalau ia ingin seks. Ia merasa bergaul dengan teman-teman lelakinya sama pentingnya dengan bergaul dengan saya. . . . Tadinya saya kira sayalah satu-satunya milik dia, rupanya saya telah dipermainkan.” Ini menonjolkan pendapat keliru yang begitu umum di kalangan pria-pria muda: Mereka berpikir bahwa sebagai suami, mereka masih dapat mengikuti gaya hidup pria-pria lajang.
Seorang pengantin wanita berusia 19 tahun menyebutkan suatu problem yang umum di kalangan istri-istri yang masih muda: “Saya lebih suka nonton TV dan tidur daripada membersihkan rumah dan mempersiapkan makanan. Saya malu kalau orang-tua suami saya datang berkunjung. Soalnya rumah mereka rapi dan rumah saya selalu berantakan. Memasak pun saya tidak bisa.” Betapa semakin tegang keadaan dalam perkawinan bila wanita muda tidak trampil melaksanakan urusan rumah tangga! “Perkawinan benar-benar menuntut tanggung jawab,” kata Vicky (yang dikutip sebelumnya). “Ini bukan permainan. Saat bersenang-senang dalam pernikahan telah berlalu. Hidup hari demi hari segera harus dijalani dan itu tidak mudah.”
Dan bagaimana dengan pekerjaan sehari-hari untuk menunjang keluarga? Mark, suami Vicky, mengatakan: “Saya ingat bahwa untuk pekerjaan saya yang pertama, saya harus bangun jam 6 pagi. Saya terus berpikir: ‘Ini kerja berat. Kapan saya dapat relaks?’ Kemudian pada waktu pulang ke rumah saya merasa bahwa Vicky tidak mengerti kesulitan saya.”

Problem Uang
Inilah faktor lain yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam perkawinan pasangan-pasangan yang kawin muda: uang. Empat puluh delapan pasangan belasan tahun mengakui bahwa setelah tiga bulan perkawinan, problem terbesar adalah “pendapatan keluarga habis dibelanjakan.” Setelah hampir tiga tahun, 37 dari antara pasangan-pasangan ini ditanyai hal yang sama. Problem uang lagi-lagi nomor satu—dan kesusahan mereka justru makin parah! “Apa senangnya hidup ini,” tanya Bill, “kalau uang tak pernah cukup untuk membeli hal-hal yang perlu untuk bisa merasa puas? . . . Kalau uang yang diterima pada hari terima gaji tidak cukup sampai hari terima gaji berikutnya, bisa timbul banyak pertengkaran dan ketidakbahagiaan.”
Problem uang umum di antara kaum remaja, sebab mereka sering termasuk dalam angka pengangguran paling tinggi dan mendapat upah paling rendah. “Karena saya tak dapat menyediakan kebutuhan keluarga saya, kami harus tinggal dengan orang-tua,” demikian pengakuan Roy. “Ini benar-benar menciptakan ketegangan, terutama karena kami juga punya seorang anak.” Amsal 24:27 memberi nasihat: “Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu.” Di zaman Alkitab, kaum pria bekerja keras agar kelak dapat menunjang keluarga. Karena tidak membuat cukup persiapan, banyak suami muda dewasa ini merasakan peranan sebagai penyedia kebutuhan keluarga sangat berat.
Tetapi bahkan gaji yang besar pun tidak akan mengakhiri problem uang jika suami-istri memiliki pandangan yang kekanak-kanakan mengenai harta benda. Suatu penelitian mengungkapkan bahwa “kaum remaja berharap dapat segera membeli untuk keluarga yang sedang mereka rencanakan banyak barang yang mungkin baru setelah bertahun-tahun bisa didapatkan oleh orang-tua mereka di masa lampau.” Karena merasa harus menikmati harta benda sekarang juga, banyak yang terjerumus ke dalam hutang yang besar. Karena kurangnya kematangan untuk merasa puas dengan “makanan dan pakaian,” mereka menambah ketegangan dalam perkawinan mereka.—1 Timotius 6:8-10.

“Sangat Jauh Berbeda”
Maureen mengenang kembali: “Saya mencintai Don. Ia begitu tampan, begitu kuat, atlit yang demikian baik dan sangat populer . . . Perkawinan kami pasti akan berjalan dengan baik.” Ternyata tidak. Rasa kesal menumpuk sampai-sampai, seperti Maureen katakan, “Segala yang Don lakukan menjengkelkan bagi saya—bahkan cara dia mengecap-ngecapkan bibirnya kalau kami sedang makan. Akhirnya, kami berdua tak tahan lagi.” Perkawinan mereka berantakan dua tahun kemudian.

Kesulitannya? “Tujuan hidup kami sangat jauh berbeda,” Maureen menjelaskan. “Sekarang saya sadar bahwa saya membutuhkan seseorang yang dapat berhubungan dengan saya secara intelektual. Tetapi kehidupan Don hanya berkisar pada olahraga. Hal-hal yang dulu saya kira begitu penting pada usia 18 tahun tiba-tiba menjadi tak berarti bagi saya.” Remaja sering memiliki pandangan yang kekanak-kanakan mengenai apa yang mereka inginkan pada diri seorang teman hidup. Sering kali wajah yang menarik lebih diutamakan. Amsal 31:30 (BIS) memperingatkan: “Paras yang manis tak dapat dipercaya, dan kecantikan akan hilang.”
Mengadakan Pemeriksaan Diri

Alkitab menyebut gegabah bila orang mengucapkan sumpah yang serius kepada Allah, tetapi “baru menimbang-nimbang sesudah bernazar [bersumpah].” (Amsal 20:25) Maka, bukankah masuk akal untuk memeriksa diri dengan bantuan Alkitab sebelum anda memulai sesuatu yang serius seperti sumpah perkawinan? Apa sebenarnya tujuan anda dalam kehidupan? Bagaimana pengaruh perkawinan atas tujuan ini? Apakah anda mau kawin hanya untuk mengalami hubungan seks atau melarikan diri dari kesulitan?
Juga, seberapa siapkah anda untuk melaksanakan peranan sebagai suami atau istri? Apakah anda sanggup mengelola rumah tangga atau mencari nafkah? Jika selama ini anda ternyata selalu berselisih dengan orang-tua anda, apakah anda akan sanggup bergaul serasi dengan seorang teman hidup? Dapatkah anda menghadapi ujian dan kesusahan yang menyertai perkawinan? Apakah anda benar-benar telah meninggalkan “sifat kanak-kanak” sehubungan dengan penggunaan uang? (1 Korintus 13:11) Pastilah orang-tua anda dapat memberi banyak keterangan mengenai seberapa jauh anda memenuhi syarat.
Perkawinan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang limpah atau kepedihan yang paling pahit. Banyak bergantung pada seberapa siap anda menghadapinya. Jika anda masih remaja, bukankah sebaiknya menunggu dulu sebelum anda mulai berkencan? Menunggu tidak akan merugikan anda. Justru anda akan mendapat cukup waktu yang perlu untuk benar-benar siap apabila anda mengambil langkah menuju perkawinan yang demikian serius—dan permanen.

Pertanyaan-Pertanyaan untuk Diskusi
□ Bagaimana pandangan-pandangan yang tidak matang terhadap perkawinan dikembangkan oleh beberapa remaja?
□ Menurut pendapat anda, mengapa tidak realistis bila orang kawin hanya untuk seks?
□ Mengapa pasangan muda sering mengalami problem yang serius sehubungan dengan uang?
□ Kesalahan apa yang dibuat oleh beberapa remaja sehubungan dengan memilih teman hidup?
□ Pertanyaan-pertanyaan apa dapat anda ajukan kepada diri sendiri mengenai kesiapan anda menghadapi perkawinan? Setelah mempertimbangkan keterangan ini, menurut perasaan anda seberapa siapkah anda menerima tanggung jawab perkawinan?

Salam,
Budi halasan - Petojo