apakah-sola-scriptura-kitab-suci-saja-cukup?

Apa itu Sola Scriptura?
Sola Scriptura adalah doktrin Protestan yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah “sumber otoritas yang terutama dan absolut, keputusan akhir dalam menentukan, untuk semua doktrin dan praktek (iman dan moral)” dan bahwa “Kitab suci, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada lagi yang lain- yang diperlukan untuk iman dan moral.”

Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci
Jika “Sola Scriptura” adalah doktrin yang benar, tentunya Kitab Suci harus secara eksplisit mengatakannya, namun tidak demikian yang kita baca dari Kitab Suci:

1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)

2. Kitab Suci mengatakan bahwa tidak semua ajaran KRISTUS terekam dalam Kitab Suci.
“Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh YESUS, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh 21:25)
Kitab Perjanjian Baru sendiri mengacu kepada Tradisi suci, yaitu pada saat mengutip perkataan YESUS yang tidak terekam pada Injil, yaitu pada Kis 20:35.

3. Kitab Suci sendiri mengatakan bahwa Kitab Suci memerlukan pihak yang mempunyai otoritas untuk menginterpretasikannya (lih. Kis 8:30-31; 2 Pet 1:20-21; 2 Pet 3:15-16). Rasul Petrus mengatakan bahwa ada hal-hal di dalam Alkitab yang memang sulit untuk dicerna, dan ketidakhati-hatian dalam penafsiran akan mendatangkan kesalahan yang fatal. Berapa banyak kita mendengar dari agama lain, yang menggunakan Alkitab untuk menyanggah kebenaran iman Kristen, seperti tentang ajaran Tritunggal Maha Kudus, ataupun bahwa YESUS adalah sungguh- sungguh Tuhan.

4. KRISTUS memberikan otoritas kepada Gereja yang dimulai dari para rasul-Nya untuk mengajar dalam nama-Nya (lih. Mat 16:13- 20; 18:18; Luk 10:16). Gereja akan bertahan sampai pada akhir jaman, dan KRISTUS oleh kuasa ROH KUDUS akan menjaganya dari kesesatan (lih. Mat 16:18; 28:19-20; Yoh 14:16). Karena itu, KRISTUS memberikan kuasa wewenang mengajar kepada Magisterium Gereja yang terdiri dari para rasul dan para penerusnya. Magisterium/ wewenangan mengajar ini hanya ada untuk melayani Sabda Allah, sehingga ia tidak berada di atas Kitab Suci maupun Tradisi Suci, namun melayani keduanya.

5. Kitab Suci mengacu kepada Tradisi Suci untuk menyelesaikan masalah di dalam jemaat, contohnya dalam hal sunat. Pada saat terjadinya krisis itu sekitar tahun 40-an, kitab PB belum terbentuk, dan KRISTUS sendiri tidak pernah mengajarkan secara eksplisit tentang sunat ini. Namun atas inspirasi ROH KUDUS, atas kesaksian Rasul Petrus, maka Konsili Yerusalem menetapkan bahwa sunat tidak lagi diperlukan bagi para pengikut KRISTUS (Kis 15). Konsili inilah yang menginterpretasikan kembali Kitab Suci PL yang mengharuskan sunat (lih. Kej 17, Kel12:48) dengan terang ROH KUDUS dan penggenapannya oleh KRISTUS dalam PB, sehingga ketentuan sunat tidak lagi diberlakukan. Di dalam Konsili itu, Magisterium Gereja: para rasul dan penerusnya, dan pemimpin Gereja lainnya berkumpul untuk memeriksa Sabda Tuhan, yang tertulis atau yang tidak, dan membuat suatu pengajaran apostolik sesuai dengan ajaran KRISTUS.

6. Maka di sini terlihat bahwa Gereja/ jemaat (bukan Kitab Suci saja) adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15) KRISTUS mendirikan Gereja, dan bukannya menulis Kitab Suci, tentu juga ada maksudnya, bahwa Gereja-lah yang dipercaya oleh KRISTUS untuk mengajar dan menafsirkan semua firman-Nya.

7. Kitab Suci tidak mengatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber Sabda/ Firman Tuhan. KRISTUS itu sendiri adalah Firman Allah (lih. Yoh 1:1, 14) dan dalam 1 Tes 2:13 Rasul Paulus mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pemberitaan Firman Allah (“when you received the Word of God which you heard from us“- RSV) dan ini adalah Tradisi Suci.

Sola Scriptura tidak sesuai dengan sejarah Gereja

[b][i]Selanjutnya, jangan lupa bahwa Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

[/i][/b]
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa Tradisi Suci, yaitu pengajaran iman Kristiani yang berasal dari pengajaran lisan KRISTUS dan para rasul itu sudah ada terlebih dahulu daripada pengajaran yang tertulis. Silakan anda membaca bagaimana terbentuknya Kitab Suci yang terbentuk pertama kali menurut kanon yang ditetapkan oleh Paus Damaskus pada tahun 382, Konsili Hippo (393), Carthage (397) dan Chalcedon (451) seperti yang pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Ini adalah bukti penerapan ayat 1 Tim 3:15. Jadi mengatakan bahwa Kitab Suci saja “cukup” atau “hanya satu-satunya” sebagai pedoman iman, itu tidaklah benar, sebab asal mula Kitab Suci itu sendiri melibatkan Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.

Sola Scriptura membawa perpecahan Gereja
Sering kita melihat bahwa perpecahan gereja diakibatkan karena keinginan untuk menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci secara pribadi. Sebagai contoh Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli mempunyai banyak perbedaan pandangan dalam hal Ekaristi Kudus dalam menginterpretasikan perikop Yoh 6, hal Pengakuan Dosa, dll. Pendapat manakah yang benar dari para pendiri ini, yang masing-masing mendasarkan ajarannya hanya berdasarkan Alkitab? Belum lagi dalam hal- hal lain seperti apakah Pembaptisan itu perlu atau hanya simbol saja, hal Pembaptisan bayi, Pembaptisan dalam nama Allah Trinitas atau dalam nama YESUS saja, dan seterusnya. Tiap-tiap kelompok yang bertentangan mengklaim bahwa Alkitab saja cukup jelas untuk menentukannya, namun terjadi bermacam- macam interpretasi. Maka secara fakta harus diakui bahwa Alkitab saja tidak cukup jelas mengajarkannya, dan diperlukan peran otoritas Magisterium untuk menginterpretasikannya.

Hal ini mirip dengan yang terjadi di setiap negara, yang mempunyai konstitusi, namun juga mempunyai kekuasaan yudikatif untuk menginterpretasikannya dengan benar. Jika setiap warga dapat mengartikan sendiri konstitusi ini, tanpa adanya kuasa otoritas yang menjaga dan melestarikannya, maka dapat terjadi kekacauan. Tuhan pastilah lebih bijaksana daripada para bapa pendiri negara dalam hal ini. Ia tidak mungkin hanya meninggalkan dokumen tertulis sebagai pedoman tanpa otoritas untuk menjaga dan menginterpretasikannya dengan benar.

Kalau memang “hanya Alkitab” saja cukup, dan dapat membawa persatuan Gereja, bersama-sama kita perlu merenungkan, kenapa setelah revolusi Gereja oleh Martin Luther di abad pertengahan, gereja menjadi terpecah belah sehingga sampai saat ini ada sekitar 28,000 denominasi? Seharusnya kalau memang kembali kepada kemurnian jemaat awal, katanya hanya berdasarkan Alkitab, maka Gereja seharusnya bersatu dan bukannya tercerai berai. Hal ini sungguh bertentangan dengan pesan YESUS terakhir yang menginginkan seluruh dunia melihat ada kesatuan di dalam tubuh KRISTUS, sehingga dunia dapat tahu bahwa kita semua adalah pengikut KRISTUS (lih Yoh 17). Dan inilah yang menjadi kerinduan Gereja Katolik untuk menyatukan seluruh umat Allah, yang dapat dilihat dari dekrit tentang Ekumenisme (Unitatis Redintegratio).

Tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja
Jika kita telah mengetahui bahwa Sola Scriptura tidak sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri, maka kita dapat melihat pula bahwa sebenarnya KRISTUS telah menentukan tiga pilar kebenaran yang tidak terpisahkan yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, bagian 3, silakan klik: /gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-ke-3/
Ayat yang umumnya digunakan untuk menyatakan pandangan Sola Scriptura

Sekarang mari kita melihat kepada ayat-ayat yang sering digunakan sebagai dasar Sola Scriptura:

  1. 2 Tim 3:16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Ada banyak orang menginterpretasikan bahwa karena ayat ini, maka mereka hanya membutuhkan Kitab suci untuk menjadi umat Kristen yang baik. Padahal pada saat surat kepada Timotius ini ditulis, kanon Kitab Suci belum ada. Jadi di kalangan jemaat masih beredar berbagai tulisan, dan jemaat tidak dapat tahu dengan pasti, mana tulisan yang “diilhami oleh Allah”, dan mana yang tidak.

Lihatlah juga bahwa “sesuatu yang bermanfaat” itu bukan berarti hanya satu-satunya yang kita perlukan, atau segalanya yang kita butuhkan. Sesuatu dapat bermanfaat, tetapi tidak menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Misalnya, cahaya matahari diperlukan untuk tanaman agar tumbuh, tetapi tanaman juga memerlukan air dan tanah agar dapat bertumbuh dengan baik.

Juga perkataan “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” juga tidak dapat dijadikan dasar bahwa Kitab Suci secara total mencukupi semuanya. Rasul Paulus pada 2 Tim 2:19-21 juga menggunakan frasa yang sama, pada waktu mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (pan ergon agathon- dalam bahasa Yunani). Jika logika yang sama dipakai untuk mengartikan ayat ini, maka pandangan tersebut mengatakan bahwa perbuatan menyucikan diri adalah “cukup”, tanpa kasih karunia, iman dan pertobatan, dan ini adalah kesimpulan yang keliru.

2. Ul 4:2 “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya….”

Ada orang yang berpendapat, dengan adanya ayat ini maka Kitab Suci sudah cukup, dan segala “tambahan” di luar Kitab Suci berarti tidak diilhami Tuhan. Namun jika logika ini yang dipakai, maka semua kitab dalam Kitab Suci selain kitab Ulangan dianggap sebagai “tambahan” Wahyu Allah yang hanya sampai pada kitab Ulangan. Dan tentu ini tidak benar, karena Inkarnasi KRISTUS, yaitu panggenapan Wahyu Allah tersebut, malah ada berabad- abad setelah kitab Ulangan ditulis.

3. Mat 4:1-11 Tiga kali YESUS menanggapi pencobaan Iblis dengan Kitab Suci, “Ada tertulis….”

Ada yang berpendapat, bahwa dari ayat ini KRISTUS mengacu hanya kepada Kitab Suci, dan tidak kepada Tradisi Suci atau Gereja. Namun sebenarnya YESUS mengatakan, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (ay.4) Namun Kitab Suci juga mengatakan bahwa tidak semua perkataan Tuhan tercantum dalam Kitab Suci, sebab banyak di antaranya juga sampai kepada kita lewat pengajaran lisan (lih. Yoh 21:25; Kis 20:27; 1 Tes 2:14-15, 3:6; 2 Tim 2:2). Dan jangan kita lupa, bahwa KRISTUS sendiri adalah Sabda Allah (Yoh 1:1, 14) yang tidak dapat dibatasi oleh tulisan dan lembaran-lembaran Kitab Suci.

Maka di sini YESUS tidak sedang mengajarkan Sola Scriptura, tetapi sedang mengajarkan kita untuk berpegang pada semua pengajaran yang dikatakan-Nya, tidak hanya yang tertulis di Kitab Suci. Lagipula jangan lupa, Iblispun mengutip Kitab Suci untuk maksud yang tentu saja keliru dan jahat. Jadi kita harus memahami Kitab Suci dan menginterpretasikannya dengan benar. Ingatlah pesan Rasul Petrus pada saat mengomentari surat Rasul Paulus, “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” (2 Pet 3:16)

4. Mat 15:3 “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (lih. Mrk 7:7-9, Kol 2:8)

Di sini kita melihat tradisi yang dikecam oleh YESUS dan Rasul Paulus adalah tradisi manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Mereka tidak sedang mengecam semua tradisi, sebab Rasul Paulus mengatakan juga demikian,

“Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran [tradisi] yang kuteruskan kepadamu.” (1 Kor 11:2)

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. (2 Tes 2:15)

5. Why 22: 18-19: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Ada pula yang mengartikan ayat ini dengan mengatakan bahwa Gereja Katolik menambahkan Tradisi Suci kepada Kitab Suci, sehingga ini tidak benar. Namun pada ayat ini yang dimaksud dengan “kitab ini” adalah kitab Wahyu itu sendiri, dan bukan Kitab Suci secara keseluruhan. “Kitab ini” juga mengacu kepada “scroll“/ gulungan naskah di mana kitab dituliskan. Maka perintah ini mengacu kepada larangan agar jangan mengadakan perubahan pada salinan teks kitab Wahyu ini, dan ini juga berlaku pada kitab-kitab lainnya.

Kesimpulan

“Sola Scriptura” atau Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman, bukanlah merupakan pengajaran yang bersumber dari Kitab Suci. Kitab Suci adalah sebagian dari Tradisi Suci Gereja, sehingga Kitab Suci tidak dapat dipisahkan dari Tradisi Suci secara keseluruhan, yang dijaga dan dilestarikan oleh otoritas Magisterium Gereja Katolik. KRISTUS mendirikan Gereja untuk mengajar, menyucikan dan memimpin umat manusia dalam nama-Nya, sampai kepada akhir jaman. Maka jika kita menolak otoritas dari Tuhan ini, yang diberikan kepada para rasul dan para penerusnya, maka sesungguhnya kita menolak KRISTUS (lih. Luk 10:16). Gereja Katolik menerima Kitab Suci sebagai salah satu pedoman iman (lihatlah kepada Katekismus dan hasil- hasil Konsili yang mengutip banyak sekali ayat Kitab Suci sebagai landasan ajarannya), dan karenanya, menerima otoritas Kitab Suci sebab Kitab Suci merupakan Sabda Allah. Namun umat Katolik tidak dapat menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya pedoman iman (Sola Scriptura), terutama karena Kitab Suci sendiri tidak mengajarkan demikian. Selain itu, Sola Scriptura juga bertentangan dengan sejarah, karena pada faktanya Gereja-lah yang menentukan kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Kitab Suci, dan kitab-kitab mana yang tidak. Akhirnya, Sola Scriptura juga bertentangan dengan akal sehat dan membawa perpecahan, karena bahkan di kehidupan sehari-haripun, kita mengetahui bahwa setiap peraturan tertulis (contohnya konstitusi negara) memerlukan otoritas yang menjaga, menjamin dan menginterpretasikannya dengan benar. Jika tidak, tentu terjadi kekacauan, karena tiap pribadi dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Dan ini sungguh telah terbukti dengan adanya sekitar 28.000 jumlah denominasi gereja Protestan. Jika kita memakai prinsip yang diajarkan KRISTUS untuk menilai apakah pohon itu baik atau tidak dari buahnya (Mat 12:33, Luk 6:44), maka kita akan mengetahui apakah ajaran Sola Scriptura itu baik atau tidak.

Semoga ROH KUDUS sendiri menerangi kita untuk mengetahui kebenaran ini, bahwa memang Kitab Suci adalah sangat perlu dan sangat penting untuk menuntun dan menumbuhkan iman kita, namun Kitab Suci bukan satu-satunya pedoman iman kita. Sebab Tuhan YESUS telah memberikan kepada kita Magisterium Gereja yang menyampaikan juga ajaran lisan dari-Nya dan para rasul -yaitu Tradisi Suci, dan Magisterium ini dengan setia menginterpretasikan semua ajaran itu dalam terang ROH KUDUS sesuai dengan ajaran KRISTUS dan para rasul.

sumber: http://katolisitas.org/2010/01/18/apakah-sola-scriptura-kitab-suci-saja-cukup/

salam
ond32lumut :afro:


  1. Kitab Suci memberitahukan kepada kita pentingnya pengajaran lisan para rasul.
    Jemaat mula-mula “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul… ” (Kis 2:42, lih. 2 Tim 1:14), dan ini sudah terjadi sebelum kitab Perjanjian Baru ditulis, dan berabad- abad sebelum kanon Perjanjian Baru ditetapkan.
    Kitab Suci juga mengatakan bahwa pengajaran para rasul disampaikan secara lisan, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2); dan bahwa pengajaran para rasul tersebut disampaikan “baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15; lihat juga 1 Kor 11:2)

Jackson:

Saya tanggapi ini saja dulu karena panjang lebar.

Dulu Paulus menginjil ke tesalonika waktu dia ditesalonika dia mengajar secara lisan lalu dia melanjutkan perjalanan menginjil di tempat lain. Dia masih memikirkan dan mengajar jemaat di tesalonika melalui surat kepada sidang jemaat ditesalonika.

Jadi yang dimaksud Paulus lisan itu waktu dia disana tulisan itu suratnya.

Yang lisan ini sebagian juga sudah ditulis contoh Petrus di kisah rasul2 waktu kotbah hari pentakosta itu kan lisan lalu di sarikan oleh Lukas dan sudah tertulis.

Lalu kabarnya banyak ajaran2 sesat. Kemudian pimpinan2 gereja dari 5 Patriact mengadakan rapat mengkanonkan alkitab supaya tidak sesat.

Jadi pengkanonan ini untuk menjaga ketidak sesatan.

Dan pedoman tertulis itu tentunya lebih menjaga ketidak sesatan dari pada lisan.

Bayangkan kalau Indonesia mempunyai undang2 tapi lisan tidak ada yang tertulis lalu dalam pengadilan hakim mengatakan berdasar uu lisan ini anda saya hukum 5 tahun. Lalu pengacara bingung pak hakim saya tidak hafal hukum lisan itu Kacau kan jadinya.

Hukum lisan ini rentan terhadap pemalsuan. Sudah ada undang2 yang dikanonkan tertulis. Lebih aman daripada yang tidak tertulis, yang gampang disusupi dengan alasan ini lisan saja.

Contoh Maria sebagai ratu surga yang didogmakan setelah pengkanonan. Kenapa tidak didogmakan saja sekalian waktu pengkanonan. Kan pengkanonan itu menyaring mana yang sesat mana yang tidak.

Sebaiknya baca dulu sumber lain tentang Sola Scriptura, biar tidak menjadi katak dalam tempurung…^-^

Sola scriptura ( Latin ablatif , “dengan Kitab Suci saja”) adalah doktrin bahwa Alkitab berisi semua pengetahuan yang diperlukan untuk keselamatan dan kesucian . Akibatnya, tuntutan sola scriptura bahwa hanya doktrin-doktrin yang harus diakui atau mengaku yang ditemukan secara langsung dalam atau tidak langsung dengan menggunakan valid deduksi logis atau berlaku penalaran deduktif dari Kitab Suci . Namun, sola scriptura bukan merupakan penyangkalan dari otoritas lainnya mengatur kehidupan Kristen dan pengabdian. Sebaliknya, itu hanya menuntut bahwa semua otoritas lainnya berada di bawah, dan harus dikoreksi oleh, kata yang tertulis Allah scriptura. Sola adalah sebuah prinsip doktrin dasar dari Reformasi Protestan yang diselenggarakan oleh reformator dan merupakan prinsip formal dari Protestantisme hari ini ( lihat Lima sola s ).

Pengertian dari sumber yang netral memang lebih baik…^0^

jelas solascriptura itu artinya kitabsuci saja!
dan kenyataan bahwa doktrin selain kitab suci ditolak dan ditentang tanpa pandang bulu…
jika tidak ada dalam kitab suci, tidak! solascriptura itu baik, namun jelas belum lengkap… silahkan baca tulisa diatas secara seksama supaya tidak menjadi katak dalam baskom bro… (lebih gede!) hehehe…

Jelas bukan, kitab suci tidak dapat menyimpang…^0^
Yang menyimpang adalah orang2 atau oknum yang membawa nama gereja dengan mengatasnamakan Tradisi Suci / tradisi yang nyata2 bertentangan dengan Kitab Suci tertulis…^0^

Salam

Jelas bukan, kitab suci tidak dapat menyimpang....^0^ Yang menyimpang adalah orang2 atau oknum yang membawa nama gereja dengan mengatasnamakan Tradisi Suci / tradisi yang nyata2 bertentangan dengan Kitab Suci tertulis....^0^

kalau mau fair itu berlaku untuk anda2 juga… karena anda2 juga adalah hanya penafsir…
lebih baik baca dulu tulisan saya… dan sanggahlah secara point2… dan sistematis… bro bukit melakukannya dan saya suka yg demikian… :slight_smile:

Karena topik ini bukankah sudah berulang, kita sudah sering bertemu…^-^
Jadi sudah tahu isinya, jadi hanya berkomentar to the point, biar gak buang waktu…^0^

Salam

Maksudnya cukup disini, cukup apakah bro TS?

Soale banyak hal yang tak tertulis dalam Kitab suci, seperti : berkendaraan wajib pake helm, even di tengah perkebunan, perbukitan, dst… :coolsmiley:

apakah tidak jenuh seperti ini?

apakah dengan hanya memegang sola sriptura orang percaya terhalang jadi masuk sorga? atau kehilangan keselamatannya?

ini kan sudah dibahas berulang-ulang kali?

:slight_smile:
salam

baiklah kalau begitu bro2 semua… :slight_smile:

saya hanya ingin menyampaikan dasar kenapa GK tidak solascriptura…
semua masuk sorga…
karena: “berbahagialah orang yg mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya…

TUhan maha kasih, tentu mengasihi kita semua… :slight_smile: maaf kalau tidak berkenan…, saya kurang teliti kalau hal ini sudah dibahas panjang lebar… hehehe…ya mangap deh ya…

salam…

bro jack: bukan saya ga mau menaggapi pertanyaan bro, tapi pertanyaan anda sudah dijawab semua dalam posting saya diatas… dan kata teman2 kita sudah sering bahas ini… :slight_smile: silahkan baca dulu denganseksama bro, karena tulisan diatas saya rasa cukup lengkap!

salam…

Mengenai kalimat yang saya bold dan merah warnanya, rasa-rasanya gak cuma GK aja seperti itu. So what next? :onion-head33:

Bro onde2, semoga anda membaca dengan perlahan2, saya sudah membaca tulisan anda, hanya ini dulu, tentang kanonosasi dan otoritas alkiitab.

Karena Otoritas Alkitab harus dilihat dari kanonisasi alkitab, baru dapat mengerti kenapa Alkitab merupakan otoritas tertinggi.

Kedaulatan Allah sudah menentukan Alkiitab merupakan satu2 nya sarana Allah untuk memperkenalkan diri Nya dan untuk mendidik kita dan untuk mengenal kehendak Allah dengan benar.

Manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan standart yang benar untuk mengenal Tuhan.

Manusia juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengetahui apa yang terbaik baginya, mana yang baik dan mana yang jahat.

Hanya Alkitablah merupakan otoritas bagi kehidupan kita.

Disamping itu, lebih dari cukup, bagi kita mengikuti pedoman alkitab didalam hidup kita.

Semoga anda mau menelitinya dengan hati yang terbuka . :cheesy:

KANONISASI ALKITAB
Wahyu khusus Allah bersifat progresif , bertahap2.

Pewahyuan Perjanjian Lama yang bersifat progresif berlanjut sampai ke nabi terachir, Maleakhi. Sekitar 400 SM.

Setelah 400 tahun Allah mulai berbicara dengan melalui malaikat Gabriel [ Luk 1 : 8 – 38 ] dan Yohanes Pembaptis [ Mat 3 --]

Lalu Allah berbicara melalui Kristus , dan Kristus menugaskan para Rasul Nya untuk berbicara
Mat 10 : 1 – 4 ; 1 Pet 3 : 1,2 dan menuliskan Firman Nya yang sempurna.

Kristus juga mengaruniakan karunia2 mujizat tertentu yang mengkonfirmasikan berita mereka sebagai kebenaran. Mat 10:7,8 2 kor 12 :12

Ketika perkataan2 terachir dari wahyu khusus telah lengkap , maka sarana2 khusus untuk pewakyuan berhenti dan menyatakan kanon Alkitab telah lengkap 1 Kor 13 : 8-13.

Kanon terdiri dari 66 kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kanon = ukuran, aturan atau tongkat pengukur

Kanon terachir terjadi pada thn 397 M pada konsili Karthago.

GERAJA TIDAK MEMPUNYAI OTORITAS untuk menentukan apa yang termasuk dan apa yang bukan sungguh2 Firman yang sempurna.

GEREJA HANYA MENGESAHKAN DAN MENGAKUI APA YANG MERUPAKAN FIRMAN ALLAH.

PROSES PENGUMPULAN
Perjanjian Lama sudah ada dalam gulungan2 kitab, dalam susunan baku sebelum jaman Kristus.

Kriteria yang spesifik dalam menilai secara kuantitatif

Perjanjian Lama :
1.Kepenulisan bersifat kenabian.
2.Penerimaan oleh orang Yahudi secara historis.
3.Konsistensis doktrin dalam keseluruhan Perjanjian Lama.

Perjanjian Baru :
1.Kepenulisan bersifat ke Rasulan.
2.Penerimaan oleh gereja mula2.
3.Konsistensi doktrin dengan keselarasan Alkitab.

Rasul2 adalah seorang yang dipanggil Kristus secara pribadi dan menjadi murid Nya, dan menyaksikan Kebangkitan Nya .

Juga ada yang bukan Rasul seperti, Yakobus dan Yudas merupakan sanak saudara dari Tuhan Yesus. Lukas adalah teman dekat Paulus , Markus adalah anak rohani dari Petrus

Ada sejumlah buku ditolak, kitab2 apokrifa dan kitab2 pseudopigrafa.

Kitab2 apokrifa mengandung kesalahan2 , tahyul2 dan ajaran tentang berbuat kebajikan dll.

KONSILI WESTMINSTER mengesahkan KANON ALKITAB pada tahun 397 M .

Kanonisasi tidak bergantung pada manusia dan gereja.

Kanonisasi bergantung pada Tuhan sendiri. Alkitab adalah kebenaran objektif .

Allah adalah sang penulis kanon Nya dan kanon membuktikan dirinya sendiri.

Roh Kudus melalui providensia Nya mengawasi pengakuan kanon oleh gereja.

Allah didalam kekekalan Nya telah menentukan kanon menjadi sebagaimana adanya sekarang.

Allah secara berdaulat bertindak untuk menginspirasikan dan melindunginya.

Fakta kanon sudah lengkap .

Tidak ada sarana lain yang dipakai Allah untuk berbicara kepada gereja Nya salain melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

FIRMAN TUHAN MERUPAKAN BATU FONDASI BAGI SETIAP BIDANG KEHIDUPAN.

ALKITAB MERUPAKAN OTORITAS TERTINGGI DAN MUTLAK.

HANYA ALKITAB YANG MERUPAKAN STANDARD UNTUK MENGEVALUASI DAN MEMAHAMI SEGALA SESUATU YANG LAIN.

ALKITAB BERDIRI SEBAGAI HAKIM DARI SEGALA SESUATU DAN TIDAK PERNAH DI HAKIMI OLEH SUMBER LAIN APAPUN.

ALKITAB MERUPAKAN WAHYU ALLAH YANG TERTINGGI, MUTLAK , BENAR, KEKAL, SEMPURNA, SUCI DAN MENYATAKAN SIFAT2 ALLAH.

YES 8 : 20 SEGALA SESUATU HARUS DI UJI OLEH ALKITAB.

elas solascriptura itu artinya kitabsuci saja!
dan kenyataan bahwa doktrin selain kitab suci ditolak dan ditentang tanpa pandang bulu…
jika tidak ada dalam kitab suci, tidak! solascriptura itu baik, namun jelas belum lengkap

Apakah bro percaya pada KEDAULATAN ALLAH ?

KEDAULATAN ALLAH yang menetukan segala sesuatu termasuk alkitab, pekerjaan Tuhan yang kekal selalu sudah selesai, sebelum kita manusia yang terikat pada ruang dan waktu menjalankannya secara progresif.

Pemeliharaan Allah yang berdaulat menentukan, alkitab satu2 nya yang cukup untuk manusia untuk mengenal Tuhan.

Memang seperti kita memakai buku2 bapa2 gereja kita, untuk mengerti dan menafsir alkitab, kembali lagi kita tetap meneliti, apakah bertentangan dengan alkitab.

2 Tim 3 : 16, 17
Berbicara tentang keseluruhan kecukupan alkitab.

Wah 22 : 18, 19
Berbicara tentang kesempurnaan Firman Tuhan yang tidak perlu di tambahkan atau di kurangi.

Kalau kita percaya pada kedaulatan Allah, kita akan berani menambahkan otoritas Alkitab dengan buku2 yang lain yang diluar ketentuan Allah.

Tuhan sudah mengenal kita lebih dari kita mengenal kita.

Alangkah baiknya kita mengikuti apa yang Tuhan kehendaki, tanpa macam2, kan lebih AMAN untuk kita, dari pada nanti ternyata salah, bukankah kita akan lebih malu dihadapan Tuhan.

YOU HAVE NOTHING TO LOOSE.

BUKANKAH KITA HARUS LABIH TAAT PADA TUHAN, DARI PADA MANUSIA.

Bagus paparannya sis Ratna, moga2 bro Ond32lumut dapat membaca dengan hikmat dan membuka diri terhadap kebenaran…^-^
Keluar dari tempurung pembodohan legalitas agama yang mengatasnamakan Tradisi/tradisi bukan atas kehendak Allah…^0^

Salam

Jackson…

Dan pedoman tertulis itu tentunya lebih menjaga ketidak sesatan dari pada lisan. Bayangkan kalau Indonesia mempunyai undang2 tapi lisan tidak ada yang tertulis lalu dalam pengadilan hakim mengatakan berdasar uu lisan ini anda saya hukum 5 tahun. Lalu pengacara bingung pak hakim saya tidak hafal hukum lisan itu Kacau kan jadinya. Hukum lisan ini rentan terhadap pemalsuan. Sudah ada undang2 yang dikanonkan tertulis. Lebih aman daripada yang tidak tertulis, yang gampang disusupi dengan alasan ini lisan saja.

Pada saat Yesus berkarya/mengajar selama 31/2 thn, IA tidak pernah menulis ataupun menyuruh para murid menulis. Kenapa ya? Apa Yesus tdk sadar bahwa sesuatu yg lisan itu akan mudah disimpangkan (ingat permainan bisik membisik, org pertama dibisikan sebuah kalimat, terus kalimat tsb dibisikin ke org ke 2 trus sampai org ke 10, ternyata sampai org ke 10 kalimatnya jd berubah)? Org modern saat ini mengantisapi agar tdk terjadi penyimpangan dgn senantiasa menuntut “hitam diatas putih”. Masa Yesus kalah sama org modern yg sadar bahwa yg lisan dpt disimpangkan dan karenanya perlu “hitam diatas putih”? Ternyata Tidak. Yesus jelas sadar bahwa yg lisan rentan thd penyimpangan & dan ia telah memiliki “Alat” yg jauh lebih hebat dari org modern dalam mengantisipasi agar tdk terjadi penyimpangan. “Alat” apa itu? “Alat” tsb bernama “INFABILITAS”. Kristus memperlengkapi GerejaNYA dgn “Alat” canggih ini sehingga GerejaNYA terlindung dari mengajarkan ajaran yg sesat (menyimpang) sekalipun tidak ada secarik kertaspun didunia ini yg berisi tulisan para rasul. “Alat” Yesus terbukti lebih unggul daripada metode “hitam diatas putih” seperti dpt dilihat dari protestan yg menganut sola scriptura (“hitam diatas putih”), toh masih bisa jatuh dalam kesesatan ajaran (satu aliran protestan menganggap sesat aliran protestan lain).

Yang lisan ini [b]sebagian[/b] juga sudah ditulis contoh Petrus di kisah rasul2 waktu kotbah hari pentakosta itu kan lisan lalu di sarikan oleh Lukas dan sudah tertulis.

Sebagian lagi tidak ditulis dan tetap berbentuk lisan. Yg lisan ini bersama2 dgn yg dituliskan diwariskan kpd GerejaNYA utk diajarkan turun temurun.

Ayat lain utk direnungkan : 2 Yoh 1:12, 3 Yoh 1:13-14.

Dulu Paulus menginjil ke tesalonika waktu dia ditesalonika dia mengajar secara lisan lalu dia melanjutkan perjalanan menginjil di tempat lain. Dia masih memikirkan dan mengajar jemaat di tesalonika melalui surat kepada sidang jemaat ditesalonika.

Jadi yang dimaksud Paulus lisan itu waktu dia disana tulisan itu suratnya.

Tau darimana yg tulisan Paulus adalah merupakan kotbah lisannya sewaktu di Tesalonika? Buktikan hipotesa kamu !

Pro : Rita Ratina…

MENGAPA TIDAK SOLA SCRIPTURA?

Sebelum dibahas, ada baiknya disepakati dulu ttg pemakaian istilah agar tidak terjadi ke-salah mengerti-an dalam diskusi yg diakibatkan perbedaan persepsi penggunaan istilah.

PEMAKAIAN ISTILAH

Adalah tidak tepat mengkontraskan antara Alkitab dgn Tradisi karena Alkitab pada hakekatnya adalah juga merupakan sebuah Tradisi (dalam hal ini Tradisi tertulis). Mengapa Alkitab disebut sbg Tradisi? Perlu diingat terlebih dahulu pengertian dari Tradisi. Apa itu Tradisi? Tradisi adalah sejumlah ajaran yg berasal dari seseorang/sekelompok tertentu yg kemudian diwariskan & diajarkan dari generasi ke generasi. Maka dari itu tepatlah bila Alkitab dikatakan adalah sebuah Tradisi. Bukankah kebenaran ajaran Alkitab yg berasal dari para rasul & para nabi diwariskan & diajarkan dari generasi ke generasi hingga saat ini? Namun telah menjadi kesepakatan tidak tertulis dalam berbagai diskusi (terutama dgn rekan protestan) yg membahas ttg Sola Scriptura, bahwa ketika dipakai istilah “Tradisi” adalah mengacu pada Tradisi (bentuk) Lisan, sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah “Alkitab/kitab suci”. Gereja Katolik sendiri dalam katekismusnya menggunakan istilah “Tradisi Rasuli/Tradisi Suci” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) Lisan tsb sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah “Kitab suci (Sacred scripture)” Jadi utk kepentingan praktis dalam berdiskusi, maka digunakan istilah “Tradisi” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) lisan dan istilah “Alkitab/Kitab suci” utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) tertulis. Sekarang mari kita membahas masalah Sola Scriptura dgn membaca ayat Alkitab berikut :

PEMBAHASAN

2 Tes 2:15

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”

“Therefore, brethren, stand fast, and hold the TRADITIONS which ye have been taught, whether by word, or our epistle.”

“ara oun adelfoi sthkete kai krateite taV PARADOSEIV aV edidacqhte eite dia logou eite di epistolhV hmwn”

Ayat ini berangkat dari realita bahwa pada mulanya ajaran KRISTUS yg disampaikan oleh para rasul adalah melalui pengajaran secara lisan. Sebelumnya, Kristuspun mengajar para murid2Nya secara lisan. KRISTUS bahkan tidak menghasilkan satu lembar kertaspun yg berisi tulisanNya. Kumpulan pengajaran2 dari para Rasul yg disampaikan secara lisan inilah yg disebut sebagai Tradisi (Tradisi Lisan). Kemudian beberapa dari ajaran2 dari para rasul tsb kemudian dituliskan kedalam bentuk tertulis (berupa surat2 dari rasul kpd suatu jemaat misalnya). Namun sayang, adalah tidak mungkin memasukan semua ajaran para rasul tsb kedalam bentuk tertulis. Yohanes menulis bhw masih banyak yang dikerjakan oleh YESUS yg tidak mungkin bila semuanya harus dicatat, dunia ini tidak akan mampu menampung kitab2 yg berisi semua ajaran YESUS tsb (Yoh 21:25). Sebagian yg tidak tertulis tetap berada dlm ajaran2 Tradisi (Tradisi Lisan). Oleh sebab itu Paulus menasehati agar kita berpegang teguh pada ajaran (Inggris : Traditions, Yunani : Paradosis) baik yg tertulis (yaitu Alkitab) maupun yg tidak tertulis (Tradisi/Tradisi Lisan). Dan dari konsep inilah Gereja (Katolik) mengenal dua sumber iman yaitu Alkitab (yg adalah merupakan Tradisi tertulis) dan Tradisi (Tradisi lisan). Baik Alkitab maupun Tradisi Rasuli keduanya berisi warisan ajaran iman dari para Rasul yg dipercayakan kpd Gereja. Gereja memelihara kebenaran iman dari dua sumber tsb dan keduanya diperlakukan sama oleh Gereja. Keduanya memiliki otoritas yg sama dan wajib diimani.Harap dibedakan antara Tradisi (Tradisi Lisan) (huruf " T " besar) dgn tradisi gerejawi (huruf " t" kecil). Sepanjang suatu masalah menyangkut hal2 doktrinal maka ia termasuk dalam ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) sedangkan masalah2 seperti jenis liturgi, disiplin gerejawi, kegiatan ungkapan ekspresi iman adalah merupakan tradisi gerejawi. Bedanya Tradisi (Tradisi Lisan/Tradisi Rasuli) karena menyangkut doktrin kebenaran iman, maka ajaran dalam Tradisi (Tradisi Lisan) tidak dpt berubah (Irreformable dan Irrevocable), sedangkan tradisi gerejawi karena tidak menyangkut doktrin kebenaran iman, maka dapat diubah/berubah dan bahkan dimungkinkan suatu daerah memiliki tradisi gerejawi yg berbeda dgn daerah lain

MASALAH OTORITAS TRADISI & KITAB SUCI

Beberapa rekan protestan mungkin berkata bahwa mereka pada hakekatnya menerima Tradisi namun mereka tidak bisa menyamakan otoritas ajaran Tradisi sama & sejajar dgn otoritas Alkitab. Konsekuensi dari sikap ini adalah bahwa segenap pengajaran Tradisi harus dilihat sesuaikah dgn pengajaran Kitab Suci. Jadi kebenaran & penerimaan pengajaran Tradisi bergantung dari kesesuaian dgn kebenaran Kitab Suci. Otoritas Tradisi berada dibawah otoritas Kitab Suci.
Bagaimana menanggapi pernyataan ini? Bahwa Gereja Katolik tidak masalah bila pengajaran Tradisi harus di cross check dgn pengajaran Kitab Suci. Keduanya pasti tidak mungkin saling bertentangan karena keduanya berasal dari sumber yg sama. Namun mari kita melihat pada proses kanonisasi…

Bahwa ketika para Bapa Gereja melakukan kanonisasi, baik umat Katolik maupun protestan sama-sama mengimani akan adanya peran/inspirasi ROH KUDUS. Namun bagaimana pada akhirnya para Bapa Gereja bisa menetapkan kitab A,B,C kanonik, kitab X,Y,Z tidak kanonik? Apakah para Bapa Gereja mendengar suara2 tertentu (sebagai bentuk manifestasi inspirasi ROH KUDUS) yg memberitahu mereka mana kitab yg kanonik, mana yg tidak? TIDAK !!! Di depan tumpukan kitab2 yg ada, para Bapa Gereja akhirnya harus membaca kandungan pengajaran masing2 kitab tsb, apakah sesuai atau tidak. Sesuai - Tidak Sesuai dgn apa? Tentu saja dengan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg mereka terima dari para Rasul. Agar lebih jelas berikut saya beri contoh :

MISALKAN pada saat itu Tradisi mengajarkan bhw KRISTUS tidak disalib, melainkan yudaslah yg disalib, maka kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyaliban KRISTUS akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyelamatan KRISTUS dari peristiwa salib akan dianggap kanonik. NAMUN kenyataan berkata sebaliknya. Mengapa injil Barnabas akhirnya dinyatakan tidak kanonik? Karena Tradisi mengajarkan kpd para Bapa Gereja bhw KRISTUS benar2 disalibkan demi pengampunan dosa umat manusia. Sehingga injil Barnabas yg mengisahkan kisah penyelamatan KRISTUS dianggap tidak kanonik.

MISALKAN pada saat itu Tradisi mengajarkan bhw YESUS hanya memiliki satu natur saja maka tentu kitab2 yg mengajarkan dwinatur KRISTUS akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 gnostik akan dianggap kanonik. NAMUN sekali lagi kenyataan berkata sebaliknya. Karena Tradisi mengajarkan keilahian & kemanusiaan (dwinatur) KRISTUS, maka injil/kitab gnostik-lah yg kemudian dianggap tidak kanonik.

Peran inspirasi ROH KUDUS disini adalah mengingatkan para Bapa Gereja akan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg mereka terima dari para Rasul. Menyadari bagaiama proses kanonisasi inilah, maka jelas Gereja (Katolik) tidak mungkin dapat berposisi utk menerima sola scriptura dimana ajaran Tradisi otoritasnya diletakan berada dibawah (subordinat) dari otoritas Kitab Suci. Apakah kalau begitu Gereja Katolik meletakan otoritas Tradisi diatas otoritas Alkitab? Tidak. Gereja meletakannya keduanya sama otoritatifnya sebab keduanya berasal dari sumber Ilahi yg sama namun yg berbeda dalam moda transmisi penyampaiannya. Oleh karenanya keduanya tidak mungkin saling bertentangan (kontradiksi).

Dalam Sola Scriptura terkadang ada yg mengemukakan prinsip bhw otoritas Gereja harus berada dibawah otoritas Alkitab. Ini juga sulit diterima oleh Gereja Katolik mengingat proses kanonisasi dan penetapan daftar kanon adalah oleh Gereja. Otoritas Gerejalah yg menetapkan daftar kanon kitab suci. Namun itu tidak berarti Gereja dpt bertindak seenaknya. Gereja menyatakan dirinya sbg pelayan Firman Tuhan baik yg ada dlm Alkitab maupun dlm Tradisi (Tradisi Lisan). Otoritas Gereja diwujudkan dlm penafsiran kitab suci & ajaran Tradisi.

Kemudian ada yg mungkin keberatan dgn mengatakan bahwa Tradisi sebagai ajaran yg disampaikan scr lisan bisa berbahaya karena bisa diubah-ubah ibarat permaianan membisikan suatu kalimat dari org pertama hingga org kesepuluh. Well ini masalah pada otoritas mana yg dipercaya. Apakah yg tertulis (Alkitab/Kitab Suci) juga tidak bisa disangsikan? Tentu sangat bisa. Gampang saja : Tau darimana surat Roma adalah surat tulisan Paulus?Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Paulus. Tau darimana surat Petrus adalah surat yg ditulis oleh Petrus? Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Petrus. Bukankah sudah diketahui bahwa aliran bidat sering meminjam nama para Rasul atau murid Para Rasul utk menamai kitab tulisan mereka? Kita sbg umat HANYA bisa percaya kepada Gereja yg mewartakan keotentikan surat2 tsb sbg benar2 tulisan dari para Rasul atau murid para Rasul. Demikian juga thd ajaran Tradisi yg diwartakan Gereja, umat Katolik mempercayai bahwa ajaran Tradisi tsb adalah ajaran otentik dari para Rasul.

Tau darimana surat Roma adalah surat tulisan Paulus?Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Paulus. Tau darimana surat Petrus adalah surat yg ditulis oleh Petrus? Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Petrus. Bukankah sudah diketahui bahwa aliran bidat sering meminjam nama para Rasul atau murid Para Rasul utk menamai kitab tulisan mereka? Kita sbg umat HANYA bisa percaya kepada Gereja yg mewartakan keotentikan surat2 tsb sbg benar2 tulisan dari para Rasul atau murid para Rasul.
Kasihan yah, apa bedanya dengan bidat seperti Saksi Yehuwa, yang memerintahkan pengikut2nya tidak boleh menafsirkan kebenaran hanya boleh menerima kebenaran penafsiran dari Badan Pusat Pimpinan Saksi2 Yehuwa...^-^

Makanya bro ikuti sejarah Kanonisasi Alkitab, setelah mengikuti sejarah Kanonisasi Alkitab, Anda akan tahu surat Petrus benar2 dari Rasul Petrus…^0^

Salam

Kasihan yah, apa bedanya dengan bidat seperti Saksi Yehuwa, yang memerintahkan pengikut2nya tidak boleh menafsirkan kebenaran hanya boleh menerima kebenaran penafsiran dari Badan Pusat Pimpinan Saksi2 Yehuwa...^-^

Kalau sama memangnya kenapa? Tidak buruk koq…Bandingkan dgn protestan dgn kebebasan tafsir individualnya, apa yg terjadi? terpecah-pecah seperti pasir di pantai.

Makanya bro ikuti sejarah Kanonisasi Alkitab, setelah mengikuti sejarah Kanonisasi Alkitab, Anda akan tahu surat Petrus benar2 dari Rasul Petrus...^0^

Sudah baca, dan finalitas dari ketetapan daftar kanon ada pada GerejaNYA.
Kriteria2 yg dijadikan dasar kanonisitas tetap tidak dpt membuktikan 100 %, hanya iman kpd pewartaan GerejaNYA yg membuat kita boleh percaya bahwa kitab2 PB benar2 merupakan tulisan para rasul/murid para rasul.

Mau nanya.
Pengakuan bahwa YESUS itu Kyrios/Tuhan, itu mana yg duluan, lisan atau tulisan/sola scriptura?