apakah termasuk memberhalakan hari tertentu?

mungkin ada yang pernah tanya atau thread yang mirip2, mohon maaf. ada famili saya yang akan menikah, mereka sekeluarga adalah kristen. mereka mempunyai beberapa pilihan waktu berdasarkan tempat untuk menikah. si ibu yang perempuan (sebagai yang mengadakan pesta) berdoa memohon Tuhan menunjukkan kapan waktu yang tepat menurut Tuhan untuk pernikahan, maksudnya agar tidak ada masalah seperti tiba2 ada kecelakaan atau pas ada demo yang menyebabkan kemacetan dan tidak lancarnya pernikahan (dari rias ke acara pemberkatan, ke acara tradisi keluarga, ke pemotretan dan ke gedung pestanya).
si anak berpendapat bahwa hari kapanpun tidak masalah, yang diperlukan hanya doa dan iman bahwa Tuhan akan memperlancar semuanya.
mereka jadi agak tegang karena perbedaan ini.
saya tidak meminta petunjuk tentang mengatasi perbedaan mereka (tapi kalau mau memberi nasihat ya tidak apa apa2), saya hanya bingung manakah yang benar pendapatnya? apakah si ibu atau si anak? apakah meminta Tuhan petunjuk kapan waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu tanpa meminta petunjuk kapan dan doa agar Tuhan melancarkan?
saya 2 kali melihat orang bersikap seperti si anak, tapi waktu hari pernikahannya ada saja masalah, dari kecelakaan dibeberapa jalan yang menyebabkan kemacetan parah hingga salon2 sangat penuh karena ternyata banyak yang menikah hari itu sehingga separuh lebih tamu sangat2 terlambat dan sisanya tidak jadi datang, waktu pengantinnya masuk, hanya sedikit yang telah datang. setelah pesta pernikahan, keluarganya agak kecewa dengan banyaknya yang tidak hadir. mungkin ada yang berkata harus bersyukur, tapi kalau di panggung (waktu foto) dan melihat sedikit orang yang datang, kok rasanya kasihan sama yang menikah. yang satunya lagi karena ada seseorang baik yang dikenal banyak tamu undangan yang meninggal sewaktu pernikahan, jadi pesta mulai jam 18, jam 19 ada kabar kalau orang tersebut tiba2 meninggal, sehingga para tamunya jadi sedih (kelihatan kalau sedang pura2 gembira). setelah 2 kejadian itu saya jadi berpikir apakah orang kristen kalau menikah harusnya minta petunjuk Tuhan kapan.

Ini bahasan menarik, sejauh tidak dikotori dengan berbagai komen yang OOT nantinya.

Sebagai orang Kristen, kita terbiasa untuk menerima bahwa seluruh hari adalah baik, karena Tuhan menciptakan semua hari adalah baik bagi kita.
Karenanya, ada yang berpendapat bahwa kapanpun menyelenggarakan suaru acara pastilah baik.
Ada pula yang berpendapat, dari antara hari hari yang baik itu, tentunya ada yang terbaik untuk dipilih.
Ada pula yang mengatakan bahwa karena semua hari adalah baik, maka apa salahnya memilih hari yang tepat dengan berbagai perhitungan, agar dapat yang terbaik dari yang baik.

Nah…

Kalau dari pengamatan saya sendiri, seharusnya setiap merencanakan suatu acara, sebaiknya ditentukan hari yang paling tepat. Tepat, bukan berdasarkan perhitungan waton dan sebagainya, tetapi berdasarkan berbagai perhitungan.

Jika untuk pernikahan misalnya, jika hendak diadakan sore hari, maka pilihlah hari yang tidak macet, jangan di hari kerja, karena pasti orang malas untuk datang karena kesibukan dan kemacetan.
Jika hari libur, maka pilihlah jangan yang jatuh pada hari libur yang bersisian dengan hari ‘kejepit’, karena kemungkinan besar yang diundang tidak datang karena pergi berlibur ke luar kota.
Begitu juga pilihlah hari yang tidak bersisian dengan hari besar yang dirayakan, seperti jangan sehari menjelang ataupun sehari setelah atau malah pada hari raya imlek, Natal, Paskah, Jumat Agung, Lebaran, Lebaran haji, Waisak atau Nyepi.

Memperhitungkan musim juga penting, apakah hari acara akan kemungkinan hujan, apakah tempat resepsi akan terkendala kalau hujan lebat, atau bahkan banjir.

Setelah berbagai pertimbangan dan diperoleh hari, maka langkah cerdas selanjutnya adalah memperhitungkan jarak dan waktu tempuh dari berbagai macam titik kesibukan, dimana menjemput mempelai, salon mana, foto dimana, gereja di mana, dan resepsi di mana. Berapa lama jarak tempuh yang dibutuhkan, tambahkan faktor halangan berupa hujan atau kemacetan.

Dengan semua susunan acara telah terbentuk, maka tugas manusia sudah selesai, tinggal kita serahkan pada Tuhan untuk membantu kelancaran seluruh acara yang direncanakan. Karena manusia boleh bernecana, Tuhan yang menentukan hasil akhirnya.

Syalom

Dua2nya benar, saya pribadi pernah melihat orang melakukan keduanya dan Tuhan berkenan

Kita manusia tak bisa “menstandarkan” cara Tuhan menolong kita, Tuhan itu maha kreatif

Namun kalau sampai menimbulkan pertentangan yang tajam, maka tentunya anak yang salah, karena anak harus taat kepada orang tua, dan orang tua disini tidak menyuruh sesuatu yang bertentangan dengan Firman Tuhan, malah sangat baik adanya

Firman Tuhan tak boleh dilanggar dalam proses kita mencari jawaban

Dalam keseharian memang selayaknya kita melibatkan TUHAN dalam setiap gerak hidup kita, agar TUHAN menyertai dan membimbing kita agar tidak jatuh ke dalam dosa. Dalam kasus diatas saya kira kapanpun harinya itu bisa tetap dilakukan, kita boleh mengambil keputusan dan memohon kiranya TUHAN yang memberkati keputusan ini dengan penyertaan-Nya agar semua dapat berjalan menjadi lancar. Saya sendiri tidak pernah berdoa memohon petunjuk hari atau petunjuk ini dan itu layaknya orang2 yg suka meminta petunjuk kepada roh-roh… Dalam berdoa saya hanya meminta peyertaan TUHAN atas segala kegiatan saya. Sebab saya yakin TUHAN mengakui kehendak bebas manusia. Dan biarlah kehendak saya terjadi sesuai kehendak-Nya. Seperti Bunda Maria Semoga kehendak saya selalu selaras dengan kehendak TUHAN. Nah… ketika saya telah berdoa dan memohon penyertaan TUHAN tetapi ternyata ada suatu musibah didalamnya, saya percaya memang demikian yg dikehendaki-Nya dan saya memohon agar saya dikuatkan dalam menghadapi musibah ini.

Salam

Pakailah hikmat dalam menentukan hari, jangan pakai petunjuk roh dan dukun Kristen. Selain itu hormatilah pendapat orang tua anda. Jika mereka mengatakan tentang hari khusus tertentu, jika itu bukan hari yang merepotkan untuk diselenggarakan acara pernikahan turutilah. Bukan karena harinya, tetapi karena anda menghormati orang tua anda.

Pakailah hikmat dalam menentukan hari, jangan pakai petunjuk roh dan dukun Kristen. Selain itu hormatilah pendapat orang tua anda. Jika mereka mengatakan tentang hari khusus tertentu, jika itu bukan hari yang merepotkan untuk diselenggarakan acara pernikahan turutilah. Bukan karena harinya, tetapi karena anda menghormati orang tua anda.

Apakah termasuk jika hari yang dipilih keluarga adalah hari yang didapat dari hasil bertanya kepada ‘orang pintar’ ?

Klo menurut saya yang baca2 dan dengar :
Kualitas Iman seseoranglah yg membiarkan dirinya terperangkap
dalam suatu lingkaran berbagai kecemasan dan kekecewaan.

Klo kita ambil contoh Paulus (bukankah) sudah berkali2 mendapat firasat/kabar
klo dirinya akan ditangkap dan dipenjara.
Tp yg dilakukan nya adalah karena iman lah dia berani maju dan tetap melaksanakan
tugasny - bahkan didepan jalan ada suatu halangan menghadang.
Hasilnya yah dipenjara tp apakah mengeluh ??? tidak tp tetep menjalani dalam syukur


Jadi mksd saya - bukan menilai atau menghakimi
Namun orang tua memang punya kecemasan akan nasib anak2nya bahkan manusia sekelas Ayub
selalu saja cemas akan nasib anak2nya.(dimana bagi beberapa orang berpendapat jikalau hal ini
menjadi penyebab kejatuhan Ayub- klo saya tidak tahu yah)
Orang tua memang seperti itu dan jangan sebagai anak menghentikan kehendak orang tua nya selama
hal tersebut dalam koridor atau batasan tidak melanggar nurani keimanan dan tentu aturan2 ketetapan Allah.
Bila orang tua melakukan sesuatu bagi anak-nya biarkan lah dia melakukan nya - bukankah ada tertulis
"hormati orang tua mu supaya lanjut umur … ??? " kekekekekekke

Namun bila hal2 yg dilakukan - sudah melenceng dari koridor keimanan - maka wajib anda memberitahu dan
dengan lantang melarang nya. dan beri pengertian secara baik. lalu berdoalah kepada Tuhan utk kelancaran
pernikahan mu.
Banyak loh orang2 yg melupakan Tuhan nya justru disaat kebahagiaan nya bukan pada sakitnya.

oke…

Belum apa2 sudah siap2 “menghakimi”?! :coolsmiley: :mad0261:

*) Sebagai [u][b]orang Kristen[/b][/u], kita terbiasa untuk menerima bahwa seluruh hari adalah baik, karena Tuhan menciptakan [b]semua hari adalah baik bagi kita.[/b] 1. Karenanya, ada yang berpendapat bahwa [u][b]kapanpun menyelenggarakan suaru acara[/b][/u] [i][b]pastilah baik.[/b][/i] 2. Ada pula yang berpendapat, dari antara hari hari yang baik itu, tentunya [u][b]ada yang terbaik[/b][/u] untuk dipilih. 3. Ada pula yang mengatakan bahwa karena semua hari adalah baik, maka apa salahnya memilih hari yang tepat [u][b]dengan berbagai perhitungan[/b][/u], agar dapat [u][b]yang terbaik[/b][/u] dari yang baik.
*) :afro: ;D 1. Lihat2 dulu [u][b]Upacara Apaan[/b][/u] yg akan dilakukannya ?! 2. Bukankah Tuhan Allah sudah "Memberi CONTOH" Hari SABAT adalah Hari yg TERBAIK untuk melakukan "Yg Terbaik" dimata-Nya ?! :coolsmiley: :happy0062: 3. Nah yg melakukan [u][b]dengan berbagai perhitungan[/b][/u] inilah yg tanpa disadari akan menjadikan dirinya[b] "[u]Orang Pintar[/u]" [/b] seakan LEBIH PINTAR dari Tuhan ! :coolsmiley: :'(
Nah... Kalau dari [u][b]pengamatan saya sendiri[/b][/u], seharusnya setiap merencanakan suatu acara, sebaiknya ditentukan hari yang paling tepat. Tepat, bukan berdasarkan [b]perhitungan waton dan sebagainya[/b], tetapi berdasarkan berbagai perhitungan.
  1. Jika untuk pernikahan misalnya, jika hendak diadakan sore hari, maka pilihlah :
  • hari yang tidak macet,
  • jangan di hari kerja, karena pasti orang malas untuk datang karena kesibukan dan kemacetan.
  • Jika hari libur, maka pilihlah jangan yang jatuh pada hari libur yang bersisian dengan hari ‘kejepit’, karena kemungkinan besar yang diundang tidak datang karena pergi berlibur ke luar kota.
  • Begitu juga pilihlah hari yang tidak bersisian dengan hari besar yang dirayakan, seperti jangan sehari menjelang ataupun sehari setelah atau malah pada hari raya imlek, Natal, Paskah, Jumat Agung, Lebaran, Lebaran haji, Waisak atau Nyepi.
  1. Memperhitungkan musim juga penting,
  • apakah hari acara akan kemungkinan hujan,
  • apakah tempat resepsi akan terkendala kalau hujan lebat, atau bahkan banjir.
  1. Setelah berbagai pertimbangan dan diperoleh hari, maka langkah cerdas selanjutnya adalah :
  • memperhitungkan jarak dan waktu tempuh dari berbagai macam titik kesibukan, dimana : menjemput mempelai, salon mana, foto dimana, gereja di mana, dan resepsi di mana.
    Berapa lama jarak tempuh yang dibutuhkan, tambahkan faktor halangan berupa hujan atau kemacetan.
  1. Dengan semua susunan acara telah terbentuk, maka tugas manusia sudah selesai, tinggal kita serahkan pada Tuhan untuk membantu kelancaran seluruh acara yang direncanakan. Karena manusia boleh bernecanaBER RENCANA , Tuhan yang menentukan hasil akhirnya.

Syalom

  1. Nasihat yg SUPER kata pak Mario Teguh ! :afro:
  2. Dari pengalaman saya mengelola Rumah Pesta justru Bulan yg ujungnya “BER” paling disukai untuk Pesta Pernikahan karena berada dimusim Hujan Biar ASOY Malam Pertamanya . :smitten:
  3. Nasihat yg SUPER kata pak Mario Teguh ! :afro:
    4.Nambahin DIKIT biar MANTAP dan YAKIN bagi yg menerima Nasihat yg SUPER ini…

Yeremia 17 :
7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah… ia akan menikmati Buah dari Perencanaan yg mengandalkan dan minta TUHAN selalu ikut campur tangan !

Rupanya kita harus bisa membedakan antara “Orang Pintar pakai WATON” dengan “Nasihat yg SUPER” , ya Pak ? :coolsmiley: :happy0062: :afro: ;D