Apakah Yesus pernah ke Tibet?

Tidak diceritakan apa yang dilakukan Yesus pada usia antara 12 - 30 tahun,

Kalau melihat film (dokumenter) “Jesus Son of God” (juga dijuduli “Jesus Complete Story”) diambik kesimpulan pada usia tersebut, Yesus melakukan kegiatan sehari-hari membantu Yusuf jadi tukang kayu.

Kalau melihat film (dokumenter) “Jesus in the Himalayas”, maka diungkapkan bukti-bukti yang cukup meyakinkan bahwa kemungkinan besar pada usia tersebut Yesus pergi ke Tibet, “berguru” pada pendeta Tibet.

Bagaimana menurut Anda? (saya senang jika ada sumber-sumber yang dapat anda cantumkan)

tks, salam,
www.gkmin.net

di tibet belajar apa bos?

belajar kung fu yak? :cheesy:

Salam sejahtera,
Ini saya punya artikel tentang itu.
Semoga bermanfaat

Diambil dari http://www.angelfire.com/id/nasrani/Lost1.html

Perjalanan Yesus Ke Negeri Timur
Historikal atau Fiksi ?

Ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya menemukan sebuah buku agama Buddha di perpustakaan sekolah saya yang menyinggung bagaimana Yesus menghabiskan masa mudanya dengan bermeditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spritualitas dari dunia Timur. Hal ini sangat menarik bagi saya sebab Perjanjian Baru tidak ada mengisahkan hal tersebut. Perjanjian Baru menulis bahwa Yesus memulai pelayananNya pada usia 30 tahun (Lukas 3:23). Sedangkan catatan terakhir tentang kehidupan Yesus sebelum Ia memulai pelayananNya adalah pada saat Yesus berusia 12 tahun, yakni ketika orangtuaNya kehilangan Dia pada saat perayaan Paskah dan menemukanNya sedang berdiskusi dengan para alim ulama di Bait Elohim. Jadi memang ada rentang waktu 18 tahun dalam masa hidup Yesus yang tidak diceritakan dalam Perjanjian Baru.

Apa yang dilakukan Yesus selama tahun-tahun tersebut ? Benarkah Ia melakukan semacam meditasi dan mempelajari berbagai macam ilmu spiritualitas dari dunia Timur ? Pertanyaan ini memenuhi pemikiran saya di masa itu. Untuk menjawab hal tersebut ternyata adalah sangat mudah. Alkitab menyediakan jawabannya !

Saya menemukan jawaban tersebut dalam Injil Markus 6:1-6a. Dan apa yang saya tulis waktu itu mungkin adalah salah satu karya apologetika saya yang pertama. Tidak saya sangka saya harus mengulanginya lagi sepuluh tahun kemudian. Semuanya ini saya lakukan sebab rasul Petrus pernah berpesan demikian dalam I Petrus 3:15-16.

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan ! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang memnita pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah-lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka tersebut.” (I Petrus 3:15-16)

Apa yang mendorong saya untuk menulis kembali adalah karena terbitnya sebuah buku berjudul “Isa : Hidup dan Ajaran Sang Masiha” karangan Anand Krishna. Apa yang saya tulis disini bukan merupakan resistansi atau penolakan terhadap apa yang dipahami dan dipercaya oleh Anand Krishna. Saya percaya bahwa setiap orang berhak mempunyai interpretasi masing-masing dan bukan pula hak saya untuk memaksakan pembaca mana interpretasi yang paling benar. Yang saya lakukan melalui tulisan ini adalah pertama untuk meluruskan hal-hal yang bersifat kontradiktif terhadap apa yang telah tertulis dalam Alkitab dan kedua untuk menyampaikan fakta sejarah dengan sebenar-benarnya. Saya sangat setuju dengan hal yang terpikir oleh Anand Krisha bahwa bangsa Indonesia berhak atas “the best available source” dan yang paling otentik. Kenyataannya adalah jarang sekali ada orang mau menulis mengenai hal ini. Oleh sebab itu sekarang-lah saatnya bangsa Indonesia dibukakan matanya. Tetapi masalahnya adalah “the best available source” tidak identik dengan sumber yang paling otentik. Disini kita harus pandai-pandai memilah mana sumber yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. Mana yang merupakan karya isap jempol dan mana yang bukan. Dan itu pula yang menjadi alasan saya untuk menulis ini.

Kisah Kehidupan Saint Issa

Temuan manuskrip Himis pertama kali dipublikasikan oleh Nicholas Notovitch, seorang koresponden kelahiran Russia, dalam sebuah buku berbahasa Prancis La vie inconnue de Jesus pada tahun 1894.[1] Notovitch mengisahkan penemuannya ini sebagai berikut. Pada tahun 1887, ketika tengah melakukan perjalanan menuju India, ia mengalami patah kaki dan mendapat perawatan di sebuah biara di Leh, ibukota Ladakh (sebuah daerah di utara India - sekarang Kashmir).

Disanalah ia pertama kali mendengar dari seorang lama (semacam biarawan) Tibet tentang seorang suci bernama Issa. Notovitch menjadi tertarik akan hal ini. Ia minta diantarkan ke biara Himis (25 mil dari Leh) yang dikatakan menyimpan manuskrip-manuskrip kuno yang mengisahkan Issa. Di biara Himis inilah Notovitch kemudian menjumpai manuskrip yan dimaksud. Kepala lama disana menceritakan pula bahwa manuskrip yang mereka miliki merupakan terjemahan dari bahasa Pali dan aslinya konon ada tersimpan dalam perpustakaan sebuah biara di Lhasa, Tibet.

Notovitch selanjutnya membujuk sang lama untuk membacakan manuskrip itu kepadanya, dan meminta seorang penerjemah untuk menerjemahkannya dari bahasa Tibet. Menurut Notovitch, isi dari manuskrip tersebut “tidak saling menyambung dan tercampur-baur dengan kisah-kisah lain yang tidak berhubungan sama sekali,” dan ia harus menyusun “semua fragmen yang menyangkut kisah kehidupan Issa dalam susunan yang kronologis dan dengan susah payah membentuk kesatuan karakter, yang mana tidak ada pada fragmen-fragmen tersebut”.[2] Ia tidak tidur selama beberapa hari supaya ia bisa membentuk dan menyusun apa yang telah ia dengar.

Dari manuskrip itu, Notovitch belajar bahwa “Yesus telah berkelana ke India dan ke Tibet sebagai seorang anak muda sebelum ia memulai pekerjaannya di Palestina.”[3] Awal perjalanan Yesus dikisahkan dalam manuskrip tersebut sebagai berikut :

Ketika Issa telah mencapai usia 13 tahun, usia ketika seorang Israel harus mengambil seorang istri, rumah dimana orangtuanya tinggal mulai menjadi tempat pertemuan orang-orang kaya dan para bangsawan, yang menginginkan Issa muda menjadi menantu mereka, yang telah terkenal karena khotbah-khotbahnya yang menyejukkan. Maka Issa meninggalkan rumah orangtuanya dengan diam-diam, pergi dari Yerusalem, dan bersama-sama dengan para saudagar berangkat menuju negeri Sind, dengan tujuan menyempurnakan dirinya dalam Firman Tuhan dan mendalami ajaran-ajaran dari para Buddha.[4]

Masih menurut Notovitch, manuskrip tersebut menjelaskan pula bagaimana, setelah secara singkat mengunjungi para penganut agama Jain, Issa muda belajar selama enam tahun dengan para penganut Brahma di Juggernaut, Rajagriha, Benares, dan kota-kota suci India lainnya. Pendeta-pendeta Brahma “mengajarnya cara membaca dan memahami kitab Veda, cara penyembuhan dengan doa, cara menyampaikan dan menerangkan ajaran-ajaran suci kepada orang banyak, cara mengusir roh-roh jahat dari tubuh manusia serta mengembalikan kewarasan mereka.”[5]

Selama disana, ceritanya terus berlanjut, Issa mulai mengajar kitab suci kepada orang banyak di India – termasuk para penyandang kasta rendah. Kaum Brahma dan Kshatriyas (kasta tinggi) menentang dia karena hal ini, dan memberitahunya bahwa kaum Sudra (kasta rendah) dilarang membaca atau bahkan melihat isi kitab Veda. Issa sangat tidak setuju dengan mereka akan hal ini.

Karena pengajaran Issa yang kontroversial itu, sebuah rencana pembunuhan disiapkan untuknya. Tetapi kaum Sudra terlebih dahulu memperingatkannya dan lalu Issa meninggalkan Juggernaut dan menetap di Gautamides (kota kelahiran Buddha Sakyamuni) dimana ia mempelajari kitab suci Sutra. “Enam tahun setelah itu, Issa, yang telah dipilih Sang Buddha untuk menyebarkan ajaran sucinya, telah menjadi seorang yang sangat menguasai kitab-kitab suci.”

Kemudian ia meninggalkan Nepal dan pengunungan Himalaya, turun kembali ke lembah Rajputana, dan pergi ke arah barat, mengajari orang-orang banyak tentang pencapaian kesempurnaan manusia."[6] Setelah ini, dikisahkan Issa mengunjungi Persia dimana ia mengajar di hadapan para penganut Zoroaster. Lalu pada usia 29 tahun, ia kembali ke Israel dan mulai mengajar semua yang telah ia pelajari.

Menurut manuskrip Himis ini, mendekati akhir tahun ketiga pengajaran Issa di Israel, Pilatus menjadi begitu khawatir akan popularitas Issa yang menyebar bak jamur di musim hujan sehingga ia menyuruh salah seorang mata-matanya untuk melemparkan tuduhan terhadap Issa. Issa kemudian dipenjara dan disiksa oleh para prajurit supaya mengakui apa yang mereka tuduhkan itu. Para ulama Yahudi tidak dapat berbuat banyak untuk menolong Issa. Issa tetap dikenakan tuduhan dan Pilatus menjatuhkan hukuman mati terhadapnya.

Menjelang matahari terbenam penderitaan Issa berakhir. Jiwanya meninggalkan tubuhnya, kembali berkumpul dengan keilahiannya. Sementara itu Pilatus menjadi takut karena perbuatannya itu dan menyerahkan jenazah orang suci itu kepada orangtuanya, yang kemudian menguburkannya di dekat tempat penyaliban itu. Tiga hari kemudian gubernur itu memerintahkan para prajuritnya untuk memindahkan jenazah Issa untuk dikuburkan di lain tempat. Ia khawatir kuburan Issa akan menjadi tempat ziarah yang ramai. Hari berikutnya orang-orang menemukan kuburan itu terbuka dan kosong. Seketika itu pula kabar burung menyebar bahwa Hakim Agung telah mengirim malaikat-malaikatnya membawa jenazah Issa dimana Roh Tuhan pernah bersemayam dalam dirinya semasa hidupnya.[7]

Selanjutnya, beberapa pedagang dari Palestina yang singgah di India bertemu dengan sekelompok orang tertentu yang mengenali Issa sebagai seorang murid biasa yang mempelajari bahasa Sansekerta dan Pali selama masa mudanya di India. Pedagang-pedagang itu lalu menceritakan bagaimana kematian Issa di tangan Pilatus. Dan bila cerita ini disimpulkan, kisah kehidupan Saint Issa ditulis dalam sebuah gulungan lontar – oleh penulis tidak dikenal – kira-kira tiga atau empat tahun kemudian. Gulungan lontar inilah yang ditemukan oleh Notovitch di Biara Himis. Setelah dikerjakan oleh Notovitch, Kisah kehidupan Saint Issa – demikian ia menyebutnya – mengandung 244 paragraf pendek yang tersusun ke dalam 14 bab.

Reaksi awal terhadap Notovitch

Penerbitan buku Notovitch ini keruan saja mendapatkan reaksi yang keras dari banyak pihak. Kritikus yang pertama kali mengecam Notovitch adalah F. Max Muller, seorang orientalis senior dari Universitas Oxford. Muller adalah seorang pecinta filosofi Timur dan pernah tinggal di India selama beberapa tahun. Pada bulan Oktober 1894, Muller menulis The Nineteenth Century, sebuah paper akademistik yang berisi penolakan terhadap temuan Notovitch. Muller menelurkan empat argumen yang patut disimak : Pertama, Muller mengatakan bahwa manuskrip tua semacam itu seharusnya terdapat dalam Kanjur dan Tanjur yakni katalog atau daftar yang mencantumkan seluruh karya literatur Tibet. Kenyataannya, manuskrip yang dimaksud Notovitch sama sekali tidak tercantum dalam katalog tersebut dan sama sekali tidak dikenal sebelumnya. Kedua, Muller menolak pendapat Notovitch tentang asal mula manuskrip itu. Ia menanyakan bagaimana para pedagang Yahudi itu secara kebetulan bertemu, di antara jutaan penduduk India, orang-orang yang mengenal Issa sebagai seorang murid biasa, dan tambah lagi “bagaimana orang-orang yang mengetahui Issa itu bisa segera mengenali ia sebagai orang yang sama dengan yang baru saja dibunuh Pilatus.”[8] Ketiga, Muller menunjukkan sebuah surat dari seorang wanita Inggris (bertanggal 29 Juni 1894) yang mengunjungi Biara Himis dan menanyakan tentang Notovitch di hadapan 800 lama biara tersebut. Tulisnya, “tidak ada satu kata kebenaran pun dari seluruh cerita itu ! Tidak pernah ada orang Rusia disini. Tidak ada cerita tentang Kristus sama sekali !”[9] Keempat, Muller mempertanyakan kebebasan Notovitch dalam mengedit dan menyusun ulang tiap-tiap ayat sekehendak hatinya yang mana hal ini tidak akan dilakukan oleh seorang sarjana literatur. Dalam hal ini memang Notovitch bukanlah seorang sarjana literatur.

J. Archibald Douglas, seorang professor di Government College di Agra, India, juga penasaran dengan temuan Notovitch ini. Ia mengambil jatah liburan tiga bulan dengan mengadakan perjalanan ke Biara Himis dengan mengikuti rute yang digunakan Notovitch. Ia menerbitkan catatan perjalanannya itu dengan judul The Nineteenth Century (Juni 1895), yang kebanyakan berisi interview dengan kepala lama di biara tersebut. Sang lama mengaku bahwa ia telah menjadi kepala lama selama 15 tahun, yang berarti semestinya ia adalah kepala lama yang dijumpai Notovitch waktu itu. Namun kepala lama itu mengatakan bahwa selama 15 tahun itu, ia tidak pernah menjumpai seorang Eropa dengan kaki patah mencari pertolongan di biaranya (menurut Notovitch saat itu ia tengah menderita patah kaki dan berusaha mencari pertolongan terdekat).

Ketika ditanya apakah ia tahu tentang buku-buku di dalam biara-biara Buddha di Tibet yang mengisahkan kehidupan Issa, ia menjawab “Saya tidak pernah mendengar adanya manuskrip yang memuat nama Issa, dan saya yakin dan mengatakannya dengan jujur bahwa yang seperti itu tidak pernah ada. Saya telah menanyakannya kepada lama senior kami di biara lain di Tibet, dan mereka tidak tahu menahu tentang buku atau manuskrip yang memuat nama Issa.”[10] Ketika kutipan buku Notovitch dibacakan kepada lama tersebut, ia menanggapinya, “Bohong, bohong, bohong, semuanya bohong !”[11]

Interview tersebut ditulis dan disaksikan oleh sang lama, Douglas, dan seorang penerjemah dan distempel dengan cap resmi biara. Kredibilitas Notovitch keruan saja menjadi rusak gara-gara investigasi Douglas tersebut.

Bersambung

Salam sejahtera,
Sambungan

Waktu penulisan manuskrip Himis

Manuskrip Himis menurut perkiraan Notvitch ditulis 3 atau 4 tahun setelah peristiwa penyaliban (±30 M). Ini berarti manuskrip Himis ditulis jauh lebih awal daripada keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang rata-rata ditulis 3 atau 4 dekade kemudian. Kapan manuskrip Himis ditulis sebenarnya jauh dari kepastian. Perkiraan Notovitch sama sekali tidak didukung bukti historis apa pun.

Meski begitu dari isi manuskrip Himis itu sendiri kita bisa memperkirakan kapan ia ditulis. Manuskrip Himis menceritakan bahwa Issa lahir di tengah-tengah masa penjajahan kerajaan Romawi. Dalam manuskrip itu juga disebutkan secara jelas bagaimana bangsa penjajah itu menghancurkan Bait Elohim-nya orang Israel dan bagaimana mereka memperbudak bangsa Israel.

Dan pada satu masa datanglah para penyembah berhala dari negeri Roma di seberang lautan. Mereka menaklukan bangsa Ibrani dan menunjuk dari antara mereka pemimpin militer untuk memerintah mereka di bawah wewenang Kaisar. Mereka menghancurkan bait suci, mereka memaksa penduduknya untuk berhenti memuja Elohim mereka yang tidak kelihatan itu, dan memaksa mereka untuk mengadakan korban persembahan untuk para berhala. Para bangsawan dipaksa untuk menjadi prajurit, perempuan-perempuan dipisahkan dari suaminya, dan masyarakat kelas bawah dijadikan budak, ribuan jumlahnya dikirim ke seberang lautan. (The Life of Saint Issa 3:8-10)

Nah di tengah-tengah masa penderitaan inilah Issa justru dilahirkan, demikian menurut manuskrip Himis. Dalam sejarah kita mengetahui bahwa peristiwa penghancuran Bait Elohim di Yerusalem terjadi pada tahun 70 Masehi. Sedangkan pengusiran bangsa Israel dari Palestina (yang juga disertai dengan perbudakan) oleh otoritas Romawi baru dimulai setelah diberangusnya pemberontakan Bar Koseba pada tahun 135 Masehi. Jadi dengan demikian penulis Himis jelas telah salah menempatkan kejadian. Ia telah menggeser frame waktu masa hidup Issa tujuh sampai sepuluh dekade ke depan ! Disini kita menemukan kejanggalan. Apakah penulis Himis tidak tahu bahwa Yesus lahir sebelum Bait Elohim dihancurkan ? Apakah ia juga tidak tahu bahwa Yesus berulang-kali keluar masuk Bait Elohim untuk mengajar ? Dan mungkin juga ia tidak tahu bahwa di masa hidupnya Yesus telah meramalkan tentang kehancuran Bait Elohim (Bd. Mat 24:1-2, Mrk 13:1-2, Luk 21:5-6)

Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa manuskrip Himis paling awal ditulis pada abad kedua Masehi. Jadi tidak benar bahwa manuskrip itu ditulis 3 atau 4 tahun sesudah peristiwa penyaliban.

Sumber cerita manuskrip Himis : sumber Yahudi ?

Penulis Himis mengakui bahwa sumber cerita yang ia (atau mereka ?) tulis berasal dari para pedagang yang baru saja tiba dari Israel. Dalam kata pengantar edisi London Notovitch menolak anggapan Max Muller yang menyebut mereka adalah para pedagang Yahudi. Menurut Notovitch mereka boleh jadi adalah pedagang-pedagang India yang beroleh kesempatan menyaksikan peristiwa penyaliban Issa. Hal ini dikatakan Notovitch dalam menjawab pertanyaan Muller bagaimana bisa pedagang-pedagang itu bertemu – di antara jutaan penduduk India – dengan orang-orang yang mengenal Issa muda yang tengah menimba ilmu. Muller juga mempertanyakan bagaimana pula orang-orang itu bisa segera memastikan bahwa Issa yang disalib adalah orang yang sama dengan Issa yang mereka kenal dulu. Zaman dahulu tidaklah sama seperti zaman sekarang yang merupakan era informasi dimana satu peristiwa dengan cepat dapat diketahui di seluruh dunia. Pada masa itu sangat diragukan sekali bagaimana orang-orang itu mengenali Issa. Jangan-jangan Issa yang mereka kenal adalah orang yang berbeda dengan yang disalibkan Pilatus. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila nanti kita temui banyak kejanggalan-kejanggalan dalam manuskrip Himis. Pembelaan Notovitch ini sebenarnya juga tidak mampu menjawab pertanyaan Muller bagaimana bisa kedua pihak itu bertemu di tengah jutaan penduduk India.

Seandainya perkiraan Notovitch ini benar, itu adalah sebuah faktor kebetulan yang luar biasa. Sebagai perbandingan, kira-kira pada masa hidup Yesus hiduplah seorang filosof Yahudi yang paling terkenal, Philo dari Alexandria (±15 SM – ±50 M). Jadi dalam satu masa hiduplah dua orang terkemuka. Tetapi keduanya sangat diragukan pernah saling bertemu. Philo tidak pernah menulis tentang Yesus dalam buku-bukunya dan dalam Perjanjian Baru juga tidak ada catatan tentang Philo. Hal ini bisa dimengerti karena baik Philo maupun para penulis Perjanjian Baru hidup di zaman belum ada radio, belum ada televisi, belum ada telepon. Namun bukan berarti mereka tidak pernah berhubungan sama sekali. Disini saya hanya hendak mengajak pembaca membandingkan bagaimana kecilnya peluang di masa itu untuk saling berhubungan satu sama lain. Apalagi jika hal itu terjadi di India, negeri yang dipadati oleh jutaan penduduk – bahkan pada masa itu.

Saya sendiri menduga bahwa penulis Himis setidaknya mempunyai atau dipengaruhi oleh sumber literatur Yahudi. Hal ini nampak dari bagaimana manuskrip Himis menuturkan cerita tentang Musa. Kisah tentang kepangeranan Musa kemungkinan besar diambil dari kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-kitab talmud dan targum Yahudi atau setidaknya penulis Himis pernah mendengarnya dari seorang Yahudi.

Kisah kepangeran Musa bukanlah hal yang baru. Jadi keliru bila Anand Krishna memandangnya sebagai suatu temuan baru dan menarik (Isa : Hidup dan Ajaran Sang Masiha, p.35). Nama Musa dalam bahasa Mesir, moshe artinya seorang anak. Yang menarik adalah potongan kata moshe banyak ditemukan (dan hanya ditemukan) pada nama-nama Firaun dari Dinasti ke-18, seperti Ra-moshe (“putra Ra Yang Mulia”), Ach-moshe (Ahmose; “putra bulan,” atau “sang bulan telah lahir”) dan Toth-moshe (Thutmose; “putra Toth”). Disini kita melihat bahwa penamaan Musa ini dilatar-belakangi oleh proses pengadopsian Musa yang dilakukan oleh putri Firaun, Bithiah [12]. Sumber lain menyebutkan nama putri Firaun itu adalah Tarmuth [13] atau Thermuthis [14]. Ini kemungkinan adalah putri Ne-termut dalam teks Mesir kuno. Dengan diangkatnya Musa menjadi anak putri Firaun itu, otomatis Musa memiliki hak-hak yang sama dengan para pangeran-pangeran Mesir lainnya. Musa dididik dan dibesarkan menurut aturan istana. Hal ini merupakan cerita yang sudah umum di kalangan orang Yahudi bahkan sejak zaman Yesus. Coba perhatikan bagaimana Stefanus mengisahkan riwayat Musa dalam Perjanjian Baru.

Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. (Kis 7:22)

Dalam kitab Sephir ha-Yasher [15] juga dikisahkan secara detil bagaimana Musa hidup dan dibesarkan di antara putra-putra raja lainnya. Bahkan di usianya yang ke-27, Musa telah diangkat menjadi raja suku bangsa Kush, sebuah suku bangsa yang hidup di belahan selatan Mesir (Nubia ?). Jadi kisah-kisah kepangeranan Musa sebenarnya sudah merupakan kisah yang umum dan lazim di kalangan bangsa Yahudi. Berikut ini saya kutip ayat-ayat dari kitab tersebut.

Dan Musa tinggal di istana Firaun dan menjadi putra Bathia, putri Firaun, dan Musa dibesarkan bersama-sama anak-anak raja. (Sephir ha-Yasher 68:32)

Dalam tahun kelimapuluh-lima masa pemerintahan Firaun, raja Mesir, yaitu pada tahun keseratus-limapuluh-tujuh bangsa Israel menetap di Mesir, memerintahlah Musa di negeri Kush. Musa berumur duapuluh-tujuh tahun ketika ia mulai memerintah atas negeri Kush, dan empat puluh tahun lamanya ia memerintah. (Sephir ha-Yasher 73:1-2)

Kisah-kisah kehidupan Yesus yang ganjil

Masa-masa lowong kehidupan Yesus yang tidak pernah diceritakan dalam Injil, yakni mulai dari kunjungannya ke Yerusalem pada usia 12 hingga ia memulai pelayananNya di sekitar usia 30 seringkali memancing orang untuk berusaha mengisinya dengan kisah-kisah karangan mereka sendiri. Notovitch jelas bukan satu-satunya orang yang melakukan hal itu. Sejak dari abad kedua Masehi, banyak orang berusaha membuat sendiri “injil menurut mereka”. Puluhan injil gnostik bermunculan pada masa itu dengan membawa-bawa nama para rasul sebagai si pengarang, misalnya injil Petrus, injil Paulus, injil Bartolomeus, dan seterusnya. Disini saya tidak mungkin untuk menceritakannya satu per satu karena terlalu banyak, jadi baiklah kita lewati saja.

Kisah kehidupan Yesus juga tidak saja menjadi bahan cerita milik orang Kristen semata. Dari kalangan masyarakat Yahudi sendiri timbul sebuah karya tulisan derogatori berjudul Toledoth Yeshu (Kisah kehidupan Yesus). Bila ditinjau dari bahasa dan gaya penulisan yang digunakan, Toledoth Yeshu ini kira-kira ditulis pada abad ke ke-enam Masehi. Isinya kurang lebih hanya berisi parodi dan pelecehan terhadap kisah kehidupan Yesus yang sebenarnya. Berikut ini saya sajikan penggalan awal dari Toledoth Yeshu :

Pada tahun 3671 pada masa raja Jannaeus, kemalangan besar menimpa bangsa Israel ketika muncul seorang pria bermartabat rendah dari suku Yehudah bernama Yusuf Pandera. Ia tinggal di Betlehem, di Yudea.

Di dekat rumahnya tinggallah seorang janda dan putrinya yang cantik dan masih perawan bernama Miriam. Miriam ini telah bertunangan dengan Yochanan, dari keturunan raja Daud, seorang yang takut akan Tuhan dan taat terhadap Torah.

Suatu ketika menjelang hari Sabat, Yusuf Pandera, gagah bak seorang pahlawan dalam penampilannya memandang Miriam dengan penuh nafsu, mengetuk pintu kamar Miriam dan menipunya dengan berpura-pura menjadi tunangannya, Yochanan. Meskipun begitu, Miriam menjadi terkejut atas tingkah-laku yang tidak layak ini dan terpaksa menyerah di luar keinginannya.

Setelah itu, ketika Yochanan datang menemuinya, Miriam menunjukkan keheranannya atas tingkah-laku Yochanan yang berbeda. Saat itulah mereka berdua sadar akan kejahatan yang telah dilakukan Yusuf Pandera dan kekeliruan besar yang telah dilakukan Miriam. Kemudian Yochanan datang menemui Rabbi Shimeon bin Shetah dan mengadukan masalah percabulan ini. Namun karena tidak adanya saksi mata untuk menghukum Yusuf Pandera dan Miriam yang hamil, Yochanan pergi menyingkir ke Babylonia.

Miriam melahirkan anak itu dan menamainya Yehoshua, mengikuti nama saudara lelakinya. Nama ini kemudian dipelesetkan menjadi Yeshu. Pada hari kedelapan ia disunat. Ketika ia sudah cukup besar, anak laki-laki itu dibawa Miriam ke sebuah sekolah agama untuk belajar adat-istiadat Yahudi.

Keakuratan Toledoth Yeshu dalam menyajikan data jelas sama sekali tidak dapat dipercaya. Toledoth Yeshu menulis bahwa Yesus dilahirkan pada masa pemerintahan raja Jannaeus yaitu pada tahun 3671 menurut kalendar Yahudi atau tahun 90 Sebelum Masehi, jadi hampir seabad sebelum kelahiran Yesus yang sebenarnya! Dalam Toledoth Yeshu setting kehidupan Yesus ini bergeser kepada zaman dinasti Hasmonea yakni pada masa pemerintahan ratu Helene (Salome). Jadi sama sekali tidak ada Herodes, tidak ada kaisar Agustus, dan tidak ada Pontius Pilatus!

Pada abad kesembilanbelas (jadi hampir bersamaan dengan Notovitch) terbit sebuah “injil” yang dinamakan The Aquarian Gospel of Jesus The Christ yang ditulis oleh seorang pendeta militer yang pernah bertugas dalam Civil War, Levi Dowling (1844-1911). Judul halaman “injil” ini menyandang kalimat demikian : “Disalin dari Kitab Kenangan Ilahi yang dikenal sebagai Catatan Akasha”.

Disini, tidak seperti halnya Notovitch yang menyajikan kesimpulan berdasarkan manuskrip-manuskrip kuno, Dowling mengklaim bahwa bukunya berdasarkan suatu “inspirasi” atau “penerangan” yang di kalangan kaum New Age dikenal dengan sebutan Catatan Akasha.[16] Injil yang pertama kali diterbitkan tahun 1911 ini lebih banyak berfokus kepada pendidikan dan perjalanan Yesus. Setelah belajar dari Rabbi Hillel, Yesus menurutnya menghabiskan bertahun-tahun masa mudanya dengan belajar bersama-sama para Brahma dan kaum Buddhis.

Yesus dikatakan menjadi tertarik untuk belajar di negeri Timur setelah Yusuf, ayahnya, menjamu Pangeran Ravanna dari India. Selama kunjungannya, Ravanna sangat terkesan dengan Yesus kecil dan ia memohon kepada Yusuf supaya ia boleh menjadi pelindung anak kecil itu, dan supaya ia boleh membawanya ke negeri Timur dimana Yesus bisa belajar banyak ilmu dari para Brahma. Sebaliknya Yesus kecil pun menunjukkan ketertarikkannya, dan setelah berhari-hari akhirnya orangtuanya memberi izin. Maka begitulah “Yesus diterima sebagai seorang murid di sebuah kuil di Jagannath, dan disitulah ia belajar kitab Veda dan hukum Mani.”[17]

Yesus kemudian mengunjungi kota Benares di tepi sungai Gangga. Selama disana, “Yesus berusaha mempelajari seni penyembuhan Hindu, dan menjadi murid Udraka, tabib Hindu yang paling ternama”.[18] Dan Yesus “terus bersama Udraka sampai ia telah menguasai semua ilmu darinya yakni seni penyembuhan Hindu.”[19]

Levi melanjutkan kisah Yesus dengan mengisahkan perjalananNya ke Tibet dimana Yesus dikatakan bertemu dengan Meng-ste, orang bijak terbesar dari negeri Timur." Dan Yesus boleh mempergunakan seluruh manuskrip-manuskrip suci dan, dengan bantuan Meng-ste, membacanya semua."[20]

Yesus akhirnya tiba di Mesir, dan - mungkin ini adalah puncak dari masa-masa lowong itu - ia bergabung dengan “Persaudaraan Suci” di Heliopolis. Selama disana, ia berhasil melalui tujuh tingkatan inisiasi - Ketulusan, Keadilan, Iman, Kecintaan Sesama Manusia, Kepahlawanan, Kasih Ilahi, dan KRISTUS. Setelah ditahbiskan menjadi Kristus barulah Yesus kembali ke Israel dan melayani disana selama 3 tahun sebelum akhirnya menjalani penyaliban.

Selain Dowling, masih ada lagi seseorang yang mengaku mampu membaca Catatan Akasha. Edgar Cayce mengaku telah membaca 16000 catatan sepanjang hidupnya dimana 5000 di antaranya berbicara tentang agama. Dari catatan Akasha inilah Cayce mengisahkan masa-masa lowong kehidupan Yesus.

Manusia yang kita kenal sebagai Yesus, kata Cayce, mempunyai 29 inkarnasi sebelumnya. “Ini termasuk seorang pemuja matahari, pengarang Kitab Kematian (Mesir Kuno), dan Hermes. Yesus juga adalah Zend (ayah Zoroaster), Amilius (seorang penduduk Atlantis), dan figur-figur sejarah masa lampau lainnya.”[21] Inkarnasi lain termasuk adalah Adam, Yusuf, Yosua, Henokh, dan Melkisedek.

Jiwa ini belum menjadi “Kristus” hingga inkarnasi ketiga-belasnya sebagai Yesus dari Nazaret. Alasan mengapa Yesus mesti melalui begitu banyak inkarnasi adalah bahwa ia – sebagaimana makhluk manusia lainnya mempunyai “hutang karma” (dosa) yang harus dibayar.

Lanjutnya, Yesus mendapat pendidikan yang luas. Sebelum usia 12 tahun, ia telah belajar seluruh hukum Yahudi. “Mulai usia 12 hingga 15 atau 16 tahun, ia belajar ilmu kenabian dari Judy, seorang guru Essene di rumah sang guru di Karmel. Kemudian Yesus memulai pendidikannya di luar negeri, mula-mula di Mesir untuk beberapa waktu, lalu ke India selama tiga tahun, dan terakhir ke Persia. Dari Persia ia dipanggil pulang ke Yudea karena Yusuf wafat, selanjutnya pergi ke Mesir untuk menyelesaikan persiapannya sebagai seorang guru.”[22]

Selama pendidikannya itu, Yesus belajar dari banyak guru di antaranya Kahjian di India, Junner di Persia, dan Zar di Mesir. Ia juga mempelajari ilmu penyembuhan, pengontrolan cuaca, telepati, perbintangan, dan ilmu-ilmu cenayang lainnya. Ketika pendidikannya selesai, ia kembali ke negeri asalnya dimana ia melakukan “mukjizat-mukjizat” dan mengajar orang banyak selama tiga tahun.

Kisah lain mengenai kehidupan Yesus juga dipublikasikan oleh sebuah organisasi Freemason bernama Rosicrucian AMORC (USA). Organisasi ini mengklaim menyimpan tradisi dan ajaran-ajaran kuno dari Persaudaraan Essene yang eksis di Palestina antara abad kedua Sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi. Dr. Lewis Spencer, pimpinan Rosicrucian untuk Amerika Utara dan Selatan, dalam bukunya, The Mystical Life of Jesus, menuliskan kisah kehidupan Yesus pada masa-masa lowong itu. Ia mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak mati di kayu salib tetapi jatuh pingsan dan tersadar dari pingsannya itu ketika berada di dalam kubur. Ia kemudian dengan diam-diam pergi ke sebuah tempat persembunyian di Galilea [23]. Ia naik ke surga bukan dalam bentuk fisik tetapi melalui pengalaman mistis dan kejiwaan. Ia kemudian dikuburkan di Gunung Karmel (Palestina). Jenazahnya tersimpan di dalam sebuah kubur selama beberapa abad hingga akhirnya dipindahkan ke sebuah makam rahasia, yang dijaga dan dilindungi oleh saudara-saudara Essene-Nya.[24]

Satu lagi kisah tentang Yesus yang bersumber dari kaum Freemason adalah buku yang berjudul Crucifixion by An Eye Witness. Dalam kata pembukaannya tertulis :

Ini adalah sebuah terjemahan dalam bahasa Inggris dari sebuah salinan kuno berbahasa Latin dari sebuah surat yang ditulis tujuh tahun setelah peristiwa penyaliban oleh seorang teman dekat Yesus di Yerusalem kepada seorang saudara Essene di Alexandria.

Dalam buku itu ditulis jelas bahwa Yesus adalah seorang anggota dari Persaudaraan Essene. Ia ditolong dari penyalibannya dalam keadaan pingsan dan saudara-saudara Essene-nya itu membawaNya ke sebuah tempat yang aman. Nicodemus, seorang tabib, memberikan pengobatan dengan teknik pembalsaman untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita Yesus. Setelah sembuh, Yesus diam-diam meninggalkan Yerusalem menuju ke suatu tempat di Bukit Zaitun. Enam bulan setelah itu Yesus akhirnya meninggal dunia dengan tenang di Palestina.

Masih banyak lagi kisah-kisah kehidupan Yesus di luar Alkitab yang belum diceritakan disini dan apabila diceritakan semua akan membuat tulisan ini jadi begitu panjangnya. Memang hasrat manusia untuk mengetahui kehidupan masa muda Yesus seolah-olah tidak pernah mau padam. Tidak kurang sampai abad terakhir ini masih ada orang yang berusaha untuk menyingkapnya. Seorang penulis bernama Manuel Komroff pada tahun 1953 mengadakan penelitian untuk majalah American Weekly. Ia menyajikan suatu ringkasan dari kumpulan legenda-legenda Inggris abad pertengahan yang mengisahkan tentang kunjungan Yesus ke Inggris pada masa mudaNya! Tetapi tidak banyak orang yang menanggapi hasil penelitiannya tersebut.

Bersambung

Salam sejahtera
Sambungan lagi…

Makam Yesus di Kashmir

Pada tahun 1891, Mirza Ghulam menyatakan dirinya Imam Mahdi. Gerakan spritualnya ini kelak kita kenal sebagai ajaran Ahmaddiyah. Ia mengajarkan bahwa kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali adalah dalam wujud manusia lain yang mempunyai karakteristik spritual yang sama denganNya. Ia mengatakan bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib tetapi melarikan diri ke Khasmir untuk mengajarkan Injil kepada keturunan 10 suku Israel yang hilang. Semuanya ini diceritakan Mirza dalam buku-bukunya Fatah-i-Islam, Tauzih-e-Maram dan Azala-e-Auham (1891). Mirza kemudian mengatakan telah menemukan makam Yesus menurut wahyu yang diperolehnya. Anehnya mula-mula ia mengatakan di Galilea, lalu di Tripoli, lalu di Suriah dan terakhir dikatakan di Srinagar, Khasmir.[25] Ratusan orang berbondong-bondong pergi ke Jalan Khanyar di Srinagar untuk melihat makam yang dikatakan Mirza itu.

Mirza lebih jauh menyatakan bahwa Yesus memakai nama Yuz Asaf selama keberadaanNya di India. Hal ini menjadi semakin menarik karena Mirza menghubungkan nama ini dengan Yod Asaf, yang tidak lain tidak bukan menurutnya adalah Buddha Gautama. Ketika Buddha mencapai penerangan dan pencerahan sempurna, sesuai dengan tradisi Buddhis Lalitavastara, ia menjadi seorang Bodhisatva. Yod Asaf adalah pelesetan dari Bod Asaf, pelafalan Bodhisatva dalam bahasa Arab. Bagaimana kata Bod Asaf berasal bisa kita telusuri demikian. Kisah tentang Buddha Gautama pada satu masa sampai juga ke Timur Tengah (mungkin pada abad kedua). Kemudian pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mansur, para sarjana Arab dari perguruan Al Mukafah banyak sekali menerjemahkan tulisan-tulisan dalam bahasa Pali, Sansekerta, dan Persia ke dalam bahasa Arab, di antaranya adalah kisah tentang Buddha. Seiring berlalunya waktu, kisah tentang Buddha ini akhirnya kembali lagi ke negeri asalnya India, tetapi dalam bentuk lain. Nama-nama para tokohnya sudah berganti dengan nama-nama berbau Arab dan cerita-cerita di dalamnya juga sedikit banyak berubah. Dalam seluruh karya tulis sarjana-sarjana Arab seperti kitab Marroj-ul-Zahab (956 M) karangan Al Masudi, kitab Al Fahrist (988 M) karangan Ibn Nadim, Friq Bain ul Fariq (1023 M) karangan Bullazori dan Mufatih-ul-Alum karangan Al Khawarzamis, nama Buddha telah diarabkan menjadi Bodasaf atau Yud Asab. Ia diceritakan sebagai seorang pangeran atau nabi India yang diutus Tuhan untuk mengajarkan kebajikan. Makam Bodasaf terletak di Kushangar di Gorakhpur, India. Kata Kushangar ini juga telah diarabkan menjadi Qashmir atau Kashmir. Akan tetapi tidak ada petunjuk sama sekali yang dimaksud Bodasaf itu adalah Yesus. Jadi apa yang dikatakan Mirza sama sekali tidak didukung oleh bukti.

Dan penemuan Mirza atas makam Yesus itu juga nampaknya merupakan hasil dari menghubung-hubungkan antara Bodasaf tadi dengan seseorang yang bernama Yuz Asaf. Sebelum Mirza menyebut-nyebut makam Yesus, seorang ahli sejarah Kashmir yang terkenal Hasan Shah pernah menulis tentang makam tersebut. Menurut Hasan, makam yang letaknya bersebelahan dengan makam Khawaja Nasiruddin itu adalah makam Yuz Asaf yang datang ke Kashmir sebagai seorang duta Mesir selama masa pemerintahan Zainul Abidin (abad 15 Masehi). Yus Asap ini kemudian meninggal dan dikuburkan di Kashmir. Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yakni prasasti Takht-e-Suleman dan gaya penulisan Persia (Khat-e-Thulth) diperkirakan makam tersebut dibangun pada abad kelimabelas Masehi. Disini sudah terang sekali bahwa Yus Asap adalah manusia riil, manusia biasa yang hidup di abad pertengahan. Ia bukan Yesus dan dengan begitu makam tersebut juga adalah bukan makam Yesus.

Kisah mana yang dapat dipercaya ?

Keterangan yang berbeda-beda tentang masa muda Yesus membuat kita boleh mempertanyakan kembali realibilitas dari masing-masing sumber cerita tersebut. Adakah mereka benar-benar diilhami oleh “kebenaran sejati” ? Bila ya mengapa mereka saling berkontradiksi satu dengan yang lain ?

Perbedaan itu bisa kita lihat sejak dari awal cerita, yaitu bagaimana Yesus berangkat melakukan perjalanan ke Timur (atau menurut Manuel Komroff ke arah Barat yakni ke Inggris). Dalam manuskrip Himis, Yesus dikatakan berangkat secara diam-diam dari rumah orangtuanya bersama-sama dengan para pedagang menuju negeri India. Tetapi menurut Injil Aquariannya Dowling, Pangeran Ravanna-lah yang meminta orangtua Yesus untuk mengizinkan Yesus berangkat bersama-sama dengannya. Sedang menurut Cayce lain lagi. Guru Essene Yesus-lah yang mengirimnya ke negeri India. Keterangan yang berbeda ini sungguh mengherankan mengingat baik Dowling dan Cayce ini sama-sama mengklaim bahwa cerita mereka itu dibaca dari Catatan Akasha dan kedua-duanya adalah tokoh teras dari kalangan New Age. Persoalan menjadi semakin kompleks jika kita membandingkan lagi dengan keterangan Mirza Ghulam yang konon memperoleh wahyu paling akhir. Menurutnya, Yesus datang ke Kashmir setelah peristiwa penyaliban. Nah lho, keterangan ini sama sekali tidak terdapat dalam manuskrip Himis dan Catatan Akasha-nya Dowling dan Cayce. Jadi keterangan mana yang benar kalau begitu ? Contoh lainnya adalah dalam hal bagaimana Yesus mencapai tingkatan Kristus. Menurut Dowling, Yesus meraihnya setelah melewati tujuh tingkatan inisiasi. Sedangkan Cayce mengatakan hal itu terjadi setelah Yesus berhasil melewati reinkarnasinya yang ketiga-belas. Manakah yang benar di antara keduanya ? Bagaimana kita harus memilih keterangan siapa yang paling benar disini ? Bisakah mereka semua dipercaya ?

Kisah-kisah mereka itu bukan saja bertentangan satu dengan yang lain namun juga bertentangan secara keseluruhan dengan Injil-injil Perjanjian Baru. Injil-injil Perjanjian Baru jelas sudah teruji oleh zaman dan waktu. Mereka ditulis langsung berdasarkan keterangan para saksi mata. Jelas sekali bahwa Injil-injil Perjanjian Baru adalah sumber cerita yang otentik dan bisa dipercaya.

Namun sebaliknya, semua cerita tentang “perjalanan Yesus ke negeri Timur” mengandung keterangan sejarah yang jauh dari akurat. Manuskrip Himis, misalnya, menuliskan bahwa Yesus dilahirkan pada masa setelah kehancuran Bait Elohim. Dengan demikian penulis manuskrip Himis telah salah menempatkan waktu kelahiran Yesus sekitar 70 tahun ke depan ! Contoh lainnya adalah dalam Injil Aquarian dikatakan Herodes Antipas memerintah di Yerusalem. Padahal , dalam sejarah, Antipas tidak pernah memerintah di Yerusalem tetapi di Galilea. Kesalahan ini menjadi berarti sebab Dowling mengklaim bahwa Injilnya itu “benar sampai ke huruf-hurufnya”![26] Injil Aquarian juga mencatat pertemuan Yesus dengan Meng-ste. Mungkin yang dimaksud Meng-ste disini adalah filsuf besar China, Meng-tse (tse, bukan ste). Dowling jelas tidak menyadari, bahwa sebenarnya, Meng-tse meninggal pada tahun 289 SM.

Perjanjian Baru, meski tidak pernah secara langsung menceritakan masa-masa lowong dalam kehidupan Yesus itu, memberikan banyak sekali keterangan bagi pembacanya mengenai latar belakang Yesus. Dalam Perjanjian Baru tidak ada petunjuk sama sekali tentang perjalanan yang dilakukan Yesus ke negeri Timur. Yesus digambarkan sebagai seorang tukang kayu (Markus 6:3) dan anak seorang tukang kayu (Matius 13:55).[27] Latar belakang pekerjaanNya sebagai tukang kayu ini jelas sekali membawa pengaruh dalam ajaran dan perumpaan-perumpaanNya, misalnya perumpamaan mendirikan rumah di atas batu dan bukan di atas pasir (Matius 7:24-27). Ditambah lagi, penduduk Nazaret, yakni kampung halaman Yesus, nampak benar sudah sangat mengenal Yesus jauh-jauh hari sebelum Yesus memulai pelayananNya. Di awal masa tiga tahun pelayananNya itu, Yesus “datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab” (Lukas 4:16). Setelah Ia selesai membaca, "semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf ?” (Lukas 4:22). Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang ada di rumah ibadat (sinagoga) itu mengenali Yesus sebagai penduduk setempat.

Faktor ini pulalah yang menyebabkan sebagian besar penduduk Nazaret tidak dapat menerima bagaimana Yesus bisa berkata-kata sedemikian indahnya. Mereka bertanya-tanya, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Markus 6:2-3)

Dan yang paling menentang ajaran-ajaran Yesus adalah dari kalangan pemimpin Yahudi. Mereka menuduhNya macam-macam, seperti meninggalkan Sabat (Matius 12:1-14), menghujat (Yohanes 8:58-59, 10:31-33), dan mengadakan mukjizat dengan kuasa Iblis (Matius 12:24). Namun mereka tidak pernah sekalipun melemparkan tuduhan bahwa Yesus mengajarkan atau mempraktekkan sesuatu yang dipelajari dari negeri India. Padahal bangsa Yahudi memandang ajaran-ajaran demikian sebagai ajaran sesat. Jika memang betul Yesus pernah pergi ke negeri India untuk belajar di bawah bimbingan “para maha Buddha”, maka hal ini bisa dijadikan alasan bagi para pemimpin Yahudi itu untuk menolak klaimNya sebagai Mesias. Tetapi mereka tidak pernah memakai alasan tersebut. Mengapa ? Karena Yesus memang tidak pernah belajar dan mengajarkan apapun di luar sistem kepercayaan orang Yahudi yang berbasiskan Taurat.

Penting pula untuk dicatat bahwa ketika Yesus berdiri hendak membaca di sinagoga, yang Ia bacakan adalah ayat-ayat dari Alkitab. Dan Alkitab yang sama itu pula yang memuat banyak sekali peringatan-peringatan dan pesan-pesan agar kita menghindari elohim-elohim palsu dan ajaran-ajaran palsu (Keluaran 20:2; 34:14; Ulangan 6:14; 13:10; 2 Raja-raja 17:35). Alkitab yang sama juga memisahkan dengan jelas antara Sang Pencipta dan ciptaanNya, berbeda dengan ajaran “Timur” yang sarat dengan unsur pantheisme. Alkitab juga mengajarkan bahwa manusia membutuhkan pengampunan, bukan pencerahan, penerangan, atau pengetahuan (gnosis). Bukanlah suatu kebetulan jika dalam setiap ucapan-ucapan dan ajaranNya, Yesus banyak sekali mengutip ayat-ayat Alkitab. Sebaliknya tidak satupun ayat-ayat kitab Veda yang pernah dikutip oleh Yesus.

Yesus dalam ajaran New Age

Satu ketika Yesus pernah menanyakan pertanyaan seperti ini di depan murid-muridNya.“Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20). Petrus, salah seorang muridNya menjawab, “Mesias dari Elohim”. Jawaban Petrus ini seharusnya sudah mampu menjawab “teka-teki” siapakah Yesus. Namun manusia tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang singkat itu. Manusia berulang-kali dalam sejarah berusaha melahirkan identitas baru buat Yesus. Yesus benar-benar begitu istimewa dan mempunyai daya-tarik yang luar biasa sehingga Ia selalu menjadi “milik” setiap kaum. Mereka selalu mengklaim bahwa Yesus adalah bagian dari sistem kepercayaan mereka. Mereka membentuk ulang Yesus dan mengubahNya sampai menjadi sosok yang diinginkan mereka.

Pada akhir abad kesembilan-belas muncul apa yang dikenal dengan ajaran Theosophy. Ajaran yang penuh dengan unsur okultisme dan mistis ini pertama kali disebar-luaskan oleh Helene Petrovna Blavatsky pada tahun 1875. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia berubah-kembang dalam tujuh piringan eksistensi: fisikal, astral, mental, dan seterusnya. Setiap tingkatan piringan ini membawa manusia semakin dekat kepada penyatuan dengan Sang Absolut (Tuhan). Kaum Theosophy ini percaya bahwa proses ini memakan waktu yang sangat lama sehingga membutuhkan reinkarnasi yang berulang-ulang.

Menurut “wahyu” yang diterima oleh Blavatsky, bukan individu manusia saja yang berubah-kembang tetapi juga ras manusia itu sendiri ikut berubah-kembang. Sejauh ini sudah ada tiga ras manusia yakni Lemuria, Antlantis, dan Arya. Dalam setiap ras ini masih terdapat lagi sub-sub ras. Saat ini kita sedang berada pada ras ketiga – Arya – dan sedang memasuki sub-ras keenam dari ras Arya tersebut.

Theosophy mengajarkan pada setiap permulaan sebuah sub-ras, Maha Guru Dunia (juga dikenal sebagai Kristus, pemberi kebijakan Ilahi) turun ke dunia dan masuk ke dalam tubuh seorang yang dipilih (the chosen one) untuk membantu dan membimbing perkembangan spritual umat manusia. Kelima inkarnasi Kristus dalam lima sub-ras Arya ini adalah Buddha (di India), Hermes (di Mesir), Zoroaster (di Persia), Orpheus (di Yunani), dan Yesus (ketika Ia dibaptis di sungai Yordan).[28] Yesus digambarkan sebagai seorang Master atau orang suci yang – sama seperti Buddha, Khrisna, Zoroaster dan lainnya – membimbing umat manusia ke dalam pencerahan dan harmoni Zaman Baru atau New Age. Oleh sebab itu gerakan spritual ini dinamakan pula New Age.

Landasan pemikiran Kristologi dalam New Age adalah pembedaan antara Yesus, yakni tubuh seorang manusia dengan Kristus, suatu entitas Ilahi yang berdiam di dalam tubuh tersebut. Dalam konsep New Age ini, Yesus hanyalah manusia biasa yang menemukan pencerahan atau penerangan sempurna di negeri Timur, dan sampai kepada puncaknya Ia menjadi Kristus. Konsep ini jelas bertolak belakang dengan Perjanjian Baru yang menerangkan bahwa Ia sendiri adalah yang datang dan keluar dari Tuhan (Yohanes 8:58).

Yesus dikatakan telah menyumbangkan tubuhnya untuk dipakai oleh Kristus. Annie Besant, yang menggantikan kepemimpinan Blavatsky, berkata : "Karena Ia [Kristus] membutuhkan sebuah tempat persemayaman dalam bentuk manusia, sebuah tubuh manusia. Manusia Yesus menyerahkan dirinya sebagai korban sukarela, menyerahkan dirinya tanpa pamrih kepada Tuhan Kasih, yang mengambil tubuhNya sebagai persemayaman yang suci, dan berdiam di dalamnya selama tiga tahun masa hidup fana. "[29]

Kaum Theosophy menolak semua anggapan bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Manusia hanya dapat menyelamatkan dirinya melalui reinkarnasi yang berulang. Proses daur-hidup spritualitas ini membawa manusia jauh dan makin jauh dari piringan fisikal, sebaliknya dekat dan makin dekat menuju piringan spritual. Dalam proses ini, setiap manusia – tidak peduli dari agama atau ras mana ia berasal – mempunyai potensi untuk menjadi “Kristus”. Manusia yang secara terus-menerus mengalami proses reinkarnasi pada akhirnya akan mencapai status “Master”. Buddha, Khrisna, Zoroaster, Yesus masuk ke dalam kelompok manusia ini. Mereka telah mampu menyelesaikan dan mengakhiri proses reinkarnasi yang berulang-ulang itu dan kemudian tanpa pamrih berusaha menolong manusia-manusia lain dalam mencapai pencerahan seperti mereka. Ajaran ini tentu saja bertentangan dengan firman Tuhan yang berkata: “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” (Yesaya 43:11) Alkitab mengajarkan bahwa manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan untuk memperoleh keselamatan dan bukannya melalui pencapaian penerangan atau pencerahan.

bersambung lagi

Salam sejahtera,
Sambungannya lagi…panjang bangat ya…hehehe

Kesimpulan

Banyak sudah usaha manusia sepanjang sejarah untuk membentuk sosok Yesus menjadi sosok yang sesuai dengan angan-angan dan pemikiran mereka. Usaha ini bahkan sudah dimulai sejak zaman para rasul. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia memberi nasihat kepada kita demikian :

Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. (2 Korintus 11:4)

Kisah mengenai perjalanan Yesus ke negeri India dan Tibet jelas sama sekali tidak bisa dipercaya. Pertama karena sumber-sumber kisah tersebut, mulai dari manuskrip Himis, injil Aquarian, dan catatan Edgar Cacye, banyak sekali mengandung ketidak-akuratan sejarah. Kedua, kisah tersebut bertentangan dengan keterangan yang terdapat di dalam Alkitab. Walaupun demikian, saya percaya bahwa berita tentang Yesus telah sampai ke negeri India dan Tibet sejak masa awal penyebaran agama Kristen.[30] Sangat mungkin terjadi bahwa beberapa orang yang menaruh minat terhadap Yesus mencoba menggubah sosok Yesus dan ajaranNya hingga sesuai dalam sudut pemikiran sistem kepercayaan mereka. Dan mungkin juga bahwa kemudian mereka menuliskannya dalam gulungan-gulungan lontar yang lalu tersebar di biara-biara di India. Seperti lazimnya yang terjadi di dunia, cerita dua senti bisa berkembang menjadi cerita lima senti. Begitu pula dengan apa yang mereka tulis tentang “Yesus” mereka. Maka itu tidaklah mengherankan apabila kita menemukan sosok Yesus yang berbeda dengan sosok Yesus yang kita kenal.

Untuk menjadi sumber cerita yang bisa dipercaya, manuskrip-manuskrip tersebut haruslah mempunyai bukti-bukti penunjang yang tidak terbantahkan seperti layaknya manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru. Apakah mereka juga ditulis oleh orang-orang yang terpercaya dimana kita mengenal mereka sebagai saksi mata kehadiran Yesus di muka bumi ? Justru faktor-faktor penting ini tidak dimiliki oleh manuskrip Himis. Dengan kata lain manuskrip Himis tidak memiliki otoritas seperti halnya Alkitab. Adapun Alkitab yang kita miliki telah lulus oleh ujian zaman dan waktu. Dalam hal ini biarkan kitab-kitab tersebut bersaing dengan Alkitab. Saya hendak menutup tulisan ini dengan meminjam perkataan Rabbi Gamaliel : “Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap.”[31]

(Contributed by: Armen Rizal, Published in Bahana Magazine 2000)

Catatan Kaki

1 La vie inconnue de Jisus Christ diterbitkan oleh Ollendorf di Paris tahun 1894. Tiga terjemahan yang terpisah tiba di Amerika bulan Mei tahun itu, masing-masing diterbitkan oleh Macmillan di Washington; oleh G. W. Dillingham, di New York; dan oleh Rand, McNally & Co., di Chicago. Sebuah terjemahan Italia oleh R. Giovannini muncul di tahun yang sama dan sebuah versi Jerman, Die Luecke im Leben Jesu, dicetak tahun itu juga. Edisi London diterbitkan oleh Hutchinson pada tahun 1895. Pada tahun 1926 Dillingham kembali menerbitkan buku itu di New York, tetapi dengan hak cipta bertanggalkan tahun 1890! Sebuah versi Spanyol hasil terjemahan A. G. de Araujo Jorge terbit di Rio de Janeiro di tahun 1909.

2 Nicolas Notovitch, The Life of Saint Issa, dikutip oleh Joseph Gaer, The Lore of the New Testament (Boston: Little Brown and Co., 1952), 118.

3 Nicolas Notovitch, dikutip oleh Per Beskow, Strange Tales About Jesus (Philadelphia: Fortress Press, n.d.), 59.

4 Nicolas Notovitch, ed. The Life of Saint Issa, dalam Elizabeth Clare Prophet, The Lost Years of Jesus (Livingston, MT: Summit University Press, 1987), 218.

5 Ibid., 219.

6 Ibid., 222-23.

7 Ibid., 245-46.

8 Max Muller, “The Alleged Sojourn of Christ in India,” The Nineteenth Century 36 (1894):515f., dikutip oleh Edgar J. Goodspeed, Modern Apocrypha (Boston: Beacon Press, 1956, 10.

9 Ibid., 11.

10 J. Archibald Douglas, “The Chief Lama of Himis on the Alleged ‘Unknown Life of Christ’” The Nineteenth Century (April 1896) 667-77, dikutip dalam Prophet, 36-37.

11 Goodspeed, 13.

12 Targum ad loc. ; Sanhedrin 19b; Pirkey Rabbi Eliezer 48

13 Yov’loth 47:5

14 Josephus, Antiquities 2:9:5

15 Sephir Ha-Yasher atau Kitab Kebenaran adalah sebuah kitab yang hilang. Kitab ini ada disebut dua kali dalam Perjanjian Lama yaitu dalam Yosua 10:13 dan II Samuel 1:18. Keberadaan kitab ini sendiri tidak diketahui sampai kira-kira pada tahun 1750 terbit sebuah terjemahan Inggris atas sebuah manuskrip Ibrani kuno yang ditemukan di Gazna, Persia. Sephir Ha-Yasher yang saya gunakan adalah sebuah terjemahan Inggris tahun 1840 yang diterbitkan oleh J.H Parry & Co. Salt Lake City.

16 Kaum New Age percaya bahwa bumi ini diselubungi oleh medan spiritual Akasha yang mana mempengaruhi dorongan hati dan pikiran setiap manusia. Dengan begitu medan ini dipercaya pula menyimpan seluruh catatan sejarah umat manusia.

17 Dowling, The Aquarian Gospel of Jesus the Christ (London: L. N. Fowler & Co., 1947), 48.

18 Ibid., 50.

19 Dowling, dikutip oleh Gaer, 134.

20 Dowling, Aquarian Gospel, 66.

21 Philip J. Swihart, Reincarnation, Edgar Cayce, and the Bible (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1978), 18.

22 Anne Read, Edgar Cayce: On Jesus and His Church (New York: Warnera Books, 1970), 70.

23 Dr Lewis Spencer The Mystical life of Jesus, American Rosicrucian Series, Supreme Grand Lodge Am.

24 H , Spencer The Secret Doctrines of Jesus , Supreme Grand Lodge of Amorc, California America, 1954 (Edition keenam)

25 Mirza Ghulam Ahmad Sat Bachan Qadian, 1895 p. 164. Lihat pula Mirza Ghulam Ahmad Masih Hidustan Mein Qadian 1899 p. 3. dan Mirza Ghulam Ahmad Alhuda Qadian 1902

26 Dowling, Aquarian Gospel, 12.

27 Menurut keterangan St. Justin (138-161 M), Yesus adalah seorang pembuat bajak dan kuk. (Contra Tryph., 88)

28 H. P. Blavatsky, The Secret Doctrine (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1966), 168-89.

29 Annie Besant, Esoteric Christianity (Wheaton, IL: Theosophical Publishing House, 1953), 90-91.

30 The Malankara (Indian) Orthodox Church : A Historical Perspective. Oleh His Eminence Metropolitan Dr. Paulos Mar Gregorios.

31 Kisah Para Rasul 5:38


Artikel ini saya dapatkan ketika main2 ke www.einjil.com

Panjang bangat ya artikelnya…moga2 gak bosan bacanya

GBU

Cloud

duh panjang bgt ceritanya…

btw, gw mah ga terlalu mikirin hal ini. yan penting HE’s MY GOD now.!! yang tau kalo gw lagi susah and yang selalu bantu gw kalo lagi ada masalah.

GBU

Klo aq ga pecaya. Kalo sodara Gkmin gemana? :azn:

si gkmin lagi butuh pencerahan bro…

tolonglah dia supaya nggak salah jalan

hehehehe…

oOm atau pun tu tante gkmin,
knp se slalu m’ptanyakan Tuhan…? :ashamed0004: weleh…weleh, Tuhan kok dipertanyakan :char12: But its ok teruskanlah perjuanganmu dengan semua pertanyaanmu. benice cuman bisa b’doa Tuhan bimbing saudara kami ini :angel:

Apakah Yesus pernah ke Tibet…? Mang pernah ato tdk Yesus ke Tibet merasa dirugikankah…???

jawabannya tidak sekedar percaya tidak percaya, tapi jika percaya kenapa? jika tidak percaya kenapa?

artinya, misalnya saya jawab “saya percaya” maka akan pasti harus butuh penjelasan yang panjang…
tapi kalau saya jawab “saya tidak percaya, karena tidak ada informasinya dalam Alkitab”, ini juga jawaban yang lemah, karena tidak semua hal yang terjadi di dunia ini terekam oleh Alkitab…

Misalnya… piramid2 di mesir yang masih berdiri megah hingga sekarang, ya nggak ada ceritannya di Alkitab…, dinosaurus yang fosil-fosilnya ditemukan, juga tidak jelas di Alkitab, manusia Jawa purba yang fosilnya ditemukan di Sangiran juga nggak ada ceritanya di Alkitab…UFO juga tidak dibahas di Alkitab…?! (saya juga tulis pertanyaan tentang UFO ini di thread lain…)

knp se slalu m'ptanyakan Tuhan..? ashamed0004 weleh..weleh, Tuhan kok dipertanyakan char12 But its ok teruskanlah perjuanganmu dengan semua pertanyaanmu.

Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, jiwamu dan akal budimu

apakah kita tidak boleh mempertanyakan sesuatu yang ‘tidak jelas’, dan hanya nurut sama doktrin dan dogma yang diwariskan oleh pendahulu-pendahulu kita…

Markus 4:22 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.

Salam sejahtera,
Saudara2ku yang manizz2 en guanteng2…bantulah dan berikan pencerahan buat sodara kita Gkmin
Saudara kita Gkmin (sesuai dengan pengakuannya…) sudah menemukan IMAN kepada Tuhan Yesus
Sekarang LOGIKA-nya sedang berjalan dalam kerangka IMAN…dan itu bagus menurut saya.

Adalah normal kalau manusia selalu bertanya dan mencari jawaban.

Jadi mari kita terima setiap pertanyaan.
Kalau kita bisa jawab…berikan jawaban
Kalau kita tidak bisa jawab…bilang gak bisa jawab
Kalau kita bisa memberikan petunjuk…berikan petunjuk.

Sdr Gkmin…mudah2an postingan diatas bisa memberikan sedikit pencerahan.

GBU

Yesus cukup dikenal oleh orang Nazaret.

Bahkan,
Orang-orang Nazaret pun memberikan reaksi yang heran ketika Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah di Nazaret.

Ini ayatnya :

Mat 13:54-56
Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?
Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”

Orang-orang itu berkata (bahasa gue sendiri) :
‘Lho kita kan kenal siapa Dia. Dia kan anak tukang kayu. Bapak ama ibuNya kita kenal. Semua saudara-saudaraNya juga ada di tengah-tengah kita. Gimana mungkin Ia bisa menguasai semua itu? Bagaimana mungkin?’

Pertanyaan itu bisa muncul karena Yesus memang meluangkan sangat banyak waktu di Nazaret. Maka itu penduduk Nazaret familiar denganNya.

Beda kan kalo Yesus selama beberapa waktu ada di luar Nazaret.

Mungkin mereka akan berkata :
‘Dia itu emang anak tukang kayu, tapi dia pernah beberapa saat di Tibet. Makanya aneh-aneh aja Dia, ga sesuai dengan adat kepercayaan kita. Ini pasti efek dari orang-orang Tibet sono.’

Bukan tanpa alasan bila Yesus dikenal luas sebagai Orang Nazaret.
Latar belakangnya jelas.

Dan bila kita membaca Perjanjian Baru,
Maka secara alami kita ga akan merasakan adanya indikasi bahwa Yesus pernah berguru di luar Israel ataupun orang-orang pernah curiga bahwa Yesus pernah berguru di luar Israel.

Cuman dari bacaan di luar Alkitab aja kita temukan indikasi itu.
Orang populer emang suka dingaku-ngakuin.

coba anda sekalian baca http://www.wihara.com/forum/showthread.php?t=104&page=2

selamat membaca-baca dan merenungkan…

Nice Article Bro Cloud :afro:

Dari thread di atas sebenarnya emang mengarah kepada misteri 18 tahun silent period of Jesus Life kan yah ???

Kalau aku cuma berpendapat simple ajah… antara usia 12 - 30 tahun Yesus menjalani kehidupan sebagaimana layaknya anak-anak Yahudi dan ia bersama keluarganya bekerja di Nazaret sebagai tukang kayu (Matius 13:55; Markus 6:3)

Kenapa tidak ada info apapun mengenai Yesus di Alkitab selama 18 tahun itu ??

  1. Itu periode hidup yg tidak ada hal luar biasa / periode Yesus benar2 sebagai manusia sehingga tidak ada yg perlu ditulis.
  2. Yg harus dipahami Yesus lahir dari perempuan yg sangat taat kepada Hukum Taurat (Gal 4:4) sehingga hari penting menandai keteguhan akan Taurat, di mana pada usia 8 harus disapih, usia 12 ke Bait Suci menjalani Bar Mitzvah (betul kan Bro Yehuda ??) lah yg diberitakan Alkitab, selanjutnya hanya kehidupan anak Tukang Kayu biasa yg bertumbuh dalam jasmani & rohani.
  3. Tahapan pendidikan Yahudi sbb:
    • Mulai Usia 5 thn Baca Taurat (Mikra)
    • Mulai usia 10 thn Repetisi (Mishna)
    • Mulai usia 13 thn Belajar Talmud
    • Mulai usia 20 thn masuk sekolah khusus Yahudi (Bet Midrash).
    • Mulai usia 30 tahun baru boleh mengajar di depan umum (same as Yohanes Pembaptis)

Jadi menurut ku itu hanya kreativitas orang2 yang tidak mengenal Tuhan & Firmannya yg (mungkin) beranggapan bahwa hidup Yesus dari lahir s/d naik ke surga merupakan Hidup Anak Super (ksian amattt…) sehingga bermunculan lah cerita2 maupun tulisan apokrif yg sebenarnya bikin kita tertawa & berpikir…“Dasar manusia…”

Maaf kalau belum lengkap :slight_smile:

Perumpamaan-perumpamaan yang dipakai Yesus untuk mengajar, apakah hasil ‘pendidikan’ Bet Midrash Yahudi?

kenapa orang-orang HERAN?
Mat 13:54-56 Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?
Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?

Nah… tidak disebut bahwa YESUS bersama mereka khan…!?, – hanya disebut Yesus anak tukang kayu.
Setiba di tempat asal-Nya…(dari mana gerangan…)

Kalau pengajaran Yesus berasal dari Bet Midrash Yahudi, ya orang2 nggak akan heran dengan ajaran Yesus yang lain-daripada-yang-lain. Bukankah banyak orang Yahudi yang saat itu JUGA ‘sekolah’ di Bet Midrash? apa cuma Yesus saja…(yang ‘hanya’ anak tukang kayu itu??) (kalau dianggap Yesus di usia-usia “gelap” itu memang belajar di Bet Midrash.)

RENUNGKAN…pikirkan pakai logika…
Berapa banyak teman Yesus yang saat itu bersama-sama sekolah di Bet Midrash??? atau cuma Yesus sendirian??? kenapa tidak ada cerita "alumni’ Bet Midrash yang seangkatan (atau adik/kakak angkatan) Yesus, yang juga mengajar seperti Yesus?

Ya… paling gampang anda akan jawab, bahwa HIKMAT Yesus itu dari Bapa…
Lha kalau dari Bapa, kenapa Yesus harus sekolah di Bet Midrash, yang pasti pelajaran-pelajarannya sangat “Yahudi” padahal yang “Yahudi” itu yang kemudian “ditentang” Yesus dalam pengajarannya, apa ketika SEKOLAH, Yesus PURA-PURA setuju dengan semua pengajaran yang YAHUDI itu, dan kemudian MENGKRITIKNYA ketika sudah lulus dari Bet Midrash…
Oh ya… siapa teman seangkatan Yesus yang juga sekolah di Bet Midrash? Kenapa Yesus memilih murid-muridnya bukan dari TEMAN-TEMAN sekolahnya? apa teman2 sekolahnya nggak ada yang cocok dengan Dia?

he he he… ayo coba berpikir lebih lanjut…

coba baca dulu http://www.wihara.com/forum/showthread.php?t=104&page=2
periksa di sana apa saja ajaran/perumpamaan yang dipakai Yesus yang MIRIP dengan ajaran Budha…
INGAT, Sang Budha lahir tahun 500-an SM, Yesus lahir 1 M, siapa yang “mencontoh” siapa?

bandingkan

http://members.aol.com/jesusandsue6/JesusLittleLamb.jpg

Gw rasa sih ngapain diambil pusing,yg pnting lu lebih percaya mana, beriman kepada sapa?
kalo gw sih, ga mao cari sisilah Yesus, yang penting gw tau Yesus itu Sang Juru Slamat
gw Percaya dia adalah jalan keselamatan utk umat manusia yang Percaya pada NYA

kalopun emg sama atau Yesus pernah ke Tibet, dan Orang tibet menyebut dengan nama atau
memberi nama Yesus dengan nama laen ya udeh gpp
atau gini aja, kita liat aja nanti deh, atau kita buktikan aja pada saat penghakiman tiba
wakakakak sadeees… jadi ketauan tuh mana Allah yang bener mana bukan :coolsmiley:

halah, gw ngelantur ga sih ngmgnya, wakakaka kalo ngelantur maap yeee

. . . wahai saudara/i gkmin yg t’hormat apakah otak gkmin sudah cukup untung menampung semua rahasia-rahasia Tuhan…? benice sebagai manusia pun pernah m’pertanyakan perihal diriNya. Tapi apa yang benice dapat…? Yaaa yg kata saudara/i gkmin bilang :

Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, jiwamu dan akal budimu

. . . cuman dalam ingatan benice yg t’batas ini benice ingat ad ayat yg bilang “jangan bersandar pada pengertianmu sendiri…” benice jg dah baca beberapa tulisan Anda d website yg slalu Anda promosikan itu. Baik d FK yg t’cinta ini atau d forum tetangga. benice yakin ko kLo Anda adalah ORANG YANG HEBAT… :slight_smile:

knp se slalu m'ptanyakan Tuhan..? ashamed0004 weleh..weleh, Tuhan kok dipertanyakan char12 But its ok teruskanlah perjuanganmu dengan semua pertanyaanmu.

apakah kita tidak boleh mempertanyakan sesuatu yang ‘tidak jelas’, dan hanya nurut sama doktrin dan dogma yang diwariskan oleh pendahulu-pendahulu kita…

[b]Markus 4:22 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.[/b]

. . . gK jelas…? waduh, rahasia-rahasia Tuhan tu SELALU JELAS saudara. Siapa yang :happy0025: akan menyatakan atau pun menyingkapnya YANG JELAS tu bukan ANDA :slight_smile:

GBU :happy0025:

lho… anda itu gimana, justru di sini SAYA MEMPERTANYAKAN, bukan MENJELASKAN, gitu Non… JELAS!!

he he he..... ayo coba berpikir lebih lanjut....

Yuk yak yuk yuuuuu…

Nah... tidak disebut bahwa YESUS bersama mereka khan....!?, -- hanya disebut Yesus anak tukang kayu. Setiba di tempat asal-Nya...(dari mana gerangan...)

Yang bro tanya khan dari usia kecil ampe usia 29 Yesus blajar dimana khan?
Karena dari usia 30 ke atas, Yesus hanya berada di daerah sekitar Yudea, Galilea dan Samaria.

Nah, ayat di Mat 13:54-56 itu bicara ketika Yesus sudah memulai pelayanan.
Artinya, usianya udah lewat 30 taon.

Pada saat itu,
Yesus berkeliling dan mengajar.
Sebelum ke Nazaret, kampung asalnya,
Yesus udah berekspedisi ke beberapa tempat berbeda.

Sebelum Ia tiba (kembali) ke Nazaret,
Ia baru saja mengunjungi Danau Galilea setelah dari wilayah Gerasa.

Itulah mengapa di ayat itu ditulis :
‘Setibanya di tempat asal-Nya…’

Hmmm…
Mengapa bro tidak menyadari hal itu?

Apakah bro sedang mengedepankan asumsi hanya berdasarkan keterangan dari luar Alkitab saja?
Jangankan Tibet bro.
Doktrin-doktrin yang lebih aneh dari yang bro sampaikan juga ada.

Mau ketemu Yesus yang adalah alien yang travel dengan piring terbang?
Itu juga ada doktrinnya, tapi di Amerika
(Bro ga akan ketemu itu di Asia karena orang Asia ga terlalu ngefans ama alien).

Kalau pengajaran Yesus berasal dari Bet Midrash Yahudi, ya orang2 nggak akan heran dengan ajaran Yesus yang lain-daripada-yang-lain. Bukankah banyak orang Yahudi yang saat itu JUGA 'sekolah' di Bet Midrash? apa cuma Yesus saja...(yang 'hanya' anak tukang kayu itu??) (kalau dianggap Yesus di usia-usia "gelap" itu memang belajar di Bet Midrash.)

RENUNGKAN…pikirkan pakai logika…

Cuba ya gue renungkan dengan sample
(Susah kalo pake logika - pake contoh praktis ajah :ashamed0002: :ashamed0002: :ashamed0002:).

Misalkan :
SBY adalah lulusan AKMIL,
Try Sutrisno adalah lulusan AKMIL,
Wiranto adalah lulusan AKMIL.

Kondisi 1 :
Ketiga orang itu murni adalah lulusan AKMIL,
Belajar sama-sama, kurikulumnya sama,
Ga pernah lagi sekolah atau kuliah di tempat lain.

Tiba-tiba,
SBY berpikir beda sendiri.
Bedanya jauh pula - sangat jauh ketimbang Try dan Wiranto.

Apakah orang-orang akan heran?
Pasti.
Mereka akan berpikir :
‘Skolanya bareng, plajarannya sama, kok dia bisa beda gitu ya?’
‘Dari mana dia dapetnya itu smua. Kita kan kenal dia.’

Kondisi 2 :
Ketiga orang itu murni adalah lulusan AKMIL,
Belajar sama-sama, kurikulumnya sama,
Setelah lulus AKMIL, masing-masing kuliah lagi di tempat berbeda.

Tiba-tiba,
SBY berpikir beda sendiri.
Bedanya jauh pula - sangat jauh ketimbang Try dan Wiranto.

Apakah orang-orang akan heran?
Pasti.
Mereka akan berpikir :
‘Skolanya bareng, plajarannya sama, kok dia bisa beda gitu ya?’

Tapi bedanya,
Mereka akan punya penjelasan kenapa pemikiran SBY bisa beda dari yang lain.

Mereka akan berpikir :
‘Pmikirannya beda karena dulu dia pernah kuliah di AS ambil ampe S3. Heran sih tapi wajar lah.’

Dalam kasus Nazaret,
Yesus ditolak bukan karena pemikiranNya,
Tapi karena SIAPA DIA.

‘Cuman anak Tukang Kayu!!!’

Mana mungkin anak tukang kayu dinilai punya pengetahuan, hikmat dan kemampuan seperti itu???

Hal ini bisa terjadi karena orang-orang Nazaret tau persis siapa itu Yesus.
Bahwa Yesus tidak pernah menjalani ‘pendidikan formal’ yang lebih istimewa ketimbang kebanyakan pemuda di Nazaret.
Karena background-Nya mirip dengan pemuda lain,
Maka statusNya sebagai anak tukang kayu-lah yang jadi sorotan dan menjadi alasan mereka menolak Dia.

Berapa banyak teman Yesus yang saat itu bersama-sama sekolah di Bet Midrash??????? atau cuma Yesus sendirian?????? kenapa tidak ada cerita "alumni' Bet Midrash yang seangkatan (atau adik/kakak angkatan) Yesus, yang juga mengajar seperti Yesus?

Ya… paling gampang anda akan jawab, bahwa HIKMAT Yesus itu dari Bapa

Bukan gue yang jawab bro,
Tapi Alkitab yang mengatakannya.

Itu tgantung bro percaya ga sama Alkitab.
Ato yang biasa kita sebut dengan ‘iman’.

Lha kalau dari Bapa, kenapa Yesus harus sekolah di Bet Midrash, yang pasti pelajaran-pelajarannya sangat "Yahudi" padahal yang "Yahudi" itu yang kemudian [b]"ditentang" Yesus dalam pengajarannya[/b], apa ketika SEKOLAH, Yesus PURA-PURA setuju dengan semua pengajaran yang YAHUDI itu, dan kemudian MENGKRITIKNYA ketika sudah lulus dari Bet Midrash...

Krna Yesus itu emang orang Yahudi toh.
Ia kan saat itu mengalami hidup seperti pemuda normal.

Skarang kl dikatakan : hikmat Yesus adalah dari Bapa,
Maka perlu apa juga Yesus blajar ke Tibet, ato India ato manapun?

Yesus juga tidak menentang pengajaran Yahudi kok.
Bro cubalah mempelajari lebih mengenai isi-isi pengajaran Yesus.

Yesus dalam melakukan segala tindakanNya,
Selalu didasarkan pada ayat-ayat dari kitab Taurat Yahudi.

Yang ia tentang dan cela adalah para pemuka agama yang berlaku munafik alias menggunakan Taurat Yahudi untuk kepentingan pribadi.

Yesus juga tidak berkata bahwa Taurat Yahudi itu salah,
Melainkan menggenapinya.

Mat. 5:17
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Bedakanlah bro.

Oh ya... siapa teman seangkatan Yesus yang juga sekolah di Bet Midrash? Kenapa Yesus memilih murid-muridnya bukan dari TEMAN-TEMAN sekolahnya? apa teman2 sekolahnya nggak ada yang cocok dengan Dia?

Yang pilih para murid itu adalah Bapa.
Bukan Yesus semata.

Kalo Yesus pernah ke Tibet, India atau negara lain,
Kenapa juga Yesus ga bawa rekan-rekan belajarnya ke Israel biar pas?

Mohon maaf ya bro apabila ada perkataan yang mungkin kurang berkenan,
Masih belajar juga kok bro.
Mohon maaf juga karena postingan ini panjang :ashamed0002: :ashamed0002: :ashamed0002:.