Apakah yg dimaksud dengan 'kebenaran alkitab' ?

Banyak orang berteriak : “Semua harus berdasarkan akan KEBENARAN ALKITAB”

Lebih hebat lagi, teriakan ini sering sekali digunakan untuk mempersalahkan ajaran suatu gereja.

Kalau mau di cermati dengan seksama, kebanyakan mereka mendefinisikan ‘kebenaran alkitab’ dengan “yang menurut saya enak dengan diri saya sendiri”

Tafsiran demi tafsiran dibuat tanpa otoritas yg jelas.

Sebenarnya apa sih yg dimaksud dengan ‘kebenaran alkitab’ ?

Siapa yg membenarkan suatu ayat alkitab…?

Dalam nama YESUS, semoga kedengkian, kebencian, irihati, tinggi hati, kemarahan dan lainnya, dijauhkan dari sini, Amin.

dan Thread d i m o l a i.

Salam damai sejahtera dalam Kristus Yesus.

Kristus Yesus sendiri saat itu diutamakan hidup sempurna menurut hukum Taurat; supaya sekiranya jika ditolak (dan memang ternyata ditolak bangsa itu!) maka ia akan datang sekali lagi, untuk memberitahu hidup dalam Dua Kasih Terutama.

Dalam jaman rasul sudah sangat jelas yang diutamakan adalah pemberitaan Iniil.
Supaya bangsa-bangsa menerima Dua Kasih Terutama.

Dan setelah pengembalian orang-orang Yahudi ke tempatnya, Dia datang di antara mereka yaitu yang menerima Dua Kasih Terutama dan bukan bangsa yang mengenal hukum Taurat.

Untuk gereja-gereja sekarang seharusnya sebelum Kristus Yesus datang memang diutamakan ya seperti mula-mula yaitu memberitakan Injil.

Mengapa tujuan pemberitaan Injil berpusat pada penyaliban Kristus?

Supaya bangsa-bangsa mengaku bahwa pada mereka mula-mula memang tidak ada Dua Kasih Terutama, dan karena bangsa yang memiliki sepuluh perintah menurut hukum Taurat menolakNya, maka menjadi milik bangsa-bangsa lain.

Muliakanlah Allah dengan Dua Kasih Terutama.

Sepertinya tulisan anda berada diluar jalur alias OOT, bro.

Syalom

Kebenaran alkitab berpusat pada apa yang sang Firman (Yesus Sendiri ) firmankan dan bukan pada semua ayat (nas) dalam alkitab.
oleh sebab itu janganlah semua isi (nas) alkitab disebut "Firman Allah " yang nantinya semua nas akan dianggap sebagai kebenaran yang harus di-jalankan

Tuhan Yesus Memberkati
Han

Kejadian 26:5 karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku."
Kejadian 5 Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.
Hakim2:20 Apabila murka TUHAN bangkit terhadap orang Israel, berfirmanlah Ia: "Karena bangsa ini melanggar perjanjian yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyang mereka, dan tidak mendengarkan firman-Ku,
Yesaya 51;4 Perhatikanlah suara-Ku, hai bangsa-bangsa, dan pasanglah telinga kepada-Ku, hai suku-suku bangsa! Sebab pengajaran akan keluar dari pada-Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa.

Nah diatas adalah beberapa ayat yang menurut saya cukup signifikan dalam memahami “sola scriptura”. Kita bahwa hukum2 Elohim diberikan kepada nabi - nabi untuk ditulis dan diajarkan kepada manusia. Apakah sola scriptura berarti hanya mengikuti apa yang tertulis?? Saya kira anda terlalu “menyempitkan” arti sola scriptura. Kenapa? Karena menurut saya tidak demikian adanya. Buktinya adalah didalam kekristenan sendiri ada kelonggaran2 dalam beberapa hal. Akan tetapi yang harus anda mengerti adalah, bukan sekedar pada kata “satu satunya” tetapi kata itu mengandung makna apa?
Kata itu mengandung makna “standard”, menurut saya. Jadi sola scriptura berarti, menstandardkan “segala hal” berdasarkan alkitab, bukan sumber yang lain. Anda boleh bernubuat, anda boleh memberiitakan penglihatan, anda boleh mengajarkan apapun, “Tetapi anda tidak boleh keluar dari koridor alkitab”. Itu inti semua ini.
Mengapa protestan mengutamakan ini? Fakta berbicara bahwa beberapa bapa gereja katholik sudah “melanggar” apa yang tercantum didalamnya secara langsung. Yang bahkan terbudayakan sampai hari ini. Seperti misal: devosi terhadap maria dan doa melalui orang kudus. Mereka manusia tidak bisa menerima atau menjadi perantara kepada Elohim karena perantara kita “esa”.

  • mematerikan Tuhan. Mengambil gambar atau patung sebagai alat memanusiakan atau mewujudkan Elohim yang tidak berwujud seperti bayangan manusia, sehingga timbullah pemakaian patung berbentuk manusia atau yang lain sebagai “alat perwujudan”. Padahal hal ini ditentang disepanjang alkitab, baik perjanjian baru atau lama.
  • asimilasi budaya yang terlalu dalam sehingga merubah beberapa hal sentral yang seharusnya tidak boleh dirubah, seperti “sabat”, “pesakh bukan easter”, pemberlakuan ibadah yang tatacaranya tidak diatur didalam alkitab oleh Tuhan, contoh, rosario dan doa rosario.

Hal hal diatas adalah beberapa hal yang melanggar apa yang menjadi hukum Tuhan. Nah inilah yang ditentang oleh protestan bukan sekedar membabi buta menentang semua ajaran katholik. Karena hal hal ini jelas bukan dari alkitab maupun rasul karena tidak mungkin disatu sisi paulus mengajar penentangan terhadap perwujudan Tuhan, kemudian secara oral mengajarkan “perwujudan Tuhan”?? Saya yakin rasul paulus tidak mengajarkan itu secara lisan. Itu pasti. Ingat bahwa budaya romawi begitu kental didalam segala bidang digereja katholik, nah inilah yang ditentang, asimilasi budaya “pagan” yang terlalu dalam sehingga sampai sekarang berakar begitu kuat akhibat dari lamanya hal itu berlangsung.

Tentang pernyataan anda bahwa “sebelum kanonisasi” umat berjalan dengan ajaran “oral”, maka saya tidak melihat demikian. Karena kalau memang demikian, artinya anda sedang akan menyatakan bahwa injil baru ada setelah kanonisasi?? Padahal kanonisasi bukan “penulisan” tetapi “pengumpulan”. Demikian juga surat2 itu gak pernah ada berarti ya? Padahal sejarah mencatat bahwa surat2 itu ada dipegang oleh masing2 jemaat penerima surt tersebut dan diajarkan dimasing2 jemaat sesuai surat itu dan injil yang sudah ada. Artinya jemaat jaman awalpun menstandardkan ibadahnya berdasarkan “tulisan bukan oral”!! Anda tentu tahu bahwa jauh sebelum kanonisasi kitab2 seperti matius, markus, lukas dan yohanes sudah ada. Bahkan sebelum berakhirnya masa pelayanan para rasul sesungguhnya semua itu sudah ada dan digunakan secara umum, tetapi terpisah. Nah kanon mengumpulkannya, agar jemaat korintus tahu isi surat kepada jemaat roma, dan jemaat diluar juga tahu apa yang diajarkan rasul pada jemaat2 itu. Jadi sangat salah kalau jemaat awal berjalan hanya “berdasarkan ajaran lisan”. Sangat mengabaikan penemuan arkeologis dan sejarah. Bahkan bidat seperti gnostic pun sudah mendasarkan ibadahnya berdasarkan kitab2 mereka… Anda harus jujur dalam menilai ini.

Tentang ada tidak nya “sola scriptura” didalam isi alkitab, maka jawaban saya adalah, sama seperti “tritunggal”, apakah kata itu ada didalam alkitab? Jelas tidak ada. Lalu apakah itu menyalahi alkitab?? Kalau begitu anda menyalahi alkitab yang paling awal dong!!! Ingat tritunggal dimengerti sebagai tritunggal setelah katholik menyatakannya demikian. Walaupun praktek ibadah sudah mengenal itu tanpa “perwujudan kata itu”. Nah hal yang sama berlaku disini, sola scriptura secara kata memang tidak ada tetapi pernyataan Tuhan yang “menuntut ketaatan terhadap hukum2 Tuhan yang telh Tuhan nyatakan sebelumnya, sudah demikian jelas dinyatakan, dan beberapa saya ambil diatas”. Lalu apakah salah kalau dimengerti bahwa alkitab sebagai hukum tertulis dan firman tertulis Tuhan itu adalah satu satunya standard? Saya kira orang yang menentang itu perlu menanyakan kepada diri nya sendiri, “ada apa dengan saya”? Kenapa saya tidak mau menerima hukum Tuhan sebagai satu satunya standard?? Apa kepentingan saya atau organisasi saya disini?? Bukankah dengan tidak memandang hukum tertulis sebagai satu satunya standard maka setiap orang bisa menentukan standardnya sendiri sesuai kepentingannya?? Lalu ditempatkan dimana Tuhan kalau hukumNya ditempatkan sebagai “second opinion”??!!

Saya kira siapapun yang percaya Yesus dan alkitb harus benar2 merenungkan hal ini.

Tentang tradisi rasul, benar bahwa rasul atau nabi bagaimanapun pasti menurunkan satu metode khusus yang sesuai dengan dirinya, dalam artian bagian talenta terbesar dia akan menurun dan karunia itu akan dikenang dan boleh dilaksanakan. Tapi lihat apakah “benar itu dari rasul tersebut atau bukan”?? Bagaimana mungkin rasul paulus sujud dihadapan patung maria sementara dia “jijik” terhadap perilaku penduduk roma dan yahudi yang melakukan sujud kepada patung?? Sesuatu yang sudah pasti sampai dipenggalpun paulus tidak akan melakukannya. Dan faktanya memang paulus akhirnya mati karena iman itu bukan? Coba kalau paulus mau menyatukan kekristenan dengan agama romawi dan menyembah patung sedari awal, pasti paulus tidak akan mati, mungkin jadi “imam besar dikerajaan romawi”.
Sekarang kita lihat nabi lain, daniel, beliau melakukan puasa dengan metodenya sendiri, setiap kali dia puasa, belum tentu dia melakukan dengan metode yang sama. Terkadang sebagian puasa, terkadang penuh, terkadang sampai begitu lama, terkadang singkat, dan tradisi ini apakah tidak boleh dilakukan??? BOLEH, karena ini tradisi positif, tidak melanggar Firman Allah, dan dikenan oleh Tuhan. Lalu pertanyaannya, kenapa tradisi seperti ini justru seperti “bayang2” dalam pelaksanaan tradisi oral para rasul seperti yang anda katakan, padahal tradisi itu sendiri sangat meragukan benar berasal dari rasul?? Tradisi boleh saja, gpp, tapi tetap standardnya adalah firman Tuhan. Hukum Allah. Ketetapan Yahweh. Pengajaran dan firman Yesus Kristus. Bukankah begitu??

Jadi menurut saya, sangat tidak logis anda sebagai orang yang mengaku “percaya Yesus” tetapi tidak mengambil FirmanNya sebagai satu satunya standard, fondasi, pegangan, dalam beribadah, menyembah, memuji, berkelakuan, dan taat.

Demikian. Shalom.

Bro Joshua mengigatkan saya pada teman lama : Jericho Jerusalem.

Saya komentar begini saja ya…

Tidak ada tertulis dalam alkitab bahwa makna sola scriptura berarti menstandardkan segala hal …

Jadi kalau mengikuti pemikiran anda diatas,… maka bisa dikatakan bahwa pendapat/idea/penjelasan anda tersebut sudah TIDAK STANDARD…alias tidak sola scriptura…

he he he he… lucu juga kalau begini…

Sudah dijelaskan ajaran sola scriptura tidak tertulis di alkitab, tapi masih saja membuat argument seperti ini.

Sebagus apapun penjelasan/argument anda tentang sola scriptura, pada akhirnya akan bisa dengan mudah di sanggah. Karena memang pada dasarnya ajaran ‘hanya alkitab’ memang tidaklah sola scriptura.

@jhon
Lho, kenapa tidak disanggah kalau memang mudah disanggah?
Karena begitu anda menyanggah argumentasi saya, maka anda menggugurkan konsep “tritunggal”, anda berani?

Umat Protestan mengatakan bahwa semuanya (kebenaran) harus berdasarkan apa yang tertulis dalam Alkitab. “Tetapi,” “dimana Alkitab mengatakan bahwa dirinya adalah satu-satunya otoritas? Dan dimana Kitab Suci mengatakan Firman Allah terbatas pada hal-hal yang tertulis?”

Ada yang menyebutkan sejumlah ayat-ayat Alkitab (2 Tim 3:16,17; 2 Pet 1:20-21, dan lain-lain), tetapi tidak satupun menjawab. Bahkan ayat-ayat ini menimbulkan pertanyaan-2 lanjutan: "Bagaimana kita tahu Perjanjian Baru adalah bagian Kitab Suci? Ayat-ayat tersebut hanya merujuk pada Perjanjian Lama karena Perjanjian Baru berlum dijadikan saat itu, setidaknya tidak dalam bentuk utuh seperti sekarang. Semakin dalam kita menggali masalah ini kita berhadap-hadapan dengan fakta bahwa Kitab Suci tidak mengajarkan sola scriptura dimanapun juga.

Mereka mengajarkan doktrin Alkitab saja tetapi Alkitab sendiri justru tidak pernah mengajarkannya. Protestan mengajarkan doktrin yang tidak ada di Alkitab sementara menyangkal bahwa ada sesuatu di luar Alkitab yang juga punya otoritas. Ada yang salah disini. Dan kalau kita salah dalam hal ini, apakah mungkin kita juga salah dalam hal lainnya? Bagaimana bisa, umat Protestan menerima Kanonisasi (standarisasi) Alkitab - percaya bahwa Allah yang memberi inspirasi pada Alkitab juga memimpin orang-orang di konsili-konsili di abad ke-4 dan ke-5 untuk mengenali kitab yang mana yang merupakan inspirasi Allah, tetapi menghapuskan banyak doktrin-doktrin utama seperti Ekaristi, Pembaptisan, Suksesi Apostolik dll? Lebih jauh lagi, pada 400 tahun pertama, sebelum kanon Alkitab difinalisasi, lebih dari 1000 tahun sebelum ditemukannya mesin cetak, iman Kristen bisa terpelihara, diteruskan secara oral dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Bagaimana bisa dalam 400 tahun terakhir Kekristenan sejak masa Reformasi, dengan kanon Alkitab yang sudah ada, iman itu telah terpecah menjadi ribuan denominasi, masing-masing dengan doktrin yang berbeda dan bersaing, meskipun masing-2 mengaku “berpegang pada Firman Allah?”

Berikut saya kutip pernyataan dari orang2 Protestan sendiri akan pondasi iman mereka:

Gary Hoge:

Saya mulai mempertanyakan secara serius fondasi doktrin-doktrin Protestanisme: sola fide dan sola scriptura. Gereja Katolik memberikan argumen kuat bahwa doktrin ini tidak diajarkan dalam Alkitab, dan bahkan keduanya ditolak oleh Alkitab. Tidak hanya itu, kedua doktrin tersebut tidak diajarkan oleh siapapun sebelum gerakan Reformasi Protestan. Saya merasa argumen Protestan dalam hal ini tidak meyakinkan. Mereka tampak mengambil Alkitab diluar konteks dan mengenyampingkan ayat-ayat yang bertentangan dengan interpretasi mereka. Kadang mereka mengutip dari sumber Kristen perdana yang tampak mendukung posisi mereka, tetapi mereka mengabaikan hal-hal lain oleh penulis yang sama yang menjadikan jelas bahwa mereka tidak mendukung argumen Protestanisme. Karena Protestan adalah pihak yang memisahkan diri dari Gereja dan menuduh Gereja telah terkorupsi, saya tahu bahwa beban untuk membuktikan hal ini ada pada pundak mereka, dan sejujurnya, saya merasa mereka tidak berhasil membuat argumen yang kuat.

Makin saya mengerti teologi Katolik, semakin saya merasa bahwa Katolik lebih sesuai dengan Alkitab ketimbang teologi saya. Kenyataan ini sangat mengganggu saya karena saya sangat menjunjung tinggi Alkitab. Saya bangga sebagai Protestan Injili karena kita punya reputasi sebagai kaum yang meninterpretasi ayat Kitab Suci secara literal, dan kita sering dijulusi “Bible Christian”. Tetapi setelah saya mempelajari interpretasi Katolik, saya merasa bahwa interpretasi Katolik lebih benar dan sesuai dengan arti teks Kitab Suci, dan memang benar adanya apa yang dituliskan oleh Mr.Keating dalam bukunya.

Kaum Fundamentalis menggunakan Alkitab untuk melindungi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, yang di-interpretasikan sedemikian supaya membenarkan apa yang mereka pegang, meskipun umumnya kaum Fundamentalis percaya bahwa apa yang mereka percaya datang langsung dari teks Kitab Suci. Mereka tidak ragu-ragu untuk membaca secara diluar konteks kalau perlu demi untuk memelihara posisi mereka - posisi yang mendahului interpretasi atas Kitab Suci (pre-konsepsi).

Protestantisme, di lain pihak, berlandaskan pada dua doktrin yang tidak didukung oleh Kitab Suci, dan yang sepenuhnya absen dari sejarah Kristen sebelum Reformasi. Saya tidak melihat bahwa Protestanisme adalah kembali ke kemurnian Kristen perdana, seperti telah diajarkan kepada saya sebelumnya, karena Gereja perdana adalah Gereja Katolik. Oleh karena itu saya menyimpulkan, dengan perasaan sedih, bahwa Protestanisme bukanlah “reformasi” iman sama sekali, tetapi korupsi iman. Meskipun begitu, meskipun pemecah-belahan Gereja adalah suatu hal yang tragis, Allah telah membawa hal yang baik daripadanya. Sekarang ini, Protestan Injili adalah termasuk umat Kristen yang terbaik dan paling berdedikasi di dunia. Sulit untuk menyalahkan dalam hal ini. Oleh karena itu saya membuat suatu website untuk membantu orang-orang baik ini, para saudara-saudari saya dalam KRISTUS, untuk mengerti sebenarnya tentang Gereja Katolik.

Sumber: My Conversion Story - Gary Hoge

David Palm:

Sewaktu masih di seminari saya telah meninggalkan doktrin Sola Fide - bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja - karena bertentangan dengan Alkitab (lihat Yakobus 2:21-26, Roma 2:6-13, Galatia 5:6, Matius 12:36-37).

Pijakan terakhir saya sebagai seorang Protestan adalah ketika Sola Scriptura - doktrin yang menyatakan bahwa Alkitab sebagai satu-satunya otoritas dalam hal iman - runtuh berkeping-keping. Saya telah membaca dari buku Karl Keating dan mendengar rekaman Scott Hahn bahwa doktrin tersebut tidak diajarkan dalam Alkitab, dan bahwasanya Alkitab tidak pernah mengaku sebagai satu-satunya sumber yang otoritatif terhadap iman kita. Banyak ayat-ayat menunjukkan bahwa tradisi-tradisi dari para rasul, apakah tertulis ataupun lisan, memiliki kuasa dan bahwa umat Kristen harus percaya dan mengikutinya (lihat terutama ayat 1 Korintus 11:2, 1 Tesalonika 2:13, 2 Tesalonika 2:15, 2 Timotius 2:2, 2 Petrus 3:1-3).

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja adalah pemelihara deposit iman seperti yang diwahyukan oleh Tuhan kepada para Rasul. Demikian juga Paulus, ketika dia menyebut Gereja (dan bukannya Alkitab) sebagai “pillar dan pondasi kebenaran” (1 Timotius 3:15). Sebelumnya saya selalu mengabaikan argumen ini meskipun saya tidak dapat menjawabnya. (saya terpikir tentang 2 Timotius 3:16 tetapi ayat ini hanya mengatakan bahwa Alkitab bermanfaat bagi koreksi, latihan, dan lain-lain , tetapi ini tidak sama dengan mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber bagi hal ini).

Sumber: Journey Home - perjalanan sejumlah awam dan pendeta menjadi Katolik.
Alihbahasa oleh Jeffry Komala

Salam

Sebenarnya tanpa Kitab Suci tidak sepenuhnya lisan, sebab masih ada juga tulisan dan juga surat-surat kiriman.

Dari awal tentang umat Pilihan:
Keluaran 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Lalu Musa juga melakukan:
Keluaran 17:14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.”

Ulangan 31:22. Maka Musa menuliskan nyanyian ini dan mengajarkannya kepada orang Israel. 31:23 Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau.” 31:24 Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan,

Jaman Para Nabi
Yeremia 30:2 “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tuliskanlah segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu itu dalam suatu kitab. 30:3 Sebab, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan memulihkan keadaan umat-Ku Israel dan Yehuda–firman TUHAN–dan Aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka, dan mereka akan memilikinya.”

Yehezkiel 43:11 Dan kalau mereka merasa malu melihat segala sesuatu yang dilakukan mereka, gambarlah Bait Suci itu, bagian-bagiannya, pintu-pintu keluar dan pintu-pintu masuknya dan seluruh bagannya; beritahukanlah kepada mereka segala peraturannya dan hukumnya dan tuliskanlah itu di hadapan mereka, agar mereka melakukan dengan setia segala hukumnya dan peraturannya.

Hosea 8:12 Sekalipun Kutuliskan baginya banyak pengajaran-Ku, itu akan dianggap mereka sebagai sesuatu yang asing.

Habakuk 2:2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. 2:3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.

Jaman para Rasul juga, tentunya.

Tulisan untuk meneguhkan apa yang mereka pegang sebagai kebenaran.
Tulisan tidak akan berubah atau bergeser dari kebenaran.
Tulisan lebih dapat mewakili otoritas dibandingkan pesan berantai melalui jalur tradisi.
Walaupun untuk menyimpan suatu tulisan juga dibutuhkan suatu tradisi.

Yang paling penting adalah warisan kebenaran yang layak untuk dipercaya dan berotoritas.

Salam.

Apanya yang OOT Bruce?

Mau secara tertulis maupun tidak tetap saja tujuan rasul dan orang-orang selanjutnya hanya satu, pemberitaan Injil.

Disini kalian malah membuat topik utama bergeser.

Apa yang terutama yang harus diketahui semua orang sudah tertulis, dengan sangat jelas.

Tidak perlu lagi mencari tahu sesuatu yang tidak tertulis karena seharusnya yang tidak tertulis sama dengan yang tertulis, yaitu pemberitaan Injil.

Kitab Yohanes sendiri sudah memiliki awal dan akhir, meskipun tertulis jika mau memuat semuanya maka seluruh dunia juga tidak akan muat.

@clay
Bro, harus anda pahami dan bedakan mana “otoritas Tuhan dan mana otoritas hukum Tuhan”. Yang kita bicarakan disini adalah otoritas hukum Tuhan dan otoritas itu jelas dalam ayat2 yang saya nyatakan diatas sana. Silahkan di cek. Jadi alkitab adalah standard terhadap setiap firman yang “dianggap diterima manusia dari Tuhan”. Karena hukum dan standard firman Tuhan sudah diberikan Tuhan didalam alkitab dan setiap orang percaya "harus taat dan melakukannya. Maka demikianlah alkitab menjadi standard. Bukan membatasi kerja atau kuasa Allah tetapi membatasi kerja iblis dengan menetapkan standard yang jelas tentang firman dan dosa sehingga manusia dibatasi dari kepentingan pribadi untuk menggunakan kata “firman dan wahyu”.

Tentang bagaimana kita tahu itu kitab suci atau bukan? Kita lihat sejarah yang menyatakan bahwa injil disusun pada masa tahun 30 sampai 100 an dan ditulis oleh penulis langsung yang dalam hal ini adalah rasul atau murid rasul langsung. Itu adalah salah satu standard bahwa injil adalah “firman Tuhan”. Sama seperti PL kitab nabi dan taurat juga demikian. Demikian juga dengan surat2 itu ada dijaman awal dan ditulis langsung oleh paulus. Itu dasar awal. Sementara kenapa injil barnabas, yudas dll bukan termasuk FT karena faktanya bukan tulisan dari rasul yang dimaksud… Baca temuan arkeologisnya… Saya kira ini jelas. Dan karena injil dan surat itu sudah ada sejak jaman kekristenan awal maka tidak pada tempatnya kalau dinyatakan bahwa jemaat tidak memiliki pegangan tertulis, itu adalah kesalahan.

Tentang tidak adanya kata sola scriptura, itu benar, tetapi pernyataan tentang itu ada. Silahkan lihat jawaban saya diatas pada @jhon. Dan seperti sola scriptura, demikianlah tritunggal juga tidak ada. Apakah tritunggal juga gugur?? Berani anda menyatakan itu?

Tentang waktu, saya kira saya sudah bahas diatas kapan injil dan surat2 ditulis… Jadi menjadi sangat jelas bahwa ada pegangan tertulis jaman itu, bahkan organisasi formal pun sudah berdiri tidak lama setelah Yesus naik kesorga dan murid menjadi rasul. Karena yakobus adalah pemimpin gereja yerusalem pertama. Kalau mengacu kepada ibadah yahudi yang memang tetap dipakai saat itu oleh para rasul dalam banyak hal, tentu kita tahu bahwa didalam ibadah yahudi mereka mengedepankan “pembacaan dan pelajaran kitab kepada jemaat”. Hal hal ini harus mendapat perhatian cukup dong…

@ Jonathan.

Alkitab yang disusun tahun 30 sampai 100-an adalah perjanjian lama.

Tanakh (Hebrew: תנ"ך) reflects the threefold division of the Hebrew Bible, Torah (“Teaching”), Nevi’im (“Prophets”) and Ketuvim (“Writings”). The Hebrew Bible probably was canonized in three stages: 1) the Law—canonized after the Exile, 2) the Prophets—by the time of the Syrian persecution of the Jews, 3) and the Writings—shortly after 70 CE (the fall of Jerusalem).[citation needed] About that time, early Christian writings began to be accepted by Christians as “scripture”. These events, taken together, may have caused the Jews to close their “canon”.[citation needed] They listed their own recognized Scriptures, and excluded both Christian and Jewish writings considered by them to be “apocryphal”. In this canon the thirty-nine books found in the Old Testament of today’s Protestant Bibles were grouped together as twenty-two books, equaling the number of letters in the Hebrew alphabet. This canon of Jewish scripture is attested to by Philo, Josephus, and the Talmud.[10]

Sedangkan untuk Alkitab Kristen (termasuk PB).

Development of Christian Canons
Main articles: Development of the Old Testament canon and Development of the New Testament canon

The Old Testament canon entered into Christian use in the Greek Septuagint translations and original books, and their differing lists of texts. In addition to the Septuagint, Christianity subsequently added various writings that would become the New Testament. Somewhat different lists of accepted works continued to develop in antiquity. In the 4th century a series of synods produced a list of texts equal to the 39, 46(51),54, or 57 book canon of the Old Testament and to the 27-book canon of the New Testament that would be subsequently used to today, most notably the Synod of Hippo in AD 393. Also c. 400, Jerome produced a definitive Latin edition of the Bible (see Vulgate), the canon of which, at the insistence of the Pope, was in accord with the earlier Synods. With the benefit of hindsight it can be said that this process effectively set the New Testament canon, although there are examples of other canonical lists in use after this time. A definitive list did not come from an Ecumenical Council until the Council of Trent (1545–63).[30]

During the Protestant Reformation, certain reformers proposed different canonical lists to those currently in use. Though not without debate, see Antilegomena, the list of New Testament books would come to remain the same; however, the Old Testament texts present in the Septuagint but not included in the Jewish canon fell out of favor. In time they would come to be removed from most Protestant canons. Hence, in a Catholic context, these texts are referred to as deuterocanonical books, whereas in a Protestant context they are referred to as the Apocrypha, the label applied to all texts excluded from the Biblical canon but which were in the Septuagint. It should also be noted that Catholics and Protestants both describe certain other books, such as the Acts of Peter, as apocryphal.

Thus, the Protestant Old Testament of today has a 39-book canon—the number of books (though not the content) varies from the Tanakh because of a different method of division—while the Roman Catholic Church recognizes 46 books(51 books with some books combined into 46 books) as the canonical Old Testament. The Orthodox Churches recognise 3 Maccabees, 1 Esdras, Prayer of Manasseh and Psalm 151 in addition to the Catholic canon. Some include 2 Esdras. The Anglican Church also recognises a longer canon. The term “Hebrew Scriptures” is often used as being synonymous with the Protestant Old Testament, since the surviving scriptures in Hebrew include only those books, while Catholics and Orthodox include additional texts that have not survived in Hebrew. Both Catholics and Protestants have the same 27-book New Testament Canon.

The New Testament writers assumed the inspiration of the Old Testament, probably earliest stated in 2 Timothy 3:16, “all Scripture is inspired of God”.[10]

Penyusunan resmi mulai Abad ke-4.

Walau demikian, saya setuju dengan tulisan tentang PB tersebut dari jaman para Rasul sekitar tahun 30-100.
Tulisan itu memiliki otoritas yang jelas dari jemaat mula-mula dan dapat dipertanggung-jawabkan sebagai standar kebenaran.

Yang lain cukup berbahaya mengingat Gnostik juga sudah merajarela di kalangan jemaat mula-mula terutama di luar daerah Israel. Dan juga bahaya ajaran Yudaisme yang beredar di kalangan Kristen Yahudi, tentang hal ini tercermin dari tulisan Rasul Paulus.

Salam.

Bukankah sudah saya sanggah di atas ?

Bro berargument tanpa dasar alkitab. Jadi tidak alkitabiyah dong…

Bro berkata arti sola scriptura = menstandardkan segala hal dengan menggunakan alkitab.
Nah, alkitab saja tidak menulis sola scriptura apalagi mendefinisikan seperti yg bro katakan itu.

Sehingga jelas sekali argument anda tidak berdasar alkitab (tidak standard)

he he he…

iman…segalanya dapat terjadi karena adanya iman…

@hans
Bapak, PL itu lho sudah diterjemahkan kedalam septuagint sekitaran 300 sebelum masehi… Anda dapat data darimana PL disusun tahun 30 ampe 100 an??
Bro, artefak tertua untuk PB itu sekitar tahun 200 an. Tetapi sastra yang digunakan masih tetap sastra tahun 30 sampai 100 an. Silahkan cari datanya kalau anda tidak percaya.
Yang anda sebutkan diatas adalah “kanonisasi”, bukan penulisan.
Akan sangat aneh kalau dikatakan bahwa surat paulus ditulis tahun400 an, sementara dia hidup tahun 0 sampai seratusan… Alkitab bohong dong? Coba anda lakukan cek lagi. Paling mudah adalah data dari wikipedia. Silahkan cek disana. Atau search aja karena data itu banyak sekali.
@jhon
Saya sebutkan ayat, anda bilang tidak berdasarkan alkitab? Hehe tidak aja deh… Anda tidak mau jujur maksudnya…
Makanya saya bilang, “anda harusnya menolak keras Tritunggal”, karena gak ada didalam alkitab dinyatakan tritunggal. Sesimple itu. Disebut sola scriptura menurut saya karena hukum Tuhan menjadi standard utama dan pertama dan satu satunya, dan itu diaminkan oleh Tuhan sendiri melalui ayat2 sebagian yang sudah saya angkat. Jadi silahkan saja kalau anda masih memaksakan demikian, tetapi asal anda sudah tahu bahwa demikianlah adanya kebenaran FT meskipun kata “sola scriptura” tidak tercantum didalam alkitab.

Ini dari Wiki.

Memang tulisan Paulus tidak dari abad ke 4, melainkan dari abad pertama.

@ hans
Canonized bro… Sedangkan secara sejarah saja lukas menulis berdasarkan kitab injil awal seperti matius dan markus… Tolong bedakan penulisan dan kanonisasi.

@roderick
Apakah penyusunan kitab yang benar didasarkan atas “adanya tulisan yang menyatakan itu” atau berdasarkan kebenaran didalamnya? Seperti PL, apakah yahudi mengkanonkan PL itu karena ada tertulis 5 kitab taurat, dan berapa kitab nabi? Atau dijelaskan nabi mana yang harus diambil tulisannya? Tidak. Semua dilihat dari ajaran masing2 nabi dan kemudian yang mengkanonkan dibimbing Tuhan untuk menentukan mana yang masuk dan tidak termasuk memperoleh hikmat dan pengetahuan tentang tulisan nabi. Ingat jaman Yesaya saja banyak nabi palsu, tetapi buktinya hal itu bisa dikenali bukan?
Dan kembali, kalau hanya berdasarkan apa yang tersurat, maka “tritunggal” juga akan gugur. Beranikah anda menyatakan itu??

ngomong sama kamu membuat saya bingung, bro…

Kami (GK) tidak menolak tritunggal, natal dlll…

Koq malah kamu nuduh saya menolak tritunggal sih…???

bingung… bingung…

Bro berkata arti sola scriptura = menstandardkan segala hal dengan menggunakan alkitab.
Nah, alkitab saja tidak menuliskan sola scriptura apalagi mendefinisikan-nya seperti yg bro katakan itu.

bingung-… bingung…

@jhon
Kenapa harus bingung? Saya gak katakan anda menolak tritunggal bro, tetapi saya nyatakan, bahwa demikianlah sola scriptura secara tersurat tidak tertulis didalam alkitab tetapi dinyatakan secara tersirat dengan penetapan tuntutan ketaatan akan hukum Tuhan yang sudah diberikan secara tertulis dalam alkitab, maka demikianlah kita mengimani tritunggal dari pernyataan tersirat Tuhan tentang pribadiNya. Nah kalau sama sama tersirat, kalau anda menolak pernyataan tersirat yang satu maka anda menggunakan standard ganda dong kalau anda menerima tritunggal, padahal sama sama tersirat dalam pernyataan hukum2 Tuhan. Bukankah begitu yang saya nyatakan bro?

@roderick
Kalau anda katakan iya, silahkan berikan ayatnya didalam taurat dimana dinyatakan bahwa nabi yesaya lah yang harus dikanon, bukan nabi yang lain? Apakah ada?
Kalau gak ada, berarti bener dong bahwa kanonisasi tidak didasarkan apa yang ditentukan sebelumnya berhubungan dengan nama nabi.

Karena ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan hukum Tuhan sebelumnya. Ada beberapa hal yang aneh dan bertentangan seperti adanya hal hal “magic” yang dianggap benar didalamnya. Iya apa iya? Dan apakah israel juga tidak menggunakan itu? Sama.

Makanya acuannya adalah kesesuaian dengan firman yang dianggap benar sebelumnya. Seperti yesaya, dianggap benar karena sejarah nya dia dikenal sebagai nabi yang benar dan ajarannya sesuai dengan taurat misalnya. Menurut saya itu ya.

Siapa pake argumentasi katholik? Justru saya tidak memakai argumentasi katholik, karena kalau saya pake argumen katholik jelas saya tidk akan menyatakan itu. Masakan saya tidak mengimani alkitab sebagai satu satunya standard tapi saya berani membandingkan keduanya? Itu perbandingan, bukan memakai argumentasi katholik tapi logika simple saja. Tidak menggunakan standard ganda untuk menilai dua hal yang memiliki kesamaan dasar pemahaman yaitu pernyataan tersirat yang Tuhan berikan.