ARTI PERTOBATAN dan PERTANGGUNGJAWABAN HAMIL DI LUAR NIKAH

Syalom… selamat malam…
saya mau minta masukan dan bantuan doa dari saudara-saudara semua…

Saya mempunyai masalah… saya sedang mengandung 6 bulan oleh pacar saya, kami ingin bertanggung jawab atas masa depan anak ini (dgn cara menikah)… namun orangtua saya tidak setuju dengan pernikahan kami, dan lebih memilih jika saya membesarkan anak ini sendirian.

Sebelumnya, kami sudah berpacaran selama 7 tahun, sering terjadi putus-nyambung dan memang hubungan ini tidak direstui. tetapi, akibat tidak direstuinya hubungan ini, kami sering bertengkar dan berkata kasar. tetapi, jika kami bertemu, kami baik-baik saja.
Permasalahan hubungan kami selama ini hanya berada di restu orangtua. Baik dari saya ataupun pasangan, kami tidak pernah selingkuh dan dia selalu menginginkan saya menjadi pasangan hidupnya. Saat kami mulai berhubungan terakhir kali, terjadilah pertengkaran dan kami memutuskan untuk putus. Setelah itu, kami sudah mulai menarik diri. tetapi saya tidak menyadari jika saya hamil, saya tidak merasakan mual ataupun tanda" kehamilan lainnya, paling hanya merasakan sakit di daerah rahim. akhirnya, pada bulan agustus, saya mengontak pasangan saya dan melaporkan bahwa saya ingin mengecek apa yg terjadi dgn diri saya. kami memutuskan untuk pergi ke bidan, dan setelah itu, bidan mengatakan bahwa saya sudah mengandung, dan janin berumur 11 minggu.

saya dan pasangan sudah pernah berbicara kepada pendeta, namun hal ini terjadi sebelum saya berkata jujur kepada orangtua saya. tapi, akhirnya dengan dukungan dari pasangan, saya berkata jujur tentang kehamilan saya, dan responnya seperti yg terjadi di atas. Mereka menolak. Alasannya karena pasangan saya emosional. dan orangtua saya berkata, jika saya memilih pasangan saya, saya tidak diijinkan lagi datang menemui mereka seumur hidup, karena saya lebih memilih pasangan.

Namun, atas dasar alasan perkataan pasangan saya ini teruslah, orangtua saya ngotot
tidak merestui, dan katanya laki" ini bukan orang yg menghormati keluarga kami, karena membuat aib.
memang pasangan saya berasal dari keluarga broken home, tetapi, peceraian kedua orangtuanya bukanlah keinginan dia dan saudara-saudaranya. Tentunya, dampak yg dapat kita lihat langsung dari perceraian adalah dari segi ekonomi. Ekonomi keluarganya dan keluarga saya dapat dikatakan berbeda, sehingga, pendidikan saya dan pasangan berbeda pula. dia lulusan SMA dan saya kuliah.
orangtua saya mengatakan, jika dia menjadi suami saya, saya tidak akan bahagia, jika dilihat dari sisi pendidikan dan ekonomi.
Saya percaya bahwa Tuhan dapat mengubahkan seseorang. perkataan dan sifat seseorang dapat berubah jika ia MENERIMA Tuhan Yesus scr pribadi dan bertobat, namun orangtua saya tetap bersikeras MENGATAKAN bahwa dia TIDAK akan BERUBAH, karena sifatnya sudah terbentuk.

yang ingin saya tanyakan,

  1. apakah salah, jika kami ingin menikah dan mempertanggung jawabkan anak ini?
  2. apakah salah, jika saya memilih dia dan menentang orangtua saya? (orangtua saya lebih menekankan agar saya menaati mereka, dan menurut titah Tuhan yang ke-5 “hormatilah orangtuamu, supaya lanjut umurmu dibumi yang diberikan Tuhan Allah kepadamu”
  3. apakah dan bagaimanakah arti pertobatan yang seharusnya dan sesungguhnya? apakah pertobatan menjadi Single parent, atau menikah dan menjalani hidup dalam kristus?

Terima kasih sebelumnya atas respon dan bantuan masukan dari saudara-saudara yang terkasih sekalian…
GBU

Repot sis

Kamu memaksa untuk pacaran padahal tidak direstui oleh orang tua
Firman jelas katakan anak harus taat kepada orang tua

Maka akibat sekarang ini anggap saja konsekuensi dari keputusan kamu dimasa lalu, terimalah itu dengan besar hati, dan jalanilah dalam Kristus

Dan saya sarankan mulai sekarang kamu menuruti orang tua kamu, kamu ingin menikah diberkati Kristus dan menjalani hidup dalam Kristus, namun Firman yang sudah jelas tertulis yaitu taat kepada orang tua tidak kamu jalani, mana bisa seperti itu, kalau kamu mau diberkati dalam Kristus, ya ikuti aturan Kristus itu sendiri

Soal pertobatan emang bisa terjadi kepada semua orang, seburuk apapun orang itu
Namun saran saya pastikan dia sudah bertobat dulu jangan kamu percaya dia bakal bertobat lalu kamu nekat, tak sebanding dengan mempertaruhkan masa depanmu dan anakmu

Sadari satu hal ini sis, yang membiayai hidupmu selama ini adalah orang tuamu, bukan hamba Tuhan, bukan teman2, apalagi pacarmu, kamu bisa hidup sampai sekarang, kuliah seperti ini semua berkat orang tuamu, THEY PAY FOR YOU

Hati raja2 aja ditangan Tuhan apalagi hati orang tuamu
Engkau ditenun sejak dalam kandungan ibumu yang artinya Yesus sendirilah yang menentukan orang tuamu

Diatas semuanya itu, percayalah Yesus akan buka jalan bagi mereka yang sungguh2 mengasihi Dia
Jalani hidup dengan taat akan Firman Tuhan

Sebaiknya diteruskan ke pernikahan, itu juga bukti kalian mau bertobat
Ortu biasanya suka menentang dgn melihat yg terjadi sekarang
Utk itu buktikan kalian mau sungguh bertbat dan hidup sesuai dgn keingin Kristus
Sangat sulit utk menjadi single parent, blm lagi stigma yg akan melekat kpd anak kamu seumur hidup.
Jadi yg terbaik adl menikah, besarkan anak2 berdua, ortu biasanya bisa berubah setalah melihat perubahan dlm kehidupan kalian.

Mbak ta_jes, ikutan nimbrung nih.

Saya sendiri sangat sependapat dengan HenHen. Tapi jika teori ini saya kemukakan, orang mengatakan bahwa saya gila. Dan parahnya, bapak (almarhum) saya sendiri mengatakan saya gila. Sedikit bercerita mengenai bapak saya, beliau bener-bener suka untuk menolong orang, apalagi dengan kasus-kasus seperti Mbak ta_jes ini. Bapak sebenarnya seorang jemaat biasa, tidak memegang posisi atau ikut dalam pelayanan gereja. Tapi beliau sangat kokoh sekali dengan pandangan oikumenenya. Karena itu, beliau banyak sekali mempunyai teman dari kalangan hamba Tuhan.

Jika kasus seperti Mbak ta_jes menimpa seseorang, dan orang tersebut datang ke rumah untuk berkonsultasi, maka Bapak akan mencoba untuk menghubungi teman-temannya tersebut. Bahkan sampai-sampai beliau datangi gereja yang bersangkutan untuk meminta tolong, agar prosesi pemberkatan tidak dipersulit. Saya sebagai seorang anak, kadang sampai geram sekaligus kasihan dengan bapak. Ini dikarenakan, sering sekali kasus-kasus yang Beliau tangani tetap berujung kepada perceraian. Sementara Bapak sudah berlelah-lelah mengurus mereka.

Mereka tentunya dapat menjadi keluarga yang berbahagia, dengan catatan hubungan mereka dengan Tuhan telah pulih. Tapi ketika hubungan mereka dengan Tuhan belum pulih, maka kasus perceraian sudah menunggu. Jika tidak bercerai, biasanya isteri akan menjadi korban atas perlakuan suami. Suami yang tadinya sangat sayang sebelum menikah, sekarang malah seperti sangat gampang untuk main tangan. Ataupun bisa juga sebaliknya, isteri mulai asyik sendiri dengan dunianya dan melupakan suami.

Ketika pandangan ini saya kemukakan, beliau malah menjadi marah dan mengatakan kalau saya tidak punya niat untuk menolong seorang saudara. Yang lebih parahnya lagi, ketika lobi-lobi yang beliau lakukan berhasil, dan tanggal pemberkatan telah ditentukan, maka Bapak tidak bakalan datang ke prosesi pemberkatan tersebut. Alasannya? Sudah hamil di luar nikah, sehingga jangan kita permalukan mereka ataupun kelak membuat mereka menjadi sombong. Inilah bapak saya, pribadi yang unik dan membingungkan.

Sebenarnya saya sangat memahami alasan beliau. Anak yang lahir di luar pernikahan, akan mendapat stigma negatif dari masyarakat, yaitu ‘anak haram’. Apalagi bagi kita yang mempunyai adat timur. Dengan jujur saya katakan, jikalau saya seorang perempuan dan mempunyai kasus seperti Anda, maka mungkin saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Tapi tolong Anda pertimbangkan lagi saran HenHen di atas. Kepatuhan terhadap orangtua merupakan sebuah syarat mutlak dari Tuhan, jika Anda ingin tetap mempunyai hubungan pribadi dengan-Nya. Apapun alasan orangtua Anda yang mungkin benar ataupun mungkin salah, Anda tetap dituntut Tuhan untuk taat kepada mereka.

Dan mungkin inilah saatnya untuk Anda bertobat, yang dimulai dengan mematuhi keinginan orangtua. Saya tidak mengatakan, bahwa kelak Anda dapat menjadi isteri dari pacar Anda ini. Saya benar-benar tidak tahu. Tapi ketaatan terhadap Tuhan adalah nomor satu. Tidak ada lagi nomor satu yang lain. Mungkin saja kelak, anak Anda terlahir tanpa seorang Bapak, dan dunia akan menghina Anda serta anak Anda. Tapi bila Tuhan ada di pihak Anda, siapa yang dapat melawan? Bila hubungan Anda dengan Tuhan sudah pulih, juga hubungan pacar Anda dengan Tuhan sudah pulih, maka tidak ada kata mustahil. Entah dua tahun lagi, entah lima tahun lagi, ataupun sepuluh tahun lagi. Hanya saja, jangan kelak Anda ingin pacar Anda memiliki hubungan yang sudah pulih dengan Tuhan, agar dia kelak melamar Anda. Di sini berarti Anda sudah mencoba memanipulasi Tuhan.

Mbak ta_jes, kandungan Anda sudah memasuki usia enam bulan. Saya berharap, sekarang fokus Anda dipindahkan ke kandungan Anda. Sekaranglah saatnya Anda menikmati saat-saat sebagai calon ibu. Mulai jalan-jalan ke toko, untuk melihat pernak-pernik dan perlengkapan kelahiran si anak. Puaskan mata Anda, puaskan batin Anda. Saran saya, lihat-lihat saja dahulu, jangan langsung membeli. Jadi cukup bawa uang sekedarnya. Karena sering sekali, pernak-pernik dan peralatan yang dibeli, ternyata tidak dibutuhkan. Kecuali Anda memang mempunyai uang berlebih ;D ;D ;D

Sis Tama

yang ingin saya tanyakan, 1. apakah salah, jika kami ingin menikah dan mempertanggung jawabkan anak ini?

Salah jika pernikahan anda HANYA didasari atas alasan mempertanggungjwabkan anak dalam kandungan.

2. apakah salah, jika saya memilih dia dan menentang orangtua saya? (orangtua saya lebih menekankan agar saya menaati mereka, dan menurut titah Tuhan yang ke-5 "hormatilah orangtuamu, supaya lanjut umurmu dibumi yang diberikan Tuhan Allah kepadamu"

Maaf jika saya katakan salah, karena kesalahan yang SUDAH anda lakukan, jangan kemudian menjadi kesalahan yang akan menjadi awal dari kesalahan kesalahan berikutnya. Saran saya, patuhi ortu anda, lahirkan anak anda, dan didik dengan baik. Jangan justru anda akan mempunyai anak-anak kelak dengan masalah keluarga, misalnya perceraian, keuangan keluarga, dll.

3. apakah dan bagaimanakah arti pertobatan yang seharusnya dan sesungguhnya? apakah pertobatan menjadi Single parent, atau menikah dan menjalani hidup dalam kristus?

Pertobatan terjadi jika anda sungguh menyesali kesalahan yang anda lakukan, dan jangan mengulangi lagi.
Menjadi single parent tidaklah buruk, anda dengan pendidikan anda dan dukungan keluarga kemungkinan bisa lebih baik mendidik anak annda. Hingga saatnya tiba anda bisa bertemu dengan calon pendamping yang bisa menerima dan mengasihi anda seutuhnya lengkap dengan anak anda.

Semoga anda selalu berada dalam lindungan Tuhan Jesus.

GBU

menjadi single parent, ini sebenernya membuat saya dilema…

  1. bagaimana soal kelangsungan data anak ini? jika ingin membuat akta lahirnya? sedangkan saya tidak menikah dgn pasangan saya.

  2. jika saya berpacaran/menikah dengan lelaki lain, bagaimana jika pasangan saya ingin bertemu anaknya? saya rasa ini hal yang sulit. walaupun jika saya menjelaskan keadaan saya ke anak saya mengapa saya tidak menikah dengan bapak kandungnya. dan apakah saya tidak egois pula mementingkan keinginan hati saya dgn mendapatkan orang lain sebagai jodoh saya?

Mereka tentunya dapat menjadi keluarga yang berbahagia, dengan catatan hubungan mereka dengan Tuhan telah pulih. Tapi ketika hubungan mereka dengan Tuhan belum pulih, maka kasus perceraian sudah menunggu.
ini juga membuat saya dilema. saya takut tidak bisa menjadi pasangan yg baik atau orangtua yg baik untuk anak saya jika harus berujung perceraian.
Salah jika pernikahan anda HANYA didasari atas alasan mempertanggungjwabkan anak dalam kandungan.
jadi, selain itu harus didasari apa lagi, saudara BRC? pastinya saya menginginkan anak ini hidup di dalam tuhan.

Akta lahir anak tidak masalah, memang dalam status dia akan mennyandang nama keluarga anda.

2. jika saya berpacaran/menikah dengan lelaki lain, bagaimana jika pasangan saya ingin bertemu anaknya? saya rasa ini hal yang sulit. walaupun jika saya menjelaskan keadaan saya ke anak saya mengapa saya tidak menikah dengan bapak kandungnya. dan apakah saya tidak egois pula mementingkan keinginan hati saya dgn mendapatkan orang lain sebagai jodoh saya?

Maksud anda pasangan anda sekarang ini ingin menengok anaknya? Tergantung ijin anda, karena secara hukum anak anda adalah anak sah anda, dan dia tidak berhak secara hukum, termasuk anak anda juga tidak berhak atas hak waris ayah kandungnya. Anda sama sekali tidak egois, karena justru anda berkorban dengan menjadi orang tua tunggal, dan ayah biologis si anak tidak terlibat.

ini juga membuat saya dilema. saya takut tidak bisa menjadi pasangan yg baik atau orangtua yg baik untuk anak saya jika harus berujung perceraian. jadi, selain itu harus didasari apa lagi, saudara BRC? pastinya saya menginginkan anak ini hidup di dalam tuhan.

Ketakutan bagi anda yang masih mudah harus menghadapi dunia yang keras seorang diri dalam membesarkan buah hati anda tentulah bisa dipahami. Tetapi saya harapkan orang tua anda tidak akan meninggalkan anda menanggung sendiri, mengingat mereka lah yang juga menolak cowo anda itu.

Pertimbangan saya dalam menyarankan anda untuk lebih patuh pada orang tua anda adalah ini :

Orang tua anda justru berani bertanggung jawab terhadap kesalahan putrinya. Dengan rela ‘menanggung malu’ dibanding membiarkan anda jatuh untuk kedua kalinya. Jadi saya melihat, cinta ortu anda lebih besar dibanding cinta pasangan anda.

Alasan kedua, selama ini anda sudah sering putus sambung dan saling berkata kasar. Saya sungguh tidak bisa membayangkan kalau kelak saat sudah menikah, disaat ribut lagi, ada terlontar kata kata, ‘gua juga gak mau menikah sama elu kalau elu gak hamil’, sungguh menyakitkan tentunya.

Alasan ketiga, lebih bersifat pragmatis, saya tidak tahu apakah cowo anda sudah bekerja atau belum, tetapi kalau dengan pendidikan SMA, tentunya akan sulit untuk meraih jabatan yang tinggi, terlebih lagi latar belakang keluarganya bukanlah dari ekonomi yang kuat, sehingga tidak bisa diharapkan bekerja pada perusahaan ortu tentunya. Sedangkan ortu anda, dengan menyarankan putus, maka seharusnya bisa anda tanyakan, bagaimana dengan biaya kelahiran dan membesarkan anak anda? Siapa yang akan mengurus anak anda saat ibunya (anda) bekerja? Kalau jawaban mereka masuk akal, maka turuti kehendak ortu. Kecuali misalya, ortu anda mengatakan hal hal yang tidak patut, misalnya nanti kasih saja ke panti asuhan, maka saya akan segera menarik ucapan saya dan menyarankan anda memilih cowo anda yang rela bertanggung jawab.

Mungkin itu yang bisa saya sarankan sementara ini, sis. Saya harap ada tidak ragu ragu untuk sharing lagi jika masih ada yang mengganjal atau membuat anda gundah.

Satu hal yang perlu anda ingat, seorang anak lebih butuh orang tua yang sungguh mengasihi dirinya sepenuh hati, dan lebih baik orang tua tunggal dibanding orang tua yang tidak akur dan berakhir dengan (maaf) perceraian setelah si anak mulai paham. Suatu saat kelak, anda tentunya harus menjelaskan kepada anak anda, sebaiknya begitu si anak mulai bisa memahami, bahwa ayahnya pergi saat dia masih bayi. Tetapi tentunya tidak perlu anda kisahkan jika saat itu anda sudah mempunyai pasangan yang bisa mencintai anda dan bayi anda apa adanya, dialah ayah si anak. Kisah cowo anda sekarang biarlah menjadi masa lalu yang tidak perlu diungkap lagi, kecuali pada calon suami anda kelak, dimana anda harus berani jujur menyampaikan apa adanya.

Syalom

tetapi, jika dilihat dari posisi si laki-laki, apakah ini adil?
karena jujur saja, jika saya menjadi pasangan saya, saya tidak mungkin tidak bersedih, jika tidak bersatu dgn anak atau pasangan. dan rasanya sedikit canggung jika bertemu anak tetapi melihat pasangan saya dengan orang lain.

Sis, apa yang anda alami sekarang ini adalah akibat dari kesalahan anda berdua. Seandainya anda berdua taat, tentunya peristiwa seperti ini tidak akan terjadi.

Pasangan anda sedih? Mungkin, tetapi sepertinya tidak lama, jangan jangan dia malah lega, karena ‘terbebas’ dari tanggung jawab yang berat. Dia bisa bertemu dengan gadis lain manapun, dan tidak perlu menceritakan kisah kelam yang pernah terjadi. Dan jangan lupa, dia tidak terikat seperti anda yang selama sembilan bulan hidup menyatu dengan bayi anda. Ikatan pria terhadap anak yang belum pernah dilihatnya tidaklah sekuat cewe yang mengandung si anak selama 9 bulan.

Sedangkan anda, anda yang harus menanggung seumur hidup anda, menanggung beban ‘malu’ kepada para tetangga nyinyir yang mungkin bergossip, menanggung beban mengisahkan cerita ini kepada calon suami anda kelak, mengisahkan juga kepada anak anda kelak.

Jadi, dalam hal ini anda harus berpikir realistis, keculai pasangan anda sekarang sudah mapan dan siap secara moril dan materiel. Kalau belum siap, percayalah, suatu saat anda akan dihadang gelombang rumah tangga dahsyat yang mungkin berujung pada perceraian. Maka, daripada bercerai nanti, jauh lebih baik bercerai sekarang.

Oya, ada satu alternatif solusi lagi, yang sepertinya tidak saya anjurkan. Yakni langsungkan pernikahan pura pura, setelah si anak lahir, maka anda berdua bercerai. Tetapi, tidak saya anjurkan, karena anda melakukan kesalahan lagi, yakni dalam hal berpura pura di hadapan Tuhan. Dan dalam hal ini jelas suami anda punya hak terhadap anaknya. Dan ini akan membawa konsekuensi hukum pula. Jadi lebih repot dan salah secara agama.

Terus berdoa ya sis, minta anda dikuatkan oleh Tuhan dalam menghadapi beban ini, juga jangan lupa mohon pengampunan dariNya. Doakan juga bayi yang anda kandung sekarang, agar menjadi anak yang taat pada orang tuanya dan Tuhan, agar menjadi anak yang memberi kebahagiaan bagi orang tua dan kakek-neneknya. Doakan juga orang tua anda agar menyayangi cucunya.

GBU

Sis, laki-laki yang bertanggung jawab tidak akan menghamili wanita yang tak dinikahinya

laki-laki yang bertanggung jawab tidak akan memaksakan kehendaknya

laki-laki yang bertanggung jawab tidak akan menentang keinginan orang tuanya / mertuanya, apalagi sampai mengajak untuk berontak / kawin lari

Jika memang laki-laki tersebut benar2 sadar dan ingin bertobat, semua nantinya terlihat kok, jikalau setelah mendengar keputusan anda untuk taat kepada orang tua, lalu dianya santai2 aja dan bilang “ya udah” tanpa ada usaha apapun, udah jelas dia type orang yang melepas tanggung jawab

Tapi kalau dia benar2 mau bertobat, maka dia akan menunjukkan kepada anda dan orang tua anda bahwa “akulah satu2nya yang berhak menjadi ayah dari anak saya dan suami dari istri saya” dia akan tetap menafkahi anda dan anak anda meskipun status anda belum resmi menikah, bersikap sopan dan berusaha meyakinkan orang tua anda untuk memberikan restu menikah dengan anda, jika hal ini dilakukan terus menerus, bukan tak mungkin orang tua anda luluh hatinya suatu saat, ini jauh lebih baik dan lebih aman ketimbang anda mempercayakan hidup anda kepada laki-laki yang (kelihatannya) tidak mau bertanggung jawab dan membuat anda sampai menentang orang tua anda sendiri

Dan percayalah satu hal ini sis :
Orang yang melakukan Firman Tuhan, hidupnya itu Tuhan sendiri yang jaga, Tuhan sendiri yang bela
Karena itu tidak bisa tidak, taatilah orang tuamu, biarkan Tuhan ambil kendali atas hidupmu

Mbak ta_jes, berdoa terus dan terus berdoa.

Mbak tidak bisa menanggung beban ini seorang diri. Tolong, tolong benar pandangan Anda diarahkan ke salib-Nya. Begitu banyak khotbah-khotbah yang telah diberikan kepada kita, kalau fungsi salib adalah seperti ini dan seperti itu. Tapi begitu sedikit dari kita yang menanggalkan beban kita ke salib-Nya.

Mbak ta_jes, tangan Tuhan Yesus terbuka ketika Dia disalibkan. Dan tangan-Nya terus terbuka sampai hari ini. Tanggalkan beban Anda ke Dia, Dia sendiri yang menyuruh kita. Dia akan menopang beban Anda, sedangkan Anda dan kami di sini tidak sanggup untuk menopangnya. Ambil paku Anda dan palu Anda, lalu tusukkan paku Anda ke tangan-Nya. Dia sanggup menahannya. Anda dan kita di sini tidak sanggup. Biarlah ketakutan dan kekuatiran Anda, Anda pakukan ke tangan-Nya. DAN PERCAYALAH, Dia sendiri yang akan menyertai Anda senantiasa, bukan kami di sini.

Saya benar-benar berharap, Anda boleh mengerti apa yang Henhen, Pak brc, dan saya maksud. Kami bertiga mempunyai kulit yang berbeda (Henhen Kharismatik, Pak brc Khatolik, saya Protestan) tentunya ikut berharap, agar hubungan Anda dengan-Nya kelak boleh dipulihkan kembali.

Mbak ta_jes, berdoa terus dan terus berdoa…