Artikel

PEMAHAMANKU TENTANG PERTOBATAN.
OLEH : Yon Maryono

Sejak saya banyak membaca referensi tentang dosa, termasuk ayat-ayat Alkitab terkait tentang kuasa dosa yang berakibat murka Allah, saya memahami dosa masih dalam batasan intelektual. Artinya saya memahami dosa dalam batasan kerangka pikir logis, belum menyentuh hati yang merupakan sinergi emosi dan kehendak untuk meninggalkannya. Ya, hati saya kurang tersentuh murka Allah yang menakutkan akibat dosa. Saya masih selalu mengulang kebohongan, sikap iri dengki, dan bentuk perbuatan tercela lainya yang tidak terkendali keluar dari hati yang busuk. Keinginan duniaw melalui pengaruh mata, telinga, mulut dan lidah sebagai indra perangsang terhadap pikiran, telah menutup mata hati rohani saya terhadap keinginan sorgawi.
Faktanya, latar belakang kehidupan manusia sangat menentukan terhadap proses pertobatan. Banyak tokoh-tokoh Kristen dari agama lain dipakai Tuhan secara luar biasa dengan berbagai proses pertobatan yang berbeda. Tanpa melalui data survey atau statistik tentang pertobatan, kesimpulan sementara saya adalah pertobatan oleh karena ujian atau penderitaan lebih banyak terjadi didalam kehidupan orang percaya yang telah mengenal Kristus. Mengapa ? manusia semakin bebal dan tertutup mata rohaninya untuk menerima Firman Tuhan. Sehingga perlu cambuk seperti anak lembu yang tidak terlatih.

Mengapa perbuatan dosa itu masih sering diulangi?
Apakah ini misteri ! Bagi saya yang telah memperoleh pengetahuan kebenaran tentang Firman Allah, seolah-olah saya mempunyai warisan emas permata tetapi hidup saya sebagai pecundang, seorang yg tidak bisa menerima kekalahan dan menghalalkan segala cara untuk memenangkan persaingan. Mempunyai warisan kebenaran tetapi tidak mengetahui manfaat apa yang saya miliki. Akal saya, yang telah diterangi oleh kebenaran itu, tidak bernyala-nyala menerangi hati guna memperoleh kerinduan akan maksud Firman Allah . Akhirnya, saya tidak dapat menikmati warisan kebenaran itu dengan sempurna, dan selalu mengulang perbuatan tercela. Ini ibarat saya menyesal akan dosa-dosa saya tetapi tidak mempunyai keinginan untuk meninggalkanya. Ternyata saya tidak mengerti bahwa tanpa pertobatan pada diri saya tidak akan membawa saya kepada keselamatan. Adalah kebohongan atau kemunafikan belaka saya mengaku percaya kepada Kristus.

Kadang saya renungkan, kalau begitu, factor apakah yang menghalangiku untuk bertobat sungguh-sungguh ?

Pertama, kedangkalan tentang pengetahuan kebenaran Firman Allah. Ketidak tahuan tentang pengetahuan kebenaran firman Tuhan berakibat rendahnya wawasan tentang hakekat pertobatan. Tidak pernah ada beban rasa takut terhadap murka Allah atas dosa.

Kedua, masabodoh artinya tidak secara sungguh-sungguh memperhatikan segala konsekuensi dosa yang berakibat hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan alam sekitarnya terganggu bahkan putus. Masa bodoh, sungguh membuat saya bodoh, dan masuk dalam pola hidup sembarangan,. Hal ini bermakna, saya tidak taat kepada Allah dan tidak mempunyai rasa haus dan lapar akan kebenaran Firman Allah. Akhirnya bertobat setelah dalam keadaan terdesak karena beban segala persoalan telah menimpa,

Proses pertobatan.

Saya dihadapkan pada masalah dituntut 9 tahun divonis 4 tahun, selanjutnya dibebaskan dan dinyatakan murni tidak bersalah ditingkat banding, semata-mata karena karya Allah. Saya bersaksi sungguh benar-benar karya Allah, karena dalam proses Pengadilan tidak seorangpun baik Pimpinan dan staf membantu bahkan menyudutkan, dan rekan dikalangan Politik yang saya kenal menjauh karena kuatir tersentuh reputasinya. Pada saat diproses rohani saya di tahanan selama 11 bulan, Tuhan telah mebukakan mata saya, ternyata tidak satupun manusia yang mampu menolong, dan Tuhan menyentuh para hakim ditingkat kasasi untuk membebaskan saya. Peristiwa ini mendorong saya berbalik kepada Allah ; mendorong pada pertobatan, yang semata-mata diprakarsai oleh Allah.
Pada awalnya, setelah berbagai pihak tidak membantu bahkan menyudutkan ditingkat Pengadilan negeri, saya sudah hancur dan cucuran airmata seluruh keluarga sekirbat Tuhan, saya berserah kepada Tuhan dan mulai menulis pergumulan. Saya membaca Kitab
Yeremia 31 : 18-19 :

Telah Kudengar sungguh-sunguh Efrain meratap,
Engkau telah menghajar aku,
dan aku telah menerima hajaran ,Seperti anak lembu yang tidak terlatih
Bawalah aku kembali, supaya aku berbalik
Sebab Engkaulah Tuhan Allahku
Sungguh sesudah aku berbalik aku menyesal
Dan sesudah aku tahu akan diriku,
Aku menepuk pinggang, sebagai tanda berkabung
Aku merasa malu dan bernoda
Sebab aku menangung aib masa mudaku

Saya mengerti sekarang, ungkapan : menerima hajaran, bawalah aku kembali, dan supaya aku berbalik, adalah ungkapan berserah kepada Tuhan, karena hanya kepada Allah ada pengharapan bagi umat yang bertobat dalam hadapi hajaran atau ujian. Ujian kesabaran, ketika permasalahanku tidak segera berakhir ; Ujian waktu ketika Tuhan belum menjawab doa saya ; ujian Firman Tuhan ketika Firman bertentangan dengan keinginan, mengapa ? ada keinginan menggunakan mamon untuk penyelesaian persoalan, ternyata saya juga tidak mampu. Akhirnya saya tertelungkup berserah.

Didalam tahanan, saya sering menerima kiriman buku-buku rohani dari teman-teman yang salah satunya buku Harold M. Freligh yang mengulas proses pertobatan. Ada 3 (tiga) tahapan yang telah membentuk pertobatan dalam pergumulan saya :

Pertama, Pengetahuan dan pemahaman saya mengenai dosa dalam Alkitab dan referensi buku rohani ataupun referensi lain seperti dari khotpah pendeta melalui radio sepanjang malam sebagai teman di kamar tahanan mungkin lebih dari cukup. Seperti dalam Galatia 5 : 19-21, apa yang dimaksud dengan perbuatan daging dan keinginan hawa nafsu dan ayat 22-23 mengajarkan apa yang seharusnya kita lakukan jika hidup dalam Roh adalah kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri yang punya Kerajaan Allah. Hal-hal dimaksud saya pahami dalam sisi intelektual saja.

Kedua, Kemampuan emosional saya belum tersentuh. Perasaan malu dilingkungan masyarakat dan rekan sekerja mulai menyentuh. Surat Rasuli Galatia 5:19-23 telah menyadarkan dan mendorong kecemasan karena dosa. Ketakutan akan tindakan bernoda tidak terbatas pada persoalan yang sedang saya hadapi tetapi juga perbuatan yang tidak terkendali dalam kehidupan. Perbuatan dosa adalah ungkapan yang menyentuh emosi, apalagi perasaan takut itu juga dilandasi bahwa akibat dosa menyebabkan murka dan mendukakan Allah. Emosi saya tersentuh, untuk tidak mengulangi segala perbuatan tercela dihadapan Tuhan.

Ketiga, kehendak. Kemauan atau keinginan saya dengan sungguh-sungguh melepas dan tidak mengulangi dosa. Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi ( Amsal 28:13).

Dari gambaran dimaksud, apa yang diuraikan Harold telah terjadi pada pergumulan pertobatan saya. Ketiganya merupakan segitiga sama sisi dengan alas kehendak artinya keinginan meninggalkan dosa merupakan hal yang terpenting dalam pertobatan, sisi intelek dan emosi tidak cukup tanpa kehendak melepaskan dosa. Tauladan yang sempurna tentang “kehendak” adalah sikap Zakheus mengembalikan empat kali lipat apa yang sudah diperasnya ( Lukas 19:18). Sekarang, saya ingin mengisi sisa-sisa waktu hidup dengan berusaha melakukan kegiatan semampu saya yang berkenan dihadapan Allah. Tetapi sikap ini, sekali lagi bukan upaya atau usaha saya melakukan perbuatan baik untuk menebus dosa. Karena dosa saya telah ditebus lunas oleh Kristus, tetapi ini semata-mata hanya karena anugerah Allah

Dari pengalaman saya, berbahagialah bagi mereka yang bertobat karena , pemberitaan Firman Tuhan, tanpa melaui pergumulan dalam Penjara atau Tahanan. Contoh, orang-orang Niwewe bertobat oleh sebab Firman Tuhan yang dikhotbahkan oleh Nabi Yunus ( Yunus 3: 4-8); seperti dalam Khotbah Petrus, akhirnya orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem bertobat dan dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa ( Kisah Para Rasul 2 : 14-40).  Dan  Penglihatan tentang Allah pada diri seseorang  seperti Ayub mengatakan : Hanya dari orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu ( Ayub 42 : 5-6). Demikian pula, kisah Saulus bertobat diawali penampakan Yesus Kristus dalam cahaya terang dilangit ( Kisah Para Rasul 9: 3-18).  

Bagaimana bobot pertobatan kita ?
Ada Pendeta yang menanyakan kepada jemaatnya : “Bagi saudara yang telah bertobat angkat tangan”. Semua jemaat dengan meyakinkan angkat tangan. Kadangkala saya berfikir, bagaima bila Pendeta itu bertanya : “Bagi jemaat yang masih berdosa angkat tangan !”. Apakah yang akan terjadi, apa Jemaat angkat tangan. Banya orang terlalu berat mengakui dosanya, padahal perbuatan tercela masih bagian dalam hidupnya. Mengapa orang merasa bertobat masih merasa berdosa ? Karena masih “merasa” bertobat dan tidak sunguh-sungguh bertobat untuk melepas dosa. Pertobatannya masih dalam tataran intelektual. Ibarat seorang anak, yang mengetahui bila berbuat sesuatu kesalahan, pasti orang tua marah. Dia pada dasarnya takut terhadap kemarahan orang tua bila berbuat kesalahan, bukan takut terhadap kesalahan itu sendiri. Disini, anak belum sampai tataran emosional yakni ketakutan akan berbuat salah sehingga akan selalu mengulang kesalahannya selama orang tua tidak mengetahuinya. Itulah kita, takut murka Tuhan tetapi tidak takut akan perbuatan dosa. Hal ini karena pemahaman dosa di sisi intelektual kita belum menyentuh emosi yakni perasaan takut berbuat dosa yang mengakibatkan murka Allah. Jadi sisi emosi sangat erat kaitannya dengan sikap mental kita terhadap dosa. Apabila sisi emosi belum tersentuh, maka sisi kehendak atau keinginan sesorang untuk meninggalkan atau melepaskan perbuatan dosa akan sulit diharapkan, sehingga wajar terjadi perbuatan dosa yang berulang. Dalam posisi ini, manusia seolah menyesal akan dosanya tetapi hatinya tidak pernah hancur dan berbalik kepadaNya.

Dengan demkian, pertobatan yang sungguh-sungguh melibatkan tiga sisi intelektual, emosi dan kehendak. Tapi nalar Alkitab menjelaskan bahwa Allah berperan dalam pertobatan. Jika ketiga sisi itu sudah bergerak di dalam seseorang artinya jika dia berkemauan dan bekerja sesuai kehendak Allah, maka Allah yang mengerjakan didalam dia, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya. Allah sendiri yang memampukan dan memotivasi dia melakukan itu. Pertobatan bukanlah tindakan instan yang berlaku untuk seterusnya tetapi merupakan gaya hidup sehari-hari orang percaya.

.