Asal ada Makanan dan Pakaian, Cukuplah...

Akibat pertama begitu dosa masuk ialah manusia menyadari dirinya telanjang, sehingga mereka segera merasa malu dan mereka membuat pakaian untuk menutupi diri. Jadi, pakaian adalah untuk menutupi, bukan untuk berpamer. Dalam catatan Alkitab, orang yang telanjang merupakan perkara yang memalukan dan tidak pada tempatnya. Kejatuhan Adam dimulai dari tidak perlu mengenakan pakaian sampai perlu mengenakan pakaian (Kej 3:7). Kejatuhan Nuh karena ada pakaian tetapi tidak dipakainya (Kej 9:21)

Atas pakaian-pakaian kita, sebagai orang-orang yang percaya, harus ada citra dan rasa surgawi, jangan menampilkan citra duniawi. Jangan sembrono seperti orang dunia, pun jangan terlalu mewah seperti mereka. Kita seharusnya memiliki corak surgawi yang dapat menyatakan bahwa kita bersama pakaian kita sudah dikuduskan. Itulah yang benar. Makan makanan pun ada prinsipnya, yaitu untuk memelihara tubuh. Sebagai anak-anak Allah, kita harus belajar mengetahui bahwa makanan adalah untuk merawat tubuh, yaitu memelihara hayat jasmani kita.

Anak-anak Allah harus memperhatikan, yaitu “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Tim 6:8). Semoga dalam masalah pakaian dan makanan ini, kita sebagai anak-anak Allah mengetahui bagaimana mempertahankan kesaksian kita di hadapan manusia.

:angel:

Maksudnya sis, yang ingin dibagikan itu kira-kira apa?

Salam… :smiley:

Hehehe… jadi maksudnya sebagai anak-anak Allah sepatutnya kita tidak lagi berperilaku seperti orang dunia. Dalam hal pakaian dan makanan, seringkali orang dunia mementingkan gengsi pribadi. Makan di restoran mewah agar orang lain tahu. Atau mungkin tidak bisa bersyukur atas makanan sederhana yang dimakannya.
Dalam hal berpakaian seringkali orang dunia rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli baju, hanya untuk apa? pamer… kita sebagai anak Allah tidak seharusnya seperti ini… seperti yang dikatakan, “asal ada pakaian dan makanan, maka cukuplah…”

semoga membantu sis :slight_smile:

:afro:

Saya rasa tidak ada yang salah dengan makan di restoran yang mahal, punya mobil mewah, tinggal di pemukiman elit, ataupun punya jet pribadi. Yang jelas janganlah tinggi hati bila memiliki semuanya itu, tetap bersyukur akan apa yang dimiliki, dan selalu sadar bahwa semua itu adalah berkat Tuhan. Jangan juga menjadikan hal-hal tersebut sebagai tujuan hidup, sehingga akhirnya kita terjebak kepada berbagai-bagai kejahatan seperti korupsi dan manipulasi. Dan jangan lupa, kepedulian sosial tidak boleh dihindarkan. Ada banyak orang yang kurang beruntung seperti kita.

Salam.
:slight_smile:

Memangnya masih ada yang seperti itu ya? Wah…saya sih makan biar kenyang, lagian siapa yang mau lihat kita makan dimana?

Saya bukannya sombong, tetapi pake baju murah memang kurang enak dipakai, tetapi bukan berarti anda ga boleh pake baju murah, silakan saja, ini bicara kualitas saja, kalau memang ada uang, ya belilah yang berkualitas.

Salam… :slight_smile:

Kembali kepada masing-masing pribadi. Bagi sebagian orang baju dengan merek A itu biasa saja, dan bari sebagian lagi merek itu terlihat mahal. Demikian juga saat makan di restoran B, baginya itu biasa saja, dan bagi sebagian orang itu mewah. Saat seseorang mulai menghakimi orang lain, adalah baik jika ia juga menghakimi dirinya sendiri, menguji apakah dunia telah menggentarkan hatinya?

Bagi saya seseorang yang makan di warung tepi jalan dan makan di resto besar di seberang jalan adalah sama saja. Tidak lebih mewah dan tidak lebih ‘kere’ (miskin). Masing-masing mengucap syukur atas berkat yang diberikan oleh Tuhan dan masing-masing menikmati makanan yang menjadi bagiannya. Demikian juga dengan berpakaian, saat ia membeli kaos di Ramayana dan seorang lagi membeli di Butik atau Sogo, sama saja bagi saya. Sebab apa itu pakaian, apa itu makanan? Semua adalah barang yang fana.

Saat saya berjumpa dengan seseorang yang mengkritik pedas dan memaki gembala sebuah gereja, karena ia seorang dari gereja pentakosta dan tentu tentang uang alias perpuluhan dan berkaitan dengan melimpahnya harta sang gembala, maka saat saya uji hatinya dan ternyata dasarnya adalah iri hati, ia iri melihat kekayaan gembala itu bertambah sedangkan ia tidak. Demikian juga saat seseorang teman menggatakan yang buruk tentang temannya yang baru membeli sebuah mobil baru yang cukup mahal, selidih hati menemukan bahwa ternyata ia juga ingin mobil itu tetapi tidak dapat, dan iri hati membuat ia merasa terganggu dengan segala kelimpahan dan gemerlap dunia ini.

Jika hati kita ada pada Kristus, bukan ada pada dunia ini, kita tidak akan pusing dengan kekayaan dan kemewahan orang lain, dan jika didalam hati ada pada dunia ini, maka kita akan mengkritisi semua orang kaya dan memaksa mereka untuk hidup melarat dan menetapkan standarat berpada sesuai dengan standartnya sendiri.

Ingat kaya dan miskin itu Tuhan yang menjadikan, limpah dan kekurangan itupun Tuhan yang mendatangkannya, jika kita terusik dengan harta dunia ini, maka hati kita bukan pada Kristus tetapi masih ada pada dunia ini.

PAPAN nya gimana Sis ?

1Ti 6:8 Asal ada makanan dan pakaian (skepasma), cukuplah.

Kata ‘skepasma’ berasal dari kata ‘skepas’, yang artinya ‘pelindung’. Jadi makna kata skepasma bisa berarti segala sesuatu yang melindungi; pakaian maupun pernaungan.

:slight_smile:

Matius 6:25
Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

Ayat itu menjelaskan kepada kita, soal keselamatan saja Tuhan sudah jamin, apalagi soal makanan dan pakaian, hidup itu lebih penting, kita selamat ditebus Allah. Itu lebih penting daripada makan dim sum.

Tubuh yang kita punya ini sempurna diberikan Tuhan, itu pun lebih berharga daripada pakaian, makanya Tuhan bilang asal ada makanan dan pakaian cukuplah.

Soal papan? Ya terima kasih atas penjelasan bro isaac, cukup menjelaskan. Jadi kalau sekarang masih kontrak rumah, jangan kuatir itu cukup.

Salam… :smiley:

so mantap kale kau Bro.

yg penting ada sambel dulu !!! tinggal nyari daun2 an. :azn: :azn: :azn:

ya ayat ini juga berbicara tentang kekudusan berpakaian bukan ?

Akibat pertama begitu dosa masuk ialah manusia menyadari dirinya telanjang, sehingga mereka segera merasa malu dan mereka membuat pakaian untuk menutupi diri. Jadi, pakaian adalah untuk menutupi, bukan untuk berpamer. Dalam catatan Alkitab, orang yang telanjang merupakan perkara yang memalukan dan tidak pada tempatnya. Kejatuhan Adam dimulai dari tidak perlu mengenakan pakaian sampai perlu mengenakan pakaian (Kej 3:7). Kejatuhan Nuh karena ada pakaian tetapi tidak dipakainya (Kej 9:21)

Atas pakaian-pakaian kita, sebagai orang-orang yang percaya, harus ada citra dan rasa surgawi, jangan menampilkan citra duniawi. Jangan sembrono seperti orang dunia, pun jangan terlalu mewah seperti mereka. Kita seharusnya memiliki corak surgawi yang dapat menyatakan bahwa kita bersama pakaian kita sudah dikuduskan. Itulah yang benar. Makan makanan pun ada prinsipnya, yaitu untuk memelihara tubuh. Sebagai anak-anak Allah, kita harus belajar mengetahui bahwa makanan adalah untuk merawat tubuh, yaitu memelihara hayat jasmani kita.

Anak-anak Allah harus memperhatikan, yaitu “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Tim 6:8). Semoga dalam masalah pakaian dan makanan ini, kita sebagai anak-anak Allah mengetahui bagaimana mempertahankan kesaksian kita di hadapan manusia.

Topik ini menarik. “Asal ada pakaian cukuplah”. “Hidup lebih penting drpd makanan, pakaian”
berarti orang tidak perlu sekolah, tidak perlu punya motor/mobil, tidak perlu punya HP?

Apakah perkataan itu di katakan hamba Tuhan pada waktu itu dimana blm ada pendidikan dan kemajuan teknologi ?
Bagaimana dgn anda sendiri?

Coba baca konteks ayat ini

II Timotius 6
7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.
8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.
9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebutuhan fisik manusia yang utama (primer) adalah sandang dan pangan. Manusia perlu punya makanan sendiri, perlu punya baju sendiri, kalau papan (rumah) masih bisa ngontrak atau ngekos atau tinggal di “Pondok Mertua Indah”. :wink:

Bicara soal kebutuhan manusia, tidak akan ada batasnya. Dulu pesawat telepon cukup satu ada di rumah, sekarang satu orang bisa punya HP dua bahkan lebih. Pertama kali ada HP cukup bisa teleponan saja, SMS pun belum dikenal. Sekarang, sudah banyak smartphone berbagai jenis dan merk yang bisa kirim e-mail, kirim foto, chatting, dsb. Begitu juga dengan kendaraan, pendidikan, atau hiburan.

Apakah itu kebutuhan manusia? Ya, jaman sekarang itu memang menjadi kebutuhan, tetapi bukan yang primer. Karena itu rasul Paulus mengingatkan bahwa prioritas utama dalam memenuhi kebutuhan hidup adalah makanan dan pakaian. Yang lain-lain itu opsional. Jangan sampai kita bernafsu ingin memiliki segalanya sehingga jatuh ke dalam dosa. Banyak orang melakukan korupsi bukan karena “need” tetapi karena “greed”. Karena itu rasul Paulus menyadarkan kita, apa yang menjadi kebutuhan primer dalam hidup.

Kalau saya melihat ayat itu dalam maknanya aja,bro…
Jangan menuruti hawa nafsu dan tamak, bukan benar2 asal cukup makanan dan pakaian.
Asal cukup makanan dan pakaian bisa berlaku di kondisi ekstrem aja misal perang, bencana, atau kelaparan.
Dalam keadaan normal, manusia setidaknya perlu pendidikan, dll yang di luar makanan dan pakaian, terbukti di masyarakat ada orang tua golongan tdk mampu meminjam uang utk biaya kuliah anaknya, juga ada orang yang meminjam uang untuk biaya RS…