Ayat yang mempunyai 2 kata kunci, bolehkah kita ambil 1 dan abaikan yang lain.

Kalau kita membaca Alkitab, sering ditemukan didalam satu ayat atau perikop terdapat dua kata kunci.

Pertanyaan.

  1. Apa yang harus kita lakukan dengan kedua kata kunci itu ?

  2. Bolehkah kita hanya memilih satu dan mengabaikan yang kedua ?

Contoh:
Yoh.6:35,
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu. ia tidak akan haus lagi.”

Di ayat ini kita temukan 2 katakunci yaitu “lapar” dan “haus.”

Contoh lain:
1Kor,11:25.
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku !”

Di ayat ini kita temukan 2 katakunci yaitu: “perjanjian baru yang dimeteraikan” dan “peringatan”.

Apa tanggapan anda,
terima kasih.

Bagaimana kita bisa menentukan mana yang kata kunci dan mana yang bukan?
Bisa saja saya menganggap A sebagai kata kunci, tapi Anda menganggapnya bukan kata kunci.

Salam

Dear Gibson,

Benar, memang untuk memilih kata kunci, sifatnya relatip, tergantung orang yang menentukan.

Akan tetapi kalau kita sudah menentukan satu kata kunci, kemudian ada kata yang lain yang tarafnya sejajar atau lebih, maka ini yang saya tanyakan.

contoh;
Yoh.6:35,
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu. ia tidak akan haus lagi.”

Disini kita ambil kata kunci: “lapar”
Disamping kata lapar, ada kata lain yang setaraf, yaitu: “haus.”

Kalau kita ambil kata kunci: “roti hidup”
Disamping kata roti hidup, ada kata lain yang setaraf, yaitu: “percaya.”

Demikian maksud topiknya.

Kalau begitu, saya pikir jawaban pertanyaan Anda juga relatip.
Orang bisa mengambil hanya satu kata kunci (dan mengabaikan yang lain), bisa juga lebih dari satu. Tergantung orang yang menentukan.

Salam

Dear Gibson,

Anda benar, karena sifatnya relatip, maka bisa saja orang hanya mengambil satu dan yang lain dianggapnya tidak ada.
Orang mau mengambil satu atau keduanya, boleh-boleh saja, tentu tidak ada yang melarang.
Akan tetapi, kalau kita benar-benar sejujurnya berniat membahas Kitab Suci, sebaiknya setiap ada kata yang penting yang bisa dipakai sebagai kata kunci, jangan diabaikan, sebab ada kemungkinan kata tersebut terkait erat dengan kata kunci yang kita pilih.
Sehingga kita bisa mendapatkan jawaban yang jelas dan lengkap.

Demikian, pendapat saya.

Jika tergantung orang yang menentukan, maka kata yang penting pun relatif. Yang penting bagi satu orang belum tentu penting bagi yang lain.

Jawaban yang jelas dan lengkap juga relatif. Ada yang sudah cukup dengan dua-tiga kata kunci, ada juga orang yang merasa perlu untuk mengeksplorasi semua kata.

Salam

Dear Gibson,

Yang anda katakan, benar dan tepat sekali.

Itulah sebabnya mengapa dengan Alkitab yang sama, sampai sekarang bisa tumbuh lebih dari 30 ribu denom kristen.

Shalom.

Apakah berarti topik ini sudah terjawab?

Salam

Dear Gibson,

Tidak, belum terjawab.

Maksud dari Topik bukan masalah denom, akan tetapi saya ingin mengajak kepada teman-teman, bagaimana cara menggali Ayat Kitab Suci, agar kita bisa menemukan apa yang tersirat didalamnya.

Terima kasih atas perhatiannya.

Karena itulah saya tadi bertanya tentang bagaimana menentukan kata mana kata kunci dan mana yang bukan.
Saya kira Anda memiliki kriteria atau panduan tertentu untuk itu, tapi ternyata Anda menjawab relatip. Kalau sudah begitu apanya lagi yang hendak didiskusikan? Toh hasilnya relatip. Cara Anda menentukan kata kunci tidak bisa disalahkan. Begitu juga Anda tidak bisa menyalahkan cara orang lain.

Salam

Dear Gibson,

Kalau berbicara masalah kriteria;
Kalau bagi saya:
Pada saat itu Yesus sedang apa dan berbicara mengenai apa !
Sebab dan akibatnya apa !

Yang saya pertanyakan disini ialah: Kalau kebetulan ada dua kata kunci sejalan yang kita temukan, apakah perlu diambil kedua-duanya atau cukup diambil satu saja ?

Begini saja, saya ambil contoh,
Tolong anda memilih satu kata kunci yang ada di ayat dibawah ini.
Yoh.6:35,
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu. ia tidak akan haus lagi.”

Coba sebutkan kata kunci yang anda pilih.
Terima kasih.

Apakah Anda mau memfokuskan topik ini pada ayat Alkitab yang hanya memuat kata-kata Yesus saja?
Saya kira tadi Anda mau menggali ayat Alkitab secara umum:

Ini sudah kita bahas tadi. Anda bilang relatif. Jika demikian, kata kunci yang sejalan atau tidak sejalan juga tergantung orangnya. Tidak perlu lanjut ke contoh.

Salam

Maaf, karena saya bukan dari latar belakang pendidikan theologi, baru bertobat 3 tahun yang lalu, beberapa kali pernah ikut Bible Training (BT) mengenai eksegisi namun belum mengerti dan belum bisa memberikan perenungan Firman Tuhan kepada saudara-saudara di dalam komunitas pada waktu PA (Pendalaman Alkitab)…Oleh sebab itu saya akan menjawab sebisanya saja, jadi harap maklum dan mohon maaf…Namun, saya tidak akan menjawab kedua pertanyaan yang saudara @mbah.Sam secara “to the point”, singkat, padat, jelas karena bagi saya suatu ayat bisa memiliki makna pesan yang sangat kaya dan mendalam, makna yg berbeda atau sama serta berkaitan antara satu dengan yg lainnya…Yg mana saya, akan jelaskan di bawah ini…

Sebenarnya dalam eksegese atau di kenal penafisaran dengan mengambil ayat (nats) di Alkitab biasanya sesuai dengan topik dan judul renungan atau khotbah dan sebagainya…Salah satunya yaitu De Jong, Jerry Vines dan Jim Shaddix yang menjelaskan beberapa cara dalam menentukan ayat (nats) di dalam khotbah (mba.sam bisa mensearch digoogle)…Tentu saja pengambilan ayat (nats) di dalam alkitab haruslah berkesinambungan, saling kait-mengait dan tidak boleh serampangan (sembarangan), berdoa terlebih dahulu sehingga ROH KUDUS membimbing atau mengingatkan kita, dan sebagainya sehingga kebenaran yg berasal dari ALLAH melalui perkatan-perkataaNYa (FirmanNya) dapat tersingkapkan dan tidak dipelintir maknanya oleh Iblis maupun oknum-oknum yang tidak bertangung jawab…Seperti contoh : Iblis mencobai Yesus di padang gurun dengan memakai serta mengutip Firman ALLAH, namun makna dari Firman ALLAH tersebut dipelintir oleh Iblis sedemikian rupa.

Sebagai contoh dari ayat yg saudara @mba.Sam tuliskan : Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu. ia tidak akan haus lagi.” Dengan ayat diatas, saudara @mbah.Sam ingin bermaksud menyampaikan pesan atau sesuatu mengenai apa kepada yang mendengar maupun yang membaca dari dua kata kunci yang dihitamkan???Apakah mbah.Sam mau menyampaikan pesan atau sesuatu dengan kata kunci tentang “lapar” dan bisa disandingan dengan “roti hidup” (nah, saya malah tidak mengindahkan dan bahkan membold kata kunci yang lain yang mana saudara @mbah.Sam tidak memboldnya)…
Atau saudara @mbah.Sam hanya mau mengambil kata kunci “haus” yang dapat disandingkan dengan ayat lain sehingga secara berkesinambungan dan saling terkait serta memiliki makna dan tujuan yang sama, yang mana agar pendengar dan pembaca semakin diperkaya rohani mereka dan mengerti maksud dari penyampaian atau pesan yg saudara @mbah.Sam, seperti ayat (nats) beserta kata “kunci yang lain” yang saya berikan di bawah ini : (Mazmur 42 :2 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?), (Matius 5 : 6. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan),(Yohanes 4 :14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."), (Yohanes 7 : 37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus , baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!),dan masih banyak ayat-ayat yang lain yang dapat mendukung dengan kata kunci “haus”, namun tentu saja harus lebih selektif dalam memilihnya agar pesan atau sesuatu yang ingin kita sampaikan dapat dimengerti oleh pendengar dan orang-orang yang membacanya…

Dari ayat-ayat yang saya sampaikan diatas, saudara @mba.Sam juga dapat mengambil kata kunci yang lain yang dapat berhubungan dan erat kaitannya dengan kata haus seperti “minum”, “dipuaskan”, “air”Akan tetapi bisa juga suatu ayat, terdapat kedua kata kunci, namun bisa sejalan maknanya sehingga penggunaannya dapat dipakai secara bersamaan atau cukup hanya satu kata kunci saja…Karena salah satu kunci diayat tersebut, apakah sudah mewakili, pesan atau sesuatu bagi pendengar atau pembaca yang melihat tulisan tersebut…Sekali lagi, itu semua tergantung dengan saudara @mbah.Sam ingin menyampaikan pesan atau sesuatu mengenai apa kepada pendengar atau orang yang melihat tulisan dari saudara @mbah.Sam…Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari ALLAH, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara.

Dear Gibson,

Tadi hanyalah contoh, sebab Yesus yang bicara.

Kalau Paulus yang bicara, ya kita lihat, mengenai apa, dalam keadaan apa dan kepada siapa Paulus berbicara, untuk mencari kriteria kata kunci.

Demikian, Shalom.

Dear jari,

Saya merasa senang anda mau masuk kedalam topik ini, dimana ternyata topik ini kurang menarik bagi yang lain.

Disini yang saya maksud dengan kata kunci, yaitu kata yang ada didalam ayat atau perikop itu sendiri.

Memang dengan ditemukannya kata kunci di satu ayat, bisa dicari kata yang sama di ayat-ayat yang lain diseluruh Kitab Suci.
Dengan disandingkannya kata kunci yang kita temukan dengan kata-kata lain yang kebetulan serupa, kadang-kadang bisa menyambung dan memfokus menemukan arti yang tersirat,

Akan tetapi hati-hati dan sangat berbahaya kebiasaan yang sering dilakukan oleh banyak penafsir Kitab Suci, sebab kadang-kadang membias keluar dari intinya dan menghasilkan pesan yang nikmat didengar kedagingan kita.

Terima kasih jari, atas respond dan masukan yang anda berikan.

Saya juga senang saudara @mbah.Sam mau menuliskan topik ini…
Oh iya, saya hampir lupa, bahwa dalam ekseges kita perlu memperhatikan akar kata dari kata kunci tersebut jika kita ingin menyampaikan sesuatu pesan kepada pendengar atau orang yang membaca tulisan kita…Sebab penerjemah entah tidak sengaja atau sengaja, menterjemahkan akar kata kunci tersebut dengan bahasa lokal/kata setempat yang berbeda di ayat lain yang memiliki padanan kata yang lebih dekat artinya dari akar kata aslinya sehingga pembaca tidak mengalami kebingungan…Contoh : (2 Petrus 1:5 : Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan)…Kata kunci yang ingin saya bold yaitu “kebajikan (bajik)”, yang mana dalam Kamus Bahasa Besar Indonesia (KBBI) mengacu pada mendatangkan “kebaikan” sedangkan akar kata Yunaninya adalah Areté …Namun, “Areté” juga muncul di ayat 2 Petrus 1 :3 dengan kata kunci yaitu “ajaib”…Nah, disini saudara @mbah.Sam dapat memadukan dengan kata-kata kunci “kebaikan” dan “Ajaib” dari akar kata yang sama yaitu “Areté” untuk menyampaikan sesuatu kepada pendengar atau orang yang membacanya

Mengenai pendapat saudara @mbah.Sam sampaikan yang telah saya bold memang benar adanya
Begitulah kondisi khotbah di gereja-gereja saat ini pada umumnya yang tidak menekankan pesan yang ingin disampaikan dengan menggunakan ayat yang relevan dan memperhatikan akar kata kunci yang akan digunakan serta dengan seenaknya menafsirkan pesan dan makna yang terkandung di suatu ayat agar nikmat didengar oleh kedagingan kita…Mungkin, karena waktu dalam mempersiapkan khotbah dan waktu di gereja tidak cukup dan terbatas untuk menyampaikan khotbah yang menjadi salah satu faktor penyebab dari kondisi yang melanda di gereja-gereja saat ini…Selain itu, pendeta atau gembala sidang di suatu gereja tertentu berpikir bahwa jemaat-jemaatnya sudah mendapatkan Firman Tuhan yang mendalam dari persekutuan-persekutuan yang dibentuk oleh gereja serta pelatihan-pelatihan yang banyak diselenggarkan oleh gereja, namun itu semua tidaklah cukup…Mungkin yang paling mengerikan, pendeta serta gembala sidang di suatu gereja tertentu berpikir bahwa jemaat-jemaatnya sudah dewasa secara umur dan rohaninya jadi tidak perlu dibimbing lagi secara khusus…Namun, penyebabnya juga bisa dari sikap serta respon jemaat dari gereja tersebut…Atau kondisi yang tidak memungkinkan bagi jemaat dari suatu gereja untuk bisa mendapatkan Firman Tuhan secara mendalam…

Oleh sebab itu, bagi orang-orang maupun hamba Tuhan yang telah berkesempatan belajar serta menerima kasih karunia mendalami Firman Tuhan, berkewajiban dan dituntut untuk memberikannya secara cuma-cuma kepada orang yang belum atau kurang mendapatkan Firman Tuhan yang lebih dalam…(Lukas 12 : 48. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut)…Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari ALLAH, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara…Terima kasih…Salam

Kalau “KUNCI” nya dihilangkan , keknya gak ada Problem Besar kok disana , Mbah !

Pertanyaan. 1. Apa yang harus kita lakukan dengan kedua kata [s][b]kunci[/b][/s] itu ? 2. Bolehkah kita hanya memilih satu dan mengabaikan yang kedua ?
Yg KUDU diperhatikan adalah apa [u][b]Makna dan Maksud[/b][/u] Tuhan menggunakan 2 Kata tsb ! Jadi ke 2 nya TETAP HARUS DIPAKAI bukan satu diambil satu dibuang !
Contoh: [i][u]Yoh.6:35,[/u] Kata Yesus kepada mereka: "Akulah [b]roti hidup[/b]; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan [b]lapar [/b]lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu. ia tidak akan [b]haus[/b] lagi."[/i] Di ayat ini kita temukan 2 kata [s][b]kunci[/b][/s] yaitu [b]"lapar"[/b] dan [b]"haus."[/b]
ke 2 nya harus TETAP DIPAKAI dan DIAMBIL karena didalam 2 kata itu ada [b]suatu KEKOSONGAN[/b] yg harus[b] DIPENUHI ![/b] [b]Roti Hidup[/b] itu akan terus [u][b]hidup mengenyangkan[/b][/u] kelaparan [b]Hikmat Alkitabiyah dan Kebenaran[/b] yg dicarinya dan Air yg diberikannya akan menjadi "[u][b]Mata Air[/b][/u]" yg tak pernah berhenti memancar mengisi [u][b]Dahaga Kebenaran[/b][/u] yg dicarinya !
Contoh lain: [i][u]1Kor,11:25.[/u] Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah [b]perjanjian baru yang dimeteraikan [/b]oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi [b]peringatan[/b] akan Aku !"[/i] Di ayat ini kita temukan 2 kata [s][b]kunci[/b][/s] yaitu: [b]"perjanjian [u]baru[/u] yang dimeteraikan" [/b] dan [b]"peringatan".[/b] Apa tanggapan anda, ...... terima kasih.
Yeah si Mbah, Kalau Perjanjian gak diingat ingat entar LUPA, terus pegimane' dong juntrungannya nanti ! Perjanjian yg [b]Lama[/b] saja kalau gak seringkali diingatkan sering KELUPAAN 'kan Mbah ! :coolsmiley: :happy0062: :mad0261: Mosok 2 kata yg saling Supportif kok malahan di pisah2kan sih ?!

AS 14:
7 Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya.
8 Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.
24 Mahkota orang bijak adalah kepintarannya; tajuk orang bebal adalah kebodohannya.
AS 15 :
14 Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan.
32 Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.
AS 19 :
19 Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engkau hanya menambah marahnya
Amsal 16:20
Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

Hai Mbah Sam,
Terlepas dari konten yg hendak Bro sampaikan, saya mlihat ada 2 hal disini yg bisa jadi psoalan.

  1. Bro sendiri dg subyektif mmilih kata-kata kunci dari masing-masing ayat.
    Krn Bro yg memilih dg subyektif, ini mnunjukkan bhw Bro sudah mmiliki ide yg hendak dsampaikan.
    Silakan saja langsung dsampaikan.

  2. Bro sendiri dg subyektif mmilih 2 ayat utk dbahas.
    Mngapa kedua ayat tsb yg Bro pilih?
    Pasti tkait dg ide yg hendak Bro sampaikan.
    Psoalannya, mngapa ke-2 ayat itulah yg Bro angkat? Mengapa tidak ayat-ayat lainnya?

Kedua psoalan di atas mjadikan bahasan dalam topik ini mjd subyektif.

Nanti skenarionya kmungkinan:
Member A mjawab, member B mjawab, member C mjawab; tp Bro hanya akan mnerima jawaban dari member yg sesuai ide awal Bro.
Kmudian tukar-argumen akan blangsung antara ide Bro dg kontra-ide dari member lainnya.

Maju trus Bro Sam!

Bagi saya, semuanya itu kata kunci

Tak ada yang perlu dicari2 mana yang lebih penting mana yang lebih kunci mana yang tidak penting, dst

Semuanya itu harus diterima secara keseluruhan

Yoh.6:35,
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu. ia tidak akan haus lagi.”

Lapar dan haus dua-duanya harus dilakukan, karena manusia tak bisa hidup tanpa makan dan minum

Tanpa makanan manusia bisa bertahan 40 hari
Tanpa minuman manusia hanya bisa bertahan 3 hari

Maka percayalah terlebih dahulu dan datang kepadaNya, keduanya harus kita lakukan

1Kor,11:25.
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku !”

Artinya adalah perjanjian baru yang dimateraikan dan dilakukan untuk memperingati Dia

Semua Firman Tuhan isinya adalah satu kesatuan, tak boleh seorang mengabaikan yang satu dan mempromosikan yang lain

Kata kunci dalam sebuah kalimat itu adalah kata yang mewakili sebuah konsep atau gagasan yang ada dalam kalimat tersebut.

Contoh:
Yoh.6:35,
Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu. ia tidak akan haus lagi.”

Kata kunci kalimat diatas adalah “roti hidup” bukan “lapar” dan “haus”. Konsep yang disampaikan adalah Yesus sebagai “roti hidup” dimana konsep itu dijabarkan tentang kondisi lapar dan haus, membutuhkan sesuatu untuk dipuaskan. Terlepas dari detil kondisi lapar dipuskan dengan makanan dan haus dipuaskan dengan minuman, dengan menyebut diri “roti hidup”, Ia hendak menyampaikan pesan bahwa Ia sanggup memuaskan dahaga kita akan perkara-perkara rohani (lihat konteks perikop).

Jadi tidak benar kata kunci itu bisa suka-suka sendiri. Memang ada banyak orang yang sering memahami kalimat secara alegoris, dan cenderung akan mengambil sebuah kata mewakili maksud yang hendak disampaikan atau yang menjadi rhema baginya. Sehingga akhirnya dalam kalimat itu bisa apa saja menjadi kata kunci sesuai dengan point alegoris yang hendak dibahasnya. Misalkan dalam contoh anda, kata “lapar” dan “haus” adalah kata yang menjadi topik bahasan kotbah, mungkin bagi orang lain lain lagi, sebenarnya itu bukan kata kunci yang mewakili gagasan atau konsep kalimat.

Contoh lain:
1Kor,11:25.
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku !”

Kata kunci diatas yang menjadi gagasan kalimat adalah “menjadi peringatan”. Apa yang diperingati dan bagaimana kita memperingati dijelaskan dalam kalimat tersebut.

Kata kunci adalah bagian dari pelajaran bahasa, dalam memahami maksud sebuah kalimat. Seharusnya setiap orang akan menarik kesimpulan yang sama, jika tidak demikian maka sebuah kalimat dapat diartikan macam-macam. Memang kadang dalam sebuah kalimat ada dua kata kunci, tetapi bukan seperti yang anda contohkan.