bagaimana supaya saya percaya bahwa..........?

bagaimana supaya saya percaya bahwa segala kejadian yang terjadi karena campur tangan Tuhan?
saya udah beberapa bulan ini meragukan campur tangan Tuhan, karena saya merasa segala kejadian yang terjadi karena perbuatan saya dan perbuatan orang2 lain kepada saya…

bantu saya dong…
saya menghargai jawaban kalian kok…
nggak mau keras kepala lagi…
saya takut lama-kelamaan jadi atheist kalo seperti ini terus… :’( :’( :’(

Hi… Hi… Hi…

makasih ya udah dijawab… :ashamed0004: :mad0261:

Waktu lihat posting pertama, benar-benar tertawa. Waktu lihat posting di atas, tertawa lagi lebih besar.
Ha… Ha… Ha…

Alasannya banyak. Tapi yang pertama, saya langsung teringat frasa yang sangat sering Anda tuliskan, ‘serigala berbulu domba’. Terus saya juga langsung teringat mengenai kata ‘sekuler’. Ini alasan pertama.

Alasan kedua, pertanyaan Anda ini benar-benar susah. Coba perhatikan yang saya bold. Mungkin Anda bisa mendapat jawaban yang sesuai keinginan Anda, dari teman-teman yang condong ke predestinasi. Sedangkan teman-teman yang lebih condong ke free will, tidak bisa menjawab pertanyaan Anda. Dan saya langsung tertawa membayangkan akan terjadi perdebatan (walaupun kayaknya tidak mungkin) antara aliran pro predestinasi dengan aliran pro free will. Hasilnya, Anda malah menjadi pusing. Hi… Hi… Hi…

Pak mencari_kebenaran, kalau saya boleh bertanya, apa pertanyaan Anda ini benar-benar sesuai dengan yang Anda maksudkan? Atau ada hal-hal lain yang sebenarnya ingin Anda sampaikan?

Salam

ya iya lah… sesuai dengan yang saya maksudkan…
nggak ada hal2 lain kok…

Simple saja sih

Sadari kalau Tuhan itu ada, dan Dia turut campur atas hidupmu sampai sekarang ini, bahkan sebelum kamu mengenal Dia

Kita ini seringnya ditolong Tuhan lalu ngomongnya “hoki” makanya ga sadar

@Mencari

Bro, mungkin kata kata ‘tapi sekuler’ itu yang menyeret anda pada keraguan pada diri anda.
Karena, seperti yang pernah saya sampaikan kepada anda entah di thread mana, tidak ada kata sekuler, yang ada adalah beragama atau tidak beragama. Sebagai pribadi, berarti pilihannya adalah hidup dalam ajaran dan aturan agama yang dianutnya, atau tidak mau diatur dan tidak taat pada ajaran agama yang dianutnya.

Mungkin, ini mungkin, maksud anda dengan ‘tapi sekuler’ itu berarti ‘tidak fanatik’ ?
Fanatik justru tidak akan terjadi kalau pengetahuan seseorang cukup luas untuk bisa melihat seluruh fakta, bukan hanya fakta yang didapatnya dari ajaran agamanya sendiri. Tetapi, kalau anggapan bahwa ajaran agamanya adalah yang PALING SESUAI DAN BENAR dengan pribadinya adalah sebuah KEHARUSAN, karena tanpa itu ya seharusnya seseorang mencari yang lain lagi, sehingga mendapat ajaran agama yang sesuai dengan dirinya.

Menjawab pertanyaan anda di atas, saya koq merasakan bahwa ada kekecewaan anda terhadap apa yang anda hadapi dan rasakan dalam beberapa bulan ini. Sehingga tanpa anda sadari, anda justru ‘mempersalahkan’ Allah yang seolah ‘kurang memperhatikan’ anda. He he he he…

Jujur saja, sebenarnya apa yang anda rasakan, pasti pernah terjadi juga pada setiap manusia yang jujur, bukan yang munafik dan berpura pura saleh. Tetapi, perlu juga anda dan kita semua sadari, bahwa dengan berpikir seperti itu, kita sejatinya sedang ‘membuka celah’ kepada pikiran ‘kurang baik’ (baca : iblis) untuk menyusup masuk. Setelah merasa ‘kurang diperhatikan’ kemudian berkembang menjadi ‘tidak disukai’ menjadi ‘tidak peduli’ dan puncaknya ‘tidak percaya’.

Itulah mengapa di salah satu thread yang menjawab ‘keluhan’ seorang member yang mengaku agnostik, saya bertanya, ‘Memangnya Tuhan salah apa, sehingga kamu mempersalahkanNya?’ , atau, ‘Apa yang Tuhan janjikan sama kamu sehingga kamu kecewa kepadaNya?’

Atau sebenarnya, justru kita yang mengharapkan ‘terlalu banyak’ dari Tuhan, sehingga kita mengharapkan Tuhan mengerjakan pekerjaan yang seharusnya kita lakukan?. Kita minta Tuhan mencarikan kita uang, kita meminta Tuhan mencarikan jodoh, kita meminta Tuhan membuat istri dan anak cinta/setia pada kita, kita meminta Tuhan menjaga keselamatan kita, kita meminta bisnis lancar dst. Sementara kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan.

Pernah ada sebuah cerita fiktif:

Ada seorang pria yang baik dan taat, yang sedang sangat membutuhkan uang. Selama ini ia merasa sudah banyak ‘memberi’, maka saat ia butuh uang, ia berdoa kepada Tuhan ‘Tuhanku, selama ini aku telah memberi banyak kepada orang orang yang butuh, juga menyumbang gereja, jadi tolonglah sekali ini saja, biarkan aku memenangkan lotre berhadiah 10 miliar’. Seminggu, dua minggu berlalu, hadiah undian yang diharapkan tidak diperoleh. Kembali pria itu berdoa dengan khusuk ‘Tuhan, tolong aku, sekali ini saja, berilah aku hadiah undian yang besar, karena sangat aku butuhkan’, sebulan berlalu tidak juga diperolehnya hadiah yang diharapkan. Dengan putus asa, si pria kembali berdoa ‘Tuhan, mengapa Engkau tidak mendengar doaku, berilah kesempatan kepadaku sekali ini saja, buktikanlah kalau Engkau peduli kepadaku…’ dan tiba tiba terdengar suara ‘Anakku, tolonglah sekali ini saja, belilah kupon undian…’

Kisah di atas tentu khayal dan ada unsur yang salah. Tetapi intinya adalah, jika kita ingin dibantu, maka berilah jalan agar kita bisa dibantu.

Post ini tidak bertujuan untuk sok mengajari, tetapi sekedar untuk sharing bersama.

Syalom

Sebenarnya pertanyaan anda sering saya alami juga.
Dan karena gado2 yg bikin saya stress (merasa kehadiran Tuhan sebagai Daddy. Daddy - pernyataan manja, dan lalu entah gimana merasa Tuhan ga ada).

Saya coba revisi diri sendiri apa sih yg menyebabkan saya merasakan kedekatan pada Tuhan dan apa yg menyebabkan saya merasa Tuhan ga ada.

Saya lihat bahwa saya merasa Tuhan dekat pas dggr lagu rohani, berada di komunitas orang percaya, baca alkitab, dsb.

Saya merasa Tuhan ga ada pas saya ga dengar lagu rohani, baca alkitab, berada di komunitas orang percaya.

Nah, klo buat aaya alasan tidak merasakan kehadiran Tuhan adalah diri saya sendiri. Barangkali alasan anda tidak merasakan kehadiran Tuhan ya diri anda sendiri juga.

Namun, puji syukur Tuhan selalu peduli pada saya (Ia pun peduli pada anda).

Aku lupa siapa yg bilang, kita ini umurnya ga setua iblis. Apalagi anda dan saya (anda sekuler / ga dekat Tuhan, saya baru kenal Tuhan).
Banyak teman kristen ku baik Ausie maupun Indo yg bilang perasaan dapat menipu.

Anda jangan percaya perasaan dan pikiran anda. Yang anda harus percayai adalah karakter Tuhan.
Lihay Dia siapa.
Buay percaya seseorang / Tuhan itu ternyata ga bisa langsung 100% percaya.
Buat percaya perlu luangkan waktu bersama

So ya,anda pernah bilang anda ga perlu agama karena cuma ngajarin kebaikan. Anda bisa baik tanpa agama.
Pernyataan itu saya setuju.
Mau anda ateis, islam, budha, hindu, pagan, dll.
Anda bisa jadi orang baik.
Anda diciptakan sama Tuhan.
Anda punya hati nurani
Ansa bisa jadi baik tanpa Tuhan

NAMUN apa standar baiknya? Baik menurut siapa?

Bagi 1 org berbohong 1x pun ga baik
Bagi 1 org berbohong kecil ga masalah
Bagi 1 org berbohong bukan berarti ga baik

Whose standard will you measure yourself to?

link: 577. Are Our Emotions Reliable?

Title: are our emotions reliable?

  1. ini jujur ya…
    standard baik saya ya intinya saya harus jadi pribadi yang rendah hati, sabar sama orang lain, jujur dalam semua hal… sabar dalam menghadapi segala sesuatu, lalu saya ikuti aturan2 di mana saya berada… seperti misalnya peraturan perkuliahan, peraturan di busway, peraturan di manapun, ya pokoknya ikuti semua aturan yang ada aja…

  2. baik untuk semua orang…

@brc dan @HenHen, ok, thanks ya… :slight_smile:

Coba baca ayat ini:
Matius 10:29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.