bagaimanakah seharusnya sikap kita di tengah pluralisme agama?

Di tengah konteks majemuk khususnya keberagaman agama, sikap apakah seharusnya yang kita pegang khususnya kita yang mengaku diri sebagai orang yang benar2 percaya kepada Kristus???

situ gimana???

Saya rasa sikap kita ya berbuat yang benar, menunjukan kasih dan tetap menghormati orang lain yang berbeda keyakinan.

Kadang di negara kita, saya muak sendiri. Ada berbagai agama, ada berbagai kepercayaan, ada berbagai kegiatan agama (ceramah, pengajian, KKR dsb). Tapi, pemeluk nya sendiri berbuat berbeda dengan keyakinannya.

Di jalan masih aja ga taat aturan, buang sampah sembarangan, ingkar janji, telat kalau janjian, memanipulasi pekerjaan.

Saya tinggal di negara-negara yang notabene atheis. Tapi di negara-negara itu, orang-orang nya tau aturan, di jalan, di rumah, di pekerjaan.

So, apakah mungkin kalau kita terlalu “religius”? sehingga lupa akal sehat ?

hehe… sepakat mas…

kalo di thread sebelah, saya tiba tiba dapet ide untuk memberi istilah “Sindrom kebanyakan ngutip alkitab”
sampai-sampai engga sempat implementasi substansi ajarannya sendiri

Yoi masbro, akhir-akhir ini saya jarang ikut nimbrung kalau emang obrolannya udah di “awang-awang”, mao sih ngikutin dan belajar juga. Tapi ya memang ga sreg aja, karena substansinya kadang spekulatif juga.

Jadinya saya suka kalo masbro ngasih “sentilan” dikit di komen-komen nya, hehe…

saya bertanya karena saya tidak tahu jawabannya.

saya jadi teringat perumpamaan yang di ceritakan Yesus mengenai orang samaria yang tidak memiliki agama justru orang yang berbelas kasihan.

setuju deh,contohnya di FK ini banyak yg sebetulnya sodara seiman tp malah saling serang/cerca krn beda denominasi.bukannya fokus pada pekerjaan Tuhan tapi malah sibuk mencari-cari kesalahan dari denom lain.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. ( 1 Korintus 13:2 )

Sikap saya untuk sesama kristen:
Markus 9:38-40
Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.

Untuk non kristen:
Markus 9:50
Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain."

Menjawab judul topik : bagaimanakah seharusnya sikap kita di tengah pluralisme agama?

Jawabannya tidak akan jauh jauh dari sikap para forumer di FK ini.
Yang waras ya waras, yang miring ya pasti juga miring.

melaksanakan, melakukan Firman Tuhan… itulah keberimanan itu…

melaksanakan hukum pertama dan terutama…
sebab 1 Korintus 13:13.

Pluralisme itu perlu penghayatan iman yang baik…kalau cuma model “iman instan haleluya” susah menjadi plural… yang ada juga cuma jadi super ekslusif atau sok plural yang malah jadi agnostik… :smiley:

Pertanyaan anda ini bagus dan sebenarnya jawabannya sudah dicetuskan oleh pope Francis I, pada waktu dia berbicara didepan banyak orang, baik katolik, protestan, budha, islam, hindu, judais maupun atheis, temanya mengenai perdamaian.

Pope Francis menjelaskan mengenai ajaran Yesus mengenai kasih dsb.
Kemudian ada orang yang nyeletuk, katanya: akan tetapi saya adalah seorang atheis.

Pope menjawab: Sekalipun atheis semuanya akan bertemu disana.
Artinya yang dimaksud Pope ialah sekalipun atheis, dan agama apapun juga, dengan dasar kasih, kita bisa bertemu, bergaul dan duduk bersama.

Pada umumnya manusia yang beraneka ragam agama dan kesukuan, dapat berkumpul dan bergaul bersama karena atas dasar toleransi.
Toleransi berarti: sekalipun kita tidak setuju, kita harus bisa menahan diri.
Untuk menahan diri, terus-menerus bagi manusia tidaklah mudah, begitu terceplos yang bisa menyinggung perasaan lawan, bubar yang namanya perdamaian itu.

Akan tetapi kalau dasar KASIH, diatas segalanya berbeda.

mneurut brother, ada ga anugerah keselamatan bagi mereka?

jadi bagaimana kita memandang mereka jika kita memahami yOH. 3:16 Sebagai kebenaran?

Sebenarnya, apakah keselamatan mereka perlu kita jadikan tolok ukur hubungan kita kepaa mereka?
Betul bahwa kita harus menyampaikan Kasih, dan berusaha menyelamatkan mereka, tetapi kalau mereka menolak tentu tidak baik jika dipaksakan. Disamping setiap ajaran agama mengajarkan keselamatannya sendiri, maka yang selamat bagi kita belum tentu selamat bagi mereka, begitu juga kebalikannya.

Maka, biarlah kita berikan kepada dunia apa yang menjadi milik dunia, berikan kepada Bapa apa yang menjadi milik Bapa. Ini tentu saja merupakan terjemahan bebas dari ayat ini :

Mat 22:21 Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Syalom

Mengasihi mereka, mengajarkan nilai-nilai kebenaran kepada mereka. Seperti yang dikatakan kitab Galatia.

Galatia 5:22-23
Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum agama yang menentang hal-hal itu.

Melalui menjadi motor dalam gerekan tersebut, anda telah memulai hubungan yang baik dengan beragam agama dan kepercayaan yang ada. Saat mereka melihat anda adalah terang bagi gerekan tersebut, anda juga akan menjadi figur bagi kebanyakan pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda. Mereka akan mudah mengenal satu-satunya jalan kepada Bapa dan atas anugrahNya pula maka mereka akan didamaikan dengan Allah didalam Yesus Krsitus.

Yakobus 1:21
Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Proses menerima injil adalah saat hati seorang telah siap menerimanya, tetapi sebelum hati mereka siap, segala usaha kita akan mendapatkan penolakan dan perlawanan. Konflik akan terjadi dan kita tidak mendamaikan mereka malah menjadikan permusuhan. Tetapi saat hati mereka telah terbuka siap menerima kebenaran, maka injil itu akan sampai.

Pluralism adalah sebuah gerakan yang harusnya kita juga manfaatkan, sebab segala sesuatunya akan menjadi kebaijikan bagi kita, bagi mereka juga. Memang secara doktrin pluralism tidaklah benar, tetapi lewat pluralism, Tuhan membuka pintu penginjilan bagi banyak kepercayaan dan agama. Manaatkanlah dan jangan anda sendiri ditewarkan dengan gerekan suam-suam tersebut.

tetap jadilah “Terang” dan “garam”