Bahayanya sunat pada perempuan.

Bagi kaum pria tentunya sunat sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bahkan pada perjanjian lama, Musa mengadakan perjanjian dengan TUHAN dengan tanda SUNAT. :afro:

Bagaimana dengan kaum wanita ? Alkitab tidak menuliskan bahwa sunat juga dilakukan pada kaum perempuan. :ashamed0002:

Pada kenyataan didunia ini, khususnya di Indonesia ternyata Sunat pada perempuan tetap dilakukan, bahkan telah dikeluarkan Permenkes RI tentang sunat bagi kaum perempuan. :char11:

Menurut anda perlukah sunat pada perempuan ? :mad0261:

Menkes Jelaskan Kontroversi Sunat Perempuan
“Sama sekali bukan dengan maksud menindas justru ini untuk melindungi anak perempuan.”
Rabu, 29 Juni 2011, 14:45 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews – Sejumlah elemen masyarakat mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsing mencabut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1636/MENKES/PER/XI/2010 tentang Sunat Perempuan. Aturan itu dinilai melegitimasi praktek tersebut.

Menjawab soal itu, Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih mengklarifikasi bahwa, Permenkes yang dikeluarkan sejak tahun lalu itu justru untuk kepentingan perempuan.

Hal itu disampaikan usai memberikan orasi ilmiah di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan. “Mengapa Permenkes itu dibuat, sama sekali bukan dengan maksud menindas, justru ini untuk melindungi anak perempuan,” kata Endang Rahayu di Makassar.

Ia juga membantah anggapan sejumlah pihak, jika Permenkes itu merupakan legalisasi terhadap sunat perempuan. Dijelaskannya, fenomena masyarakat Indonesia saat ini adalah, yang melakukan sunat itu bukan petugas kesehatan, petugas para medis. Melainkan umumnya dilakukan oleh dukun sehingga mungkin saja terjadi infeksi, pendarahan atau kelebihan memotong. “Hal-hal seperti itu yang mesti di atur, makanya keluar Permenkes itu,” ujar Menteri Endang lagi.

Nantinya, yang bisa melakukan sunat perempuan adalah tim kesehatan, dokter, perawat, bidan. “Itupun yang bisa dilakukan hanya menggores dengan jarum steril,” dia menambahkan.

Seperti diketahui, dalam Permenkes, disebut secara rinci, bahwa sunat perempuan hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan baik dokter, bidan atau perawat yang memiliki izin kerja. Sebisa mungkin, tenaga kesehatan yang dimaksud berjenis kelamin perempuan.

Bagian yang dipotong tak boleh sembarangan, bahkan sebenarnya tidak ada bagian dari alat kelamin perempuan yang boleh dipotong. Sunat yang diizinkan hanya berupa goresan kecil pada kulit bagian depan yang menutupi klitoris (frenulum klitoris).

Sunat perempuan tidak boleh dilakukan dengan cara mengkaterisasi atau membakar klitoris. Goresan juga tidak boleh melukai atau merusak klitoris, apalagi memotong seluruhnya.

Bagian lain yang tidak boleh dirusak atau dilukai dalam sunat perempuan adalah bibir dalam maupun bibir luar pada alat kelamin perempuan. Hymen atau selaput dara juga termasuk bagian yang tidak boleh dirusak dalam prosedur sunat perempuan.

Sunat perempuan hanya boleh dilakukan atas permintaan dan persetujuan perempuan yang bersangkutan dengan izin dari orangtua atau walinya. Petugas yang menyunat juga wajib menginformasikan kemungkinan terjadinya perdarahan, infeksi dan rasa nyeri.

Laporan: Rahmat Zeena|Makassar
• VIVAnews

Diambil dari sumber VIVA News hari ini.

Hmmm… ga tau tu peraturan dibuat buat apa di indonesia…
Duhhh… pengetahuan ini sebenarnya untuk yang sudah dewasa… tapi saya coba jelaskan dari berbagai informasi yang pernah saya dapat…

sunat perempuan yang sebenarnya adalah untuk menyiksa kaum perempuan di jaman perbudakan dahulu kala…
dan yang dipotong pun keseluruhan clitnyaaa agar dari pihak perempuan tidak bisa merasakan enaknya berhubungan seumur hidupnya (maksudnya supaya ga bisa selingkuh)… dan praktek itu masih dijalankan kaum agama sebrang dan dibawa sampai sini, praktek ini masih dilakukan sampai sekarang… untuk menyesuaikan dengan keadaan sekarang dan agar sesuai juga dengan kepercayaan mereka, maka praktek itu dialihkan dengan menggores atau membuka lebih besar penutup clit…
bagi kaum perempuan sunat ini sebenarnya sudah menginjak2 HAM perempuan, tapi karena diubah menjadi menggores bagi saya malah jadi rancu sebab menurut saya praktek sunat itu artinya memotong bukan menggores… so untuk para perempuan hati2 yaa… ^^

Bahaya Sunat Perempuan.

Berbeda dengan sunat atau khitan pada laki-laki yang jelas mendatangkan manfaat – antara lain mencegah terjadinya infeksi dan kanker – khitan perempuan sama sekali tidak memiliki manfaat kesehatan. Yang ada, justru membahayakan dan dapat menimbulkan risiko kematian. Oleh karena itu perlu diperhatikan sebelum melakukan sunat perempuan.

“Khitan bagi perempuan tidak ada manfaatnya sama sekali. Karena itu, fakultas kedokteran tidak ada yang mengajarkan khitan untuk wanita. Kecil atau tidaknya tindakan yang dilakukan, karena berada dalam area sensitif wanita dinilai sangat berbahaya. Mulai dari pembedahan sampai anastesi. yang paling parah dari khitan bisa menimbulkan kematian,” kata dr. Artha Budi Susila Duarsa, M. Kes di sela peluncuran Buku Khitan Perempuan: Dari Sudut Pandang Sosial, Budaya,Kesehatan, dan Agama, Selasa (27/07/10) di Jakarta.

Khitan perempuan sendiri menurut Badan Kesehatan Dunia WHO terbagi atas 4, yaitu :
Tipe 1, yaitu memotong seluruh bagian klitoris (bagian mirip penis pada tubuh pria)
Tipe 2, yaitu memotong sebagian klitoris,
Tipe 3, yaitu menjahit atau menyempitkan mulut vagina (infibulasi)
Tipe 4 yaitu menindik, menggores jaringan sekitar lubang vagina atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina agar terjadi pendarahan dengan tujuan memperkencang atau mempersempit vagina.

Meskipun pemberlakuan khitan perempuan di Indonesia hanya pada batas tipe 4, namun menurut dr. Artha, pemotongan klitoris sendiri tidak boleh terjadi.

“Karena klitoris memainkan peran penting dalam meningkatkan kenikmatan seksual seorang perempuan. Selain itu, melalui klitoris dapat terjadi ekskresi kelenjar di sekitar vagina,” imbuh dr. Artha.
Tidak mengubah bentuk klitoris dinilai dr. Artha sangat penting karena letak klitoris yang dikelilingi oleh saraf menyebabkan sangat peka secara seksual.

“Menghilangkan klitoris akan menurunkan kepekaan perempuan terhadap rangsangan seksual. Klitoris juga berefek pada lubrikasi pada vagina. Semakin banyak lubrikasi pada vagina maka perempuan akan semakin siap ketika penis dimasukkan. Jika tidak ada klitoris, vagina akan kering dan masuknya penis akan menyebabkan rasa sakit pada vagina sehingga timbul ketakutan pada perempuan untuk melakukan hubungan badan berikutnya,” kata dr. Artha.

Hal yang sama juga terjadi apabila melakukan infibulasi. Labia minora (kulit luar) juga dipenuhi dengan saraf yang membuat bagian ini sensitif terhadap rangsangan seksual. Seperti klitoris, memotong labia minora juga akan membuat perempuan kurang peka terhadap stimulasi seksual.
“Semuanya ini menyulitkan perempuan untuk mencapai orgasme. Menjahit mulut vagina akan menghambat masuknya penis. Rasa sakit yang dialami perempuan akan mengerikan dan jika penis berhasil melakukan penetrasi maka akan menyebabkan pendarahan,” kata dr. Artha.

Tinggi resiko kematian pada khitan perempuan membuat pemerintah Indonesia sendiri secara tegas melarang khitan bagi perempuan, karena melanggar UU Kekerasan terhadap perempuan.
Peraturan serupa juga diberlakukan parlemen Mesir mengesahkan UU tentang pelarangan khitan perempuan. Bagi yang melanggar akan dikenakan denda 185 sampai 900 dollar AS dan kurungan penjara antara 3 bulan sampai dengan 2 tahun. Namun di Asia, praktik khitan sendiri hingga saat ini masih dilakukan di Pakistan, India, Bangladesh, dan Malaysia.

Dampak jangka pendek khitan pada perempuan :

  1. Pendarahan yang mengakibatkan syok atau kematian
  2. Infeksi pada seluruh organ panggul yang mengarah pada sepsis.
  3. Tetanus yang menyebabkan kematian
  4. Gangrene yang dapat menyebabkan kematian
  5. Sakit kepala yang luar biasa mengakibatkan syok
  6. Retensi urin karena pembengkakan dan sumbatan pada urethra.

Dampak jangka panjang adalah :

  1. Rasa sakit berkepanjangan pada saat berhubungans seks
  2. Penis tidak dapat masuk dalam vagina sehingga memerlukan tindakan operasi.
  3. Disfungsi seksual (tidak dapat mencapai orgasme pada saat berhubungan seks)
  4. Disfungsi haid yang mengakibatkan hematocolpos (akumulasi darah haid dalam vagina), hematometra (akumulasi darah haid dalam rahim) dan hematosalpinx (akumulasi darah haid dalam saluran tuba)
  5. Infeksi saluran kemih kronis
  6. Inkontinensi urin (tidak dapat menahan kencing)
  7. Bisa terjadi abses, kista dermoid dan keloid(jaringan parut mengeras)

source : kompas.com

Memang thread ini khusus untuk yang sudah berusia 17 th ke atas atau yang sudah pernah menikah.

Gereja Katolik ikut menyuarakan pelarangan sunat pada perempuan dan mengingatkan akan bahayanya sunat pada perempuan.

Bisa dilihat pada Cathnews.com pada hari ini.

Bagaimana dengan Kristen ? PGI dan/atau DGI kok nggak mengeluarkan pernyataan resmi seperti Katolik ya ?

Jadi berikan suaramu untuk polling diatas, anda setuju: YA; bila tidak setuju katakan: TIDAK.

Shalloom.

kalo dunia dah jadi gila, dan dipengaruhi budaya ke arab2 an , fisik semata ya seperti ini jadinya,

hah serius vagina bisa di sunat :open_mouth:

jadi ingat salah satu ayat dalam firman Tuhan, bukan sunat fisik yang penting dan diinginkan Tuhan tetapi hati lah yang harus disunat, FT memang keren , tidak ada duanya^^

bukan vaginanya brooo… tapi klitnyaaaa… bayangkan aja kumpulan syaraf sensitif disitu banyaknya 2 kali yang dimiliki alat kelamin pria… gimana coba rasana dibakar ato dipotong ato digores…

gila dunia sudah gila…

aissssssshhhh…hanya cewe yang bisa ngebayangin gimana perih nya… hiiiii