Banyak Gereja Dieksekusi Karena Kepentingan Bisnis

Keputusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat yang pada Sabtu (6/8) mendatang akan mengeksekusi Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) yang berada di Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat menuai protes dan kecaman dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ), Theophilus Bela.

“Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebaiknya jangan gegabah dalam melakukan eksekusi pengosongan rumah ibadah GBIS. Semua harus diselesaikan dengan baik karena masalah rumah ibadah menyangkut kepentingan orang banyak,” ujar Theophilus, Selasa (2/8).

Putusan yang tertuang dalam Pengadilan Tinggi Jakarta tanggal 27 Juni 1956 No 377/1955 PT Perdata dan Putusan Mahkamah Agung-RI tanggal 31 Januari 1957 No 216/K/SIP/1956. keputusannya, GBIS Jatibaru sebagai pihak yang telah lebih dari 50 tahun harus menerima keputusan eksekusi tersebut dan dalam waktu delapan hari harus segera menyerahkan gereja kepada pihak pemohon eksekusi, Ir Lukman A sebagai ahli waris Muchsin Alatas.

GBIS sejak 1961 secara terus menerus telah memanfaatkan lahan tersebut sebagai rumah ibadah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan diakui sah dengan izin dari Departemen Agama Kantor Wilayah Departemen Agama Daerah Khusus Ibukota Jakarta No WJ/7/BA.01.1/4698/1997 tertanggal 12 September 1997, status tanah yang saat ini menjadi tempat gereja berdiri adalah sebagian tanah negara bekas Eigendom 8669.

“Perintah eksekusi GBIS hanya menambah panjang daftar rumah ibadah yang ditutup paksa. Sepanjang 2011, menurut catatan kami, sudah ada 25 gereja yang mendapatkan perlakuan serupa,” ucap Theophilus.

Ketua Indonesian Conference On Religion and Peace, Johannes Hariyanto menilai, masalah eksekusi GBIS Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, lebih mengarah kepada masalah kepentingan bisnis, bukan masalah agama. Dari berbagai kasus penutupan gereja yang marak terjadi di sejumlah tempat, tidak hanya berlatar belakang agama, namun juga lebih ke arah masalah bisnis.

“Dalam kasus eksekusi GBIS, saya lebih melihat ada kepentingan bisnis yang diklaim ahli waris. Tidak semua kasus penutupan gereja mutlak masalah agama,” kata Johannes.

Berbagai cobaan terhadap umat Kristen di Indonesia memang terus menerpa sebagai bagian dari kepentingan beberapa kelompok yang tidak menghendaki agar Firman Tuhan turun di Indonesia. Terus mendoakan, bijak menyikapi terhadap cobaan tersebut akan membuat hidup kita dikuatkan oleh penyertaan Tuhan Yesus.

Source : Suara Pembaruan