Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku

Bacaan Injil: yohanes 12 :20-33

Tuhan sertamu…
Inilah Injil YESUS KRISTUS menurut Yohanes


(20) Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.
(21) Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan YESUS.”
(22) Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada YESUS.
(23) Tetapi YESUS menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.
(24) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
(25) Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.
(26) Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
(27) Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.
(28) Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”
(29) Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.”
(30) Jawab YESUS: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu.
(31) Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;
(32) dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”
(33) Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

Demikianlah Injil Tuhan.

homili:

siapa yang sering melayani Tuhan?
diprotestan mungkin sangat akrab dengan kalimat “melayani” kan?

menjadi singer, usher, wl, dll disebut sebagai pekerjaan “melayani” di protestan…
dikatolik juga ada pelayan2 sabda.

coba mari kita perdalam lagi ayat diatas…

yohanes 12:26

(26) Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

ada 2 hal menarik diayat tersebut.

yang pertama adalah kata “melayani” dan yang kedua adalah kata “mengikuti”

pernahkah kita renungkan bagaimana “melayani” Tuhan yang dimaksud? dan bagaimanakah maksud ataupun implementasi dari kata “mengikuti” dalam ayat tersebut?

apakah anda berani memproklamirkan diri sebagai pengikut KRISTUS hanya karena anda seorang Kristen?? apakah arti mengikut KRISTUS itu hanya menjadi seorang Kristen?? tentu saja tidak bukan? atau barangkali ada yang berpendapat lain?

kalau kita lihat dalam konteks injil yohanes 12, maka kita akan melihat bahwa mengikuti Tuhan, berarti berbuat seperti Tuhan. YESUS KRISTUS adalah Tuhan dan contoh bagi kita semua…

injil yohanes 12 bercerita mengenai bagaimana YESUS yang harus mati demi umat manusia… YESUS harus mati demi hidup orang lain. YESUS mengorbankan diri demi keselamatan orang lain…

disebut dalam ayatnya yang ke 24

(24) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

lalu diayat selanjutnya YESUS memberi pernyataan pula bahwa:

i Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. [/i]

jelas sekali bahwa sebenarnya Tuhan ingin murid2nya ataupun pelayan2Nya mengikuti apa yg dilakukanNya.
mengasihi sampai mengorbankan Nyawa demi orang lain.

berat ya? hehehe…
walaupn berat itulah perintah Tuhan… namun jika faktanya masih jauh… maka bolehlah kita latih semangat berkorban dari hal2 yg kecil… berkorban bagi sesama, demi kebahagiaan orang lain…

hingga bukan tidak mungkin karena rahmat Allah kita mampu berbuat seturut teladan YESUS. dan dengan demikian kita telah mengikuti YESUS.

so, marilah kita merenungkan, sudahkah kita pantas disebut sebagai yang mengikuti YESUS? jika belum, apakah para “pelayan2” TUhan sudah mengikuti YESUS? sudahkah para pelayan2 itu memiliki sifat rela berkorban untuk kebahagiaan sesama?

karena: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku”

amin.

Rm. Ond32lumut, S.Ms :smiley:

Amin. Syukur kepada Allah.

WOW…suatu penafsiran yg EKSTREEM kalau sampai “mengorbankan nyawa” dalam menafsirkan ayat2 diatas secara hurufiah, padahal juga ada kata2 Tuhan Yesus sbb :

*) Seorang MURID tidak akan melebihi GURUnya !
*) Allah kita adalah Tuhan orang yg hidup bukan Tuhannya orang mati
*) IBADAH yg SEJATI adalah mempersembahkan TUBUH kita yg HIDUP (Perkataan, Pikiran dan perbuatan kita) sebagai persembahan yg HARUM demi kemuliaan Nama Tuhan (Surat Rasul Paulus)
SAAT kita MATI maka berhentilah Karya dan Ibadah kita kepada Tuhan, jadi mumpung masih HIDUP ber KARYA lah se banyak2nya bagi Tuhan

Resume dari Kalimat Anda yang Terachir…ITU lah yg Tuhan Yesus kehendaki dari kita !

“sudahkah para pelayan2 itu memiliki sifat rela berkorban untuk kebahagiaan sesama?”…karena disitulah apa yg Tuhan Yesus ajarkan bila ingin “Mengikut Aku” kita diminta :

  1. MENYANGKAL DIRI, sehingga SAAT kita harus …
  2. MEMIKUL SALIB kita menjalaninya dengan BERSIUL MENYENANDUNGKAN Lagu Sukacita bukan MERINTIH apalagi MERENGEK dan MENGELUH !

Renungan yg INDAH dan MEMBANGUN pak Onde !

Sesuatu yang kelihtannya baik, belum tentu benar.
Sesuatu yang kelihatannya benar, belum tentu baik.
Sesuatu yang kelihatannya bagus, belum tentu berharga.
Sesuatu yang kelihatannya berharga/berguna, belum tentu bagus.

mengorbankan nyawa bagi orang lain terdengar eksteem bagi anda? :slight_smile:
coba kita renungkan…
pernah dengan istilah martir atau santo santa?

sedikit cerita ttg santo carolus:
Sebagai Kardinal yang baik dan didorong oleh kecintaannya pada orang-orang menderita, St. Carolus melibatkan diri merawat orang-orang yang terjangkit. Ia membawa mereka ke rumahnya bahkan ke kamar pribadinya untuk dirawat. Keterlibatan langsung mengurus orang sakit akhirnya membuat ia sendiri terjangkit penyakit menular, hingga akhirnya ia wafat. Setelah wafatnya Carolus dikenal sebagai martir cinta kasih, karena cintanya pada Kristus ia wujudkan dengan mencintai orang-orang yang menderita.

tapi kita tidak usah jauh2…pahlawan2 perjuangan kita juga rela mati demi cintanya terhadap tanah air dan demi kemerdekaan anak cucu mereka?

atau anda bisa search bagaimana seorang ibu mengorbankan nyawanya demi keselamatan anaknya? ini salah satunya http://wahw33d.blogspot.com/2010/06/ibu-rela-ditelan-ombak-besar-demi-anak.html

atau lebih nyata lagi apakah anda rela berkorban nyawa untuk anak anda?
kalau anda tanya pada saya, saya akan jawab: Iya! :smiley:

mencintai dengan mengorbankan nyawa bukan hal yg mustahil… Tuhan tidak sedang bergurau berkata diayat tersebut, Tuhan juga tidak sedang ber hiperbola, Tuhan juga tidak sedang berkiasan… itulah Fakta, dan memang demikianlah perintah Tuhan yg lugas itu. menorbankan nyawa oleh karena cinta kasih yg besar adalah teladan yesus! dan manusia sebagai citra Allah dimampukan untuk melakukannya.

apakah dengan begitu akan melebihi yesus?

apa anda pikir dengan mengorbankan nyawa anda, untuk orang lain, anda telah menjadi lebih Tuhan daripada yesus? :smiley:
jadi jangan khawatir ketika anda berkorban demi cintakasih anda akan melebihi yesus, karena itu tidak mungkin… :smiley:

Allah kita adalah allah orang hidup. ya tentu saja, karena ketika kita percaya pada Tuhan kita akan hidup selamanya, walaupun kita sudah mati. itu sama sekali tidak ada hubungan dengan masalah mengorbankan nyawa… :smiley:

dan melayani Tuhan itu:

(40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Tuhan menghendaki kita rela berkorban… namun tanpa batasan… bahkan sampai nyawa pun boleh dikorbankan demi cinta kasih. jangan membatasi yg tidak dibatasi… supaya kita dapat menjadi lebih baik dan sempurna.

nah! kalau yg ini anda boleh dibilang melebihi kesaktian dan ketabahan Tuhan yesus! dalam memikul salib saja Tuhan merintih, berteriak, takut, bahkan putus asa… :smiley:

kelihatannya bagus, tapi bahasa semacam itu seperti rayuan gombal saja… dan itu yg bikin saya risih dengar kothbah pendeta2 protestan… hehehe…

akan lebih indah dan membangun jika tulisan anda ini ditujukan untuk diri anda sendiri…
karena saya punya renungan saya sendiri… :slight_smile:

salam…

Yoh. 14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;
Yoh. 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

bro onde menurutku ada yg sedikit terlewatkan dari pendapat anda ttg menyerahkan nyawa karena kalau anda mengartikan setiap org harus menyerahkan nyawanya krn kalimat harus ikut maka nanti anda akan melihat orang menyalibkan dirinya!

yang saya tangkap dari pernyataan Kristus adalah jika manusia lebih mencintai nyawanya dr pd imanya tentu org itu tidak benar, dia harus rela menyerahkan nyawanya sekalipun jika dia dihadapkan pada pilihan dunia atau Yesus.

Yesus berbicara mengenai kasih yg paling besar disini bukan berararti org yg tdk mengorbankan nyawanya tidak mempunyai kasih dan bukan pula dia sampai mencari-cari jalan agar dia dapat mati karena Yesus krn kl begini itu namanya bunuh diri.

setiap orang harus melayani spt apa mau nya Tuhan dan terlebih dahulu harus menunggu apa yg Dia perintahkan, jika dalam pelayananya org tsb sampai mengalami rintangan untuk memilih hidup dan mati dan dia tetap memilih melayani dan akhirnya mati maka dia punya kasih yg paling besar, jadi fokusnya melayani Tuhan bukan matinya.

mengasihi Tuhan----->melayani----->rintangan----->siap mati

yg dimaksud YESUS KRISTUS adalah setiap pengikutnya harus siap mati

saya heran ntah apa yang ada difikiran anda sampai menuliskan yang di bold. saya fikir ketika anda mengangkat masalah kasih yg paling besar anda sudah mencoba untuk mengamininya ttp sungguh sangat bertolak belakang dengan pernyataan diatas, bagaimana kata PROTESTAN itu tiba2 muncul tanpa ada hubungan dengan judul trit yg anda buat sendiri??bukankah nonkatolik itu tdk hanya protestan?
saya kwatir ini akibat anda menyimpan bara krn org lain sehingga anda harus melampiaskan
jika ini yg tjd tentu menurutku tdk baik…

saya pribadi tdk peduli bagaimana anda menilai protestan ttp kenyataan bahwa anda mencoba untuk memahami kasih yg paling besar ttp masih berusaha menyudutkan denominasi yg itu itu aja, pertanyaanya

apakah ada kasih dihatimu??

ataukah kasih itu muncul jika semua org berbuat baik kepadamu?

ini sebagai perenungan utk kit semua dan tdk perlu disikusikan

Benar…

Dan

Jangan menjadi batu sandungan terhadap sesama kepercayaan, toh… Tuhan itu satu “YESUS KRISTUS”

inti pengorbanan Yesus adalah kasih.

tapi apakah jika kita dapat disebut memiliki kasih adalah setelah kita berkorban nyawa seperti Yesus?

Kadang memang ada manusia yang sengaja mempersulit seseorang untuk dapat melayaniNya, manusia pada dasarnya tidak pernah layak untuk melayani Tuhan, tapi Tuhan saja mempermudah manusia untuk dapat melayaniNya.

Yang ADA keknya sih TEGAR TENGKUK, KERAS KEPALA dan EGOCENTRIS…inilah yg disebut “anti KRISTUS historis” yg malah berasal dari Lingkungan intern Umat Tebusan …

Studi Tentang First Decree

“haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:7)
Seorang guru sekolah begitu gemas mendengar seorang anak muridnya menyanyi sebuah lagu dengan notasi yang salah. Lalu, karena ia juga seorang guru seni suara, dia berusaha mengkoreksi murid tersebut. Dia memberitahu anak itu bahwa cara dia menyanyikan lagu itu salah, tidak seperti not yang seharusnya ketika lagu itu digubah.
Pada mulanya anak itu membantah dan berkeras hati bahwa apa yang dia nyanyikan itu benar, karena sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orang tuanya. Guru ini berusaha meyakinkan dan menunjukkan buku nyanyian yang ada notnya, dan memberi contoh menyanyikan lagu itu secara benar. Akhirnya, anak itu menyadari bahwa apa yang ia nyanyikan selama ini memang salah, dan ia mau belajar menyanyi lagu itu dengan benar. Anak itu mengikuti setiap not dari buku dan mencoba menyanyi dengan benar. Setelah berulang kali mencoba dan berjuang keras, akhirnya anak ini mulai bisa mengoreksi kesalahannya.
Tetapi anehnya, setelah ia berdiam beberapa lama, kemudian mencoba lagi menyanyikan lagu itu, maka ia kembali menyanyi seperti yang pertama, yang salah, dan sulit lagi untuk mengoreksi ke yang benar. Perlu perjuangan lagi untuk mengingat lagi bagaimana menyanyi yang benar.
Inilah masalah “dekrit pertama” atau yang lebih dikenal sebagai “first-decree” (FD)
. “Dekrit Pertama Pendidikan” merupakan hal yang sedemikian penting di dalam kita mendidik dan mengajar anak. Namun, tema ini sangat sedikit dibicarakan dan dimengerti, khususnya oleh orangtua dan para insan pendidikan. Bahkan ketika disebutkan, sedikit orangtua atau para pendidik yang mengerti apa yang dimaksud dengan “first decree” atau “dekrit pertama” pendidikan ini. Seolah-olah hal ini bisa diabaikan begitu saja, dan tidak dipedulikan, karena adanya asumsi pendidikan bisa diproses sekehendak hati pendidik.

Apa itu First Decree (FD)?
First Decree adalah pengajaran pertama yang diterima oleh seorang (anak), yang tertanam, sehingga merupakan suatu konsep atau kebenaran asasi bagi dirinya. Semakin kecil anak itu, semakin banyak FD yang dimasukkan kepadanya. Saat itu begitu banyak kebenaran-kebenaran yang baru bagi dirinya, yang akhirnya membentuk paradigma kehidupannya.
Contoh mengajar menyanyi seperti di awal tulisan ini adalah contoh yang paling sering dialami seorang anak. Tetapi bukan hanya itu. Jika seorang anak diberitahu bahwa warna hijau itu adalah biru dan warna biru adalah hijau, maka akan sulit untuk mengoreksi kesalahan konsep warna itu pada usia dewasa nanti. Setiap kali diberitahu bahwa itu bukan hijau, tetapi biru, ia akan mengiyakan, tetapi tidak lama ia akan kembali lagi menyebut warna itu sebagai hijau. Butuh perjuangan keras untuk betul-betul bisa berubah dan kembali kepada apa yang benar.

Bersambung…

Sambungan…

Pentingnya First Decree

Pertama-tama, FD sangat berpengaruh pada seluruh kehidupan seseorang, karena akan membentuk paradigma hidupnya. Banyak orang menganggap enteng FD, karena dianggap hal yang lumrah. Orang salah menyanyi, bagi kebanyakan orang, dianggap bukan hal serius. Apalagi di era postmodern seperti sekarang, maka relativitas dan semangat non-akurat menjadi ciri khas masyarakat pragmatis. Manusia tidak mau berjuang untuk mencari kebenaran secara akurat, dan puas dengan apa yang ia anggap benar, walaupun itu tidak benar. Akibatnya, ia sangat mudah tertipu, karena tidak terbiasa lagi untuk mencari hal-hal yang benar dan akurat.

Kedua, yang juga sangat bermasalah, kesalahan-kesalahan FD seringkali menyangkut aspek yang cukup sentral dalam kehidupan, seperti problematika iman (believe) dan pendekatan (approach).
Dua aspek ini merupakan hal yang sangat serius. Ketika anak-anak di sekolah diajarkan bahwa semua agama sama, tidak perlu dibeda-bedakan, maka ia akan bertumbuh menjadi seorang relativis dan humanis. Ia tidak lagi melihat bahwa setiap agama itu unik, dan setiap agama pasti mengandung unsur klaim kemutlakkan sebagai kebenaran. Maka tidak mungkin semua agama sama.
Di sini manusia sudah ditipu paradigmanya sejak kecil. Akibatnya, ketika ada orang yang mengatakan, “kita harus betul-betul secara serius memilah dan memilih agama atau iman yang benar,” ia akan segera menentang dan menunjukkan sikap tidak suka.
Sangat sulit untuk merubah konsep dasar seperti ini. Banyak sekali FD yang ditanamkan secara salah kepada seseorang, yang akhirnya membuat orang tersebut mudah sekali jatuh ke dalam dosa, atau mudah sekali tertipu oleh orang jahat, ataupun sangat sulit mengerti kebenaran Firman Tuhan.

Ketiga, seperti telah disinggung di butir pertama dan kedua, kita segera bisa melihat bahwa FD begitu penting, karena bukan menyangkut satu permasalahan tunggal, tetapi akan mempengaruhi orang lain, karena apa yang kita tanamkan akan menjadi keyakinan di dalam diri orang itu, dan dia akan memakainya untuk meyakinkan orang lain lagi.
Seorang yang mendapatkan pendidikan yang salah di masa kecil, maka ia akan menganggap hal itu sebagai kebenaran, dan ia akan meyakinkan orang lain akan hal itu. Seorang yang dari kecil dididik bahwa tidak ada Allah, maka ia akan berusaha meyakinkan orang lain, bahwa memang tidak ada Allah. Hal ini terpaksa ia lakukan, karena ia tidak ingin apa yang ia yakini akhirnya terbukti salah. Maka ia akan berusaha sekuat tenaga agar membuat semua orang setuju dengan pemahamannya, yang sebenarnya salah.

Bersambung…

Sambungan :

Penanaman First Decree Pada Anak
Setelah kita menyadari akan betapa pentingnya penanaman FD pada anak khususnya, maka kita perlu memikirkan beberapa hal di dalamnya.

  1. Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat produktif untuk menangkap semua pengetahuan dan pengertian. Konsep-konsep penting dalam kehidupan manusia dimulai dari masa kanak-kanak. Di situlah seorang anak membangun seluruh paradigma hidupnya kelak. Maka, para ahli setuju bahwa usia “balita” (di bawah lima tahun), merupakan waktu yang sangat krusial untuk menanamkan nilai-nilai pada anak. Tetapi bukan sekadar nilai-nilai, iman Kristen melihat pentingnya menanamkan iman itu sendiri. Iman yang sejati adalah basis kemutlakan yang sangat dibutuhkan oleh anak untuk menjadi kompas hidupnya. Jika dasar imannya diletakkan pada dirinya sendiri, seumur hidup tanpa disadarinya ia akan menghancurkan dirinya.

  2. Penanaman FD yang benar pada anak akan membangun keutuhan integritas hidupnya. Hal ini sangat penting di dalam menggarap pertumbuhan anak yang sesuai dengan kebenaran Tuhan. Kita percaya, jika seseorang dibangun dengan pemikiran yang pragmatis dan duniawi, maka di dalam dirinya ada suatu “faktor perusak” (defeating factor) yang akan meledakkan dirinya di suatu saat kelak dalam hidupnya.

  3. Hidup yang terbangun di dalam kebenaran Firman akan membuat seluruh hidup akan terintegrasi secara baik. Hidup sedemikian akan membangun moralitas dan kehidupan yang mulia di masa depan. Alkitab mencatat bagaimana Musa dari kecil dididik oleh ibunya dengan Firman, maka ia tidak tergeser imannya ketika menjadi anak angkat puteri Firaun . Di dalam kehidupan bergereja, seorang anak yang terbangun dengan FD yang baik akan sangat mudah dipertumbuhkan, karena tidak mengalami konflik yang terlalu banyak di dalam dirinya. Seorang anak yang dibangun dengan FD yang salah, akan mengalami konflik untuk dibawa kembali kebenaran, dan membutuhkan perjuangan berat untuk melakukan koreksi. Inilah yang banyak dialami oleh setiap kita sebagai orang percaya, yang mendapatkan pengajaran atau penanaman FD yang salah di masa lalu.

  4. Seorang anak yang kita tanam dengan FD yang baik, akan sangat menghemat waktunya untuk bertumbuh. Ada banyak waktu yang terbuang di dalam pertumbuhan seseorang ketika ia harus banyak sekali mengoreksi konsep-konsepnya yang salah. Itupun terkadang masih harus berhadapan dengan banyak kendala, menimbulkan kesulitan pada orang-orang yang mau mengoreksi atau menolong dia.

Bersambung…

Sambungan…

Peranan Orangtua dan Guru
Dua pemeran penting di dalam penanaman FD adalah orangtua dan guru. Tuhan menyerahkan tugas tanggung jawab yang sangat berat kepada orangtua untuk menanamkan konsep-konsep kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak sejak usia dini. Firman Tuhan di awal makalah ini mengajarkan bagaimana orangtua harus secara intens mengajarkan kebenaran firman kepada anak-anak. Mereka harus mengerti kebenaran dari sejak dini. Jika mereka diajarkan hal yang salah, akan sangat sulit dan dibutuhkan perjuangan yang sangat berat untuk mengoreksi kesalahannya.

Sangat disayangkan saat ini, kedua peran penting ini begitu banyak diabaikan. Banyak orangtua dengan tanpa rasa bersalah menyerahkan tugas penanaman FD kepada pembantu atau suster yang memelihara anaknya. Ia tidak melihat bahwa penanaman FD akan berdampak seumur hidup, sementara sang pembantu suatu saat akan meninggalkan anak itu dan tidak pernah bertanggungjawab atas apa yang ia tanam. Seorang filsuf dan pendidik yang luar biasa (Prof. Nicholas Wolterstroff, Ph.D., ed.) bersaksi, ”…begitu indahnya penanaman pengalaman kehidupan Kristen di dalam keluarga yang begitu saleh, menjadi dasar kehidupan seseorang sepanjang hidupnya kemudian.” (Wolterstroff, 2002, hlm. 10-11)
Demikian pula begitu banyak guru yang berpikir bahwa dia hanya seorang yang mencari sesuap nasi (dan semangkuk berlian—ed.), membagi pengetahuan yang ia tahu tanpa pertanggungjawaban bagaimana ia sedang menggarap satu pribadi manusia, yang nantinya akan membawa konsep itu seumur hidupnya. Seolah-olah tugas guru hanyalah satu dari sekian banyak profesi yang lain.
Orangtua dan guru harus sungguh-sungguh menyadari bahwa tugas menanam FD yang baik dan benar merupakan tanggung jawab besar yang Tuhan percayakan kepada Anda. Tugas ini begitu mulia karena membentuk paradigma, karakter, dan khususnya iman dari anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita. Seorang guru sekolah minggu yang sungguh-sungguh mengasihi dan mendidik anak-anak dengan baik, sampai ia dicintai oleh anak-anak, pastilah ia tidak akan menjadi hamba Tuhan yang gagal . Seorang guru yang baik, pastilah akan dikenang dan dihormati oleh murid-muridnya kelak. Pdt. Dr. Stephen Tong menegaskan bahwa guru yang baik adalah yang dia sendiri telah menjadi murid kebenaran .

Bersambung…

Sambungan…

Penutup
Jika selama ini kita tidak peduli dengan First Decree, mungkin karena kurangnya pengetahuan dan pengertian akan pentingnya tugas ini, kiranya kini kita boleh lebih secara serius memikirkan dan mengaplikasikan di dalam pendidikan diri kita sendiri. Jika selama ini kita tidak terlalu peduli akan pentingnya keakuratan akan kebenaran dan membiarkan semua pragmatis, kini kita perlu mulai memikirkan bahwa kebenaran harus dibedakan dari ketidakbenaran. Kita harus menanamkan FD yang paling benar, yang akurat, yang sesuai dengan Firman Tuhan. Seperti Pdt. Dr. Stephen Tong tegaskan, “kebenaran itu bukanlah pengetahuan, tetapi kekuatan”

Jika selama ini kita tidak melihat pentingnya peran orangtua dan guru dalam menanamkan FD, kini kita perlu bertobat dan berbalik untuk menebus kesalahan kita dengan sungguh-sungguh menggarap panggilan mulia ini di dalam panggilan pendidikan Kristen yang benar.

Soli Deo Gloria.

yg saya bold itu adalah kesimpulan anda sendiri, bukan saya… :smiley:

ada kesimpulan yg saya tarik diakhir bahasan saya…
jadi mohon dimengerti maksud tulisan saya secara benar dulu…

anda tau bro… saya mengkritisi dimana ada orang yg menganggap kalimat YESUS sebagai yg hiperbola saja…
kalimat YESUS itu benar… dan seorang Kristen sejati SEHARUSNYA mampu untuk demikian.

ada komentar liliput yg menilai saya ekstreem menapsir ayat.

perintah YESUS bukan hal yg ekstreem… mati bagi orang lain oleh karena kasih yg besar, bukalah hal ekstreem dan mengada2…

banyak bukti manusia bisa melakukannya…

sensitif brother… :smiley:
kan saya sedang bicara dengan liliput? jelas ditulis diprofilnya “Protestan” :smiley:

so,
pertama, apakah orang mengasihi dilarang mengkritik???

apalagi saya, YESUS pun bisa berbuat demikian…

YESUS sang maha kasih, marah, mengkritik, bahkan mengutuk orang2 farisi dan ahli2 taurat.
namun tentu saja YESUS mengasihi mereka

brother… dengan ketidak setujuan saya mengenai protestanisme, bukan berarti saya membenci orang protestan.
istri saya dulu bprotestan, mertua saya protestan, om saya (adik bapak saya) bahkan pendeta protestan gereja yg cukup besar di Jepara. namun tentu saja saya tidak membenci mereka, namun jika saya tidak setuju dan tidak suka dengan protestanisme why? :smiley: apa hubungannya dengan moralitas saya?

kedua, mari saya ajak anda untuk bersama merenungkan ayat2 kitab suci, mari berdiskusi kitab suci, bukan menjadi polisi moral bagi lawan diskusi.

pengetahuan ttg kebenaran dan kasih tidak berbanding lurus dengan perbuatan dan moralitas kita.

namun masalah moral dan perbuatan tentu saja saya tidak harus mempertanggung jawabkan kepada anda… biarlah itu saya yg menilai.

pertama: anda berkata anda tidak perduli penilaian saya,
kenapa anda merasa tersudut??? anda ini lucu… :smiley: jujur saja bahwa anda sensitif dan sangat perduli penilaian ttg protestanisme.

kedua: jika anda merasa tersudut? silahkan beri pembelaan. anda sendiri MENCOBA “mendiskualifikasi” moralitas saya, dengan mendiskualifikasi saya, sebenarnya anda juga sedang mengkualifikasi diri anda sendiri :smiley:

ADA… Masih, dan akan terus memperbesar kasih… :slight_smile:
bagaimana dengan anda? :smiley:

tentu saja itu bukan kasih namanya, gereja saya tidak mengajarkan yg demikian… :slight_smile:

penting juga untuk anda

pertama-tama saya protestan dan bukan hanya protestan denom diforum ini, lalu mengapa anda sll menulis protestan?
dari mana anda dapat data kalau kotbah2 pendeta protestan itu rayuan gombal shg anda merasa risih?
anda berusaha membandingkan bagaimana gereja katolik bekerja utk Tuhan dibanding protestan??

keritik itu beda dengan ejekan karena kl anda mengemukakan kasih disini tentunya bukan ejekan yg anda pakai.

ini kan forum diskusi berbagai denom sebaiknya jgn memberi pendapat yg bersifat emosional.
kmrn ada trit judulnya “mengapa aku bukan katolik” didelete dan ada member yg sering dibaned krn menyudutkan katolik dan , skrg ada seorang katolik yg menyudutkan protestan trus saya jadi heran mengapa ini aman dari moderator?

bagaimana kalau aku buat trit dgn judul “aku enek dengan kotbah pastor”

kepada moderator apakah judul trit itu tdk memancing gesekan persaudaraan?

sekali lagi saya katakan bukan hanya protestan yg ada di forum ini, mengapa anda sll melirik protestan??

begini aja saya akan buat trit dengan judul: mengapa enek mendengar kotbah pastor…

anda bisa bayangkan apa yg akan terjadi???

saya serius memberi masukan kepada pengelola forum ini supaya memperhatikan bentuk keadilan diantara semua denominasi gereja yang ada, ketika ada yg menyudutkan katolik maka harus ditindak demikian juga sebaliknya…

mohon moderator menjadi pengambil keputusan

terima kasih

Dear All

Yang mau melayani Yesus, harus mengikut Yesus. Dan barangsiapa yang mau mengikut Yesus, dia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mat 16 : 24).

Ikut Yesus disini bisa berarti mengikutiNya ke Bukit Golgota; yang mungkin bisa diaplikasikan dalam bentuk menyalibkan kedagingan diri / ego diri / harga diri / dan jika dibutuhkan tentu nyawa menjadi taruhannya.

Semoga menjelang peringatan kematian Kristus di kayu salib untuk menebus manusia dari dosa mengingatkan kita untuk kembali kepada pengorbananNya yang mendamaikan manusia dengan Allah, manusia dengan sesama dan manusia dengan ciptanNya.

Dan lewat momentum kebangkitan Kristus, kita dapat hidup berkemenangan dari dosa.

Salam

coba anda perhatikan apakah yg dikatakan Yesus dan bandingkan dgn pernyataan anda,
Yesus mengatakan setiap dilarang mencintai nyawanya spt DIA juga blg dilarang mencintai uang

mati itu bukan urusan kita krn tiap org tdk tau kapan hari kematianya, kewajiban kita adalah supaya setiap orang melayani Tuhan 100% dengan hatinya dan dlm keadaanya yg merelakan semuanya dia juga siap mati untuk Tuhan,

paulus menekankan apa yg dikatakan Yesus dan dia berkata rela bahkan nyawanya sekalipun dia akan serahkan asal menyelesaikan pekerjaan yg diberikan Tuhan,

pergilah jadikanlah semua bangsa muridku…

inilah perintah Yesus dan semua org percaya hrus melakukanya bagaimanapun keadaanya, dimana pun dia berada dan seberapa besar rintanganya.

banyak orang benar dlm Tuhan tdk mati oleh karena menjadi pelayan NYA contoh:
zakaria dan simeon dan aku dgr dr katolik yohanes juga tdk mati(silahkan koreksi), orang2 spt mrk ini bukanlah pengecut yg takut mati dlm Tuhan ttp kenyataan bahwa Tuhan tdk menghendaki mereka tdk mati dlm pelayananya.

jadi pendapat anda bahwa org percaya harus menyerahkan nyawanya krn mengikut Kristus itu kurang benar krn jika demikian akan terjadi kekacauan krn kristen banyak yg sengaja mencari-cari tepat pelayanan yg berbahaya shg mrk mati berguguran.

ikutlah Yesus dan harus siap mati…

Imho postingan bro ond3 tidak menyarankan kita untuk mencari2 kematian ;D

Tetapi kurang lebih sama dengan postingan bro Erwin bahwa kita harus mengikuti Dia sekalipun itu penuh dengan penderitaan bahkan siap untuk menyerahkan nyawanya karena Dia.

Dalam arti yang lain seperti bro M4C bilang

Ikut YESUS disini bisa berarti mengikutiNya ke Bukit Golgota; yang mungkin bisa diaplikasikan dalam bentuk menyalibkan kedagingan diri / ego diri / harga diri / dan jika dibutuhkan tentu nyawa menjadi taruhannya.

Rasul Yohanes sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan setia hingga pernah direbus dalam kuali panas namun puji Tuhan , Ia tidak mendapat luka sedikitpun dan kesaksian akan mujijat ini juga mempertebal keyakinan iman pengikut2 Kristus.

Bunda Maria tidak mati sebagai martir tetapi jiwa dan hatinya menderita ketika melihat puteranya yang terkasih wafat di kayu salib.

Bunda Theresa dari calcuta juga memberikan seluruh hidupnya dalam pelayanannya kepada penduduk Calcuta yang miskin.

Jadi kalau saya melihat postingan bro ond3, bro Erwin, dan bro M4C mengingatkan kita pada panggilan mengikut TUhan.

Terkadang banyak sekali khotbah yang mengatakan kita anak Tuhan karena kita berkelimpahan, makmur, sembuh dalam penyakit bla2…bla2…

Padahal kita lupa Tuhan mengingatkan akan jalan salib yang harus kita ikuti bahkan jika demi hal kebenaran tersebut kita harus menyerahkan nyawa.

Postingan yang bagus dengan tanggapan yang baik…:slight_smile:

salam damai :slight_smile: