beberapa kasus, minta tanggapannya

saya cuma ingin tau tanggapan saudara seiman. ini ada beberapa kasus :

  1. ada seseorang yang beragama kristen sebut saja A, ibadahnya di gereja kecil, dia terkena kanker, biaya pengobatannya butuh 10 juta. setelah mengumpulkan sumbangan di gereja, terkumpul cuma 4 juta. kemudian teman A dari agama lain mendengar tentang penyakitnya, dan dari tempat ibadah temannya terkumpul 10 juta (karena dikira butuhnya 10 juta), dan diberikan ke A. kemudian seorang majelis di gereja A tau tentang bantuan dari agama lain, dan menyuruh A mengembalikan dan berdoa dan berpuasa agar ada saudara seiman yang membantu kekurangannya. kemudian A mengembalikan uang itu ke temannya yang dari agama lain. 4 bulan kemudian si A ini meninggal karena kanker, karena kurang uang untuk pengobatannya. benarkah tidak boleh menerima bantuan dari agama lain?

  2. ada seorang yang saya tahu beragama kristen, dia pernah curhat ke saya kalau butuh uang untuk menghidupi keluarganya. kemudian sewaktu dia datang ke rumah saya untuk menjual barang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, saya selipkan sejumlah uang dalam amplop ke tas ranselnya. beberapa hari kemudian, dia cerita kalau sehari sebelum ke tempat saya, dia menemui seorang paranormal, dan besoknya dapat uang tanpa tau dari mana. apakah saya ikut bersalah membuat orang ini jadi percaya ke paranormal dalam hal ini?

  3. ada istri seorang pendeta yang mempunyai bisnis suplier barang dari jawa ke luar pulau. suatu hari dia ditipu pembelinya dari luar pulau, sehingga tidak bisa membayar ke supliernya di jawa (supliernya ini bukan orang kristen). karena istri pendeta, jadi suplier ini bersikap lunak selama beberapa bulan. tapi setelah beberapa bulan, suplier ini mulai tidak sabar dan meminta agar istri pendeta ini melunasi hutang2nya, pokoknya harus dibayar dan dia merekomendasikan agar hutang ke salah satu jemaat di gereja suaminya, tapi istri pendeta ini tidak mau berhutang. apakah diperbolehkan hutang kalau begini?

Dear Gusgus,

Apa yang saya sampaikan berikut ini hanyalah pendapat.

  1. Tidak ada hukum di dunia ini yang melarang kita menerima bantuan dari siapapun*, bukankah setiap hari kita melakukan hal ini? Jika kita menoleh ke belakang dan melihat rekaman hidup kita, bukankah kita juga sering menjumpai seorang yang bukan Kristen yang menolong kita? Tidak ada alasan bagi kita untuk bersikap eksklusif, Allah dapat memberikan bantuan melalui berbagai macam cara**, asalkan dari awal kita menekankan sikap bahwa kita adalah orang Kristen yang percaya Yesus. Mungkin saja, dengan bantuan dari teman A yang beragama lain, hubungan toleransi mereka dapat semakin baik. Lebih lanjut, Apa yang telah terjadi dan menimpa A, dapat dijadikan alasan bagi beberapa orang untuk menyalahkan pendeta dari A, terlalu sok atau terlalu sempit, dan malah menjadi batu sandungan bagi pendeta tersebut. Orang orang Kristen sendiri sering memberikan bantuan kepada orang lain yang memiliki kepercayaan yang berbeda dari mereka, dan hal ini baik. Mungkin saja dari hubungan yang baik ini, diskusi penginjilan dapat dilakukan dengan lebih toleran dan hangat.

  2. Tidak ada yang bersalah dari pemberian Anda yang tulus, respon teman Anda seharusnya adalah bersyukur dan melihat bahwa pemberian Anda adalah pemberian Allah, bukan seorang dukun. Respon teman Anda yang salah tidak serta merta membuat Anda menjadi berdosa dalam hal ini, sama seperti penemuan E=mc2 dari Einstein tidak serta merta membuatnya berdosa hanya karena persamaan tersebut kemudian digunakan untuk membuat bom atom.

  3. Jika hutang adalah satu satunya jalan, mungkin berhutang itu baik, walaupun bukan yang terbaik. Adalah lebih baik berhutang bagi istri pendeta itu daripada nantinya ia menderita sesuatu yang lebih parah, misalkan terkena skandal penipuan karena tidak mau membayar si supplier.

1. ada seseorang yang beragama Kristen sebut saja A, ibadahnya di gereja kecil, dia terkena kanker, biaya pengobatannya butuh 10 juta. setelah mengumpulkan sumbangan di gereja, terkumpul cuma 4 juta. kemudian teman A dari agama lain mendengar tentang penyakitnya, dan dari tempat ibadah temannya terkumpul 10 juta (karena dikira butuhnya 10 juta), dan diberikan ke A. kemudian seorang majelis di gereja A tau tentang bantuan dari agama lain, dan menyuruh A mengembalikan dan berdoa dan berpuasa agar ada saudara seiman yang membantu kekurangannya. kemudian A mengembalikan uang itu ke temannya yang dari agama lain. 4 bulan kemudian si A ini meninggal karena kanker, karena kurang uang untuk pengobatannya. benarkah tidak boleh menerima bantuan dari agama lain?

Alangkah naive nya sang majelis. Apakah ia tidak mengetahui bahwa Tuhan itu berkuasa terhadap semua manusia, tidak hanya pada umat di gereja A saja? Tuhan bisa memberi pertolongan bahkan dari yang tidak disangka sangka.

Pernah dengar joke satyre seperti ini :

Pada suatu desa kecil di lembah tejadi bendungan jebol, dan mulai merendam rumah rumah di lembah itu. SEmua orang berlindung ke gereja yang kebetulan letaknya paling tinggi. Sang pendetapun dengan mantap berkata bahwa rumah Tuhan akan dijagaNya. Ketika banjir mulai selutut, si pendeta mengajak seluruh umat berdoa mohon pertolongan dan air disurutkan. Pada saat kritis, datang tiga kapal besar berturut turut menjemput umat yang berlindung di gereja itu. Sang pendeta dengan keyakinannya yang sangat kuat tidak mau ikut, bahkan ketika dikatakan tidak ada kapal lagi yang akan menjemput, ia percaya Tuhan pasti menolong. Dan betul, tewaslah si pendeta terbenam. Sesampainya di surga si pendeta protes kepada Tuhan, mengapa dia tidak ditolong, padahal sudah mempercayakan seluruh imannya pada Tuhan. Tuhan hanya tersenyum dan menjawab ‘Bukankah Aku sudah mengirim tiga kapal untuk menolongmu?’

[quote]2. ada seorang yang saya tahu beragama Kristen, dia pernah curhat ke saya kalau butuh uang untuk menghidupi keluarganya. kemudian sewaktu dia datang ke rumah saya untuk menjual barang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, saya selipkan sejumlah uang dalam amplop ke tas ranselnya. beberapa hari kemudian, dia cerita kalau sehari sebelum ke tempat saya, dia menemui seorang paranormal, dan besoknya dapat uang tanpa tau dari mana. apakah saya ikut bersalah membuat orang ini jadi percaya ke paranormal dalam hal ini?[quote]

Anda tidak bersalah. Tujuan anda adalah membantu orang tersebut, jika keyakinannya goyah karena ke paranormal maka itu adalah pilihanya. Jika anda bertemu kembali kepada orang itu, dan anda tahu ia adalah orang Kristen, maka berilah nasehat dengan lembut, bahwa orang Kristen pantang ke paranormal, karena hanya Tuhan yang menjadi andalannya, kemudian secara sekilas, boleh anda singgung juga uang di amplop itu ‘Oh iya waktu itu aku taro amplop di ransel anda, sorry ya aku ngga ngomong, soalnya takut menyinggung anda’ dengan itu sudah cukup bagi teman anda itu untuk menilai faktanya sendiri.

3. ada istri seorang pendeta yang mempunyai bisnis suplier barang dari jawa ke luar pulau. suatu hari dia ditipu pembelinya dari luar pulau, sehingga tidak bisa membayar ke supliernya di jawa (supliernya ini bukan orang Kristen). karena istri pendeta, jadi suplier ini bersikap lunak selama beberapa bulan. tapi setelah beberapa bulan, suplier ini mulai tidak sabar dan meminta agar istri pendeta ini melunasi hutang2nya, pokoknya harus dibayar dan dia merekomendasikan agar hutang ke salah satu jemaat di gereja suaminya, tapi istri pendeta ini tidak mau berhutang. apakah diperbolehkan hutang kalau begini?

Kalau di Alkitab sih dikatakan jangan berhutang, dan kalau ada orang yang berhutang pada kita jangan ditagih, he he he.

Kasusnya bukan kasus agama, tetapi hutang piutang, hutang pada jemaat sebagai pribadi sih sah sah saja, tetapi akan membawa akibat bagi nama baik suaminya (pendeta) dan gereja pimpinan sang suami, karena akan menjadi kisah dari mulut ke mulut, belum lagi kalau saatnya tiba untuk bayar ternyata gagal bayar.

Saran saya jangan lakukan, tetapi bawa saja kasusnya kepada polisi, beri peringatan kepada pengemplang hutang. Dan dalam hal ini si istri pendeta juga menunjukan pada supplier bahwa uang itu memang dikemplang oleh orang lain, bukan si istri pendeta yang tidak mau bayar.

Syalom

  1. menurut saya mungkin si majelis kuatir nanti A pindah agama setelah menerima bantuan itu.
  2. waktu mau memberi amplop itu, saya ingin memberi langsung tanpa sembunyi2, tapi kemudian ada Roh Kudus mengingatkan soal yang jangan tangan kiri mu tau apa yang dilakukan tangan kananmu (saya lupa ayatnya persisnya seperti apa), jadi ya saya sembunyi2 memberinya
  3. istri pendeta ini ditipu, pertama2nya pembayaran lancar, kemudian pembelinya minta barang banyak, jadi karena sudah dipercaya, diambilkan sangat banyak, kemudian si pembeli menghilang waktu ditagih. si suplier dapat memaklumi dan sudah memberi waktu beberapa bulan (kalau tidak salah 6 bulan) agar istri pendeta ini bisa memutar uangnya lagi, tapi istri pendeta ini hanya sanggup mencicil sangat kecil (cerita si supplier utangnya sekitar 90 juta, (dicicil antara 100 ribu sampai 300 ribu tiap bulan) sedangkan si suplier ini juga butuh uang untuk menjalankan usahanya lagi. saya tau istri pendeta ini berusaha, dia buka depot kecil2an dirumahnya.

Saya koq percaya bahwa pertolongan itu diberikan tanpa mengharapkan sesuatu bro, walau bagaimana benarnya dari pihak sana, hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Tetapi toh kalau si sakit tiak pindah, dan tetap beriman, tidak ada paksaan apapun. Jadi biarkan terima saja.

2. waktu mau memberi amplop itu, saya ingin memberi langsung tanpa sembunyi2, tapi kemudian ada ROH KUDUS mengingatkan soal yang jangan tangan kiri mu tau apa yang dilakukan tangan kananmu (saya lupa ayatnya persisnya seperti apa), jadi ya saya sembunyi2 memberinya

Kalau ada kesempatan ketemu lagi, atau anda cari kesempatan untuk purapura ke tempatnya, sampaikan saja permintaan maaf anda karena meletakan amplop tanpa memberitahu, dia pasti tidak akan marah, justru bisa melihat ketulusan ada, bro.

3. istri pendeta ini ditipu, pertama2nya pembayaran lancar, kemudian pembelinya minta barang banyak, jadi karena sudah dipercaya, diambilkan sangat banyak, kemudian si pembeli menghilang waktu ditagih. si suplier dapat memaklumi dan sudah memberi waktu beberapa bulan (kalau tidak salah 6 bulan) agar istri pendeta ini bisa memutar uangnya lagi, tapi istri pendeta ini hanya sanggup mencicil sangat kecil (cerita si supplier utangnya sekitar 90 juta, (dicicil antara 100 ribu sampai 300 ribu tiap bulan) sedangkan si suplier ini juga butuh uang untuk menjalankan usahanya lagi. saya tau istri pendeta ini berusaha, dia buka depot kecil2an dirumahnya.

Masalah seperti ini memang rumit, oiya tahukah suaminya (si pendeta) mengenai persoalan ini? Saran saya, entah memungkinkan atau tidak, coba sampaikan masalahnya kepada salah seorang majelis yang bisa dipercaya. Walaupun tidak mengharapkan, tetapi alangkah baiknya kalau majelis bisa membicarakan dengan jemaat, sehingga walaupun sungguh tidak enak, paling tidak jemaat punya kesempatan membantu kesulitan yang dialami oleh istri pendeta mereka, mereka bisa urunan memberikan uang untuk pembayar hutang itu… Saya akui bahwa usul ini agak kontroversial, jadi butuh pemikiran lanjut, bro.

Syalom

saya tidak tau pendeta dan istri pendeta ini, saya justru kenal sama si suplier ini, suplier ini cerita ke saya, minta pendapat saya, mungkin karena saya kristen. sepertinya si suplier ini juga butuh uang, karena akhir2 ini bisnisnya sepi

Waduh, lantas gimana cara menyampaikan usulan di atas ke istri pendeta itu bro?

:mad0261:

saya akan bicara ke si suplier ini, agar suplier ini bicara ke istri pendeta itu.

Mudah mudahan bisa berakhir baik dan menyenangkan semua pihak.

Syalom