Benarkah orang mati dikatakan "seperti tertidur" Sesuai Yohanes 11:11 ?

Benarkah orang mati dikatakan “seperti tertidur” Sesuai Yohanes 11:11 ?

Agar diskusi langsung menuju Topik saya batasi jawaban dengan 2:

  1. Benar, bahwa ayat Yoh 11:11 berbicara mengenai keadaan orang yg sudah mati, yaitu tidur dan tidak bangun lagi, tidak ke sorga tetapi menunggu hingga di dibangkitkan pada akhir jaman.

Atau,…

  1. Tidak Benar, Ayat Yoh 11:11 TIDAK berbicara mengenai keadaan orang yg sudah mati, melainkan berbicara mengenai hal lain.

Mari kita kutip ayatnya secara lebih jelas:

Yohanes 11:11
Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.”

Yohanes 11:12
Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.”

Yohanes 11:13
Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa.

Yohanes 11:14
Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: "Lazarus sudah mati;

Yohanes 11:15
tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya."

====

Kalau kita lihat keseluruhan ayat dari 11-15 maka dengan jelas kita bisa menyimpulkan bahwa yohanes 11:11 sama sekali TIDAK membicarakan mengenai “keadaan orang yg sudah mati”, yaitu seperti tertidur dan tidak bisa apa-apa lagi, seperti yg dikatakan oleh salah seorang forumer di sini.

Ada dua hal yg bisa dilihat di sini:

  1. Dengan berkata “Lazarus sudah tertidur” YESUS sedang menggunakan gaya bahasa (eufemisme - kalau tak salah).
    Gaya bahasa sering digunakan oleh YESUS. Dan tentu saja itu tidak bisa diartikan secara literal.

  2. Dengan berkata “lazarus sudah tertidur” menunjukkan sosok YESUS yg mengganggap kematian hanyalah hal kecil. Bagi YESUS, kematian tidak lebih daripada tidur.
    YESUS memperkecil masalah agar kebesaranNYA tampak.

Ayat Yoh 11:11 sama sekali tidak menunjukkan “keadaan orang yg sudah mati”.

Silahkan kalau ada yg mau menambahkan, mungkin bro Jericho Jerusalem ingin menambahkan sesuatu.

Menurut saya pribadi, saya merujuk ke jawaban nomer 2

2. Tidak Benar, Ayat Yoh 11:11 TIDAK berbicara mengenai keadaan orang yg sudah mati, melainkan berbicara mengenai hal lain.

Di perikop ini bagi saya menunjukan bahwa Yesus dengan segala kuasa yg dimilikinya pun tetap rendah diri…
Dia tidak ingin sombong dengan hal “membangkitkan orang mati”, tetapi menggantinya dengan membangunkan orang tidur

Saya terkadang mendengar ada teman2 yang berkata “ayo kita sembuhkan orang sakit” bahkan pernah terdengar “pengen deh bangkitin orang mati” dalam nama Tuhan Yesus… padahal klo menurut saya semua kuasa itu punya Allah Bapa saja, kita hanya perlu berdoa (di tempat tersmbunyi juga bisa), dan sama sekali bukan karena kuasa kita…
Oleh karena itu saya suka bingung dengan kesombongan iman, terutama yang banyak terlihat di forum ini… Kita disini sama2 belajar dan bukan untuk saling menyerang…
udah ah segitu aja dulu…
Ayo temen2 kita sama2 merendahkan diri di hadapanNya…
semoga gak OOT :char11:

Salam kasih dalam Kristus Tuhan

Kata “tidur” dalam gaya bahasa semitik itu juga digunakan untuk orang yang mati, bandingkan ayat2 tersebut di bawah ini dengan Yohanes 11:11:

* Ulangan 31:16
LAI TB, TUHAN berfirman kepada Musa: "Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka.
KJV, And the LORD said unto Moses, Behold, thou shalt sleep with thy fathers; and this people will rise up, and go a whoring after the gods of the strangers of the land, whither they go to be among them, and will forsake me, and break my covenant which I have made with them.
Hebrew,
וַיֹּאמֶר יְהוָה אֶל־מֹשֶׁה הִנְּךָ שֹׁכֵב עִם־אֲבֹתֶיךָ וְקָם הָעָם הַזֶּה וְזָנָה ׀ אַחֲרֵי ׀ אֱלֹהֵי נֵֽכַר־הָאָרֶץ אֲשֶׁר הוּא בָא־שָׁמָּה בְּקִרְבֹּו וַעֲזָבַנִי וְהֵפֵר אֶת־בְּרִיתִי אֲשֶׁר כָּרַתִּי אִתֹּֽו׃
Translit Interlinear, VAYOMER {dan Dia berfirman} YEHOVAH {baca Adonai, TUHAN} EL-MOSYEH {kepada Musa} HINEKHA {lihatlah/ sesungguhnya engkau} SYOKHEV {engkau akan tidur} IM-AVOTEIKHA {bersama leluhurmu} VEKAM {dan ia akan bangkit} HA’AM {bangsa/ umat} HAZEH {ini} VEZANAH {dan ia akan berzinah} AKHAREI {yang lain} ELOHEI {ilah} NEKHAR-HA’ARETS {asing di negeri} ASYER {yang} HU {ia} VA-SYAMAH {pergi kesana} BEKIRBO {diantara mereka} VA’AZAVANI {dan mereka akan meninggalkan Aku} VEHEFER {dan mereka akan mematahkan} ET-BERITI {perjanjian-Ku} ASYER {yang} KARATI {Aku sudah mengikat} ITO {dengan mereka}.

Perhatikan frasa : “Engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu”, “SYOKHEV IM-AVOTEIKHA”, KJV, ‘thou shalt sleep with thy fathers’, secara literal kata “SYOKHEV” ini bermakna “berbaring” atau “beristirahat”.

Ayat lain yang memuat kata “tidur” memiliki pengertian kematian jasmani misalnya Ayub 14:12, sbb :

* Ayub 14:12
LAI TB, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.
KJV, So man lieth down, and riseth not: till the heavens be no more, they shall not awake, nor be raised out of their sleep.
Hebrew,
וְאִישׁ שָׁכַב וְֽלֹא־יָקוּם עַד־בִּלְתִּי מַיִם לֹא יָקִיצוּ וְלֹֽא־יֵעֹרוּ מִשְּׁנָתָֽם׃
Translit, VE’ISY {dan manusia} SYAKHAV {dia tidur} VELO {dan tidak} -YAKUM {ia akan bangkit} 'AD {sampai dengan} -BILTI {lenyapnya} SYAMAYIM {langit} LO {tidak} YAKITSU {mereka akan terjaga} VELO {dan tidak} YE’ORU {mereka akan bangun} MISYNATAM {dari tidurnya}

Perjanjian Baru, meski ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi mencatat peristiwa dari kehidupan masyarakat Semitik. Maka YESUS juga menggunakan istilah “tidur” bagi orang yang sudah mati:

* Yohanes 11:11
LAI TB, Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: "Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.
KJV, These things said he: and after that he saith unto them, Our friend Lazarus sleepeth; but I go, that I may awake him out of sleep.
TR, ταυτα ειπεν και μετα τουτο λεγει αυτοις λαζαρος ο φιλος ημων κεκοιμηται αλλα πορευομαι ινα εξυπνισω αυτον
Translit, tauta {hal2 ini} eipen {Dia mengatakan} kai {dan} meta {sesudan} touto {ini} legei {Ia berkata} autois {kepada mereka} lazaros {lazarus} ho philos {sahabat} hêmôn {kita} kekoimêtai {sudah tidur} alla {tetapi} poreuomai {aku pergi} hina {supaya} exupnisô {Aku membangunkan} auton {dia}

“κεκοιμηται – kekoimêtai”, verb (kata kerja) – ditulis dalam bentuk perfect passive indicative - third person singular
dari kata ‘κομαιω - komaiô’, leksikon Yunani : to put to sleep, i.e. (passively or reflexively) to slumber; figuratively, to decease – (be a-, fall a-, fall on) sleep, be dead.

http://www.sarapanpagi.org/u/images/jesusraiseslazarus.jpg

Paulus (orang Semit) pun menggunakan istilah yang sama, kita lihat buktinya:

* 1 Tesalonika 4:14
LAI TB, Karena jikalau kita percaya, bahwa YESUS telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam YESUS akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.
KJV, For if we believe that JESUS died and rose again, even so them also which sleep in JESUS will God bring with him.
TR, ει γαρ πιστευομεν οτι ιησους απεθανεν και ανεστη ουτως και ο θεος τους κοιμηθεντας δια του ιησου αξει συν αυτω
Translit interlinear, ei {jika} gar {karena} pisteuomen {kita percaya} hoti {bahwa} iêsous {YESUS} apethanen {telah mati} kai {dan} anestê {telah bangkit} houtôs {demikian} kai {juga} ho theos {Allah} tous {orang2 yang} koimêthentas {telah tidur} dia {melalui} tou iêsou {YESUS} axei {akan membawa} sun {bersama} autô {dengan Dia}

“κεκοιμηται – kekoimêtai”, verb (kata kerja) – ditulis dalam bentuk aorist passive participle - accusative plural masculine
dari kata ‘κομαιω - komaiô’, leksikon Yunani : to put to sleep, i.e. (passively or reflexively) to slumber; figuratively, to decease – (be a-, fall a-, fall on) sleep, be dead.

* 1 Korintus 15:6
LAI TB, Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
KJV, After that, he was seen of above five hundred brethren at once; of whom the greater part remain unto this present, but some are fallen asleep.
TR, επειτα ωφθη επανω πεντακοσιοις αδελφοις εφαπαξ εξ ων οι πλειους μενουσιν εως αρτι τινες δε και εκοιμηθησαν
Translit, epeita {sesudah itu} ôphthê {Ia menampakkan Diri} epanô {lebih} pentakosiois {kepada lima ratus} adelphois {saudara2} ephapax {pernah/ sekaligus} ex {dari} hôn {mereka yang} hoi {mereka} pleious {kebanyakan} menousin {masih hidup} heôs {sampai} arti {sekarang} tines {beberapa} de {tetapi} kai {juga} ekoimêthêsan {telah tidur}

Kata “εκοιμηθησαν – ekoimêthêsan”, verb (kata kerja) – ditulis dalam bentuk aorist passive indicative - third person
dari kata ‘κομαιω - komaiô’, leksikon Yunani : to put to sleep, i.e. (passively or reflexively) to slumber; figuratively, to decease – (be a-, fall a-, fall on) sleep, be dead.

Ada beragam kata Ibrani dan Yunani yang digunakan dalam Alkitab untuk menyatakan tidur. Kata-kata itu di antaranya adalah :

  • verba Ibrani : HÂZÂH, YÂSYÊN, NÛM, RÂDAM, SYÂKAV;
  • adjektiva Ibrani : YÂSYÊN;
  • nomina Ibrani : SYÊNÂH atau SYÊNÂ’, SYENÂT, TENÛMÂH, TARDÊMÂH
  • verba Yunani : KATHEUDÔ, KOIMAÔ, NUSTAZÔ;
  • nomina Yunani : HUPNOS.

Di samping bermakna tidur sebagai keadaan beristirahat alami selama tenaga tubuh ini dipulihkan kembali, kata-kata ini juga digunakan untuk—maaf—berhubungan intim, dan digunakan juga secara figuratif untuk kematian.

Bro John Paul: saran saya kalo baca Alkitab bacalah ayat2 sebelumnya atau sesudahnya. Biasanya ayat2 itu akan menerangkan ayat2 sebelumnya atau bacalah ayat2 yg ada di catatan kaki, meskipun kadang2 masih membingungkan. :slight_smile:

Terima kasih bro SarapanPagi telah menjelaskan secara detail…

Jadi bisa disimpulkan bahwa kata “tidur” dalam Yoh 11:11 tidak menyatakan bahwa orang mati itu seperti tidur, tidak dibangkitkan, tidak ke sorga, dan tidak kemana-mana.

Kata ‘mati’ dikatakan secara lebih halus dengan cara ‘tidur’, tapi tidak boleh diartikan bahwa mati = tidur

Kata ‘tidur’ di ayat itu lebih bermakna kiasan yg tidak bisa diartikan secara literal.

Thanks bro.

Thanks atas anjurannya.

Tapi saya rasa saya sudah cantumkan ayat sesudahnya.

Bagaimana jawaban bro Wenaz. Apakah pilih no. 1 atau pilih no 2.

Yang malah membuat diriNYa semakin tampak kebesaranNYA.

Jadi memang benar bahwa ayat yoh 11:11 tidak bisa dipakai sebagai pendukung mengenai keadaan orang yg sudah mati. Karena ayat tsb. jelas-jelas membicarakan hal lain.

Jadi kalau ada orang yg berkata “orang mati itu tidak bisa apa-apa, tidak bisa mendengar doa”, dan lalu menggunakan ayat yoh 11:11 sebagai dasarnya, maka orang tsb jelas tidak tepat dalam hal menafsir.

Tambahan:
Orang yg mati dalam kristus, bisa mendengar doa-doa dari orang beriman yg masih hidup. Ini semua karena mereka (baik yg mati dan hidup dalam kristus) telah diikat dalam Kasih kristus seperti tertulis di Roma 8:38-39

Kematian

Definisi: Berhentinya semua fungsi kehidupan. Setelah napas, detak jantung, dan kegiatan otak berhenti, daya hidup lambat laun berhenti berfungsi dalam sel-sel tubuh. Kematian adalah lawan dari kehidupan.
Apakah manusia diciptakan oleh Allah untuk mati?

Sebaliknya, Yehuwa memperingatkan Adam terhadap ketidaktaatan, yang akan mengakibatkan kematian. (Kej. 2:17) Belakangan, Allah memperingatkan Israel terhadap tingkah laku yang dapat mengakibatkan bahkan kematian dini bagi mereka. (Yeh. 18:31) Pada waktunya Ia mengutus Putra-Nya untuk mati demi kepentingan umat manusia sehingga mereka yang beriman akan persediaan ini dapat menikmati hidup yang kekal.—Yoh. 3:16, 36.
Mazmur 90:10 mengatakan bahwa umumnya kehidupan manusia mencapai 70 atau 80 tahun. Halnya memang demikian ketika Musa menulisnya, tetapi tidak demikian pada mulanya. (Bandingkan Kejadian 5:3-32.) Ibrani 9:27 mengatakan, ”Manusia disediakan untuk mati sekali untuk selamanya.” Hal ini juga benar ketika ayat ini ditulis. Namun, tidak demikian halnya sebelum Allah menjatuhkan hukuman kepada Adam yang berdosa.
Mengapa kita menjadi tua dan mati?
Yehuwa menciptakan pasangan manusia pertama dengan sempurna, dengan harapan untuk hidup kekal. Mereka dikaruniai kebebasan berkehendak. Apakah mereka akan menaati Pencipta mereka karena kasih dan penghargaan untuk segala sesuatu yang telah Ia lakukan bagi mereka? Mereka mempunyai kesanggupan penuh untuk berbuat demikian. Allah mengatakan kepada Adam, ”Tetapi mengenai pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, engkau tidak boleh memakan buahnya, karena pada hari engkau memakannya, engkau pasti akan mati.” Dengan menggunakan seekor ular sebagai alat untuk berbicara, Setan membujuk Hawa untuk melanggar perintah Yehuwa. Adam tidak menegur istrinya tetapi ikut bersamanya, dan makan buah yang terlarang itu. Tepat seperti yang dikatakan-Nya, Yehuwa menjatuhkan hukuman mati ke atas Adam, tetapi sebelum menghukum pasangan yang berdosa itu, karena belas kasihan Yehuwa, mereka diizinkan untuk mempunyai keturunan.—Kej. 2:17; 3:1-19; 5:3-5; bandingkan Ulangan 32:4 dan Penyingkapan 12:9.
Rm. 5:12, 17, 19: ”Dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang [Adam] dan kematian, melalui dosa, demikianlah kematian menyebar kepada semua orang karena mereka semua telah berbuat dosa—. . . . Karena pelanggaran satu orang kematian berkuasa sebagai raja . . . Melalui ketidaktaatan satu pria, banyak orang menjadi orang berdosa.”
1 Kor. 15:22: ”Semua manusia mati sehubungan dengan Adam.”
Lihat juga judul utama ”Takdir”.
Mengapa bayi-bayi mati?
Mz. 51:5, BIS: ”Sesungguhnya, aku jahat sejak dilahirkan, dan kena dosa sejak dari kandungan.” (Lihat juga Ayub 14:4; Kejadian 8:21.)
Rm. 3:23; 6:23: ”Semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai kemuliaan Allah . . . Upah yang dibayarkan oleh dosa adalah kematian.”
Allah tidak ”mengambil” anak-anak dari orang tua mereka, seperti yang telah dikatakan oleh orang-orang. Meskipun bumi menghasilkan banyak makanan, unsur politik dan perdagangan yang mementingkan diri sering kali mengakibatkan makanan tidak dibagikan kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya, sehingga mengakibatkan kematian karena kekurangan gizi. Ada anak-anak yang mati dalam kecelakaan, seperti orang-orang dewasa. Tetapi kita semua mewarisi dosa; kita semua tidak sempurna. Kita dilahirkan dalam suatu sistem tempat setiap orang—yang baik maupun yang jahat—akhirnya mati. (Pkh. 9:5) Tetapi Yehuwa ”rindu” untuk mempersatukan kembali anak-anak dengan orang tua mereka melalui kebangkitan, dan dengan penuh kasih telah membuat persediaan untuk melaksanakannya.—Yoh. 5:28, 29; Ayb. 14:14, 15; bandingkan Yeremia 31:15, 16; Markus 5:40-42.
Di manakah orang-orang mati?
Kej. 3:19: ”Dengan keringat di mukamu engkau akan makan roti hingga engkau kembali ke tanah, karena dari situ engkau diambil. Karena engkau debu dan engkau akan kembali ke debu.”
Pkh. 9:10: ”Semua yang dijumpai tanganmu untuk dilakukan, lakukanlah dengan segenap kekuatanmu, sebab tidak ada pekerjaan atau rancangan atau pengetahuan atau hikmat di Syeol [”kubur”, TL], tempat ke mana engkau akan pergi.”
Bagaimana keadaan orang-orang mati?
Pkh. 9:5: ”Yang hidup sadar bahwa mereka akan mati; tetapi orang mati, mereka sama sekali tidak sadar akan apa pun.”
Mz. 146:4: ”Rohnya keluar, ia kembali ke tanah; pada hari itu lenyaplah segala pikirannya [”semua rencana mereka”, BIS].”
Yoh. 11:11-14: ”’Lazarus, sahabat kita, telah pergi beristirahat, tetapi aku mengadakan perjalanan ke sana untuk membangunkan dia dari tidur.’ . . . Yesus mengatakan kepada mereka dengan terus terang, ’Lazarus telah mati.’” (Juga Mazmur 13:3)
Apakah ada suatu bagian dari manusia yang tetap hidup sewaktu tubuh itu mati?
Yeh. 18:4: ”Jiwa [”orang”, TB, BIS] yang berbuat dosa—jiwa itulah yang akan mati.”
Yes. 53:12: ”Dia telah mencurahkan jiwanya [”hidupnya”, BIS; ”dirinya sendiri”, JB] ke dalam kematian.” (Bandingkan Matius 26:38.)
Lihat juga judul-judul utama ”Jiwa” dan ”Roh”.
Apakah orang mati dengan cara tertentu dapat membantu atau mencelakai orang yang hidup?
Pkh. 9:6: ”Kasih mereka dan kebencian mereka serta kecemburuan mereka sudah lenyap, dan mereka tidak mempunyai bagian lagi sampai waktu yang tidak tertentu dalam segala yang harus dilakukan di bawah matahari.”
Yes. 26:14: ”Mereka mati; mereka tidak akan hidup. Mereka tidak berdaya dalam kematian, dan tidak akan bangkit.”
Bagaimana dengan laporan yang dibuat oleh orang-orang yang dibangunkan kembali setelah dilaporkan mati dan yang berbicara tentang suatu kehidupan yang lain?
Biasanya, setelah seseorang tidak bernapas lagi dan detak jantungnya berhenti, beberapa menit kemudian barulah daya hidup dalam sel-sel tubuh secara lambat laun mulai hilang. Jika tubuh itu berada dalam ruang atau udara yang sangat dingin, proses itu dapat tertunda selama berjam-jam. Karena alasan inilah, kadang-kadang ada kemungkinan untuk menyadarkan kembali orang itu dengan pernapasan buatan. Itulah yang disebut dengan istilah ”mati klinis”, tetapi sel-sel tubuh mereka masih hidup.
Banyak orang yang sadar kembali dari keadaan ”mati klinis” tidak ingat apa-apa. Yang lain mengatakan bahwa mereka merasa seolah-olah dalam keadaan melayang-layang. Ada yang mengatakan mereka melihat hal-hal yang indah; ada lagi yang merasa ngeri dengan pengalaman mereka.
Apakah ada penjelasan kedokteran untuk pengalaman-pengalaman ini?
Redaktur medis dari The Arizona Republic menulis, ”Bila ketahanan fisik berada pada titik yang paling rendah, misalnya di bawah pembiusan, atau sebagai akibat penyakit atau luka, kendali otomatis atas fungsi-fungsi tubuh mengendur sesuai dengan keadaan itu. Jadi, hormon-hormon syaraf dan katekolamin sistem syaraf keluar dan mengalir dalam jumlah yang tak terkendali. Akibatnya antara lain ialah halusinasi, dan setelah sadar kembali ia akan mengatakan bahwa ia sudah mati dan hidup lagi.”—28 Mei 1977, hlm. C-1; juga majalah kedokteran Jerman Fortschritte der Medizin, No. 41, 1979; Psychology Today, Januari 1981.
Namun, bukankah kesaksian dari mereka yang dibangunkan kembali telah diteguhkan oleh orang-orang yang pernah berbicara dan melihat lagi orang-orang yang dikasihi yang telah meninggal?
Silakan baca lagi, ayat-ayat yang dikutip sebelumnya berkenaan dengan keadaan orang mati. Apa yang dikatakan kebenaran Firman Allah kepada kita mengenai keadaan orang mati?
Siapa yang ingin agar umat manusia mempercayai yang sebaliknya? Setelah Yehuwa memperingatkan orang tua kita yang pertama bahwa ketidaktaatan mengakibatkan kematian, siapa yang membantah hal itu? ”Ular [yang digunakan oleh Setan; lihat Penyingkapan 12:9] mengatakan kepada wanita itu, ’Kamu pasti tidak akan mati.’” (Kej. 3:4) Belakangan, tentu, Adam dan Hawa mati. Jadi, secara masuk akal, siapakah yang menciptakan gagasan bahwa suatu bagian manusia yang bersifat roh tetap hidup setelah tubuh itu mati? Seperti telah kita lihat, hal ini tidak dikatakan oleh Firman Allah. Hukum Allah kepada Israel zaman dahulu mengutuk kebiasaan meminta nasihat kepada orang mati dan menyatakannya sebagai hal yang ”najis” dan ”memuakkan”. (Im. 19:31; Ul. 18:10-12; Yes. 8:19) Apakah Allah yang pengasih akan mengutuk kebiasaan ini jika orang-orang yang hidup hanya berkomunikasi dengan orang-orang yang dikasihi yang telah meninggal? Sebaliknya, jika roh hantu-hantu menyerupai orang mati dan menyesatkan manusia dengan menanamkan dalam pikiran mereka gagasan-gagasan yang mempertahankan suatu dusta, tidakkah pengasih di pihak Allah untuk melindungi hamba-hamba-Nya terhadap penipuan demikian?—Ef. 6:11, 12.
Mengapa Saksi-Saksi Yehuwa tidak ambil bagian dalam adat istiadat perkabungan untuk orang-orang mati?
Perasaan sedih atas kematian seseorang yang dikasihi adalah wajar dan boleh ditunjukkan dengan sepatutnya
Setelah sahabat karibnya, Lazarus, meninggal, ”Yesus meneteskan air mata”. (Yoh. 11:35) Kadang-kadang kesedihan yang dialami oleh hamba-hamba Allah sehubungan dengan kematian besar sekali.—2 Sam. 1:11, 12.
Namun, karena adanya harapan kebangkitan, umat Kristen diberi tahu, ”Kami tidak ingin kamu kurang pengetahuan tentang orang-orang yang tidur dalam kematian; agar kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai harapan.”—1 Tes. 4:13.
Hamba-hamba Yehuwa tidak menolak semua kebiasaan yang berhubungan dengan kematian
Kej. 50:2, 3: ”Yusuf memerintahkan hamba-hambanya, para tabib, untuk membalsam bapaknya. . . dan mereka memerlukan empat puluh hari penuh untuk dia, karena itulah waktu yang biasa diperlukan untuk pembalsaman.”
Yoh. 19:40: ”Mereka mengambil mayat Yesus dan membungkusnya dengan kain pembalut bersama rempah-rempah, menurut kebiasaan orang Yahudi dalam mempersiapkan penguburan.”
Kebiasaan yang bertentangan dengan Firman Allah tidak dilakukan oleh mereka yang berupaya menyenangkan Dia
Ada kebiasaan memamerkan kesedihan seseorang di depan umum. Tetapi Yesus mengatakan, ”Apabila kamu berpuasa [karena suatu kesedihan], berhentilah bermuka sedih seperti orang-orang munafik, karena mereka membuat muka mereka tampak jelek supaya terlihat orang bahwa mereka sedang berpuasa. Dengan sungguh-sungguh aku mengatakan kepadamu: Mereka telah memperoleh upah mereka sepenuhnya. Tetapi engkau, apabila berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya engkau tampak berpuasa, bukan kepada manusia, tetapi kepada Bapakmu yang tersembunyi; dengan demikian Bapakmu yang memandang secara tersembunyi akan membalas kepadamu.”—Mat. 6:16-18.
Ada kebiasaan tertentu yang menyatakan kepercayaan bahwa manusia mempunyai jiwa yang tidak berkematian yang tetap hidup setelah tubuh mati dan, karena itu, mengetahui apa yang dilakukan orang-orang yang masih hidup. Tetapi Alkitab mengatakan, ”Orang mati . . . sama sekali tidak sadar akan apa pun.” (Pkh. 9:5) Selain itu, ”Jiwa yang berbuat dosa—jiwa itulah yang akan mati.”—Yeh. 18:4.
Banyak kebiasaan berasal dari kepercayaan bahwa orang mati membutuhkan bantuan dari orang yang masih hidup atau dari perasaan takut bahwa mereka dapat mencelakakan orang yang hidup jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Tetapi Firman Allah memperlihatkan bahwa orang mati tidak merasakan sakit atau sukacita. ”Rohnya keluar, ia kembali ke tanah; pada hari itu lenyaplah segala pikirannya.” (Mz. 146:4; lihat juga 2 Samuel 12:22, 23.) ”Kasih mereka dan kebencian mereka serta kecemburuan mereka sudah lenyap, dan mereka tidak mempunyai bagian lagi sampai waktu yang tidak tertentu dalam segala yang harus dilakukan di bawah matahari.”—Pkh. 9:6.

Jadi menurut pak boss, yoh 11:11 itu berbicara mengenai keadaan orang mati,… atau… berbicara mengenai hal lain ??

orang mati yang akan dibangkitkan lagi (bukan pada waktu kiamat ) itulah yang disebut tertidur atau juga mati suri

Tuhan jesus memberkati
Han