BERDOSAKAH SEORANG AYAH YG MEMBIARKAN ANAKNYA BERBUAT DOSA???

Saya sampai sekarang masih gak ngerti, mengapa Ayub itu begitu saleh tapi kok harus melewati ujian begitu berat. Kalau membaca kitab Ayub bahwa anak2nya suka pesta, bahkan setiap hari pesta, saya yakin dlam pesta selalu ada minuman beralkohol. Minuman alkohol selalu identik dengan kemabukan. Orang kalau mabuk, tidak bisa berpikir bener. Kemungkinan besar (ini menurut saya yah) anak2 Ayub melakukan dosa incest (hubungan sex dgn saudara kandung), sehingga Ayub selalu ketakutan untuk mempersembahkan korban bakaran keesokan harinya.

Mengapa saya bisa berpikir seperti itu? Sekarang coba teman2 pikir, okelah mungkin anda anaknya Warren Buffet atau Bill Gates yg tiap hari dikasih “uang saku” Rp 10 juta (misalnya). Mau dibuat apa uang itu? Setiap hari dugem? Kalau manusia “normal”, yg dalam hatinya masih ada Roh Kudus, pasti gak tahan dgn dunia kelam seperti itu. Untuk sementara waktu memang nikmat, tapi akan selalu ada penyesalan. Lama2 orang akan bosan dengan pesta2 yg tak ada habisnya itu. Kalau anak2 Ayub menikmati pesta2 itu ya saya gak tahu, itu berarti sudah sedemikian bejatnya mereka hingga korban bakaranpun sudah gak diterima oleh Tuhan.

Apakah mungkin seorang ayah tidak mengetahui apa saja yg dilakukan anak2nya setiap hari dalam pesta2 itu? Kalau sebulan sekali atau setahun 2x masih mungkin gak tahu. Tapi kalau setiap hari, mana mungkin gak tahu?

ngga, brur. itu cuman masalah iblis yang panas hati kerna ayub dipuji setinggi langit ama YHWH.

Wow imajinasinya… (cabul banget)

Ayub 1:5
Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.

Pesta adalah hal yang biasa buat orang kaya di belahan bumi namapun dan dalam jaman apapun. Pesta sex itu bukan hal yang biasa terjadi dibelahan bumi manapun dan dalam jaman apapun. Anak-anak Ayub bulan lagi pesta sex…

Makan minum dan bersenang-senang itu (pesta) bukan dosa, tetapi saat dalam kondisi mabuk (biasa disitilahkan pesta pora) dan mereka dapat menghujat TUHAN lalu melakukan hal yang jahat dihadapan TUHAN misalkan membunuh, bertindak semena-mena terhadap yang lemah, juga sex brutal seperti imajinasi liar anda baru itu disebut dosa.

Mengapa tidak dilarang Ayub???

Memang tidak tertulis Ayub melarangnya, tetapi sebagai anak yang sudah dewasa, mereka memiliki keputusannya sendiri atas hidupnya. Seorang ayah tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada anaknya jika telah dewasa (menurut hukum Taurat berusia 20 tahun lebih).

Cerita tentang “Anak Terhilang” dalam Lukas 15, mengambarkan seorang ayah yang tidak dapat berbuat seenaknya melarang seperti terhadap anak kecil saat anaknya yang sudah dewasa memutuskan untuk mengambil bagian warisan dan memboroskan hartanya dengan berfoya-foya juga disana disebutkan dengan pelacur-pelacur. Tiap anak dewasa memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Kita juga memiliki kebebasan yang sama dalam tindakan kita, untuk taat beribadah atau hidup sesuka hati dan menuruti hawa nafsu.

Apa yang dialami Ayub, adalah dilema seorang ayah terhadap jalan yang diambil anak-anaknya. Tetapi saya yakin walau demikian Ayub pasti menegur dan memarahi anaknya saat ketahuan melakukan dosa, mengingat referensi Allah terhadap Ayub dalam Ayub 1:7 dan 42:7 bahwa menurut pernyataan Allah, Ayub itu tidak bersalah dalam hidupnya dihadapanNya, sementara ayah yang tidak menegur keras anaknya yang berdosa merupakan kesalahan dihadapan TUHAN berdasarkan catatan 1 Samuel 3:13, demikian bunyinya; “Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!”

Karena itu saya berani simpulkan bahwa Ayub juga menegur dan memarahi jika mereka anak-anaknya berbuat dosa baik saat pesta maupun diluar pesta. Tentang pesta-pestanya, karena itu bukan dosa, saya kira Ayub juga tidak melarang mereka apalagi memarahinya, sebab bukan dosa mengadakan pesta dan mengundang kaum keluarganya untuk makan minum bersama. Tidak sama dengan muslim, bangsa Israel termasuk Yesus juga minum minuman beralkohol, tetapi tidak untuk mabuk. Anggur yang ditulis dalam Alkitab semua adalah anggur yang telah difermentasikan, bukan jus anggur yang akan busuk dalam beberapa hari.

Sudah jelaskah anda antara dosa dan tidak dosa. Antara pesta dan pesta pora, juga tentang bagaimana menyimpulkan apakah telah terjadi pesta sex atau sebenarnya Ayub menegur mereka walau tidak ditulis. Alkitab saling melengkapi, menjelaskan dan dijelaskan.

Ya begini ini yang terjadi, ketika asumsi pribadi dimasukkan dalam Alkitab.

supaya ayub mengalami Tuhan :smiley:
krn sebelum ayub di uji … kesalehan ayub itu agamawi …harus begini … harus begitu
ttp setelah ayub diuji… mata ayub bisa melihat Allah yang hidup :smiley:

Job 42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

ayub lebih mengenal Allahnya ketimbang sebelum melewati ujianyang berat :afro:

TRIT ini kok mengingatkan saya pada seseorang kakek yang memanjang patung cabul. Berdosakah dia ?

yang cabul patungnya ato kakeknya, bro?

ayub tau kalo anak2nya doyan mabok n poya2 makanya dy persembahkan korban bakaran. ada kemungkinan bahwa ayub telah memperingati mengingat beliau orang saleh namun apa mau dikata kalo si anak bebal.
krn dari alkitab yg saya baca terlihat bahwa anak yg sudah dewasa mendapat kehendak bebas seperti halnya harta warisan yg diberikan pada “perumpamaan anak yg hilang”.
menurut saya apabila anak2 ayub berbuat hal serupa (yakni sadar akan kesalahan mereka) seperti yang dilakukan seorang anak yg telah menghabiskan hartanya dalam perumpaan anak yg hilang, apakah Allah akan tega menghabisi nyawa anak2nya?
tanya…kenapa…

Allah yang mana, bro?

Coba dibaca lagi kitab Ayub. YHWH tidak mencabut nyawa anak-anak Ayub. Dia hanya tidak menghalangi iblis melakukannya. Dalam hal ini, apa bisa dibilang kejam kalau toh semua manusia pada akhirnya mati?

Pemikiran saya tidak begitu. Anak2 Ayub melakukan dosa yg begitu besar sampai Allah akhirnya mengijinkan Iblis membunuh anak2 Ayub. Benarkah korban bakaran yg dilakukan seorang ayah bisa menghapuskan dosa anak2nya? Kalau dipraktekkan di hidup kita lucu jadinya. Misalnya, yg berbuat dosa saya, apa bisa teman saya doa mohon pengampunan Tuhan atas dosa saya? Hahaha… yg bener aja!
Dosa seseorang harus dimintakan pengampunan dari orang itu sendiri. Demikian juga anak2 Ayub, kalau mereka berdosa, mengapa Ayub tidak mengajak anak2nya ikut mempersembahkan korban bakaran? Saya yakin, sudah sedemikian bebalnya anak2 Ayub ini sampai2 ayahnya mengajak melakukan korban mezbah bakaranpun tidak mau ikut.

Anda mengada-adakan apa yang tidak ada. Kalau memang itu yang dikehedaki YHWH, tentu itulah yang akan tertulis di Alkitab. Dia tidak perlu lempar tetangga sembunyi batu, bro.

Anda itu “yang bener aja.” Seenaknya nyamakan antara “anak” dan “teman” seakan keduanya sejajar. Ngga sekalian aja minta “nenek teman anda” yang memintakan ampun buat anda?

Anda tidak tahu kalau dosa “isteri” bisa dimintakan pengampunan oleh suami? Anda tidak tahu kalau anak-anak Ayub belum ada yang menikah hingga status mereka “masih di bawah tanggung jawab Ayub selaku ayahnya”?

Menurut anda sendiri, itu berdosa ga ?