Berhati2lah terhadap terjemahan2 alkitab baru yang menyesatkan

Proses penterjemahan alkitab sangat kuat dipengaruhi ‘doktrin’ yang membungkus para penterjemah, sedangkan para penulis kitab sendiri pun juga dibungkus oleh sebuah kerangka doktrin theologis.

Pertanyaanya adalah : apakah kedua kerangka doktrin ini seirama?

Ataukah kerangka penulis diterjemahkan dalam kerangka penterjemah?

Satu hal yang pasti pun, penulis kitab juga menafsirkan Ilham yang datang dan menuliskannya dengan bahasa dan kosa kata manusia yang terbatas.

Dear all,

Setuju.
Segala sesuatu harus diuji.

Saya punya referensi tentang Alkitab.

Selamat membaca.

Pasal Dua
Alkitab—Buku dari Allah

Apa saja perbedaan Alkitab dari buku-buku lain?
Bagaimana Alkitab dapat membantu Anda mengatasi problem-problem pribadi?
Mengapa Anda dapat mempercayai nubuat-nubuat yang dicatat dalam Alkitab?

KAPAN terakhir kali Anda menerima hadiah yang istimewa dari seorang sahabat? Anda tentu berdebar-debar sekaligus sangat gembira. Sebenarnya, dari hadiahnya, Anda dapat mengetahui sesuatu tentang si pemberi—bahwa ia menghargai persahabatan dengan Anda. Anda pasti akan berterima kasih atas hadiah yang ia berikan dengan perhatian yang besar itu.

2 Alkitab adalah hadiah dari Allah yang benar-benar dapat kita syukuri. Buku yang unik itu menyingkapkan hal-hal yang tidak akan pernah kita ketahui dari buku-buku lain. Misalnya, Alkitab menceritakan tentang penciptaan langit yang penuh bintang, bumi, serta pria dan wanita pertama. Alkitab berisi prinsip-prinsip yang dapat diandalkan untuk membantu kita mengatasi berbagai problem dan kekhawatiran dalam kehidupan. Alkitab menjelaskan bagaimana Allah akan mewujudkan maksud-tujuan-Nya dan mendatangkan keadaan yang lebih baik di bumi. Alkitab benar-benar hadiah yang luar biasa!

3 Selain itu, Alkitab adalah hadiah yang menghangatkan hati karena menyingkapkan sesuatu tentang Pemberinya, Allah Yehuwa. Kalau Allah sampai memberi kita buku seperti itu berarti Ia ingin agar kita mengenal Dia dengan baik. Ya, Alkitab dapat membantu Anda mendekat kepada Yehuwa.

4 Sebenarnya, bukan Anda saja yang memiliki Alkitab. Buku itu, secara keseluruhan atau sebagian, telah diterbitkan dalam lebih dari 2.300 bahasa sehingga tersedia bagi hampir seluruh penduduk dunia. Rata-rata, lebih dari sejuta Alkitab disebarluaskan setiap minggu! Miliaran Alkitab telah dibuat, baik seluruhnya atau sebagian. Jelaslah, tidak ada buku lain yang seperti Alkitab.

5 Selanjutnya, Alkitab ”diilhamkan Allah”. (2 Timotius 3:16) Bagaimana caranya? Alkitab sendiri menjawab, ”Manusia mengatakan apa yang berasal dari Allah seraya mereka dibimbing oleh roh kudus.” (2 Petrus 1:21) Sebagai gambaran: Seorang pengusaha menyuruh sekretarisnya menulis sepucuk surat. Surat itu berisi buah-buah pikiran dan petunjuk dari si pengusaha. Jadi, surat itu adalah surat dia, bukan surat sekretarisnya. Demikian pula, Alkitab berisi berita dari Allah, bukan dari manusia yang menulisnya. Maka, seluruh Alkitab sungguh-sungguh ”firman Allah”.—1 Tesalonika 2:13.
SELARAS DAN AKURAT

6 Alkitab ditulis selama lebih dari 1.600 tahun. Para penulisnya hidup pada zaman yang berbeda-beda dan berasal dari berbagai tingkat kehidupan. Ada yang petani, nelayan, dan gembala. Yang lain-lain adalah nabi, hakim, dan raja. Lukas, yang menulis Injil, adalah seorang dokter. Meskipun penulisnya berasal dari berbagai latar belakang, isi Alkitab selaras dari awal sampai akhir.

7 Buku pertama dalam Alkitab memberi tahu kita asal mula problem umat manusia. Buku terakhir menunjukkan bahwa seluruh bumi akan menjadi suatu firdaus, atau taman. Alkitab memuat sejarah yang panjangnya ribuan tahun, dan setiap bagiannya membantu kita mengerti apa maksud-tujuan Allah dan bagaimana itu akan terlaksana. Keselarasan isi Alkitab sungguh mengesankan, dan memang begitulah seharusnya buku yang berasal dari Allah.

8 Dari sudut ilmu pengetahuan, Alkitab akurat. Buku itu bahkan memuat keterangan yang sudah sangat maju di zamannya. Misalnya, buku Imamat berisi hukum-hukum bagi bangsa Israel kuno tentang karantina dan kebersihan yang sama sekali tidak diketahui oleh bangsa-bangsa di sekitarnya pada zaman itu. Pada waktu manusia memiliki gagasan yang salah tentang bentuk bumi, Alkitab menyebutkan bahwa bumi berbentuk lingkaran, atau bulat. (Yesaya 40:22) Alkitab dengan akurat mengatakan bahwa bumi ’tergantung pada ketiadaan’. (Ayub 26:7) Memang, Alkitab bukan buku pelajaran ilmu pengetahuan. Tetapi, apabila menyebutkan hal-hal ilmiah, Alkitab selalu akurat. Bukankah begitu seharusnya buku yang berasal dari Allah?

9 Dari sudut sejarah, Alkitab juga akurat dan dapat dipercaya. Kisah-kisahnya jelas, tidak hanya berisi nama-nama orang tetapi juga silsilah mereka. Tidak seperti para penulis sejarah dunia, yang sering kali tidak menyebutkan kekalahan yang dialami bangsa mereka sendiri, para penulis Alkitab jujur, malah mencatat kelemahan mereka sendiri dan bangsa mereka. Misalnya, dalam buku Bilangan, Musa menulis sendiri kesalahan besar yang ia buat dan teguran keras yang ia terima. (Bilangan 20:2-12) Kejujuran seperti itu jarang ada dalam catatan sejarah lain tetapi ada dalam Alkitab karena buku ini berasal dari Allah.
BUKU DENGAN HIKMAT YANG BERMANFAAT

10 Karena diilhamkan Allah, Alkitab ”bermanfaat untuk mengajar, untuk menegur, untuk meluruskan perkara-perkara”. (2 Timotius 3:16) Ya, Alkitab tidak hanya berisi teori. Isinya menunjukkan pemahaman yang dalam tentang sifat manusia. Hal itu tidak mengherankan, karena Pengarangnya, Allah Yehuwa, adalah sang Pencipta! Ia lebih memahami cara berpikir dan perasaan kita daripada kita sendiri. Selain itu, Yehuwa tahu apa yang kita butuhkan agar bahagia. Ia juga tahu tindakan apa saja yang harus kita hindari.

11 Coba perhatikan ceramah Yesus yang disebut Khotbah di Gunung, yang dicatat di Matius pasal 5 sampai 7. Topik-topik pelajaran yang ia sampaikan sangat unggul, termasuk cara mendapatkan kebahagiaan sejati, cara menyelesaikan pertengkaran, cara berdoa, dan cara memiliki pandangan yang patut terhadap harta benda. Kata-kata Yesus masih tetap ampuh dan berguna untuk zaman kita.

12 Beberapa prinsip Alkitab membahas tentang kehidupan keluarga, kebiasaan kerja, dan hubungan dengan orang lain. Semua prinsip Alkitab berlaku untuk semua orang, dan nasihatnya selalu bermanfaat. Hikmat yang terdapat dalam Alkitab dinyatakan secara ringkas oleh Allah kepada nabi Yesaya, ”Aku, Yehuwa, adalah Allahmu, Pribadi yang mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagimu.”—Yesaya 48:17.
BUKU NUBUAT

13 Alkitab berisi sejumlah nubuat yang banyak di antaranya sudah digenapi. Mari kita lihat contohnya. Melalui nabi Yesaya, yang hidup pada abad kedelapan SM, Yehuwa menubuatkan bahwa kota Babilon akan dibinasakan. (Yesaya 13:19; 14:22, 23) Bagaimana persisnya kota itu akan ditaklukkan disebutkan secara terperinci. Pasukan penyerbu akan mengeringkan sungai di Babilon dan memasuki kota itu tanpa mendapat perlawanan. Bukan itu saja. Nubuat Yesaya bahkan menyebutkan nama raja yang akan menaklukkan Babilon, yaitu Kores.—Yesaya 44:27–45:2.

14 Sekitar 200 tahun kemudian—pada malam tanggal 5/6 Oktober 539 SM—sepasukan tentara berkemah di dekat Babilon. Siapakah panglimanya? Seorang raja Persia yang bernama Kores. Maka, suatu nubuat yang menakjubkan siap untuk digenapi. Namun, apakah pasukan Kores akan menyerang Babilon tanpa mendapat perlawanan, seperti yang telah dinubuatkan?

15 Pada malam itu, orang-orang Babilonia sedang mengadakan pesta dan merasa aman di balik tembok kota mereka yang kokoh. Sementara itu, Kores dengan sigap memindahkan aliran air sungai yang melintasi kota. Tak lama kemudian, airnya menjadi cukup dangkal sehingga anak buahnya dapat berjalan di dasar sungai dan mendekati tembok kota. Tetapi, bagaimana cara mereka menerobos tembok Babilon? Entah mengapa, pada malam itu, gerbang-gerbang kota dibiarkan terbuka begitu saja!

16 Mengenai Babilon telah dinubuatkan, ”Ia tidak akan pernah didiami, juga tidak akan ada lagi dari generasi ke generasi. Orang Arab tidak akan mendirikan kemahnya di sana, dan para gembala tidak akan membiarkan kambing-dombanya berbaring di sana.” (Yesaya 13:20) Nubuat itu tidak hanya meramalkan kejatuhan sebuah kota tetapi juga menunjukkan bahwa Babilon akan hancur untuk selama-lamanya. Anda dapat menyaksikan sendiri bukti bahwa kata-kata itu tergenap. Bekas kota Babilon kuno yang sudah tidak berpenghuni—kira-kira 80 kilometer di sebelah selatan Bagdad, Irak—adalah bukti bahwa apa yang Yehuwa katakan melalui Yesaya telah tergenap, ”Aku akan menyapu dia dengan sapu pemusnahan.”—Yesaya 14:22, 23.

17 Setelah kita merenungkan bahwa Alkitab memang adalah buku yang berisi nubuat yang dapat dipercaya, iman kita tentu dikuatkan, bukan? Sebenarnya, jika Allah Yehuwa telah menepati janji-janji-Nya di masa lampau, kita mempunyai alasan yang kuat untuk yakin bahwa Ia juga akan menepati janji-Nya bahwa bumi ini akan menjadi firdaus. (Bilangan 23:19) Ya, kita memiliki ”harapan kehidupan abadi yang sebelum zaman yang telah lama berlalu, telah dijanjikan oleh Allah yang tidak dapat berdusta”.—Titus 1:2.
”FIRMAN ALLAH ITU HIDUP”

18 Dari apa yang telah kita bahas dalam pasal ini, jelaslah bahwa Alkitab benar-benar buku yang unik. Namun, yang membuatnya jauh lebih berharga tidak hanya keselarasan isinya, keakuratannya dari sudut ilmiah dan sejarah, hikmatnya yang berguna, dan nubuatnya yang dapat dipercaya. Rasul Kristen Paulus menulis, ”Firman Allah itu hidup dan mengerahkan kuasa dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun dan menusuk bahkan sampai memisahkan jiwa dan roh, serta sendi dan sumsumnya, dan dapat menilai pikiran dan niat hati.”—Ibrani 4:12.

19 Membaca ”firman”, atau berita, dari Allah dalam Alkitab dapat mengubah kehidupan kita. Hal itu dapat membantu kita memeriksa diri dengan lebih baik lagi. Bisa jadi kita mengaku mengasihi Allah, tetapi cara kita menanggapi apa yang diajarkan oleh Firman-Nya yang terilham, Alkitab, akan menyingkapkan jalan pikiran dan bahkan niat hati kita yang sesungguhnya.

20 Alkitab benar-benar buku dari Allah yang harus dibaca, dipelajari, dan digemari. Tunjukkan bahwa Anda mensyukuri hadiah dari Allah ini dengan terus memeriksa isinya. Apabila Anda melakukan hal itu, Anda akan memiliki pemahaman yang dalam tentang maksud-tujuan Allah bagi umat manusia. Apa maksud-tujuan-Nya dan bagaimana itu akan diwujudkan akan dibahas dalam pasal berikutnya.

[Catatan Kaki]
Walaupun ada orang yang mengatakan bahwa ada bagian-bagian Alkitab yang saling bertentangan, pernyataan demikian tidak terbukti. Lihat pasal 7 buku Alkitab—Firman dari Allah atau dari Manusia? yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
Sebagai contoh, perhatikan silsilah Yesus yang terperinci di Lukas 3:23-38.
Untuk keterangan lebih lanjut tentang nubuat Alkitab, lihat halaman 27-9 brosur Buku bagi Semua Orang, yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
Kebinasaan Babilon hanya satu contoh tentang nubuat Alkitab yang tergenap. Contoh lainnya ialah kebinasaan Tirus dan Niniwe. (Yehezkiel 26:1-5; Zefanya 2:13-15) Selain itu, Daniel menubuatkan pergantian kerajaan-kerajaan dunia yang akan berkuasa setelah Babilon, antara lain Media-Persia dan Yunani. (Daniel 8:5-7, 20-22) Lihat Apendiks halaman 199-201 untuk pembahasan tentang banyak nubuat mengenai Mesias yang digenapi dalam diri Yesus Kristus.

APA YANG ALKITAB AJARKAN
:black_small_square: Alkitab diilhamkan Allah sehingga akurat dan dapat dipercaya.—2 Timotius 3:16.
:black_small_square: Informasi yang terdapat dalam Firman Allah berguna untuk kehidupan sehari-hari.—Yesaya 48:17.
:black_small_square: Janji-janji Allah dalam Alkitab pasti akan digenapi.—Bilangan 23:19.

Salam,
Budi Halasan - Petojo

Dear All,

Sumber Buku :
APA YANG SEBENARNYA ALKITAB AJARKAN; HALAMAN 18 - 26: PENERBIT PERKUMPULAN SISWA-SISWA ALKITAB - JAKARTA; CETAKAN 2005.

TQ,
BP

klo gtu mesti hati hatinya sama siapa penterjemahnya ntu versi alkitab
bukan ma alkitab terjemahannnya

Dear All,

Nama Allah dan Para Penerjemah Alkitab

PADA permulaan abad kedua, setelah rasul terakhir meninggal, penyelewengan dari iman Kristen yang dinubuatkan Yesus dan para pengikutnya benar-benar mulai. Filsafat-filsafat dan doktrin-doktrin kafir merembes ke dalam sidang; sekte-sekte serta perpecahan timbul, dan kemurnian iman semula dirusak. Dan nama Allah tidak lagi digunakan.

Seraya Kekristenan yang murtad ini menyebar, timbul kebutuhan untuk menerjemahkan Alkitab dari bahasa Ibrani dan Yunani asli ke bahasa-bahasa lain. Bagaimana para penerjemah menerjemahkan nama Allah dalam terjemahan mereka? Biasanya, mereka menggunakan kata yang sama dengan ”Tuhan”. Sebuah terjemahan yang sangat berpengaruh dari zaman itu adalah Vulgata Latin, suatu terjemahan Alkitab oleh Jerome ke dalam bahasa Latin sehari-hari. Jerome menerjemahkan Tetragramaton (YHWH) dengan Dominus, ”Tuhan”, sebagai pengganti.

Akhirnya, bahasa-bahasa baru, seperti Prancis, Inggris dan Spanyol, mulai muncul di Eropa. Namun, Gereja Katolik menghalangi penerjemahan Alkitab ke bahasa-bahasa baru ini. Jadi, jika orang Yahudi, yang menggunakan Alkitab dalam bahasa Ibrani asli, tidak mau mengucapkan nama Allah bila mereka melihatnya, maka kebanyakan ”orang Kristen” mendengar Alkitab dibacakan dari terjemahan Latin yang tidak menggunakan nama itu.

Setelah beberapa lama, nama Allah kembali digunakan. Pada tahun 1278 nama itu muncul dalam bahasa Latin dalam karya Pugio fidei (Pisau Belati Iman), oleh Raymundus Martini, seorang biarawan Spanyol. Raymundus Martini menggunakan ejaan Yohoua. Tak lama kemudian, pada tahun 1303, Porchetus de Salvaticis menyelesaikan karya yang berjudul Victoria Porcheti adversus impios Hebraeos (Kemenangan Porchetus Melawan Orang-Orang Ibrani yang Tidak Saleh). Dalam karya ini ia juga menyebutkan nama Allah, dan mengejanya dengan cara yang berlain-lainan Iohouah, Iohoua dan Ihouah. Kemudian, pada tahun 1518, Petrus Galatinus menerbitkan karya berjudul De arcanis catholicae veritatis (Berkenaan Rahasia-Rahasia Kebenaran Universal) di mana ia mengeja nama Allah sebagai Iehoua.

Nama itu mula-mula muncul dalam Alkitab bahasa Inggris pada tahun 1530, ketika William Tyndale menerbitkan terjemahan dari kelima buku Alkitab yang pertama. Di sini ia memuat nama Allah, biasanya dieja Iehouah, di beberapa ayat, dan dalam sebuah catatan dalam edisi ini, ia menulis, ”Iehovah adalah nama Allah . . . Selain itu, bilamana saja anda melihat TUHAN dengan huruf-huruf besar (kecuali ada salah cetak) dalam bahasa Ibrani ini adalah Iehovah.” Dari sini timbul kebiasaan untuk menggunakan nama Yehuwa hanya dalam beberapa ayat saja dan menulis ”TUHAN” atau ”ALLAH” di banyak tempat lain di mana Tetragramaton muncul dalam teks Ibrani.

Pada tahun 1611 terjemahan bahasa Inggris yang akhirnya paling luas digunakan, yaitu Authorized Version, diterbitkan. Di dalamnya, nama itu muncul empat kali dalam teks pokok. (Keluaran 6:3; Mazmur 83:18; Yesaya 12:2; 26:4) ”Yah”, singkatan yang bersifat puitis dari nama itu, muncul dalam Mazmur 68:4. Dan nama itu muncul secara lengkap dalam nama-nama tempat seperti ”TUHAN menyediakan [Jehovah-jireh, NW]”. (Kejadian 22:14; Keluaran 17:15; Hakim 6:24) Namun, karena mengikuti contoh Tyndale, para penerjemah dalam banyak hal menggantikan nama Allah dengan ”TUHAN” atau ”ALLAH”. Tetapi jika nama Allah dapat muncul dalam empat ayat, mengapa nama itu tidak dapat muncul dalam ribuan ayat lainnya yang memuat nama itu dalam bahasa Ibrani asli?

Hal serupa terjadi dalam bahasa Jerman. Pada tahun 1534 Martin Luther menerbitkan terjemahan Alkitabnya yang lengkap, didasarkan atas bahasa-bahasa asli. Karena alasan tertentu ia tidak memasukkan nama Allah tetapi menggunakan pengganti, seperti HERR (”TUHAN”). Namun, ia mengetahui nama ilahi, karena dalam suatu khotbah tentang Yeremia 23:1-8, yang ia sampaikan pada tahun 1526, ia mengatakan, ”Nama Yehuwa, Tuhan, hanyalah milik dari Allah yang benar.”

Pada tahun 1543 Luther menulis dengan kejujurannya yang khas, ”Mereka [orang-orang Yahudi] kini menyatakan bahwa nama Yehuwa tidak dapat diucapkan, tetapi sebenarnya mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan . . . Jika itu dapat ditulis dengan pena dan tinta, mengapa nama itu tidak boleh diucapkan, yang jauh lebih baik daripada ditulis dengan pena dan tinta? Mengapa mereka juga tidak mengatakan bahwa nama itu tidak dapat ditulis, tidak dapat dibaca atau tidak dapat dipikirkan? Mengingat ini semua, ada sesuatu yang curang.” Meskipun demikian, Luther tidak memperbaiki soal ini dalam terjemahan Alkitabnya. Namun, di tahun-tahun belakangan, Alkitab-Alkitab Jerman lainnya memuat nama ini dalam naskah dari Keluaran 6:3.

Abad-abad berikutnya, para penerjemah Alkitab menempuh salah satu dari dua haluan. Ada yang menghindari penggunaan nama Allah sama sekali, sedangkan yang lain menggunakannya secara luas dalam bentuk Yehuwa atau dalam bentuk Yahweh. Mari kita membahas dua terjemahan yang menghindari nama itu dan melihat mengapa, menurut penerjemah-penerjemahnya, hal ini dilakukan.
Mengapa Mereka Menghapus Nama Itu

Ketika J. M. Powis Smith dan Edgar J. Goodspeed menghasilkan sebuah terjemahan Alkitab modern pada tahun 1935, para pembaca mendapati bahwa TUHAN dan ALLAH digunakan di kebanyakan tempat sebagai pengganti nama Allah. Alasannya dijelaskan dalam kata pengantar, ”Dalam terjemahan ini kami mengikuti tradisi Yahudi ortodoks dan mengganti nama ’Yahweh’ dengan ’Tuhan’ dan ungkapan ’Tuhan Allah’ menggantikan ungkapan ’Tuhan Yahweh’. Dalam semua hal di mana ’Tuhan’ atau ’Allah’ menggantikan ’Yahweh’ yang asli, huruf-huruf besar ukuran kecil digunakan.”

Kemudian, dengan cara yang tidak umum sebagai kebalikan dari tradisi orang Yahudi yang membaca YHWH tetapi mengucapkannya ”Tuhan”, kata pengantar tersebut mengatakan, ”Karena itu, siapa pun, yang ingin mempertahankan ciri khas naskah yang asli hanya perlu membaca ’Yahweh’ bila ia melihat TUHAN atau ALLAH”!

Membaca hal ini, pertanyaan segera timbul dalam pikiran: Jika membaca ”Yahweh” dan bukan ”TUHAN” akan mempertahankan ”ciri khas naskah yang asli”, mengapa para penerjemah tidak menggunakan ”Yahweh” dalam terjemahan mereka? Mengapa mereka, dengan kemauan sendiri, ’mengganti’ nama Allah dengan kata ”TUHAN” dan dengan demikian menyelubungi ciri khas naskah asli?

Para penerjemah mengatakan bahwa mereka mengikuti tradisi Yahudi ortodoks. Namun apakah itu bijaksana bagi seorang Kristen? Ingat, bahwa orang-orang Farisilah, yaitu orang-orang yang mempertahankan tradisi Yahudi ortodoks, yang menolak Yesus. Yesus mengatakan, ”Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu.” (Matius 15:6) Penggantian sedemikian benar-benar melemahkan Firman Allah.
Pada tahun 1952 Alkitab Ibrani Revised Standard Version diterbitkan dalam bahasa Inggris, dan Alkitab ini, juga, menggunakan pengganti untuk nama Allah. Ini patut diperhatikan karena American Standard Version, yang asli, yang diperbaiki dalam Revised Standard Version, menggunakan nama Yehuwa di seluruh Alkitab Ibrani. Jadi, dihilangkannya nama itu merupakan penyimpangan yang mencolok. Mengapa hal ini dilakukan?
Dalam kata pengantar dari Revised Standard Version, kita membaca, ”Karena dua alasan maka Panitia telah kembali kepada kebiasaan yang lebih dikenal dalam Terjemahan King James [yaitu, menghilangkan nama Allah]: (1) kata ’Yehuwa’ tidak menyatakan dengan saksama bentuk apa pun dari Nama itu seperti yang pernah digunakan dalam bahasa Ibrani; dan (2) penggunaan suatu nama diri bagi satu-satunya Allah yang esa, seolah-olah ada allah-allah lain sehingga Ia harus dibedakan, telah dihentikan dalam Yudaisme sebelum zaman Kristen dan sama sekali tidak tepat bagi iman yang universal dari Gereja Kristen.”

Apakah alasan-alasan ini dapat dipertanggungjawabkan? Nah, seperti dibahas sebelumnya, nama Yesus tidak menyatakan dengan saksama bentuk asli dari nama Putra Allah yang digunakan oleh para pengikutnya. Namun hal ini tidak membuat Panitia merasa harus menghindari nama itu dan sebaliknya menggunakan gelar seperti ”Perantara” atau ”Kristus”. Ya gelar-gelar ini memang dipakai, tetapi sebagai tambahan kepada nama Yesus, bukan sebagai gantinya.

Alasan bahwa tidak ada allah-allah lain sehingga Allah yang benar tidak perlu dibedakan, hal itu sama sekali tidak benar. Jutaan allah disembah umat manusia. Rasul Paulus menulis: ”Ada banyak ’allah’.” (1 Korintus 8:5; Filipi 3:19) Tentu, hanya ada satu Allah yang benar, seperti dikatakan Paulus selanjutnya. Maka, satu keuntungan besar dengan menggunakan nama Allah yang benar adalah bahwa hal ini membuat Dia tetap terpisah dari semua allah-allah palsu. Selain itu, jika menggunakan nama Allah ”sama sekali tidak tepat”, mengapa nama itu muncul hampir 7.000 kali dalam Alkitab Ibrani yang asli?

Faktanya, banyak penerjemah tidak merasa sebagai suatu kejanggalan bahwa nama itu, dengan ucapannya yang modern terdapat dalam Alkitab. Mereka telah memasukkannya dalam terjemahan-terjemahan mereka, dan hasilnya selalu sebuah terjemahan yang memberikan kehormatan yang lebih besar kepada Pengarang Alkitab dan berpaut dengan lebih setia kepada naskah aslinya. Beberapa terjemahan yang banyak digunakan memuat nama itu. Antara lain terjemahan Valera (bahasa Spanyol, diterbitkan tahun 1602), terjemahan Almeida (bahasa Portugis, diterbitkan tahun 1681), terjemahan Elberfelder yang mula-mula (bahasa Jerman, diterbitkan tahun 1871) maupun American Standard Version (bahasa Inggris, diterbitkan tahun 1901). Beberapa terjemahan, terutama The Jerusalem Bible, juga tetap menggunakan nama Allah tetapi dengan ejaan Yahweh.

Kini bacalah ulasan-ulasan dari beberapa penerjemah yang memasukkan nama itu dalam terjemahan-terjemahan mereka dan bandingkan alasan mereka dengan alasan dari para penerjemah yang menghilangkan nama itu.

Mengapa yang Lain-Lain Memasukkan Nama Itu
Berikut adalah ulasan dari para penerjemah American Standard Version tahun 1901: ”[Para penerjemah] akhirnya sampai pada keyakinan yang diambil dengan suara bulat bahwa takhayul Yahudi, yang menganggap Nama Ilahi terlalu suci untuk diucapkan, sudah tidak patut lagi berpengaruh kuat dalam terjemahan-terjemahan Perjanjian Lama bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lain mana pun . . . Nama Peringatan ini, yang dijelaskan di Kel. iii. 14, 15, dan ditekankan secara demikian di naskah asli dari Perjanjian Lama, menunjuk Allah sebagai Allah pribadi, sebagai Allah perjanjian, Allah yang memberi wahyu, Penyelamat, Teman dari umat-Nya . . . Nama pribadi ini, berlimpah dengan hubungan-hubungan maknanya yang suci, kini dipulihkan pada tempatnya yang tak dapat disangkal dalam naskah suci.”

Demikian pula, dalam kata pengantar untuk Elberfelder Bibel bahasa Jerman yang mula-mula kita membaca, ”Jehova. Kita telah mempertahankan nama dari Allah Perjanjian Israel karena pembaca telah biasa dengan hal itu selama bertahun-tahun.”

Steven T. Byington, penerjemah dari The Bible in Living English, menjelaskan mengapa ia menggunakan nama Allah, ”Ejaan dan ucapannya tidak terlalu penting. Yang sangat penting adalah membuatnya tetap jelas bahwa ini adalah sebuah nama pribadi. Ada beberapa ayat yang tidak dapat dimengerti dengan tepat jika kita menerjemahkan nama ini dengan kata benda umum seperti ’Tuhan’, atau, lebih buruk lagi, dengan kata sifat yang dijadikan kata benda [misalnya, Yang Kekal].”

Kasus dari suatu terjemahan lain, oleh J.B. Rotherham, menarik. Ia menggunakan nama Allah dalam terjemahannya tetapi lebih senang menggunakan bentuk Yahweh. Namun, dalam suatu karya belakangan, Studies in the Psalms (Pelajaran tentang Mazmur), yang diterbitkan tahun 1911, ia kembali kepada bentuk Yehuwa. Mengapa? Ia menjelaskan ”YEHUWA.—Penggunaan bentuk bahasa Inggris dari nama Peringatan ini (Kel. 3:18) dalam terjemahan buku Mazmur yang ada sekarang tidak timbul dari perasaan khawatir mengenai ucapan lebih tepat, seperti Yahweh; tetapi hanya karena bukti-bukti praktis yang dipilih secara pribadi yang timbul dari keinginan untuk tetap mempertimbangkan telinga dan mata umum dalam soal semacam ini, di mana perkara utama adalah mengenali dengan mudah nama Ilahi yang dimaksudkan.”

Dalam Mazmur 34:4 para penyembah Yehuwa dianjurkan, ”Hendaklah kamu menyertai aku dalam membesarkan [Yehuwa], dan biarlah kita bersama-sama memuliakan namanya.” (Klinkert) Bagaimana para pembaca terjemahan-terjemahan Alkitab yang menghilangkan nama Allah dapat menyambut sepenuhnya anjuran itu? Orang-orang Kristen merasa bahagia bahwa sedikitnya beberapa penerjemah memiliki keberanian untuk memasukkan nama Allah dalam terjemahan-terjemahan Alkitab Ibrani mereka, dan dengan demikian mempertahankan apa yang disebut oleh Smith dan Goodspeed ”ciri khas naskah yang asli”.
Namun, sekalipun memasukkan nama Allah dalam Alkitab Ibrani, kebanyakan terjemahan menghilangkannya dari Alkitab Yunani Kristen, ”Perjanjian Baru”. Apa alasannya? Apakah dapat dibenarkan untuk memasukkan nama Allah dalam bagian terakhir dari Alkitab ini?

[Catatan Kaki]
Tetapi cetakan-cetakan dari karya ini beberapa abad kemudian, mengeja nama ilahi Jehova.
Kejadian 15:2; Keluaran 6:3; 15:3; 17:16; 23:17; 33:19; 34:23; Ulangan 3:24. Tyndale juga memuat nama Allah di Yehezkiel 18:23 dan 36:23, dalam terjemahannya yang ditambahkan pada akhir dari The New Testament, Antwerp, 1534.

[Blurb di hlm. 17]
Para penerjemah dari Authorized Version mempertahankan nama Allah, Yehuwa, hanya dalam empat ayat, menggantikannya dengan ALLAH dan TUHAN di semua ayat lain

[Blurb di hlm. 22]
Jika menggunakan nama Allah ”sama sekali tidak patut”, mengapa nama itu muncul hampir 7.000 kali dalam naskah Ibrani yang asli?

[Kotak/Gambar di hlm. 21]
Kebencian Terhadap Nama Allah?
Pada waktu ini, tidak ada terjemahan Alkitab mutakhir dalam bahasa Afrikaans (yang dipakai oleh orang-orang Afrika Selatan keturunan Belanda) yang memuat nama Allah. Hal ini mengherankan, karena banyak terjemahan ke dalam bahasa-bahasa suku yang dipakai di negeri itu menggunakan nama itu dengan terus terang. Mari kita lihat bagaimana terjadinya hal itu.
Pada tanggal 24 Agustus 1878, suatu permohonan yang kuat diajukan pada sebuah rapat dari Masyarakat Orang-Orang Afrika Asli (G.R.A.) agar suatu terjemahan Alkitab dibuat dalam bahasa Afrikaans. Enam tahun kemudian, soal ini dikemukakan lagi, dan akhirnya diputuskan untuk melaksanakannya dan menerjemahkan Alkitab dari bahasa-bahasa aslinya. Pekerjaan ini dipercayakan kepada S.J. du Toit, Pengawas Pendidikan di Transvaal.
Sepucuk surat perintah kepada du Toit mencakup petunjuk-petunjuk berikut ini, ”Nama diri dari Tuhan, Yehuwa atau Jahvê, harus tetap tidak diterjemahkan [yaitu, tidak diganti dengan Tuhan atau Allah] dalam seluruh buku.” S.J. du Toit menerjemahkan tujuh buku Alkitab ke dalam bahasa Afrikaans, dan nama Yehuwa muncul di seluruh buku.
Publikasi-publikasi Afrika Selatan lainnya, juga, pada suatu waktu memuat nama Allah. Misalnya, dalam De Korte Catechismus (Katekismus Singkat), karya J. A. Malherbe, 1914, muncul yang berikut ini: ”Apa Nama Allah yang sangat unggul?” Jawabannya? ”Yehuwa, yang ditulis TUHAN dengan huruf-huruf besar dalam Alkitab-Alkitab kita. [Nama] ini tidak pernah diberikan kepada makhluk lain.”
Dalam Die Katkisasieboek (suatu katekismus yang diterbitkan oleh Komisi Sekolah Minggu Berfederasi dari Gereja Reformasi Belanda di Afrika Selatan) pertanyaan berikut timbul: ”Maka apakah kita tidak pernah boleh menggunakan nama Jehovah atau TUHAN? Itulah yang dilakukan orang-orang Yahudi . . . Itu bukan maksud dari perintah tersebut. . . . Kita boleh menggunakan Nama-Nya, tetapi tidak dengan sembarangan.” Sampai dengan tahun-tahun belakangan ini, cetak ulang dari Die Halleluja (sebuah buku nyanyian pujian) juga memuat nama Yehuwa dalam beberapa nyanyian pujiannya.
Tetapi, terjemahan du Toit tidak populer, dan pada tahun 1916 suatu Panitia untuk Penerjemahan Alkitab ditunjuk guna menangani pembuatan sebuah Alkitab bahasa Afrikaans. Panitia ini menjalankan kebijaksanaan untuk menghapus nama Yehuwa dari Alkitab. Pada tahun 1971 Lembaga Alkitab dari Afrika Selatan menerbitkan ”terjemahan sementara” dari beberapa buku Alkitab dalam bahasa Afrikaans. Meskipun nama Allah disebutkan dalam kata pengantar, nama itu tidak digunakan dalam naskah terjemahan tersebut. Demikian pula, pada tahun 1979 suatu terjemahan baru dari ”Perjanjian Baru” dan Mazmur terbit dan nama Allah juga dihilangkan.
Selain itu, sejak 1970 nama Yehuwa tidak disebut-sebut lagi dalam Die Halleluja. Dan cetakan keenam dari edisi Die Katkisasieboek yang diperbaiki, yang diterbitkan oleh Gereja Reformasi Belanda di Afrika Selatan, kini juga menghilangkan nama itu.
Sebenarnya, upaya-upaya untuk melenyapkan bentuk Yehuwa tidak terbatas pada buku-buku. Di suatu gereja Reformasi Belanda di Paarl biasanya terdapat sebuah batu penjuru yang di atasnya dipahat kata-kata JEHOVAH JIREH (”Yehuwa Menyediakan”). Sebuah gambar dari gereja dan batu penjuru ini muncul dalam terbitan majalah Awake! tanggal 22 Oktober 1974 dalam bahasa Afrikaans. Sejak itu, batu penjurunya diganti dengan batu lain dengan kata-kata DIE HERE SAL VOORSIEN (”TUHAN Menyediakan”). Ayat yang dikutip dan tanggal pada batu penjuru itu tetap sama, tetapi nama Yehuwa dihilangkan.
Jadi, banyak orang Afrikaan dewasa ini tidak mengetahui nama Allah. Para anggota gereja yang memang mengetahuinya tidak mau menggunakan nama itu. Ada yang bahkan menentangnya, dengan mengatakan bahwa nama Allah adalah TUHAN dan menuduh Saksi-Saksi Yehuwa telah membuat-buat nama Yehuwa.

[Gambar]
Sebuah gereja Reformasi Belanda di Paarl, Afrika Selatan. Semula, nama Yehuwa dipahat pada batu penjuru
(kanan atas). Belakangan, nama itu diganti (kiri atas)

[Gambar di hlm. 18]
Nama Allah dalam bentuk Yohoua muncul pada tahun 1278 dalam karya Pugio fidei seperti tampak dalam naskah ini (abad ke-13 atau 14) dari perpustakaan Ste. Geneviève, Paris, Prancis (folio 162b)

[Gambar di hlm. 19]
Dalam terjemahan kelima buku pertama dari Alkitab ini, yang diterbitkan tahun 1530, William Tyndale memasukkan nama Allah di Keluaran 6:3. Ia menjelaskan dalam sebuah catatan dalam terjemahan ini mengapa ia menggunakan nama itu

[Keterangan]
(Foto seizin dari Perpustakaan Lembaga Alkitab Amerika, New York)

Sumber dari Buku :
Nama Ilahi; halaman 17 - 22 tahun; Penerbit perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab; Cetakan 2007

Tq,
BP

Thread : Re: Berhati2lah terhadap terjemahan2 alkitab baru yang menyesatkan

2 Petrus 2:1 Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.

Matius 7:15 Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

1 Yohanes 4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.

Terjemahan Dunia Baru

Definisi: Terjemahan Alkitab yang dibuat langsung dari bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani ke dalam bahasa Inggris modern oleh suatu panitia yang terdiri dari saksi-saksi terurap Yehuwa. Berikut ini adalah komentar mereka tentang karya tersebut, ”Para penerjemah karya ini, yang takut dan mengasihi Pengarang Ilahi Alkitab, merasa mempunyai tanggung jawab istimewa kepada-Nya untuk menyampaikan pikiran dan pernyataan-pernyataan-Nya sesaksama mungkin. Mereka juga merasa bertanggung jawab terhadap para pembaca yang gemar menyelidik yang mengandalkan suatu terjemahan Firman terilham dari Allah Yang Mahatinggi untuk keselamatan kekal mereka.” Terjemahan ini mula-mula diterbitkan bagian demi bagian, dari tahun 1950 sampai tahun 1960. Edisi-edisi dalam bahasa-bahasa lain didasarkan atas terjemahan bahasa Inggris.

”Terjemahan Dunia Baru” didasarkan atas apa?
Sebagai dasar untuk menerjemahkan Kitab-Kitab Ibrani, naskah dari Biblia Hebraica karya Rudolf Kittel, edisi 1951-1955, digunakan. Dalam revisi Terjemahan Dunia Baru tahun 1984 bantuan yang besar diperoleh dengan memperbaruinya selaras dengan Biblia Hebraica Stuttgartensia tahun 1977. Selain itu, Gulungan-Gulungan Laut Mati dan banyak terjemahan awal ke dalam bahasa-bahasa lain diperiksa. Berkenaan dengan Kitab-Kitab Yunani Kristen, naskah Yunani induk tahun 1881 yang disiapkan oleh Westcott dan Hort khususnya digunakan, tetapi beberapa naskah induk lain diperiksa juga, demikian pula banyak terjemahan yang mula-mula dalam bahasa-bahasa lain.

Siapakah para penerjemahnya?
Ketika mempersembahkan hak penerbitan untuk terjemahan mereka sebagai hadiah, Panitia Penerjemah Alkitab Dunia Baru (New World Bible Translation Committee) meminta agar para anggotanya tetap anonim (tidak disebutkan namanya). Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania menghormati permohonan mereka. Para penerjemah tidak mencari kedudukan terkemuka bagi diri sendiri tetapi hanya menghormati Pengarang Ilahi Kitab Suci.

Selama bertahun-tahun panitia penerjemahan lain juga menganut pandangan yang sama. Misalnya, sampul Edisi Referensi (1971) New American Standard Bible menyatakan, ”Kami tidak menggunakan nama pakar manapun untuk referensi atau rekomendasi karena kami percaya bahwa Firman Allah tetap berdiri oleh nilai-nilainya sendiri yang luhur.”

Apakah ini benar-benar suatu terjemahan yang bersifat ilmiah?
Karena para penerjemah telah memutuskan untuk tetap anonim, pertanyaan ini tidak dapat dijawab berdasarkan latar belakang pendidikan mereka. Terjemahan ini harus dihargai menurut keunggulannya sendiri.

Terjemahan macam apakah ini? Yaitu suatu terjemahan yang saksama dan sebagian besar bersifat harfiah dari bahasa aslinya. Ini bukan saduran bebas, yang para penerjemahnya menghilangkan perincian yang mereka anggap tidak penting dan menambahkan gagasan-gagasan yang menurut mereka berguna. Sebagai bantuan bagi yang mempelajarinya, sejumlah edisi memuat banyak sekali catatan kaki yang memperlihatkan berbagai-bagai terjemahan dari ungkapan-ungkapan yang dengan sah dapat diterjemahkan dalam lebih dari satu cara, juga suatu daftar naskah kuno spesifik yang menjadi dasar terjemahan tertentu.
Ada ayat-ayat yang bunyinya mungkin tidak sama seperti yang biasa dikenal. Terjemahan manakah yang benar? Para pembaca diundang untuk memeriksa manuskrip penunjang yang dikutip dalam catatan kaki Terjemahan Dunia Baru edisi Referensi, membaca penjelasan yang diberikan dalam apendiks, dan membandingkan terjemahan itu dengan bermacam-macam terjemahan lain. Pada umumnya, mereka akan mendapati bahwa beberapa penerjemah lain juga melihat perlunya mengungkapkan hal itu dengan cara yang sama.

Mengapa nama Yehuwa digunakan dalam Kitab-Kitab Yunani Kristen?
Patut diperhatikan bahwa Terjemahan Dunia Baru bukan satu-satunya Alkitab yang berbuat demikian. Nama ilahi muncul dalam terjemahan-terjemahan Kitab-Kitab Yunani Kristen ke dalam bahasa Ibrani, dalam ayat-ayat yang kutipan-kutipan dibuat langsung dari Kitab-Kitab Ibrani yang terilham. The Emphatic Diaglott (1864) memuat nama Yehuwa 18 kali. Terjemahan-terjemahan Kitab-Kitab Yunani Kristen dalam sedikitnya 38 bahasa lain juga menggunakan nama ilahi dalam bentuk bahasa setempat.
Fakta bahwa Yesus Kristus menandaskan nama Bapaknya menunjukkan bahwa ia secara pribadi menggunakannya dengan bebas. (Mat. 6:9; Yoh. 17:6, 26) Menurut Yerome dari abad keempat M, rasul Matius menulis Injilnya mula-mula dalam bahasa Ibrani, dan Injil itu banyak mengutip bagian Kitab-Kitab Ibrani yang memuat nama ilahi. Penulis-penulis Kitab-Kitab Yunani Kristen lainnya mengutip dari Septuaginta Yunani (terjemahan Kitab-Kitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani, yang dimulai kira-kira tahun 280 SM), yang salinan-salinan awalnya memuat nama ilahi dalam huruf-huruf Ibrani, seperti diperlihatkan oleh fragmen-fragmen asli yang telah dilestarikan.

Profesor George Howard dari University of Georgia menulis, ”Karena Tetragram [empat huruf Ibrani untuk nama ilahi] masih ditulis dalam salinan-salinan Alkitab Yunani yang merupakan Alkitab gereja masa awal, masuk akal untuk percaya bahwa para penulis P[erjanjian] B[aru], apabila mengutip dari Kitab-Kitab, mempertahankan Tetragram dalam naskah Alkitab.”—Journal of Biblical Literature, Maret 1977, hlm. 77.

Mengapa ada ayat-ayat yang kelihatannya hilang?
Ayat-ayat itu, yang ada dalam beberapa terjemahan, tidak terdapat dalam manuskrip-manuskrip Alkitab tertua yang ada. Membandingkannya dengan terjemahan-terjemahan modern lain, seperti The New English Bible dan Jerusalem Bible Katolik, terlihat bahwa para penerjemah lain juga mengakui bahwa ayat-ayat yang disebut tadi tidak ada dalam Alkitab. Dalam beberapa kasus, ayat-ayat itu diambil dari bagian lain Alkitab dan ditambahkan pada ayat yang disalin oleh seorang penyalin Alkitab.

Sumber : Bertukar Pikiran Tentang Ayat-Ayat Alkitab; Halaman 388 - 392; Penerbit Perkumpulan Siswa-Siswa Alkitab.

Tq,
BP

Dan apakah Terjemahan Dunia Baru adalah terjemahan terbaik?

terbaik ??

terba . . . lik

he he he

Betul sekali , misalnya kitab PL banyak di isi doktrin doktrindan hasil pemikiran musa sendiri (kejadian, keluaran , imama tulangan) dimana beliau sendiri meng’adopsi" ataupun terpengaruh oleh adat kebiasaan/ kepercayan bangsa lain (musa itu didikan mesir )

Tuhan yesus memberkati
Han

berhati hatilah yang menafsirkan ayat ayat alkitab juga,

sebab ada yang mengatakan, bahwa manusia adalah keturunan dari ular beludak