Berzinah gak ya!!!!!!

Tanya pendapat teman2

ada 1 bapak sebelum dia bertobat pny istri dan punya anak lalu mereka bercerai
kemudian bapak ini nikah lagi dan punya anak dari istri ke 2 nya
dan Puji TUHan akhirnya bapak ini bertobat dan istri ke 2 nya juga

yang jadi pertanyaan saya
bapak ini termasuk berzinah gak ya soalnya dia kan menikah lagi sedangkan istri 1st nya masih hidup (firtu : barang siapa menceraikan istrinya ia berbuat zinah )

trus dari posisi bapak ini kan dia gak mungkin kembali ke istri pertamanya sedangkan dia dgn istri ke 2 nya udah punya anak??? tanggung jawab donx dengan istri ke 2 dan anaknya gt

lalu
apa yang harus dia perbuat supaya dia bebas dari dosa zinah ini???

binggung kan!!!

Ini pendapat saya:

Kapankah bapak tadi mengerti kebenaran ini?

Sebelum atau sesudah bertobat?

Asumsi saya adalah : pertobatan ini berupa pertobatan dari orang yang belum pernah mengenal Yesus menjadi mengenal - percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Jadi menurut saya, dia tidak melakukan zinah.

Bayangkan, dengan model seperti ini : bapak ini seumur hidupnya akan dijudge dengan dosa-dosa masa lalu.

Lain halnya bila pertobatan yang dimaksud adalah pertobatan tupe ‘tomat’ : tobat sekarang besok kumat.

Artinya dia sudah pernah menerima kebenaran ini, jadi dia berzina.

trus dari posisi bapak ini kan dia gak mungkin kembali ke istri pertamanya sedangkan dia dgn istri ke 2 nya udah punya anak??? tanggung jawab donx dengan istri ke 2 dan anaknya gt

lalu
apa yang harus dia perbuat supaya dia bebas dari dosa zinah ini???

binggung kan!!!


Kalau secara moral sang bapak ingin sekedar membantu eks istri dan anaknya (bukan eks) secara finansial, sebaiknya tetap dibicarakan dg istrinya saat ini, sebagai bentuk keputusan rumah tangga.

Semoga membantu

Salam

waduhhh
kalo udeh merid lagi kan jadinya sah tuh, kecuali dengan yang ke 2 ga merid, baru zinah
tapi ga tau deh, Mey takut salah.

Hendra Joe : hen…kamu pasti bisa jawabnya neh… :wink:

:slight_smile: Aku juga punya pertanyaan semacam ini.

Misalkan :

Ada seorang pria yang lom kenal Tuhan lalu dia “berpoligami” (tidak bermaksud menyinggung SARA), dan punya anak dr ke 2 (kalau 2 kali) istrinya. Lalu dia kenal Tuhan dan bertobat, apa yang harus dilakukan oleh orang ini agar dia lepas dr dosa Zinah? menceraikan istrinya? :rolleye0014:

Thx Be4

CMIIW, sekedar sumbang pendapat…

Alternatif 1

  1. Pernikahan yang pertama diberkati di Gereja (pernikahan yang kudus)
  2. Apakah pernikahan yang kedua diberkati di Gereja?
    Kalau Ya - Pendeta yang memberkati kecolongan! Kemungkinan pas konseling pra nikahnya.
    Pernikahannya pun tidak sah karena atas dasar ketidak jujuran
    Kalau Tidak - Maka pernikahannya tidak sah
  3. Oleh karena itu, pada dasarnya, pria tersebut TIDAK menikah dengan dua orang wanita. Tetapi ia menikah dengan istri yang pertama, pisah rumah (bukan bercerai, karena Alkitab tidak mengijinkan perceraian) kemudian berzinah dengan wanita yang kedua. Dalam hal ini ia harus berhenti berzinah dari wanita yang kedua (bukan bercerai, karena memang tidak diakui pernikahannya, walaupun secara hukum negara urusannya lain lagi), tetapi ia tetap harus memenuhi kebutuhan wanita dan anak-anaknya (kalau ada)

Alternatif 2

  1. Belum lahir baru
  2. Tidak diberkati di Gereja
  3. Artinya secara iman Kristen mereka memang belum pernah dipersatukan dalam pernikahan kudus alias belum menikah. Jadi istilah cerai dalam hal ini juga tidak berlaku… wong lom menikah… cuma merasa sudah menikah… he he he…

Kasus yang ini saya kenal orang yang mengalaminya. Beliau kemudian meninggalkan “istri” mudanya, kembali ke “istri” yang pertama dan mengikat perjanjian peneguhan nikah di gereja.

Cuma pada prakteknya hal-hal seperti ini banyak sekali variasi dan parameternya, jadi harus lihat juga kasus per kasus. Tidak bisa disama ratakan.

JBU :happy0025:

em bapak itu waktu nikah dgn istri pertama blm jadi orang kristen
trus waktu nikah dgn istri ke 2 juga belum jadi orang kristen

dia bertobat setelah dia mempunyai anak dari istri ke 2
dan tentunya pernikahan mereka tidak melalui gereja karena mereka dah punya anak dulu baru bertobat gt

dan saya gak tau deh gereja ada mengkuduskan pernikahan mereka ato tidak, sepertinya sih gereja tidak berani

:coolsmiley: sejauh ini dah jelas Bro methuselah :slight_smile: thx

Jadi makin tau banyak ttg hal ini
apa lagi pernikahan dalam kekristenan
kasih masukan lagi donk ttg pernikahan kekeristenan :afro:

yang saya tau pernikahan kristen itu harus sesama kristen, ikut sminar pra nikah, dah lahir baru
direstui masing2 ortu, pembimbing rohani. trus tidak dapat diceraikan hingga maut memisahkan hehehehee
aman kan!!!

don’t try this when you aren’t ready !!!

hemp…buat tambahan…kmaren pas kebaktian minggu gw dpt ayat ini scr ga sengaja.
buat umat kristus.perceraian dalam rumah tangga kristen itu ga dibenarkan.
dan ada ayat yg menyebutkan.
jika dalam perceraian sang suami menikah lagi maka suami tersebut dikatakan berzinah,
lalu jika istri yg diceraikan itu menikah lagi dengan pria lain maka mereka pun dikatakan berzinah.
jadi tertulis dengan jelas klo perceraian itu uda ga dibolehin apalagi nikah setelah cerai.
klo ada yg pengen tau ayat nya nti gw cariin de.lupa gw.hehe.moga2 bisa membantu. ^^

JBU

gw mo nanya juga

setelah bapak yang poligami atau yang nikah 2 kali itu jadi orang percaya,
kira kira Tuhan masih mengingat dosa dosanya (baca: dosa zinah) sewaktu dia blom bertobat apa enggak?

waduh klo yg itu nda tau…dan gw ga berhak untuk nge judge gtu de…tp ya klo yg nama nya bertobat asalkan sungguh2 pasti ada jalan de. ^^

Umumnya semua org tahu bahwa pernikahan polygami itu tdk benar, krn merugikan pihak wanita.
Umumnya org juga menyadari bahwa terjadinya polygami itu krn ada pria yg egois.
Atas dasar norma umum yg berlaku tsb, jelas bahwa pria tsb sdh berdosa (berzinah atau tdk itu kl ybs beragama, kl tdk bisanya tdk mengenal ukuran itu).
Yg saya tahu (pernah dibahas oleh HT) dgn posisinya yg sekarang pris tsb harus bertanggung jawab utk memenuhi kebutuhan istri pertama ntya, sampai ybs mendptkan pasangan, dan patut dihindari bahwa pria tsb sama seklai sdh tdk boleh menganggap istri pertamanya sg istri, itu yg hrs dilakukan kalau ybs benar2 merasa bertobat.
GBU all

Bapak tsb tidak mempunyai dosa zinah. Sebab saat menikah pertama kali belum ada pemberkatan nikah.

Mengapa ?

Saat menerima YESUS, (dibaptis) dosa bapak tsb sebelumnya sudah dibersihkan.

Untuk anak dari istri pertama , harus bertanggung jawab scr finansial sampai pendidikan tinggi.

Pilih salah satu dari kedua istri. Setelah memilih 1 istri tersebut, maka yang boleh dikumpuli hanya yang dipilih tersebut dan seterusnya. Sebut A yang dipilih.

Untuk yang tidak dipilih sejak saat itu sebagai adik (B). Gak boleh sekalipun dikumpulin.
Untuk Anak dari B, harus bertanggung jawab / financial (membiayai) sampai pendidikan tinggi. Termasuk biaya bulanan B (sudah sbg adiknya).

Jika anak dari B , mau ikut A, A harus mau menerima tanpa syarat.

Kami dari Katolik mempunyai Hukum Kanonik. (ini bukan pemikiran saya). Jawaban spt diatas.

Biarpun istrinya 5 tetap pilih 1 saja.

Lukas 11:46
Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.

Pernikahan hanya ada didunia ini saja, sebagai sebuah lembaga yang dianugrahkan Allah untuk manusia, sama seperti hukum hari Sabat, diadakan untuk manusia demikian juga pernikahan diadakan Allah untuk manusia, bukan manusia untuk pernikahan.

Markus 12:23-25
23 Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia."
24 Jawab YESUS kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.
25 Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.

Seorang yang menikah didunia ini kelak disurga ia bukan lagi diperhitungkan suami dan isteri dengan pasangannya oleh Tuhan. Artinya pernikahan manusia didunia ini adalah fana, sama seperti dunia dan segala isinya.

Saat seorang hidup dalam dosa, maka pada saat ia bertobat, Firman Tuhan menyatakan ia dilahirkan kembali menjadi manusia baru yang memiliki karakter KRISTUS, yang lama dikuburkan. Saat dulu sebelum bertobat ia kawin cerai dan setelahnya ia menikah terakhir dan bertobat, bukankah gereja akan melakukan peneguhan ulang pernikahannya? Maksudnya bahwa sejak saat ini mereka adalah pasangan yang disahkan oleh Tuhan sebagai suami isteri “bukan lagi dua tetapi satu”, menggambarkan hubungan antara Kristus dengan gereja. Kapan hal itu terjadi dihadapan Allah? yaitu sejak mereka telah dilahirkan kembali. Patokan kita adalah Firman Tuhan bukan pernikahan dan perceraian menurut hukum negara. Dosa yang lama saat bertobat, telah dihapuskan seperti tidak pernah berdosa, demikian pernikahan dan perceraian sebelum menjadi Anak Allah, tidaklah diperhitungkan sebagai pernikahan didalam Kristus. Memang bukan berarti perceraian dilewati begitu saja, apa yang harus dibereskan tetap harus dibereskan, seperti halnya tanggung jawab terhadap anak-anak mereka sebelum mereka memiliki penanggung (ayah).

Jadi mengapa ada manusia yang menambahi hukum dan membuat peraturan yang sulit untuk memberatkan dan membuat semakin berat mereka yang hendak bertobat?

Berbeda jika ia hendak bercerai saat ia telah dilahirkan kembali, itulah waktunya gereja bertindak untuk menyatakan bahwa apa yang dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan manusia. Tetapi Alkitab mencatat Musa mengeluarkan surat cerai karena kedegilan hati manusia.

Husssss yg BINGUNG sih yg gak ngarti aja sama Alkitab !
Jawaban ama PETUNJUK nya ada kok semua di Alkitab !

  1. Emangnya si Bapa itu sebelum jadi Kristen uDEH TAHU tentang firtu yg sis sampaikan itu ? Coba JAWAB dan RENUNGKAN…entar NEMU deh jawaban Alkitabiyahnya , OK ?

  2. Yang manusia bilang GAK MUNGKIN, kan bisa dimodifikasi olehnya berdasarkan Firman Tuhan juga…jadikan saja anak dan istri pertamanya menjadi Mempelai Wanita bagi Kristus ! TUh pasti lebih AFDOL dan TERPUJI deh…paling enggak anak dan istri pertamanya LOLOS dari Hukum Dosa Asal di Neraka itu !Itu juga Tanggung Jawabnya sebagai ayah anak2nya dan mantan suami istri pertamanya !

  3. Nah untuk pertanyaan yg ke 3 ini…nih sisi BACA dan RENUNGKAN Firman Tuhan yg disuruh sampaikan Nabi Yeremia kepada manusia …
    Yeremia 31 :
    33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka (Bahasa PB nya Aku akan menaruh Roh Kudus-Ku dalam batin dan hati mereka); maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."

Tuh 'kan NEMU semua JAWABAN nya didalam Alkitab…jangan BINGUNG lagi ya sis !

Jadi jawabannya ada di Yeremia 31 : 34 tuh Bro !

Renungkan"yang ini" ya Bro !

RUANGAN
Kategori: Kesaksian – Penglihatan
Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti apa. “Aku membuat mereka terperangah,” kata Brian kepada ayahnya, Bruce. “Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang terbaik yang pernah aku tulis.” Dan itu juga merupakan tulisannya yang terakhir.

Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorang saudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja itu di SMA Teays Valley, Pickaway County, Ohio.

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya. Hanya dua bulan sebelumnya, ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang sorga.

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin membagikannya. “Anda merasa seperti ada di sana,” kata pak Bruce Moore. Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mereka. “Aku pikir Tuhan telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya,” kata Nyonya Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mereka tentang kehidupan setelah kematian. “Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya.”

Inilah esai Brian yang berjudul “RUANGAN”.

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip yang bertanda “Teman-teman yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. “Buku-buku Yang Aku Telah Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”. “Penghiburan yang Aku Berikan”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”. Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: “Makian Buat Saudara-saudaraku”.

Bersambung…

Sambungan…

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: “Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.”, “Gerutuanku terhadap Orangtuaku”.
Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda “Pertunjukan- pertunjukan TV yang Aku Tonton”, aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”, aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul “Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil”. Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus!
Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Bersambung…

Sambungan…

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.
Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah “Jangan, jangan!” ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus!

Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, “Sudah selesai!”
Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku yang masih panjang itu. Ku harap sih akan aku isi dengan " Hal2 yg menyenangkan hati Tuhan Yesusku "

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

KIRA2 bisakah si Bro mengambil MAKNA dan PESAN Renungan diatas itu ? GBU ya Bro !