BGMN DIALOG ANTARA KRISTEN NON-KATOLIK DAN KATOLIK SPY TIDAK GAGAL

Di topik Dialog Protestant - katolik : GAGAL… lebih banyak membicarakan penyebab gagalnya Dialog Protestan (Kristen Non-Katolik) dan Katolik yang akhirnya saling menyalahkan.

Mari sekarang kita bahas harus bagaimana Dialog Protestan (Kristen Non-Katolik) dan Katolik supaya TIDAK GAGAL?

Karena saya yang buat topik ini, saya tidak ingin mulai duluan supaya tidak ada yang menyangka saya curi start / mengarahkan opini pembaca.

Silahkan dimulai dari Kristen Non-Katolik!

Harap rekan-rekan Katolik tidak memulai lebih dulu mengajukan pendapat.
Kerjasama dari Moderator sangat diperlukan untuk menghapus posting yang tidak sesuai topik.

TGL 29-11-12 Saya edit judulnya dari “DIALOG ANTARA PROTESTAN (NON KATOLIK) DAN KATOLIK TIDAK GAGAL” menjadi “BGMN DIALOG ANTARA KRISTEN NON-KATOLIK DAN KATOLIK SPY TIDAK GAGAL”

Ijinkan saya pertamax ya bro…

Untuk mengawali nya… saya ingin menyampaikan bahwa:
Pendapat / Opini / Interpretasi dari Beberapa member forum yang kebetulan mengaku protestantism…
itu adalah PENDAPAT masing-masing individu…
dan BUKAN mewaliki atau berbicara atas nama Aliran Protestantism…
terlebih lagi… dalam Protestantism tidak dikenal ada Pemimpin tunggal atau Orang yang Berhak mengklaim dirinya mewakili suara semua pemeluk ajaran…

Demikian saya rasa bisa menjadi pembuka diskusi: bahwa the silent majorities pemeluk protestantism TIDAK SELALU dan TIDAK HARUS dan BUKAN BERARTI memiliki pendapat / pemikiran / interpretasi firman seperti temannya sesama pemeluk.

Seperti halnya dialog Calvinis vs Arminianis, dialog Protestan vs Katolik bahkan lebih tidak mungkin ketemu. Sebab kalau protestan setuju atau paling tidak bisa mentoleransi/menerima ajaran katolik sehubungan dengan keimanannya, pastilah dia bukan protestan melainkan masih katolik.

Satunya bilang A, satunya bilang bukan A. Membenarkan pendapat sendiri, otomatis menyalahkan pihak yang lain. Itu sudah otomatis walaupun tidak secara eksplisit (mengatakan bahwa menurut saya kamu salah). Jadi kalau suatu waktu ada yang bicara jujur : ajaran saya salah, seharusnya tidak kaget karena memang faktanya seperti itu (bahwa faktanya orang lain meyakini ajaran Anda salah, dan kalau tidak ingin mendengarkan yang seperti itu ya gak usah diskusi. Kan gak dipaksa ).

Diskusi tetang kebenaran agamawi lain sifatnya dengan misalnya rapat RT. Kebenaran agamawi no compromise sedangkan kalau rapat RT kita mengakomodasi paham-paham tidak sejalan lalu diaduk-aduk jadi satu adonan. Agama tidak bisa seperti itu, salah ya salah benar ya benar.

Jika seandainya Yesus ‘bijaksana’ kayak beberapa member di sini, tentunya Dia tidak dibenci dan dihukum mati. Karena Yesus versi ini akan bertoleransi dan memaklumi keyakinan orang lain. Sedemikian bencinya orang pada cara Yesus menyampaikan pendapat, sampai ada kesempatan memilih pun, orang lebih memilih bersimpati pada penjahat besar barabas dibanding Yesus. :tongue:

Point yang ingin saya sampaikan adalah : hendaknya kita tahu konsekuensinya berdiskusi, yaitu bisa berbeda pendapat dan perbedaan itu bisa sangat tajam. Seandainya pun si A tidak menyatakan saya salah, saya sudah tahu bahwa menurut dia saya salah. Jadi tidak kaget lalu marah-marah kalau ada orang menyalahkan. Jadi jangan masuk diskusi tidak siap mental lalu bisanya marah-marah melulu :tongue:

GBU

mengutip dari bang cakka :ashamed0002:

Tanda-tanda akan munculnya gereja esa sedunia dapat terlihat di mana-mana pada hari ini. Pada tanggal 7-28 Oktober, Sinode Uskup-Uksup Roma Katolik ke-13 dilaksanakan di Vatikan dan dihadiri oleh orang-orang Baptis, Protestan, dan delegasi-delegasi maupun pengamat-pengamat lainnya. Pemimpin Baptis, Timothy George, adalah salah satu pembicara, dan dia memuji proses “dialog” yang terjadi dan menyerukan “kesatuan gereja.” George berdoa agar sinode Katolik dan program Penginjilan Katolik Baru akan “menjadi pembuka jalan pembaharuan Injil dan penyegaran gereja dan dunia dalam masa hidup kita” (“Baptist Addresses Vatican Crowd,” Associated Baptist Press, 23 Okt. 2012).

Olav Tveit, sekretaris jenderal dari World Council of Churches, mengirimkan sebuah salam hangat kepada sinode itu. Tveit menyatakan suatu kerinduan untuk “persatuan yang nyata dari Gereja dalam satu iman dan satu persatuan ekaristi” (“Greets of the WCC General Secretary,” 11 Okt. 2012, oikoumene.org).

World Council mewakili 340 denominasi, dan mereka berasosiasi karib dengan Roma. Kepada campuran Injili dan Katolik yang tidak kudus ini akan ditambahkan lagi gerakan kontemplatif mistikisme Roma Katolik, ekumenisme radikal dari musik penyembahan kontemporer, dan afiliasi dekat antara gerakan kharismatik dengan Roma, sehingga semakin jelas bahwa “persatuan yang nyata dari Gereja” sudah hampir tiba pada kita.

WCC bersifat liberal radikal dalam hal theologi, sebagaimana yang telah kami dokumentasikan dalam laporan “The World Council of Churches,” tetapi pesan Tveit sangat menarik karena bahasa “injili” yang ia gunakan. Dia berbicara mengenai “salib dan kebangkitan Yesus Kristus, yang adalah Kabar Baik.” Dia berbicara mengenai pembenaran dalam Kristus, pemberitaan Injil dan panggilan kepada kekudusan.” Dia berbicara mengenai “kuasa Roh Kudus,” tentang “merenungkan teks-teks Alkitab, dan bersaksi tentang Injil di rumah-rumah dan keluarga-keluarga [kita], di jalan-jalan atau di tempat-tempat kerja.”

Kalau saya tidak tahu belangnya, saya pasti menyimpulkan bahwa orang ini adalah seorang yang percaya Alkitab, tetapi dia memang bukan! Dia menggunakan kata-kata indah ini, tetapi dia menggunakan kamus yang berbeda untuk mendefinisikan kata-kata tersebut. Bagi WCC, injil adalah usaha untuk menegakkan “keadilan sosial-politik” di dunia sekarang ini, bukan keselamatan jiwa-jiwa. Kristus, Roh Kudus, kekudusan, pembenaran, merenungkan Alkitab, bersaksi tentang Injil, semua hal ini memiliki banyak definisi yang berbeda di dalam khalayak ramai World Council yang campur aduk.

Sejak Konsili Vatikan Kedua di Roma, suatu konferensi tiga tahun yang mulai persis 50 tahun yang lalu dan yang membuka pintu bagi ekumenisme paling lebar dalam sejarah gereja, Roma Katolikisme telah “diinjilikan,” dan orang-orang Injili telah “diromakan.” Kita sedang hidup di suatu zaman pencampuran dan merger besar-besaran. Hitam putihnya kebenaran doktrinal sedang dicampuradukkan menjadi abu-abu kompromi. Kata-kata theologis dibiarkan memiliki banyak definisi yang berbeda-beda, karena sikap terlalu dogmatis adalah tidak sopan dan divisif.

Tiga puluh tahun lalu, saya tidak berpikir bahwa akan menyaksikan gereja-gereja Baptis independen akan main mata dengan orang-orang yang berafiliasi dengan Roma, tetapi ini sedang terjadi di depan hidung kita, melalui diterima luasnya musik penyembahan kontemporer, yang bisa jadi adalah lem yang paling kuat dan efektif untuk penciptaan gereja esa sedunia.

Sumber: http://www.cakka.web.id/blog/persatuan-gereja-seluruh-dunia-semakin-nyata/

Dari facebook dapat artikel menarik http://www.tulang-elisa.org/tingkat-tingkat-perbedaan-ajaran-alkitab/

Setuju, ini juga berarti Diskusi ini bukan mewakili Agama / Denominasi Kristen yang Anda.
Ini hanya usaha/pendapat pribadi sebagai pemeluk salah satu Agama / Denominasi.

@Dya1^_^ apa inti yang Anda ingin sampaikan? Saya tidak berminat menyimpulkan supaya tidak salah paham.

@ WorldPeace8281 kutipan yang menarik.

@ Krispus, silahkan langsung saja memberikan opininya, kurangin kutipan dari situs lain.

Bagi saya, yang utama saling menghargai pendapat yang berbeda… :happy0025:

DiaLoGue-nya sembari brrr…peyuuuqaan (dg tangan kosong) :onion-head29: :happy0062:

Kalo saya sih bingung, tidak mewakili siapa2 nich…tidak mewakili Protestan maupun Katholik…kalo Orthodox harus kemana ya? :slight_smile:

Graphe ministry tempat Suhento Liauw ya?

di Post kedua sudah ditulis tidak mewakili agama/denominasi hanya pribadi sebagai orang Kristen, yah tulis aja pendapat Anda sebagai pemeluk Orthodox.

Apa dan bagaimana menghargai pendapat yang berbeda itu?

ha…ha… bisa saja.
Memang secara umum Katolik dan Orthodox tidak terlalu “keras” dalam dialog/berdiskusi khususnya di Indonesia mungkin juga karena sama-sama bercirikan “SATU, KUDUS, KATOLIK dan APOSTOLIK”

Benar bos, di Sunter gerejanya, main-main aja, kalau bisa bahasa roh silakan dipakai, nanti pasti dilihatin orang segereja… ;D

Oh, dulu pak Liauw pernah koq seminar dengan romo saya di GSJA Krekot. Saya ada rekamannya. Waktu itu tentang “Kekristenan di Indonesia” kalo gak salah. Mungkin baru kali itu pak Liauw berjumpa dengan orthodoxy. Saya ada dan baca koq buku-buku beliau tentang kekristenan Alkitabiah, apakah gerakan kharismatik Alkitabiah dll.

Senangnya bisa melihat 2 orang berbincang-bincang dengan akrab walaupun berbeda Gereja/agama/denominasi.
pak Liauw pernah koq seminar dengan romo saya di GSJA Krekot >> apa yang bisa Anda sampaikan dengan moment tersebut?
Apakah ini bisa berarti bahwa dalam tataran pimpinan suatu gereja bisa terjadi saling memahami?