Bisnis sebagian besar menipu orang

Saya sudah lama mengamati dunia bisnis, jujur saja,kebanyakan menipu orang…
Dari menipu spesifikasi, mencampur barang dgn kualitas yang berbeda, menipu harga, menipu kualitas, menggunakan bahan berbahaya bagi kesehatan, dan banyak lagi menipu2 yang lain.
Sebenarnya mereka menipu juga dari customer, karena customer selalu menghendaki harga yang lebih murah, juga karena persaingan antar bisnis untuk memenangkan customer, sehingga mereka memanfaatkan celah dalam ketidak-tahuan customer, ke-kurang pengalaman customer, dll utk memenangkan bisnis.
Ada yang bilang, kalo bisnis menerapkan alkitab, tidak jalan. Benarkah?
Adakah batasan dalam berbisnis yang baik?
Bagaimana tanggapan teman2?

Tidak benar.:slight_smile:
Bisnis yang sesuai alkitab justru berkatnya dobel, di dunia dan berkat yang kekal.

Ada seorang pengusaha yang berpengalaman dalam hal ini dan sering memberikan seminar tentang bisnis alkitabiah. Saya lupa namanya, tapi pernah dengar kesaksiannya.
Salah satu poin yang menarik, ia memperlakukan karyawan bukan hanya sebagai pegawai, tapi juga sebagai domba yang ia gembalakan. Ketika ada karyawan yang ditimpa masalah, ia sebisa mungkin membantu dan mendoakan. Hasilnya, tidak ada karyawan yang menyelewengkan dana atau semacamnya. Semuanya bekerja dengan baik dan penuh hormat. Bahkan ada karyawan yang dimenangkan bagi Kristus.

Salam

Jarang banget yg bisnis model gtu,bro… salut d sama bisnis yg model gtu…

Bisnis yang baik adalah bisnis yang tidak menyalahi etika bisnis. Etika bisnis itu lahir dari hati nurani manusia, dimana nilai-nilai keadilan, kebenaran, kesetiaan dan kejujuran menjadi guide dalam berbisnis.

Banyak orang melanggar etika bisnis untuk menghalalkan segala cara menapatkan keuntungan lebih dan lebih lagi, bahkan mengorbankan segalanya. Itu tidak mengherankan sebab itu I Timotius 6:6-10 ditulis untuk kita.

Sebagai seorang beriman, saat kita menjadi pelaku Firman Tuhan, bukan saja pendengar saja, maka kita sudah hidup sesuai dengan etika bisnis, dan bahkan lebih dari itu, kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Kendala dihadapi dalam menerapkan Firman Tuhan dalam bisnis adalah seberapa berani kita berjalan diatas iman lebih dari akal pikiran kita. Bukan hanya dalam bisnis, tantangan hidup sesuai Firman Tuhan adalah iman, percaya akan Firman Allah lebih dari percaya akan perhitungan akal dan logika manusia. Saat kita melangkah, maka barulah kita melihat campur tangan manusia, sama seperti yang dikatakan Amsal 3:5-6.

Seorang pebisnis tentu akan tahu, jika sebuah rencana dijalankan setengah saja, tidak akan menghasilkan sesuatu, demikian juga sebuah sistem jika diterapkan sebagian saja tidak akan dapat memberi dampak kepada keseluruhan. Dalam menjalankan Firman Tuhan dalam pekerjaan, juga sama, jika kita mencoba dan begitu mendapat kendala, sudah mundur, bagaimana ketaatan itu menunjukan hasilnya? Demikian juga saat kita menerapkan hukum-hukum Allah dalam pekerjaan, hanya sebagian-sebagian saja sebagian lainnya masih penuh dengan dosa, juga mubazir, tidak akan berdampak. Sebab untuk mentaati Firman Tuhan kita dituntut untuk total, karena itu disebut dilahirkan kembali bukan cuci tangan dan kaki.

Jika anda melihat atau mendengar orang mengatakan kalau bisnis menerapkan Alkitab tidak bisa jalan, tentu itu lahir dari orang-orang yang ragu akan kebenaran Alkitab, sebab baginya Firman Tuhan sebatas agama dan hanya berupa petuah berbuat baik diantara orang-orang baik dan dalam komunitas orang-orang suci. Tetapi sesungguhnya, Firman Tuhan itu akan terjuji jika kita berada ditengah-tengah serigala, jika kita berdiri diatas gantang dan membangun iman diatas bukit, seperti kata Matius 5:13-16.

Ditempat saya, kebenaran Alkitab adalah dasar kami berbisnis dan Tuhan memberkati saya sejak mulai saya memasuki dunia kerja, menjadi manager diperusahan nasional diusai 24 tahun, membawa perusahaan masuk dalam level baru, dan sekarang bekerja sendiri, dengan dasar kebenaran Alkitab, dalam waktu 3 bulan usaha baru kita BEP dan sekarang sudah berlipat-lipat kali dari nilai awal. Penetrasi pasar tercepat di kota dimana menjadi pasar target, dan mejadi terbaik dari semua kompetitor. Sebab kebenaran Firman Tuhan diterapkan tidak tanggung-tanggung, dan satu lagi bukan hanya saya saja, banyak rekan-rekan juga mengalami hal yang sama saat FirmanNya juga diterapkan dalam bisnis, bukan saja dalam kehidupan peribadinya dan keluarga.

Tantangan selalu akan ada, sama seperti kita menjadi pelaku Firman Tuhan, bahkan kita dikucilkan saat kita menjadi anak-anak Allah, tetapi Ia akan tampil menjadi pembela kita dan akan menolong kita pada waktunya, dan bukan hanya itu saja, Ia membuat kita tampak bersinar, mengenapkan apa kata Maleakhi 3:18, “Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepada-Nya.”

Jangan jadi pengikut kristen yang tanggung… hidupkanlah Dia dalam diri anda dan jadikan Ia Tuhan dalam keseluruhan hidup anda.

Bisnis memang tidak lepas dari tipu menipu. Dalam usaha saya, kepercayaan pelanggan itu nomor satu, jangan mengecewakan pelanggan. Kalau memang kualitas barang jelek ya bilang jelek. Saya selalu bilang kepada pelanggan untuk membeli produk yang mahal, sehingga kualitas lebih terjamin.

Customer support juga harus baik. Banyak customer yang cuma tau bayar, ga tau apa yang mereka bayar, disinilah tugas kita menjelaskan, kita mengedukasi customer agar setidaknya tau kenapa mereka bayar segitu. Jadi tidak buta-buta amat lah. Saya tidak begitu mau repot dengan pelanggan yang maunya murah tetapi kualitas dan supportnya bagus.

Buat saya kualitas terbaik itu tidak murah. Sebagai pengusaha Kristen harus jujur, untung boleh sedikit yang penting tetap tidak mengganggu operasional saja.

Salam… :slight_smile:

mas yung…
kalo yg menipu cusotmer, downspec, prohibited materials, dll…
itu mah BUKAN BISNIS atuh mas…
itu mah memang MENIPU…

kalo yg namanya BISNIS… (Business: kata dasar busy)
adalah suatu kegiatan.
mungkin lebih tepatnya adalah Kegiatan Komersial kali ya yg dimaksud…

Nah Kegiatan komersial / kegiatan ekonomi itu… kata bbrp embah ekonomi…
adalah kegiatan untuk memberikan NILAI TAMBAH terhadap suatu produk atau jasa (added value)

jadi, mas… kegiatan downspec, ngemplang utang, tidak jujur, membahayakan konsumen…
itu jelas BUKAN ADDED VALUE, dan oleh karenanya BUKAN BISNIS alias BUKAN KEGIATAN EKONOMI…
tapi… ya itu dia: PENIPUAN…

gitu lho mas…

Kalo orang buka kios rombeng… jualan jus kotak…
dia kulakan 1 karton @Rp. 500,-
dan dia jual lagi 1 pcs @Rp. 600,- (dalam kondisi yang baik & enggak rusak lho…)
maka itu mah BUKAN PENIPUAN mas…
melainkan ada added value-nya…
yaitu saya bisa beli 1 biji doang… daripada harga 500 tapi harus beli 1 karton… padahal saya cuma mau minum sendiri…

Kalau calon pembeli merasa Tertipu dgn selisih keuntungan 100 perak itu…
ya silakan aja kalo punya duit & mau minum 1 biji tapi bersedia beli 1 karton…
beres kan?

Nah itu baru BISNIS mas…
hehe…

Kami bergerak di bidang besi, jual bahan baku berupa besi. Spek dan macamnya banyak.
Customer kami adalah bengkel las yang bikin terali, pintu besi, kanopi, dll
Persaingan cukup ketat, berlomba2 menjual barang dengan harga lebih murah dari yang lainnya, padahal down spek semua, bedanya antara yang satu dengan yg lain cuma kenekatan.
Mana yang lebih nekat, dia menjual barang lebih murah. Sialnya lagi, pelanggan ( bengkel ) adalah orang yg tdk terpelajar, selalu mencari barang yang murah, dan tidak tahu kualitas.
Di lingkungan kerja saya, kalau bisa memberikan hutang, walau kualitas barang agak jelek, namanya terkenal harum diantara customer2. Mungkin karena di anggap membantu perputaran uang customer.
Anehnya kita jual barang yg kualitas lebih bagus secara cash, namanya terkenal buruk di lingkungan customer.
Sebenarnya customer sendiri yang mengkondisikan keadaan ini ( Barang jelek/tdk sesuai spek tdk masalah ).
Memang yang di rugikan adalah customer sesungguhnya ( pemesan ), yang dalam ketidak-pengalamannya di tipu, tapi pemilik rumah bukanlah customer kami.
Serba susah di lingkungan bisnis seperti ini.
Dengan jujur, maka barang yang sepintas “sama” akan selisih jauuh dengan pesaing yang lain. Sementara customer kurang pintar mengenai kualitas.
Jujur = mahal

Menurut rekan2, apakah benar sebagian lingkungan bisnis tidak memungkinkan untuk jujur?

trkadang bisnis itu sadis…!tdk kenal agama ras saudara mana kawan,kalau udah urasan uang sikat aja
"dan ada unsur balas dendam dgn Tukar nilai jual barang, ini tjadi pada saya.!

klo saya sih…hrs beli barang agak mahal sdikit daripada murah,
kenapa tdk.? klo kwalitas barang bagus awet ,di bandingkan dgn kwalitas barang No 2,
internet jg bgitu,ingin ngirit tapi buat sakit hati,karena ngirit itulah smua kerjaan jadi kacau

terkadang consumen lebih memilih kwalitas no2 tdk bisa di salahin dari pihak penjual,
! knapa?
1murah,tdk terpkirkan oleh mereka jika mereka pasti akan kmbali ke 2 x karena cepat Aus dan Rusak
…karena mereka mmakai barang no 2,

'coba saja consumen lebih memilih beli 2 kali,barang no 2, dibandingkan no1 yg selisih hrganya sdikit

coba saja pergi ke dealer mobil atau motor…para montir psti menawarkan kwlitas 1 atau no 2…!
okelah itu yg keliatan…bahkan yg tdk bisa d cek oli :mad0261: mana yg asli ,mana oli yg gadungan ,labelnya sama
itu sulit di bandingkan

Alkitab menghendaki jujur, konsumen menghendaki yg murah dan tdk peduli kualitas, awam dlm spek barang, dan penjual pandai menangkap maunya konsumen… wkwkwk
Kita sbg penjual susah, mau ngikuti maunya alkitab atau mau ngikutin maunya konsumen?
Bagaimana dengan tmn sbg konsumen?
Adakah pedagang/pebisnis yg mau berdiskusi mengenai hal ini?

Contoh yang anda berikan itu adalah hubungan antara majikan dan kariawan,
Prinsip tsb. saya sangat setuju, sebab hubungan yang baik, tidak ada pemerasan manusia atas manusia, tentunya mereka akan ikut menjaga dan memelihara milik majikannya.
Sedang hubungan yang kurang baik, karena mereka merasa diperas, begitu ada kesempatan mencuri, maka kesempatan tidak akan disia-siakan.

Akan tetapi contoh itu, saya kira bukannya yang dimaksud oleh sdr. Yung Sen.
Yang dimaksud sdr. Yung Sen ialah hubungan antara penjual dan pembeli.
Didalam teori memang mudah kita berkata, segala sesuatu harus sesuai apa kata Alkitab.
Didalam prakteknya, tidak segampang itu di laksanakan.

Contoh.
Ada teman datang ke Vancouver, Canada.
Dengan uang yang dia punyai, hasil penjualan rumahnya di Indonesia, dia membeli tanah yang letaknya bagus sekali, tentu saja harganya cukup mahal.
Ketika dia mau membangun rumah tsb., tidak bisa mendapatkan izin membangun, sebab ternyata dibawah tanah ada greeknya, artinya ada aliran air yang ada ikannya.
Nah sekarang dia mau jual saja tanah itu.
Kalau dia jual, dan dia jujur, dia harus memberi tahu orang yang mau membeli.
Tidak ada satu orangpun yang mau membeli tentunya,
Jadi ketika dia jual, dia sama sekali tidak menceriterakan keadaan yang sebenarnya.

Kalau kita tidak mengalami sendiri, mungkin dengan mudah kita katakan: salah.
Kalau kita sendiri yang mengalami, mungkin tindakan itu akan kita lakukan, sebab tanah itu adalah milik kita satu-satunya.

Di kesaksian orang yang saya sebut tadi juga disebut tentang hubungan penjual dan pembeli, tapi saya tidak begitu ingat. Jadi memang tidak bisa saya tampilkan di sini.

Betul, memang tidak gampang. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Greek? Mungkin maksudnya creek? Apakah itu sama sekali tidak bisa dimanfaatkan?
Saya pikir tetap ada orang yang membutuhkan.

Ada kesaksian dari pengusaha tempe. Suatu kali, karena suatu hal, pemrosesan tempenya tidak selesai, sehingga tempenya belum jadi. Tapi ia tetap membutuhkan uang untuk menjalankan usahanya. Jadi ia tetap membawa tempenya (yang belum jadi) ke pasar.

Selama berjam-jam ia menunggu pembeli, ya memang tidak laku. Sampai suatu kali, ada seseorang yang menanyakan tempe yang belum jadi. Ternyata, orang itu memerlukan tempe yang belum jadi karena ingin dibawa pulang ke kampungnya yang jauh, tidak mungkin ia membawa tempe yang sudah jadi. Ia membeli semua tempe yang belum jadi itu.

Mungkin ini juga bisa diterapkan di tanah yang ada aliran air itu.

Salam

Memberi yang terbaik, terkadang tidak semua barang cocok untuk kebutuhan pasar. Di Indonesia pasar produk murah lebih besar dari pasar produk berkelas. Masing-masing memiliki pasarnya sendiri-sendiri, yang disebut segmentasi.

Terkadang dalam menjalankan bisnis kita mengabaikan ilmu bisnis, mengabaikan pelajaran yang sudah dipelajari baik di bangku kuliah ataupun buku-buku dan pelajaran bisnis lainnya. Karena ketidak tahuan kita maka sering kali kita menyalahkan TUHAN seakan semua itu tergantung nasip manusia, bukan kecakapannya.

Manusia diberi hikmat oleh TUHAN bukan untuk pajangan saja, tetapi agar manusia menjadi sama seperti TUHAN, mampu merencanakan, melaksanakan, memelihara dan menyelesaikan sampai akhir dengan sempurna. Anda hanya perlu belajar lebih banyak tenang pasar dan management pemasaran. Jika produk anda adalah produk berkelas, maka pasar anda jangan mengandalkan tukang las jalanan, anda harus masuk ke industri besar, bumn dan perusahaan yang memiliki standarisasi. Merekalah yang butuh kwalitas.

Soal term of payment, anda juga harus dapat fleksible, dan untuk itu memang membutuhkan modal lebih. Banyak cara untuk mengakali kebutuhan cash flow saat term of payment anda longgarkan, itu juga sebuah ilmu manangement keuangan. Tidak perlu menjadi magister untuk memahami hal itu, anda dapat mempelajari dari buku-buku yang dijual di toko buku, dari internet (materi berbobot biasanya berbahasa inggris) dan dari diskusi, dan menimba ilmu orang lain.

Jujur saja tidak cukup, jalan lurus saja tidak berfaedah, anda harus menambahkan ilmu dalam mengerjakan segala sesuatu. Menjadi orang beriman itu bukan artinya tutup mata TUHAN bertindak, tetapi menjadi orang yang tahu siapa diri kita sebenarnya, anak-anak Allah yang juga harus memancarkan terang Bapa dalam hidup kita. Allah memanggil kita bukan untuk menjadi orang pasrah, tetapi untuk menjadi anak Allah, dan seorang anak Allah bukan seorang yang pasrah dan menunggui nasip, tetapi seorang yang tahu bahwa ia punya kuasa didalam nama Anak Tunggal Allah.

Amsal 19:2, Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

Mau konsumen dan mau Alkitab, tidak harus dibenturkan. Memang ada beberapa kemauan konsumen tidak berkenan dihadapan Allah, seperti kemauan yang mendatangkan atau bahkan kemauan dosa, seperti melobi dengan wanita atau uang sogokan untuk membelokan kebenaran.

Tetapi kalau konsumen menghendaki barang yang tidak berkwalitas itu bukan dosa. Saat kita membeli sebuah jam tangan, ada bermacam-macam harga disana, mulai dari jam 100rb sampai 100juta. Masing-masing tentu dengan kwalitas dan spesifikasi yang berbeda. Jika pasaran jam 100rb yang mudah rusak, berkarat dan mati itu banyak peminatnya, itu bukan dosa, itu adalah pilihan konsumen. Menjadi dosa kalau anda menjual jam 100rb dengan harga 1 juta.

Mungkin keluhan anda saat mendapati orang yang menjual jam 100rb dengan obral janji kwalitas 1juta, walau tetap dijual 100rb. Sebagian orang tampak itu seperti sebuah dusta, ya itu memang dusta. Namun sebaliknya bukan berarti saat kita menjual jam 100rb kita menegaskan kepada mereka ini jelek dan mudah rusak lho… itu adalah sikap yang kurang bijak dalam menjual. Matius 10:16, mengingatkan kita, jika kita tulus dan jujur, jangan kita menjadi bodoh, sebab jujur dan tulus itu bukan artinya bodoh. Kita harus cerdik dalam bertindak dan berkata-kata. Amsal 13:6, menyebutkan bahwa untuk cerdik dibutuhkan pengetahuan, bukan pandai bicara atau bakat.

Seseorang dapat menjual barang murahan dengan laris manis dan konsumen puas walau kemudian harus rusak dalam waktu yang relatif cepat. Juga tanpa menipu dan berbuat dosa. Itu adalah seni dalam menjual, karena itu marketing itu disebut seni oleh para pakar penjualan. Demikian sebaliknya ada seorang yang dapat menjual barang mahal dan berkwalitas dengan laris manis, sebab ia menjual pada konsumen yang tepat dan dengan cara yang tepat.

Jangan salahkan Alkitab, jangan salahkan TUHAN, cobalah anda memperbanyak pengetahuan dan mulailah melihat apa yang harus anda lakukan sebagai seorang beriman. Ingat kita bukan dituntut untuk taat Alkitab, kita diminta HANYA untuk mencintai Allah dan sesama. Walau akhirnya cinta itu melahirkan ketaatan akan Firman Tuhan, tetapi mulainya dari CINTA bukan TAAT. Jika hidup sesuai kehendak Allah itu menjadi beban bagi anda, mungkin anda sedang berusaha taat, bukan sedang berusaha mencintai TUHAN.

Jika kita dapat menawar-nawar hidup dalam kebenaran, memilah-milah mana yang mudah dan mana yang tidak bisa, kita sejatinya tidak butuh TUHAN, kita hanya rohaniwan yang hidup dalam komunitas orang-orang baik (sekali-kali jahat okelah asal total masih baik).

Jika ingin melihat pekerjaan Allah, maka kita harus berani juga percaya bulat kepadaNya.

Bicara memang gampang, tetapi menjalaninya itu seperti sebuah latihan iman, seperti saat Allah sedang melatih tangan Daud menarik busur, mengangkat pedang (Mz 18:35) dan itu adalah kehendak Allah, untuk tetap berpihak kepada Allah bukan berpihak kepada keuntungan. Daud bukan tahu-tahu hebat mengalahkan Golitat prajurit raksaksa 3 meter.

1 Samuel 17:34-36,
Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, 17:35 maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. 17:36 Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

Ada kalanya Allah menguji kita, kita harus tahu itu. Silahkan dibaca Hak 3:1-2, jangan kita malah lari saat melihat singa dan beruang, belum Goliat.

Dari diskusi2 di atas, kalau kualitas berbanding dengan hargai , berati tidak menipu ya…
Konsumen yang memilih sesuai dengan keuangannya.
Saya mulai melihat batasannya, bro…

Kalau mencampur bahan dengan tujuan menjual dengan harga lebih murah, apakah itu dosa?
Misal pedagang beras di salah satu toko menjual beras merek A sekilo 15rb.
Untuk memenangkan persaingan, pedagang lain mencampur beras A dengan beras lain yg kualitasnya lebih rendah, katakanlah beras B, dan beras campuran itu di hargai 14rb sekilo.

Ada pilihan yang berujung maut. Kalau begitu, gmn? Siapa yang berdosa?
Contoh: developer perumahan.
Untuk menekan harga jual, developer menggunakan semen yang campurannya “encer”, menggunakan besi yang agak kecil untuk pondasi, dan kabel listrik yang murah.
Semuanya dapat menyebabkan malapetaka. Semen “encer” dan besi yang ukurannya kecil dapat menyebabkan rumah kurang kuat, kena gempa bisa roboh.
Kabel listrik murahan dapat menyebabkan kebakaran.
Hampir semua developer perumahan bermain di bahan bangunan utk mendapatkan keuntungan tambahan.
Saya percaya, konsumen dalam membeli rumah pasti lihat model dan penataan rumah saja, selebihnya tidak tahu semen yang seperti apa campurannya, besi pondasi yang seberapa besar yg di gunakan.
Kalau suatu saat ada gempa sedang atau kebakaran, dan menimbulkan korban jiwa, siapa yang harus di salahkan? Konsumen, karena pilihannya?

:afro: :afro:
Bisnis yakub , menipu esau
berhasil mendapatkan berkat yang berlipat dari berkat esau
begitulah kalu mau mencontoh Alkitab Perjanjian lamaL

Tuhan yesus memberkati

Han

Yakub menipu Ishak dan Esau, bukan berbisnis dengan Esau. Kalau bicara bisnis, lebih relevan membahas Yakub ketika bekerja dengan Laban.

Salam

beras campuran itu ditulis “beras campuran” )>> gak boong la yau
beras campuran itu ditulis “beras bermerek A” )>> boong la yau

Ada pilihan yang berujung maut. Kalau begitu, gmn? Siapa yang berdosa? Contoh: developer perumahan. Untuk menekan harga jual, developer menggunakan semen yang campurannya "encer", menggunakan besi yang agak kecil untuk pondasi, dan kabel listrik yang murah. Semuanya dapat menyebabkan malapetaka. Semen "encer" dan besi yang ukurannya kecil dapat menyebabkan rumah kurang kuat, kena gempa bisa roboh. Kabel listrik murahan dapat menyebabkan kebakaran. Hampir semua developer perumahan bermain di bahan bangunan utk mendapatkan keuntungan tambahan. Saya percaya, konsumen dalam membeli rumah pasti lihat model dan penataan rumah saja, selebihnya tidak tahu semen yang seperti apa campurannya, besi pondasi yang seberapa besar yg di gunakan. Kalau suatu saat ada gempa sedang atau kebakaran, dan menimbulkan korban jiwa, siapa yang harus di salahkan? Konsumen, karena pilihannya?
semboyan bisnis itu: 'ketahuilah apa yang orang lain butuhkan dan inginkan... maka kk akan menjadi orang yg selalu dibutuhkan dan dicari serta tak kekurangan uang' plus 'jujur di dalam Tuhan Yesus Allah'

Masalah bisnis adalah masalah duniawi.
Masalah kejujuran adalah masalah rohani, masalah kebenaran Allah.

Saya kira masalah bisnis sulit dicampur dengan masalah kebenaran Allah.
Sulitnya, kita sebagai orang kristen yang berbisnis, harus bisa mengkombinasikan kedua hal yang berbeda ini.
Hal ini tergantung sampai berapa jauh iman orang yang berbisnis itu berada !

Demikian juga sebaliknya, masalah kebenaran Allah sering dicampur dengan masalah bisnis.
Banyak terjadi, pengakhirannya denom tsb. hanya seumur satu generasi, akhirnya pecah atau tutup, sebab pusat perhatiannya bukan kepada Tuhan Yesus lagi, akan tetapi kemasalah uang.

Lho ??
waktu oom kegereja Kristen non katholik , dalam kothbah nya si pendeta bilang ;
bahwa esau telah menjual Hak kesulungan dengan Semangkuk kacang merah.
pada waktu itu belum ada mata uang , mungkin dengan barter semacam itu.
dan juga kalau mau di implementasikan ke zaman sekarang Hak kesulungan mungkin berupa
Hak kekayaan intelektual (barang fiktif)

sedangkan sewaktu yakub di rumah laban , mungkin bukan bisnis tapi system pengupahan antara karyawan dengan bossnya.

Tuhan yesus memberkati

han