Bohong

Apakah ada berbohong demi kebaikan?? :slight_smile:

berbohong ya tetap bohong
kalau mau demi kebaikan … dr pada berbohong lebih baik diam (alias tutup mulut) :smiley:

Meminjam pepatah, “anda tidak bisa membasuh sesuatu dengan air kotor”

setuju dengan sis alice, :afro: :afro:

ketika ada seseorang datang ke rumah saya mau membunuh Ayah saya, ketika itu saya berkata bahwa Ayah saya tidak ada di rumah. dengan maksud melindungi Ayah saya. gimana itu??

Meneruskan pepatah, “anda tidak bisa membasuh sesuatu dengan air kotor, namun jika itu satu satunya air yang ada, lakukanlah”

mohon bisa diperjelas?? saya tidak mengerti artinya… :slight_smile:

BeginiBro, ini menurut saya ya, jika tidak cocok ya tidak apa apa,

idealnya, untuk melakukan kebaikan, kita harus melakukannya dengan cara yang baik, DO THE RIGHT, DO IT RIGHT

namun, kita hidup di dunia yang kompleks, jika ada situasi dimana kebohongan dapat menyelematkan suatu kota dari bom nuklir, saya rasa tidak masalah.

Dosa bukan ketika kita melakukan (atau tidak melakukan) a atau b

Mungkin, dibandingkan dengan berdiskusi kata bohong, lebih luas jika kita bicara kata kejujuran. Tetapi, bolehlah, kita mulai dengan bohong.

Berbohong, karena sudah begitu umumnya dilakukan, bahkan oleh hampir seluruh manusia yang pernah hidup, perlahan lahan turun peringkat dosanya, menjadi dosa yang keciiiiil banget. Padahal, bohong adalah perilaku tidak jujur, tidak jujur adalah curang, dan itu jelas dosa.

Pada kondisi tertentu, dimana keadaan membuat anda harus mengatakan kebenaran dengan akibat yang merugikan, atau berbohong dengan hasil kebaikan. Maka, mengapa tidak menggunakan alternatif ke tiga, yakni DIAM, tidak perlu menjawab?

Mungkin ada yang tidak sependapat, nah itu mari kita diskusikan.

Syalom

tidak disebutkan apakah ayah anda ada dirumah atau tidak, dan tidak disebutkan pula bahwa anda mengetahui keberadaan ayah anda.
kalau memang demikian, yaahhh anda sudah tau jawabanya, selamat!!!, anda tidak berbohong!!! :smiley:

Hmmmm, masalahnya bohong tidak sesederhana itu,

Ini pengalaman saya sewaktu kuliah,

Posisi saat itu di Bandung, dan seorang teman meminta saya menemaninya di suatu acara pada malam hari
Pada saat yang sama, datang kabar dari kampung saya (nun jauh di Jawa) bahwa mama teman saya meninggal,

Perhatikan,

Saya katakan pada teman saya, dialog SMS

Teman: Malam ini ada acara dengan teman2, kita sebaiknya datang
Saya: Mama teman saya meinggal
Teman: Baiklah jika demikian

Well, saya tidak berbohong, saya hanya merangkai fakta demi fakta, dan menjalinnya sebagai sebuah kebohongan yang benar

bro sword, saya kurang begitu paham dengan yg saya bold diatas,

karena setau saya kebohohangan didasari oleh paling gak salah satu dari:

  • false statement
  • intention of deceiving

menurut saya in hanya masalah komunikasi, atau ada maksud lain?

walah aku kurang jelas tadi ngetiknya, inti yang saya maksudkan adalah apakah kita boleh berbohong untuk menyelamatkan orang lain??

bohong dengan alasan apapun adalah tetap salah…

namun, kita jg seharusnya menggunakan kreativitas (in positive way) dalam menghadapi kasus2 tertentu, tanpa harus berbohong.

kan kita sudah diberi bekal “…sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati…”
ya atur2lah gimana supaya tidak bohong tapi selamat… hayooo… ^^

Bro @Ibmagi yg dimaksud cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dlm Matius 10:16,itu ditujukan pada kita2 dlm pelayanan,domba yg di utus ketengah-tengah serigala
Cerdik = orang yg yakin percaya bahwa Tuhan akan menolong
Tulus = orang yg selalu tulus hatinya sabar menanti pertolongan Tuhan dtg
Coba saudara membaca baik2 ayat itu sampai habis
Saya rasa gak ada hubungannya dng diskusi di atas
Salam,

Hmm, benar Bro Calvin,

begini

saya mengatakan pada teman saya “mama teman saya meninggal”

Tidak bohong bukan?

hanya, saya tidak menyebutkan bahwa “mama teman saya yang ada di Jawa”,

sehingga pernyataan saya “disalahartikan” oleh teman saya bahwa “saya harus mengunjungi teman saya yang mamanya meninggal”

dan, skenario itu telah saya atur,

pernyataan2 saya (sekalipun itu fakta) memang saya buat agar “disalahartikan”

Bagaimana menurut anda Bro?

@sword

dan, skenario itu telah saya atur,

pernyataan2 saya (sekalipun itu fakta) memang saya buat agar “disalahartikan”

Bagaimana menurut anda Bro?

Dalam hal ada unsur niat dan kesengajaan, maka sudah bisa dimasukan dalam pasal kebohongan, bro, ha ha ha.
Betul anda tidak mengatakan kebohongan, betul yang menyimpulkan adalah teman anda, tetapi yang mengkondisikan ‘terjadinya salah tafsir’ adalah anda.

;D

Yaaah, mirip mirip yang sering saya (kita?) lakukan juga di FK ini, mengatur kata kata, agar yang ‘termakan’ oleh kata kata itu, mencaplok nya mentah mentah dan tersedak sendiri, he he he he.

Dosakah? Entah ya, he he he

Haha, Bro Bruce, kalo di FK ini saya belum pernah melakukannya dengan sengaja…semoga tidak ya bro.

saya setuju dengan bro, dengan memainkan bagaimana cara kita menyampaikan fakta, suatu kebohongan dapat ditumpuk dari kumpulan fakta fakta

@sword

He he he, dalam rangka debat, sah-sah saja koq bro, mirip kalau kita bermain dalam ranah hukum. Mengajukan suatu kalimat bermakna ganda, itu diantaranya. Sedikit memancing emosi lawan agar lengah, juga merupakan strategi.

Makanya, saya cenderung bicara soal kejujuran, dibanding sekedar bohong, yang bisa diartikan macam macam.

;D