budaya, adat vs iman, mana ?

bagaimana seharusnya sikap orang kristen terhadap budaya (ritus 2) dalam masyarakat ?

di berbagai daerah memiliki budaya (adat, ritus2) yg bermacam2. namun demikian apakah budaya tersebut sesuai dengan iman kristen. dan kadang seorang kristen harus berhadapan dg budaya tersebut dan harus mengambil sikap. maka terbuka kemungkinan untuk terjadi sinkretisme, atau juga sikap yg dapat dikategorikan sebagai sikap munafik (supaya tdk dijadikan pembicaraan maka dilakukan tapi tdk mengimani).

saya ambil contoh :

  1. ketika orang tua meninggal, maka di beberapa daerah, anggota keluarga berjalan di bawah peti jenasah, memakai air bekas memandikan jenasah untuk mencuci muka. atau juga dalam waktu tertentu anggota keluarga melakukan sembahyang di depan foto / kubur yg meninggal.

  2. berkunjung ke tempat2 ziarah (orang terkenal, dianggap sakti, dll) dan melakukan doa, mohon berkat kepada Allah.

dan masih banyak contoh yg lain, mulai dari lahir, menikah, mati, etc.

Bro anda mau sungguh sungguh mengikuti Tuhan atau setengah tengah??

jadi bro natvan, akan menolak semua adat yg ada dlm masyarakat agar menunjukkan bahwa bro mengikut Tuhan yg 100 % ?

Silakan kalau anda mau kompromi dengan adat manusia, bagi saya kalau menduakan Tuhan besar resikonya, karena Allah kita adalah Allah yang pen cemburu!

Salam.

dimana letaknya menduakan Tuhan dalam adat (setidaknya 2 yg saya sebut di atas) ?
jika bentuk penghormatan kepada orang tua / leluhur adl demikian apa itu dikategorikan sebagai menduakan Tuhan ?

jika berkunjung ke tempat ziarah (sebut saja para orang yg dianggap suci) dan berdoa kepada Tuhan, apakah ini menduakan Tuhan ?

Topik yang berat… :slight_smile:

Tapi di Al-Kitab udah banyak koq contoh2 mengenai hal2 begini… Cerita Petrus dan Paulus terkait orang Yahudi dan Non-Yahudi paling bagus di jadiin referensi…

Dari sisi TUHAN: yang tau hati lu, cuma lu dan TUHAN.

Dari sisi manusianya: yang penting lu pikirin pendapat orang2 yang se-iman dengan lu… dan mereka2 yang mengerti tujuan dan maksud dari adat tersebut… jadi lu bukan buta dan disesatkan/diombang-ambingkan karena mengikuti apa yang diomong2in orang (bahkan kata2 pendeta).

Gue sendiri sebagai orang Batak mengalami hal yang sama misalnya terkait ulos dan darah (saksang: masakan batak)…

Tapi bagi gue pribadi ketika iman dan komitmen lu pada Kristus udah 100%, it’s really between you and CHRIST… mau gue makan babi dengan darahnya atau tidak, mau gue pakai ulos apa tidak… sepanjang itu tidak mendatangkan pencobaan bagi orang lain… pasti gue lakukan…

Tetapi kalau gue tahu ada orang yang akan keberatan, daripada iman dia kepada Yesus terganggu (walaupun itu sebenarnya urusan antara dia dengan Kristus), yah gue kaga bakal makan darah atau pakai ulos.

Seperti contoh: orang muslim bilang nama TUHAN mereka ALLAH, yah udah gue secara pribadi karena menghormati mereka dan supaya tidak menimbulkan kebingungan & perdebatan baik di kalangan Kristen maupun muslim, gue pakai TUHAN… walau secara teologi mungkin pemahaman kita tentang istilah “allah” itu yang benar.

Nabi di perjanjian lama aja ada yang disuruh TUHAN makan tai kering koq, detailnya lu cari sendiri yah… bandingin dengan kata-kata YESUS tentang apa yang menajiskan seseorang dan apa yang menguduskan seseorang .

I only share experiences yah, not teaching you what is right and what is wrong :slight_smile:

bray TS, maap intermezzo dikit…anda kristen?kok pasang PPnya itu ya?hehe

BTT,

well, mnrt saya kl kita masih dibawah naungan org tua yg belum percaya yang masih memegang adat kepercayaan…maka kita bicara baik2 dahulu ke ortu kita dan kl diizinkan tidak mengikuti aturan tersebut yah lolos deh tp kl harus yah mintalah perlindungan dan mohon ampun ke Tuhan…dan kita pun itu harus tulus seperti merpati tp jg cerdik seperti ular…kita pegang prinsip tp kita jangan jadi batu sandungan bagi yg belum percaya yaitu mgkn keluarga kita, sahabat kita, dll…

tetapi ketika kita sudah menjadi kepala keluarga, kita lbh bisa tegas dan menolak itu…

@ en boey

emang adat ttg ulos bgm ? letak perbedaan dg iman kristen bagian mana?

hai fren… saya kristen. saya senang aja dg PP nya. bgs kan. santo yg yin dan yang. :ashamed0004:

nah itu dia… apakah sikap seperti itu bukan munafik ?

kan ulos itu pada dasarnya/waktu jaman orang Batak belum jadi Kristen ditujukan untuk menghormati roh2/arwah nenek moyang… jadi kaya bagian dari upacara penyembahan begitu.

Tapi buat sebagian besar dari kami, sekarang itu hanya sebagian tradisi, agar orang batak tidak kehilangan identitas-nya… tapi ada juga ajaran yang keberatan karena ya itu: “bagian dari proses menyembah roh2/arwah2” berarti sangat tidak Kristen… Jadi emang perbedaan sudut pandang lagi.

Ada yang anggap itu cuma kain biasa… ada yang heboh karena bilang menyembah roh2… kalo gue pribadi kaga pernah tuh kemasukan roh2 nenek moyang dan roh kudus kaga pernah ngomel2 nge-larang gue makai ulos juga sih… jadi kembali ke masing-masing :slight_smile:

mnrt gw sih nda munafik…yah kita pun pilah2(ketika kita masih dbawah pengasuhan ortu) mana yg bisa tegas, mana yg masih bisa kita ikuti…
utk cth yg anda berikan cth pertama, tidak harus kita ikuti bukan krn pertimbangan rohani tp karena aspek kesehatan kulit yah krn maap kata org meninggal pasti ada kuman2nya…

mgkn utk sembayang di depan foto kakek yg sudah meninggal, kita bisa lakukan tp yg kita lakukan itu dengan dasar kita tidak mau jadi batu sandungan bagi ortu n keluarga dan doanya pun tidak ke org yg sudah meninggal…doa ke Tuhan dan berkati keluarganya spy bertobat…hehe
dll dah

ouw… br tau ini kl ulos bukan hanya kain. tapi berkaitan dg roh leluhur. :ashamed0002: menarik.
dimana letak penyembahannya ? proses pembuatan ulos atau bgm ?

Secara detailnya gue pernah baca, tapi gue kaga ingat2… soalnya yang bikin bukunya itu yaitu kelompok yang nganggap ulos itu tidak Kristiani… jadi gue cuma sekedar tau dikit2, moga2an ada TS yang bisa share lebih detil & lebih baik.

Jadi seingat gue aja yah… ulos itu kan dulunya melambangkan ada 3 unsur penting dalam alam, kaya budaya Tionghoa kaya ada unsur langit, bumi, air… nah di dalam kehidupan bermasyarakat ada orang2 yang dianggap mewakili 3 unsur itu… yang gue ingat cuma Tulang (kaya paman gue begitu), yang dua lagi gue lupa hehehehe… jadi gue itu menunjukkan rasa hormat gue ke paman gue dengan acara serah/terima ulos itu…

Nah ada orang2 Kristen yang menganggap ketika serah2an ulos, hal itu melebih dari rasa hormat gue kepada paman gue… seakan2 gue juga menghormati roh/unsur yang diwakili oleh paman gue… kaya begitulah singkatnya… jadi seakan2 dibalik acara adat itu ada tuhan selain TUHAN yang bekerja, ada roh selain Roh Kudus. :slight_smile:

aduh jadi kyk agama seberang dikit-dikit haram :ashamed0004:

Saya coba ambil contoh dari adat Tionghwa yang memakai dupa sebagai tanda penghormatan kepada leluhur, di mana hal ini sendiri tidak bertentangan dengan ajaran Katolik.

Sebab Gereja memang mengajarkan agar perbuatan kasih tidak hanya terbatas pada sesama yang masih hidup di dunia ini, tapi juga kepada mereka yang sudah mendahului kita berdalih dari dunia ini.

1Kor 13:8 Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Summi Pontificatus
46. Untuk beberapa abad yang lalu sampai sekarang, para misionaris telah secara positif dan hati- hati mempelajari sisitem budaya dari setiap ras bangsa. Mereka telah memperoleh pemahaman yang mendalam tentang hal ini, dan telah memeriksa ciri- ciri dan hal yang baik dari setiap ras sehingga Injil Kristus dapat menghasilkan buah yang limpah di setiap tempat. Sepanjang hal- hal tersebut tidak mengandung ajaran sesat atau jahat, Gereja selalu mempelajari kebiasaan setiap ras dengan kehendak yang baik, dan jika mungkin, mendukung dan mempertahankannya.

Sacrosanctum Concilium, 37
Apa saja dalam adat kebiasaan para bangsa, yang tidak secara mutlak terikat pada takhayul atau ajaran sesat, oleh Gereja dipertimbangkan dengan murah hati, dan bila mungkin dipeliharanya dengan hakikat semangat liturgi yang sejati dan asli.

Penghormatan arwah orang tua sesungguhnya merupakan salah satu bentuk pelaksanaan perintah Tuhan yang ke-empat dalam kesepuluh perintah Allah, yaitu: “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel 20:12).

Namun, kembali lagi dihimbau agar pelaksaannya janganlah sampai menjadi batu sandungan atau menimbulkan persepsi yang salah, cth: berdoa menggunakan hio ke arah kubur/ plakat nama leluhur.

#duh jadi pelajaran buat saya juga nih :ashamed0004:

Tujuan manusia membuat LILIN adalah untuk jadi alat penerang. Bahwa kegunaan LILIN sekarang lebih banyak digunakan di perayaan Ulang Tahun daripada sebagai alat penerang… gak berarti bahwa LILIN pada mulanya diciptakan demi perayaan ULTAH seseorang.

Demikian halnya dengan ULOS, GONDANG, etc.

Fungsi ulos adalah sebagaimana fungsi KAIN. (utk Syal, selendang, sarung, selimut, pakaian, etc). Karena ULOS dirasa indah, cocok, khas dan bagus… akhirnya digunakan juga untuk perayaan2 adat (sebagai wujud penghargaan/menghargai Ada tsb].

Dan juga, sesembahan orang BATAK sebelum KRISTEN dan ISLAM datang adalah: OMPU MULA JADI NA BOLON. yang tak lain dan tak bukan adalah: SANG MAHA PENCIPTA; AWAL SEGALA JADI.==> Orang ISLAM menyebutnya: Alloh Sang Maha Pencipta; orang Kristen menyebutnya: Bapa, Putera, dan Roh Kudus Sang Maha Pencipta; Orang Yahudi gak tahu cara menyebutnya, :slight_smile: alias YHWH Sang Maha Pencipta; Sedangkan Orang Batak menyebutnya Ompung Sang Maha Pencipta.

===

Horas.

Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong" [= Ijuk pengikat pelepah (pada batangnya); Ulos pengikat Kasih (pada sesama)]

cukup menarik ttg papapran dlm Sacrosanctum Concilium, 37 bahwa kl tdk berkaitan dg takhayul maka perlu dipertimbangkan.
apa batasannya bahwa sesuatu itu takhayul ? sebab dalam banyak adat hampir selalu berkaitan dg takhayul

@sahaba
Saya kira anda sebagai kristen harus berani jujur terhadap diri sendiri dan Tuhanmu. Ketika kamu katakan adat, kemudia, kamu sembahyang didepan makam ortu, siapa yang kamu sembahyangi? Kalau budaya tionghoa jelass leluhur yang disembahyangi, dan minta rejki dll keleluhur, kalau seperti kurang jelas dalam menduakan Tuhan, lalu apa namanya?
Kemakam orang sakti, artis atau yang lain, untuk berziarah, logika aja lah, mereka kerabat bukan, tokoh agama juga bukan, terus kita kesitu ngapain?? Coba kita lihat sistem ziarah jawa, bro, didalam budaya jawa, meskipun secara eksplisit ngomongnya berdoa kepada allah mereka, fakta sebenarnya mereka itu sedang mendewakan makam itu, atau minimal menjadikan makam itu perantara, lalu anda katakan ini sebagai budaya yang ok dilakukan??? Wow…

Menghormati orangtua, pertama saya mau katakan, "“kalau kamu mau menghormati ortu, hormati -SAAT HIDUP-!!! Bukan kalau sudah mati. Kalau sudah mati itu “bukan menghormati”!! Itu hanya egoisme manusia yang mau menunjukan kepada manusia lain. Kalau orang tionghoa, makamnya dibuat “sebesar dan semewah mungkin”, kalau orang jawa, selamatannya dibuat semewah mungkin,… Dst… Percuma menghormati orang sudah mati!!! Mending kalau mereka masih hidup, buat hidup orangtua kamu senang, jangan mikir kesenangan sendiri saja!! Itu jauh lebih penting dari pada lima kali sehari kita, “jenkang jengking” nyembahin abu”… Bener apa bener?? Berani jujur gak kamu??

Kedua, apakah menghormati ortu harus selalu sujud menyembah?? Kamu sujud menyembah mereka, tiap kali bertemu mereka, tetapi dibelakang mereka kamu gak mau dengar mereka dan memperolok mereka, apa gunanya??? Banyak dari hal hal budaya itu sia sia belaka… Cuman sekedar meningkatkan “kemunafikan” manusia…

@ jonathan love

terimaksih untuk masukannya.
yg bro yenyang ziarah ke makam ataukah berdoa kepada Tuhan di depan leluhur ?
kl ziarahnya ke orang suci kristen bgm?

dan bila kita mau membedah satu persatu maka banyak sekali adat di tengah kita (bukan hanya ttg kematian, tapi juga kelahiran, pernikahan). kl menurut bro.ritual siraman dlm pernikahan bgm ?

intermezo :

apakah menghormati ortu harus selalu sujud menyembah?? Kamu sujud menyembah mereka, tiap kali bertemu mereka, tetapi dibelakang mereka kamu gak mau dengar mereka dan memperolok mereka, apa gunanya????? Banyak dari hal hal budaya itu sia sia belaka..... Cuman sekedar meningkatkan "kemunafikan" manusia....
kl yg ini ngeri juga bro. ketemu ama yg udah meninggal. :D

@sahaba
Ziarah ke makam kristen hanya sekedar mengenang mereka. Misalkan anda kemakam yusuf yang ada diisrael, akan percuma kalau anda tidak mengerti siapa yusuf, kemudian sekedar ikut atau bahkan mengharap mujizat atau yang lain ditempat itu, maka sama saja dengan menduakan elohim dengan yusuf. Sama.
Tapi kalau kita mengerti siapa yusuf, kemudian kesana untuk sekedar membuktikan kebenaran adanya tokoh ini dan mensyukuri bahwa kita menyembah Allah yang benardengan melihat bukti sejarah, maka menurut saya its ok. Malah bagus karena kita bisa memberikan bukti nyata kepada mereka yang meragukan Tuhan dengan menggunakan alasan logika. Kita bisa mempertanggungjawabkan iman secara logika. Itu bagus.
Selama adat siraman itu dilakukan alkitabiah, dan sebagai ucapan syukur kepada hanya Elohim saja maka itu gak ada masalah. Yang jadi masalah adalah, biasanya dalam prosesi ini diisi dengan doa diluar kristen dan berfikir bahwa prosesi ini memberika sesuatu, seperti perlindungan misalnya. Ini yang gak benar. Prosesi ini masih bisa diarahkan untuk kemuliaan nama Tuhan. Saya yakin bisa. Asalkan gak perlu lagi kembang tujuh warna misalnya, diganti dengan doa HT dan minyak urapan misalnya, itu tetap saja bisa. Dan gak masalah, jadi berkatnya dari Tuhan. Dan Tuhan tidak melarang itu sama sekali kok. Sama saja orang membuat acara wayang kulit misalnya, gpp wayang kulitnya, tapi doa dan mantra itu gak boleh ada. Film gpp, tari lain juga gpp, tapi prosesi dan pola pikirnya diarahkan kemana. Ini sangat penting. Karena pola pikir menentukan kepada siapa kita mengarahkan hati kita.

Shalom.

@ jonatan love

adat nampaknya tdk sesederhana itu bro.