budaya, adat vs iman, mana ?

gw setuju klo adat itu harus dipilah2 , dipilih maksudnya , klo yg tidak baik harus berani untuk tidak ikut klo perlu dirubah , toh itu kan hanya peraturan manusia.

gw juga orang batak , baru tahun lalu ada adat membuat patung opung gw yg memakan biaya banyak, yg gw keberatan dari adat itu mengelurkan biaya untuk suatu yg sia2 (ini menurut gw) lebih baik biaya2 itu untuk di sumbang dari pada mengikuti adat istiadat yg lebih menjurus ke gengsi/status , nah adat2 seperti ini yg harusnya tidak diikuti oleh orang2 Kristen.

bro ini bukan ttg boros atau apa.
tp bila menyangkut iman maka apakah benar atau salah, sesuai atu tdk dg iman kristen.
contoh yg bro sebut, maka menurut iman kristen membuat patung opung itu menyalahi iman kristen atu tdk. karena itu sebelum menilai maka perlu diketahui dl mengapa adat itu ada, maksudnya apa dst.
emangnya membuat patung opung utk apa ? mengapa tradisi (budaya/adat) ini bs muncul ?

klo gw sih melihatnya dari sisi melakukan hal yg sia2 bro , bahkan klo menurut gw ini udh ga sejalan dgn iman kristen karena membuang uang untuk suatu acara pemakaman yg sia2 padahal uang itu bisa untuk menolong orang lain apalagi di balik semua itu menyangkut gengsi2an .

Adat itu ada karena apa ?menurut gw untuk menjalin persaudaraan antara keluarga , tp yg membuat/merumuskan adat itu manusia2 biasa , adat itu ga ada yg bertahan bro seiring dgn kemajuan jaman pasti berubah , jadi menurut gw adat itu bagus tp harus dipilah2 dan tidak perlu takut untuk tidak ikut adat klo merasa itu ga sesuai dgn iman kristen.

@ crux

emangnya membuat patung opung utk apa ? mengapa tradisi (budaya/adat) ini bs muncul ?
adakah bertentangan dg iman kristen sehingga harus ditolak?
contoh: ulos dibuat ternyata utk menghormati para leluhur, yg di dalamnya mengandung bebrapa unsur. lihat reply #12

@sahaba
Memang adat tidak semudah itu bro dalam memilahnya karena adat jawa misalnya, dibentuk dari pengaruh besar dua agama diluar kekristenan, misalnya hindu dan budha, dimana perkembangan selanjutnya islam yang juga berasimilasi dengan budaya setempat. Nah dari sini memang butuh keberanian untuk menyatakan “tidak” bagi apa apa yang merupakan pengaruh diluar kekristenan. Itu bukan hal mudah tetapi harus dilakukan. Dan harus diakui bahwa tidak banyak yang “berani” melakukan ini. Mereka yang berani melakukan ini kemudian akan mendapat cap seperti “tidak menghormati orangtua”, mengabaikan orangtua, fanatik, dst… Tetapi beranikah kita melakukan itu untuk nama Yesus?? Pertanyaannya kan itu to?
Apakah semua harus frontal dalam artian menghancurkan tradisi? Tidak juga. Misal ziarah kekuburan orang tua, menurut tradisi harus sembahyang ini itu, bawa dupa dan kemenyan dan wewangian sebagai sesajen. Sekarang gak perlu bawa seperti itu, cukup kemakam hanya untuk membersihkan makam, dan kalaupun mau berdoa, maka doakan dia bukan meminta yang didalam kubur mendoakan kita. Secara tradisi israelpun memberikan penghormatan seperti itu pada orang yang sudah meninggal. Dan itu boleh. Beberapa denominasi menyatakan, doa untuk orang mati itu sia sia, karena sudah gak ada pertobatan. Tetapi harus diingat bahwa doa orang percaya didengar Tuhan dan “apapun” yang dia doakan akan Tuhan berikan asalkan sesuai kehendak Dia. Nah dari situ, kita dapat pula melihat bahwa kalau memang ada yang mendoakan secara tulus dan orang itu berkenan dihadapan Tuhan, maka bukan tidak mungkin seseorang yang sudah meninggal itu “diampuni dan dibenarkan” Tuhan. Pertobatannya sendiri sudah gak mungkin, tetapi keluluhan hati Tuhan karena doa orang yang berkenan kepada Tuhan itu masih mungkin. Sedangkan keputusan mati saja yang sudah Tuhan turunkan juga masih bisa dirubah bukan? Dan bukankah Tuhan menyatakan, “apa yang kamu ikat didunia akan terikat disorga”?? Nah hal hal seperti ini saya kira juga perlu mendapat perhatian.

yah pasti lah untuk menghormati nenek moyang .
pertantangan menurut gw ada, Yesus akan memilih kita menyumbangkan uang2 itu ke fakir miskin dari pada membangun patung , dan mengadakan pesta untuk patung tsb.