Budaya memberi kepada fakir miskin, tidak ALKITABIAH?

Dari Kompasiana, kategori Humaniora.

Anda tertarik jadi pengemis? Ini sungguh temuan paling menarik tentang pengemis di Blok M, Jakarta. Melihat tampang memelas para pengemis membuat kita sering merogoh uang Rp 1,000 atau Rp 500. Para pengemis berkeliaran di tempat-tempat tertentu yang ramai. Khususnya tempat makan di pinggiran jalan.

Mari kita tengok sosok pengemis ini. Perempuan ini berusia sekitar 45 tahunan. Berpakaian kumuh dan berkerudung kumuh pula. Namun dia sehat wal afiat. Dia selalu membawa mangkuk plastik untuk mengemis. Tak lupa dia juga menggendong tas yang juga tidak bagus. Namun jangan salah. Tampang dan penampilan itu mengecoh. Soal penghasilan luar biasa.

Kalau Anda bergaji Rp. 10,000,000,- juta. Anda masih kalah dengan pengemis elit cerdas ini. ( baca lebih lanjut )


Dari mengikuti pengemis seharian selama jam kerjanya, mewawancarai beberapa tempat penukaran “uang receh” hasil kerjanya, didapati angka pendapatannya sebulan yang bikin mencengangkan pegawai kantoran. Jadi bukan bohong saat ada teman bercerita melihat pengemis biasa manggal kedapatan naik mobil sekelas Honda CRV atau kedapatan pulang kerja (malam hari) naik taxi, atau menggunakan smartphone keluaran terbaru. Kadang mereka (personal) menghilang sesaat waktu untuk menghabiskan “uang receh” di kampung, atau jangan-jangan di Singapore.

Dari mana budaya mengemis itu lahir? Siapa yang telah menyuburkan bisnis pengemis? Sudah jadi bangsa pengemiskan kita sehingga yang miskin memberi untuk yang kaya (bergaya pengemis)?

Alkitab tidak mengajarkan kita untuk mengemis dan juga tidak memerintahkan kita untuk memberi sedekah atau zakat kepada fakir miskin. Sebab kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, apa saja yang kita kerjakan dengan tangan kita akan menghasilkan sesuai bagian yang diberikan oleh Tuhan.

Sedekah dan zakat untuk fakir miskin, adalah ajaran yang membuat persepsi memberi harusnya hanya untuk orang miskin, sehingga timbul berbagai halangan didepan mata saat kita harus menolong orang yang secara materi lebih kaya. Bahkan hukum Perpuluhanpun dikategorikan sedekah atau zakat sehingga penerimanya harus miskin baru halal.

Mari kita kembali ke Alkitab, mari kita bahas hal ini dan saya dipihak yang menyatakan bahwa sedekah dan zakat untuk fakir miskin bukanlah perbuatan yang Alkitabiah, sebab mereka harusnya dibantu untuk dapat bekerja dengan kedua tangannya, bukan malah diberi uang untuk tetap dibawah kaki kita mengemis.

Bukankah Yudas ditegur YESUS (soal sumbangan fakir miskin) bukan di puji YESUS?

memberi kpd fakir miskin alkitabiah, memberi kepada pendeta kaya raya tidak alkitabiah…

Dasarnya apa? Ayat apa yang mendukung pernyataan anda?

Semua orang bisa asal bicara memberi pendapat, tetapi jawaban tanpa dasar bukankah mengambarkan bagaimana anda menjalani hidup kekristenan? Berikan dasarnya dan jangan menjadi kristen kanak-kanak yang diombang-ambingkan suara-suara pengajaran bingung disekitar anda (khususnya disini)

yesus tidak memberi persepuluhan bro… :happy0062:

Memberi kepada fakir miskin Alkitabiah dan banyak dicontohkan di Alkitab. TIDAK SEMUA fakir miskin adalah pengemis. Tuhan memberi kita hikmat juga untuk mampu memilah dengan memberi kepada mereka yang memang layak dan patut untuk diberi (dibantu).

mengenai ucapan kepada Yudas, Yesus tidak melarang memberi kepada fakir miskin, melainkan Yesus menegur Yudas karena mengetahui motivasi Yudas yang tamak dan senang mengkorupsi uang kas.

Salam

Ya itulah, sekalipun dalam kehadiran YESUS muka dengan muka, korupsi tetap terjadi. Dalam 12 orang ada 1 yang korupsi. Saya membayangkan, misalnhya ada 1200 pendeta, bisa jadi ada seribu pendeta yang bermental pencuri, dan jumlah seribu itu bukanlah angka yang extra-ordinary.

Tetapi itu tidak menghentikan orang memberi kepada Tuhan YESUS. Korupsi bukanlah alasan untuk berhenti memberi kepada Tuhan.
Pada akhirnya si Yudas akan menerima upahnya, sebaliknya pekerjaan Tuhan , dan orang-orang yang terlibat di dalamnya tetap diberkati.

GBU

Memang orang miskin bukan semua jadi pengemis. Tetapi hukum Taurat menuliskan tentang orang-orang miskin diantaramu sebagai berikut,

Ulangan 15:7-8
“Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.”

Hukum Taurat tidak mengatur untuk memberi sedekah atau zakat kepada orang-orang miskin, tetapi memberi pinjaman. Pinjaman harus dikembalikan, artinya seorang yang meminjam harus bekerja untuk dapat mengembalikan pinjaman tersebut, bukan menerima zakat atau sedekah dari orang kaya diantaranya.

Seperti sebuah permainan, setelah dipinjami jika tetap masih belum mampu mengembalikannya setelah 7 tahun, maka hutangnya dihapuskan menurut hukum Taurat. Ulangan 15:1-2, “Pada akhir tujuh tahun engkau harus mengadakan penghapusan hutang. Inilah cara penghapusan itu: setiap orang yang berpiutang harus menghapuskan apa yang dipinjamkannya kepada sesamanya; janganlah ia menagih dari sesamanya atau saudaranya, karena telah dimaklumkan penghapusan hutang demi TUHAN.”

Lalu apa bedanya dengan memberi sedekah atau zakat kalau begitu? Bedanya adalah bahwa sedekah diberikan tanpa harus melakukan apapun dan akhirnya menjadi pemalas dan selanjutnya menjadi orang-orang yang hidup dari sedekah dan zakat, tidak lagi berusaha dengan kedua tangannya untuk mengusahakan sesuatu pekerjaan. Jika semua orang miskin berperilaku sama dan semakin banyak orang miskin maka semakin miskinlah rakyat bangsa itu tanpa ada usaha sama sekali. Berbeda dengan hutang, saat diberi hutang mereka harus berusaha melunasi artinya mereka diharuskan untuk bekerja dengan kedua tangannya, walaupun akhirnya juga akan dibebaskan dari hutangnya setelah tujuh tahun. Kelihatannya tidak banyak berbeda tetapi Firman Tuhan diturunkan bukan tanpa alasan dan tujuan, Allah menghendaki umatNya hidup berkecukupan secara materi. Tetapi bukan dari berpangku tangan, melainkan dari bekerja. Ulangan 15:4 menuliskan, “Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh TUHAN akan memberkati engkau di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka,” Ayat 4 ini bukan terjadi secara ajaib, tetapi sebuah proses budaya, dimana orang-orang miskin akan diberkati Allah jika ia mendengarkan FirmanNya dan melakukan dengan setia perintahNya.

Hal yang sama dijelaskan dalam Perjanjian Baru dalam 2 Tesalonika 3:10 menulis demikian, “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Ini bukan hukum baru, tetapi Paulus menuliskan dalam ilham ROH KUDUS hukum Taurat yang disingkapkan kebenarannya. Bahwa umat Allah tidak dibenarkan hidup bergantung kepada orang lain, harus berusaha semampunya, sebab berkat Allah sudah disediakan dan tinggal diambil. Amsal 13:4 mengatakan, “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.”

Bagi mereka yang kaya diantara bangsa Israel, tidak disuruhkan mereka untuk memberi sedekah atau zakat, tetapi memberi pinjaman dengan limpah (yang akhirnya juga menjadi pemberian setelah lewat tujuh tahun). Ulangan 15:10, “Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.” Sekali lagi bukan sedekah atau zakat.

Didalam hukum Taurat yang lain disebutkan juga tentang bagaimana memberi kepada orang miskin, bukan memberi sejumlah uang tetapi memberi mereka kesempatan bekerja untuk mendapatkan makannya sendiri. Cobalah simak dalam Imamat 23:21, “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu, semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.” juga dalam ayat-ayat yang lainnya dan dalam kisah Rut dan Boas, orang miskin dalam hukum Allah tidak disantuni tetapi diberi kesempatan untuk memungut panen (sisa), mereka harus bekerja untuk mendapatkan makannya.

LANJUTAN ADA DIBAWAHNYA

Imamat 25:35, sering kali menjadi salah pengertian kalau tidak dibaca dengan jelas ayat selanjutnya. Demikian tertulis disana (ayat 35-36), “Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.” Bentuk sokongan seperti apa yang Tuhan katakan jangan mengambil bunga atau riba? Sokongan adalah dengan memberi pinjaman dengan limpahnya agar mereka dapat mengusahakan tanahnya, mengusahakan pekerjaannya sehingga ia dapat hidup dan mengembalikan pinjaman.

Ini adalah hukum Taurat, sedangkan kita hidup dalam Perjanjian Baru, dimana hukum Taurat disingkapkan atau digenapkan oleh KRISTUS, sehingga pointnya bukan soal memberi hutang, tetapi memberi kesempatan kerja kepada orang miskin. Memberi jalan baginya untuk bekerja dan membantunya untuk mendapatkan pekerjaan. Itulah yang harus dilakukan diantara saudara seiman, bukan memberi santunan berupa sedekah atau zakat. Tidak juga harus orang yang sangat kaya yang membantunya, kita yang telah berkecukupan, walau tidak memiliki uang lebih tetap dapat membantu mereka dengan mencarikan mereka pekerjaan, membantu mereka wirausaha dengan memberi ketrampilan, memberikan jalan bagi mereka untuk maju, bukan menjadikan mereka obyek santunan kita, sehingga kita merasa “lebih baik” dari mereka.

Ini adalah hukum Allah, yang diajarkan kepada kita. Sedekah atau zakat, bukan diajarkan oleh Allah Israel.

Sedangkan orang miskin akan selalu ada padamu kata Ulangan 15:11, yang dikutip oleh YESUS saat mengegur Yudas yang mengor seseorang wanita yang menghabiskan uangnya untuk YESUS yang sudah berkecukupan. Mengapa YESUS menggunakan kata “Orang miskin selalu ada padamu?” pada Yudas yang cinta uang, bukan memperhatikan nasip orang miskin?

Karena orang yang meributkan bantuan atau sedekah atau zakat untuk orang miskin sebenarnya adalah mereka yang mencintai uang. Merasa berada diatas, merasa lebih baik, lebih suci, lebih diberkati, sedangkan mereka yang benar-benar memperhatikan orang miskin, tanpa banyak meributkannya telah memberikan pertolonganya, bukan soal sejumlah dana, tetapi juga tenaga dan perhatian. Memberi kesempatan usaha, memberi penampungan, membantu mereka dengan memberi ketrampilan dan hal itu dilakukan dengan senyap dan tidak mempersoalkan uang orang lain dikucurkan kemana.

Amsal 23:6-7,
Jangan makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat. Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. “Silakan makan dan minum,” katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu.

Orang yang meributkan uang persembahan, baik itu perpuluhan, persembahan ini dan itu, harus diberikan kesini dan kesitu, jangan disana dan disini, semuanya hanyalah soal cinta akan uang, bukan memperhatikan orang miskin, bukan juga tentang memperhatikan hukum Allah. Mereka yang mengasihi Allah dan memperhatikan orang miskin akan melakukan tanpa meributkan duit orang lain.

Tidak semua orang memiliki hati terhadap orang-orang miskin, peduli terhadap mereka. sebab Allah memberikan masing-masing orang tugas-tugas yang berbeda. Roma 12:6-8, " Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."

Kita hidup dalam Perjanjian Baru, memberi kepada orang miskin haruslah dilakukan dengan benar, bukan untuk mengakomodir mereka, tetapi berilah sepatutnya yang layak dan ingatlah apa yang dikehendaki oleh Allah, bukan menjadikan mereka peminta-minta, tetapi memberikan kesempatan bekerja dan memperkerjakan mereka, sehingga mereka juga bekerja untuk makannya. Sehingga dapat maju dan berkecukupan secara materi. Jika mereka akhirnya lebih kaya dari kita, menyesalkah kita?

Semoga Allah mencerahkan kita semua sehingga kita dapat menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, khususnya bagi saudara kita seiman.

Next, tentang memberi kepada saudara seiman dan kepada mereka yang hidup dalam kegelapan. Allah membedakan dua hal tersebut walau keduanya sama-sama disebut manusia dan kita sebut miskin.

keknya bro sedang bingung dengan kejadian pengemis kaya yahhh… ^^
bagi saya memberi itu tidak asal memberi… lihatlah dahulu apa dia memang membutuhkannya…?? bila ragu ya jangan dikasih… memberi itu dengan penuh keikhlasan… bila takut pemberian itu jatuh ke tangan sindikat ya sumbangkan aja ke panti jompo atau yatim piatu… namun hati2lah jangan menyamaratakan bahwa semua fakhir miskin tersebut adalah sindikat…

Orang sehat yang kerjanya duduk lalu minta-minta sudah jelas tidak baik. Mending kita bayar lebih kepada orang yang jualan ikan/sayur di pasar.

atau memperhatikan nasib karyawan sendiri (kalau ada). Atau bekerja lebih baik, dan lebih cerdas, supaya usaha lebih maju dan lebih banyak orang bisa bekerja.

GBU

Orang miskin tidak selalu adalah pengemis ,
orang yang duduk duduk lalu dapet uang juga bukan pengemis
mosok pendeta yang duduk duduk dapet perpuluhan disebut pengemis Sih ?
pendeta yang dtdtk dtdtk dapat perpuluhan bukanlah pengemis tapi …
GBU

Loh…
Saya kagak nyebut-nyebut pengemis atau orang miskin. Koq bisa quote postingan saya, barangkali salah ngasih komentar :smiley:

Loh siapa yang nyebut orang miskin, pengemis, atau pendeta ?
Tapi kalau pendeta bukan cuma duduk-duduk. Habis nari dan lompat-lompat capek.

GBU

Sorry banget
sorry saya cuma numpang tapi lupa permisi !!
maklumlah “orang miskin” biasa dapet gratisan, kalau pun beli juga yang copy-an

GBU

Jangan lupakan ayat2 berikut ini:

Mat_19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Luk_14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

Rom_15:26 Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem.

Suatu kewajiban bagi kita untuk memberi/membantu kepada orang2 miskin. Mengenai teknis pelaksanaan bagaimana agar bantuan tersebut bukan hanya berguna namun juga membangun, kita diberikan hikmat oleh Tuhan agar menolong dengan cara yang tepat dan sasarannya juga tepat.

Tetapi sebenarnya yang lebih mendesak untuk disampaikan kepada orang2 miskin, menurut Tuhan Yesus, adalah kabar baik (injil/berita keselamatan), seperti tertulis berikut ini:

Mrk_14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.

Luk_4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku

Luk_6:20 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.

Luk_7:22 Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik

dll…

Tapi kalau trit ini arah2nya cuma mau meributkan soal perpuluhan saya abstain aja deh, gak mau ikut2an… :cheesy:

Salam

GOOD ilike this :afro:

makanya buat gereja berikan saja alkitab PB :wink:
supaya mereka tahu bahwa bukan dengan Roti manusia dapat hidup tapi " lihat signature saya" :wink:

GBU

Kamu itu asli bodoh atau cuma pura2 bodoh…??

Ah , saya sih cuma menjabarkan Firman dalam PB saja sih , engga ada kepurapuraan, dan juga engga apa apa dianggap bodoh oleh manusia juga
sebab :

1 Korintus 1
1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

I Korintus 2
2:14 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

GBU

Ga lupa bro, emang tapi bahasnya belum kesono…

Matius 19:21, YESUS bukan berbicara tentang santun-menyantun, bukan menasihati soal memberi sedekah kepada orang miskin, tetapi tentang bagaimana kita harus dapat melepaskan diri dari cinta akan uang. Dalam kalimat selanjutnya dituliskan demikian;

Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. YESUS berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Sama seperti yang pernah saya tulis, jika kita membantu orang miskin, sehingga ia memperoleh kesempatan bekerja dan akhirnya menjadi sukses dan lebih kaya dari kita, apakah kita menyesal? Banyak orang lebih rela memberikan sejumlah uang kepada saudara seiman yang miskin ketimbang kesempatan bekerja dan menghasilkan uang dengan usahanya sendiri. Konsep ini yang harusnya sejalan dengan Firman Tuhan, bukan asal sedekah atau zakat lantas cuci tangan telah memberi sesuatu seakan telah memenuhi kewajiban agama. Kewajiban kita adalah menyokongnya bukan menyantuninya.

Ayat yang anda kira tentang sedekah dan zakat diatas tidak dapat dipakai sebagai acuan seakan YESUS menyuruh memberi sedekah, sebab jika demikian kita melenceng dari pesan YESUS kepada kita. Pernakah Allah menyuruh kita memberikan seluruh harta (bukan sebagian) kita kepada orang miskin dalam bentuk sedekah atau zakat? Tidak pernah, sebab teguran itu diberikan untuk mengingatkan kita agar kita tidak mengantungkan hidup ini kepada uang.

Lukas 12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Tamak itu bukan sekedar ingin akan uang yang belum menjadi miliknya saja, tetapi juga ingin akan uang yang telah menjadi miliknya. Jika uang adalah yang penting, maka YESUS adalah yang kedua, sebab tidak mungkin manusia memiliki dua tuan secara bersamaan, YESUS dan Mammon.

Semoga lebih jelas memahami ayat yang anda sebutkan, kita harus lebih tajam dalam membaca dan memahami kitab suci. Jangan kita mengambil sepenggal kalimat tanpa memahami seluruh percakapan atau surat, sehingga muncul penafsiran lepasan.

LANJUTAN ADA DIBAWAHNYA

Tentang Lukas 14:13, juga bukan soal memberi santunan kepada orang miskin atau zakat kepada mereka, tetapi tentang perbuatan baik yang mengharapkan balasan. Sering kali orang menolong atau bersikap manis dan berbuat baik hanya kepada orang yang berkedudukan, kepada orang-orang kaya sebab mereka mengharapkan balasan dari mereka. Tetapi kepada orang miskin, cacat dan tidak berdaya, siapa yang mau peduli? Sering kali kita malah mengucilkan mereka dan menempatkan mereka pada posisi dibawah kita lebih rendah, bicarapun seperlunya dengan nada wawancara atau memerintah. Inilah mengapa YESUS mengatakan yang anda kutip.

Silahkan disimak baik-baik percakapan dalam perikop tersebut, berikut lanjutan perkataan YESUS;

“Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Jangan kita melakukan sebuah perbuatan baik dengan mengharapkan balasan dari mereka, perbuatan kita itu percuma, berbuatlah baik kepada orang lemah diantara kita. Sokonglah mereka agar mereka sama seperti kita didalam kelimpahan, jangan jadikan mereka “obyek santunan” kita.

Sekarang tentang Roma 15:26, agak panjang menjelaskan hal ini jika pemahaman tentang orang-orang kudus dalam Alkitab tidak sama. Secara singkat didalam Perjanjian Baru, saat dituliskan tentang orang-orang kudus, adalah mereka yang melayani Allah, sedangkan jemaat tidak disebut dengan istilah orang-orang kudus. Kita adalah orang-orang benar, yang dibenarkan oleh Allah didalam KRISTUS, tetapi disebut orang kudus saat kita menyucikan diri dan menyediakan diri untuk menjadi perabotan Allah mengerjakan pekerjaan pelayanan kepada sesama. Didalam dunia modern, hal ini disamakan dengan romo, bruder, suster, pendeta, pastor, pengkerja gereja, missionaris dan sebagainya yang melayani Allah dan sesama.

Didalam ayat selanjutnya dari cuplikan ayat dalam Roma yang anda berikan dituliskan demikian, “Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka.” Ini adalah konsep dasar dari perpuluhan (mungkin anda alergi mendengar kata perpuluhan di forum ini karena banyak topik sampah disini). Perpuluhan bukan pajak tetapi ditetapkan Allah agar ada makan dalam rumah Tuhan(Maleaki 3:10a), Bilangan 18:24, disebutkan persembahan itu diberikan Allah kepada orang Lewi, dan kita semua tahu orang Lewi tidak mendapat waris tanah tetapi melayani kemah Allah. Ada yang melayani ada yang dilayani, semua dilakukan dengan penuh kasih dan ada ucapan syukur dan terima kasih. Karena itu sudah sewajarnya kita membagi harta dunia ini kepada mereka yang melayani secara rohani, hukumnya disebut perpuluhan, prakteknya masing-masing gereja bisa berbeda-beda, bahkan ada yang alergi menggunakan nama perpuluhan dan menggunakan istilah lain.

I Korintus 9:13-14,
“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”

Ayat ini juga tentang perpuluhan, tetapi sekali lagi bedakan dengan praktek perpuluhan di gereja modern. Hukum perpuluhan adalah persembahan khusus untuk Allah dan Allah berikan untuk mereka yang melayani kemah Allah. Karena mereka yang melayani kemah Allah berhak mendapatkan persembahan tersebut dari yang dilayani. Ini adalah dasarnya yang harus dipahami soal perpuluhan. Bentuknya tergantung sinode masing-masing.

Perpuluhan bukan zakat atau sedekah, tetapi rasa syukur dan terima kasih kita kepada Allah dan kepada mereka yang melayani kemah Allah.

Ayat-ayat lain yang anda sertakan dibawahnya saya tidak saya tanggapi, sebab ayat itu bukan soal tentang memberi sedekah atau zakat kepada orang miskin, tetapi tentang pelayanan itu harus sampai kepada orang-orang miskin juga.

Semoga anda dapat membedakan, saya kawatir tulisan saya terlalu berat bagi sebagian orang…

GBU

@ Krispus
Saya paham apa yang anda maksudkan, karena itu saya kembali kutip posting saya sebelumnya:

Dan mengenai kaitannya dengan perpuluhan sudah saya sampaikan juga

Saya sih bisa paham maksud anda, meski saya bisa menerima penafsiran anda mengenai ayat2 yang saya sampaikan di atas, bagaimanapun itu tidak menghilangkan kewajiban kita untuk menolong orang2 miskin ataupun mereka yang membutuhkan pertolongan kita. Saya kutipkan beberapa ayat lagi:

Mat 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
Mat 25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
Mat 25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
Mat 25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
Mat 25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
Mat 25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Mengenai komentar anda yang ini:

Ya silakan saja sih kalau anda merasa saya termasuk yang anda katakan tidak mampu mencerna tulisan anda karena terlalu berat. Kalau saya lebih terganggu dengan komentar2 yang sekedar “ngasal” dan tidak memberi kontribusi berarti terhadap alur diskusi.

Salam