Buktikan Kalau Kita Bisa Setia

Saudara pasti sudah sering mendengar cerita tentang Ayub, seorang laki-laki yang tinggal di tanah Us, yang diakui oleh Tuhan sendiri bahwa ia adalah orang yang saleh dan jujur (Ayub 1:8).
Kejujuran dan kesalehan Ayub sudah tidak diragukan lagi. Dari apa yang kita baca pada Ayub 1:8, sepertinya Tuhan sudah mengsertifikasi kejujuran dan kesalehannya. Namun Iblis atau śâṭân yang artinya adalah lawan, musuh, musuh utama dari kebaikan, pendakwa, nampaknya tidak setuju dengan penilaian Tuhan mengenai Ayub.

Iblis membujuk Tuhan untuk mengangkat perlindungan Tuhan terhadap harta benda dan keluarga Ayub supaya si iblis bisa mengambil itu semua dan berharap Ayub tidak lagi setia kepada Tuhan. Namun setelah iblis melakukan hal itu, iblis mendapati bahwa Ayub tetap setia kepada Tuhan (Ayub 1:22). Papan skor menunjukan 1-0 untuk Ayub dan iblis tidak suka dengan itu. Dari permainan tahan uji tersebut lagi-lagi Tuhan mengsertifikasi kejujuran dan kesalehan Ayub, namun kali ini Tuhan menambahkan predikat baik dalam hal presistensi (Ayub 2:3). Mendengar hal itu iblis tidak tinggal diam; dia meminta Tuhan untuk memberikannya wewenang untuk mengambil kesehatannya, dan Tuhan mengabulkan permintaannya tersebut. Iblis menimpakan kepada Ayub barah (borok/bisul) yang busuk dari ujung kepala sampai ujung kaki, sampai-sampai untuk menggaruk badannya saja Ayub menggunakan beling. Perlu kita tahu bahwa pada saat Ayub ditimpa penyakit yang datangnya dari iblis ini, ia dalam keadaan tidak memiliki apa-apa. Ingat, anak-anak dan ternak-ternaknya telah dihabisi oleh si iblis dan Tuhan pun belum mengembalikan satu pun dari apa yang telah direnggut darinya. Jadi sekarang kita sedang membaca kisah mengenai laki-laki miskin yang kehilangan anak-anaknya dan juga menderita penyakit kulit kronis.

Seperti apakah keadaan Ayub sebenarnya pada waktu itu?

Jika anda adalah orang yang saleh dan jujur, menjauhi kejahatan, dan takut akan Tuhan, dan anda sudah mempunyai pasangan hidup, apabila kemudian sesuatu yang buruk terjadi kepada anda dan keluarga anda, dan oleh karena itu pasangan hidup anda meminta anda untuk mengutuki Tuhan, itu berarti mungkin anda sedang berada dalam posisi yang sama, dan dalam keadaan yang sama yang Ayub alami pada saat itu.

Apabila kita telusuri mengenai kelanjutan kisah Ayub, kita akan mendapati bahwa Ayub tetap setia kepada Tuhan. Istrinya telah meminta dia untuk mengutuki Tuhan, bahkan sahabat-sahabat Ayub menuduh ia pasti telah melakukan suatu dosa yang mengakibatkan ia menjadi seperti itu. Namun sekali lagi saya katakan; Ayub tetap setia kepada Tuhan. Ia setia kepada Tuhan pada waktu sehat dan kaya, dan ia juga setia kepada Tuhan pada waktu sakit lagi miskin.

Tuhan mengetahui kesetiaan Ayub dari awal. Apa yang Tuhan ijinkan terjadi kepada Ayub bukanlah untuk membenarkan Tuhan, karena Tuhan selalu benar dan Ia benar dari awal sampai akhir. Tuhan membiarkan Ayub mengalami hal-hal yang buruk untuk membuktikan kepada iblis bahwa ia bersalah. Iblis ingin membuktikan kepada Tuhan bahwa standar kesetiaan yang dituntut oleh Tuhan adalah mustahil, mustahil diberikan oleh manusia dan mahluk manapun, dalam hal ini termasuk iblis yang dulunya adalah malaikat Tuhan, dengan demikian apa yang disebut kejatuhan dalam dosa adalah“wajar” dan dianggap tidak salah. Namun Ayub berhasil membuktikan bahwa manusia bisa setia kepada Tuhan, dengan kesetiaan yang tidak terkondisikan oleh waktu dan keadaan. Ia berhasil membuktikan bahwa manusia mampu melawan segala keinginan-keinginan yang ada didalam dirinya yang mendorong dia untuk meninggalkan Tuhan. Ayub berhasil membuktikan bahwa ia tidak sama dengan iblis, dan menunjukan kepada iblis bahwa iblis bersalah atas pemberontakannya.

Membuktikan iblis bersalah bukan hanya tugas Ayub dan YESUS KRISTUS. Tapi ini merupakan tugas dan tanggung jawab semua orang percaya. Manusia pertama yang mengemban tugas dan tanggung jawab ini adalah Adam, namun ia kurang berhasil. Sekarang giliran kita yang membuktikan kepada iblis kalau kita sebagai anak-anak Allah bisa setia, dan setia dalam situasi dan kondisi apapun. Seberat apapun kehidupan yang kita jalani, cobaan demi cobaan yang harus kita lalui tidak sepatutnya membuat kita meninggalkan Tuhan dan membuat si iblis menang.

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 Kor 10:13)

Dimulai dari “perkara2 kecil” ~ perkara2 yg “dianggap” kecil oleh “mata dunia/kebanyakan org”… cuma terasa/terlihat sepele(dg kacamata dunia)… tp kecil/sepele pun itu di ‘kamus dunia’, Tuhan memperhitungkannya dg ‘kamusNya’…

Tq u bro
(perenungan)