Buku penistaan agama

Buku Penistaan Kristen Diajarkan di Sekolah-Sekolah Sulut

Sungguh menakutkan bagaimana pendidikan dipakai sebagai alat untuk pemecah kesatuan antar umat beragama, seperti yang terjadi di Sulawesi Utara ini. Dalam menanggapi hal ini, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Diah Harianti menegaskan, buku sekolah yang berisi penistaan terhadap agama Kristen harus segera ditarik. Buku berjudul ‘Tidak Hilang Sebuah Nama’ inilah yang menjadikan penyebabnya, apalagi buku ini merupakan buku wajib baca di sekolah-sekolah Sulut.

“Kalau yang mengandung unsur SARA seperti itu bisa ditindaklanjuti aparat keamanan. Kepolisian dan Kejaksaan dapat melakukan penarikan serta melakukan penyelidikan,” kata Diah, di Jakarta, Rabu (30/3). Ia pun mengaku bingung kenapa buku seperti itu bisa berada di sekolah. “Lho, kok bisa lolos penilaian? Kenapa bisa sampai ada SK Mendiknas?” tanyanya. “Mestinya buku itu tidak lulus penilaian dari pusat perbukuan kami. Sebab dapat memecah belah persaudaraan,” tegasnya.

Nantinya, Kemendiknas akan melakukan penyelidikan buku tersebut, siapa yang menerbitkan dan apakah benar-benar sudah melalui penilaian. “Karena bisa saja ternyata buku itu tidak dinilai oleh pusat perbukuan dan diterbitkan sendiri. Kami tak pernah meluluskan buku yang mengandung unsur SARA,” tambahnya. Anggota Komisi II DPR RI, Vanda Sarundajang menegaskan, buku itu memang harus segera ditarik. “Karena sudah muncul penolakan dari umat Kristen maka pemerintah mesti segera menyikapinya,” paparnya.

Vanda menambahkan, Kemendiknas mestinya berhati-hati dalam melakukan penilaian. Ia menilai, dikeluarkannya izin penerbitan buku itu merupakan kecerobohan. Tidak hanya itu. “Apalagi sampai mendukung dengan keluarnya Surat Keputusan,” katanya. Pemerintah harus bertanggung jawab bila keberadaan buku itu berakibat negatif. “Bukan tidak mungkin terjadi hal yang tidak diinginkan seperti yang sudah-sudah,” katanya.

Jika anak-anak diajar sedari kecil mengenai kejelekan dan intoleransi antar agama, alangkah besar akibatnya di masa datang apalagi bagi bangsa Indonesia yang mempunyai beragam kebudayaan, agama, bahasa, dan sebagainya. Untuk itulah, hal yang fundamental seperti ini benar-benar harus diperhatikan.

Source : jpnn/lh3

mau jadi apa bangsa ini?

@Exia
untung cepat di ketahui ya, kalau tidak…?? kasian tuh anak anak.
Kita berdoa agar TYK camupur tangan dalam masalah ini.
kekeliruan bukan kebodohan tapi keniscayaan memanfaatkan kebodohan itu sendiri.

Salam

benar walau saya sangat yakin banyak buku lain di tempat yang lain sudah beredar
kenapa karena tidak ada yang mengawasi dan mungkin ada pembiaran
benar kata Tuhan bahwa kita akan dibenci oleh karena nama-Nya
oleh karena itu kita harus "membungkam "mereka dengan menjadi terang-Nya

Apa sih isi buku itu ???

sebenarnya saya sangat kaget dengan sulut, karena disana mayoritas kristen…
namun akhirnya dikuasai parpol berideologi SI…
parpol berideologi SI ini juga sudah menguasai berbagai daerah di sekeliling jakarta…
jadi tidak perlu heran jika serangan terhadap umat Tuhan sangat intensif di beberapa kota (lihat kasus gki yasmin bogor, hkbp bekasi dan lainnya)

semoga saja di tahun mendatang jakarta tidak dikuasai parpol berideologi SI
namun nasionalisme…