Burung Berkicau - Anthony De Mello SJ

Kami bertiga Kamu Bertiga

Ketika kapal seorang Uskup berlabuh untuk satu hari di sebuah pulau yang terpencil, ia bermaksud menggunakan hari itu sebaik-baiknya. Ia berjalan-jalan menyusur pantai dan menjumpai tiga orang nelayan sedang memperbaiki pukat. Dalam bahasa Inggeris pasaran mereka menerangkan, bahwa berabad-abad sebelumnya mereka telah dibaptis oleh para misionaris. ‘Kami orang Kristen,’ kata mereka sambil dengan bangga menunjuk dada.

Uskup amat terkesan. Apakah mereka tahu doa Bapa Kami? Ternyata mereka belum pernah mendengarnya. Uskup terkejut sekali. Bagaimana orang-orang ini dapat menyebut diri mereka Kristen, kalau mereka tidak mengenal sesuatu yang begitu dasariah seperti doa Bapa Kami?

‘Lantas, apa yang kamu ucapkan bila berdoa?’

'Kami memandang ke langit. Kami berdoa: ‘Kami bertiga, Kamu bertiga, kasihanilah kami.’ Uskup heran akan doa mereka yang primitif dan jelas bersifat bidaah ini. Maka sepanjang hari ia mengajar mereka berdoa Bapa Kami. Nelayan-nelayan itu sulit sekali menghafal, tetapi mereka berusaha sebisa-bisanya. Sebelum berangkat lagi pada pagi hari berikutnya, Uskup merasa puas. Sebab, mereka dapat mengucapkan doa Bapa Kami dengan lengkap tanpa satu kesalahan pun.

Beberapa bulan kemudian kapal Uskup kebetulan melewati kepulauan itu lagi. Uskup mondar-mandir di geladak sambil berdoa malam. Dengan rasa senang ia mengenang, bahwa di salah satu pulau yang terpencil itu ada tiga orang yang mampu berdoa Bapa Kami dengan lengkap berkat usahanya yang penuh kesabaran. Sedang ia termenung, secara kebetulan ia, melihat seberkas cahaya di arah Timur. Cahaya itu bergerak mendekati kapal. Sambil memandang keheran-heranan, Uskup melihat tiga sosok tubuh manusia berjalan di atas air, menuju ke kapal. Kapten kapal menghentikan kapalnya dan semua pelaut berjejal-jejal di pinggir geladak untuk melihat pemandangan ajaib ini.

Ketika mereka sudah dekat, barulah Uskup mengenali tiga sahabatnya, para nelayan dulu. ‘Bapak Uskup’, seru mereka, ‘Kami sangat senang bertemu dengan Bapak lagi. Kami dengar kapal Bapak melewati pulau kami, maka cepat-cepat kami datang.’

‘Apa yang kamu inginkan?’ tanya Uskup tercengang-cengang.

‘Bapak Uskup,’ jawab mereka, ‘kami sungguh-sungguh amat menyesal. Kami lupa akan doa yang bagus itu. Kami berkata: Bapa kami Yang ada di surga, dimuliakanlah namaMu; datanglah kerajaanMu … lantas kami lupa. Ajarilah kami sekali lagi seluruh doa itu!’

Uskup merasa rendah diri: ‘Sudahlah, pulang saja, saudara-saudaraku yang baik, dan setiap kali kamu berdoa, katakanlah saja: Kami bertiga, kamu bertiga, kasihanilah kami.’

Aku kadang-kadang melihat wanita-wanita tua berdoa rosario tak habis-habisnya di gereja. Bagaimana mungkin Tuhan dimuliakan dengan suara bergumam yang tidak keruan itu? Tetapi setiap kali aku melihat mata mereka atau memandang wajah mereka menengadah, di dalam hati aku tahu, bahwa mereka lebih dekat dengan Tuhan daripada banyak orang terpelajar.


Anthony De Mello SJ

AGAMA SEORANG IBU TUA
Seorang ibu tua yang terlalu saleh, kurang puas dengan semua agama yang ada. Maka ia mendirikan agamanya sendiri.

Pada suatu hari seorang wartawan, yang secara tulus ingin mengetahui keyakinan dan pendiriannya, bertanya:

Apakah Ibu betul-betul percaya, seperti dikatakan banyak orang, bahwa tidak ada orang yang masuk surga kecuali Ibu dan pembantu Ibu?’

Ibu tua itu menimbang-nimbang sejenak, lalu menjawab:
‘Mengenai pembantuku Minah, saya kurang begitu yakin.’

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Para Ahli

Hidup rohaniku seluruhnya diambil alih oleh para ahli. Kalau aku ingin belajar berdoa, aku pergi kepada seorang pembimbing rohani. Untuk menemukan kehendak Tuhan bagiku, aku pergi kepada seorang pembimbing retret. Untuk mendalami Kitab Suciku, aku pergi kepada seorang ahli Kitab Suci. Untuk mengetahui, apakah aku telah berdosa atau tidak, aku pergi kepada ahli teologi moral. Dan untuk mendapatkan pengampunan atas dosa-dosaku, aku mengaku kepada seorang imam.

Seorang raja pribumi di kepulauan Pasifik Selatan mengadakan perjamuan untuk menyarnbut seorang tamu istimewa dari Barat.

Ketika tiba waktunya untuk menghormati sang tamu, sri raja tetap duduk di lantai saja; sedangkan seorang ahli pidato, yang memang disiapkan untuk maksud ini, menyanjung-nyanjung sang tamu dengan kata-kata hebat.

Seusai pidato yang berkobar-kobar itu, sang tamu bangkit berdiri, untuk menyampaikan ucapan terimakasih kepada raja. Sri raja menahannya dengan isyarat. 'Jangan bangun,'katanya, ‘saya sudah menyiapkan seorang ahli pidato bagi Anda juga. Di pulau kami, kami beranggapan bahwa berbicara di depan umum tidak boleh dilakukan oleh orang-orang amatir saja.’

Aku bertanya-tanya, apakah Tuhan akan berkenan, kalau aku sendiri menjadi lebih amatir dalam hubunganku dengan Dia?

Anthony De Mello SJ

Menjual Air Sungai

Khotbah sang Guru pada hari itu hanya terdiri dari satu kalimat penuh teka-teki.

Ia tersenyum lemah dan mulai berkata:
‘Satu-satunya yang aku kerjakan di sini hanyalah duduk di pinggir sungai dan menjual air sungai.’

Dan khotbahnya sudah selesai.

Seorang penjual air mendirikan warung di pinggir sungai, dan ribuan orang datang berduyun-duyun untuk membeli air darinya. Penjualannya laku semata-mata karena mereka tidak melihat sungai. Bila nanti mereka melihatnya, usahanya akan gulung tikar.

Seorang pengkhotbah amat berhasil. Ribuan orang datang untuk belajar kebijaksanaan darinya. Setelah kebijaksanaan diperoleh, mereka berhenti mendengarkan khotbahnya. Dan si pengkotbah tersenyum puas. Sebab ia sudah mencapai tujuannya, yaitu mundur secepatnya. Sebab, di dalam hatinya ia menyadari, bahwa apa yang ia berikan kepada orang-orang hanyalah apa yang sebetulnya sudah mereka punyai, asal mereka mau membuka mata dan melihat. ‘Jikalau Aku tidak pergi,’ kata Jesus kepada murid-muridnya, ‘Roh Kudus tidak akan datang.’

Jikalau Anda berhenti menjual air, barangkali orang mendapat kesempatan yang lebih baik untuk melihat sungai.

Anthony De Mello SJ

ANAK YANG SULUNG
Tema khotbahnya adalah ‘Anak yang hilang.’ Pengkhotbah dengan penuh semangat berbicara tentang cinta Bapa yang tiada bandingannya. Tetapi apakah yang istimewa pada cinta Bapa? Ada ribuan bapa manusia yang dapat menyamai cinta itu. Dan lebih mungkin lagi, ribuan ibu manusia.

Perumpamaan ini sungguh-sungguh dimaksudkan untuk menyindir orang Farisi:

Para pemungut pajak dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkanNya. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kata mereka: ‘Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.’ Lalu Jesus menceritakan perumpamaan ini kepada mereka … (Injil Lukas, Bab 15, ayat 1-2)

Orang yang bersungut-sungut! Orang Farisi! Anak sulung! Inilah inti perumpamaan.

Pada suatu hari waktu Tuhan masuk ke dalam surga, Ia heran bahwa semua orang sudah berada di sana. Tak seorang pun dimasukkan ke dalam neraka. Ini merisaukanNya, karena bukankah Tuhan harus adil? Dan untuk apa neraka diciptakan, jika tidak dipakai?

Maka Ia berkata kepada Malaikat Gabriel:
‘Panggil semua orang ke hadapan tahtaKu dan bacakan Sepuluh PerintahKu!’

Semua orang dipanggil. Malaikat Gabriel membaca perintah yang pertama. Lalu Tuhan bersabda:

‘Semua yang pernah berdosa melawan perintah ini, harus segera turun ke neraka!’ Sejumlah orang mengundurkan diri dan dengan sedih pergi ke neraka.

Hal yang sama terjadi pula sesudah perintah yang kedua dibaca … begitu pula dengan yang ketiga … keempat … kelima … Pada waktu itu penghuni surga sudah jauh berkurang. Sesudah perintah keenam dibaca, semua orang telah pergi ke neraka kecuali seorang pertapa yang gemuk, tua dan botak.

Tuhan melihatnya dan berkata kepada Malaikat Gabriel:

‘Inikah satu-satunya yang masih tinggal di surga?’

‘Ya,’ sembah Malaikat Gabriel.

‘Wah,’ kata Tuhan, ‘suasana di sini menjadi agak sepi, bukan? Suruhlah mereka semua kembali ke surga!’

Ketika pertapa yang gemuk, tua dan botak itu mendengar bahwa semua orang akan mendapat pengampunan, ia naik pitam. Dan ia menggugat Tuhan:

‘Ini tidak adil! Mengapa dulu hal ini tidak Tuhan katakan kepadaku?’

Nah, ketahuan masih ada seorang Farisi lain lagi yang tersembunyi. ‘Anak sulung’ yang lain. Orang yang percaya akan ganjaran dan hukuman serta berpegang teguh pada keadilan mutlak.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Apa Katamu ?

Seorang guru menanamkan kebijaksanaan dalam hati muridnya, bukan di atas halaman buku. Si murid mungkin mengendapkan kebijaksanaan itu selama tiga puluh atau empat puluh tahun di dalam hatinya, sampai ia menemukan seseorang yang siap sedia untuk menerimanya. Itulah tradisi Zen.

Guru Zen Mu-nan menyadari bahwa ia hanya mempunyai satu orang penerus, yaitu muridnya Shoju. Pada suatu hari ia mengundangnya dan berkata: ‘Sekarang aku sudah tua, Shoju, dan hanya engkaulah yang akan meneruskan ajaranku. Terimalah kitab ini, yang telah diwariskan selama tujuh turunan dari guru ke guru. Aku sendiri menambah beberapa catatan di dalamnya, yang kiranya akan berguna bagimu. Simpanlah kitab ini, sebagai tanda bahwa engkau penerusku.’

'Lebih baik kitab itu Bapak simpan sendiri saja,'kata Shoju. ‘Saya menerima ajaran Zen dari Bapak secara lisan, maka saya lebih senang meneruskannya secara lisan pula.’

'Aku tahu, aku tahu,'kata Mu-nan dengan sabar. ‘Namun kitab ini sudah disimpan selama tujuh turunan dan mungkin ada gunanya bagimu. Maka, terimalah dan simpanlah baik-baik.’

Keduanya kebetulan berbicara di dekat perapian. Begitu diterima Shoju, kitab itu langsung dilernparkannya ke dalarn api. Ia tidak teltarik pada kata-kata tertulis.

Mu-nan yang sebelumaya dikenal sebagai orang yang tidak pernah marah, berteriak:‘Kau rnelakukan perbuatan biadab!’

Shoju juga berteriak: ‘Bapak rnengucapkan kata-kata biadab!’

Sang Guru berbicara dengan penuh wibawa tentang apa yang sudah dialaminya sendiri. Ia tidak mengutip satu buku pun.

Anthony De Mello SJ

Thomas Aquino Berhenti Menulis

Diceritakan bahwa Santo Thomas Aquinas, salah seorang teolog yang paling bijak di dunia, tiba-tiba berhenti menulis menjelang akhir hidupnya. Waktu sekretarisnya mengeluh bahwa karyanya belumlah selesai Thomas menjawab: Frater Reginald, ketika aku merayakan Misa beberapa bulan yang lalu, aku mengalami Yang Ilahi. Pada hari itu aku sama sekali kehilangan minat untuk menulis. Sebenarnya, semua yang telah kutulis tentang Allah bagiku tampaknya seperti jerami belaka.’

Memang seharusnya demikian jika seorang cendekiawan menjadi seorang mistik.

Ketika seorang mistik turun dari gunung, ia disongsong oleh seorang ateis yang berkata mencemooh: ‘Apa yang kaubawa dari taman kebahagiaan yang kaukunjungi?’

Orang mistik itu menjawab: ‘Aku sungguh berniat mengisi jubahku dengan bunga-bunga. Dan bila kembali pada kawan-kawanku, aku bermaksud menghadiahi mereka beberapa kuntum bunga. Tetapi ketika aku di sana, keharuman taman itu membuatku mabuk, sehingga aku menanggalkan jubahku.’

Para guru Zen mengatakan hal itu lebih padat dan tepat: ‘Orang yang tahu, tidak banyak bicara. Orang yang banyak bicara, tidak tahu.’ -------- [1]

Catatan : Frater (Latin) = saudara; atau panggilan untuk biarawan yang tidak/belum ditahbiskan

Anthony De Mello SJ

Pemuda Arab Yang Sederhana

Guru Arab Jalalud-Din Rumi senang sekali menceritakan kisah berikut ini:

Pada suatu hari Nabi Muhammad sedang bersembahyang subuh di mesjid. Di antara orang-orang yang ikut berdoa dengan Nabi adalah seorang pemuda Arab.

Nabi mulai membaca Qur’an dan mendaras ayat yang menyatakan perkataan Firaun: ‘Aku ini dewa yang benar.’ Mendengar perkataan itu pemuda yang baik itu tiba-tiba menjadi marah. Ia memecah keheningan dengan berteriak: ‘Pembual busuk, bangsat dia!’

Nabi berdiam diri. Tetapi seusai sembahyang, orang-orang lain mencela orang Arab itu dengan gusar: ‘Apakah engkau tidak tahu malu? Niscaya doamu tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab, engkau tidak hanya merusak kekhusukan suasana doa, tetapi juga mengucapkan kata-kata kotor di hadapan Rasul Allah.’

Wajah pemuda yang malang itu menjadi merah padam dan ia gemetar ketakutan, sampai-sampai Malaikat Jibrail menampakkan diri pada Nabi dan bersabda: ‘Assalamuallaikum! Allah berfirman agar engkau menyuruh orang banyak berhenti mencaci-maki pemuda yang sederhana ini. Sungguh, sumpah serapahnya yang jujur berkenan di hatiKu, melebihi doa orang-orang saleh.’

Bila kita berdoa, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bukan pada rumusan kata-kata.

Anthony De Mello SJ

BAIKLAH, BAIKLAH

Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah, Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa.

Orangtua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya untuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, ‘Baiklah, baiklah.’

Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya.

Guru itu jatuh namanya. Tidak ada lagi orang yang datang untuk meminta wejangannya.

Ketika peristiwa itu sudah berlalu satu tahun lamanya, gadis yang melahirkan anak itu tidak kuat menyimpan rahasianya lebih lama lagi. Akhirnya ia mengaku, bahwa ia telah berdusta. Ayah anak itu sebetulnya adalah pemuda di sebelah rumahnya. Orangtua si gadis dan para penduduk kampung amat menyesal. Mereka bersembah sujud di kaki Guru untuk mohon maaf dan meminta kembali anak tadi. Guru mengembalikannya dan yang dikatakannya hanyalah: ‘Baiklah. Baiklah!’

Orang yang sungguh-sungguh sadar!

Kehilangan nama? Tidak banyak berbeda dengan kehilangan kontrak yang mau ditandatangani dalam mimpi.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Mengapa Orang-orang Yang Baik Matii

Seorang pendeta di pedesaan mengunjungi rumah seorang nenek tua anggota jemaatnya. Sambil minum kopi, ia menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh nenek itu.

‘Mengapa Tuhan begitu sering mengirimkan wabah kepada kita?’ tanya si nenek.

‘Ya, ya, ya …,’ jawab pendeta, ‘kadang-kadang orang menjadi begitu jahat, hingga perlu disingkirkan. Maka, Yang Mahabaik mengijinkan datangnya wabah.’

‘Tetapi,’ tukas si nenek, ‘mengapa begitu banyak orang baik juga disingkirkan bersama yang jahat?’

‘Orang-orang baik itu dipanggil untuk menjadi saksi,’ pendeta menjelaskan. ‘Sebab, Tuhan ingin menjalankan pengadilan yang adil bagi setiap jiwa.’

Samasekali tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dijelaskan oleh pemegang kepercayaan yang kaku

Anthony De Mello SJ

Rumpun Bambu

Choko, anjingku, duduk dengan penuh perhatian. Telinganya tegak, ekornya mengibas tegang dan matanya memandang tajam ke atas pohon. Ia mengamati gerak - gerik seekor kera. Hanya satu yang menguasai seluruh kesadarannya: kera. Dan karena ia tidak mempunyai akal budi, tidak ada pikiran apapun yang mengganggu pusat perhatiannya. Tidak ada pikiran tentang apa yang akan dimakannya nanti malam, adakah yang nanti dapat dimakan atau di mana ia akan tidur. Setahuku, Choko melakukan sesuatu yang paling dekat dengan kontemplasi.

Anda sendiri mungkin pernah mengalami hal seperti itu, misalnya ketika Anda terpukau memperhatikan seekor anak kucing bermain-main. Inilah rumusan kontemplasi yang sama baiknya dengan rumusan-rumusan lain yang kukenal: memberi perhatian penuh pada saat sekarang ini!

Sungguh suatu tugas yang berat: Lepaskan semua pikiran tentang masa mendatang, lepaskan semua pikiran tentang masa silam - pokoknya, lepaskan semua pemikiran, titik! Lalu, berilah perhatian penuh pada saat sekarang ini. Dan kontemplasi pun akan terjadi!.

Setelah berlatih selama bertahun-tahun, seorang murid mohon kepada Gurunya untuk memberinya penerangan budi. Sang Guru membawanya menuju serumpun bambu, dan berkata kepadanya: ‘Lihatlah bambu itu, begitu tingginya! Lihatlah yang lainnya di sana, begitu pendeknya!’
Pada waktu itu juga si murid mendapatkan penerangan budi.

Diceritakan, bahwa dalam usahanya mencapai penerangan budi Buddha mengikuti setiap aliran kehidupan rohani, setiap bentuk ulah tapa dan setiap cara penguasaan diri yang terdapat di India pada waktu itu. Semuanya sia-sia. Akhirnya pada suatu hari, ia duduk di bawah pohon bodhi, dan ia mendapat penerangan budi. Diceritakannya rahasia penerangan budi itu kepada murid-muridnya. Tetapi rupanya kata-katanya amat membingungkan mereka yang belum mendapatkan tuntunan, khususnya mereka yang percaya kepadanya ‘Bila kamu menarik nafas panjang, hai para rahib, hendaklah kamu sadar, bahwa kamu menarik nafas panjang. Dan bila kamu menarik nafas pendek, sadarilah sepenuhnya bahwa kamu menarik nafas pendek. Dan bila kamu menarik nafas sedang, hai para rahib, sadarilah bahwa kamu menarik nafas sedang.’ Kesadaran. Perhatian. Keasyikan. Lain tidak.

Tenggelam dalam keasyikan seperti ini terdapat pada anak-anak kecil. Mereka begitu mudah masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Anthony De Mello SJ

PEMUDA YANG BANYAK BICARA

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta berusaha selama berbulan-bulan untuk mengambil hati pujaannya, namun gagal. Ia merasa sakit hati karena ditolak. Namun akhirnya si jantung-hati menyerah. ‘Datanglah di tempat anu pada jam anu,’ katanya.

Pada waktu dan di tempat anu tersebut, akhirnya si pemuda sungguh jadi duduk bersanding dengan jantung-hatinya. Lalu ia merogoh saku dan mengeluarkan seberkas surat-surat cinta, yang telah ia tulis selama berbulan-bulan, sejak ia mengenal si jantung-hati. Surat-surat itu penuh kata-kata asmara, mengungkapkan kerinduan hatinya dan hasratnya yang membara untuk mengalami kebahagiaan karena dipersatukan dalam cinta. Ia mulai membacakan semua suratnya itu untuk jantung hatinya. Berjam-jam telah lewat, namun ia masih juga terus membaca.

Akhirnya si jantung hati berkata:

‘Betapa bodoh kau! Semua suratmu hanya tentang aku dan rindumu padaku. Sekarang aku disini, bahkan duduk disampingmu. Dan kamu masih juga membacakan surat-suratmu yang membosankan itu!’

‘Inilah aku, duduk di sampingmu,’ sabda Tuhan kepada penyembahnya, ‘dan engkau masih juga berpikir-pikir tentang Aku di dalam benakmu, berbicara tentang Aku dengan mulutmu, dan membaca tentang Aku dalam buku-bukumu. Kapankah engkau akan diam dan mulai menghayati kehadiranKu?’

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

BAYAZID MELANGGAR ATURAN.

Bayazid, seorang Muslim yang suci, kadang-kadang dengan sengaja melanggar bentuk-bentuk lahir dan upacara agamanya.

Pada suatu hari, ketika ia pulang dari Mekah, ia singgah di kota Rey di Iran. Penduduk kota yang sangat menaruh hormat padanya, keluar mengelu-elukannya sampai seluruh kota menjadi gempar. Bayazid, yang sudah jenuh akan pendewaan serupa itu, menunggu hingga ia sampai di pinggir pasar. Di sana ia membeli sepotong roti, lalu mulai memakannya di muka umum. Padahal waktu itu bulan puasa. Akan tetapi Bayazid yakin, bahwa dalam perjalanan ia tidak terikat pada peraturan-peraturan agama.

Tetapi para pengikutnya tidak berpikir demikian. Maka mereka begitu dikecewakan oleh perbuatan itu, sehingga mereka semua segera meninggalkannya dan pulang. Bayazid dengan rasa puas berkata kepada salah seorang muridnya: ‘Lihat, begitu aku berbuat sesuatu yang berlawanan dengan harapan mereka, rasa hormat mereka terhadapku hilang lenyap.’

Jesus kerapkali sangat mengejutkan para pengikutnya dengan bertindak seperti itu juga.

Kebanyakan orang memerlukan seorang suci untuk disembah dan seorang guru untuk dimintai nasehat. Ada persetujuan diam-diam: ‘Engkau harus hidup sesuai dengan harapan kami, dan sebagai gantinya kami akan menghormatimu.’ ‘Permainan’ kesucian!

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Bayi Berhenti Menangis

Seorang mengatakan bahwa ia menjadi tidak beriman karena alasan praktis saja. Sebab, kalau ia sungguh sungguh jujur, ia terpaksa mengakui, bahwa sebetulnya ia tidak percaya akan hal-hal yang diajarkan agamanya Memang, adanya Tuhan memecahkan banyak masalah tetapi juga menimbulkan masalah baru yang sama banyaknya. Kehidupan sesudah kematian adalah harapan yang sia-sia. Kitab Suci dan tradisi tidak saja menguntungkan tetapi juga merugikan. Semuanya ini dibu manusia untuk menanggulangi kesepian dan keputus-asaan yang dirasakan dalam hidupnya.

Paling baik ia dibiarkan saja. Diam saja. Mungkin ia sedang mengalami tahap pertumbuhan dan penemuan baru.

Pada suatu ketika sang Guru ditanya oleh muridnya : ‘Buddha itu apa?’
Ia menjawab :
‘Budi, itulah Buddha.’

Lain hari ia ditanya soal yang sama dan ia menjawab :
‘Tidak ada budi. Tidak ada Buddha.’

Murid menyangkal :
'Tetapi, dulu Anda berkata : Budi, itulah Buddha.

Kata Sang Guru :
‘Itu dimaksudkan agar si bayi berhenti menangis. Bila tangisnya sudah berhenti, aku berkata: Tidak ada budi. Tidak ada Buddha.’

Mungkin si bayi telah berhenti menangis dan sudah siap menerima kebenaran. Maka lebih baik ia dibiarkan sendiri saja.

Tetapi ketika ia mulai mengajarkan ateisme yang baru ditemukannya kepada orang lain yang tidak tahu-menahu, ia terpaksa dibatasi: ‘Pada suatu waktu, pada masa pra-ilmiah, orang menyembah matahari. Lalu tibalah jaman ilmu pengetahuan, dan manusia pun menyadari, bahwa matahari itu bukan dewa, bahkan pribadi pun bukan. Akhirnya datanglah jaman mistik dan Santo Fransiskus Asisi menyebut matahari itu saudaranya; ia bahkan berbicara dengannya.’

‘Kepercayaanmu dulu seperti kepercayaan seorang bayi yang ketakutan. Sekarang engkau sudah dewasa dan tidak takut lagi, maka engkau kehilangan kepercayaanmu dahulu. Moga-moga engkau berkembang sampai pada suatu ketika menjadi seorang mistik dan menemukan imanmu kembali.’

Iman tidak pernah akan hilang, selama orang mengejar kebenaran tanpa takut. Tetapi bermacam-macam kepercayaan yang mengungkapkan iman untuk sementara waktu dapat dibayangi oleh awan gelap. Namun demikian, tidak lama lagi akan menjadi cerah kembali.

Anthony De Mello SJ

Perbedaan Mutlak

Uwais, seorang sufi, pernah ditanya:
‘Apakah makna rahmat bagi anda ?’

Jawabnya:
‘Setiap kali bangun pagi,
aku merasa cemas
apakah aku masih akan hidup petang nanti’

Kata si penanya:
‘Tetapi bukankah semua orang tahu akan hal itu ?’

Jawab Uwais:
‘Mereka memang tahu, tetapi
tidak semua merasakannya.’

Tidak pernah orang menjadi mabuk
karena mengetahui arti perkataan ‘anggur’.

Catatan : Sufi = ahli ilmu sufuk (tasawuf), pengikut kebatinan Islam

Anthony De Mello SJ

Berhala Manusia

Suatu ceritera kuno dari India:

Sebuah kapal karam dan terdampar di tepi pantai Srilangka. Di situ memerintahlah Vibhisana. raja para raksasa. Pedagang, pemilik kapal itu dibawa menghadap raja.
Ketika melihatnya, Vibhisana menjadi amat bersukacita dan berkata: ‘Bukan main. Ia sungguh-sungguh menyerupai patung Ramaku. Bentuknya sama-sama seperti manusia!’
Maka ia menyuruh abdinya untuk mengenakan busana mewah dan ratna mutu manikam kepada pedagang itu dan memuliakannya.

Ramakhisna seorang mistik Hindu berkata: 'Ketika waktu pertama kali mendengar cerita ini, aku mengalami kegembiraan yang tak tergambarkan. Jikalau patung tanah liat dapat membantu untuk memuliakan Tuhan, mengapa manusia tidak?"

Catatan : Mistik = yang berusaha memahami rahasia Allah dengan cara kontemplatif

Anthony De Mello SJ

Satu Nada Kebijaksanaan

Tidak ada yang tahu, apa yang terjadi dengan Kakua setelah ia pergi dari hadapan Tenno. Ia menghilang begitu saja. Inilah kisahnya:

Kakua adalah orang Jepang pertama yang belajar Zen di negara Cina. Ia sama sekali tidak pernah bepergian. Ia hanya bermeditasi tanpa henti. jika orang sekali waktu berhasil berjumpa dengannya dan memintanya untuk mengajar, ia akan mengucapkan beberapa patah kata, kemudian pindah ke bagian hutan yang lain, sehingga ia sumakin sulit ditemukan.

Ketika Kakua kembali ke negeri Jepang, Tenno mendengar tentang dia dan memintanya mengajarkan Zen demi kepentingan dirinya dan seluruh isi istana. Kakua berdiri di hadapan Tenno tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu ia mengeluarkan sebatang seruling dari lipatan jubahnya dan meniup sebuah nada yang pendek sekali. Ia membungkuk dalam kepada Tenno dan menghilang.

Konfusius berkata: ‘Jangan mengajar orang yang sudah matang: sia-sialah bagi orangnya. jangan mengajar orang yang tidak matang: sia-sialah kata-katanya.’

Anthony De Mello SJ

BONEKA GARAM

Sebuah boneka garam berjalan beribu-ribu kilometer menjelajahi daratan, sampai akhirnya ia tiba di tepi laut.

Ia amat terpesona oleh pemandangan baru, massa yang bergerak-gerak, berbeda dengan segala sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.

‘Siapakah kau?’ tanya boneka garam kepada laut.

Sambil tersenyum laut menjawab:

‘Masuk dan lihatlah!’

Maka boneka garam itu menceburkan diri ke laut. Semakin jauh masuk ke dalam laut, ia semakin larut, sampai hanya tinggal segumpal kecil saja. Sebelum gumpalan terakhir larut, boneka itu berteriak bahagia: ‘Sekarang aku tahu, siapakah aku!’

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Kunyahlah Buahmu Sendiri

Seorang murid mengeluh kepada gurunya :
‘Bapak menuturkan banyak cerita
Tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami’

Jawab sang Guru :
‘Bagaimana pendapatmu, Nak,
Andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu,
namum mengunyahkannya dahulu bagimu’.

Tak seorang pun dapat menemukan pengertian yang paling tepat
bagi dirimu sendiri.
Sang Guru pun tidak mampu.

Anthony De Mello SJ

right…
seperti kata iklan

“ku tahu yang ku mau”

hehehehe…