By: Ellen G. White, Buku: Kebahagiaan Sejati

Minggu 03/January/2016

JUDUL ASLI BUKU: STEPS TO CHRIST

Bab, 2 MENYADARI KEPERLUAN-MU

MENYADARI KEPERLUANMU

Pada mulanya manusia dikaruniai kuasa berpikir yang mulia dan seimbang. Manusia itu sempurna tubuhnya, selaras dengan kehendak Allah. Pikiran-pikirannya bersih, maksud-maksudnya pun suci.

Tetapi karena durhaka, kuasanya berubah, lalu rasa mementingkan diri sendiri mengambil alih tempat kasih itu. Keadaannya menjadi amat lemah karena pelanggaran itu sehingga membuat dia tidak mungkin, dengan kekuatannya sendiri, melawan kuasa kejahatan itu.

Dia telah ditawan Setan dan akan tetap dikuasainya kalau Tuhan Allah tidak turut campur tangan secara khusus. Maksud penggoda ialah menghalang-halangi rencana Ilahi di dalam penciptaan manusia itu, lalu memenuhi bumi ini dengan bencana yang memilukan. Dan dia akan menunjukkan bahwa semuanya ini terjadi sebagai akibat daripada pekerjaan Tuhan Allah dalam menjadikan manusia itu.

Dalam keadaan tanpa dosa, manusia dapat mengadakan hubungan yang menyenangkan dengan Allah yang “di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kolose 2:3). Tetapi sejak manusia jatuh ke dalam dosa, tiada lagi dia dapat menikmati kesenangan hubungan yang kudus itu, bahkan dia mencoba menyembunyikan dirinya dari hadapan hadirat Tuhan Allah.

Demikianlah selalu keadaan hati yang masih belum dibarui. Ia tidak sesuai dengan Allah dan tidak akan mendapat kesenangan dalam hubungan dengan Dia. Orang yang berdosa tidak senang di hadapan Allah, dia akan takut dan mengundurkan diri dari pergaulan dengan makhluk-makhluk yang suci.

Sekiranya dia diperkenankan memasuki surga, hal itu tidak akan menggembirakannya. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri yang bertahta di surga-- setiap hati yang menyambut hati kasih Allah yang tiada batasnya --tidak akan mendapat sambutan di dalam jiwanya. Pikiran-pikirannya, yang memikat hatinya, motif-motif yang terdapat padanya, berlawanan dengan orang-orang yang tiada berdosa yang tinggal di sana. Dia akan menjadi satu bunyi sumbang dalam irama surga. Baginya surga adalah tempat penuh siksa; dia lebih suka lenyap dari Tuhan yang menjadi terang itu, dan menjadi pusat dari segala kegembiraan.

Bukannya Tuhan yang sewenang-wenang memerintahkan supaya orang jahat itu enyah dari surga, mereka sendirilah yang telah mengatupkannya dengan ketidaklayakan mereka menghadapi pergaulan yang terdapat di sana. Bagi mereka kemuliaan Allah akan menjadi satu bara api yang menyala-nyala. Mereka menyambut kebinasaan supaya mereka dapat terlindung dari wajah Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus mereka.

Mustahil bagi kita, dengan diri sendiri, keluar dari lubang dosa yang di dalamnya kita tenggelam. Hati kita jahat, kita tidak dapat mengubahnya. “Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorang pun Tidak!” “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”( Ayub 14:4; Roma 8:6).

Pendidikan, kebudayaan, penguasaan diri, usaha manusia, dan semuanya mempunyai kegunaannya masing-masing, tetapi di sini itu semua tidak berdaya sama sekali. Semua yang disebutkan di atas mungkin saja menghasilkan tabiat yang amat baik secara lahiriah namun tiada dapat membersihkan sumber kehidupan batin itu.

Haruslah ada di dalamnya satu kuasa yang bekerja dari dalam, satu kehidupan baru dari atas, sebelum manusia dapat diubahkan dari dosa kepada kekudusan. Kuasa itu, ialah kuasa Kristus. Hanya anugerah-Nya saja yang dapat menghidupkan segala kuasa jiwa yang tiada berdaya itu, menariknya kepada Allah, kepada kekudusan.

—Bersambung—

:wink:
salam
TYM

bersambung, Senin 14/01/2015

Juruselamat berkata: “Jika seorang tidak dilahirkan kembali,” kalau dia tidak menerima satu hati yang baru, kerinduan-kerinduan yang baru, maksud-maksud dan motif yang baru yang menuntun menuju kepada satu kehidupan baru, “tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3).

Pikiran yang mengatakan bahwa satu-satunya yang perlu dipertumbuhkan ialah yang baik yang memang sudah ada di dalam diri manusia secara alamiah, adalah merupakan satu yang sesat dan amat berbahaya. “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” (1 Korintus 2:14). “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (Yohanes 3:7). Tentang Kristus tertulis sebagai berikut, “Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia–tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Yohanes 1:4; Kisah 5:12).

Tidaklah cukup hanya sekadar mengerti kelembutan kasih Allah, melihat sifat kemurahan-Nya, dan kelembutan seorang Bapa. Tidak cukup hanya dengan mengenal hikmat dan keadilan hukum-Nya, melihat bahwa hukum itu didasarkan atas prinsip kasih yang abadi. Rasul Paulus melihat semuanya ini ketika dia berseru: “Aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik,” “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Bahkan ditambahkannya di dalam jeritan jiwa yang pedih dan dengan rasa putus asa,” … tetapi aku bersifat daging, terjual dan di bawah kuasa dosa” ( Rm 7:16,12,14). Dia merindukan kesucian, kebenaran, ke dalam mana dia sendiri tak berdaya memperolehnya, lalu berseru-seru: “Aku manusia yang celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Roma 7:24. Jeritan yang demikian keluar dari bibir orang-orang yang dibebani dosanya di segenap penjuru dunia, pada sepanjang abad. Untuk menjawab semuanya ini, hanya satu jawab, yakni: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang mengangkut dosa isi dunia” (Yohanes 1:29).

Dengan banyak perumpamaan Roh Allah telah berusaha menggambarkan kebenaran ini, dan membuatnya demikian jelas kepada jiwa-jiwa yang sudah lama merindukan kebebasan dari kungkungan beban salah. Manakala setelah dosanya, yakni menipu Esau. Yakub melarikan diri dari rumah ayahnya, dia dibebani satu perasaan bersalah. Dalam keadaan seorang diri dan terbuang terpisah dari segala sesuatu yang membuat hidupnya berharga, satu pikiran yang paling dipikirkannya di dalam jiwanya, ialah rasa takut bahwa dosanya telah memisahkan dia dari Allah, bahwa surga telah meninggalkan dia. Dalam keadaan dukacita yang dalam dia membaringkan tubuhnya beristirahat sebentar di atas tanah, di sekitarnya terdapat hanyalah bukit-bukit sepi, dan di atasnya, bintang-bintang menyinari langit. Ketika dia tertidur lelap, seberkas cahaya mengambang dalam khayalnya; dan lihatlah, dari lembah tempat dia berbaring, ada jenjang tangga yang menjurus ke langit hingga ke pintu gerbang surga, dan di atasnya para malaikat Allah turun naik, sementara dari kemuliaan yang di atas, suara Allah kedengaran di dalam satu pesan penghiburan dan pengharapan. Demikianlah dinyatakan kepada Yakub pemenuhan kebutuhan dan kerinduan jiwanya–kerinduan akan seorang Juruselamat. Dengan perasaan gembira dan syukur dia telah memandang satu jalan yang mana dia sebagai seorang yang berdosa, dapat dipulihkan hubungannya dengan Allah. Jenjang tangga yang ajaib itu yang dilihat dalam mimpinya menggambarkan Yesus, satu-satunya jalan hubungan antara Allah dan manusia.

Gambaran ini jugalah yang ditunjukkan Yesus di dalam percakapan-Nya dengan Natanael ketika Dia berkata: “Sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia” (Yohanes 1:51). Di dalam kemurtadan manusia memang menjauhkan dirinya dari Tuhan, dunia tercerai dari surga. Antara jurang yang memisahkan itu, tiada hubungan. Tetapi melalui Kristus, dunia kembali dijembatani dengan surga. Dengan jasa-Nya sendiri, Kristus telah menjembatani jurang yang dibuat dosa, sehingga malaikat-malaikat yang melayani dapat berhubungan dengan manusia. Kristus menghubungkan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa itu dan di dalam kelemahan dan keadaan tiada daya itu, dengan sumber kuasa yang tiada batasnya.

Tetapi sia-sialah impian-impian akan kemajuan, segala usaha mereka meninggikan manusia, jika mereka melupakan satu-satunya sumber pengharapan dan pertolongan bagi umat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, di turunkan dari Bapa segala terang” (Yakobus 1:17), yaitu berasal dari Allah Bapa. Tiada kemuliaan tabiat yang sempurna kalau tidak dari Dia. Dan satu-satunya jalan kepada Allah ialah Kristus. Kata-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

—bersambung—

salam :wink:
TYM

—Berlanjut, 01/05/2015—

Hati Allah rindu terhadap anak-anak-Nya yang di dunia dengan satu kasih yang lebih kuat daripada kematian. Di dalam memasrahkan Anak-Nya itu, Dia telah memasrahkan kepada kita segenap surga di dalam satu pemberian kehidupan Juruselamat dan kematian serta pengantaraan-Nya, pelayanan malaikat-malaikat, Roh yang memohonkan, Allah Bapa bekerja di atas dengan segala perkara, perhatian yang tiada putus-putusnya dari makhluk-makhluk surga semuanya dikerahkan demi penebusan umat manusia.

Oh, marilah kita renungkan pengorbanan yang ajaib yang telah dibuat untuk kita! Marilah kita coba menghargai pekerjaan dan tenaga surga yang telah dikerahkan untuk merebut yang hilang serta membawa mereka kembali ke rumah Bapa.

upah yang besar, kesenangan surga, pergaulan para malaikat, hubungan dan kasih Allah dan Anak-Nya, peninggian dan perluasan segala kuasa kita sampai selama-lamanya–bukankah ini pendorong yang maha kuat dan memberi keberanian mendorong kita menyerahkan pelayanan kasih kepada Khalik dan Penebus kita?

Dan sebaliknya, hukuman yang dinyatakan Allah untuk melawan dosa, pembalasan yang tidak terelakkan, dari hal kerendahan tabiat kita, dan kebinasaan yang terakhir, sudah diterangkan di dalam Firman Tuhan untuk mengamarkan kita supaya melawan pekerjaan Setan.

Apakah kita meremehkan anugerah Allah itu? Apalagi yang patut dilakukan-Nya? Marilah kita taruh diri kita sendiri di dalam hubungan yang baik dengan Dia yang telah mengasihi kita dengan kasih yang ajaib. Marilah kita menggunakan bagi diri kita kesempatan yang telah diberikan-Nya kepada kita supaya kita dapat diubahkan menjadi serupa dengan Dia, dan dipulihkan kembali ke dalam persahabatan dengan malaikat-malaikat yang melayani, ke dalam hubungan yang harmonis dengan Allah Bapa dan Anak itu.

Bab 2 Selesai,
Berlanjut Besok, Bab III

:wink:
salam

TYM

berlanjut, 06/01/2016

Bab 3.
AKUILAH KESALAHANMU

Bagaimanakah seorang manusia dapat benar di hadapan Allah? Bagaimanakah orang berdosa itu dapat dibenarkan? Hanya melalui Kristuslah kita dapat rukun dengan Allah, dengan kesucian,

tetapi bagaimanakah kita datang kepada Kristus?
Banyak orang yang menanyakan pertanyaan yang serupa itu, sebagaimana yang juga ditanyakan orang banyak pada Hari Pentakosta, ketika dosanya ditunjukkan, mereka berseru: “apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka: “Hendaklah kamu bertobat,” Kisah 2:37,38. Pada saat yang lain dengan singkat dikatakannya: “Karena itu sadarlah dan bertobatlah supaya dosamu dihapuskan” (Kisah 3:19).

Di dalam pertobatan termasuk penyesalan akan dosa dan berpaling dari padanya. Kita tidak akan meninggalkan dosa itu kecuali kita melihat betapa jahatnya dosa-dosa itu; sebelum kita mengenyahkannya dari dalam hati kita, tidak akan ada perubahan yang sesungguhnya di dalam kehidupan.

Banyak orang yang gagal mengerti keadaan yang sesungguhnya daripada pertobatan itu. Orang banyak merasa sedih karena mereka telah berbuat dosa dan mengadakan pembaruan secara lahiriah karena mereka takut terhadap perbuatan yang salah yang dilakukan mereka akan membawa bencana kepada diri mereka sendiri. Tetapi bukan pertobatan yang semacam ini yang dikatakan di dalam Alkitab.

Mereka meratapi kesengsaraan melebihi dosa itu sendiri. Demikianlah duka yang dialami oleh
Esau ketika hak sulungnya hilang untuk selama-lamanya.
Balhum, takut karena Malaikat berdiri di tengah jalannya dengan pedang yang terhunus, mengaku kesalahannya supaya nyawanya jangan hilang tetapi bukan itulah pertobatan sejati terhadap dosanya, tiada perubahan maksud, tiada kemuakan akan kejahatan.
Yudas Iskariot, setelah mengkhianati Tuhannya berseru: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah”(Matius 27:4). Pengakuan terdorong dari jiwanya yang merasa bersalah dengan perasaan akan hukuman yang dahsyat dan satu pandangan yang menakutkan atas pehukumannya. Akibat-akibat yang ditanggungnya memenuhi dirinya dengan perasaan dahsyat, namun tiada berakar dalam, dengan hati yang hancur di dalam jiwanya, karena dia telah mengkhianati Anak Allah yang tiada bersalah sama sekali serta menyangkal Yang Maha Suci orang Israel.
Firaun, yang mengakui salahnya untuk menghindarkan hukuman yang berikutnya, bahkan kembali melawan Allah begitu kutuk itu dihentikan.

Semua ratapan semacam ini hanyalah akibat-akibat dosa itu, tetapi bukan karena berduka cita atas dosa itu sendiri.

untuk menjawab bagaimana pertobatan yang benar [b]Berlanjut Besok[/b

:wink:
salam

TYM

Berlanjut, Kamis, 07/01/2015

Tetapi apabila hati menyerah kepada pengaruh Roh Allah, maka hati nurani akan dihidupkan, dan orang yang berdosa akan melihat hal-hal yang dalam dan kekudusan hukum Allah yang suci, dasar pemerintahan Allah di surga dan dunia.

Karena “Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia,” menerangi segenap sudut yang gelap dalam jiwa itu, dan hal-hal yang tersembunyi di dalam kegelapan dinyatakan (Yohanes 1:9). Keyakinan mencekam hati dan pikiran. Orang yang berdosa beroleh satu perasaan gentar untuk menghadap, di dalam kesalahan dan ketidaksuciannya sendiri, di hadapan Allah yang menyelidik hati manusia. Dia memandang kasih Allah, keindahan kesucian, kegembiraan kesucian, dia ingin disucikan dan dipulihkan dalam hubungan dengan Surga.

Doa Daud setelah kejatuhannya menggambarkan keadaan duka sejati atas dosa itu. Pertobatan yang jujur dan dengan hati tulus dan dalam. Padanya tidak ada usaha meringankan kesalahannya; tiada keinginan melarikan diri dari pehukuman yang mengancam, membuat dia tekun dalam doa. Daud melihat betapa besarnya pelanggaran yang mengancam, membuat dia tekun dalam doa. Daud melihat betapa besarnya pelanggaran yang diperbuatnya, diketahuinya jiwanya yang kotor, ia benci terhadap dosanya. Bukan saja keampunan yang dimintanya, tetapi juga hati yang sejati. Dia merindukan kegembiraan yang kudus supaya dipulihkan selaras dengan hubungan kepada Allah.

Inilah ungkapan jiwanya. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!

*Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu!” (Mazmur 32:1,2).
*“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
*Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.
*Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.
*Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.
*Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju… Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!
Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus daripadaku!
*Bangkitkanlah kembali kepadaku kegirangan karena selamat yang daripada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu. Lepaskanlah aku dari utang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu! Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu” (Mazmur 51:2-17).



Satu pertobatan semacam ini di luar kemampuan kita untuk melengkapkannya; itu dapat diperoleh hanyalah dengan Kristus, yang telah terangkat ke atas dan telah memberikan segala karunia kepada manusia.

Justru di sinilah banyak orang yang sesat dan karena itu mereka gagal menerima bantuan yang ingin diberikan Kristus kepada mereka. Mereka kira bahwa mereka tidak dapat datang kepada Kristus kecuali pertama-tama mereka bertobat, dan pertobatan yang demikian menyediakan jalan keampunan atas dosa-dosa mereka.

Memang benar bahwa pertobatanlah yang pertama mendahului keampunan dosa-dosa; karena hanya orang yang telah hancur hatinya yang akan dapat merasakan perlunya seorang Juruselamat. Tetapi haruskah orang berdosa menunggu sampai dia telah bertobat sebelum dia menerima Kristus? Apakah pertobatan itu merupakan satu penghalang di antara orang yang berdosa dengan Juruselamat?

Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang berdosa harus bertobat sebelum dia dapat mengindahkan undangan Kristus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).
Kebajikan yang datang dari Kristus itulah yang menuntun orang menuju pertobatan yang sejati.

Rasul Petrus membuatnya dengan jelas di dalam ucapannya kepada orang-orang Israel manakala dia berkata: “Dialah yang telah ditinggilkan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kisah 5:31). Terlebih lagi kita tidak dapat bertobat tanpa Roh Kristus yang membangunkan hati nurani dan kita tidak dapat diampuni tanpa Kristus.

Kristuslah sumber tiap-tiap penggerak yang benar. Dialah satu-satunya yang dapat menanamkan di dalam hati itu sifat melawan dosa. Tiap-tiap keinginan akan kebenaran dan kesucian, setiap keyakinan kesadaran akan dosa-dosa kita sendiri, adalah merupakan bukti bahwa Roh Kristus bergerak di dalam hati kita.

Yesus berkata: “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik orang datang kepada-Ku” (Yohanes 12:32). Kristus haruslah dinyatakan kepada orang berdosa sebagai Juruselamat yang mati untuk dosa-dosa dunia; dan kalau kita menatap pada Domba Allah yang tergantung di kayu salib Golgota, rahasia penebusan mulai dibuka ke dalam pikiran kita dan kebaikan Tuhan akan menuntun kita menuju pertobatan. Di dalam kematian bagi orang-orang berdosa, Kristus menunjukkan satu kasih yang tiada terduga dalamnya, dan kalau orang yang berdosa memandang pada kasih ini, maka hatinya akan dilembutkan, hatinya hancur, dan penyesalan pun timbul di dalam jiwanya.

—Bersambung— :wink:

salam
TYM

Berlanjut, Jumat, 08/01/2015

Memang benar bahwa manusia itu kadang-kadang malu terhadap jalan-jalannya yang penuh dosa serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk, sebelum mereka sadar bahwa mereka sedang tertarik kepada Kristus. Satu pengaruh yang tidak mereka sadari bekerja di dalam jiwa mereka, sehingga hati nurani dibangunkan, dan kehidupan tabiat pun diperbaiki. Manakala Kristus menarik mereka supaya menatap pada salib-Nya, menatap Dia yang telah tertikam oleh karena dosa-dosa mereka itu, maka mulailah hukum Tuhan bermukim di dalam hati nurani. Jahatnya kehidupan mereka, dalamnya dosa-dosa mereka berakar di dalam jiwa, diperlihatkan kepada mereka itu. Mereka mulai memahami sesuatu mengenai kebenaran Kristus serta berseru-seru: “Apakah dosa itu sehingga mengharuskan satu korban penebusan bagi orang-orang yang menjadi korbannya? Apakah semua kasih, segala derita, segala kehinaan ini dituntut, supaya kami jangan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal?

Orang berdosa mungkin menolak kasih ini, dapat menolak ditarik pada Kristus; tetapi jika dia tidak menolaknya maka dia akan ditarik pada Kristus, satu pengetahuan tentang rencana keselamatan akan menuntun dia ke kaki salib di dalam pertobatan dari dosa-dosanya, yang telah mendatangkan kesengsaraan yang begitu besar terhadap Anak Allah yang kekasih.

Pikiran Ilahi yang demikian yang juga bekerja di atas alam kejadian berbicara ke dalam hati manusia dan menciptakan satu kerinduan yang tak terlukiskan terhadap sesuatu yang tiada dimiliki mereka. Perkara-perkara dunia ini tidak memuaskan kerinduan mereka. Roh Tuhan memohon bersama mereka untuk mencari perkara-perkara yang satu-satunya dapat memberikan damai sejahtera karunia Kristus, yaitu kegembiraan akan kesucian. Melalui pengaruh-pengaruh yang tidak kelihatan dan yang kelihatan, Juruselamat kita senantiasa bekerja menarik pikiran manusia dari kesenangan-kesenangan dosa yang tidak memuaskan itu kepada berkat-berkat yang tiada batasnya yang dapat mereka peroleh di dalam Dia.
Bagi semua jiwa-jiwa seperti ini, yang dengan sia-sia mencari minuman dari cawan dunia yang pecah ini, pekabaran Ilahi disampaikan. “Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil kehidupan dengan cuma-cuma!”( Wahyu 22:17).

Engkau yang merindukan sesuatu yang lebih baik daripada yang dapat diberikan dunia ini, mengenal kerinduan ini sebagai suara Allah bagi jiwamu. Pintalah pada-Nya supaya memberikan pertobatan, untuk menyatakan Kristus padamu di dalam kasih-Nya yang tiada batasnya, di dalam kekudusan-Nya yang sempurna. Di dalam kehidupan Kristus prinsip-prinsip hukum Allah–kasih kepada Allah dan manusia–diterangkan dengan jelas.

Kemurahan, kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, adalah kehidupan jiwa-Nya. Sementara kita memandang pada-Nya, sementara terang yang datang dari Juruselamat kita menerangi kita, maka kita melihat hati kita sendiri yang penuh dengan dosa.

Mungkin kita memuji-muji diri kita sendiri seperti yang dilakukan Nikodemus, bahwa kehidupan kita telah benar, tabiat kita mulia dan mengira bahwa kita tidak perlu lagi merendahkan hati di hadapan Tuhan, seperti orang berdosa pada umumnya; tetapi apabila kita melihat terang Kristus yang bersinar menerangi jiwa-jiwa kita, maka akan tampak kepada kita betapa tidak sucinya kita; kita akan melihat motif-motif yang mementingkan diri kita sendiri, bertentangan dengan Tuhan Allah, yang telah mencemarkan tiap-tiap tingkah laku kehidupan kita. Barulah kita mengetahui bahwa kebenaran kita sesungguhnya bagaikan kain yang buruk dan kotor, sehingga hanya darah Kristus sendirilah yang dapat membasuhkan hati kita dalam teladan-Nya sendiri.

Seberkas sinar kemuliaan Allah, sepercik sinar kesucian Kristus, menembusi jiwa, membuat setiap noda kecemaran itu nyata sekali, dan membentangkan kekurangan dan keburukan tabiat manusia, diperlihatkan keinginan-keinginan yang cemar, hati yang kurang percaya, bibir yang najis. Perbuatan-perbuatan manusia yang tidak senonoh di dalam melanggar hukum Allah, dibentangkan di hadapannya, dan jiwanya di lukai serta diusahakan di bawah pengaruh Roh Allah yang tajam. Dia muak akan dirinya sendiri apabila dipandangnya kesuciannya, tabiat Kristus yang tiada nodanya.

—Bersambung—

salam
TYM

Berlanjut, Sabtu, 09/01/2015

Manakala Nabi Daniel memandang kemuliaan yang mengitari juru kabar surga yang dikirim padanya, dia ditudungi satu perasaan kelemahan-kelemahan dan ketidaksempurnaan dirinya. Dalam melukiskan efek pemandangan yang menakjubkan itu dia berkata: “hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku” (Daniel 10:8). Jiwa yang telah disentuh-Nya akan membenci rasa mementingkan diri sendiri, benci terhadap sifat cinta diri sendiri, lalu akan mencari, melalui kebenaran Kristus, kesucian hati yang seirama dengan hukum Taurat dan sifat Kristus.

Paulus mengatakan bahwa di dalam “mengajarkan kebenaran hukum Taurat aku tidak bercacat.” (Filipi 3:6); tetapi apabila sifat rohani hukum itu yang dipandang maka dia melihat dirinya sebagai seorang yang berdosa. Menurut huruf hukum itu sebagaimana manusia menggunakannya dalam kehidupan secara lahiriah, maka dia lepas dari dosa; tetapi apabila dia memandang ke dalam kedalaman peraturan-peraturan yang suci itu serta membandingkan dirinya sendiri sebagaimana Tuhan memandang dia, dia tunduk di dalam kerendahan hati lalu mengakui kesalahannya. Katanya: “Dulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup”(Roma 7:9). Apabila dia memandang keadaan rohani hukum itu, dosa tampak dalam kekejiannya yang sebenarnya, dan pemegahan dirinya sendiri pun lenyaplah.

Allah bukannya memandang semua dosa itu sama besarnya; ada ukuran kesalahan di dalam timbangan-Nya, sebagaimana pada manusia itu sendiri; tetapi betapa kecil pun kesalahan ini dan itu menurut pandangan manusia, tiada dosa kecil di hadapan Allah. Pertimbangan manusia berat sebelah, mementingkan diri sendiri, tidak sempurna, tetapi ukuran Allah atas segala sesuatu adalah sebagaimana adanya yang sesungguhnya. Seorang pemabuk dihinakan dan telah dikatakan bahwa dosanya akan mengasingkan dia dari surga; sementara keangkuhan Roh mementingkan diri sendiri, dan ketamakan terlalu sering dibiarkan. Tetapi dosa-dosa inilah yang terutama dibenci Allah karena bertentangan dengan kemurahan tabiat-Nya, terhadap kasih yang tiada mementingkan diri sendiri yang merupakan suasana alam semesta yang tidak jatuh ke dalam dosa. Orang yang jatuh ke dalam sejumlah dosa-dosa dapat merasakan satu perasaan malu dan kemiskinan serta merasakan keperluannya akan anugerah Kristus, tetapi perasaan angkuh tidak merasa perlunya, sehingga menutup hati melawan Kristus serta berkat-berkat yang tiada batasnya yang mana Dia telah datang untuk mengaruniakannya.

Pemungut cukai yang berdoa kepada Tuhan “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Lukas 18:13) menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang jahat, serta orang lain menatap padanya demikian, namun dia merasakan keperluannya, dan dengan beban kesalahannya serta yang memalukannya dia menghadap Tuhan, memohon kemurahan-Nya hatinya telah terbuka terhadap Roh Allah untuk melakukan pekerjaan kemurahan itu serta membebaskan dia dari kuasa dosa. Kesombongan orang-orang Farisi, doa pembenaran diri sendiri yang ditunjukkannya membuat hatinya tertutup dan melawan pengaruh Roh Suci. Karena jaraknya jauh dari pada Tuhan Allah, dia tidak mempunyai perasaan diri yang cemar, berlawanan dengan kesempurnaan kesucian Ilahi. Dia tidak merasa kekurangan apa-apa, sehingga dia pun tidak menerima apa-apa.

Jika engkau melihat dosa-dosamu dan merasakannya, janganlah lalai memperbaiki dirimu sendiri.

—Bersambung—

salam
TYM

Berlanjut, Minggu 10/01/2016

Betapa banyak orang yang menganggap dirinya tidak layak datang kepada Kristus. Apakah engkau berharap supaya menjadi lebih baik dengan usaha-usahamu sendiri? “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” Yeremia 13:23. Hanya di dalam Allah saja kita dapat memperoleh pertolongan. Kita seharusnya janganlah menunggu bujukan-bujukan yang lebih kuat, untuk kesempatan-kesempatan yang lebih baik, atau perangai yang lebih suci. Kita tidak dapat berbuat sesuatu dengan diri kita sendiri. Kita harus datang kepada Kristus sebagaimana adanya.

Tetapi janganlah ada seorang pun yang menipu dirinya sendiri dengan anggapan bahwa Allah, di dalam kasih-Nya yang agung dan berkemurahan, akan menyelamatkan orang-orang yang menolak karunia-Nya. Dosa-dosa yang terbesar dapat ditimbang hanyalah di dalam terang salib itu. Bila orang mengatakan bahwa Allah terlalu baik untuk mencampakkan orang yang berdosa, biarlah dia memandang pada salib Golgota. Karena tiada jalan lain lagi di mana manusia dapat melepaskan diri dari kuasa dosa yang menajiskan dan dapat dipulihkan untuk berhubungan dengan makhluk-makhluk yang suci–mustahil bagi mereka menjadi orang yang turut ambil bagian dalam kehidupan rohani itu–oleh karena inilah Kristus telah menanggung atas Diri-Nya sendiri kesalahan orang yang tidak menurut dan menderita di dalam sengsara orang berdosa. Kasih, penderitaan, dan kematian anak Allah semuanya menyaksikan betapa dahsyatnya dosa, serta menyatakan bahwa tiada kelepasan dari kuasa itu, tiada pengharapan hidup yang lebih tinggi, kecuali melalui penyerahan jiwa kepada Kristus.

Orang-orang berdosa sering memaafkan diri mereka sendiri dengan mengatakan celaan kepada orang yang mengaku dirinya orang Kristen. “Saya juga sama baik dengan mereka itu. Mereka tidak mempunyai penyangkalan diri sendiri, sabar atau berhati-hati di dalam alam tingkah laku mereka sama seperti saya. Mereka senang kepelesiran dan memanjakan nafsu diri sendiri, sama juga dengan saya.
[u]” Dengan demikian mereka membuat kesalahan-kesalahan orang lain sebagai maaf atas kelalaian mereka terhadap kewajiban mereka.[/u Tetapi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan orang lain tidak memaafkan siapa pun, karena Tuhan Allah tidak pernah menunjukkan teladan yang salah kepada umat manusia. Anak Allah yang tiada bercela telah di karuniakan sebagai teladan kita, dan barangsiapa yang bersungut atas kesalahan orang yang mengaku dirinya Kristen adalah seorang yang harus menunjukkan hidup yang lebih baik dan teladan yang lebih mulia. Jika mereka mempunyai sebuah konsep yang amat tinggi dari hal bagaimana seharusnya orang Kristen itu, bukankah dosa mereka yang terlebih besar? Mereka mengetahui apa yang benar, tetapi tidak mau melakukannya.

Waspadalah terhadap penundaan-penundaan. Jangan lengah membuangkan dosa-dosamu serta mencari kesucian hati melalui Kristus. Di dalam hal seperti inilah ribuan orang yang telah tersesat dan menemui kebinasaannya untuk selama-lamanya.

Saya tidak akan tunjukkan di sini singkat dan tiadanya ketentuan hidup itu; tetapi ada satu bahaya yang mengerikan–satu bahaya yang tidak begitu dipahami–menunda-nunda menyerah pada bisikan suara Roh Allah, memilih hidup di dalam dosa; beginilah penundaan yang sebenarnya itu.

Dosa, betapa kecil pun anggapan atasnya, jikalau selalu dilakukan akhirnya akan membinasakan jiwa. Apa yang kita taklukkan, akan menaklukkan kita dan mendatangkan kebinasaan atas diri kita sendiri.

Adam dan Hawa meyakin-yakinkan diri mereka sendiri bahwa di dalam perkara kecil seperti memakan buah pohon larangan itu tidak akan mendatangkan akibat yang mengerikan seperti yang pernah dikatakan oleh Tuhan Allah. Tetapi perkara kecil ini adalah pelanggaran atas hukum Allah yang suci dan tak dapat diubah, itulah yang memisahkan manusia dari Allah lalu membuka pintu banjir kematian serta malapetaka atas dunia kita ini. Abad demi abad telah bangkit dari dunia ini teriak ratapan yang tidak kunjung putus-putusnya, dan semua ciptaan menanggung akibat pendurhakaan manusia. Surga sendiri telah merasakan akibat pemberontakan melawan Allah. Bukit Golgota merupakan tugu peringatan pengorbanan yang menakjubkan yang diharuskan grafirat atas pelanggaran terhadap hukum Ilahi. Janganlah kita anggap dosa sebagai perkara kecil.

—Bersambung—

salam
TYM

berlanjut, Senin, 11/01/2016

Tiap-tiap pelanggaran, tiap-tiap kelalaian atau penolakan atas anugerah Kristus, mendatangkan reaksi atas dirimu sendiri; yaitu mengeraskan hati, merusak kemauan, mematikan pengertian, bukan saja membuat engkau kurang ingin berserah tetapi juga kurang mampu berserah terhadap bujukan Roh Suci Allah yang lemah lembut.

Banyak orang yang mendiamkan hati nurani dengan anggapan bahwa mereka dapat mengubah jalan yang jahat kapan saja mereka kehendaki; bahwa mereka meremehkan undangan-undangan karunia itu, namun pun demikian berulang-ulang hati mereka digerakkan. Mereka kira bahwa sesudah melakukan hal-hal yang merendahkan karunia Roh itu, setelah melontarkan diri mereka ke dalam pengaruh pihak Setan, nanti pada saat keadaan yang dahsyat mereka dapat mengubah jalannya. Tetapi ini tidak mudah dilakukan. Pengalaman, pendidikan, sepanjang hidup, telah membentuk tabiat sedemikian rupa sehingga hanya sedikit saja yang kemudian ingin menerima gambar Kristus.

Meski satu sifat tabiat yang salah, satu keinginan yang penuh dosa, jika terus menerus dilakukan dan ditimang-timang akan merusakkan semua kuasa Injil. Tiap-tiap perbuatan jahat yang dimanjakan mengukuhkan jiwa tidak senang terhadap Allah. Orang yang menunjukkan kekuatan yang tak beriman, atau pendirian yang sama sekali tidak peduli akan kebenaran Ilahi, akan menuai tuaian yang ditanaminya sendiri.

Di dalam Alkitab tiada satu amaran yang lebih menakutkan bagi orang yang membuang-buang waktu untuk melawan kejahatan seperti ucapan raja Salomo yang bijaksana, bahwa orang fasik “tertangkap dalam kejahatannya, dan terjerat dalam tali dosanya sendiri” (Amsal 5:22).

Kristus telah bersedia melepaskan kita dari dosa, tetapi kehendak kita tidaklah dipaksa-Nya; tetapi jika pelanggaran-pelanggaran masih terus saja dilakukan maka kemauan itu sendiri dikeraskan kepada kejahatan, sehingga kita tidak ingin lagi bebas, dan jika kemauan tidak menerima karunia-Nya, apa lagi yang dapat Dia perbuat? Kita telah membinasakan diri kita sendiri dengan menentukan penolakan kita atas kasih-Nya. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.”(1 Kor. 6:2; Ibr. 3:7,8.)

“Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi… tetapi Tuhan melihat hati.” Hati manusia, dengan pergulatan-pergulatan perasaan gembira dan duka; hati yang mengembara dan sesat, tempat tinggalnya sekian banyak kecemaran dan tipu daya. (I Samuel 16:7). Tuhan mengetahui segala motif dan maksud tujuan. Pergilah pada-Nya dengan segala beban jiwamu yang cemar. Seperti pemazmur, bukalah bilik-bilik hatimu di hadapan Tuhan yang melihat segala sesuatu, seraya berkata: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”(Mazmur 139:23,24).
Banyak orang yang beragama secara pikiran saja, seolah-olah dalam bentuk satu kepribadian, sedang hatinya tidak dibersihkan. Biarlah doamu seperti berikut: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaruilah batinku dengan roh yang teguh!”(Mazmur 51:12). Jujurlah terhadap dirimu sendiri! Jujur dan tuluslah serta teguh, seolah-olah hidupmu yang fana ini diancam bahaya maut. Inilah masalah yang harus diselesaikan untuk selama-lamanya. Pengharapan yang direka-reka tidak lebih daripada akan mendatangkan kebinasaan jiwamu saja.

Pelajarilah Firman Allah dengan penuh doa. Firman itu menampilkan ke hadapanmu hukum Allah dan kehidupan Kristus, prinsip-prinsip besar mengenai kesucian tanpa kesucian itu, “tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Ia meyakinkan kita dari hal dosa; dinyatakannya dengan jelas keselamatan itu. Dengarkanlah baik-baik padanya seperti suara Allah yang berbicara kepada jiwamu.

Jikalau engkau melihat jahatnya dosa itu dan jika engkau melihat dirimu sebagaimana adanya, janganlah putus asa. Kristus telah datang untuk menyelamatkan orang-orang yang berdosa. Kita tidak mendamaikan Allah kepada kita, tetapi - - O kasih yang maha ajaib!-- Sebab “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus.” (2 Korintus 5:19). Dengan kasih dibujuk-Nya hati anak-anak-Nya yang telah tersesat.



Tiada orangtua di dunia ini yang begitu sabar terhadap kesalahan-kesalahan dan dosa anak-anaknya seperti kesabaran Allah terhadap orang-orang yang diusahakan untuk menyelamatkannya. Tiada bujukan manusia yang lebih lembut daripada bujukan terhadap orang yang melanggar. Tiada bibir manusia yang pernah mencurahkan kelembutan yang melebihinya, kepada orang yang tersesat, daripada yang dilakukan-Nya, semua janji-janji-Nya, peringatan-peringatan yang diberikan-Nya; semata-mata pernyataan kasih yang tidak terucapkan.

Apabila Setan datang mengatakan padamu bahwa engkau adalah seorang yang besar dosanya, pandanglah kepada Juruselamatmu dan bicaralah mengenai pengorbanan-Nya. Itulah yang dapat membantu engkau memandang kepada terang-Nya. Akuilah dosamu, bahkan katakan kepada musuh itu bahwa “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa” dan engkau pun dapat diselamatkan oleh kasih-Nya yang tiada taranya.(1Tim.1:15).

Yesus pernah menanyakan kepada Simon sebuah pertanyaan tentang dua orang yang berutang. Salah seorang di antaranya berutang pada tuannya dengan jumlah yang besar dan yang lain sangat sedikit, tetapi majikannya menghapuskan utang kedua-duanya, dan Kristus menanyakan siapakah dari antara keduanya yang lebih mengasihi majikannya. Lalu jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapus utangnya” (Lukas 7::43). Kita adalah orang-orang yang berdosa besar, tetapi Kristus telah mati supaya kita diampuni. Jasa pengorbanan-Nya cukup lengkap di hadapkan kepada Allah Bapa demi kepentingan kita. Orang yang paling banyak mendapat keampunan daripada-Nya akan lebih mengasihi Dia pula, dan akan berdiri dekat sekali ke takhta-Nya yang tiada taranya. Kalau kita betul-betul memahami kasih Allah maka kita pun akan menyadari jahatnya dosa itu. Apabila kita melihat panjangnya rantai yang memahami sesuatu dari hal pengorbanan yang tiada batasnya yang telah dilakukan Kristus demi kita, maka hati pun akan diluluhkan dalam kelembutan dan penyesalan.

—Bab III Selesai—
besok berlanjut Bab IV.

salam.
TYM

Berlanjut, Selasa, 12/01/2016

Bab IV, PERTOBATAN

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkan akan disayangi” (Amsal 28:13).
Syarat-syarat untuk memperoleh kemurahan Tuhan Allah adalah sederhana, adil dan pantas. Tuhan Allah tidak mengharuskan kita melakukan hal yang amat sulit supaya kita dapat memperoleh keampunan dosa. Kita tidak perlu mengadakan perjalanan yang panjang dan meletihkan, atau membuat tebusan Tuhan yang di surga atau untuk melenyapkan pelanggaran-pelanggaran kita; melainkan orang yang mengaku dan meninggalkan dosanyalah yang akan mendapat kemurahan. Seorang rasul berkata: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh” (Yakobus 5:16).

Akuilah dosamu kepada Tuhan Allah, hanya dialah yang dapat mengampuninya, demikian pula kesalahanmu kepada satu dengan yang lain. Jikalau engkau menghina sahabat atau tetanggamu, engkau harus mengakui kesalahanmu, maka adalah kewajibannya mengampuni engkau. Kemudian carilah keampunan Allah, karena saudara yang telah engkau lukai hatinya adalah milik Allah, dan dengan melukai dia berarti engkau berdosa melawan Khalik dan penebusnya. Masalah itu sampai ke hadapan Pengantara yang sejati yang hanya satu-satunya itu, yakni Imam Besar kita yang telah, “dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” dan karenanya dapat membasuhkan kita dari setiap noda kesalahan kita. (Ibrani 4:15.)

Orang-orang yang belum merendahkan dirinya di hadapan Allah dengan jalan mengakui kesalahan mereka, berarti belumlah memenuhi syarat pertama penerimaan itu. Jika kita belum mengalami pertobatan yang tidak perlu disesalkan, serta belum mempunyai rendah hati yang sejati dalam jiwa dan roh pengakuan yang luluh mengakui dosa-dosa kita, jijik akan kesalahan-kesalahan kita, berarti kita belum berusaha dengan sungguh-sungguh mencari keampunan dosa; dan jika kita tidak pernah mencarinya dengan sungguh-sungguh maka kita tidak akan pernah mendapat damai Allah. Satu-satunya sebab mengapa kita tidak mendapat keampunan dosa-dosa kita pada masa lampau ialah karena kita tidak mau merendahkan hati serta menurut syarat-syarat Firman kebenaran itu. Petunjuk-petunjuk yang jelas telah diberikan mengenai hal ini.

Pengakuan dosa, apakah di hadapan orang banyak atau hanya sendirian, haruslah dengan penuh hati dan dinyatakan dengan tulus. Bukannya harus karena terpaksa dari orang yang berdosa itu. Bukan pula dengan cara sembrono dan remeh, atau dipaksa dari orang-orang yang tidak menyadari rasa jijiknya sifat dosa itu. Pengakuan yang mengalir dari segenap jiwa berjalan menuju Allah yang mempunyai kasih tiada batasnya. Penulis Mazmur berkata seperti berikut: “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mazmur 34:19).

Pengakuan yang sesungguhnya senantiasa merupakan satu sifat yang unik, serta mengakui dosa-dosa khusus pula. Mungkin keadaan dosanya itu demikian rupa sehingga harus dibawa ke hadapan Allah saja; mungkin pula kesalahan-kesalahan mereka itu haruslah diakui kepada orang-orang yang telah menderita karenanya, atau mungkin pula kesalahan yang dilakukan di hadapan orang banyak, maka perlu diakui di hadapan orang banyak. Tetapi semua pengakuan haruslah pasti langsung pada sasarannya, mengakui dosa yang nyata-nyata telah dilakukan.

—Bersambung—
Salam

TYM

–Berlanjut-- Rabu, 13 January 2016

Pada zaman Nabi Samuel orang-orang Israel jauh sesat dari Tuhan. Mereka telah menderita menanggung akibat dosa mereka, karena mereka telah kehilangan iman dalam Tuhan, kehilangan kearifan akan kuasa serta kebijaksanaan Tuhan dalam memerintah bangsa, hilang keyakinan dan mempertahankan pekerjaan-Nya. Mereka berpaling dari Pemerintah yang besar atas semesta alam dan mereka ingin memerintah sebagaimana bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Sebelum mereka mendapat damai mereka membuat pengakuan yang pasti seperti berikut: “Sebab dengan meminta raja bagi kami, kami menambah dosa kami dengan kejahatan ini” (1 Samuel 12:19). Dosa yang mereka sadari itulah yang harus diakui. Rasa tak berterima kasih mereka menekan jiwa-jiwa mereka serta memisahkan mereka dari Allah.

Tanpa pertobatan dan pembaruan yang sejati pengakuannya tidak akan diterima Allah. Harus ada perubahan yang pasti di dalam kehidupan; segala sesuatu yang sifatnya menyerang Allah haruslah dibuangkan. Inilah hasil yang murni dari penyesalan kita akan dosa itu. Pekerjaan yang hendak kita lakukan amat jelas dipampangkan di hadapan kita: “Basuhlah bersihkanlah dirimu jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikan orang kejam. Belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”(Yesaya 1:16,17). “Orang jahat itu mengembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti peraturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia pasti hidup, ia tidak akan mati” (Yehezkiel 33:15).

Berbicara mengenai pekerjaan pertobatan ini Paulus berkata “Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu” (2 Korintus 7:11).

Apabila dosa sudah mematikan ajaran-ajaran moral, maka orang-orang yang berdosa tidak akan dapat lagi melihat kekurangan tabiatnya atau pun menyadari hebatnya kejahatan yang telah dilakukannya; jadi kecuali dia menyerah dalam kuasa Roh Kudus yang meyakinkannya maka dia masih tetap tinggal buta terhadap dosa-dosanya. Pengakuan-pengakuan yang diadakannya tidak sungguh-sungguh dan tulus hati. Terhadap pengakuan segala dosanya selalu ditambahi dalih-dalih mengatakan bahwa kalau bukan karena situasi tertentu dia tidak akan pernah melakukan ini dan itu atas hal mana dia ditegur.

Sesudah Adam dan Hawa memakan buah pohon larangan itu, mereka dipenuhi satu perasaan malu dan takut. Mula-mula yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana mencari dalih atau maaf atas dosa mereka lalu lepas dari hukuman maut yang menakutkan itu. Ketika Tuhan Allah menanyakan dari hal dosa mereka, maka Adam menyahut, menyalahkan Tuhan dan teman hidupnya. “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan” (Kejadian 3:12,13). Mengapa Engkau jadikan ular itu? Mengapa engkau membiarkannya datang ke taman Eden? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang terselubung di dalam dalihnya atas dosanya, justru menuduh Allah bertanggung jawab atas kejatuhan mereka kepada dosa.

Roh pembenaran diri sendiri bermula di dalam bapa segala dusta itu dan telah ditunjukkan pula oleh semua putra-putri Adam. Pengakuan-pengakuan semacam ini bukanlah diilhamkan oleh Roh Allah dan tidak akan diterima Tuhan. Pertobatan yang sejati akan menuntut manusia untuk menanggung kesalahannya sendiri serta mengakuinya tanpa tipu atau kemunafikan. Seperti seorang pemungut cukai yang tidak berani mengangkat kepalanya menengadah ke langit, dia berseru: “Ya Allah, kasihankanlah aku yang berdosa ini,” dan barangsiapa yang mengaku salahnya akan dibenarkan, karena Yesus memohonkan dengan darah-Nya demi jiwa yang bertobat.



Pelbagai teladan dari hal pertobatan yang murni dan kerendahan hati di dalam Firman Tuhan menunjukkan satu pengakuan di dalam mana tiada dalih untuk dosa atau usaha mencoba membenarkan diri sendiri. Rasul Paulus tidaklah berusaha menudungi dirinya sendiri; dia melukiskan dosanya dalam corak yang sehitam-hitamnya, tidak berusaha mengecilkan kesalahannya. Katanya, “Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing” (Kisah 26:10,11).

Dia tidak segan-segan menyatakan bahwa “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. Dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1 Tim. 1:15).

Hati yang hancur dan rendah hati, ditaklukkan oleh pertobatan yang sejati, akan menghargai sesuatu dari hal kasih Allah dan kematian di Golgota dan sebagai seorang anak yang mengaku dosanya kepada Bapa yang penuh kasih, demikianlah orang yang berdosa dengan sepenuh hati membawa semua dosa-dosanya ke hadapan Tuhan Allah. Dan ada tertulis, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yohanes 1:9).

Bab IV, Selesai

catatan:
walaupun Bab IV ini sangat singkat, tetapi pelajarannya luar biasa sekali, bagi teman teman yang rindu mengetahui pertobatan yang benar bagaimana, saranku bacalah Bab IV ini berulang ulang.

—Bersambung Besok Bab V—

:slight_smile:

salam
TYM

Berlanjut, Kamis 14/01/2016

Bab V, KEHENDAK BEBAS

Janji Allah ialah: “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati” (Yeremia 29:13).
Haruslah segenap hati diserahkan kepada Tuhan Allah, kalau tidak maka perubahan tidak akan pernah berlangsung di dalam diri kita, perubahan yang akan memulihkan kita menjadi seperti Dia. Dengan keadaan kita ini kita cerai dari Allah. Roh Kudus melukiskan keadaan kita dengan kalimat seperti berikut: “Kamu dulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya.” “Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu,” “tidak ada yang sehat.” (Efesus 2:1; Yesaya 1:5,6.) Kita telah di kungkung di dalam jerat Setan, “yang telah mengikat mereka pada kehendaknya,” (2 Timotius 2:26) Allah ingin menyembuhkan kita, membuat kita bebas. Tetapi karena ini memerlukan perubahan yang menyeluruh, pembaruan seluruh keadaan kita, kita harus menyerahkan segenap diri kita pada-Nya.

Peperangan melawan diri sendiri adalah merupakan peperangan yang terbesar yang pernah diadakan.

Penyerahan diri sendiri, memasrahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah, mengharuskan satu pergumulan; tetapi jiwa itu harus lebih dulu diserahkan kepada Allah barulah dapat dibarui di dalam kesucian.
Pemerintahan Allah bukanlah, seperti yang digambarkan Setan, didasarkan atas penyerahan yang buta, satu pengendalian yang tidak masuk di akal. Pemerintahan itu menarik pikiran dan hati nurani. “Marilah, baiklah kita berperkara!” adalah merupakan undangan Khalik Pencipta kepada makhluk ciptaan-Nya.(Yesaya 1:18.)

Allah tidak memaksa kehendak makhluk ciptaan-Nya. Tuhan tidak mau menerima perbaktian yang diberikan dengan pikiran dan kemauan yang tidak rela. Sebuah penyerahan yang demikian hanyalah membuat seseorang seperti tidak mempunyai pikiran. Bukan demikianlah yang dimaksud Khalik Pencipta. Tuhan Allah ingin supaya manusia itu, makhluk ciptaan-Nya yang mulia, akan mencapai pertumbuhan yang paling penting yang dapat dicapainya. Dia menaruh di hadapan kita puncak kemurahan, ke tempat mana Ia ingin membawa kita melalui karunia-Nya. Dia mengundang kita supaya memasrahkan diri kita kepada-Nya, supaya Dia dapat mengerjakan kehendak-Nya di dalam kita. Terserah kepada kitalah memilih apakah kita mau dilepaskan dari rantai dosa, dan mendapat bagian dalam kebebasan yang mulia dengan anak-anak Allah.

Dalam menyerahkan diri kita sendiri kepada Allah, kita harus menanggalkan semua hal-hal yang memisahkan kita daripada-Nya. Oleh karena itu Juruselamat berkata: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak dapat menjadi murid-Ku.”( Lukas 14:33). Apa pun yang menjauhkan hati dari Tuhan harus dienyahkan.

Banyak orang yang ber-ilahkan Mamon. Cinta uang, ingin kaya, adalah rantai emas yang mengikat mereka pada Setan. Golongan lain pula ber-ilahkan kemuliaan duniawi. Hidup menyenang-nyenangkan diri sendiri serta bebas dari tanggung jawab adalah berhala bagi orang yang lain juga. Tetapi rantai yang memperbudak ini harus di retas. Kita tidak boleh setengah-setengah milik Allah dan setengah-setengah milik dunia. Kita bukanlah anak-anak Allah kecuali kita berserah diri sepenuhnya.

Banyak orang yang mengaku menyembah Allah padahal mereka bergantung atas usaha-usaha mereka sendiri untuk menurut hukum-Nya, untuk membentuk sebuah tabiat yang benar, dan untuk mendapatkan keselamatannya; hati mereka bukannya digerakkan oleh perasaan yang mendalam akan kasih Kristus, melainkan mereka berusaha membentuk tanggung jawab-tanggung jawab hidup Kristen sebagaimana yang diwajibkan Allah bagi mereka dalam rangka memperoleh surga. Agama yang demikian tiada gunanya. Apabila Kristus berdiam di dalam hati, maka jiwa akan dipenuhi kasih-Nya, dengan hubungan yang menggembirakan hati, sehingga jiwa akan berpaut pada-Nya, dan di dalam merenung-renungkan Dia, diri sendiri haruslah dilupakan. Kasih kepada Kristus akan menjadi sumber pancaran perbuatan yang baik. Barangsiapa yang merasakan kasih Allah tidak akan menanyakan betapa kecilkah yang diberikan untuk memenuhi syarat-syarat tuntunan Allah, mereka tidak akan meminta ukuran yang rendah, melainkan bertujuan menuju kesempurnaan sesuai dengan kehendak Penebusnya. Dengan kerinduan yang sungguh-sungguh mereka memasrahkan semuanya dan menyatakan perhatian yang seimbang terhadap nilai benda yang mereka cari. Mengaku pengikut Kristus tanpa kasih mendalam seperti ini hanyalah omong kosong belaka, formalitas yang kering serta pekerjaan yang amat hina.

—Bersambung—
salam. :slight_smile:

TYM

Berlanjut, Sabtu 16/01/2016

Apakah engkau merasa penyerahan yang sepenuhnya kepada Kristus terlalu berat? Tanyalah kepada dirimu sendiri pertanyaan seperti berikut: “Apakah yang Kristus telah berikan kepadaku?” Anak Allah itu telah memasrahkan semuanya kasih dan hidup-Nya, serta penderitaan demi untuk menebus kita. Dan sampai hatikah kita, makhluk yang hina dengan kasih yang demikian besar, menjauhkan hati kita daripada-Nya? Setiap saat dari kehidupan kita, kita turut ambil bagian dalam karunia berkat-berkat-Nya, dan oleh karena itulah kita masih betul-betul belum menyadari dalamnya kebodohan dan kesengsaraan dari tempat mana kita telah diselamatkan. Dapatkah kita memandang Dia yang telah ditikam karena dosa-dosa kita, tapi menghinakan kasih dan pengorbanan-Nya yang begitu besar? Melihat Tuhan yang penuh kemuliaan itu merendahkan diri-Nya, patutkah kita bersungut-sungut karena kita dapat memasuki kehidupan itu hanya melalui peperangan dan merendahkan diri?

Banyak orang yang berhati sombong bertanya: “Apa perlunya bertobat dan merendahkan diri sebelum saya tahu dengan pasti bahwa Tuhan akan menerima saya?” Saya arahkan engkau kepada Kristus. Dia tiada berdosa sama sekali, dan lebih daripada ini, Dia adalah Putra Allah; tetapi demi kepentingan manusia Dia menjadi dosa bagi umat manusia. ‘Ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yesaya 53:12).
Tetapi apakah yang kita korbankan, apabila kita menyerahkan semuanya? Hati yang telah dikotori dosa supaya disucikan Yesus, dibasuhkan oleh darah-Nya sendiri, serta untuk diselamatkan dengan kasih-Nya yang tiada taranya. Namun orang masih mengira berat untuk menyerahkan semuanya itu! Saya merasa malu mendengar orang mengatakan demikian, malu pula menuliskannya.

Allah tidak mengharuskan kita menyerahkan segala sesuatu yang terbaik disimpan bagi keperluan kita sendiri. Di dalam segala sesuatu yang dilakukan-Nya, Dia selalu mengingat kebajikan anak-anak-Nya. Betapa sekiranya semua orang yang belum memilih Kristus itu dapat menyadari bahwa Dia (Tuhan) mempunyai sesuatu yang jauh lebih baik untuk diserahkan kepada mereka daripada yang mereka cari untuk diri mereka sendiri. Manusia mengerjakan kejahatan sendiri apabila dia berpikir dan bertindak melawan kehendak Allah. Tiada kegembiraan sejati yang didapat pada jalan yang dilarang oleh Dia yang mengetahui apa yang terbaik mengikhtiarkan kebaikan bagi makhluk ciptaan-Nya. Jalan pelanggaran adalah jalan kesengsaraan dan kebinasaan.

Salahlah anggapan bahwa Tuhan Allah senang melihat anak-anak-Nya menderita sengsara. Semua penghuni surga menaruh perhatian terhadap kebahagiaan manusia. Bapa kita yang di surga tidak menutup saluran kegembiraan makhluk ciptaan-Nya. Tuntutan-tuntunan Ilahi meminta kita supaya menjauhkan diri dari segala kemanjaan yang akan membawa sengsara dan kekecewaan, yang akan mengatupkan pintu kebahagiaan dan surga bagi kita. Penebus dunia menerima manusia itu sebagaimana adanya, dan dengan segala kekurangan-kekurangan mereka, ketidaksempurnaan mereka, kelemahan-kelemahannya; dan Dia bukan saja membasuhkan dari dosa serta memberi tebusan melalui darah-Nya, melainkan akan memuaskan kerinduan hati semua orang yang mau menanggung kuk-Nya, menanggung beban-Nya. Maksud-Nya ialah memberikan perdamaian dan sentosa kepada semua orang yang datang kepada-Nya meminta roti hidup. Dia menuntut kita supaya mengerjakan hanya tanggung jawab-tanggung jawab yang akan menuntun langkah-langkah kaki kita menuju kebahagiaan yang lebih tinggi yang tidak dapat diperoleh orang-orang yang durhaka. Kehidupan jiwa yang benar dan menggembirakan ialah dengan memperoleh Kristus di dalam hati, pengharapan kemuliaan itu.

—Bersambung—

salam
TYM

berlanjut, Minggu 17?01/2016

Banyak orang yang bertanya: “Bagaimanakah saya dapat memasrahkan diri saya sepenuhnya kepada Tuhan Allah?” Engkau ingin memasrahkan dirimu sendiri kepada Allah tetapi engkau lemah dalam kuasa moral, dikungkung kekhawatiran, serta dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan hidupmu yang penuh dosa. Janji-janji dan segala keputusan hatimu adalah bagaikan tali yang terbuat dari pasir. Engkau tidak mampu menguasai pikiran-pikiranmu, dorongan-dorongan hatimu, dan keinginanmu. Sadar akan janji-janji yang tidak dapat kau tepati serta tekad yang hilang begitu saja melemahkan keyakinanmu di dalam ketulusan hatimu, menyebabkan engkau merasa bahwa Allah tidak dapat menerima engkau; tetapi kau tidak perlu putus asa.

Apa yang perlu kau pahami ialah tenaga kemauan yang sejati. Inilah kuasa yang memerintahkan di dalam tabiat manusia, kuasa mengambil keputusan, atau kuasa memilih. Segala sesuatu tergantung atas perbuatan kemauan yang benar. Kuasa memilih Allah telah diberikan kepada manusia; inilah yang harus digunakan manusia. Engkau tidak dapat mengubah hatimu, dengan dirimu sendiri engkau tidak dapat memberikan kepada Allah segala keinginan-keinginan hati itu; tetapi engkau dapat memilih melayani Dia. Engkau dapat memberikan kemauan pada-Nya.

Dengan demikian semua tabiatmu akan dibawa ke bawah pimpinan Roh Kristus; keinginan-keinginanmu akan dipusatkan pada-Nya, pikiran-pikiranmu akan setuju dengan Dia.

Kerinduan-kerinduan akan kebajikan dan kesucian memang baik adanya; tetapi jika engkau berhenti sampai di situ saja, maka tiadalah gunanya. Banyak orang yang hilang sementara berharap dan ingin menjadi orang Kristen. Mereka tidak sampai pada titik penyerahan kemauan kepada Allah. Mereka tidak memilih sekarang juga menjadi orang-orang Kristen.

Dengan menggunakan kemauan dengan benar, maka perubahan yang menyeluruh akan terjadi di dalam kehidupanmu. Dengan menyerahkan segenap kemauan kepada kehendak Kristus, engkau menghubungkan dirimu sendiri dengan kuasa yang berada di atas segala kuasa dan penguasa. Engkau akan mendapat kekuatan dari atas yang menahan engkau sanggup menghidupkan kehidupan yang baru, yaitu hidup di dalam iman.

Bab V Selesai.
—Bersambung Besok, Bab VI—

salam
:slight_smile:
TYM

Berlanjut, Senin 18/01/2016

Bab VI
BAGAIMANA MEMILIKI DAMAI DALAM PIKIRAN

Jika hati nuranimu sudah digerakkan oleh Roh Kudus, engkau telah melihat sesuatu dari hal jahatnya dosa itu, tentang kuasanya, kesalahan-kesalahan itu dan celakanya; maka engkau akan melihat dosa itu dengan kebencian.

Engkau merasakan bahwa dosa itu telah memisahkan engkau dari Tuhan , bahwa engkau berada dalam kungkungan kuasa jahat. Semakin berusaha berjuang melepaskan diri daripadanya, semakin engkau sadari kelemahanmu. Motifmu tidak suci, hatimu kotor. Engkau lihat bahwa kehidupanmu telah dipenuhi dengan dosa dan rasa mementingkan diri sendiri. Engkau rindu diampuni, dibersihkan, dan dilepaskan. Rukun dengan Allah , menjadi seperti Dia–apakah yang dapat engkau lakukan untuk memperolehnya?
Yang engkau perlukan ialah damai – keampunan dari surga dan damai serta kasih di dalam jiwa. Uang tidak dapat membelinya, intelek juga tidak dapat memperolehnya, kebijaksanaan tidak dapat mencapainya; engkau tidak akan pernah memperolehnya dengan usaha-usahamu sendiri. Tetapi Tuhan Allah memberikan kepadamu sebagai suatu pemberian, “orang yang tidak mempunyai uang, marilah!” (Yesaya 55:1). Engkau akan memilikinya hanya dengan mengulurkan tanganmu dan menerimanya. Tuhan berkata: “sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18).
“Kamu akan kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam hatimu” (Yehezkiel 36:26).

Engkau sudah mengakui dosa-dosamu dan membuangkannya jauh-jauh dari dalam hatimu. Engkau telah bertekad memasrahkan dirimu sendiri kepada Allah. Sekarang pergilah pada-Nya dan pinta supaya Dia mau membasuh semua dosa-dosamu serta memberi hati yang baru bagimu. Dan yakin bahwa Dia melakukan ini karena Dia telah menjanjikannya. Inilah pelajaran yang telah diajarkan Yesus ketika Dia masih berada di atas dunia ini, bahwa pemberian yang dijanjikan Allah kepada kita, haruslah kita percayai betul-betul kita terima, maka itu pun akan menjadi milik kita.

Yesus menyembuhkan penyakit-penyakit orang banyak apabila mereka mempunyai iman di dalam perkara-perkara yang tidak dapat dilihat mereka – menuntun mereka supaya percaya di dalam kuasa-Nya, dibantu-Nya mereka di dalam perkara-perkara yang tidak dapat dilihat mereka–menuntun mereka supaya percaya di dalam kuasa-Nya mengampuni dosa-dosa. Hal ini sangat jelas dikatakan-Nya waktu menyembuhkan orang yang sakit lumpuh; “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa–lalu berkatalah Ia kepada orang yang lumpuh itu, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Matius 9:6.) Oleh karena itulah Yohanes pengabar Injil itu berkata, mengenai mukjizat-mukjizat yang diperbuat Yesus, “Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31).

Dari cerita Alkitab yang sederhana bagaimana Yesus telah menyembuhkan orang sakit, kita dapat mempelajari bagaimana percaya di dalam Dia supaya mendapat keampunan dosa-dosa. Marilah kita mengenang kisah orang yang sakit lumpuh yang di Betesda. Penderita yang hina itu tiada daya sama sekali, dia tidak dapat menggunakan kakinya selama tiga puluh tahun. Namun demikian Yesus menyuruh dia” “Bangkitlah engkau berdiri, angkatlah tikarmu dan berjalanlah.” Mungkin orang yang sakit itu akan berkata, “Tuhan, jika Tuhan menyembuhkan saya, maka saya akan menurut Firman-Mu.” Tetapi bukan demikian, dia percaya dalam Sabda Tuhan Yesus, percaya bahwa dia telah disembuhkan, dan dia berusaha, dia mau berjalan, dan dia berjalan. Dia melakukannya sesuai dengan Firman Kristus, dan Tuhan memberi kuasa. Dia disembuhkan.

Demikian juga engkau seorang yang berdosa. Engkau tidak dapat menghapuskan dosa-dosa masa lalumu, engkau tidak dapat mengubah hatimu dan menyucikan dirimu sendiri. Tetapi Allah berjanji melakukan semua ini bagimu melalui Kristus. Engkau mempercayai janji itu. Engkau mengakui dosa-dosamu serta menyerahkan dirimu seperti sendiri kepada Allah. Engkau mau melayani Dia. Hanyalah dengan melakukan hal seperti ini Allah dapat memenuhi Firman-Nya padamu. Jika engkau percaya pada janji itu - percaya bahwa engkau sudah diampuni dan disucikan–Allah mewujudkannya, engkau akan disempurnakan sebagaimana Kristus telah memberi kuasa berjalan bagi orang yang lumpuh ketika dia percaya bahwa dia sudah disembuhkan. Demikianlah adanya jika engkau mempercayainya.

—Bersambung—
salam :slight_smile:
TYM

Berlanjut, Selasa 19/01/2016

Jangan tunggu merasa dirimu sudah sempurna, tetapi katakanlah: “Saya mempercayainya, demikianlah adanya, bukan karena saya merasa demikian, tetapi karena Allah telah menjanjikannya.”

Kata Yesus: “Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Markus 11:24. Ada syarat atas janji ini --supaya kita dapat berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Bahkan kehendak Allah ialah membersihkan kita dari dosa, membuat kita menjadi anak-anak-Nya, serta menyanggupkan kita supaya mendapat satu kehidupan yang suci. Oleh karena itu kita harus memohon berkat-berkat ini serta percaya bahwa kita menerimanya, lalu mengucap syukur kepada Tuhan karena kita telah menerimanya. Kita mempunyai hak datang kepada Kristus supaya disucikan, dan berdiri di hadapan hukum tanpa rasa malu atau sesal. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Roma 8:1,2).

Mulai saat itu engkau bukan lagi milikmu sendiri, engkau telah dibeli dengan harga tunai. “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia…bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus” (1 Petrus 1:18,19). Dengan mempercayai Allah secara sesederhana ini, Roh Kudus telah melahirkan satu hidup baru di dalam hatimu. Sebagai seorang kanak-kanak engkau lahir di dalam keluarga Allah, dan Dia mengasihi engkau sebagaimana Dia mengasihi Anak-Nya.

Sekarang setelah engkau menyerahkan dirimu sendiri kepada Tuhan Yesus, janganlah undur, janganlah menjauh daripada-Nya, dari hari demi hari berkata: “Akulah milik Kristus, telah kuserahkan diriku sendiri pada-Nya” serta memohon pada-Nya supaya memberi Roh Kudus padamu serta memelihara engkau dengan karunia-Nya. Dengan menyerahkan dirimu kepada Allah, percaya di dalam Dia, engkau menjadi anak-Nya, oleh karena itu engkau sepatutnya hidup di dalam Dia. Seorang rasul berkata: “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita, karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia” (Kolose 2:6).

Ada beberapa orang yang merasa bahwa mereka haruslah lebih dulu dicoba, dan harus membuktikan kepada Tuhan Allah bahwa mereka sudah dibarui, sebelum mereka dapat menuntut berkat-Nya. Tetapi sekarang juga mereka dapat menuntut berkat Tuhan. Mereka harus mempunyai anugerah-Nya, Roh Kristus, untuk membantu kekurangan mereka itu, atau mereka sama sekali tidak dapat melawan kejahatan. Yesus suka kita datang pada-Nya sebagaimana adanya kita, dalam keadaan berdosa, tiada daya, dan hanya bergantung pada-Nya. Kita dapat datang pada-Nya dengan segala kelemahan kita, kebodohan kita, kita yang penuh dosa, dan menyembah di kaki-Nya dengan pertobatan. Adalah mulia bagi-Nya mengelilingi kita di dalam lengan kasih-Nya serta membebat luka-luka kita, membasuhkan kita dari segala kenajisan.

Di sinilah ribuan orang gagal; mereka tidak percaya bahwa Yesus mengampuni mereka secara pribadi, perseorangan. Mereka tidak percaya Firman Allah. Adalah merupakan kehormatan bagi semua orang yang menurut syarat-syarat itu mengetahui bagi diri mereka sendiri bahwa keampunan diberikan atas tiap-tiap dosa. Buangkanlah kecurigaan bahwa janji-janji Allah itu bukanlah untukmu. Janji-janji itu diberikan kepada setiap orang yang berdosa lalu bertobat. Kekuatan dan anugerah yang diadakan melalui Kristus akan diantarkan oleh malaikat-malaikat yang bertugas mengerjakannya bagi tiap-tiap jiwa yang percaya. Tiada orang yang begitu berdosa yang tidak akan mendapat kekuatan, kesucian dan kebenaran di dalam Yesus, yang telah mati bagi mereka. Yesus menanti hendak menanggalkan jubah mereka yang dinodai dosa lalu menukarkannya dengan jubah kebenaran yang putih; diminta-Nya mereka hidup bukannya mati.

—Bersambung—

salam
:slight_smile:
TYM