cara mengetahui apakah punya karunia selibat atau menikah

Tidak semua orang menikah kalo memang diberi karunia selibat oleh Tuhan, tapi tentu tidak semua orang punya karunia selibat. Bagaimana cara mengetahui apakah orang itu punya karunia selibat atau menikah? Dan kalau orang tersebut seharusnya selibat tapi paksakan diri kawin dan menikah tapi menolak kawin dengan berbagai alasan apakah itu berdosa?

Saya punya teman yg putus pacaran karena si cowok mau masuk seminari. Sang cewek langsung jatuh sakit, sampai-sampai dirawat di rumah sakit. Tp si cowok tetep berangkat ke seminari.

Cirinya mungkin demi mewujudkan kasih kepada Allah maka orang ini akan “tega” melihat yg disayang terluka. Kayak Abraham tega nyaris menggorok leher anaknya sendiri.

Salam damai sejahtera dalam Tuhan.

Itu bukan karunia.

Setiap orang seharusnya berusaha memiliki pernikahan.
Maksudnya adalah memiliki pernikahan yang bertujuan mengawinkan dua kasih terutama.

Tetapi ada beberapa orang yang pada masa remajanya berada di bawah kuasa orangtuanya; karena orangtuanya ini menerima hidup di dalam dua kasih terutama.

Tetapi ketika anaknya yang remaja ini bermasalah dalam hal larangan perzinahan dan masalah yang terkait juga dengan pernikahan, dan tidak menjalankan ketetapan yang telah ditetapkan oleh Allah, maka ketika dewasa, anak kedua orangtua itu tidak dapat memiliki pernikahan untuk mengawinkan dua kasih terutama.

memang ia masih bisa memiliki pernikahan lain, misalnya pernikahan untuk memperoleh keturunan.
Tetapi mungkin karena laki-laki itu mengasihi Allah, maka ia hendak memuliakan Allah dengan tidak memiliki pernikahan seumur hidupnya.

Sesungguhnya jika ia bertahan sampai akhir hidupnya dan Allah menyatakan dia benar dalam hal ini, maka ia akan dilahirkan kembali dan memiliki jaminan menjadi manusia kembali.

Muliakanlah Allah dalam dua kasih terutama saudara-saudaraku.

“seharusnya” dari mana ya?? ada ayat pendukung?

memang ga bisa dipungkiri klo dalam pacaran kadang sadar ga sadar kita malah menjadikan pacar/kekasih kita sbg berhala dalam hidup kita(bisa mikirin pacar setiap saat tp lupa sama Tuhan).klo yg kek gitu kan jadinya tidak memuliakan Allah.

Mat. 19:12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Kalau tanda-tanda nya saya kurang tau juga…

Berarti ada orang-orang tertentu yg TIDAK harus menikah kan??

Apakah maksud ayat itu? Apakah berarti orang cacat, idiot, gila, lemah mental, sakit2an gak bisa kawin? Terus ada ayat yang berkata bahwa tetapi kalau mereka tidak bisa menguasai diri lebih baik kawin daripada hangus karena hawa nafsu. Jadi apakah kawin sebaiknya perlu bagi orang yang tidak bisa menguasai diri daripada berzinah, cabul, jadi pelacur atau terlibat pornografi?

Salam damai sejahtera dalam Kristus Yesus.

Matius 19:3
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”

Orang-orang yang tidak percaya adanya kebangkitan mencobai Yesus Kristus dengan bertanya, Dengan alasan apakah seharusnya seorang suami menceraikan isterinya; supaya sah?

Matius 19:4-6
Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Yesus Kristus memberitahu mereka bahwa pernikahan adalah berasal dari Allah; justru setelah manusia memiliki pernikahan, mereka disebut manusia, karena sebelum itu mereka belum disebut manusia.
Dan karena pernikahan juga manusia diciptakan laki-laki dan perempuan.

Dan setelah makna pernikahan diperbaharui Allah dan manusia menerima pernikahan itu, yaitu untuk mengawinkan dua kasih terutama, maka seorang suami dan isteri menerima kuasa manusia atas manusia, dan mereka tidak bisa diceraikan, karena kuasa ini tidak dapat terpisah, harus di dalam dua kasih terutama.
Karena itulah dalam pernikahan untuk mengawinkan dua kasih terutama tidak ada perceraian; sekalipun salah-satu telah meninggalkan dunia.

Matius 19:7-9
Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?”
Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Orang-orang yang tidak percaya kebangkitan ini bertanya lagi, jika memang tidak ada perceraian, mengapa Musa membolehkan menceraikan isteri; dalam pernikahan yang dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat?

Yesus Kristus menjawab mereka, bahwa karena mereka lebih mempertahankan keinginan hati diri mereka sendiri; daripada mempertahankan terus mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka Musa mengizinkan orang demikian untuk bercerai; untuk sementara, sampai Tuhan yang memberitahu ketetapanNya.

Yesus Kristus memberitahu mereka cara menceraikan isteri mereka yang benar adalah seperti demikian:
Seorang laki-laki yang menikah; dalam pernikahan yang dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat
Dan hendak menceraikan isterinya itu, harus membunuh isterinya dengan alasan telah berzinah, dan setelah isterinya mati, maka ia boleh menikah lagi; karena dalam pernikahan yang dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat tidak ada perceraian kecuali pasangan hidupnya itu mati; disebut perceraian karena pernikahan yang dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat adalah untuk memperoleh keturunan.
Setelah seorang pasangan telah mati; ia tidak dapat memberikan kamu keturunan lagi, maka itulah perceraian kamu dengan dia.

Dan seorang laki-laki yang menceraikan isterinya; padahal pernikahan mereka adalah pernikahan yang dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat, dan kemudian menikah dengan perempuan lain (padahal ia tidak boleh menikah lagi jika isterinya tidak mengizinkan, karena suami-isteri setara, tidak saling menguasai) maka laki-laki ini telah berzinah dan harus mati; itulah perceraian mereka. Alasannya adalah karena laki-laki ini sudah menggunakan kuasa manusia atas manusia, padahal dalam pernikahan yang dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat tidak ada kuasa itu.

Matius 19:10
Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.”

Murid-murid yang juga turut mendengarkan merasa terkejut dan menyampaikan, bahwa kalau perceraian dianggap sah hanya jika pasangan telah mati, lebih baik tidak usah memiliki pernikahan yang dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat.

Matius 19:11,12
Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

Untuk orang-orang yang dapat mengerti ketetapan Allah, diberitahukan bahwa, ada orang yang tidak dapat memiliki pernikahan yang berada dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat (yang bertujuan untuk memperoleh keturunan), yaitu mereka yang lahir dalam keadaan tidak dapat memiliki keturunan sehingga kuasa mereka tidak dapat diwariskan kepada darah daging mereka seutuhnya. Sehingga percumalah ia memiliki pernikahan ini.

Ada orang yang tidak dapat memiliki pernikahan yang berada dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat tetapi bukan dari dirinya; misalnya dari pasangan hidupnya sendiri, yang berusaha berkuasa atas dirinya (padahal dalam pernikahan ini keduanya ditetapkan Allah adalah setara), atau orang lain yang tidak berhak menggunakan kuasa manusia atas manusia dan berbuat semena-mena kepadanya, atau memang karena orang yang berkuasa atas manusia sesuai ketetapan Allah.

Ada orang yang tidak dapat memiliki pernikahan yang berada dibawah kuasa sepuluh perintah menurut hukum Taurat karena dirinya sendiri yang melakukan itu, supaya ia memperoleh jalan kembali ke dunia untuk ke dua kalinya; karena dua kasih terutama.

klo pendapat gw sih ya kembali ke orgnya lagi…
karena gak ada larangan untuk menikah ataupun tidak menikah, jadi kenapa harus mencari tanda2 selibat atau menikah?