Catatan dari IGF 2009 : Facebook Sebabkan Pengorbanan Hak Privasi

Salah satu isu yang menjadi sorotan penting dalam ajang Internet Governance Forum (IGF) 2009 di Sharm El Seikh - Mesir kali ini adalah terkait dengan isu privasi. Dalam sebuah sesi utama yang saya ikuti pada hari ke-2, Senin (16/11/2009), layanan jejaring sosial Facebook paling banyak disoroti sebagai layanan yang rentan terhadap penyalahgunaan data diri dan privasi.

Para pengguna Facebook, dalam sesi utama tersebut, diminta untuk makin sadar bahwa yang namanya data diri adalah properti alias hak milik individu. Kitalah yang punya kendali untuk memberikan ataupun tidak memberikan data diri kepada siapapun yang kita kehendaki.

Bahkan kita berhak bertanya untuk apa data diri kita yang kita berikan ke pihak lain dan berhak pula memintanya untuk dihapus jika memang tidak kita kehendaki. Walaupun hal tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan, setidaknya pemahaman bahwa data diri adalah hak milik individu harus tetap ditekankan.

Aktivitas anak (dan remaja) di ranah maya, juga menjadi bagian dari diskusi tersebut. Seorang anak sekarang, yang dikatakan sebagai digital native, tentunya lebih paham tentang seluk-beluk Internet ketimbang orang tuanya yang masuk dalam kategori digital imigrant.

Masukkan pun datang dari para peserta. Misalnya, ditegaskan bahwa anak, remaja, atau bahkan diri kita sendiri kini dapat gampang dengan mudah lepas kendali atau bahkan mengorbankan hak privasi kita hanya karena diiming-imingi layanan gratis seperti Facebook, Gmail atau Twitter.

Bahkan disadari atau tidak, masalah hak privasi seseorang kerap diabaikan oleh orang lain. Misalnya ketika ada orang lain yang sengaja ataupun tidak telah mem-posting data-data pribadi kita. Contohnya jika ada orang lain memposting foto-foto kita, kemudian melakukan tagging (di Facebook). Ataupun adanya orang-orang yang dengan bebas dapat memberikan komentar-komentar terkait tentang kita di foto tersebut.

Meskipun demikian, penggunaan Internet kini memang tak bisa lagi dipisahkan dari anak dan murid sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan. Sehingga peran dan tanggung-jawab orang-tua dan pendidik (guru) untuk melindungi anak dan murid di dunia online, harus sama dengan upayanya di dunia offline, atau bahkan lebih.

Suka tidak suka inilah zaman internet
zaman dimana arus informasi dan kebebasan eksperesi tidak lagi
terbatas oleh sekat-sekat jarak, negara, agama dsb

tantangan bagi orang percaya adalah bagaimana kita bisa menemukan
suatu cara yg efisien utk melindungi anak-anak dari dampak negatif, tanpa
membuat mereka “gaptek” internet.

Facebook pun telah menjadi sarana faith sharing bahkan penginjilan bagi banyak orang,
terbukti dengan banyaknya grup atau pages bernafaskan Kekristenan :love0030: