Cerai kemudian diberkati lagi

Bagaimana tanggapan Saudara mengenai pendapat bahwa kalau orang memang tidak dapat lagi menjalani kehidupan bersama dalam rumah tangga, maka sebaiknya bercerai saja supaya tidak menderita dalam kehidupan? Dan bagaimana kalau yang telah bercerai itu mau menikah lagi?

Setahu saya dialkitab dikatakan hanya boleh cerai kalau zinah. Yang berarti kalau dicerai, tidak bisa apa2 kan bukan kita yang mencerai. Lalu kalau yang mencerai kita kawin lagi berarti dia sudah zinah, karena kawin dengan orang lain lagi. Barangkali dalam keadaan ini baru boleh kawin lagi.

:happy0062: terima kasih untuk masukan yang baru kali ini saya dengar jika hal itu saya kemukakan…

sebenarnya masalah perkawinan dan cerai … yang penting adalah menjunjung tinggi komitmen dan tanggung jawab akan janji suci yang sudah diucapkan didepan TUHAN… manusia tidak ada yang sempurna… banyak diantara mereka ternyata menikah tidak dengan fondasi yang kuat… berujung perceraian… jadi poin penting yang harus dipegang adalah pemikiran yang matang sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan… maksudanya jangan sampai pernikahan dan perceraiaan ini dijadikan main2 untuk memenuhi ambisi atau ego diri sendiri… untuk itulah mengapa perceraian itu bisa dilakukan dan prosesnya berbelit serta panjang (itupun seharusnya untuk kasus2 tertentu)… agar kita sadar bahwa pernikahan itu adalah urusan yang sangat serius…

[quote author=lbmagi link=topic=44226.msg713272#msg713272 date=1342110420]
sebenarnya masalah perkawinan dan cerai … yang penting adalah menjunjung tinggi komitmen dan tanggung jawab akan janji suci yang sudah diucapkan didepan TUHAN… manusia tidak ada yang sempurna… banyak diantara mereka ternyata menikah tidak dengan fondasi yang kuat… berujung perceraian… jadi poin penting yang harus dipegang adalah pemikiran yang matang sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan… maksudanya jangan sampai pernikahan dan perceraiaan ini dijadikan main2 untuk memenuhi ambisi atau ego diri sendiri… untuk itulah mengapa perceraian itu bisa dilakukan dan prosesnya berbelit serta panjang (itupun seharusnya untuk kasus2 tertentu)… agar kita sadar bahwa pernikahan itu adalah urusan yang sangat serius…
[Terima kasih banyak]

kalau memang tidak ada kecocokan pisah saja mas, karena percuma jika sudah tidak menemukan kecocokan tapi dipaksakan, kasihan yang ada nanti tiap hari ribut, mungkin menjadi pelajaran perlu mengenal lebih jauh pasangan sebelum menempuh ke pelaminan. jika sudah cerai dan akhirnya menemukan tambatan hati ya belajar dari pengalaman sebelumnya, pengenalan lebih dalam itu penting yaitu tahu sifat/karakter asli masing2 pasangan.
:onion-head55:

Kata Firman Tuhan sih…:

  1. Apa yg TELAH DIPERSATUKAN dihadapan TUHAN, tidak boleh diceraikan oleh manusia (kecuali oleh Tuhan melalui yg namanya Kematian Jasmani)

  2. Menikah KUDU HARUS di SAKSI kan oleh Tuhan melalui Pem BERKAT an oleh Rohaniwan yg ditunjuk sebagi WAKIL TUHAN sambil di OMONGIN :"Bersediakah kamu menerima “nya” (Sang Calon) sebagi ISTRI/SUAMIMU baik dalam keadaan SUKA maupun DUKA , dalam keadaan SEHAT maupun SAKIT, sampai Hanya KEMATIANLAH yg memisahkan kalian ? Bukankah jawaban “nya” : “I do alias Saya Bersedia!”
    Mosok sih JANJI didepan TUHAN dianggap MAIN2 ?
    Dari pembelajaran saya selama Tahun2 I yg penuh Krikil2 dan Percikan2 Listrik Pernikahan…karena kita menikah didalam Tuhan yg adalah KASIH itu ( KASIH artimya selalu memberi TIDAK MENUNTUT)…kek nya semua Krikil ama korsluiting itu bisa dilalui adem ayem deh !

  3. Nasehatnya …kalau lagi MANYUN ama BETE’…ya di ingat2 aja deh “saat kita memutuskan mau menikah / menghabiskan sisa hidup kita kedepan bersama si dia”…saat2 INDAH itu…terus si Lelalki (yg RATIO > dari PERASAAN) pas si Dia ngancem2 mau minta CERAI dan DICERAIKAN, ya bilang aja "pake’ MIMIK MEMELAS " : “Lha elo sih LUCU deh, kalau cuma mau melakukan perceraian setelah melalui Pernikahan, ngapai aye’ nikah ama kamu, buah hati sang belahan jiwaku, yg tanpa kamu saya gak bisa hidup !” lalu memeluknya dengan KASIH…BERES deh ! Apalagi kalau udeh punya BUNTUT ama BEBENJIT didepan mata, bilang aje’ :“Tuh lihat dong Buah Kasih kita yg pada melongo ngeliatin papi ama maminya lagi BERDIALOG KERAS, emangnya kita gak kasihan dan malu ama mereka ?”
    Selama pakai JURUS KASIH…keknya aman2 tuh Bahtera Rumah Tangga melintasi Laut yg terkadang ber GELORA GANAS…kata orang Bijak …Laut yg TENANG tidak pernah menghasilkan Pelaut yg TANGGUH !"

trust me, mendingan cuci piring daripada beli piring baru.

yup ini didukung statistic.

Failure of second marriages

The following statistics were complied from the National Center for Health Statistics (2002)

Fifteen percent of second marriages ended after 3 years and almost a quarter after 5 years.

Though not statistically significant, the remarriages of black women are more likely to end, and those of Hispanic women are less likely to breakup.

Remarriage and divorce

The divorce rate following re-marriage is higher than that for the first marriage. A 2002 study by the National Center for Health Statistics (part of the CDC in the USA) collected information on the failure of second marriages.

Age and failure of second marriages

The failure of a second marriage is more likely for women under age 25 at remarriage (47%) than for women at least age 25 at remarriage ( 34%). This difference is slightly larger among white women.

Stressful events in the past may impact the stability of remarriages

Parental divorce

The probability of second marriage disruption is higher for women who did not grow up in a two-parent family (49%) than for women who did (33%).

Forced intercourse

Women who have ever been forced to have intercourse are more likely to experience second marriage disruption. The probability of second marriage disruption is about 25% higher for all women who have ever been forced to have intercourse, and even higher among white women (33%)

General anxiety disorder (GAD)

Women who have ever suffered from GAD (general anxiety disorder) are nearly 50% more likely to experience disruption of a second marriage than women who have never suffered from GAD

Children from a previous marriage and failure of the second marriage

Women who already have children at the time of remarriage are more likely to have their second marriage end in divorce than women who do not have any children at the time of remarriage. If the children were unwanted, the probability of the second marriage ending is even higher

After 10 years of remarriage, the probability of that marriage ending is
•32 percent for women with no children at remarriage
•40% for women with children, but none of whom were reported as unwanted
•44% for women with children, and any of whom were reported as unwanted (slightly higher, at 47 percent, among white women)

It is not surprising that the presence of children from a prior relationship can affect the stability of a second marriage, nor is it surprising that the presence of unwanted children may have a greater effect.

Other factors

The chance of failure of the second marriage
• lower in the Northeast and higher in the Midwest
• was higher wiith lower family income
• higher for women without a high school education
• higher for women with no religious affiliation
• higher for women whose first birth was before or during the first 7 months of first marriage as opposed to after 7 months of marriage
• higher for women who are older than their husbands

If a couple lived together before their first marriage, then they were more likely to divorce. Interestingly, this did not seem to be true of second marriages and cohabitation was even associated with a decreased chance of the second marriage failing though this difference was small and not statistically significant.

Note that this report is in PDF format.
Bramlett MD and Mosher WD. Cohabitation, Marriage, Divorce, and Remarriage in the United States . National Center for Health Statistics. Vital Health Stat 23(22). 2002.

[quote author=lbmagi link=topic=44226.msg713272#msg713272 date=1342110420]
sebenarnya masalah perkawinan dan cerai … yang penting adalah menjunjung tinggi komitmen dan tanggung jawab akan janji suci yang sudah diucapkan didepan TUHAN… manusia tidak ada yang sempurna… banyak diantara mereka ternyata menikah tidak dengan fondasi yang kuat… berujung perceraian… jadi poin penting yang harus dipegang adalah pemikiran yang matang sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan… maksudanya jangan sampai pernikahan dan perceraiaan ini dijadikan main2 untuk memenuhi ambisi atau ego diri sendiri… untuk itulah mengapa perceraian itu bisa dilakukan dan prosesnya berbelit serta panjang (itupun seharusnya untuk kasus2 tertentu)… agar kita sadar bahwa pernikahan itu adalah urusan yang sangat serius…
[Jadi yang diperlukan adalah pondasi yang kuat… saya bisa memikirkan point selanjutnya]

Ahahahha jujur satu hal ini yang membuat saya agak takut dalam pernikahan bro.

Saya pernah bercakap-cakap dengan pendeta saya tentang hal perceraian dan beliau mengatakan begini:
" Waktu berpacaran memang kita jatuh cinta, waktu sudah menikah kita harus bangun cinta".

Sebetulnya perceraian itu cuma karena masalah yang tidak bisa diselesaikan. Jika menikah dengan pasangan lain apakah pasti masalah itu dapat diselesaikan? “BELUM TENTU”.Apakah ada jaminan masalah yang lebih rumit ga akan muncul lagi? “NGGAK MUNGKIN”.
Nah makanya di situ perlu adanya kasih, kesetiaan dan campur tangan Tuhan untuk menghadapi masalah.

Kalau maut memang beda ya istilahnya :slight_smile:

Tuhan memberkati :slight_smile:

@ TS

ya pondasi yang kuat… dari pasangan tersebut bila sudah menjalani masa pacaran yang benar… sudah saling mengenal masing2 pasangannya… sampai pada menerima kekurangan pasangannya… itu semua bisa dimengerti bila memiliki dasar kasih… salah satu artinya adalah tidak egois… saya fokuskan di kata egois, sebab benih2 kehancuran RT berasal dari ini… masing2 memikirkan diri sendiri yang berujung selalu menyalahkan pasangannya… dengan masing2 pasangan tidak memiliki tujuan yang sama maka RT akan goyah… ada suatu analogi… rumah akan berdiri kokoh jika ditopang dengan 2 tiang/pilar yang saling menunjang… kedua tiang ini berhubungan dalam satu pondasi… untuk itulah baru disebut RT… seperti apa yang dikatakan alkitab “menjadi satu daging” … masing2 saling melengkapi saling merasakan dan saling memberi… bukan saling meminta, menuntut, menyalahkan, memaksa… terlihatkan bedanya antara kasih dan ego…??? bila pondasi sudah kuat maka berkat TUHAN akan datang dengan sendirinya… sebab RT itu sudah menjadikan TUHAN sebagai pemimpin kehidupannya… pondasi adalah kasih dan kasih adalah TUHAN YESUS…

Semoga bermanfaat…
TUHAN YESUS memberkati…

Yapp betul Bro, biar BOCEL, SOMPLAK sebab “banyak memory” disana, apalagi si Piring Bocel itu sudah “menghasilkan” BANYAK ya Bro bersama “nya” :* :wink:

Terima kasih untuk memberi satu kata kunci yang menarik: “membangun cinta”… Tuhan memberkati

Halo bro @Bangaran Pasamboan

Silahkan renungkan dikamar sambil bertanya kepada Tuhan , ayat ini Matius 19 : 6 dan Markus 10 : 9

Saran ku bro , coba ikut “Pria Sejati” silahkan google “christian men’s network indonesia” , itu komunitas dimana kita akan belajar mengenai “Pria menurut alkitab”
dan ajak juga bro , istri anda untuk mengikuti “Wanita Bijak” , komunitas para wanita christian

Diatas itu semua komunitas interdenominasi , dan di tujukan untuk memulihkan “Keluarga dari Kehancuran”
Silahkan bro cari info nya yang dekat dengan kota tempat bro berada

Terima kasih , semoga Tuhan membukakan pintu “Kebenaran” bagi bro @Bangaran Pasamboan dan keluarga , sehingga keluarga di pulihkan , Amin

one two three: yess.

bersatu kita teguh , bercerai kita runtuh